Jumat, 22 Maret 2013

Isu Kudeta yang Lebay

Sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan adanya kelompok tertentu yang ingin mengkudetanya, para menterinya pun ikut-ikutan bicara masalah kudeta. Menteri Pertahan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakya Agung Laksono, dan Menteri Perumahan Rakyat juga menilai, apa yang disampaikan bosnya itu serius.

Logis bahwa para menteri memang harus sependepat dengan atasannya. Sebab kalau tidak nanti dinilai tidak loyal. Sekalipun apa yang disampaikan SBY itu absurd dan tidak logis. Dengan semuanya membicarakan kudeta, seolah-olah negara ini genting. Padahal, faktanya tidak.

Tapi apa mau dikata. Para menteri itu dibawa dalam arus tidak logis yang dibangun atasannya. Mengapa tidak logis? Paling tidak ada dua alasan. Pertama, dalam sejarah Indonesia belum pernah terjadi kudeta. Pemberontakan G 30 S PKI 1965 tidak pernah disebut sebagai kudeta terhadap Presiden Soekarno. Meskipun ada yang bilang bahwa itu adalah kudeta militer pimpinan Soeharto terhadap Soekarno.

Kedua, di mana-mana, kudeta selalu dilakukan oleh militer karena hanya mereka yang memiliki senjata. Kalaupun dilakukan oleh sipil, pasti mereka sipil bersenjata alias pemberontak. Tetapi tetap saja mereka bersenjata. Sementara di Indonesia, sipil bersenjata itu sudah tidak ada. Kalaupun masih ada Organisasi Papua Merdeka (OPM), mereka terlalu jauh di ujung timur sana. Dan, jumlahnya tidak signifikan. Jadi, tidak ada sejarah sipil melakukan kudeta terhadap kekuasaan.

Sementara bila melihat situasi Indonesia saat ini, tidak ada kelompok militer yang ingin melakukan kudeta. Lagi pula tidak ada faksi di dalam militer yang saling bertikai. Semua kekuatan militer Indonesia berada di bawah komando sang presiden sendiri. Lalu, siapa yang ingin kudeta? Sipil. Itulah yang dicium SBY.

Tetapi dugaan ini sangat absurd karena sipil di Indonesia tidak memiliki senjata untuk mengkudeta SBY. Bahkan, untuk menggelar demo kelompok-kelompok yang berencana menggelar unjuk rasa pada 25 Maret mendatang, seperti yang diduga SBY, kekurangan dana. Seorang teman mengirim BBM meminta bantuan logistik untuk aksi unjuk rasa tersebut. Artinya, jangankan senjata, uang untuk sekedar beli air minum para demostran saja mereka tidak punya.

Maka bila benar pernyataan SBY itu berdasarkan informasi intelijen, patut dipertanyakan kebenaran informasi intelijen itu. Lebih dari itu, kudeta yang ditiupkan dari istana sesungguhnya tidak ada. Isu ini dimainkan untuk mengalihkan persoalan atau pengalihan isu-isu politik yang menimpa Partai Demokrat. Tetapi menggunakan isu kudeta sama sekali tidak cerdas dan terkesan SBY lebay.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar