Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Konferensi lingkungan hidup kaum muda di Bandung, Jawa Barat tahun lalu

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 16 September 2014

Antara Paus Fransiskus dan Falcao

Permulaan September 2014, pelatih Arsenal Arsene Wenger terbang ke Roma, Italia. Dia didapuk menjadi pelatih salah satu tim dalam pertandingan amal untuk mempromosikan perdamaian dunia yang digagas Paus Fransiskus. Satu tim lainnya diasuh pelatih Timnas Argentina, Gerardo "Tata" Martino.

Yang terlibat dalam pertandingan ini adalah para mantan bintang sepakbola, para pemain dan pelatih sepakbola dari berbagai agama di seluruh dunia seperti Kristen, Islam, Hindu, Budha, dan Yahudi. Sebut saja misalnya, Diego Armando Maradona, Roberto Baggio, pelatih Atletico Madrid Diego Simeone, Javier Mascherano, Javier Zanetti, dan masih banyak yang lain lagi.

Tidak penting hasil dari pertandingan ini. Yang terpenting adalah pesannya, yaitu mempromosikan perdamaian dunia. Pasalnya, sepakbola adalah sarana yang paling bagus dalam mempromosikan dunia. Banyak nilai yang terkandung dalam sepakbola yang bisa mendorong perdamaian dunia.

Sepulang dari Roma, Wenger dikritik pedas di Inggris, terutama oleh fans Arsenal. Gara-gara terlibat dalam kegiatan amal ini, Arsenal gagal mendapatkan Radamel Falcao yang akhirnya memilih bergabung dengan Manchester United. Padahal, kalau Wenger tidak ke Roma, kemungkinan besar Falcao hijrah ke Emirates.

Tetapi yang menarik perhatian saya adalah jawaban Wenger menanggapi kritikan tersebut. Menurutnya, datang ke Vatikan dan bertemu Paus Fransiskus adalah kesempatan langka dan tidak bisa dilewatkan begitu saja. Karena itu dia lebih memilih ke Roma dan bertemu Sri Paus daripada mengejar Falcao di bursa transfer.

Mengapa Wenger begitu ngotot ke Vatikan? Ini dia jawabannya. "Saya adalah seorang Katolik. Ini sebuah pengalaman dan sesuatu yang sudah lama saya terima. Bertemu Paus adalah sesuatu yang langkah yang tidak ingin melewatkannya," kata Wenger seusai pertandingan amal tersebut.

Dia melanjutkan, "Dia (Sri Paus) adalah seorang yang hebat, sangat rendah hati dan mau bertemu dengan siapa pun. Dia juga seorang penggemar sepakbola. Dia pendukung San Lorenzo di Argentina. Anda tidak bisa lahir di Argentina dan tidak dapat menjadi seorang penggemar sepakbola. Dia berbicara dengan begitu banyak orang Argentina, karena itu saya ingin menyampaikan salam dan berkata, 'sangat menyenangkan bertemu Anda dan sampai jumpa."

Selain itu, kedatangan Wenger ke Roma juga karena pertandingan tersebut adalah untuk perdamaian dan demi saling pengertian antaragama. "Saya kira sekarang kita berhadapan dengan perang antaragama di Gaza. Karena itu, pertandingan ini sangat penting," tutupnya.

Lagipula, kata Wenger, dia sudah bekerja keras sepanjang jendela transfer dan mendapatkan sejumlah pemain berkelas. Karena itu tidak berhasil mendapatkan Falcao sama sekali tidak mengurangi kualitas timnya dalam mengarungi musim ini. Meskipun, Arsenal terseok-seoak di awal musim 2014-2015.

Bagi Wenger yang terpenting adalah bisa beraudiensi dan berjabat tangan dengan Paus. Sri Paus adalah orang hebat dan momen itu tidak ingin berlalu begitu saja. Lebih dari itu, Wenger, bersama Paus, ikut mendorong perdamaian dunia, meski melalui pertandingan amal yang kalah prestisius dengan Liga Utama Inggris ataupun Liga Champions. (Alex Madji)

Keterangan foto: Arsene Wenger memperhatikan pemainnya Diego Armando Maradona pada laga amal untuk perdamaian dunia di Stadion Olimpico awal September 2014. Foto: www.dailymail.co.uk

Rabu, 10 September 2014

Mengenang Liputan Pemilu Timor Leste 2007

Sabtu, 17 Maret 2012, Republik Demokratik Timor Leste menggelar Pemilihan Umum Presiden. Ini adalah pemilu ketiga negara itu sejak merdeka dari Indonesia. Membaca berita pemilu presiden Timor Leste ini, saya teringat pengalaman meliput pemilu presiden 2007 di negara bekas provinsi ke-27 Indonesia tersebut. Ketika itu, suasana masih tegang karena baru dilanda konflik politik dan kekerasan horishontal.

Pertikaian politik terjadi antara kelompok Partai Fretelin di satu pihak dengan tokoh utama Mari Alkatiri melawan Xanana Gusmao dan Jose Ramos Horta di pihak lain. Pertikaian politik ini berujung pada jatuhnya Mari Alkatiri dari kursi Perdana Menteri. Pertarungan ini sebenarnya pertarungan idiologis antara kelompok sosialis (Fretelin) dengan kelompok pragmatis/kapitais diwakili Xanana Gusmao dan Ramos Horta yang didukung asing terutama Australia.

Konflik ini ditambah lagi oleh pemecatan sekelompok militer. Kasus inilah yang kemudian menimbulkan peristiwa berdarah dan memakan korban jiwa. Kelompok tentara yang dipecat ini menjadi kelompok pemberontak pimpinan Mayor Alfredo. Konflik kemudian merembet ke pertikaian antara warga Timor Leste bagian timur dan warga Timor Leste bagian barat. Suasana mencekam masih terasa ketika saya tiba di Dili tujuh tahun silam.

Korban konflik pun masih tinggal di tenda-tenda pengugsi di tengah Kota Dili ketika itu, tidak jauh dari Hotel Timor, Hotel Indonesianya, Timor Leste, tempat Presiden SBY menginap saat kunjungan ke Dili Agustus 2014.

Pemilu Timor Leste tujuh tahun silam itu berlangsung hanya sehari setelah paskah. Saya tiba di Dili persis Jumat Agung. Begitu tiba di Bandara Lobato Dili yang dulu disebut Bandara Comoro, saya memilih menginap di Hotel Timor Lodge. Tidak jauh dari Bandara.

Hotel itu sebenarnya terbuat dari petikemas yang disulap jadi hotel. Tapi yang nginap di situ kebanyakan bule. Punya kolam renang. Resepsionisnya seorang perempuan Filipina. Sedangkan satpamnya mantan tentara Fretelin yang berjuang di hutan Timor Leste ketika menjadi bagian wilayah Indonesia. Bahasa Indonesia mereka patah-patah.

Selepas mengurus hotel, saya langsung mencari Gereja Katedral. Tapi sayang, ketika itu ibadat Jumat Agungnya masih lama. Tarif taksi dari Comoro ke tegah kota Dili 1 dolar Amerika Serikat. Sopir taksi setempat berbicara Bahasa Indonesia. Siaran-siaran radio pun masih campur Bahasa Tetun dan Indonesia. Sopir taksi mengingatkan saya untuk tidak pulang terlalu malam karena situasi belum kondusif. Taksi pun tak berani pulang di atas jam enam. Maka setelah melihat Dili sepintas lalu dan mengunjungi Kantor KPU-nya, saya kembali ke hotel menggunakan taksi dengan tarif yang sama. Hari itu dilewati tanpa mengikuti Jumat Agung.

Jam demi jam di hotel saya lewati dengan membaca novel yang saya bawa dari Jakarta. Keesokan harinya saya kembali ke pusat Kota Dili. Saya mampir di Hotel Timor tempat para pemantau dan pengamat asing berkumpul. Pas jam makan siang saya ke Kampung Alor. Makan siang di warung nasi milik orang-orang Indonesia dengan menu nasi ayam seharga satu dolar AS.

Selepas makan siang, saya mengikuti jumpa pers para calon dan para pendukungnya. Juga mengikuti jumpa pers KPU. Jumpa pers di sana diberikan oleh seorang pastor SDB dalam empat bahasa: Tetun, Inggris, Indonesia, dan Porto dengan sama lancarnya. Mengagumkan.

Ketika senja tiba, saya bergeser ke depan Governo atau Kantor Perdana Menteri. Ini adalah bekas kantor Gubernur Timor Timur. Tidak ada pagar pembatas. Ini adalah kompleks kota tuanya Dili. Di sekitar situ banyak bangunan tua peninggalan Portugis. Ada yang terawat bagus. Ada juga yang tidak. Di depan kantor perdana menteri itu, ada lapangan cukup luas. Di ujungnya ada pohon-pohon yang di bawahnya ditempatkan kursi. Pengunjung bisa duduk-duduk di situ menikmati senja dan semilir angin pantai. Di bibir pantai ada tembok yang bisa diduduki sambil menyaksikan matahari tenggelam di balik ufuk. Sungguh Indah. Sebelum jam enam, saya balik ke Hotel Timor Lodge. Malamnya, saya ikut misa paskah di gereja Comoro yang tidak jauh dari hotel. Saya bersama umat di sekitar gereja itu mengendap dalam kegelapan malam. Tidak ada penerangan jalan. Wangi-wangian para gadis yang ke gereja semerbak.

Minggu, saya kembali ke tengah Kota Dili. Kali ini naik angkot sampai tengah Kota Dili. Kemudian ambil taksi untuk mensurvei rumah salah satu calon presiden yang menjabat sebagai perdana menteri saat itu, Jose Ramos Horta, yang tidak jauh dari bibir pantai Pasir Putih di jalan menuju bukit Patung Kristus Raja. Sengaja saya melihat tempat itu karena saya berencana meliput hari pemungutan suara besok pagi di tempat tersebut. Rutinitas hari itu sama dengan Sabtu kemarin.

Hari H, saya meliput pemungutan suara di tempat pemungutan suara tidak jauh dari rumah Romos Horta. Tidak seperti di Indonesia, Ramos Horta ikut antre bersama warga lain saat ke bilik suara. Saya ambil fotonya, dan menjadi foto headline koran tempat saya bekerja pada hari itu. Padahal foto itu diambil pakai kamera saku. Saya tidak sempat ke rumah Xanana Gusmao karena mereka memberikan suara pada jam yang hampir bersamaan.

Setelah kirim berita, saya mengaso sebentar. Menjelang sore, saya pergi ke beberapa TPS untuk menyaksikan penghitungan suara. Di beberapa TPS yang saya lihat, Ramos Horta unggul jauh dari lawan-lawannya. Begitupun di TPS di SMP di depan Hotel Timor Lodge. Ramos Horta unggul atas calon presiden dari Fretelin, Lu Olo. Dan benar, di Dili, Horta menang total. Tetapi di daerah lain, Lu Olo unggul, diikuti calon-calon lain seperti calon dari Partai Demokrat Fernando De Araujo yang pada pemilu tahun ini mencalonkan diri kembali.

Hasil akhirnya, tidak ada calon yang menang mutlak. Pemilu Presiden harus dilakukan dalam dua putaran. Dua calon peraih suara tertinggi yaitu Jose Ramos Horta dan Lu Olo bertarung head to head. Pasca pengumuman itu, segmentasi politik lalu terbentuk. Fretelin menjadi musuh bersama. Dan, memang akhirnya, pada putaran kedua, Jose Ramos Horta menang telak dan terpilih sebagai Presiden Timor Leste.

Tetapi saya sudah tidak mengikuti lagi pemilu putaran kedua tersebut. Saya hanya mengikuti pemilu putaran pertama sampai tahap pengumuman pemenang, sebelum akhirnya saya kembali ke Jakarta.

Proses demokrasi di negara baru itu memang tidak berjalan mulus karena diwarnai kekerasan. Tetapi tampaknya tahun ini, prosesnya lebih baik dan jauh dari aksi kekerasan. Mudah-mudahan tahun ini pemilunya lebih demokratis, fair, adil dan jujur. Selamat berpesta demokrasi Timor Leste. (Alex Madji)

Selasa, 20 Mei 2014

Pemain Muslim Pertama di MU

Anda tahu siapa pemain muslim pertama di Manchester United (MU)? Kalau tidak tahu, saya kasih tahu informasinya. Pemain muslim pertama di tim senior MU adalah Adnan Januzaj. Dia tembus ke tim senior Setan Merah ketika Sir Alex Ferguson masih melatih klub itu pada musim terakhirnya, 2012-2013 lalu. Ketika itu, usia Adnan baru 18 tahun.

Setelah Ferguson diganti David Moyes yang kemudian dipecat manajemen The Red Devils pada April 2014, jumlah pemain muslim di Old Trafford bertambah lagi menjadi dua orang dengan kehadiran Marouane Fellaini yang dibawa dari Everton pada musim panas 2013. Uniknya, kedua pemain muslim MU itu sama-sama berasal dari Belgia dan juga sama-sama imigran.

Dalam tulisan ini, saya hanya mau mengulas tentang Adnand Januzaj. Pemain ini cukup fenomenal selain karena penampilannya yang yahud di atas lapangan, juga karena sempat diperebutkan oleh sejumlah negara untuk mengisi skuat tim nasional mereka yaitu, Belgia, Kosovo, Albania, Turki, hingga Inggris.

Adnan Januzaj adalah pemain kelahiran Brussels, Belgia keturunan Albania, Kosovo pada 5 Februari 1995. Karena itu, pria bertinggi badan 1,80 sentimeter dan berat 75 kilogram ini memiliki dua kewarganegaraan yaitu Belgia dan Kosovo-Albania.

Ayahnya bernama Abedin, anak pertama dari enam bersaudara yang lari dari Isto, Kosovo ke Belgia pada 1992 karena tidak mau direkrut menjadi tentara Yugoslavia. Sementara paman Januzaj (adik babapknya) bernama Januz dan Shemsedin menjadi anggota tentara pembebasan Kosovo atau Kosovo Liberation Army yang memperjuangkan kemerdekaan Kosovo dari Yugoslavia. Sementara keluarga ibunya sudah dideportasi ke Turki oleh Pemerintah Yugoslavia karena terus memperjuangkan kemerdekaan Kosovo. Mereka adalah keluarga muslim Kosovo.

Setelah Kosovo mendeklarasikan kemerdekaan pada 2008 dan menjadi negara berdaulat, Adnan masih rutin mengunjungi keluarganya di Kosovo pada setiap musim panas.

Karier sepakbolanya dimulai di FC Brussels. Dia menempuh pendidikan sepakbola di akademi sepakbola klub ini. Kemudian bakatnya dipantu oleh klub elit Belgia, Anderlecht dan kemudian bergabung dengan klub itu dalam usia 10 tahun pada 2005. Bakatnya tercium oleh klub-klub elite Eropa, termasuk Manchester United (MU). Maka ketika berusia 16 tahun pada 2011, dia diboyong ke Old Trafford. Tetapi baru bisa dimainkan di kompetisi resmi pada usia 18 tahun pada 2013 sesuai aturan Federasi Sepakbola Dunia atau FIFA.

Bakat dan skill individunya membuat sejumlah negara terpincut dan ingin memberi kewarganegaraan untuk dia. Inggris yang menjadi tempat bermainnya sejak usia dini ingin menaturalisasinya. Sedangkan Turki juga mengklaimnya sebagai warga negara mereka karena faktor ibunya yang berasal dari Turki.

Sementara Belgia, Kosovo, dan Albania juga berharap agar pemain ini membela timnas mereka. Pada akhirnya, Adnan Januzaj memilih membela Timnas Belgia. Pelatih Belgia Marc Wilmots memasukkannya dalam daftar cadangan pada Piala Dunia 2014. Wilmots tidak memperlakukannya secara istimewa. Maklum, Belgia dipenuhi pemain bintang yang sama-sama merumput di Liga Utama Inggris.

Di Timnas Belgia, banyak sekali pemain muslim yang berasal dari keturunan Maroko dan Aljasair seperti Marouane Dellaini, Eden Hazard, dan Kosovo-Albania seperti Adnan Januzaj. (Alex Madji)

Foto: Adnan Januzaj (sumber:http://www.mirror.co.uk/sport/football/news/adnan-januzaj-profile-everything-you-2174902)

Rabu, 04 Desember 2013

Mourinho dan Wenger Katolik Taat

Setiap pemain dan pelatih memiliki ritus tersendiri sebelum masuk lapangan. Ada pemain yang keluar masuk lapangan seperti masuk keluar gereja. Selalu dimulai dengan tanda salib. Pemain lain punya cari tersendiri yaitu, menyentuh tanah dengan tangannya lalu mengacungkan jari telunjuknya sambil menengadah ke langit.

Di Indonesia, penyerang Tim Nasional Indonesia, Titos Bonay atau Tibo memiliki kebiasaan menarik-narik jaring gawang lawan. Bukan hanya saat mengenakan seragam timnas, tetapi juga ketika membela klub. Entah apa tujuannya. Mungkin agar dia bisa merobek gawang lawan. Atau, para pemain Timnas Indonesia U-19 memperkenalkan ritus baru dalam sepakbola Indonesia. Seusai seorang pemain mencetak gol, seluruh pemain ikut sujud syukur bersama pemain yang mencetak gol itu.

Nah, pelatih sekaliber Jose Mourinho ternyata juga memiliki ritus tersendiri sebelum pertandingan. Perihal ritus dan kebiasaannya ini, beberapa media di Indonesia belum lama ini, mengutip media online asing, memberitakan tentang kebiasaan pelatih Chelsea itu yang membacakan satu perikop injil sebelum pertandingan. Kebiasaan ini dilakukan oleh pria kelahiran Setubal, Portugal, 26 Januari 1963 atau hampir 51 tahun silam ini selama melatih klub di manapun.

"Sebelum pertandingan, di ruangan saya, saya bisa membuka Injil dan membaca beberapa ayat selama beberapa menit. Rutinitas itu selalu memberikan perasaan positif kepada saya," kata Mourinho sebagai ramai dikutip media-media Inggris.

Tetapi ini bukan satu-satunya ritus Mourinho sebelum mendampingi anak-anak asuhnya di pinggir lapangan. Dia masih memiliki sebuah kebiasaan lain sebagaimana disebutkan dalam sebuah artikel yang dimuat http://www.theguardian.com/theobserver/2006/feb/19/features.review37. Di sana dikatakan bahwa setiap kali sebelum pertandingan, Mourinho menicum salib. Sebelum meninggalkan ruang ganti menuju lapangan, dia juga melambungkan doa, ketika para pemainnya menatap cermin untuk mengamati rambutnya sudah rapih apa belum. Bahkan saat menjuarai Liga Champions, Mourinho mengaku bahwa Tuhan selalu menyertainya. Mourinho mengaku selalu ada campur tangan Tuhan dalam kesuksesannya.

Berita-berita dan kebiasaan-kebiasaan tersebut mendorong saya untuk mencari tahu perihal agama pria yang di negerinya menjadi bintang iklan sebuah bank itu. Saya lalu menemukan jawabannya di situs ini: http://hollowverse.com/jose-mourinho/. Di sana disebutkan bahwa sebagaimana orang Portugal umumnya, Mourinho adalah seorang penganut Katolik yang taat. Dalam setiap keberhasilan, selalu ada campur tangan Tuhan.

Pengakuan bahwa Mourinho adalah seorang Katolik bukan hanya datang dari MOurinho sendiri, tetapi juga diakui oleh oleh orang lain yang mengenalnya. "Mourinho adalah seorang penganut Katolik dan percaya pada Tuhan. Dalam hal kehidupan yang profesional, dia sangat percaya pada kerja keras. Hanya kerja keras yang membuahkan kesuksesan. Dia tidak percaya pada keajaiban dalam sepakbola," kutip media tadi.

BBC.co.uk dalam artikel berjudul, "What makes Mourinho tick" yang diupload pada 20 Mei 2010 pukul 07.01 waktu Inggris, Mourinho dengan terus terang mengakui bahwa dia adalah seorang Katolik. "Saya banyak berdoa. Saya seorang Katolik. Saya percaya pada Tuhan. Saya mencoba menjadi seorang yang baik dan Dia mengulurkan tangannya ketika saya membutuhkannya," ujar Mourinho.

Meski penganut Katolik yang taat dan tekun berdoa, Mourinho juga yakin bahwa kesuksesan itu lahir dari kerja keras dan cerdas. "Anda harus kerja keras dan kerja cerdas. Banyak orang kerja keras tetapi tidak cerdas. Sebagai pelatih, saya harus menjalin hubungan yang baik dengan para pemain, sebuah kepemimpinan yang diterima, bukan kepemimpinan yang dipaksakan karena kekuasaan atau status," ujarnya.

Situs lain, www.kgbanswers.co.uk juga memberi jawaban bahwa Mourinho adalah seorang penganut Katolik Roma yang taat.

Bukan hanya Mourinho yang disebut sebagai pelatih cukup religius di Liga Utama Inggris. Pelatih Arsenal Arsene Wenger juga ternyata seorang pria religius. Religiusitas pria asal Prancis ini sangat ditentukan oleh pendidikan masa kecilnya. Meskipun kadar religiusitasnya sekarang agak sedikit menurun ketika masih kecil di Prancis.

"Ketika masih kanak-kanak, saya rajin berdoa karena saya dididik di lingkungan Katolik.
Bagi kami, agama sangat kuat. Untuk bermain pada Minggu sore saja, saya harus minta ijin kepada pastor. Tetapi sekarang agak sedikit kurang religius karena saya hanya memikirkan sepakbola, bagaimana saya memenangkan pertandingan dan selalu berpikri lebih pragmatis," kata Wenger kepada The Associated Press sebagai dikutip Mailonline.co.uk 10 Oktober 2013.

Dia melanjutkan, “Tetapi percaya itu penting dan saya selalu bersyukur atas nilai-nilai yang diajarkan agama saya. Sesungguhnya semua agama mengajarkan dan mewartakan nilai-nilai yang baik dan positif. Nilai-nilai itu juga bisa ditemukan dalam sepakbola.” (Alex Madji)

Foto: www.dailymail.co.uk

Jumat, 04 Oktober 2013

Pengumuman: Blog Ini Pindah ke www.ciarciar.com

Kepada para pembaca blog http://ciar-ciar.blogspot.com diberitahukan bahwa blog ini sudah bermigrasi ke www.ciarciar.com dan memilih untuk fokus ke cerita-cerita inspiratif. Silahkan kunjung ke sana untuk mendapatkan artikel-artikel terbaru kami.

Salam Sukses

Selasa, 24 September 2013

Sekali Lagi Tentang Para Bakal Capres 2014

Saya pernah menulis 11 nama yang disebut-sebut sebagai bakal calon presiden (capres) dan wakil presiden (cawapres) tahun 2014 di blog ini. Seiring dengan perkembangan politik, ada sejumlah nama yang disebut dalam daftar itu kemudian hilang dari peredaran. Sebaliknya, ada nama-nama baru yang tiba-tiba muncul.

Tetapi kepastian siapa-siapa yang akan bertarung pada pemilu presiden dan wakil presiden (pilpres) tahun depan berikut partai pengusungnya baru akan ketahuan setelah pemilu legislatif April tahun depan itu.

Berikut nama-nama para bakal capres-cawapres nanti. Nomor 1-4, sudah ditetapkan sebagai capres dari partainya masing-masing. Sisanya belum mendapat kepastian.

1. Aburizal Bakrie. Pria yang akrab dipanggil Ical dan menjelang pilpres lebih senang disapa ARB, kepanjangan dari Aburizal Bakrie, sudah ditetapkan sebagai capres Partai Golkar. Meski di internal partai beringin itu masih ada gejolak menyusul popularitas dan tingkat elektabilitas Ical yang tidak kunjung naik, tetapi keputusan mengajukan ARB sudah final. Sejumlah nama yang ikut meningkatkan tensi politik internal Golkar adalah mantan Ketua Umum Akbar Tandjung. Belum pasti benar, apakah dia sendiri mau maju atau tidak. Ataukah dia "berjuang" untuk seseorang yang lain.

2. Hatta Radjasa. Menteri Koordiantor Perekonomian ini sudah ditetapkan sebagai capres Partai Amanat Nasional (PAN). Tetapi tidak tertutup kemungkinan baginya untuk maju sebagai cawapres, sangat tergantung pada hasil perolehan suara PAN pada pemilu legislatif.

3. Prabowo Subianto. Mantan Komandan Kopasus era Presiden Soeharto ini sudah pasti menjadi capres dari Partai Gerindra. Dia masih mencari pasangan untuk mendampinginya sebagai cawapres. Hanya saja, Prabowo menghadapi persoalan besar karena belum tentu Gerindra mencapai perolehan suara 25 persen untuk mengajukan pasangan capres sendiri. Kalau tidak, dia terpaksa koalisi dengan partai lain. Bila partai yang digandeng itu lebih besar perolehan suaranya, maka dia harus rela maju sebagai orang nomor dua seperti pada pilpres 2009 lalu.

4. Wiranto-Hari Tanoesoedibjo. Duet ini akan diajukan oleh Partai Hanura. Mereka sudah dideklarasikan. Meskipun, pendeklarasian ini menimbulkan gejolak di internal partai. Tetapi pasangan ini akan bubar bila Hanura tidak bisa meraih syarat minimal mengajukan pasangan capres-cawapres sendiri pada pemilu legislatif tahun depan. Kecuali kalau partai yang akan digandeng tetap mendukung pasangan ini. Tetapi maharnya akan sangat mahal.

5. Jokowi. Nama ini disebut pada nomor 5 karena belum resmi disebut oleh PDI Perjuangan sebagai bakal capres mereka. Padahal dari semua bakal capres saat ini, berdasarkan survei berbagai lembaga, tingkat elektabilitas Jokowi paling tinggi. Dia menyisihkan ARB, Hatta Rajasa, Prabowo Subianto, Jusuf Kalla, apalagi Wiranto-Hari Tanoe. Bahkan dia menyisihkan ketua umumnya sendiri, Megawati Soekarnoputri.

6. Megawati Soekarnoputri. Nama mantan Presiden ini belum menghilang dari daftar capres. Dia masih menjadi tokoh kunci dalam menentukan capres PDI Perjuangan. Janda Taufiq Kiemas ini kemungkinan akan maju lagi. Paling tidak suara-suara daerah dalam rapat kerja nasional (rakernas) di Ancol beberapa minggu lalu masih mengusulkan nama Megawati sebagai capres. Bukan tidak mungkin, putri Bung Karno itu akan diduetkan dengan Jokowi.

7. Jusuf Kalla. Mantan Wapres dan Ketua Umum Partai Golkar ini masih ingin bertarung lagi tahun depan. Hanya belum tahu akan maju dari partai mana. Pintu Golkar sudah ditutup rapat oleh ARB. Tetapi pria kelahiran Bone Sulawesi Selatan ini terus bergerilia guna meningkatkan elektabilitasnya dan menjaga peluang maju dalam kompetisi tahun depan itu. Gosip yang beredar menyebutkan, kemungkinan penerus bisnis NV Haji Kalla itu akan maju dari Nasdem, bila partai pimpinan Surya Paloh itu memenuhi syarat mengajukan pasangan capres sendiri.

8. Capres dari Partai Demokrat sedang diseleksi melalui konvensi. Ada 11 nama yang mengikuti konvensi tersebut yakni, Ketua DPD Irman Gusman, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, mantan KSAD Pramono Edhie Wibowo, Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Pati Djalal, Menteri BUMN Dahlan Iskan, sesepuh Partai Demokrat Hayono Isman, Ketua DPR Marzuki Alie, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Haris Sarundajang, mantan Panglima TNI Endiartono Sutarto, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, dan Ali Masykur Musa

Belum pasti siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Tetapi dari ke-11 nama itu, Pramono Edhie Wibowo yang adalah adik ipar Presiden RI, pendiri, Ketua Dewan Pembina, dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) paling gencar melakukan sosialisasi. Dia keliling daerah dan sudah membuka posko pemenangan di bekas kantor Sekretariat Gabungan (Setgab), koalisi partai-partai pendukung pemerintah. Agresivitas mantan KSAD ini lalu mengerucutkan kesimpulan bahwa dialah capres Partai Demokrat. Sedangkan yang lain hanya peramai belaka.

7. Mahfud MD. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini mengundurkan diri dari Konvensi Partai Demokrat. Dia kemungkinan maju dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga tertarik pada figur pria asal Madura ini. Pada saat bersamaan kehadiran Mahfud mengguncang si raja dangdut Rhoma Irama yang sudah terlebih dahulu disebut Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai bakal capres mereka. Kehadiran Mahfud perlahan-lahan menenggelamkan nama Rhoma Irama, meskipun nama ini belum dicoret benar dari daftar capres PKB.

Sedangkan beberapa tokoh yang tiba-tiba menghilang dari penyebutan sebagai bakal capres-cawapres adalah
1. Ny Ani Yudhoyono. Tahun lalu, nama ini disebut-sebut dalam berbagai survei, meski berada pada nomor buncit. Tetapi pada 2013 ini, kakak Pramono Edhie Wibowo itu tidak disebut lagi dalam berbagai survei. Ani Yudhoyono juga tidak diikutsertakan dalam konvensi Partai Demokrat.

2. Nama lain yang tenggelam adalah Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto. Mantan Panglima TNI ini sempat disebut sebagai orang kepercayaan SBY. Sempat juga digosipkan sebagai pengganti Anas Urbaningrum di posisi Ketua Umum Partai Demokrat. Kemudian nama mantan Kepala Staf TNI AU ini tenggelam dari perbincangan capres tahun depan dan tidak disebutkan dalam berbagai survei.

3. Anas Urbaningrum. Setelah digulingkan dari Partai Demokrat, peluang Anas untuk maju sebagai capres pupus sudah. Tidak ada lagi kendaraan politik bagi mantan Ketua Umum PBHMI ini untuk berkantor di Medan Merdeka Utara mulai tahun depan. Kini, dia sedang merintis jalan baru dengan Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI). (Alex Madji)

Sumber foto: www.sarapan.info

Jumat, 20 September 2013

Mobil Murah, Jokowi versus Pemerintah Pusat

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sedang berperang melawan Pemerintah Pusat soal mobil murah. Lawannya tidak tanggung-tanggung. Wakil Presiden (Wapres) Boediono dan para menterinya; Menteri Perindustrian MS Hidayat dan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa. Intinya, pemerintah pusat mendukung dan bahkan mendorong mobil murah, sedangkan Jokowi menentang.

Jokowi berasalan, program mobil murah itu hanya akan membuat Jakarta yang sudah macet ini semakin semrawut. Menurut dia, program mobil murah itu tidak benar. Yang benar, angkutan publik yang murah. Ketika Jokowi sedang bekerja keras membangun angkutan massal di Jakarta, pemerintah pusat justru dengan bangga melahirkan kebijakan mobil murah. Karena itu, Jokowi menulis surat protes kepada Wapres Boediono soal kebijakan ini.

Pemerintah pusat berkilah, program mobil murah ini bukan biang kemacetan. Pasalnya, mobil murah ini hanya akan diproduksi sebanyak 3 persen dari total produksi mobil secara nasional. Hingga 2012, produksi mobil nasional hanya 1,1 juta unit. Sedangkan tahun 2013 ini hanya 1,2 juta unit. "Artinya, tahun depan produksi mobil murah diperkirakan hanya 10 juta. Jadi, itu bukan faktor (penyebab) kemacetan," kata MS Hidayat, Kamis 19 September 2013 (Kompas.com, Kamis 19/19/2013 pukul 15.36 WIB.)

Pada bagian lain, menteri dari Partai Golkar ini mengungkapkan, "Kita akan atur bahwa mobil murah ini tidak akan menggunakan premium. Dengan Menteri Perekonomian kita juga bicara, peraturan itu segera mungkin akan dibuat agar dapat berjalan."

Untuk mengatasi kemacetan seperti yang dipaparkan Jokowi, Wapres Boediono mengusulkan solusi. "Menurut saya, solusinya adalah meningkatkan secepat mungkin Pemda dan pemerintah pusat untuk public transport. Kedua tidak menghambat orang beli mobil tetapi kita kenakan biaya saat berkendaraan di Jakarta. Kalau mereka mau pakai, harus bayar electronic road. Industri otomatif masih banyak dibutuhkan, termasuk di Belitung. Kalau numpuk di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan jadi masalah. Jadi bisa dilakukan tanpa mengorbankan tenaga kerja," kata Boediono.

Penjelasan-penjelasan pemerintah pusat ini kebanyakan tidak logis. Logika mereka bertabrakan satu sama lain. Benar bahwa penyebab kemacetan Jakarta bukan karena mobil murah, seperti kata MS Hidayat. Sebab produk itu baru diluncurkan. Tetapi pak menteri ini lupa bahwa tanpa mobil murah saja, Jakarta sudah semrawut seperti sekarang ini. Banyak waktu dan tenaga warga kota itu habis di jalan karena macet. Tak terbayangkan kalau semua warga Jakarta punya mobil karena bisa dibeli dengan harga murah. Seluruh jalan Jakarta hanya akan menjadi tempat parkir alias tidak bisa dilalui lagi.

Pernyataan lain yang tidak logis adalah bahwa mobil murah itu akan didorong untuk tidak pakai premium. Pernyataan ini “contradictio in terminis”. Tujuan program mobil murah ini adalah untuk rakyat miskin. Tetapi pada saat bersamaan, mereka dipaksa untuk tidak pakai premium, tapi pakai pertamax. Padahal, para pemilik mobil, yang bukan mobil murah, sekarang saja masih pakai premium. Bagaimana dia bisa memaksa orang miskin untuk pakai pertamax? Apalagi aturan untuk mewajibkan semua mobil pakai pertamax saja belum ada.

Karena itu tidak heran kalau pernyataan MS Hidayat dan Boediono ini mendapat komentar pedas dan kasar dari pembaca media-media online. Pembaca Kompas.com dengan nama akun PD Kminter, misalnya, menanggapi pernyataan MS Hidayat itu dengan berkata begini, "Mobil mahal juga ikut andil biang kemacetan, jadi harap memberi perlakuan yang sama antara mobil murah & mobil mahal." Lebih keras sedikit, pembaca dengan nama akun rakyat kere mengatakan, "mendingan mundur jadi mentri pak, analisa bapak gak mutu dan gak ada value nya .. ane cuma bisa berdoa buat negri ini, semoga kita di jauhkan dari godaan MS Hidayat dan sekutu nya yang terkutuk.. Amin."

Bahkan ada komentar yang lebih garang seperti oleh rakyat Opiniku. Dia mengatakan, "lalu dimana letak inti kebijakan ini untuk org kurang mampu dr negara merdeka 68 tahun yg pak mentri idi*t ini blg? org krg mampu kok pakai pertamax? dongo lo ahh.. mmg jmlah mobil bkn patokan kemacetan, tp lihat kapasitas jalan jg lah.. jalan kecil ttp tdk bs tuk jmlh mobil yg banyak Bedulll.." Sedangkan fariz jenggo menulis, "Maklum bor, si kampret satu ini kemana2 pakai forider, ya terang saja dia kagak ngerasain macet.... yg ada dibenaknya berapa banyak komisi yang bakalan masuk kantong gue...."

Itu hanya empat dari 99 komentar atas pernyataan MS Hidayat di Kompas.com yang hampir semuanya negatif. Komentar-komentar serupa atas berita-berita soal mobil murah ini juga bisa ditemukan di situs-situs berita lain. Seorang komentator bernama Taufik Ramadan pada berita "Jokowi: Masyarakat Tidak Butuh Mobil Murah" di viva.co.id yang dimuat Kamis (19/9/2013) pukul 13.08 menyebutkan, "Semakin banyak mobil semakin macet nanti jakarta, kalau disetujuin mobil murahnya nanti pasti masyarakat berbondong-bondong beli mobil. Dan hasil nya jalanan tambah macet. SETUJU DAH SAMA JOKOWI".

Komentator lainnya, Don Oscar, menulis "rakyat butuh daging murah, kedelai murah, beras murah. bukan mobil murah!"

Nah, komentar-komentar ini mencerminkan persepsi publik yang negatif terhadap program mobil murah ini. Maka, penolakan Jokowi untuk program mobil murah ini seolah mendapat legitimasi dari rakyatnya. Artinya bukan apriori Jokowi sendiri, tetapi sebuah aposteriori. (Alex Madji)