Selasa, 31 Januari 2012

Rahasia Disayang Suami


Senin, 30 Januari 2012, saya mendengar rekaman kotbah Pendeta Gilbert Lumoindong. Dalam khotbah itu dia berbicara tentang rahasia disayang suami. Tidak disebutkan kapan dan dimana khotbah itu diberikan. Sementara dari respons pendengarnya, saya menyimpulkan para pendengar khotbah itu adalah ibu-ibu.

Menurut Pendeta Gilbert Lumoindong, disayang suami bukan permohonan, tetapi kualitas hidup. Rancangan Allah bagi suami adalah kepala dan istri penopang. Peran ini tidak bisa dibolak balik. “Saya selalu bilang, kalau suami kepala, maka istri itu leher. Sebagai kepala, suami bisa tegas dan juga bisa lembut,” ujarnya.

Karena itu supaya istri disayang suami, paling tidak ada delapan hal yang perlu dilakukan. Pertama, bersyukur dengan apa yang ada. Jangan mengeluh. Semakin seorang perempuan itu mengeluh, suaminya semakin muak. Sebaliknya, sekali Anda tidak mengeluh, suami anda pasti akan semakin menyayangi anda. Ketika itulah hasrat seorang istri ingin dimanja secara otomatis akan terpenuhi. Kalau istri mau mengeluh, mengeluhlah pada Tuhan.

Kedua, hal yang paling menjengkelkan suami adalah ketika dia diatur dan menggurui. Suami itu senang mendengar usulan tetapi tidak suka diatur dan digurui. Karena itu jangan pernah mengatur dan menggurui suami Anda.

Ketiga, mampu mengatur keuangan dengan baik. Ini jauh lebih baik daripada memasak dengan baik. Wanita yang pintar masak tetapi boros tidak akan disayang suami. Ketika seorang istri bisa mengatur keuangan keluarga dengan baik, di situ suami akan tambah percaya pada istri dan semakin menyayangi istrinya.

Keempat, terbuka dan selalu apa adanya terhadap suami. Pria itu memang cepat marah tetapi dia lebih marah kalau dia dibohongi. Itu dosa yang tidak bisa diampun. Sebagai seorang kepala pasti ada naluri kebijakan. Kalau anda bohong, tetapi minta maaf, laki-laki pasti bisa luluh. Yang salah adalah sudah bohong, tetapi ngotot. “Ini sering terjadi pada ibu-ibu,” kata Gilbert disambut gelak tawa pendengarnya.

Kelima, mengatur anak-anak dengan damai sejahtera. Suami bangga ketika istrinya bisa mengatur anak dengan sempurna. Itu sebabnya, suami selalu memarahi istrinya kalau salah mengurus anak. Tetapi kalau mengurus anak dengan baik dan kemudian anak-anaknya sukses, istrinya tidak akan pernah dipuji secara langsung. Tetapi dia akan menceritakan kepada orang tentang kehebatan istrinya mendidik anak.

Keenam, tidak mencemburui dan mencurigai suami. Naluri pria, kalau dicurigai malah berbuat benaran. Jadi, percayailah pada suami Anda. Sebab, kata Gilbert, kalau dia selingkuh, misalnya, pasti akan terkuak. Sehubungan dengan itu, para istri harus pintar-pintar membaca perubahan sikap dan perilaku suaminya.

Ketujuh, mendengarkan dan memberi dorongan postif kepada suami. Kadang-kadang, suami tidak butuh tanggapan. Tetapi cukup mendengar dan memberi dukungan kepada dia.

Kedelapan, dekat dengan Tuhan, suka berdoa tetapi tidak sombong rohani. Kebanggan pria paling utama adalah kalau istrinya takut pada Tuhan dan tidak mengalami kesombongan rohani.

Nah, Anda setuju dengan delapan rahasia disayang suami dari Pendeta Gilbert itu? Ungkapkan pandangan dan tanggapan Anda pada kolom komentar di bawah tulisan ini.

Sumber Foto: http://www.tomspender.com/page/2/

Kamis, 26 Januari 2012

Demokrasi ala Demokrat


Nasib Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum di ujung tanduk. Posisinya sebagai Ketua Umum Partai sudah dibahas dalam rapat Dewan Pembina di kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Puri Cikeas, Selasa, 24 Januari 2012 malam. Hasilnya, nasib Anas diserahkan kepada SBY.

Apa apa dengan Anas? Mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) ini terlilit masalah dugaan korupsi pembangunan wisma atlet SEA Games Palembang dengan tersangka Muhammad Nazaruddin dan pembangunan pusat olahraga Hambalang di Sentul, Bogor, tidak jauh dari kediaman SBY.

Nama Anas disebut sebagai salah satu orang yang menerima duit haram itu. Bukan hanya dia. Nama Sekretaris Dewan Pembina Andi Mallarangeng yang kini menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga juga disebut.

Tetapi dibandingkan Andi, tudingan terhadap Anas jauh lebih kencang. Bahkan, Anas disebut-sebut memanfaatkan uang dari berbagai proyek itu untuk menyuap peserta kongres Partai Demokrat sehingga terpilih sebagai ketua umum pada kongres partai itu di Bandung dua tahun silam.

Tetapi Anas belum terbukti bersalah. Dia belum diperiksa terkait kasus baik yang dituduhkan Nazaruddin maupun saksi Yulianis yang menyebut ada aliran dana untuk mantan Ketua Umum PB HMI itu. Tetapi nasib dia sebagai Ketua Umum partai sudah dibahas Dewan Pembina.

Memang belum jelas benar bahwa Anas akan dipecat. Tetapi kalaupun akan dipecat, mekanisme apa yang dipakai untuk melengserkannya? Apakah Dewan Pembina bisa memecat seorang ketua umum yang terpilih secara demokratis, terlepas dari aksi suap menyuap, dalam sebuah kongres?

Saya tidak paham benar aturan internal partai yang lahir pada era reformasi itu. Tetapi logika sederhana orang awam mengatakan, kalau Anas mau dilengserkan, tempuhlah jalur yang demokratis. Dengan kata lain, lengserlah Anas dengan forum setingkat kongres. Menurut saya ini cara yang demokratis.

Bila SBY serta merta memecat Anas, tanpa kongres, itu bukan contoh bagus bagi demokrasi yang dia gembar gemborkan selama ini. Demokrasi jangan hanya dipraktekkan pada tataran negara, tetapi mulai dari partai politik. Partai politik yang ademokratis dan menguasai negara hanya akan menjadikan negara itu tiran dan otoriter. Bila ini terjadi maka Indonesia akan kembali ke Orde Baru atau bahkan lebih jauh dari itu. Dan, SBY tidak beda dari Soeharto.

Lebih dari itu, penyingkiran Anas tanpa jalur Kongres hanya akan memperkuat dugaan orang selama ini bahwa Anas memang menjadi korban persaingan politik internal Partai Demokrat. Anas yang tidak ikut berdarah-darah mendirikan partai ini belum diterima betul oleh mereka yang mendirikan partai sejak awal, termasuk oleh keluarga Cikeas.

Sebab kalau memang partai itu mau membersihkan kadernya, seharusnya nasib Andi Mallarangeng juga dibahas. Tetapi bagaimana Andi dibahas sementara dia ikut dalam rapat Dewan Pembina tersebut. Andi juga seharusnya dicopot dari Menteri Pemuda dan Olahraga dan dengan rela menghadapi pemeriksaan dugaan korupsi yang terungkap dalam persidangan Nazaruddin bersama Anas Urbaningrum. Mari kita tunggu langkah selanjutnya. (Alex Madji)

Foto: http://www.taushiyah.com/?p=256

Selasa, 24 Januari 2012

Dahlan Iskan Masuk Demokrat?


Situs berita Vivanews.com menurunkan foto Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan di bawah berita “Dahlan Iskan Akan Benahi 20 Pabrik Gula” pada Selasa, 24 Januari 2012 pukul 15.11 WIB. Dalam foto itu, pemilik Jawapos Grup ini mengenakan kemeja putih lengan panjang. Jari telunjuk kanannya menunjuk sesuatu di depannya, hingga lengan kemeja itu tersingsing hingga hampir ke siku. Sementara tangan kirinya dialaskan entah di atas meja atau podium.

Tetapi yang menarik bukan gayanya. Tetapi sebuah lintasan garis warna biru di sepanjang kancing kemeja putih itu mulai dari leher. Ini bahasa simbol. Kecil tetapi memberi makna mendalam. Warna antara lain selalu terkait politik. Dalam konteks politik Indonesia, warna biru identik dengan Partai Demokrat. Maka apa yang dilakukan Dahlan Iskan tidak lain adalah politik identitas.

Melihat foto itu pikiran saya langsung teringat pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pendiri Partai Demokrat ini, setiap kali acara keagamaan di kediaman pribadinya, di Puri Cikeas, Gunung Putri Bogor, selalu mengenakan kemeja seperti ini. Kemeja putih atau baju koko, tetapi ada garis penanda. Biru. Garis ini meski kecil, tapi mencolok di tengah warna putih yang begitu dominan. Ini identitas SBY. SBY adalah demokrat. Begitupun sebaliknya.

Karena itu ketika melihat foto ini, batin saya bertanya jangan-jangan Dahlan Iskan sudah masuk Partai Demokrat. Sebab sejauh ini belum ada khabar terang benderang bahwa pria yang melakukan transplantasi hati di Cina itu masuk partai politik. Meskipun, media-media di bawah Grup Jawapos terang-terangan mendukung SBY sejak berpasangan dengan Jusuf Kalla.

Dukungan itulah yang membuat Dahlan Iskan duduk pada pos-pos strategis Pemerintahan SBY. Mulai dari Dirut PLN hingga Menteri BUMN saat ini. Politik balas budi.

Kalaupun sudah masuk Demokrat juga tidak soal. Itu hak politik Dahlan Iskan. Hanya saja, ketika seorang pemilik media menjadi partisan seperti itu, independensi medianya terhadap pemerintah dan partai yang dimasukinya pasti luluh. Ada conflict of interest di sana. Meskipun, seperti kata Jurgen Habermas, filsuf Jerman, tidak ada hal yang bebas kepentingan.

Tetapi mudah-mudahan media-media Dahlan Iskan tetap membela kepentingan publik dan menjadi ruang dialog publik, lagi-lagi meminjam istilah Habermas, menuju masyarakat komunikatif. Bukan hanya menjadi corong Partai Demokrat yang (kalau betul sudah) dimasukinya dan corong pemerintah. (Alex Madji)

Sumber foto: http://bisnis.vivanews.com/news/read/282475-dahlan-iskan-akan-benahi-20-pabrik-gula

Jumat, 20 Januari 2012

Theindonesianway.com


Theindonesianway.com adalah sebuah weblog yang didirikan teman saya Sixtus Harson. Dia seorang blogger yang menyebut dirinya on and off bloger alias blogor kapal selam. Mulai awal pekan lalu, Januari 2012, dia serahkan pengelolaan weblog ini kepada saya. Di bawah Haris, sapaan akrabnya, weblog itu berbahasa Inggris dan bersifat umum. Tetapi di bawah saya, weblog ini diubah ke dalam bahasa Indonesia dengan fokus olahraga, terutama sepakbola.

Saya ingin weblog ini diperuntukkan bagi pembaca Indonesia atau pengguna Bahasa Indonesia di luar negeri. Penduduk Indonesia yang begitu besar adalah pasar yang potensial. Mayoritas dari mereka berbahasa Indonesia. Hanya sedikit yang menggunakan Bahasa Inggris.

Karena saya saat ini berkecimpung di olahraga, maka saya prioritaskan berita-berita sepakbola, yang menjadi olahraga massal dan sangat disukai mayoritas penduduk negara ini. Penyuka olahraga ini bukan hanya lelaki tetapi juga perempuan. Cewek-cewek tidak hanya tertarik pada aksi para pria dalam mengolah si kulit bundar di lapangan hijau, tetapi dan terutama karena ingin menyaksikan tampang para pemain yang tampan dan seksi. Inilah daya tariknya.

Itu sebabnya, saya menerjemahkan berita-berita sepakbola dari luar itu ke dalam Bahasa Indonesia untuk pembaca Indonesia, baik hasil-hasil pertandingan, bursa trasfer pemain, maupun klub. Sesekali akan dilakukan analisi pertandingan.

Fokus kedua weblog ini adalah gosip seputar para pemain, terutama terkait kehidupan pribadi, dunia percintaan, pacar, selingkuhan, atau sisi lain kehidupan para pemain yang glamour di luar lapangan. Kepingan-kepingan cerita seperti ini selalu menarik perhatian publik.

Semoga dua hal itu cukup menarik perhatian pengunjung. Karena itu, bagi Anda pengunjung blog ini, silahkan mengklik www.theindonesiaway.com untuk mendapatkan berita-berita sepakbola dan gosip para pemain.

Selasa, 17 Januari 2012

Baru Keluar Kota Lagi


Selasa, 17 Januari 2012. Saya ditugaskan ke Kupang. Meliput acara peresmian kantor Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN), Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ini tugas keluar kota pertama dalam dua tahun terakhir. Meski singkat, saya tetap menerima tugas ini. Sekedar untuk refreshing, gumamku dalam hati ketika menerima tugas tersebut.

Berangkat dari Jakarta menggunakan Garuda Indonesia pukul 07.45 WIB. Berangkat tepat waktu. Tentu saja saya naik gratis karena dibayar pemerintah. Sempat transit selama 40 menit di Denpasar, lalu melanjutkan perjalanan ke ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tiba pukul 13.00 Waktu Indonesia Tengah di Bandara El Tari Kupang. Dari Jakarta saya jalan bersama Kabag Hukum Direktorat Jenderal Kelautan dan Perikanan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil (KP3K) Bapak Hanung.

Ternyata di Kupang ada acara Partai Golkar pada saat bersamaan. Begitu pesawat yang kami tumpangi tiba, regu penyambut Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo semuanya mengenakan jaket kuning. Di mana-mana bendera Golkar bertebaran. Foto Ketua Umum partai beringin itu Aburizal Bakrie dan Bendaharanya Setya Novanto juga terpampang di mana-mana.

Dari Bandara kami langsung ke lokasi acara. Ikut dalam rombongan sang menteri. Meski sudah pakai iung-iung polisi, para pengendara kendaraan umum tidak mau peduli. Saking ingin menjaga jarak, mobil Avanza yang kami tumpangi terpaksa ngebut hingga mencium mobil rombongan yang ada di depannya. Untung sentuhannya tidak keras, sehingga tidak membahayakan kami yang ada di dalam mobil, juga tidak menimbulkan kerusakan berarti pada mobil. Kecuali Kijang Inova yang persis di depan kami sedikit penyok bagian belakangnya.

Meski terjadi insiden, tidak ada protes. Perjalanan dilanjutkan. Tibalah kami di tempat acara. Kantor BKKPN yang baru itu terletak di atas bukit di Bolok, Kabupaten Kupang. Agak jauh dari pemukiman. Pemandangan di depannya indah. Sebuah teluk. Di bibir pantai, sebuah kapal sedang melepas sauh.

Acara hari itu berlangsung hanya satu jam. Isinya, pidato-pidato para pejabat pusat dan daerah, lalu penyerahan bantuan dan penghargaan terhadap sejumlah pihak. Acara itu dihadiri juga anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar seperti Yosef Nai Soi yang datang mengenakan jas Partai Golkar.

Selesai acara, kami mencari makan siang. Padahal sudah pukul 16.00 WIT. Sebetulnya saya tidak lapar-lapar amat. Tetapi harus mengikuti pejabat yang membawa saya. Akhirnya juga makan dengan menu ikan bakar. Tadinya mau cari sei, makanan khas Kupang, tetapi restoran yang dituju close. Akhirnya terdampar di depot makan ikan bakar. Makan siang baru dilakukan pukul 17.00 WIB. Singkat cerita, kami (saya bersama dua orang pejabat dan dua staf KP3K), kekenyangan. Hujan lebat mengirigi kami menuju Hotel Swiss Belinn Kristal, Kupang, tempat kami menginap. Sebelum diambil alih Swiss Bel, nama hotel ini adalah Kristal.

Baru saja sampai hotel, saya merebahkan badan sebentar di dipan. Sejenak menyaksikan acara televisi, seperti pertandingan Liga Super Indonesia antara Persisam Samarinda versus Persib yang berakhir dengan kemenangan Persisam 2-1 dan diwarnai adu jotos antara M Ilham dan rekannya di tim nasional dari Persisam yang pernah main di Persib. Lalu menyaksikan tenis Grand Slam Australia Terbuka.

Setelah itu masuk kamar mandi. Baru saja ingin berendam air panas di Bath up, telepon berdering. "Ditunggu dilobi mau diajak makan lagi," bunyi suara lembut di balik telepon, Alfi, staf humas KP3K. Makan lagi makan lagi. Padahal, saya ingin menulis biar bisa istirahat lebih cepat. Tetapi apa mau dikata. Mengikuti keinginan birokrat. Meluncurlah kami ke Restoran Nelayan yang hanya sepelempar batu jauhnya dari hotel.

Di sana, saya hanya mencicip tiga potong udang tepung goreng, secuil ikan, dan sei, plus buah. Cukup. Selebihnya menemani para pejabat itu makan dan mendengar organ tunggal. Asyik juga. Baru pulang hotel, pukul 22.00 WITA dilanjutkan dengan menulis berita dan membuat dan mengunggah catatan ini. Inilah pengalaman keluar kota setelah dua tahun absen. (Alex Madji)

Senin, 16 Januari 2012

Pungli Itu Terjadi di Depan Gereja


Minggu, 15 Januari 2012 pukul 09.45 WIB. Perayaan ekaristi di Gereja Santa Maria Regina (Sanmare), Sektor IX Bintaro Jaya belum kelar. Tetapi saya sudah duduk di antara gerobak jajanan di depan gereja. Ya, saya tidak mengikuti perayaan ekarisiti hari itu karena harus menemani anak sulung saya bermain. Tadinya dia ingin ke Sekolah Minggu. Tetapi karena libur, saya mau tidak mau menemaninya bermain.

Pagi itu saya kelaparan. Dari rumah hanya sarapan dua potong ubi rebus, seekor ikan bakar, dan secangkir kopi. Bermaksud diet dan mengurangi konsumsi nasi, saya alpa sarapan nasi. Ternyata perut ini tak kuat. Dasar perut nasi. Maka saya berburu sarapan. Gado-gado pakai lontong.

Baru saja saya duduk di samping gerobak dan memesan gado-gado, sebuah mobil patroli dari Security Bintaro Jaya parkir di belakang saya. Seorang berpakaian security dan bekepala plontos duduk di belakang kemudi. Tampkanya sudah cukup berumur. Sementara seorang ibu melenggak lenggok menagih di antara para pemilik gerobak. “Saweran-saweran,” ujar ibu gemuk itu cukup keras sambil bergaya seperti penyanyi dangdutan keliling kampung.

Setelah selesai menagih, ibu itu lalu menghampiri sang sopir. Menjulurkan tangannya ke dalam. Sementara pemilik gado-gado, tempat saya pesan gado-gado, juga buru-buru menyerahkan sebungkus gado-gado.

Kesaksian para pemilik gerobak di situ menyebutkan, petugas security dari Bintaro Jaya saban Minggu memungut uang dari para penjual makanan di depan gereja dan supermarket Hari-Hari itu. Besarnya, Rp 5.000 per gerobak. “Mereka sih enak. Main pungut. Kita yang susah. Belum tentu dagangan kita laku,” ujar seorang bapak yang menggelar makanan, dadangannya, di atas motor.

Pedagang lain memberi kesaksian bahwa dari satu lokasi itu saja, Security Bintaro Jaya ini bisa meraup Rp 50.000. Belum dari tempat lain. Sebab mereka keliling mulai dari sektor I dan mengutip dari setiap penjual.

Belum lagi jatah reman yang meskipun besarannya tidak tentu. “Kalau pereman kadang datang sendiri. Dia terima berapa pun yang kita kasih. Dia juga bagi dengan teman-temannya karena mereka banyak temannya,” kisah penjual lainnya tercekat menahan ludah.

Para pedagang kecil ini tidak luput dari pungutan liar seperti itu. Padahal, mereka hanya berdagang sekali seminggu di depan gereja tersebut. Pungutan liar ternyata tidak hanya dilakukan oleh aparat resmi negara, tetapi juga “pegawai” partikelir swasta seperti petugas security tadi. Betapa enaknya hidup sang security itu yang hanya mengutip dari hasil keringat dan jerih payah orang lain. Lalu apa bedanya dia degan preman?

Ah, memang kadang kala kita sulit membedakan antara security yang berarti (menjaga) kemanan dengan preman di negara yang full of free man alias preman.

Keterangan foto: Tampak dalam Gereja Santa Maria Regina. Foto diambil dari http://brideandgroomjournal.wordpress.com/2011/05/26/our-wedding-detail/

Sabtu, 14 Januari 2012

(Bukan) Emansipasi Perempuan


Beberapa tahun terakhir, gerakan emansipasi perempuan sangat kencang. Saking kuatnya, para aktivis perempuan, terutama di negara-negara barat menabrak tradisi yang sudah hidup berabad-abad. Di kalangan Gereja Katolik, misalnya, ada perempuan yang ingin ditahbiskan menjadi pastor. Tentu saja hal ini dilarang. Atau di Gereja Anglikan Inggris, ada perempuan yang ingin ditahbiskan menjadi uskup. Hal ini memicu perpecahan di internal gereja tersebut. Akibatnya, sejumlah umat Anglikan dan para pemimpinnya pindah ke Katolik.

Di dunia politik, perjuangan emansipasi perempuan juga kuat. Hillary Clinton pernah bertarung dengan Barack Obama untuk menjadi calon presiden dari Partai Demokrat Amerika Serikat empat tahun silam. Kalau saja menang, dia menjadi presiden perempuan pertama negara adidaya itu.

Meskipun di negara lain seperti di Filipina dan Indonesia, perempuan sudah tampil sebagai orang nomor satu. Corason Aquino dan Gloria Macapagal Arroyo menjadi presiden di Filipina. Di Indonesia, Megawati Soekarnoputri juga menjadi presiden.

Masih di Indonesia, keterwakilan perempuan di parlemen diatur dalam undang-undang, minimal 30 persen. Meskipun, tidak semua partai memenuhi aturan ini. Untuk menduduki jabatan di komisi-komisi independen pemerintah, keterwakilan perempuan juga sangat diperhatikan. Minimal 30 persen.

Tentu saja, hal-hal seperti di atas mebanggakan. Tetapi saya kemudian tergelitik oleh fakta baru belakangan ini. Seperti di kereta api disediakan gerbong khusus wanita. Atau, di sejumlah mal seperti di Giant Bintaro dan Living World, Alam Sutra, Serpong, keduanya di Tangerang Selatan, ada tempat parkir khusus untuk perempuan. Mungkin di tempat-tempat lain juga ada. Ada tulisan “For Women”.

Penyedian tempat-tempat khusus itu adalah bahasa simbol. Perempuan diistimewakan. Mereka diperlakukan khusus. Sampai di sini tidak masalah. Tetapi sebenarnya, disadari atau tidak, ada makna lebih dalam dan negatif di balik penyediaan tempat-tempat khusus seperti itu.

Kenapa? Sebab dengan penyediaan tempat-tempat khusus bagi perempuan, maka mereka tetap ditempatkan manusia kelas dua. Mereka distigmakan sebagai manusia lemah. Mereka belum merdeka dan cengkeraman laki-laki. Semakin banyak tempat yang dikhususkan bagi perempuan, maka semakin terisolasi perempuan. Pengkhususan tempat bagi perempuan tidak serta merta membebaskan mereka dari tindakan kriminal. Sebab kriminalitas tidak mengenal jenis kelamin.

Karena itu, menurut saya, pengkhususan seperti ini justru merupakan langkah mundur dari perjuangan emansipasi wanita yang menuntut kesetaraan perempuan dengan laki-laki dalam berbagai bidang, termasuk dalam urusan tempat parkir sepert ini.

Lantas, saya coba melihat arti emansipasi itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Disebutkan, ada dua arti. Pertama, “Pembebasan dari perbudakan; kedua, persamaan hak di berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria). Jadi, pengkhususan seperti itu justru menegasikan arti emansipasi dan perjuangan aktivis perempuan. (Alex Madji)

Foto diambil dari: http://coldwind08.wordpress.com/2010/10/12/keadilan-dalam-gerbong-khusus-wanita/