Senin, 12 Desember 2011

Sukses di Ujung Karya


“Nunun Ditangkap”. Begitu judul berita utama koran-koran di Jakarta, Minggu 11 Desember 2011. Ya, buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nunun Nurbaeti akhirnya ditangkap di Thailand oleh polisi negara itu pada Jumat, 9 Desember 2011. Kemudian istri mantan Wakil Kapolri Adang Daradjatun itu diserahkan ke KPK di atas pesawat Garuda Indonesia di Bandara Internasional Swarnabhumi, Bangkok pada Sabtu, 10 Desember 2011. Sore harinya, Nunun diterbangkan ke Jakarta.

Nunun tiba di Jakarta pada Sabtu, 10 Desember 2011 malam dan langsung digelandang ke KPK. Setelah pemeriksaan sebentar, terutama terkait kesehatannya, Nunun langsung digelandang ke rumah tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Dia ditempatkan dalam ruangan bersama 32 orang tahanan lainnya.

Maka berakhirlah pelarian dan pelesiran Nunun yang lama ini tertangkap kamera sedang berbelanja di Singapura sejak Februari 2011.

Diharapkan, penangkapan Nunun bisa mengurai benang kusut kasus cek pelawat pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Miranda S Goeltom. Sejumlah politisi dari Golkar, PDI-P, dan PPP terpaksa tinggal di hotel Pro Deo alias gratis karena terlilit kasus ini.

Diharapkan pula, Nunun bisa mengungkap otak dibalik pengeluaran cek pelawat itu atau bahasa kerenya, actor intelectualis kasus ini. Termasuk pengungkapan kemungkinan ada mafia perbankan yang bermain dalam kasus tersebut.

Tetapi harapan itu akan pupus bila penyakit lupa Nunun kambuh. Maklum, dokter pribadi Nunun, Andreas Harry mendiagnosa Nunun mengalami sakit hilang ingatan. Meskipun diagnosa ini harus dipertanyakan apakah murni berdasarkan ilmu dan kaidah-kaidah kedokteran atau hanya untuk kepentingan uang sang pasien. Sebab, tidak sedikit dokter sekarang yang tidak mengabdi pada profesi, ilmu dan etika kedokteran tetapi murni pada uang. Tewasnya raja pop Michael Jackson adalah contoh kerja dokter yang hanya mengabdi pada orang yang membayarnya (perusahaan obat).

Apalagi, saat tulisan ini dibuat pada Senin 12 Desember 2012 sore, muncul berita bahwa Nunun harus dilarikan ke Rumah Sakit MMC karena pingsan sebelum diperiksa penyidik di KPK.

Terlepas dari itu, satu hal yang patut dicatat adalah bahwa penangkapan Nunun terjadi pada hari-hari terakhir kerja pimpinan KPK. Sebentar lagi Bibit Samad Riyanto, Chandra M Hamzah, M Jasin, dan Haryono Umar meninggalkan kantor di Jalan Rasuna Said Jakarta Selatan itu. Yang tersisa adalah Busyro Muqqodas yang masuk ke lembaga itu sebagai pemain pengganti dan akan diperpanjang lagi hingga satu periode ke depan.

Ini adalah hasil manis di akhir kerja mereka. Sukses ini menutup noda yang terciptrat di lembaga itu, terutama karena sejumlah pimpinan seperti Chandra M Hamzah disebut terdakwa kasus suap pembangunan wisma atlet, Muhammad Nazaruddin. Noda-noda itu bagai terhapus oleh penangkapan Nunun Nurbaeti.

Tinggal sekarang pimpinan baru Abraham Samad dan kawan-kawan mengungkap tuntas kasus Nunun. Tetapi tetap harus diingatkan untuk menghindari aspek politik dalam kasus ini. Sebab yang banyak terlibat dalam kasus ini adalah para politisi Golkar dan PDI-P. Karena itu, pimpinan baru KPK harus mampu juga mengungkap kasus Bank Century yang khabarnya melibatkan penguasa saat ini. Hanya dengan begitu, mereka menjaga kewibawaan KPK dalam pemberantasan korupsi di negeri ini dan tidak ada tebang pilih dalam penegakan hukum. (Alex Madji)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar