Jumat, 10 Agustus 2012

Paus Halalkan Penggunaan Kondom


The Telegraph membuat berita yang menggemparkan Gereja Katolik. Paus Benediktus XVI memberi sinyal bahwa Gereja Katolik akan mencabut larangan penggunaan kondom. Berita ini tentu saja menggembirakan dan melegakan perusahan-perusahan produksi kondom. Pasalnya, sudah sangat lama Gereja menolak penggunaan alat kontrasepsi, termasuk kondom, karena menghalangi proses terciptanya kehidupan baru.

Kebijakan ini akan diumumkan Vatikan minggu ini. Tetapi dalam wawancara khusus dengan The Sunday Telegraph, Paus asal Jerman itu memberi sinyal diijinkannya penggunaan kondom. Tujuannya untuk mencegah risiko terinfeksi AIDS dan mencegah penularan virus HIV. Jadi, diijinkannya pengunaan kondom bermaksud untuk memelihara kehidupan dan menghindari kematian yang juga merupakan sebuah tindakan yang bertanggung jawab, meskipun di luar perkawinan.

Tetapi, sekali lagi ditekankan, penggunaan kondom adalah cara terbaik untuk melawan penyakit dan penggunaannya hanya untuk melindungi kehidupan. Penggunaan kondom diijinkan hanya dalam kasus khusus. Seseorang yang mengindap virus HIV/AIDS dibenarkan menggunakan kondom agar tidak menularkan penyakit tersebut kepada orang lain. Tujuannya untuk menghentikan penularan AIDS kepada pasangannya. Jadi, tidak dalam semua kondisi dan tidak bisa dipakai sesuai keinginan.

Pernyataan Paus ini tentu saja mengejutkan. Sebab baru tahun lalu, paus bernama asli Joseph Ratzinger itu menegaskan, kondom justru memperburuk masalah AIDS di Afrika. Disebutkannya bahwa endemik AIDS di benua hitam itu yang sudah menjadi sebuah tragedi tidak bisa diatasi oleh uang saja dan juga tidak hanya bisa diatasi melalui distribusi kondom. Malahan, kondom justru memperparah masalah.

Tetapi Vatikan merevisi pernyataan ini. Dalam revisinya Paus hanya mengatakan bahwa kondom berisiko memperparah masalah.

Terlepas dari itu, pernyataan ini tetap saja akan mengguncang, terutama kelompok-kelompok fundamental dalam gereja. Sebaliknya, hal ini memberi angin segar bagi kelompok liberal. Tetapi gereja masih memiliki tugas berat untuk memperjelas dan mempertegas agar kebijakan ini tidak disalahgunakan. (Alex Madji)

Rabu, 08 Agustus 2012

Dan Gereja Pun Berbisnis


Gereja Inggris ternyata terlibat dalam bisnis. Gereja Katolik juga begitu. Mereka menanamkan saham di banyak perusahan. Tidak sedikit kongregasi yang memiliki saham di perusahan A sampai Z. Gereja Inggris, misalnya, ternyata memiliki saham di perusahan media milik Rupert Murdoch, News Corporation. Jumlahnya kecil. Hanya 0,005 persen dari total saham publik atau senilai 1,9 juta pound. Tetapi gara-gara skandal penyadapan yang dilakukan raksasa media itu di Inggris tahun lalu, Gereja Inggris atau Gereja Anglikan akhirnya menjual seluruh sahamnya.

Ini bukan yang pertama dilakukan Gereja Inggris. Pada 2010, Gereja Inggris pernah melakukan divestasi atas seluruh sahamnyanya di Vedanta Resources senilai 3,6 juta pound karena keterlibatan perusahan tersebut dalam pelanggaran hak asasi manusia di perusahan tambang India.

Kembali ke masalah News Corporation. Gereja Inggris menjual semua sahamnya karena khawatir kerajaan bisnis Rupert Murdoch tidak mau belajar dari skandal penyadapan tersebut. Sebab skandal tersebut memperlihatkan bisnis media Rupert Murdoch tidak etis. Sekretaris Komisioner Gereja Andre Brown, seperti diberitakan The Guardian, edisi 7 Agustus 2012, mengatakan, "Skandal penyadapan yang terjadi tahun lalu itu sudah menjadi perhatian serius di kalangan lembaga investasi Gereja tentang penyertaan saham kami di News Corporation."

Keputusan untuk menjual saham itu tidak dilakukan serta merta, tetapi setelah dilakukan dialog terus menerus dengan pihak perusahan. Apalagi, pihak perusahan tidak melakukan perubahan, meskipun Church's Ethical Investment Advesory Group (EIAG) sudah memberikan sejumlah rekomendasi. Sayangnya, rekomendasi itu tidak diterima. Hingga akhirnya, rekomendasi EIAG untuk menjual saham dilakukan.

Pihak gereja sudah melakukan dialog pada tingkat dewan dengan pihak News Corporation dan sudah mengungkapkan keprihatinan mereka soal skandal penyadapan yang terjadi tahun lalu tersebut. "Menjual saham adalah pilihan terakhir. Kami lebih menggunakan suara kami. Ini adalah sebuah pertanyaan pada dialog yang berkelanjutan," kata Edward Mason dari EIAG.

Nah, berita ini sengaja saya tulis di blog ini untuk menunjukkan bahwa institusi gereja juga terjun dalam bisnis. Dia bukan melulu institusi yang hanya berurusan dengan Tuhan. Tetapi juga memikirkan keberlangsungan hidupnya yang butuh dana yang tidak sedikit. Caranya, yaitu tadi, dengan menyertakan saham di perusahan-perusahan publik. Lalu apakah ini salah? Saya tidak mau menilai. Silahkan Anda menilai sendiri. Menilai ini salah atau tidak bisa menjadi topik diskusi yang panjang.

Tetapi apa yang dilakukan Gereja Inggris ini menarik. Mereka berani menjual sahamnya ketika perusahan itu melenceng dari nilai-nilai yang dianut gereja. Artinya mereka tidak kompromi dengan nilai-nilai yang tidak benar. Nah, apakah gereja Katolik juga seperti itu? Berani menjual sahamnya di perusahan-perusahan yang nyata-nyata merusak lingkungan dan melanggar hak asasi manusia? Walauhalam. (Alex Madji)

Selasa, 07 Agustus 2012

Oase di Gedung Bertingkat



Dua perempuan paruh baya itu duduk di sebuah sofa di bagian pojok Kafe Javaro yang terletak pada bagian pojok lantai dasar sebuah kantor di bilangan Palmerah Barat, Jakarta Barat, Senin, 6 Agustus 2012 sore. Mereka menyeruput masing-masing secangkir kopi sambil berbagi cerita. Banyak hal yang mereka ceritakan. Mulai masalah pekerjaan hingga soal hubungan sosial. Keduanya asyik dan duduk berjam-jam pada sore itu.

Saya bersama istri duduk di meja sebelah mereka. Saya menyeruput secangkir cappuccino, sementara sang istri menikmati segelas coklat panas. Sedangkan tiga meja lainnya kosong. Rasa minumannya tidak terlalu luar biasa alias biasa saja. Tetapi suasananya membuat tempat itu berbeda. Teduh dengan berpendingin ruangan. Juga hening. Tidak ada asap rokok. Jadi, sungguh-sungguh nyaman.

Selain berbagai jenis minuman, kafe itu juga menjajakan macam-macam jenis kue. Tetapi Senin sore itu, kue-kuenya sudah habis. Kami hanya menyeruput capuccino dan coklat panas tanpa kue. Meski begitu suasana santai sungguh tercipta. Beban pekerjaan kantor yang menumpuk seolah jauh. Ya, tempat ini menjadi pilihan untuk sekedar mengusir kepenatan akibat tekanan di ruang kerja yang begitu tinggi.

Di sebuah kantor lain di bilangan Gatot Subroto Jakarta Selatan, terdapat juga sebuah kafe. Atau lebih tepat disebut warung kopi. Namanya Double Dipps, Donnuts & Cofee. Letaknya nyempil, pada sebuah ruangan sempit di bagian pojok paling belakang lobi gedung berlantai 11 tersebut. Dekat dengan parkiran.

Di bagian dalamnya terdapat empat meja bundar ukuran kecil. Sementara tiga meja serupa lainnya ditaruh di luar. Sedangkan satu tiang kokoh gedung itu juga dijadikan meja dengan dipasang semacam papan di sekelilingnya. Lalu di belakangnya ditempatkan kursi.

Jajanan utama kafe ini adalah donut. Tapi kue-kue lain seperti kroison juga ada. Sedangkan minumannya ada kopi, coklat, dan teh. Harganya bervariasi. Beda dengan kafe yang pertama tadi, tempat ini panas karena tidak ada pendingin ruangan. Kipas angin pun nihil. Hanya saja, tempatnya memang sangat terbuka. Jadi udara masuk dengan leluasa, tanpa penghalang.

Selain itu, tempat ini penuh dengan asap rokok. Maklum, ini menjadi terminal rokok bagi para perokok gedung itu. Maklum di gedung ini, semua karyawan tidak boleh merokok di dalam gedung, apalagi di ruang kerja.

Akibatnya, bagi orang tertentu, terutama mereka yang tidak senang merokok, tempat ini bukan tempat yang bagus untuk rileks dan sekedar mengusir kepenatan pekerjaan kantor. Sebaliknya justru menjadikan kepala semakin mumet.

Tetapi bagi yang lain, terutama mereka yang suka merokok, ini adalah tempat favorit. Sebab mereka bisa menikmati kopi sambil menyulut dan menghisap kretek dalam-dalam dan menghebus asap sejauh mungkin. Stres akibat tekanan pekerjaan dan kantuk pun terusir seketika.

Di banyak kantor, ada tempat-tempat seperti ini. Ini semacam oase bagi karyawannya untuk sejenak mengambil nafas di tengah menumpuknya pekerjaan dan ketatnya dead line menyelesaikan pekerjaan. Memang, tempat-tempat seperti ini lebih bagus kalau dibuat senyaman mungkin agar betul-betul menjadi tempat untuk menimba kekuatan baru sebelum melanjutkan pekerjaan. Tetapi bagi orang tertenu, tempat yang penuh asap rokok pun bisa menjadi oase untuk memulihkan tenaga guna melanjutkan pekerjaannya. Selamat menikmati oase-oase di tempat kerja Anda masing-masing. (Alex Madji)

Jumat, 03 Agustus 2012

Ketika Masalah "Mualaf" Dibawa ke Pengadilan

Ini cerita tentang seorang anak berumur 10 tahun di Essex, Inggris yang "mualaf" dari Yahudi ke Kristen. Tadinya, kedua orang tua anak yang identitasnya tidak diungkapkan ini menganut agama Yahudi. Kakek neneknya pun Yahudi. Tetapi kemudian ayahnya memilih "mualaf" menjadi seorang Kristen.

Anak itu kemudian mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti jejak sang ayah. Gara-gara itu, lalu kedua orang tuanya "perang". Sang ibu yang masih setia dengan Yudaismenya memaksa anaknya untuk tidak pindah agama, sebelum dia cukup matang dari sudut usia. Sementara sang anak ngotot mau menjadi seorang kristen. Ayah dan ibu anak ini sudah bercerai sejak 2010.

Karena sama-sama ngotot, sang ibu lalu mengajukan gugatan ke pengadilan pada November 2011. Dia menduga mantan suaminyalah yang memaksa anaknya masuk kristen. Bahkan dia menuduh mantan suaminya itu menghalang-halangi anaknya menghayati agama Yahudinya. Parahnya lagi, sang ibu tidak mendiskusikan dengan mantan suaminya terlebih dahulu, sebelum mengajukan gugatan. Lalu apa yang terjadi di persidangan? Majelis hakim justru menyalahkan sang ibu. Mutlak salah, kata hakim, bahwa sang ibu mengajukan gugatan ke pengadilan tanpa berdiskusi dengan ayah anak ini terlebih dahulu.

Hasil akhirnya, majelis hakim memutuskan bahwa anak itu dinilai sudah matang untuk memilih agama yang dia peluk dan bisa dibabtis sejauh dia sudah siap.

Hakim John Platt dari Pengadilan Negeri Ramford, Essex, Inggris lalu menulis surat secara pribadi kepada anak itu terkait keputusannya itu. "Kadang-kadang orang tua secara sederhana tidak bisa menyetujui apa yang terbaik bagi anak mereka, tetapi mereka juga tidak bisa mutlak benar. Ayah Anda berpikir bahwa adalah sesuatu yang benar kalau Anda dibabtis sebagai seorang Kristen sekarang. Sementara ibumu ingin tunggu sampai kamu mengerti. Karena itu mereka meminta saya mengambil keputusan. Itulah pekerjaan saya," tulis Hakim John Platt.

Tugas hakim adalah mengambil keputusan terbaik untuk sang anak. Dan, keputusannya adalah bahwa sang anak dibabtis sebagai seorang Kristen kalau anak itu sendiri sudah siap dibabtis. "Tetapi hakim menetapkan bahwa itu tidak berarti anak ini kehilangan warisan yudaismenya. Dan akhirnya, ini adalah yang paling penting, baik ibu maupun ayah Anda tetap memperhatikan kamu dengan penuh cinta apapun yang terjadi dengan babtisan Anda," kata John Platt lebih lanjut seperti diberitakan The Telegraph.

Proses pindah agama di Indonesia juga banyak. Tetapi, orang tua mengajukan gugatan ke pengadilan karena anaknya pindah agama belum pernah saya dengar. Dari berita ini hanya mau ditunjukkan bahwa isu agama di negara demokratis liberal seperti Inggris juga ternyata sensitif dan bisa merusak hubungan keluarga. Sama sensitifnya seperti di Indonesia. (Alex Madji)

Rabu, 01 Agustus 2012

Dimensi Sosial THR


Sebentar lagi hari raya lebaran tiba. Menjelang hari raya itu, THR alias tunjangan hari raya menjadi topik pembicaraan penting. Yang butuh THR bukan hanya karyawan kantoran, tetapi juga para OB atau office boy di kantor-kantor yang rata-rata tenaga out sourcing. Pegawai negeri sipil juga mengharapkan THR. Bahkan wartawan pun mencari-cari yang namanya THR. Kalau THR para pejabat lain lagi. Selain cara, jumlahnya pun lebih besar.

Tidak hanya mereka. Pembantu di rumah, tukang antar koran, tukang sampah di kompleks tempat kita tinggal, tukang sayur langganan dan satpam di kompleks perumahan juga minta THR. Bahkan, petugas kebersihan yang Anda jumpai tiap hari di jalan minta THR. Tetapi biasanya, para petugas seragam kuning ini minta THR tepat pada hari raya. Paling tidak, itu yang saya jumpai setiap kali hari raya idulfitri. Singkatnya, semua orang saat ini membicarakan dan membutuhkan THR.

Sebagian kantor sudah membagikan THR kepada karyawannya. Sebagian lain, akan membagikannya menjelang hari raya. Atau mungkin ada kantor yang sama sekali tidak membayar THR dengan berbagai alasan. Semoga hal yang terakhir ini tidak terjadi.

THR selalu memiliki dimensi sosial. Terutama karena dia diberikan menjelang hari raya. THR bukan hanya untuk dinikmati sendiri selama hari raya itu, tetapi juga untuk dibagikan dengan mereka yang selama satu tahun terakhir berada bersama dan membantu kita. THR tidak lain adalah berbagi kebahagian, keceriaan, dan kegembiraan dengan mereka yang telah membantu kita. Dalam konteks orang-orang di luar pekerja kantoran, terutama mereka yang saya sebut di atas tadi, THR lebih banyak mengandung unsur belas kasih dan kebaikan hati.

Itu sebabnya, di sejumlah kantor, karyawannya rela saweran untuk THR OB out sourcing yang tidak mendapat jatah THR baik dari perusahaan yang menaungi mereka, apalagi dari perusahaan dimana mereka bekerja. Sifatnya sukarela. Seberapa ada. Karena itu jumlah THR para OB ini tidak sesuai dengan upah mereka yang umumnya hanya sesuai UMR.

Begitupun di lingkungan rumah. THR yang diterima dari kantor itu masih juga dibagi-bagi kepada petugas keamanan kompleks yang besarannya juga sukarela, tukang antar koran, tukang sayur langganan, tukang sampah, dan pembantu. Mereka, termasuk pembantu, mendapat THR sesuai kebaikan hati Anda. Maklum belum ada aturan yang mengharuskan bahwa para pembantu rumah tangga, misalnya, harus diberi THR sebesar satu kali upah.

Yang saya mau katakan adalah bahwa hari raya ini adalah kesempatan untuk berbagi dengan THR yang diterima dari kantor masing-masing, berapa pun besarnya. Seberapa besar yang kita beri kepada orang-orang yang sudah membantu kita, tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah semangat dan kesadaran berbagi. Berbagi keceriaan, kegembiraan, dan suka cita pada hari raya dalam wujud paling kecil berupa THR. Itulah dimensi sosial dari THR.

Jumat, 27 Juli 2012

Upaya Terakhir Foke


Kalau Anda melintasi Jalan Gatot Subroto, Jakarta mulai dari Semanggi sampai Pancoran, Anda coba memperhatikan iklan-iklan luar ruang yang berjejer di sisi kiri-kanan jalan tersebut. Ada begitu banyak baliho di sepanjang jalan itu. Semuanya meminta perhatian pengguna jalan.

Tetapi saya tertarik hanya pada sejumlah baliho. Isinya antara lain, Jakarta tanpa macet, disertai gambar jalan tol yang sepi dari mobil yang melintas. Ada lagi baliho bertuliskan, sekolah gratis sampai SMA. Dan, kesehatan gratis bagi warga Jakarta kalo sakit. Semua iklan ini diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sedangkan di bawah iklan ini tertulis, “Space Available”.

Di atas motor saya mencoba mengotak atik kira-kira apa maksud baliho-baliho itu. Karena dikeluarkan oleh Pemerintah DKI Jakarta, maka pertama-tama yang melintasi pikiran saya adalah bahwa konteks pemasangan baliho ini adalah Pemilihan Umum Kepala Daerah atau Pemilukada DKI Jakarta.

Pikiran itu muncul begitu saja karena teringat bahwa Gubernur DKI Jakarta saat ini, Fauzi Bowo yang akrab dipanggil Foke, maju dalam Pilkada untuk masa jabatan kedua kalinya. Sayangnya, pada pemungutan suara 11 Juli lalu, Si Kumis, kalah telak dari pasangan Joko Widodo alias Jokowi dan Basuki Tjahja Purnama atau Ahok. Beda perolehan suaranya hampir 10 persen. Sebuah jurang yang dalam. Karena tidak ada peraih suara 50 persen plus satu, maka dua pasangan ini, dari lima pasang, maju ke putaran kedua yang rencananya digelar 20 September mendatang.

Saya lalu menyimpulkan, oh, baliho-baliho tadi adalah upaya Foke untuk mengejar defisit perolehan suara sebesar hampir 10 persen dari Jokowi-Ahok itu. Ini hanya salah satu cara. Tetapi seberapa ampuh janji-janji ini? Hanya waktu yang akan menjawab dan hanya para pemilih di DKI yang berhak menentukan. Tetapi fakta saat ini adalah Jakarta macetnya makin parah. Pendidikan masih sangat mahal. Kesehatan? Tidak yang gratis. Semua dibayar Padahal, sudah lima tahun Foke memimpin Jakarta. Tetapi kenapa hal-hal itu baru disampaikan sekarang. Kemana saja selama lima tahun lalu? Ini pertanyaan rakyat jelata yang tiap hari menikmati kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas Jakarta.

Cara lainnya yang ditempuh Foke untuk mendongkrak perolehan suaranya setelah kekalahan telak pada putaran pertama itu adalah dengan mulai ramah dengan wartawan. Seorang teman wartawan, dalam status facebokknya menulis, "Kok hari ini Pak Foke berubah ya. Dengan wartawan ramah. Padahal, sebelumnya, huh...Malah wartawan dibentak."

Terlepas dari apapun caranya, meraih defisit suara 10 persen itu tidak mudah. Apalagi, kalau pada putaran kedua nanti semua warga Jakara berprinsip "asal bukan Foke". Jadi, Foke memang kalah pamor dari Jokowi yang sudah terlanjur distigmakan sebagai orang yang akan membawa perubahan di Jakarta, seperti yang dilakukannya di Solo. Warga Jakarta sudah punya pilihan, dan pilihan itu adalah Jokowi.

Sekedar pembanding sederhana, pada pemilu presiden atau Pilres 2004, Megawati Soekarnoputri yang ketika itu masih menjadi presiden kalah dari SBY-Jusuf Kalla pada putaran pertama. Keduanya maju pada Pilpres putaran kedua. SBY saat itu distigmakan sebagai orang yang menjanjikan perubahan, sedangkan Megawati Status Quo. Kalau dihitung berdasarkan sumber daya yang ada, Megawati masih berpeluang mempertahankan jabatan presidennya pada putaran kedua. Tetapi rakyat terlanjur berperinsip, asal bukan Mega. Maka, ketika putaran kedua tiba, SBY-JK menang telak atas Mega-Hasyim Muzadi, ketika itu.

Saya khawatir, Pilkada DKI Jakarta juga begitu. Masyarakat DKI saat ini sudah memegang prinsip asal bukan Foke. Maka peluang mantan Sekda DKI itu pun tipis. Tetapi, ini belum final. Sebab politik bukan seperti hitungan matematika. Karena itu, segala usaha, termasuk dengan janji-janji yang pasti tidak terpenuhi dalam baliho-baliho yang Anda lihat di Sepanjang Jalan Gatot Subroto tadi, tetap perlu dilakukan. Siapa tahu, bisa membalikkan keadaan dan hitung-hitungan sederhana saya tadi. (Alex Madji)

Selasa, 24 Juli 2012

Orang Kristen Perlu Baca Al Quran


Berita bahwa mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair masuk Katolik sudah basi karena sudah lama sekali muncul di media masa, terutama media masa Eropa. Begitupun berita bahwa dia sedang mendalami Al Quran. Tetapi sebagai sebuah blog, saya merasa masih relevan mengangkat tema ini "Tony Blair Membaca Al Quran".

Tonny Blair mengaku bahwa dia meninggalkan Gereja Anglikan bukan karena marah dengan gereja tersebut. Sebaliknya, dia "mualaf" ke Gereja Katolik karena faktor sang istri, Cherie dan keluarganya. Lebih dari itu, Blair yang pernah memimpin Partai Buruh Inggris itu merasa bahwa memang lebih betah di Gereja Katolik.

Sebagai pendatang baru di Gereja Katolik, Blair mengaku bahwa dia menerima doktrin-doktrin Gereja Katolik. Tetapi pada saat bersamaan, dia tidak lalu menjadi orang tidak mau dialog dengan orang dari agama lain. Dengan kata lain, Blair tetap mau berdialog, tanpa terhalangi oleh doktrin-doktrin Gereja Katolik. Dia terbuka terhadap aliran kepercayaan apapun, tanpa tersekat olek doktrin agama yang dianutnya. Bahkan dia berupaya untuk memahami agama lain dengan membaca kitab suci mereka.

"Ketika saya bertumbuh di Inggris Utara, rasa-rasanya hanya ada satu iman ketika itu. Meskipun, faktanya, teman sekolah saya di Durham Choristers School adalah seorang Yahudi. Tetapi saya sama sekali tidak memikirkan itu. Pokoknya hanya ada satu budaya yaitu Kristen," cerita Blair dalam sebuah debat bersama Uskup Agung Canterbury Roman Williams dan mantan Sekretaris Negara jaman kepemimpinannya di Pemerintahan Inggris, Charles Clarke.

Proses selanjutnya membuat Blair menjadi terbuka terhadap keberadaan agama-agama lain. Terutama ketika dia berada di Oxford dan berada di bawah bimbingan pastor Anglikan Peter Thompson. Dia kemudian menyimpulkan bahwa agama yang berbeda-beda itu, terutama agama-agawa Yudaisme warisan Abraham seperti Kristen dan Islam bisa bertemu pada titik yang menjadi perhatian bersama, terutama nilai-nilai universal.

Untuk memperkaya pemahamannya pada agama lain, Blair kini baca Kitab Suci mereka. Untuk memahami Islam, Blair kini membaca Al Quran. "Saya melihat Kuran dalam konteks saya sebagai orang luar. Kuran berada dalam sebuah tradisi kenabian yang besar yang mencoba mengembalikan orang ke prinsip-prinsip dasar spiritualitas. Kuran adalah sebuah deklarasi prinsip yang luar biasa progresif. Karena itu orang Kristen pun harus membacanya. Sebagai contoh ada begitu banyak referensi perihal Maria, bahkan lebih banyak dari pada yang tertulis dalam injil. Sayangnya, semuanya masih terbungkus dan salah aplikasi," tegas Blair.

Itulah sebabnya Blair mengaku bahwa sesungguhnya dia lebih tertarik pada studi-studi agama daripada politik. Sebab agama bergumul dengan kebenaran-kebenaran fundamental tentang kehidupan. Dia merasa, sekarang dia sangat memahami aturan-aturan politik, tetapi dalam agama masih begitu banyak hal yang belum tereksplorasi. Jadi, konteksnya adalah Bliar terus membaca Al Quran untuk semakin menyelami kebenaran yang ada di dalamnya guna membangun dialog yang harmonis antara Kristen dan Islam, barat dan timur.

Nah, mari kita coba meneladai ajakan Tony Blair ini. Untuk bisa memahami agama lain maka perlu ada upaya memahami inti ajarannya. Hanya dengan itu, masing-masing agama bisa saling menghargai dan, seperti kata Blair, bertemu pada nilai-nilai universal yang diajarkan pada kitab suci masing-masing agama. (Alex Madji)