Senin, 25 Februari 2013

Menunggu Serangan Total Football ala Anas Urbaningrum

Anas Urbaningrum menjadi perbicangan publik dalam beberapa pekan terakhir. Terutama sejak jabatannya sebagai ketua umum Partai Demokrat "diambil paksa" oleh Ketua Majelis Tinggi yang juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai dia menyatakan diri berhenti dari jabatan itu karena sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus gratifikasi mobil Harrier dari PT Adikarya terkait kasus Hambalang.

Lebih menghebohkan lagi ketika Anas membuat pidato politik di kantor DPP Partai Demokrat pada Sabtu, 23 Februari 2012. Dalam pidatonya, Anas menyindir secara tajam SBY. Anas menilai, keputusan KPK yang menetapkannya sebagai tersangka bukan murni keputusan hukum, tetapi karena ada intervensi kekuasaan.

Pasalnya, SBY mengambil kendali mengendalikan partai dari Anas dengan pertimbangan supaya Anas lebih fokus pada kasus hukum. Padahal, saat itu Anas belum ditetapkan sebagai tersangka. Pengambilalihan kendali partai itu diikuti oleh kebocoran surat perintah penyidikan atau sprindik di KPK yang menyebutkan bahwa Anas ditetapkan sebagai tersangka. Jadi, SBY sudah mendahului KPK karena KPK baru secara resmi menetapkan Anas sebagai tersangka pada Jumat, 22 Februari 2013.

Hal lain yang dikritik Anas adalah soal tagline Partai Demokrat yaitu menjalankan "politik santun" seperti yang selalu dikumandangkan SBY. Menurut Anas, pemaksaan agar dia melepaskan jabatannya dan "kriminalisasi" atas dirinya memperlihatkan bahwa Demokrat sudah sangat jauh dari politik santun tersebut.

Dan yang lebih panas lagi ketika Anas mengungkapkan bahwa kasus yang melibatkan dirinya bukanlah akhir dari cerita melainkan halaman pertama dari sebuah buku tebal dan cerita panjang tentang partai itu. Lalu, para pengamat menilai bahwa Anas akan melakukan serangan balik terhadap keluarga Cikeas. Sejumlah tokoh pun mendukung Anas untuk membuka secara blak-blakan terkait berbagai skandal yang melibatkan para petinggi Demokrat, termasuk keluarga Cikeas.

***

Anas adalah seorang penggemar sepakbola. Dia rajin menonton pertandingan sepakbola yang disiarkan televisi. Karena kesukaannya itu, kadang dia tampil sebagai pengamat sepakbola terutama pada turnamen-turnamen besar seperi Piala Dunia atau Piala Eropa. Saya masih ingat pada pemilu 2004, kami pernah nonton bareng Piala Eropa di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pernah pula main bola bersama di lapangan sepakbola DPR, ketika dia masih anggota KPU.

Sebagai pencinta dan pengamat sepakbola dadakan, Anas suka dengan permainan bola khas Belanda, total football. Sepak bola menyerang. Semua pemain bisa menjadi penyerang dan pada saat bersamaan sebagai pemain bertahan. Prinsip gaya sepakbola ini, menyerang adalah pertahanan yang terbaik.

Serangan bisa dibangun dari berbagai sisi. Dari tengah, dari sayap, atau bahkan langsung dari pertahanan. Syarat mutlak dari sistem ini keterampilan individu, terutama dalam penguasaan bola. Sebab mengandalkan operan-operan pendek dari kaki ke kaki. Tanpa ini, sepakbola menyerang sulit dijalankan.

Ibarat sepakbola ini, saya membayangkan, mengikuti analisa para pengamat politik republik ini, Anas akan menerapkan total football dalam pertarungan dengan kubu Cikeas. Anas akan menggunakan berbagai sumber daya yang dimilikinya dengan berbagai variasi serangan baik dari sayap maupun lewat serangan langsung dari tengah.

Hanya saja, persoalannya seberapa efektif serangan total football Anas ini terhadap Cikeas. Cikeas juga memiliki strategi sendiri meladeni gaya total football Anas. Kemungkinan Cikeas akan menerapkan gaya sepakbola Italia, Catenacio yaitu sistem pertahanan grendel, sambil mencari celah untuk melancarkan serangan balik cepat yang mematikan. Dan, inilah kelemahan sepakbola total football Belanda yaitu tak berkutik dengan serangan balik super cepat.

Maka, bila Anas keasyikan menyerang tanpa membangun pertahanan yang bagus maka yang terjadi adalah senjata makan tuan. Karena itu, serangan ala total football Anas harus dilakukan secara hati-hati dan terukur serta meminimalisir serangan balik cepat yang mematikan.

Tetapi ini semua baru pengandaian atau semacam preview. Permainan sesungguhnya baru akan terjadi dalam waktu-waktu ke depan. Atau paling apes, "pertandingan" ini tak jadi digelar. Masalah Anas dibiarkan begini saja. Status Anas digantung. Yang penting, mantan Ketua Umum HMI itu tidak lagi mengendalikan kebijakan partai dan tidak bersentuhan lagi dengan para pengurus di daerah. Dan, yang paling penting, Anas sudah langsung tersisih dari bursa calon presiden Partai Demokrat untuk Pemilu Presiden 2014 mendatang. (Alex Madji)

Sumber foto; Republika online (ROL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar