Selasa, 04 September 2012

Lebih Tepat Disebut Agama Moonies


Sun Myung Moon sudah meninggal pada Minggu, 2 September 2012 dalam usia 92 tahun di sebuah rumah sakit milik gereja bentukannya di dekat rumahnya di Gapyeong, timur laut Seoul, Korea Selatan, didampingi istri dan anak-anaknya. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, pria ini dirawat seminggu karena penyakit pneumonia.

Media-media asing ramai memberitakan wafatnya sang pendeta. Sementara di Indonesia, pemberitaan tentang dia tidak marak. Maklum, di sini dia tidak seterkenal di Korea, baik Utara maupun Selatan, dan Amerika Serikat.

Padahal Moon memiliki pengikut sejumlah 3 juta orang di seluruh dunia, termasuk 100.000 orang di antaranya berada di negeri Paman Sam. Selama hidupnya, dia juga berkawan baik dengan pendiri Korea Utara Kim Il Sung dan anaknya Kim Jong Il serta cucunya Kim Jong Un yang kini memimpin Korea Utara. Kedekatan ini membuat dia juga dicurigai sebagai agen mata-mata.

Moon juga dekat dengan para presiden Amerika Serikat dari kelompok konservatif seperti Richard Nixon, Ronald Reagen, dan George Bush. Bukan hanya itu, dia bersama gereja yang didirikannya sukses membangun kerajaan bisnis dalam berbagai bidang di Korea Utara, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Belum lagi kisah menarik lainnya yang mewarnai perjalanan hidup Sun Myung Moon, seperti pernah ditahan Pemerintah Korea Utara, sebelum akhirnya dibebaskan oleh tentara Amerika Serikat dan melarikan diri ke Pusan, Korea Selatan dan kemudian aktif dalam kampanye anti komunis pada era perang dingin serta menjalani masa tahanan selama 13 bulan dari 18 bulan hukuman karena masalah pajak di Amerika Serikat, tempat dia tinggal selama 30 tahun.

Siapa Moon? Dia adalah pendiri Gereja Unifikasi Korea Selatan. Moon lahir di Provinsi Pyungan Bukedo yang kini masuk wilayah Korea Utara pada 6 Januari 1920 dari sebuah keluarga yang menganut kepercayaan Konfusianisme. Pria terlahir dengan nama Mun Yong-Myeong itu adalah bungsu dari dua bersaudara. Tetapi ketika berumur 10 tahun, keluarganya “mualaf” menjadi Kristen dan bergabung dengan Gereja Presbitierian. Ini tren ketika itu untuk menolak Agama Shinto yang dibawa penjajah Jepang.

Ketika berumur 16 ( pada tahun 1936), dia mengaku bertemu dengan Yesus Kristus, Allah Bapa, Buddha, dan Nabi Musa. Dia dipanggil untuk menyelesaikan karya-Nya. Bahkan sampai dua kali dia mengaku dipanggil Tuhan Yesus, sebelum akhirnya mengambil tugas tersebut.

Pada 1954, Moon mendirikan gereja sendiri di Korea Selatan di tengah-tengah kehancuran negara itu karena perang. Sebelumnya, pada 1946, dia mendirikan gereja bernama Kang Hei di sebelah utara Kota Pyongyang disusul dengan mengubah namanya menjadi Sun Myung Moon.

Dalam gereja baru tersebut, dia menggabungkan ajaran Kristen dengan kepercayaan agama leluhurnya, Konfusianisme. Dia menafsirkan secara baru ajaran-ajaran Kitab Suci kemudian digabungkan dengan ajaran nenek moyangnya, Konfusianisme. Hasil penggabungan itu dituang dalam bukunya yang berjudul “Explanation of the Divine Principle” yang diterbitkan pada 1957. Selanjutnya, Sun Myung Moon menyebut dirinya sebagai mesias baru. Rupanya ajaran-ajaran sang mesias menarik minat orang, sehingga pertumbuhan jemaatnya sangat pesat.

Jemaat pertama dibentuknya di Pusan, Korea Selatan. Mereka adalah sekelompok band umat beriman. Pada saat bersamaan, sambil menjadi buruh dok kapal, dia terjun dalam bisnis yang keuntungannya dipakai untuk menghidupi gerejanya. Setelah itu dia melebar ke luar negeri. Misionaris pertamanya tiba di Inggris pada 1968. Setahun kemudian dia meluaskan gerejanya ke Amerika Serikat. Dia sendiri baru tiba di Amerika untuk pertama kalinya pada 1971, setelah didirikan Freedom Leadership Foundations pada 1969 yang menjadi tangan kanan gerejanya di negara itu.

Moon menikah dua kali. Setelah perang Korea berakhir, dia menikah dengan Choi Sun-kil, tetapi perempuan itu ditinggal dalam keadaan hamil di Seoul karena dia focus menjalankan tugas pewartaan di Korea Utara. Perempuan ini kemudian diceraikannya pada 1950. Moon lalu menikah lagi dengan seorang perempuan Korea Selatan lainnya, Hak Ja Han Moon, pada 1960. Perempuan inilah yang selalu mendampinginya dalam menyiarkan agamanya. Dari pernikahan ini lahirlah 10 orang anak.

Gereja Unifikasi sering kali menggelar pernikahan massal. Moon sendiri memimpin pernikahan masal untuk pertama kalinya pada 1960-an di Korea Selatan. Pada 1982 dia memimpin pernikahan massa di Lapangan Madison Park, New York yang dihadiri puluhan ribu peserta. Ini pernikahan massal pertama yang dipimpinnya di luar Korea Selatan. Lalu pada 2009, Moon menikahkan 45.000 orang dalam sebuah perayaan yang berlangsung secara simultan. Ini adalah perayaan pertamanya yang dilakukan dalam skala besar.

“Perkawinan internasional dan interkultural adalah cara yang tercepat untuk memberikan perdamaian dunia yang ideal. Orang harus kawin lintas negara dan lintas budaya. Mereka harus kawin dengan orang dari negara yang mereka anggap sebagai musuh mereka, sehingga perdamaian dunia bisa datang lebih cepat,” tulis Moon dalam biografinya seperti dikutip Telegraph.co.uk.

Berdasarkan pemaparan sekilas di atas, Gereja Unifikasi ini lebih tepat disebut sebuah agama baru, yaitu Agama Moonies, sesuai sebutan untuk para pengikutnya. Sebab ajarannya tidak murni dari Kitab Suci Kristen, tetapi hasil penggabungan dengan Konfusianisme.

Bisnis dan Politik
Dalam perkembangan selanjutnya, Moon bersama gerejanya merambah bisnis. Bahkan usahanya menggurita dan menjadi kerajaan bisnis yang sangat kuat. Mereka memiliki harian The Washington Times, the New Yorker Hotel di Manhattan, Universitas Bridgeport di Connecticut. Mereka juga punya bisnis hotel dan otomotif di Korea Utara. Selain itu mereka punya resort, klub sepakbola prosesional serta berbagai bidang bisnis lainnya di Korea Selatan. Gereja ini juga punya bisnis perusahan makanan-makanan laut yang memasok sushi ke restoran-restoran Jepang di seluruh Amerika Serikat. Pada 1982, gereja ini mendanai pembuatan film Amerika, Inchon yang bercerita tentang Perang Korea.

Pada masa tuanya, Moon mengontrol setiap hari kerajaan bisnis tersebut, mulai dari perusahan, rumah sakit, perguruan tinggi, hotel dan berbagai bisnis lainnya. Kini, putra putrinya ditempatkan pada posisi-posisi puncak di kerajaan binis dan aktivitas karitatif gereja itu baik di Korea Selatan maupun di luar negeri. Sedangkan anak bungsunya Hyung-jin Moon diangkat sebagai pemimpin tertinggi gereja tersebut. Tetapi dia tidak mewarisi peran mesianik Moon. Dia bersama saudara saudarinya, lebih pada tugas sebagai rasul. Mereka menghayati kehidupan yang dipraktekkan kedua orang tuanya berdasarkan apa yang mereka lihat dan mereka alami.

Jadi tidak salah kalau ini betul-betul agama baru. Sebab ayah mereka adalah mesias baru, sedangkan anak-anaknya adalah rasul. (Alex Madji)

Sun Myung Moon (Foto: Telegraph.co.uk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar