Senin, 01 Agustus 2011

Puasa Berarti Mengosongkan Diri


Hari ini, Senin 1 Agustus 2011, umat muslim seluruh dunia memasuki masa puasa. Ramadhan. Ini adalah ziarah selama satu bulan penuh sebelum akhirnya dimahkotai dengan kemenangan pada hari raya Idul Fitri. Selama 30 hari ini, saudara-saudari umat muslim bagai melewati padang pasir yang kering dan tandus. Tidak ada air. Apalagi makanan.

Dalam siarah padang pasir ini, mereka diuji secara fisik untuk tidak makan dan minum selama sehari penuh. Ini tentu bukan perkara mudah. Butuh tekad dan kemauan yang sungguh. Tetapi, di sinilah letak keutamaan selama puasa ini, yaitu pengendalian diri, pengekangan diri dan menahan diri dari seluruh keinginan daging dan tubuh.

Karena itu puasa tidaklah pasif, melainkan aktif. Puasa tidak sekedar tidak makan dan minum sambil tunggu berbuka kala senja tiba. Tetapi berpuasa berarti aktif. Mengosongkan diri dan mengisi kekosongan itu dengan berupaya semakin mendekatkan diri dengan Yang Di Atas baik dengan doa, laku tapa mapun perbuatan. Berpuasa tidak lalu juga berhenti beraktivitas. Kalau aktivitas berhenti selama puasa, maka hilanglah makna puasa itu.

Puasa sebenarnya bukanlah hanya monopoli umat Muslim. Pada agama-agama sawami, tradisi puasa ini ada. Dalam tradisi Kristen, misalnya, juga ada puasa. Malah waktunya lebih lama, yaitu 40 hari. Hanya bedanya, pada tradisi Kristen, saat berpuasa tidak ada sahur dan berbuka. Sebab selama puasa mereka tetap boleh makan dan minum.

Dalam Katolik, pada hari Rabu Abu dan setiap Jumat dan Jumat Agung ada pantang. Ini diatur dalam Kitab Hukum Kanonik. Hanya boleh makan kenyang sekali sehari. Sebenarnya tidak ada yang dilarang. Hanya dalam prakteknya, masing-masing orang memilih pantangnya sendiri selama puasa. Misalnya ada yang memilih pantang daging.

Dengan memilih pantang, misalnya pantang daging, anggaran untuk beli daging disisihkan untuk mereka yang membutuhkan. Ini hanya salah satu contoh. Tetapi intinya adalah pengendalian diri dari kenikmatan lidah dan tubuh sambil berbuat amal bagi mereka yang lebih membutuhkan/menderita.

Dalam tradisi Kristen, puasa lebih dititik beratkan pada sikap batin. Selama puasa umat Kristen mengosongkan diri, seperti Yesus mengosongkan diri selama retret di padang gurun selama 40 hari. Karena mengosongkan diri, maka harus ada upaya untuk mengisinya dengan berbuat baik atau laku tapa.

Meski tradisinya sama, puasa pada Muslim dan Kristen tetaplah berbeda baik secara praksis maupun teologis. Saya tidak bermaksud masuk pada dua hal yang sulit dan rumit itu.

Tetapi saya hanya mau merenungkan puasa pada awal Ramadhan ini. Bagi saya, puasa adalah mengosongkan dan menelanjangi diri untuk semakin mendekatkan diri dengan Dia yang di atas sana. Proses pengosongan dan penelanjangan diri ini dilukiskan bagai sebuah keadaan dan perjalanan di padang pasir yang tandus dan kering. Perjuangan di gurun pasir itu diharapkan bisa mencapai sebuah oase. Di sanalah kita akan merayakan kemenangan, meneguk rahmat yang berlimpah ruah, membebaskan, dan menyucikan. Diharapkan, ini semua menjadi kekuatan baru untuk melanjutkan peziarahan hidup berikutnya. Selamat berpuasa. (Alex Madji)

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar