Kamis, 06 Oktober 2011

Dari Relawan Kemanusiaan Menjadi Milioner


Penampilan Tadeus Prio Utomo tidak berubah. Padahal dia sudah menjadi pengusaha sukses di Republik Demokratik Timor Leste. Dia menjadi pengusaha sekelas Raul Lemos, suami artis Krisdayanti dari bekas provinsi ke-27 Indonesia itu. Rabu, 5 Oktober 2011 siang, dia hanya mengenakan hem lengan pendek warna orange, celana jins dan spatu sport sambil pikul ransel. Gaya seperti ini masih sama seperti beberapa tahun silam, ketika dia belum menjadi apa-apa. Yah, Prio - demikian dia biasa disapa – memang tidak ingin disebut pengusaha.

Siang itu, Prio datang bersama seorang teman lamanya yang pernah sama-sama menekuni bisnis penerbitan, tetapi gagal. “Kami pernah memikul buku ke kampus-kampus dan selalu dikejar-kejar utang,” ujarnya mengenang.

Belum lama kami bincang-bincang, seorang rekan bisnisnya di Timor Leste - seorang karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang ikut mengerjakan proyek di negeri Xanana Gusmao itu - datang. Pembicaraan selanjutnya berkisar tentang aktivitas usaha Prio di Dili. “Pak Prio lebih senang hujan emas di negeri orang daripada hujan air di negeri sendiri,” kata temannya itu melukis tentang kiprah Prio di Timor Leste.

Prio terjun ke dunia usaha di Dili bukan by design. Murni sebuah keterlemparan. Serba kebetulan. Tadinya, Prio adalah seorang relawan kemanusiaan. Ketika Aceh diguncang gempa bumi hebat yang disusul tsunami mengerikan hingga menewaskan ratusan ribu orang pada Desember 2004, Prio menjadi tim relawan Rm Sandyawan Sumardi ke sana pada awal 2005. Tugas dia di tanah rencong itu antara lain adalah memasang panel listrik tenaga surya.

Prio sebenarnya tidak memiliki pengetahuan teknis soal ini. Sebab dia sekolahnya filsafat. Dia tamat dari Sekolah tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. Tetapi dia mau belajar dari orang lain hingga akhirnya bisa memasang sendiri. Melihat keberhasilan itu, kemudian ada seorang pengusaha yang mengajak di ke Dili karena memiliki proyek serupa. Tetapi Prio menolak.

Setahun kemudian, pada 2006, gempa hebat mengguncang Yogyakarta. Prio kembali menjadi sukarelawan ke sana. Tugas dia kali ini sama. Memasang panel listrik tenaga surya. Bedanya, kali ini dia tidak perlu belajar lagi karena dia sudah paham dan tahu seluk beluknya. Dan, sukses.

Kemudian tawaran ke Dili untuk mengerjakan proyek serupa datang lagi. Kali ini, Prio tidak kuasa menolak. Dia pun mengiyakan penawaran tersebut dan berangkat ke Dili pada September 2006. Di sana dia mula-mula mengerjakan panel listrik tenaga surya dan proyek-proyek listrik lainnya dari pengusaha yang membawanya. Setelah semua proyek itu kelar, “bos”-nya kemudian kembali ke Indonesia. Lantas Prio dilepas seorang diri. Prio pun berupaya untuk survive. “Sebagai seorang perantauan, saya harus survive,” ceritanya bersemangat.

Untunglah Prio memiliki jaringan yang luas berkat pergaulannya yang luwes dan mudah akrab dengan siapa pun selama “mengikuti” orang di Timor Leste. Jaringan itu kemudian dimanfaatkannya untuk bisa menikmati hujan emas di Bumi Lorosae.

Menjadi Pengusaha
Kesuksesan Prio berawal ketika dia memutuskan untuk menjadi konsultan pengadaan barang di Pemerintah Timor Leste. Setelah sukses sebagai konsultan lalu dia ikut dalam pengadaan barang. Bahkan, terakhir dia terlibat dalam proyek pembangunan. Kini Prio terlibat dalam tiga bisnis di Timor Leste yaitu konsultan, pengadaan, dan konstruksi.

Dalam ketiga hal itu, Prio mengaku tidak terlalu ahli. Tetapi dia merekrut tenaga ahli yang umumnya berasal dari Indonesia untuk mendapat proyek dari Pemerintah Timor Leste melalui tender. Dia menggaji para tenaga ahli dengan 2.000 sampai 2.500 dolar AS. Berkat sokongan para ahli itulah Prio kemudian memenangkan tender demi tender di Timor Leste.

Dia mengungkapkan, paling tidak dia mendapat 3-4 tender per tahun dengan nilai per proyek 2 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau hampir Rp 20 miliar. Selain itu, masih ada proyek-proyek bernilai kecil puluhan atau ratusan ribu dolar rutin dia dapat. Sementara proyek-proyek besar tadi per periode.

Kini Prio masih menunggu sebuah proyek yang bernilai fantastis hingga Rp 3 triliun. “Kalau bisa memenangkan proyek ini, bisalah untuk hidup dalam waktu yang cukup lama,” ucapnya optimis.

Saat ini, di Timor Leste, Prio memiliki satu perusahan sendiri dengan nama Multi Arch, Lda. Selain itu ada dua perusahan lain yang berpatungan dengan orang lokal. Perusahan-perusahan ini kemudian menggandeng perusahan lain dalam mengerjakan tender-tender yang dia menangkan. Dia menggandeng BUMN-BUMN besar Indonesia untuk mengerjakan proyek-proyek negara itu. Bahkan Prio kemudian menjadi rebutan BUMN-BUMN konstruksi Indonesia untuk mendapat proyek.

Di perusahannya sendiri, Prio memiliki 30 karyawan tidak tetap yang umumnya tenaga ahli dan delapan orang karyawan tetap. Mereka ini tim pendukungnya dalam mengerjakan tender-tender Pemerintah Timor Leste. Karyawan-karyawan ini ditempatkannya dalam sebuah rumah sewaan seharga 5.000 dolar AS per bulan.

Prio tidak berhenti di situ. Pada awal 2011 ini dia mengembangkan sayap bisnisnya ke restoran. Dia membeli restoran orang dan dijadikan semacam tempat “ngumpul” dan mejeng. Tetapi menurut dia, bisnis restoran ini belum menghasilkan uang. Bahkan dia harus mengeluarkan uang untuk subsidi usaha yang dikelola oleh teman kuliahnya di STF Driyarkara itu.

Ya, Prio yang dulu relawan kemanusiaan itu kini menjadi pengusaha sukses sekelas Raul Lemos dan menjadi milioner di Timor Leste. Slamat bro. (Alex Madji)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar