Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebentar lagi akan genap satu tahun memimpin Jakarta. Dalam kurun waktu itu, popularitas Jokowi yang sudah terkenal sejak menjadi Walikota Solo melejit tajam.
Berbagai survei menempatkan pria kurus penyuka musik metalica ini melampaui nama-nama beken yang sudah lebih dulu terkenal. Popularitas yang tinggi itu membuatnya disebut-sebut sebagai presiden berikutnya, menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Kepopuleran Jokowi ini turut mengerek Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), partai asalnya, sehingga dalam rapat kerja nasional (rakernas) akhir pekan lalu, partai moncong putih itu mentargetkan meraih 27 persen suara pada pemilu tahun depan. Optimisme ini selaras dengan hasil survei terakhir dari Litbang Kompas yang menyebutkan mereka sebagai partai dengan tingkat elektabilitas paling tinggi. Hal itu pun tidak terlepas dari figur Jokowi yang bintangnya terus bersinar terang.
Tetapi, PDI-P tidak mau tergesa-gesa mengumumkan Jokowi sebagai capres, meskipun sebagian pengurus daerah mengusulkan nama itu. Sebab, wewenang menentukan capres ada di tangan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum. Pada saatnya, putri Bung Karno ini akan mengumumkannya, meski dalam sambutan rakernas itu dia sudah memberi signal jelas terkait pencalonan Jokowi.
Kembali ke masalah popularitas Jokowi. Mantan penguasaha mebel ini populer karena sejumlah hal berikut ini: Yang pertama dan utama adalah model kepemimpinanannya yang dialogis komunikatif. Filsuf Jerman dari Skolah Frankfurt, Jurgen Habermas menyebut hal ini sebagai unsur penting dalam demokrasi untuk mencapai kesejahteraan bersama. Kehidupan publik yang demokratis tidak bisa berkembang kalau tidak dibicarakan dengan warganya. Sebuah keadaan ideal perlu dibicarakan bersama dan bukan dipaksakan oleh orang, kelompok, atau ideologi tertentu.
Jokowi menerjemahkan dan menjalankan teori Habermas ini dengan blusukan, sebuah istilah yang kedengarannya “ndeso”. Dia tidak duduk di balik meja kerjanya di Balaikota tetapi turun ke lapangan, melihat sendiri permasalahannya, berkomunikasi dan berdialog dengan warganya, mendengar apa persoalan mereka lalu dicarikan solusi yang tepat. Dan yang tidak kalah penting, setelah solusi ditemukan, lalu dieksekusi dengan cepat. Tidak menunda-nunda. Dan, eksekusi solusi itu terus dikontrol dan evaluasi agar berjalan benar. Ini semua dilakukan untuk kebaikan bersama.
Setelah Jokowi sukses dengan blusukannya, tidak sedikit pemimpin yang lalu mengkalim bahwa blusukan ini bukanlah produk Jokowi. Paling baru, peserta konvensi Partai Demokrat Pramono Edhie Wibowo mengklaim sudah duluan blusukan dari Jokowi. Sebelumnya, lawan-lawan politik Jokowi menyerangnya dari sisi ini karena blusukan menjadi kekuatan Jokowi. Media, pengamat politik, dan aktivis LSM dipakai untuk menyerang Jokowi. Menurut mereka, blusukan tidak penting-penting amat. Bahkan hanya menghabiskan dana daerah.
Faktor kedua yang menaikkan popularitas Jokowi adalah kemampuannya menata Waduk Pluit. Meski sedikit diwarnai insiden, tetapi penataan dan normalisasi waduk ini akhirnya berjalan lancar dan disambut positif oleh masyarakat. Liputan media televisi dan online memperlihatkan bahwa tidak sedikit warga yang menikmati fasilitas umum ini untuk berekreasi, meski penataannya belum rampung 100 persen.
Faktor ketiga, dan ini yang paling fenomenal adalah kemampuan Jokowi "menaklukkan" para pedagang kaki lima (PKL) Tanah Abang. Jokowi adalah satu-satunya Gubernur DKI Jakarta yang berhasil memindahkan PKL Tanah Abang ke Blok G tanpa konflik sedikit pun. Bahkan para preman di sana tidak berkutik. Sempat ada clash sedikit antara kelompok tertentu, tetapi Wakil Gubernur Ahok menunjukkan kelasnya sebagai seorang pemimpin yang tegas dan berani.
Bagi Jokowi, menata PKL tanpa konflik bukanlah hal baru. Salah satu yang membuat dia terkenal selama memimpin Solo adalah karena kemampuannya merelokasi PKL tanpa konflik sedikit pun. Hal ini pulalah yang membuat dia terkenal di seantero tanah air hingga akhirnya terpilih sebagai Gubernur Jakarta.
Keberhasilan ini kemudian mendapat tanggapan dari Fauzi Bowo, Gubernur DKI yang digantikan Jokowi. Dia juga mengklaim sukses menata PKL di Pasar Senen ketika masih memimpin wilayah ini. Tetapi Foke lupa bahwa dia tetap saja gagal menata PKL di Tanah Abang dan "tunduk" pada penguasa ilegal wilayah tersebut.
Keempat, Jokowi mampu membangun proyek percontohan Kampung Deret di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Dengan proyek ini, Jokowi menyulap kampung kumuh menjadi sebuah kompleks yang indah, rapih, serta enak ditempati dan dilihat. Akan sangat bagus kalau semua wilayah kumuh di Jakarta dibuat seperti ini. Bila Jokowi mampu melakukannya secara serentak, maka dia akan semakin populer dan alam semesta pun menyetujui dia sebagai Presiden Indonesia berikutnya.
Keempat hal itu riil dan bisa dilihat dengan mata kepala sendiri hasilnya. Bukan hanya ocehan di media massa. Masih banyak gebrakan lain yang dilakukan Jokowi-Ahok dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Yang masih ditunggu warga adalah realisasi pembangunan angkutan massal baik MRT maupun monorel sebagaimana dijanjikan. Ini yang belum kelihatan wujudnya. Bila ini juga kelihatan, maka pantaslah Jokowi menikmati popularitas yang tinggi itu. (Alex Madji)
Sumber foto: www.indonesiarayanews.com
Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jokowi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 September 2013
Senin, 21 Januari 2013
Banjir dan Penguasaan Ruang Publik
Banjir dashat yang melanda Jakarta pada Kamis, 17 Januari 2013 menjadi cerita pilu untuk ibukota Indonesia ini. Bukan hanya karena dengan banjir wajahnya menjadi bopeng, tetapi juga dan lebih-lebih karena menelan belasan korban jiwa. Sungguh menyedihkan.
Belum lagi akibat banjir, banyak kerugian yang dialami olen negara maupun warganya. Banyak kendaraan mulai dari yang biasa sampai yang berkategori mewah rusak akibat terendam banjir. Dan, masih banyak cerita pilu lainnya.
Banjir ini tidak hanya melanda rakyat jelata yang tinggal di bantaran kali Ciliwung. Orang-orang kaya yang tinggal di perumahan-perumahan elite juga menjadi korban. Bahkan, Istana Presiden yang seharusnya steril dari banjir, tidak luput. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus gulung celana karena banjir menggenangi istananya.
Sebenarnya, ini bukan pertama kali Istana Presiden tergenang air. Pada 2007, Istana Pak SBY juga tergenang. Tetapi, reaksinya ketika itu tidak sedahsyat pada banjir tahun ini. Paling tidak hal itu terlihat dari liputan media massa terutama media televisi atas aktivitas SBY sejak Kamis 17 Januari 2013 sampai Minggu 20 Januari 2013.
Pada Kamis 17 Januari 2013, semua televisi menayangkan gambar SBY yang didampingi Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dengan celana panjang yang digulung hingga sedikit di bawah lutut beridiri di tengah genangan air di Istana Presiden.
Pada hari yang sama, media-media televisi menyiarkan secara langsung SBY berserta Ny Ani Yudhoyono melakukan tinjauan ke lokasi banjir di Rawa Jati. Dia rela celana necesnya terendam air banjir yang kuning. Tidak hanya itu. SBY, Ibu Ani, dan sejumlah menteri juga menyusuri Kali Ciliwung menggunakan perahu karet milik TNI AL. Aksi SBY ini mendatangkan decak kagum dari rakyatnya.
Sabtu, 19 Januari 2013, SBY menggelar rapat penanganan banjir di tenda pengungsian yang juga disiarkan secara langsung oleh sejumlah stasiun televisi. Dia mendengar dengan seksama pemaparan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Bahkan saking kritisnya, Presiden "menegur" Djoko Kirmanto untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Djokir, demikian sapaan Djoko Kirmanto di kalangan wartawan Istana Presiden, mencampuradukkan penggunaan istilah banjir kanal timur dan kanal banjir timur. Menurut SBY yang benar itu kanal banjir timur dan kanal banjir barat.
Hari berikutnya muncul gambar di media-media massa cetak yang memperlihatkan SBY mengaduk-aduk nasi di dapur umum.
Fakta-fakta di atas memperlihatkan bahwa penayangan SBY selama banjir ini sangat dominan. Saking dominannya, berita tentang banjir itu sendiri sama derasnya dengan penayangan tentang SBY di tengah-tengah banjir itu sendiri. Dengan kata lain, selama banjir ini, SBY sungguh menguasai ruang publik melalui penayangan media massa televisi.
Tokoh kedua yang cukup dominan adalah Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo atau Jokowi. Aktivitas mantan Walikota Surakarta ini juga menjadi sorotan media. Aktivitasnya terkait banjir ini menjadi objek liputan media massa. Dia meninjau tanggul Latuharhari yang jebol, proses evakuasi korban di Menara UOB, dan masih banyak lagi selalu diikuti wartawan. Tetapi, tampak sekali dia tetap kalah dominan dari SBY.
Ada juga tokoh lain yang mencoba "mencuri" perhatian publik yaitu mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Kemunculan tokoh ini sebenarnya patut dipertanyakan. Sebab, kalau ukurannya bahwa dia adalah mantan Gubernur DKI, kenapa mantan gubernur lainnya Fauzi Bowo tidak muncul dan tidak dimintai komentar atau pendapat. Padahal, apa yang terjadi saat ini sebenarnya tidak terlepas dari kebijakan Sutiyoso selama menjabat Gubernur DKI dua periode.
Yang saya mau katakan dengan tulisan ini adalah bahwa banjir ini membawa "berkah" tersendiri bagi SBY, Jokowi dan Sutiyoso. Lebih-lebih SBY yang menguasai ruang publik. Paling tidak popularitas mereka terangkat melaui pemberitaan media massa, terutama televisi yang begitu luas. Tetapi mudah-mudahan tidak selesai dengan popularitas. Diharapkan ada perbaikan dan perubahan dalam penanganan banjir di waktu-waktu mendatang, sehingga peristiwa pilu seperti ini tidak terulang lagi. (Alex Madji)
Foto: Diambil dari Kompas.com
Rabu, 02 Januari 2013
Jokowi Mencuri Perhatian Rakyat
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi kembali mendapat simpatik dari warga ibukota Jakarta, menyusul kebijakan "Car Free Night"-nya pada malam pergantian tahun dari Senin 31 Desember 2012 ke Selasa 1 Januari 2013 di sepanjang Jalan Sudirman, Thamrin, Medan Merdeka.
Ini adalah kebijakan langka dalam empat dekade belakangan. Terakhir kali yang mengosongkan jalan-jalan protokol itu dari kendaraan bermotor adalah Gubernur Ali Sadikin. Almarhum jenderal marinir bintang tiga ini menggelar acara serupa pada momen ulang tahun Kota Jakarta.
Tak pelak apa yang dibikin Jokowi itu bagaikan oase di tengah kegersangan Jakarta. Pemimpin setelah Ali Sadikin selalu menggelar pesta malam pergantian tahun di tempat-tempat yang memaksa warga mengeluarkan uang. Sejak Sutiyoso sampai Fauzi Bowo, pesta pergantian tahun selalu digelar di Ancol. Padahal, untuk masuk kawasan itu, rakyat harus merogoh kocek untuk bayar tiket masuk.
Akibatnya, pesta yang memang seharusnya untuk rakyat itu tidak bisa dinikmati oleh rakyat kebanyakan, yaitu rakyat jelata. Pesta-pesta kembang api itu dan hiburan musik hanya bisa disaksikan oleh mereka yang memiliki uang. Sedangkan rakyat jelata hanya menyaksikan melalui televisi-televisi kecil dan buram dari gubuk-gubuk pinggir-pinggir rel kereta api dan bantaran kali.
Maka dengan diadakan di jalan protokol seperti ini, warga Jakarta yang tidak punya duit pun bisa menikmati suasana pesta malam pergantian tahun yang megah secara langsung di lokasi. Laporan berbagai media menyebutkan, semua orang dari berbagai golongan dan strata sosial berbaur menjadi satu. Tidak ada sekat antara yang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat jelata pada malam itu. Semua menjadi satu dan larut dalam kegembiraan yang sama.
Acara ini bukan hanya menguntungkan secara ekonomis, terutama bisa menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Tetapi acara ini juga sungguh-sungguh menghibur rakyat ibukota yang tengah terhimpit oleh berbagai persoalan hidup. Lebih dari itu, acara seperti ini membuat Kota Jakarta ini sedikit lebih manusiawi dan kawasan Sudirman-Thamrin-Medan Merdeka tidak hanya milik mereka yang kaya raya karena bisa melenggang dengan kendaraan-kendaraan mewah di jalan-jalan protokol tersebut.
Kegembiraan dan sambutan rakyat yang antusias, meski hujan mengguyur, serta kepuasan warga pascamelewati acara ini memperlihatkan bahwa kebijakan Jokowi tidak keliru. Malahan dengan begitu, Jokowi semakin mendapat tempat di hati rakyatnya. Apalagi laporan media massa sangat memberi kesan positif terhadap acara tersebut. Ini menjadi kredit poin tersendiri bagi Jokowi dalam memimpin Ibukota negara ini dan dia berhasil mencuri perhatian rakyatnya.
Memang belum banyak hal yang dibuat Jokowi pascadilantik sebagai Gubernur DKI 2012. Tetapi hal-hal kecil seperti ini justru semakin mempertegas model kepemimpiannya; kepemimpinan yang humanis dan merakyat. Ini akan mendapat nilai lebih, kalau dia bisa mewujudkan janji-janji kampanye Pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang lalu.
Mungkin terlalu muluk mewujudkan semua janji kampanye. Tetapi bila dia sukses menjalankan satu-dua program unggulannya, misalnya membangun transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah, serta membenahi hunian liar di pinggir kali di DKI Jakarta, maka dia pasti akan menjadi seorang pemimpin yang dielu-elukan rakyatnya.
Akhirnya, selamat berbuat lebih Pak Jokowi untuk kebaikan warga ibukota dan mengubah wajah Jakarta yang selama ini distigmakan sebagai kota yang absurd. (Alex Madji)
Foto: Diambil dari Demotix.com
Selasa, 20 November 2012
11 Bakal Capres dan Cawapres 2014
Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden (Pilpres) Indonesia tinggal dua tahun lagi. Sejak sekarang, sejumlah nama disebut-sebut sebagai bakal calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) pada pemilu tersebut.
Sebelum artikel ini, saya sudah menulis beberapa artikel tentang tokoh-tokoh yang potensial muncul sebagai capres di blog ini. Yang paling mutahir adalah penyanyi dangdut Rhoma Irama yang ingin menjadi capres pada Pilpres mendatang. Sebelumnya lagi, saya menulis tentang Aburizal Bakrie yang disingkat dengan ARB, sebagai bakal capres yang sudah "mencuri" start kampanye Pilres dengan berbagai media.
Kali ini saya hanya mencoba membuat daftar para bakal capres dan cawapres pada pilpres mendatang sebagai rangkuman dari nama-nama yang sudah beredar luas di berbagai media massa.
1. Aburizal Bakrie atau ARB. Ketua Umum Golkar ini sudah pasti menjadi capres dari partai berlambang pohon beringin ini. Berdasarkan survei terbaru Lembaga Survei Nasional yang bekerja sama dengan Golkar, Golkar akan memenangkan Pemilu Legislatif 2014 mendatang dengan perolehan 18,1 persen suara. Karena itu, ARB membuka peluang menggaet calon dari Partai Demokrat sabagai Cawapres.
2. Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo. Dia adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat saat ini. Menurut Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso, ARB bukan tidak mungkin akan dipasang dengan adik kandung Ibu Ani Yudhoyno ini sebagai cawapres.
3. Megawati Soekarnoputri. Meskipun PDI Perjuangan belum menetapkannya sebagai capres, tetapi sejauh ini belum ada nama lain dari partai moncong putih itu yang disebut-sebut sebagai capres. Apalagi popularitasnya, berdasarkan survei berbagai lembaga, masih yang tertinggi di antara para bakal capres lainnya.
4. Prabowo Subianto. Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini juga sudah pasti menjadi capres partainya. Popularitasnya juga cukup tinggi bahkan melampaui ARB. Dia hanya kalah sedikit dari Megawati Soekarnoputri dari sudut popularitas dan elektabilitas.
5. Jusuf Kalla. Meski peluang masuk melalui pintu Golkar sudah tertutup, Jusuf Kalla juga disebut-sebut akan maju lagi pada Pilpres 2014. Pada 2009, dia kalah dari SBY-Boediono. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Kalla akan dicalonkan oleh Partai Nasdem, bila partai itu berhasil memenuhi syarat mengajukan pasangan capres sendiri.
6. Kristiani Yudhoyono. Nama ini sempat disebut-sebut sebagai bakal capres dari Partai Demokrat. Meskipun beberapa kali dalam sambutan resmi menegaskan bahwa dia tidak akan mendorong anggota keluarganya pada Pilpres mendatang.
7. Hatta Radjasa. Ketua Umum PAN dan Menteri Koordinator Perekonomian ini juga akan diusung partainya sebagai capres. Hatta adalah juga besan SBY. Dan, penetuan capres Partai Demokrat pada 2014 akan sangat tergantung SBY. Bukan tidak mungkin faktor kekeluargaan ini akan sangat berpengaruh dalam kiprah politik Hatta Radjasa selanjutya.
8. Djoko Suyanto. Menteri Koordinator Politik dan Keamanan ini adalah mantan Panglima TNI dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara. Dia digadang-gadang sebagai capres dari Partai Demokrat. Hubungannya dengan SBY juga dekat.
9. Anas Urbaningrum juga sempat disebut-sebut sebagai salah satu capres dari Partai Demokrat. Tetapi nama ini tenggelam setelah mencuatnya berbagai kasus korupsi yang sedang ditangani okeh KPK seperti kasus korupsi pembangunan wisma Atlet SEA Games Palembang dan proyek fasilitas olahraga Hambalang.
10. Rhoma Irama. Nama ini tiba-tiba muncul beberapa minggu terakhir. Yang memunculkannya adalah dia sendiri. Karena itu, sebagian publik menilai ini hanya lelucon belaka. Karena itu, di berbagai media sosial beredar foto Rhoma Irama dan Dorce Gamalama sebagai pasangan Capres dan cawapres.
11. Jokowi. Nomo Jokowi sempat disebut-sebut sebagai salah satu bakal cawapres 2014 menjelang pemilukada DKI Jakarta lalu. Meskipun Jokowi sendiri membantah isu tersebut. (Alex Madji)
Label:
Aburizal Bakrie,
Anas Urbaningrum,
Ani Yudhoyono,
Capres dan cawapres 2014,
Djoko Suyanto,
Jokowi,
Megawati Soekarnoputri,
Prabowo Subianto,
Rhoma Irama
Senin, 12 November 2012
Jokowi, Oneng, dan Baju Kotak-kotak
Rieke Diah Pitaloka atau Oneng maju sebagai calon Gubernur Jawa Barat berpasangan dengan Teten Masduki pada pemilihan kepala daerah Jawa Barat (Pemilukada Jabar) 2013 mendatang. Pasangan artis dan aktivis anti korupsi yang dicalonkan oleh Partai Demokras Indonesia (PDI) Perjuangan itu sudah resmi mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat pada Sabtu 10 November 2012 lalu.
Pemilukada Jabar ini memang menjadi arena pertarungan para artis. Selain Oneng, nama panggung saat bermain pada serial "Bajaj Bajuri", Dede Yusuf yang kini menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat juga maju sebagai calon gubernur oleh Partai Amanat Nasional (PAN) dan Gerindra berpasangan dengan Sekretaris Daerah Jabar Lex Lasamana. Sementara Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan maju lagi untuk periode kedua berpasangan dengan seniman senior Deddy Mizwar.
Tetapi saya tidak akan menyorot masalah peta pertarungan para artis itu. Saya hanya ingin menyentil soal seragam kotak-kotak yang dipakai pasangan Oneng-Teten saat mendaftar ke KPU Jabar.
Baju kotak-kotak warna merah dipadu biru tua ini diperkenalkan pertama kali oleh Joko Widodo (Jokowi) saat maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta. Sejak itu baju kotak-kotak merah biru tua ini mewabah dan menjadi warna favorit banyak orang. Semua orang, baik pejabat maupun tukang parkir memakai baju ini. Karena itu, baju kotak-kotak ini menjadi fenomena tersendiri selama Pemilukada DKI Jakarta.
Semula, warga, terutama di Solo, daerah yang dipimpin Jokowi sebelum mengikuti Pemilukada DKI Jakarta, memproduksi secara swadaya baju kotak-kotak ini sebagai bentuk dukungan terhadap Jokowi yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Kemudian karena permintaan yang begitu membeludak, produksi baju kotak-kotak dilakukan secara massal. Dan, selama proses Pemilukada DKI Jakarta, baju kotak-kotak menjadi brand pasangan Jokowi-Ahok serta menjadi simbol kesuksesan pasangan yang diusung PDI Perjuangan dan Partai Gerindra itu. Baju kotak-kotak identik dengan Jokowi dengan segala kesuksesannya di Pilada DKI Jakarta.
Kesuksesan baju kotak-kotak dalam Pemilu DKI Jakarta itu mau ditiru Oneng dan Teten Masduki di Jabar. Diharapkan, keberhasilan Jokowi-Ahok di DKI Jakarta bisa menular ke Jabar dengan baju kotak-kotaknya. "Pak Jokowi mempersilahkan kemeja itu dipakai oleh kami sebagai spirit perlawanan terhadap politik transaksional," kata Rieke perihal seragam kotak-kotak yang dipakainya itu saat mendaftar ke KPU Jabar.
Apa yang dikatakan Oneng itu mungkin ada benarnya. Tetapi kunci keberhasilan Jokowi sesungguhnya dalam Pemilukada DKI Jakarta bukan melulu pada baju kotak-kotaknya itu. Pria langsing dan tinggi itu sudah mencetak kesuksesan selama menjadi Walikota Surakarta. Ada banyak kisah sukses Jokowi selama di Solo. Yang paling fenomenal adalah keberhasilannya memindahkan pedagang kaki lima tanpa dengan penggusuran.
Selain itu dia sukses memoles Kota Solo menjadi indah dan bersih serta masih banyak kisah sukses lainnya yang terselip di antara kegagalannya saat memimpin Solo selama tujuh tahun. Maka baju kotak-kotak yang menjadi simbol politik pada Pemilukada DKI Jakarta lalu hanya menjadi pembungkus dari kesuksesannya saat dia memimpin Solo.
Berbeda sekali ketika baju kotak-kotak itu nanti dipakai Oneng dan Teten pada Pemilukada Jabar 2013. Oneng adalah anggota DPR. Dia belum pernah duduk di birokrasi pemerintahan pada tingkat paling kecil sekalipun. Karena itu belum ada kisah sukses yang dibungkus Oneng di dalam baju kotak-kotak itu. Oneng hanya sukses sebagai artis. Dia lebih dibesarkan dalam dunia artis dibandingkan politik.
Sementara Teten Masduki adalah seorang aktivis anti korupsi yang kiprahnya tidak bisa diragukan lagi dalam dunia yang satu ini. Dia pendiri ICW dan sudah mendorong banyak koruptor ke balik jeruji besi. Tetapi keberhasilan ini belum sefenomenal Jokowi. Lalu apa yang mereka bungkus di dalam baju kotak-kotak itu? Kesuksesan? Belum. Sebab keduanya belum terbukti memimpin lembaga birokrasi.
Baju kotak-kotak, seperti kata Oneng sendiri, hanya menjadi simbol perlawanan terhadap politik transaksional. Tetapi akankah mengulangi kesuksesan Jokowi dalam Pilkada DKI Jakarta? Kita tunggu saja hasilnya nanti. Hanya satu yang pasti yaitu bahwa "rasa kotak-kotak" yang dipakai Jokowi-Ahok akan berbeda dengan yang dipakai Oneng dan Teten Masduki. (Alex Madji)
Selasa, 16 Oktober 2012
Kepemimpinan Ala Jokowi
Selasa, 16 Oktober 2012 hari ini, Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mulai bekerja sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, setelah dilantik oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi pada Senin, 15 Oktober 2012 di gedung DPRD DKI Jakarta. Jokowi memulai kerja hari pertamanya dengan mengunjungi sejumlah pemukiman kumuh di Jakarta baik di Jakarta Utara (Pademangan), Jakarta Pusat (Tanah Tinggi) maupun Jakarta Selatan (Bukit Duri). Jalan-jalan ini mendapat liputan serius dan terus menerus dari media online serta sambutan hangat warga yang didatangi.
Sebagai gubernur baru di DKI, Jokowi memulai pemerintahannya dengan cara yang baru pula. Meskipun cara ini bagi dia sendiri bukan sesuatu yang baru-baru amat. Sebab, cara seperti ini kerap dilakukannya ketika memimpin Kota Solo sebagai walikota. Bahkan, menurut kesaksian wartawan dari Solo, dalam setiap kunjungan seperti ini Jokowi selalu membagi sembako (sembilan bahan pokok) dan uang pecahan Rp 5.000 yang keluar dari gajinya. Cara kerja seperti ini juga menjadi kunci kesuksesannya di Solo yang kemudian menghantarnya menjadi orang nomor satu di Jakarta.
Tetapi dibanding pemimpin sebelumnya diibukota negara ini, cara Jokowi ini adalah menjadi sesuatu yang khas. Gubernur-gubernur DKI Jakarta sebelumnya baru turun ke kampung-kampung kumuh pada saat kampanye. Atau mereka baru turun ke lapangan saat terjadi banjir. Jadi, turun ke lapangan bukan sesuatu yang rutin. Sementara Jokowi mau membalikkannya. Berkunjung ke lapangan menjadi sesuatu yang rutin. Sementara berada di kantor sejarang mungkin.
Dalam pidato kemenangannya pada 20 September 2012 lalu, Jokowi memang menegaskan bahwa dia akan terus mengunjungi pemukiman-pemukiman padat di Jakarta, mengunjungi tempat-tempat kumuh dan mengunjungi warga Jakarta yang belum sempat didatangi selama masa kampanye.
Nah, sebagai warga yang ber-KTP dan bekerja di Jakarta, tetapi tinggal di Tangerang Selatan, saya hanya berharap semoga Jokowi tidak lelah dengan cara kerja seperti ini. Inilah kepemimpinan ala Jokowi. Sebuah gaya kepemimpinan yang baru yang tidak ditemukan pada pemimpin-peminpin lain di DKI Jakarta selama ini.
Dari jalan-jalan itu diharapkan pula, Jokowi bisa langsung menemukan inti persoalan perkotaan dan mencari jalan keluar yang tepat. Dan yang terpenting, pemecahan masalahnya segera dieksekusi dan tidak menunda-nunda.
Harapan terakhir adalah dalam waktu lima tahun, Jokowi sudah bisa memoles wajah Jakarta ini menjadi lebih cantik, lebih manusiawi, lebih beradab dan betul-betul menjadi ibukota negara. Bukan sebuah kampung metropolitan. Akhirnya, selamat bekerja Pak Jokowi-Ahok, selamat menjalankan model kepemimpinan yang baru, kepemimpinan ala Jokowi dan semoga membuahkan hasil. (Alex Madji)
Foto: The Jakarta Post
Senin, 01 Oktober 2012
Pulihnya Kepercayaan Lembaga Survei
Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta sudah mengumumkan hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) ibukota negara ini, Jumat, 28 September 2012 sore. Hasilnya, pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) meraih suara terbanyak dengan 53,82 persen dari total 4.592.945 orang yang menggunakan hak pilih. Sedangakan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) hanya mengumpulkan 46,17 persen.
Angka ini tidak terlalu beda jauh dengan hitung cepat (quick count) semua lembaga survei pada hari pemungutan suara 20 September 2012. Semua hasil hitung cepat menempatkan pasangan Jokowi-Ahok sebagai pemenang Pemilukada DKI Jakarta. Pasangan Foke sendiri sudah menyampaikan ucapan selamat kepada Jokowi yang akan menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017, ketika hitung cepat semua lembaga survei hampir memasuki angka 100 persen.
Tetapi dari sekian banyak lembaga yang melakukan hitung cepat, ada dua lembaga survei yang nyaris tepat dengan hasil penetapan KPU Jakarta tersebut. Deviasi angkanya sangat kecil. Kedua lembaga itu adalah Lembaga Survei Indonesia dan Lingkaran Survei Indonesia yang sama-sama disingkat LSI. Yang paling mendekati hasil hitungan manual KPU DKI Jakarta adalah hasil hitung cepat Lembaga Survei Indonesia . Menurut hitung cepat lembaga ini, pasangan Jokowi-Ahok meraih suara 53,81 persen suara, sedangkan Foke-Nara 46,19 persen. Sementara menurut hitung cepat Lingkaran Survei Indonesia (LSI), pasangan Jokowi-Ahok meraih 53,69 persen suara dan Jokowi Ahok 46,31 persen.
Sementara hasil hitung cepat Kompas menempatkan pasangan Jokowi-Ahok pada angka 52,97 persen dan Foke-Nara 47,03 persen. Kali ini, Kompas tergeser oleh dua lembaga survei tersebut. Pada putaran pertama, hitung cepat versi Kompas inilah yang paling mendekati hasil perhitungan manual KPU dibandingkan lembaga-lembaga survei manapun, termasuk dua lembaga survei di atas.
Tetapi Kompas tidak sendirian. Lembaga survei lainnya, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang juga melakukan hitung cepat mengunggulkan pasangan Jokowi-Ahok meraih dukungan 52,91% suara, unggul atas Foke-Nara yang memperoleh 47,09%.
Sedangkan menurut hitungan Indobarometer, pasangan Jokowi-Ahok meraih 54,11 persen dan Foke-Nara 45,89 persen. Hasil ini hampir sama dengan hasil hitung cepat Cyrus Network yang mengungguli pasangan Jokowi-Ahok dengan 54,72 persen dan
Foke-Nara dengan 45,28 persen
Hasil hitung cepat paling jauh dari hasil hitungan manual KPU DKI Jakarta adalah versi Indonesia Network Election Survey yang mengungguli pasangan Jokowi-Ahok dengan 57,39 persen dan Foke-Nara dengan 42,61 persen.
Bukan Uang
Ketepatan hitungan dua lembaga survei tadi yang sama-sama disingkat LSI cukup mengembalikan kredibilitas lembaga survei di negara ini, terutama bila melihat sepak terjang mereka selama proses Pemilukada DKI Jakarta. Pasalnya, sejak sebelum pemungutan suara putaran pertama, hampir semua lembaga survei menjagokan dan mengungguli pasangan Foke-Nara. Bahkan ada di antara lembaga itu yang meramal, pasangan Foke-Nara menang dalam satu putaran.
Hasil survei mereka ternyata meleset. Hasil Pemilukada putaran pertama memperlihatkan, pasangan Jokowi-Ahok unggul jauh atas pasangan Foke-Nara. Kemudian muncul dugaan bahwa lembaga-lembaga tersebut sudah dibayar oleh pasangan Foke-Nara sehinga hasilnya pun semuanya mengunggulkan Foke-Nara.
Entah belajar dari pengalaman tersebut, menjelang putaran kedua, tidak ada satu pun lembaga survei yang melakukan survei. Lembaga-lembaga ini baru muncul pada hitung cepat di hari pemungutan suara dengan hasil seperti yang sudah saya sampaikan di atas tadi.
Poin yang mau saya sampaikan adalah bawah seyogyanya lembaga-lembaga survei itu tidak tunduk pada lembaga/instansi/orang per orangan yang membayar. Untuk mendapat hasil yang objektif, mereka tetap harus tunduk pada prinsip-prinsip survei yang benar dengan menggunakan metodelogi yang bisa dipertanggungjawabkan. Hanya dengan begitu, mereka membangun lembaga intelektual yang terpercaya dan bukan tidak mungkin dibayar dengan nilai yang lebih fantastis daripada sekedar menghasilkan survei berdasarkan pesanan belaka. (Alex Madji)
Kamis, 20 September 2012
Selamat Mengubah Wajah Jakarta
Kemarin saya menulis tetang hasil poling media-media online terkait pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) DKI Jakarta putaran kedua pada Kamis 20 September 2012. Saya mengambil sampel poling yang dilakukan Viva.co.id, Beritasatu.com, Suarapembaruan.com, dan Jaringnews.com.
Semua poling media itu mengunggulkan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) daripada pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara), kecuali hasil poling Jaringnews.com yang mengunggulkan Foke-Nara. Seorang teman, dalam komentar atas tulisan saya itu yang saya posting di facebook menambahkan bahwa poling JPPN juga mengunggulkan Jokowi-Ahok jauh di atas Foke-Nara. Terima kasih Mas.
Warga DKI Jakarta sudah memberikan pilihannya pada Kamis, 20 September 2012. Meski masih menunggu pengumuman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), tetapi hasil hitung cepat semua media dan lembaga survei menempatkan pasangan Jokowi-Ahok sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih. Versi hitungan cepat, Jokowi-Ahok menang dengan rentang perolehan suara 52-55 persen, sedangkan Foke-Nara hanya meraih suara 45-47 persen.
Perbedaan angka dalam survei-survei itu beda-beda tipis. Tetapi bila mengacu pada perhitungan cepat pada putaran pertama, hitung cepat versi Kompas adalah yang paling presisif atau hampir sama persis dengan hitungan manual KPU DKI Jakarta. Bila mengacu ke perhitungan cepat yang dilakukan Kompas pada putaran kedua ini, maka Jokowi-Ahok memenangi Pemilukada DKI Jakarta dan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017 dengan 52,97 persen, sedangkan Foke-Nara meraih 47,03 persen atau beda hampir 7 persen suara.
Dengan hasil ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa poling media-media online yang saya tulis kemarin itu tidak meleset, meskipun poling-poling itu gampang dimanipulasi. Selain itu, saya ingin menyampaikan selamat kepada Jokowi-Ahok seperti juga Foke yang mengaku sudah menyampaikan ucapan selamat kepada pasangan usungan PDI Perjuangan dan Partai Gerindra ini.
Sambil berharap, ini yang serius, bahwa Jokowi-Ahok bisa mengurus DKI Jakarta lebih baik dari Foke sebagaimana mereka janjikan selama kampanye. Persoalan Jakarta jauh lebih rumit dari daerah yang dipimpin Jokowi dan Ahok sebelumnya, yaitu Solo dan Belitung Timur. Tetapi mudah-mudahan dengan trik-trik dan gaya kepemimpinan yang baru dan berbeda dari Foke, kedua pemimpin muda yang metal ini bisa mengubah Jakarta menjadi kota yang lebih humanis dan bersahabat. Bukan kota yang ngeri dan menakutkan. Selamat mengubah wajah Jakarta Jokowi-Ahok. (Alex Madji)
Rabu, 19 September 2012
Jokowi-Ahok Menang di Poling Online
Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta putaran kedua berlangsung, Kamis, 20 September 2012. Jatung para pendukung Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) dan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) berdegup kecang, menunggu hasil pilihan warga Jakarta.
Pada saat bersamaan, meski sudah masuk hari-hari tenang, sejumlah media berita online melakukan poling baik dengan cara mengklik maupun dengan mengirim pesan singkat atau SMS (short message service) ke situs yang bersangkutan. Saya coba melihat hasil poling yang dilakukan Viva.co.id, Suarapembaruan.com, Beritasatu.com, dan Jaringnews.com.
Poling-poling media tersebut menempatkan pasangan Jokowi-Ahok unggul atas Foke- Nara dengan suara yang cukup jauh. Kecuali Jaringnews.com milik Kastorius Sinaga yang memenangkan Foke-Nara dengan perolehan suara yang tipis dengan Jokowi-Ahok.
Viva.co.id yang dulu bernama Vivanews.com, misalnya, melakukan poling dengan pesan singkat. Pertanyaannya, pilih Gubernur DKI Anda putaran kedua lalu ketik DKI spasi Foke dan ketik DKI spasi Jokowi dan dikirim ke 9981*. Hasilnya, posisi pada Rabu, 19 September 2012 pukul 13.10 WIB pasangan Jokowi-Ahok unggul dengan 54 persen, sedangkan pasangan Foke-Nara hanya 46 persen.
Poling yang dilakukan Beritasatu.com juga menempatkan pasangan Jokowi-Ahok unggul jauh atas pasangan Foke-Nara. Pertanyaannya, Siapakah calon gubernur pilihan Anda? Pada pukul 13.55 WIB, Jokowi dipilih oleh 7.211 (responden) atau 93 persen, sementara Foke-Nara dipilih oleh 504 responden atau hanya 7 persen
Poling yang dilakukan Suarapembaruan.com juga mengungguli pasangan Jokowi-Ahok dengan pertanyaan, Siapakah kandidat gubernur DKI Jakarta yang disukai rakyat? Pada Rabu, 19 September 2012 pukul 13.12 WIB, poling itu diikuti oleh 11.281 responden. Hasilnya, Jokowi-Ahok mendapat 55 persen suara responden, sedangkan Foke-Nara berada 10 persen di belakangnya, yakni dengan 45 persen.
Hanya Jaringnews.com yang menempatkan Foke-Nara sebagai unggulan. Hingga pukul 13.50 WIB, situs berita yang juga menempatkan pengurus Partai Demokrat Ulil Abhsar Abdalla sebagai salah satu anggota Dewan Penasehat Redaksi mengunggulkan Foke-Nara dengan 51 persen, sedangkan Jokowi-Ahok 49 persen. Pertanyaan polingnya, Menurut Anda Siapakah Pemenang Pemilu DKI Putaran 2?
Sementara poling LSI yang menggunakan wawancara tatap muka dan sudah diumumkann ke publik beberapa hari sebelumnya menyebutkan bahwa dua pasangan peraih suara terbanyak pada Pemilukada putaran pertama ini bersaing ketat. Kesimpulannya, belum bisa dipastikan siapa pemenang pemilukada putaran kedua ini. Tetapi yang pasti, poling semua lembaga survei pada putaran pertama meleset jauh. Ketika itu, lembaga-lembaga poling mengunggulkan Foke-Nara, tetap faktanya Jokowi-Ahok yang keluar sebagai peraih suara terbanyak.
Nah, poling-poling yang dilakukan media-media di atas tadi juga tidak menjadi ukuran siapa yang memenangi Pemilukada putaran kedua. Meskipun sebenarnya, poling media masa yang dilakukan dengan benar, seperti pada Pemilu Presiden Amerika Serikat, bisa menjadi patokan atau paling tidak mendekati fakta yang sebenarnya.
Tetapi di Indonesia, fakta sebenarnya ada di tangan pemilih itu sendiri. Dan, itu baru diketahui besok. Yang pasti, saat ini Jokowi-Ahok unggul atas Foke-Nara di poling-poling media online. (Alex Madji)
Sumber foto: Indonesia Kata Kami
Jumat, 14 September 2012
Jokowi yang Nakal
Jumat, 14 September 2012 adalah hari pertama kampanye pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) DKI Jakarta. Kedua pasangan calon gubernur, Fauzi Bowo (calon incumbent) dan Joko Widodo (Jokowi) berkampanye dengan cara mendatangi pusat keramaian ibukota.
Pada saat bersamaan, di Toko Buku Gramedia Matraman Jakarta Timur, tepatnya di lantai dua, ketika mentari mulai condong agak ke barat, diluncurkanlah sebuah buku terbitan Elex Media Komputindo berjudul, "Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar" karya Domu D Ambarita, seorang teman jurnalis di jaringan koran daerah Kelompok Kompas Gramedia, Tribun, bersama rekan-rekannya.
Saya tidak tahu apakah ini bagian dari kampanye Jokowi atau tidak. Tetapi yang pasti, mayoritas yang datang pada diskusi peluncuran buku itu mengenakan kemeja kotak-kotak merah biru tua, seragam pasangan Jokowi-Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Sedianya, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang memberi kata pengantar pada buku itu hadir. Tetapi hingga acara selesai, Megawati yang juga mantan Presiden tidak tampak. Padahal, Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo sudah terlihat di lantai satu Gramedia.
Sang penulis Domu D Ambarita mengaku, buku itu bukan buku kampanye politik Jokowi, meskipun kesan tidak terhindarkan. Sebab, buku ini mengupas sisi lain kehidupan Jokowi, seorang anak dari bantaran Kali Anyar Solo, Jawa Tengah yang yang sempat tergusur, lalu kemudian menghentak peta perpolitikan Indonesia berkat kiprahnya selama menjadi Walikota Solo dan kesuksesan dalam Pemilukada DKI Jakarta putaran pertama.
"Tidak terhindarkan bahwa ada kesan politis dalam penulisan buku ini karena Jokowi mengikuti Pemilukada DKI Jakarta. Tetapi yakinlah, kami profesional. Tidak ada sponsor, tidak ada pendanaan dari siapa-siapa, termasuk kelompok Jokowi. Sponsor kami hanya penerbit yang meminta kami menulis tentang Jokowi," kata Domu dalam diskusi peluncuran buku tersebut.
Jokowi adalah Walikota Solo yang pada periode keduanya terpilih dengan mayoritas suara pemilih. Dia kemudian dicalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Pada putaran pertama, dia bersama Ahok menghenyakkan warga ibukota karena sukses meraih suara terbanyak dengan 42,59 persen suara. Sedangkan calon incumbent Fauzi Bowo hanya 34,05 persen suara atau hampir 10 persen di belakang Jokowi. Tetapi karena tidak memenuhi kententuan UU Khusus Ibukota Jakarta yaitu harus meraih suara 50 perse plus satu, maka keduanya, yang meraih suara terbanyak, masuk ke Pemilukada putaran kedua pada 20 September 2012.
"Empat puluh tahun silam, sungai ini menjadi tempat favorit seorang bocah bernama Joko Widodo. Ia masih mengingat nostalgia bermain di sungai, yang ketika itu air mengalir masih bening. 'Masa kecil yang paling saya ingat, cebur di sungai. Tiap hari, tidak pagi, tidak siang, tidak sore'," tulis Domu dalam bukunya mengutip Jokowi.
Yang menarik adalah kesaksian ibu Jokowi, Sujiatmi Notomihardjo yang hadir pada peluncuran buku tersebut. Perempuan yang mengenakan stelan ungu muda, selaras dengan krudung di kepalanya itu, tampak masih awet muda. Janda empat anak itu tidak kikuk berada di atas panggung. Setiap pertanyaan master of ceremony (MC) dan peserta diskusi, dijawab dengan lugas dan apa adanya. Polos dan jujur.
Dia menceritakan, ketika kecil Jokowi termasuk anak nakal. Tetapi masih dalam tahap wajar sebagai seorang anak kecil. Dia meminta sesuatu sambil mogok. Dia juga sering main di rel dan naik-naik kereta api, serta main long bambu. Permainan yang terakhir ini menyebabkan alis matanya luka. Meski nakal, Nyonya Sujiatmi tidak pernah menjewer atau memukul Jokowi kecil. Dia mendidik anaknya itu dengan cara-cara yang wajar-wajar saja.
Semula dia menginginkan anaknya itu menjadi pengusaha kayu. Pasalnya, kakeknya, ayah dari sang ibu, adalah pengusaha kayu. Keinginan itu kemudian terwujud, setelah Jokowi terjun pada bisnis yang sama seperti kakek dan om-omnya. Usaha kayu ini, sejak jaman sang kakek hingga masa Jokowi, tidak pernah berskala besar.
Sujiatmi tidak pernah berdoa agar anaknya itu menjadi walikota atau gubernur. Kalau dia kemudian menjadi walikota, itu hanya anugerah Allah. Atau mungkin juga faktor keturunan. Sebab kakek Jokowi dari pihak ayahnya adalah lurah. "Dalam doa saya tidak minta macam-macam. Tetapi yang pasti, saya tiap malam tahajut," ceritanya.
Nah, bagian ini menjadi menarik karena tidak diceritakan dalam buku, "Jokowi Spirit Bantaran Kali Anyar" karya Domu D Ambarita tersebut. Kini, Jokowi - anak nakal dari bantaran Kali Anyar itu - menjadi orang hebat dan menjadi inspirasi banyak politisi. (Alex Madji)
Foto: Peluncuran buku "Jokowi Spirit Bantaran Kali Anyar" di Gramedia, Jakarta, Jumat, 14 September 2012. (Foto: Alex Madji)
Senin, 10 September 2012
Antara Jokowi dan Foke
Malam terus merayap, Jumat, 7 September 2012. Jalan Jenderal Sudirman di Jakarta Pusat padat dengan kendaraan, roda dua dan empat. Nyaris tak bergerak. Kepadatan itu mengular sejak dari Jalan Thamrin. Sebagai pengendara sepeda motor, saya mencoba selap selip di antara mobil-mobil itu.
Tiba-tiba segerombolan pengayuh sepeda mencuri perhatian saya. Mereka melintas tak terhenti di pinggir paling kiri jembatan Dukuh Atas. Mereka memakai kemeja kotak-kotak merah biru tua. Kemeja seperti ini kerap dipakai pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), pasangan calon gubernur DKI Jakarta yang akan bertarung dengan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) pada putaran kedua, 20 September mendatang.
Begitu mendapat sedikit celah, saya langsung masuk ke rombongan sepeda itu. Saya mendekati salah seorang pemuda itu. Sambil berjalan pelan di sampingnya, saya mengajak dia ngobrol. Tetapi karena waktunya sangat sempit, saya tidak sempat bertanya namanya.
Menurut dia, jumlah peserta gowes malam itu sebnayak 20 orang. Semua mengenakan kemeja kotak-kotak. Gayanya pun kompak. Seluruh kancingnya terbuka. Ada pula yang membiarkan beberapa kancing bagian atas terbuka. Mereka berangkat dari wilayah Jakarta Pusat menuju Jakarta Selatan, cerita pemuda itu tersengal dan bermandi peluh.
Di Dukuh atas, mereka disambut dengan teriakan oleh para pejalan kaki yang menuju Stasiun Dukuh dan mereka yang sedang menunggu bis kota. "Jokowi," teriak mereka sambil menunjuk simbol anak metal (ibu jari, jari manis, dan jari kelingking berdiri sedangkan jari tengah dan jari manis mengatup ke dalam). Para pemuda itu menyambut salam itu dengan simbol yang sama, sambil terus menggowes di antara padatnya lalu lintas malam itu.
Aksi mereka ini memang menarik perhatian. Hanya saja, belum pasti apakah mereka sedang berkampanye untuk Jokowi-Ahok di tengah kemacetan dan keramaian lalu lintas atau tidak. Hanya satu hal yang pasti, ya itu tadi: aksi itu menarik perhatian, termasuk untuk saya yang apolitis ini.
Sementara di sudut lain Jakarta, pada malam yang sama, ada sebuah acara halal bihalal tingkat RW. Seorang saudara yang menjadi warga di RW 07, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat diundang mengikuti halal bihalal tersebut. Sebagai warga yang baik, dia pun hadir.
Tetapi dia kaget, ketika dalam acara halal bihalal itu ada pengurus Partai Demokrat yang datang. Lebih kaget lagi, karena ternyata acara halal bihalal tersebut mempunyai tujuan politik. Kemasannya saja yang yang halal bihalal, tapi muatannya politik. Dalam halal bihalal ini, warga diberikan Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat), tetapi dengan syarat, harus memilih Foke.
Saya kutip saja isi bunyi BBM (Blackberry Message)-nya, "Tempat saya di RW 07 Rawasari ada kampanye pilih Fauzi Bowo. Kami sbg warga diundang halal bihalal idul fitri. Yang datang Tauifk dari Demokrat. Malah Nyuruh warga pilih Fauzi Bowo. Trus kasih Jamkesmas tp syaratnya milih Foke. Taufikurahman dari Demokrat yang kampanye."
Jokowi dan Foke memang dua figur yang berbeda. Kapasitas dan kapabilitas mereka juga berbeda dalam memimpin Solo dan Jakarta. Mereka juga punya cara yang berbeda dalam upaya memenangkan pilkada DKI Jakarta. (tim) Jokowi membuat sesuatu yang lebih menarik. Sedangkan (tim) Foke fulgar dan tersan kalap. Jokowi dengan bergowes ria, sementara Foke dengan pemaksaan untuk memilih dia dengan iming-iming Jamkesmas. Yah, mudah-mudahan rakyat DKI tetap menggunakan hati nuraninya dalam memilih nanti. (Alex Madji)
Foto diambil dari Google.com
Langganan:
Postingan (Atom)









