Kamis, 06 September 2012

Wae Rebo, Wisata Keaslian Alam


Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membidangi urusan budaya dan ilmu pengetahuan atau UNESCO memberi penghargaan, “Award of Excellence”, terhadap rumah tradisional Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, Mbaru Niang yang ada di Wae Rebo. Penghargaan itu diberikan dalam UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation 2012 di Bangkok, Selasa 27 Agustus 2012 sebagai bentuk penghargaan terhadap konservasi arsitektural. Berita ini sudah diberitakan www.theindonesianway.com pada Rabu 28 Agustus 2012 dan Kompas.com sehari kemudian.

Berita gembira ini memancing diskusi hangat di mailing list warga Manggarai: forum_lonto_leok_nuca_lale@yahoogroups.com. Dalam diskusi itu semua sepakat bahwa Wae Rebo yang sudah lama menjadi objek wisata perlu dikembangkan lebih bagus agar makin banyak wisatawan berkunjung ke sana dan rakyat setempat makin sejahtera. Tetapi yang menjadi soal adalah caranya.

Wae Rebo, adalah sebuah kampung kecil yang terletak di Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, NTT. Dia dapat dijangkau dengan kendaraan dari Labuan Bajo, Ibukota Kabupaten Manggarai Barat, menuju Kampung Denge, selama empat jam. Pengunjung bisa nginap dulu di sini, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kampung Wae Rebo dengan berjalan kaki selama tiga sampai tiga setengah jam, melewati Wae Lomba dan hutan alam yang indah dan sejuk. Penduduk Wae Rebo sudah membangun jalan setapak dari Denge ke kampung mereka.

Persoalan muncul setelah membayangkan berjalan kaki selama berjam-jam itu. Imaji yang muncul adalah, betapa terisolirnya Wae Rebo. Tidak dilalui kendaraan. Perekonomian tidak jalan. Pelayanan lain-lainnya mati. Jadi begitu tertutup.

Itu sebabnya, beberapa anggota milis seperti Frans Surdiasis dan Dominikus Darus mengusulkan perlu dibangun infrastruktur jalan yang bagus dari Denge ke Wae Rebo. Tujuannya untuk membuka keterisolasian, mempercepat akses, meningkatkan pelayanan, serta menaikkan pertumbuhan ekonomi di daerah itu. Selain itu, infrastruktur jalan yang bagus akan memudahkan wisatawan datang ke sana.

Sedangkan John Manasye berpendapat, yang perlu dibanun jalan raya cukup dari Denge sampai Wae Lomba yang berjarak tiga kilometer. Sedangkan dari situ ke Wae Rebo yang masih berjarak enam kilometer cukup dengan jalan setapak. Pertimbangannya, bukan sekedar untuk kepentingan pariwisata atau olahraga. Tetapi akses ke pusat ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain-lain sangat sulit dijangkau warga setempat.

“Bagi wisatawan, mungkin suatu daya tarik ketika melihat warga tersengal-sengal memikul kopi dari Wae Rebo menuju Denge atau memikul beras dari Denge menuju Wae Rebo. Atau ketika warga menggotong orang sakit, ibu hamil, dan ibu melahirkan yang mencari pertolongan medis dari Wae Rebo menuju Denge. Atau ketika anak-anak SD sejak kelas 1 sudah harus meninggalkan orang tuanya sehingga sebagian besar anak kelas 1-2 tidak naik kelas karena lebih membutuhkan kasih sayang orang tua ketimbang belajar,” kata John Manasye.

