Kamis, 17 November 2011

Berhentilah Mencuri


Pernyataan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqqodas dalam pidato kebudayaannya di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Kamis 10 November lalu tiba-tiba menjadi heboh.

Ketika itu, Busryo menyinggung kondisi lembaga negara yang kini dihuni para pemberhala nafsu dan syahwat kekuasaan. Mereka sangat perlente, mengenakan lambang burung garuda emas di seragam safari dan mengendarai mobil dinas Crown Royal Saloon yang juga jauh lebih mewah dari mobil perdana menteri negara tetangga (Kompas, Kamis 17 November 2011).

Mendengar itu Ketua DPR Marzuki Alie sangat reaktif. Dia membantah habis pernyataan Busyro itu. Menurut dia, pejabat negara tidak bisa diajak hidup sederhana. Pernyataan seperti ini memang khas Marzuki Alie, seorang pejabat yang tidak bisa berempati pada rakyat. Orang seperti ini tidak layak menjadi wakil rakyat.

Beberapa hari kemudian, tesiar berita sejumlah anggota Komisi III DPR seperti Bambang Susatyo dari Partai Golkar, Herman Herry dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), dan Ruhut Sitompul dari Partai Demokrat memiliki koleksi mobil-mobil mewah.

Tentu bukan hanya mereka bertiga. Kalau Anda pernah masuk hingga ke parkiran gedung DPR, tempat parkir itu bak tempat show room mobil mewah. Berbagai jenis mobil ada di sana.

Gaya hidup mereka juga flamboyan dan bergelimang harta. Mereka menempati rumah-rumah mewah. Ukurannya pun besar-besar. Jarang ada anggota dewan yang memiliki rumah sederhana. Sementara rumah dinas yang disediakan negara di Kalibata, Jakarta Selatan lebih banyak ditempati oleh orang-orang dekat anggota DPR.

Bertemu orang pun di hotel berbintang yang tidak mungkin didatangi rakyat jelata yang mereka wakili dan sering dilakukan malam hari, nyaris tengah malam, ketika rakyat kecil sudah lelap tidur.

Tentu bukan hanya DPR. Pejabat pemerintah pun begitu. Di kantor-kantor pemerintah juga tidak sedikit ditemukan mobil mewah. Yang bawa itu bukan hanya pejabatnya. Tetapi pegawai negeri sipil (PNS) yang baru pun, ke kantor bawa mobil.

Hal itu paling tidak tampak di Kementerian Dalam Negeri. Sejumlah pegawai di kementerian itu mengatakan, PNS-PNS muda yang bawa mobil ke kantor itu umumnya anak-anak pejabat. Tampilan mereka juga molek, indah, dan bersih. Beda dari PNS-PNS lainnya.

Maka kritik Busyo Muqqodas benar. Ini kritik sosial. Sebuah lonceng peringatan bagi para penyelenggara yang sibuk berpesta sendiri lantas melupakan rakyat yang seharusnya mereka urus. Sebab ketika rakyat berdesak-desakan di bis-bis reot ibu kota, para penyelenggara negara berdingin ria di dalam sedan empuk nan mulus serta mewah. Mereka tidak memikirkan apa lagi mewujudkan transportasi yang layak dan nyaman bagi rakyat.

Ketika rakyat berjuang mendapatkan sesuap nasi bahkan dengan cara mengemis di pinggir-pinggir jalan dan lampu-lampu merah, serta dengan mengais sampah, para penyelenggara negara bergelimang harta dan makan di hotel-hotel berbintang dan restoran-restoran mahal. Mereka berpesta pora di atas kemiskinan rakyat.

Lebih ironis lagi, kalau pesta pora para penyelenggara negara itu ternyata hasil dari mencuri uang rakyat alias korupsi. Rakyat ditekan supaya membayar pajak, sementara para penyelenggara negara ramai-ramai mencuri uang rakyat yang dikumpulkan dengan susah payah dan penuh peluh hanya untuk hidup mewah dan berpesta pora.

Inilah yang mau diingatkan Busyro Muqqodas. Janganlah hidup bermewah-mewah kalau ternyata itu hasil mencuri uang rakyat. Dengan kata lain, berhentikan mencuri uang rakyat untuk berpesta pora dan bergaya hidup mewah.

Sebaliknya, pakailah uang rakyat itu untuk kepentingan rakyat sesungguhnya. Bangunlah fasilitas-fasilitas umum yang berkualitas bagi rakyat. Bagunlah gedung-gedung sekolah yang bermutu tinggi. Bangunlah jalan-jalan yang berkualitas baik. Gajilah para guru, mantri, dan pegawati rendahan dengan layak.

Yang terpenting, perhatikanlah para petani yang dalam keterbatasannya tetap taat membayar pajak. Jangan pula uang mereka dicuri. Dosanya besar. Karena itu, hai para penyelenggara negara, berhentilah mencuri hanya untuk gaya hidup hedonis. (Alex Madji)

3 komentar:

  1. saya salah satu orang yang gemar lihat berita politik. Soal Busyro, mungkin beliau mengkritik DPR begitu. Karena beliau juga sudah jenuh di kritik sama DPR. jadi, kurang lebih ini adalah anti klimaksnya saja.
    salam,
    .
    numpang nitip link pak.
    terimakasih : Taman Bacaan

    BalasHapus
  2. Thanks sudah komentar. Tapi memang politisi kita sudah sangat busuk. Mereka tidak bisa lagi menutupi bangkainya.

    BalasHapus
  3. Pernyatan Busro merupakan pernyataan politis dan untuk menaikkan citranya. apakah anggota DPR yang kaya itu melakukan korupsi ? Seharusnya Busro fokus dengan pemberantasan korupsi. Apakah dia mempunyai keberanian untuk mengusut kasus-kasus korupsi besar ?

    BalasHapus