Jaga Keaslian
Tetapi sejumlah orang lain seperti Leonardus Nyoman dan Inonesiansius Jemabut lebih ekstrim. Talan raya tidak perlu dibangun dari Denge ke Wae Rebo untuk menjaga keselarasan keaslian alam dengan Mbaru Niang. Wae Rebo adalah wisata keaslian, bukan hanya Mbaru Niang dan budaya serta adat istiadatnya, tetapi juga alam di sekitarnya. Yang terpenting adalah bagaimana membuat perekonomian warga Wae Rebo tergantung pada wisata. Artinya, wisatawan yang tinggal berlama-lama di Wae Rebo akan membelanjakan banyak uang di sana, maka perekonomian mereka juga terangkat. Sebaliknya, jalan beraspal mulus membuat wisatawan hanya mampir sebentar di Wae Rebo lalu membelanjakan uangnya di Labuan Bajo atau Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai.

Selain itu, kelompok yang terakhir ini khawatir, pembukaan jalan ke kampung itu akan merusak lingkungan hidup dan ekosistem di Wae Rebo. Sebab pembukaan jalan raya sudah hampir pasti diikuti aksi pembalakan liar yang sulit dihentikan oleh pemerintah. Aksi seperti ini pada saatnya akan mengancam keaslian dan bahkan keberadaan Mbaru Niang itu sendiri.

“Masyarakat Wae Rebo pun sudah sepakat untuk tidak menebang pohon-pohon di hutan yang masih "virgin" di sekitarnya. Mereka kwatir apabila dibuka jalan yang bisa dilalui kendaran roda empat, pembalakan liar akan marak dan terjadi pembukaan lahan perkebunan di hutan-hutan tersebut,” tulis anggota milis lainnya, Fransiskus Harum.

Apalagi ada fakta bahwa orang Wae Rebo memiliki dua kampung yaitu Kampung Wae Rebo itu sendiri dan Kampung Kombo. Kampung Wae Rebo dipertahankan sebagai kampung adat dan Kombo sebagai pusat aktivitas pendidikan dan ekonomi. Pada hari Sabtu dan acara-acara penting, mereka berkumpul di Wae Rebo.

Kesaksian senada disampaikan Kanis Dursin yang berasal dari Nikeng, kampung tetangga Wae Rebo. Menurut dia, Mbaru Niang di Wae Rebo berfungsi sebagai rumah istirahat. Keluarga-keluarga muda Wae Rebo mempunyai rumah di Kampung Kombo, yang letaknya sekitar 7-8 kilo selatan Wae Rebo menuju ke pantai. Banyak rumah tembok di sana. Banyak pula yang memiliki genset untuk penerangan. Di banyak rumah terdapat televisi. Mereka ke Wae Rebo hanya untuk acara adat penting seperti penti.

“Saya setuju kalau Wae Rebo dibiarkan seperti apa adanya sekarang. Sebagai tempat wisata budaya, daya pikat Wae Rebo, menurut saya, ada di 'keterbelakangannya.' Yang terpenting adalah bagaimana kita menjual “keterbelakangannya” itu untuk kesejahteraan warga Wae Rebo,” ujarnya.

Tetapi yang lebih penting dari perdebatan itu adalah bahwa Wae Rebo dengan keaslian budaya dan ekosistemnya dijaga dan dikelola sendiri oleh masyarakat Waerebo dengan dukungan pemerintah dan pihak-pihak lain yang peduli akan pelestarian budaya dan bentangan alam Wae Rebo yang unik, indah, dan mengagumkan untuk kesejahteraan masyarakat. Apalagi UNESCO sudah memberikan dukungan dan apresiasinya yang tinggi.

Tetapi Wae Rebo jangan dijual tersendiri. Sebaiknya dijual bersama objek-objek wisata lainnya seperti Komodo, Sano Nggoang, Liang Bua dan objek-objek wisata lainnya yang dikemas dengan tema-tema tertentu. Ini tentu saja pekerjaan berat bagi para pelaku pariwisata di daerah itu. Dengan demikian yang sejahtera bukan hanya masyarakat Wae Rebo tapi seluruh masyarakat di ketiga kabupaten di wilayah Manggarai. (Alex Madji)

Foto: Mbaru Niang di Kampung Wae Rebo (Foto diambil dari florestourism.com)

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar