Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Agustus 2012

Neil Armstrong Digosipkan Mualaf


Astronot Amerika Serikat yang pertama kali mendarat di bulan, Neil A Armstrong sudah wafat pada Sabtu, 25 Agustus 2012 di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, dalam usia 82 tahun. Berita wafatnya astronot yang mendarat di Bulan pada 20 Juli 1969 itu menghiasi media-media massa dunia. Tak terkecuali Indonesia.

Lalu tiba-tiba seorang teman lama, melalui facebook, meminta saya menulis sisi lain dari Neil Armstrong ini. Terutama terkait isu, gosip, dan rumor setelah Neil Armstrong pulang dari bulan. Media-media di Indonesia dan Malaysia ramai memberitakan bahwa begitu mendarat di Bulan, Neil Amstrong mengaku mendengar bunyi azan. Kemudian dia mengatakan bahwa Islam adalah agama yang benar.

Sebenarnya, Neil A Armstrong mengenal bahwa suara yang didengarnya di bulan itu adalah azan ketika mendengar bunyi serupa saat berkunjung ke Mesir. Best-hoaxes.blogspot.com mengutip wikislam, menulis, "Ini (azan) seperti bunyi yang pernah saya dengar ketika saya mendarat di Bulan." Kemudian dilanjutkan lagi, "Seorang teman Mesir Neil Armstrong mengatakan bahwa itu adalah bunyi Azan. Dan seketika itu juga dia menjadi mualaf karena pengalamannya tersebut.”

Rumor itu begitu meluas di negara-negara Asia. Maka ketika suatu ketika Neil A Armstrong berkunjung ke Malaysia, ini adalah kesempatan emas untuk mengkonfirmasi langsung kebenaran rumor tersebut. Kepada dia ditanyakan, apakah benar bahwa dia mendengar bunyi azan di bulan dan apakah betul dia sudah mualaf. Mendengar pertanyaan ini, Neil Armstrong heran. Dia menegaskan bahwa tidak pernah mendengar suara azan di bulan.

Isu, rumor, dan gosip ini ternyata tidak benar. Ini hoax belaka. Blog berbahasa Inggris, http://best-hoaxes.blogspot.com/2011/05/how-neil-armstrong-converted-to-islam.html, mengutip pernyataan resmi dari seorang pembantu administratifnya, Vivian White. Orang ini, atas permintaan Neil Armstrong sendiri, menulis sebuah surat kepada Phil Parshall, Direktur Asian Research Center, International Christian Fellowship 29524 Bobrich, Livonia, Michigan 48152.

Isinya, "Laporan tentang kepindahannya (Neil Armstrong) ke Islam karena mendengar suara azan di bulan dan di tempat-tempat lain di dunia itu, semuanya tidak benar. Sejumlah media massa di Malaysia, Indonesia dan negara-negara lain sudah menerbitkan laporan ini tanpa verifikasi. Kami meminta maaf atas kerja jurnalistik yang tidak berkompeten seperti ini."

Blog berbahasa Inggris lainnya, http://islamqa.info/en/ref/20880 juga menegaskan bahwa rumor itu tidak benar karena tidak memiliki sumber yang jelas. Rumor itu sengaja disebarluaskan untuk “menipu” iman umat Muslim awam, seperti juga banyak artis, olahragawan dan tokoh publik lainnya diberitakan memeluk agama ini. Tujuannya untuk memberi kesan bahwa agama ini lebih superior dari agama lain.

Bahkan sebuah blog berbahasa Indonesia, aji3b.wordpress.com menegaskan bahwa rumor ini sengeja dihembuskan untuk mendiskreditkan, membodoh-bodohi umat Islam, dan bahkan menghancurkan dunia Islam. "...mereka menganggap kebodohan dunia Islam karena tidak mau menerima kenyataan 'American kafir'-lah yang pertama menginjakkan kaki di bulan, bukan orang muslim," tulis blog tersebut.

Dilanjutkan, "Umat muslim tidak perlu seorang Neil Armstrong untuk meyakinkan dirinya bahwa agama Islam yang dianutnya adalah benar. Jika anda menyakini agama benar, maka yakinilah bahwa hal itu benar. Muslim dianggap menggunakan nama besar Neil Armstrong untuk membenarkan agamanya. (Saya menentang pernyataan itu). Masa kita dikatakan kurang meyakini agama kita sendiri sehingga perlu nama-nama besar dari dunia barat (Umat muslim, percayalah nama rasullullah sudah cukup besar buat kita dan dunia. Umat kita sendiri yang akhirnya menjadi bahan tertawaan, cukup sudah."

Dimakamkan Secara Kristen
Neil Alden Armstrong yang lahir di Wapakoneta, Ohio pada 5 Agustus 1930 adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya, Stephen Armstrong adalah pegawai negeri sipil. Sementara ibunya, Viola adalah seorang putri petani yang memiliki ladang sendiri atau tuan tanah. Stephan Armstrong dan Viola selalu berdoa agar anak-anaknya bertumbuh menjadi orang yang baik dan berguna di kemudian hari. Kedua orang tuanya taat beragama dan memiliki devosi yang kuat. Tetapi Neil yang kemudian dua kali menikah, menurut Telegraph.co.uk, tidak memiliki agama yang jelas. Atau paling tidak, dia tidak menunjukkan secara eksplisit agama yang dianutnya.

“Mereka (kedua orang tuanya) membiarkan saya mengikuti keinginan saya sendiri. Mereka tidak mencoba mendikte saya, apa yang saya harus lakukan atau kemana saya harus pergi,” kata Neil Armstrong di kemudian hari seperti dikutip media Inggris itu.

Tetapi satu hal yang pasti, anggota Senat Partai Republik dari negara bagian Ohio, Johnson mendesak Presiden Barack Obama untuk memakamkan Neil Arsmtrong dengan upacaya kenegaraan. Acara itu juga akan memberi kesempatan kepada warga Amerika Serikat untuk memberi penghormatan kepadanya.

Upacara kenegaraan itu akan melibatkan lima cabang angkatan bersenjata Amerika Serikat, dilakukan tembakan salvo artileri, flypast dan diiringi sejumlah band dan kor. Peti jenasah yang dibaluti bendera Amerika Serikat akan diarak di Pennsylvania Avenue dengan kereta kuda menuju Capitol, sebelum melakukan kebaktian di Washington National Katedral. Bagian terakhir ini, mudah-mudahan sedikit menguak rahasia agama Neil Armstrong.

Meskipun, dalam pernyataan resmi pihak keluarga mengumumkan wafatnya Neil Armstrong 25 Agustus 2012 malam disebutkan, “Bagi mereka yang mungkin bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuk menghormati Neil, kami punya permintaan sederhana. Hormati teladan pelayanannya, kerendahan hatinya, dan kasih sayangnya. Setelah itu, ketika malam cerah tiba, Anda keluar dan melihat bulan akan tersenyum pada Anda. Ketika itu berpikirlah tentang Neil Armstrong dan berikanlah kepadanya sebuah kedipan.”

Selamat jalan Neil Armstrong. Apapun agamamu, yang pasti Anda sudah menginspirasi dunia bahwa apa yang tidak mungkin, menjadi mungkin. Selamat beristirahat dalam keabadian. (Alex Madji)

Keterangan foto: Neil A Armstrong (Foto: The Telegraph.co.uk)

Senin, 27 Agustus 2012

Ya, Eden Hazard Muslim


Eden Hazard adalah pemain yang paling fenomenal di Liga Utama Inggris musim ini. Pemain yang didatangkan Chelsea dari klub Prancis, Lille, pada awal musim panas ini dengan nilai transfer 32 juta pound tampil gemilang bersama “The Blues”. Chelsea memenangi tiga laga pertama. Pemain berusia 21 tahun tersebut memang baru mencetak satu gol dari titik putih saat menaklukkan Newcastle United Sabtu, 25 Agustus 2012, tetapi dia sudah memberi enam assist yang menghasilkan gol untuk membawa kemenangan klubnya. Makanya dia dipuji setinggi langit oleh banyak kalangan.

Tetapi saya tidak ingin menulis tentang prestasinya di lapangan hijau itu. Sudah banyak media yang mengulasnya. Saya hanya mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan saya. Saya iseng melempar pertanyaan ini ke Mbah Google. Apakah Eden Hazard seorang muslim? Pertanyaan itu ternyata sudah ditanyakan 261.000 kali. Mayoritas pengguna media online menyebut bahwa pemain internasional Belgia itu beragama muslim, terutama karena namanya berbau Arab.

Situs hobnob.royals.org, misalnya, memberi jawaban yang bernada pasti. Seseorang yang mengaku bernama Jackson menulis, "Dia seorang muslim. (Nama Hazard) dibaca Hazzad." Jawaban yang bernada pasti juga diberikan, http://wiki.answers.com/Q/Is_eden_hazrd_a_muslim#ixzz24iux90fv. Menjawab pertanyaan saya, seseorang dalam situs itu menegaskan bahwa, ya Eden Hazard adalah seorang muslim. "Ya dia seorang muslim dan berasal dari keluarga muslim. Tetapi dia bukan Islam sunni, tetapi penganut emdeay," tulisnya.

Seolah memperkuat jawaban mereka, www.theasianworld.co.uk memasukkan Eden Hazard pada nomor urut pertama dari 10 daftar pemain sepakbola muslim teratas atau Top Ten Muslim Footballers. Nama-nama lainnya, secara berurutan, adalah Mesut Oezil, Franck Ribery, Samir Nasri,Yaya Toure, Karim Benzema, Nicolas Anelka, Robin van Persie, Kolo Toure, dan Zidane. Terkait ini, bandingkan dengan artikel blog ini berjudul "Pesepakbola Beragama Muslim" (klik: http://ciar-ciar.blogspot.com/2012/02/pesepakbola-beragama-muslim.html)

Tetapi sebuah forum diskusi di situs www.pakpassion.net menyebutkan, "Saya pernah membaca di banyak tempat bahwa dia adalah seorang muslim. Tetapi melihat profilnya di wiki, dia tampaknya seorang Katolik."

Situs lainnya, newspaper.li/eden-hazard/ menginformasikan bahwa Hazard adalah seorang mualaf. Seseorang yang menggunakan akun @Alexis mengatakan, "Saya mendengar bahwa dia mualaf. Dia berpacaran dengan seorang gadis Arab di Prancis. Saya mendengar itu dari seorang teman Prancis, tetapi saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak."

Eden Hazard lahir di Kota La Louviere, Belgia, tetapi bertumbuh dan besar di Braine le Compte, sebuah kota kecil di kawasan Wallonia, Belgia. Dia lahir dari sebuah keluarga sepakbola. Baik bapak maupun ibunya adalah pesepakbola Belgia. Ibunya bernama Carine adalah seorang striker tim nasional sepakbola putri Belgia dan bermain di sebuah klub divisi satu Belgia. Dia berhenti bermain ketika hamil Eden Hazard. Sementara ayahnya, Thierry, adalah seorang pemain semi profesional. Dia bermain di RAA Louvieroise di Divisi Dua Belgia. Posisinya sebagai bek. Thierry baru mundur dari sepakbola pada 2009 untuk memberi perhatian lebih kepada keempat orang anaknya. Setelah berhenti dari sepakbola, Carine dan Thierry menjadi profesor atau guru olahraga.

Hazard adalah anak pertama dari empat bersaudara. Semuanya berkecimpung dalam sepakbola. Adiknya, Thorgan mengikuti jejaknya bergabung dengan Chelsea. Adiknya yang lain, Kylian (16) bergabung dengan akademi sepakbola Lille dan sepakat bergabung dengan klub itu ketika berumur 16 tahun. Sedangkan adik bungsunya, Ethan bergabung dengan bekas akademi sepakbola yang dimasuki Eden Hazard, AFC Tubice, sebelum bergabung ke akademi sepakbola Lille di Prancis. (Alex Madji)

Rabu, 08 Agustus 2012

Dan Gereja Pun Berbisnis


Gereja Inggris ternyata terlibat dalam bisnis. Gereja Katolik juga begitu. Mereka menanamkan saham di banyak perusahan. Tidak sedikit kongregasi yang memiliki saham di perusahan A sampai Z. Gereja Inggris, misalnya, ternyata memiliki saham di perusahan media milik Rupert Murdoch, News Corporation. Jumlahnya kecil. Hanya 0,005 persen dari total saham publik atau senilai 1,9 juta pound. Tetapi gara-gara skandal penyadapan yang dilakukan raksasa media itu di Inggris tahun lalu, Gereja Inggris atau Gereja Anglikan akhirnya menjual seluruh sahamnya.

Ini bukan yang pertama dilakukan Gereja Inggris. Pada 2010, Gereja Inggris pernah melakukan divestasi atas seluruh sahamnyanya di Vedanta Resources senilai 3,6 juta pound karena keterlibatan perusahan tersebut dalam pelanggaran hak asasi manusia di perusahan tambang India.

Kembali ke masalah News Corporation. Gereja Inggris menjual semua sahamnya karena khawatir kerajaan bisnis Rupert Murdoch tidak mau belajar dari skandal penyadapan tersebut. Sebab skandal tersebut memperlihatkan bisnis media Rupert Murdoch tidak etis. Sekretaris Komisioner Gereja Andre Brown, seperti diberitakan The Guardian, edisi 7 Agustus 2012, mengatakan, "Skandal penyadapan yang terjadi tahun lalu itu sudah menjadi perhatian serius di kalangan lembaga investasi Gereja tentang penyertaan saham kami di News Corporation."

Keputusan untuk menjual saham itu tidak dilakukan serta merta, tetapi setelah dilakukan dialog terus menerus dengan pihak perusahan. Apalagi, pihak perusahan tidak melakukan perubahan, meskipun Church's Ethical Investment Advesory Group (EIAG) sudah memberikan sejumlah rekomendasi. Sayangnya, rekomendasi itu tidak diterima. Hingga akhirnya, rekomendasi EIAG untuk menjual saham dilakukan.

Pihak gereja sudah melakukan dialog pada tingkat dewan dengan pihak News Corporation dan sudah mengungkapkan keprihatinan mereka soal skandal penyadapan yang terjadi tahun lalu tersebut. "Menjual saham adalah pilihan terakhir. Kami lebih menggunakan suara kami. Ini adalah sebuah pertanyaan pada dialog yang berkelanjutan," kata Edward Mason dari EIAG.

Nah, berita ini sengaja saya tulis di blog ini untuk menunjukkan bahwa institusi gereja juga terjun dalam bisnis. Dia bukan melulu institusi yang hanya berurusan dengan Tuhan. Tetapi juga memikirkan keberlangsungan hidupnya yang butuh dana yang tidak sedikit. Caranya, yaitu tadi, dengan menyertakan saham di perusahan-perusahan publik. Lalu apakah ini salah? Saya tidak mau menilai. Silahkan Anda menilai sendiri. Menilai ini salah atau tidak bisa menjadi topik diskusi yang panjang.

Tetapi apa yang dilakukan Gereja Inggris ini menarik. Mereka berani menjual sahamnya ketika perusahan itu melenceng dari nilai-nilai yang dianut gereja. Artinya mereka tidak kompromi dengan nilai-nilai yang tidak benar. Nah, apakah gereja Katolik juga seperti itu? Berani menjual sahamnya di perusahan-perusahan yang nyata-nyata merusak lingkungan dan melanggar hak asasi manusia? Walauhalam. (Alex Madji)

Jumat, 03 Agustus 2012

Ketika Masalah "Mualaf" Dibawa ke Pengadilan

Ini cerita tentang seorang anak berumur 10 tahun di Essex, Inggris yang "mualaf" dari Yahudi ke Kristen. Tadinya, kedua orang tua anak yang identitasnya tidak diungkapkan ini menganut agama Yahudi. Kakek neneknya pun Yahudi. Tetapi kemudian ayahnya memilih "mualaf" menjadi seorang Kristen.

Anak itu kemudian mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti jejak sang ayah. Gara-gara itu, lalu kedua orang tuanya "perang". Sang ibu yang masih setia dengan Yudaismenya memaksa anaknya untuk tidak pindah agama, sebelum dia cukup matang dari sudut usia. Sementara sang anak ngotot mau menjadi seorang kristen. Ayah dan ibu anak ini sudah bercerai sejak 2010.

Karena sama-sama ngotot, sang ibu lalu mengajukan gugatan ke pengadilan pada November 2011. Dia menduga mantan suaminyalah yang memaksa anaknya masuk kristen. Bahkan dia menuduh mantan suaminya itu menghalang-halangi anaknya menghayati agama Yahudinya. Parahnya lagi, sang ibu tidak mendiskusikan dengan mantan suaminya terlebih dahulu, sebelum mengajukan gugatan. Lalu apa yang terjadi di persidangan? Majelis hakim justru menyalahkan sang ibu. Mutlak salah, kata hakim, bahwa sang ibu mengajukan gugatan ke pengadilan tanpa berdiskusi dengan ayah anak ini terlebih dahulu.

Hasil akhirnya, majelis hakim memutuskan bahwa anak itu dinilai sudah matang untuk memilih agama yang dia peluk dan bisa dibabtis sejauh dia sudah siap.

Hakim John Platt dari Pengadilan Negeri Ramford, Essex, Inggris lalu menulis surat secara pribadi kepada anak itu terkait keputusannya itu. "Kadang-kadang orang tua secara sederhana tidak bisa menyetujui apa yang terbaik bagi anak mereka, tetapi mereka juga tidak bisa mutlak benar. Ayah Anda berpikir bahwa adalah sesuatu yang benar kalau Anda dibabtis sebagai seorang Kristen sekarang. Sementara ibumu ingin tunggu sampai kamu mengerti. Karena itu mereka meminta saya mengambil keputusan. Itulah pekerjaan saya," tulis Hakim John Platt.

Tugas hakim adalah mengambil keputusan terbaik untuk sang anak. Dan, keputusannya adalah bahwa sang anak dibabtis sebagai seorang Kristen kalau anak itu sendiri sudah siap dibabtis. "Tetapi hakim menetapkan bahwa itu tidak berarti anak ini kehilangan warisan yudaismenya. Dan akhirnya, ini adalah yang paling penting, baik ibu maupun ayah Anda tetap memperhatikan kamu dengan penuh cinta apapun yang terjadi dengan babtisan Anda," kata John Platt lebih lanjut seperti diberitakan The Telegraph.

Proses pindah agama di Indonesia juga banyak. Tetapi, orang tua mengajukan gugatan ke pengadilan karena anaknya pindah agama belum pernah saya dengar. Dari berita ini hanya mau ditunjukkan bahwa isu agama di negara demokratis liberal seperti Inggris juga ternyata sensitif dan bisa merusak hubungan keluarga. Sama sensitifnya seperti di Indonesia. (Alex Madji)

Selasa, 15 Mei 2012

Roberto Mancini, Taat Agama dan Cinta Keluarga


Roberto Mancini baru saja menjuarai gelar Liga Utama Inggris bersama Manchester City, setelah mengalahkan Queens Park Rangers (QPR) 3-2 pada laga dramatis, Minggu, 13 Mei 2012 di Stadion Etihad. Di tengah hingar bingar dan kegemerlapan perayaan kejuaraan tersebut, terselib sebuah kisah. Kisah tentang sisi lain Roberto Mancini.

Sebagai pelatih dan mantan pemain terkenal, ternyata Mancini tetaplah seorang yang taat beragama dan sangat religius. Ketika bergelimang uang, ternyata Mancini tidak pernah melupakan Tuhan. Dia tahu ada campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan tidak pernah terpinggirkan oleh kegelimangan uang dan popularitas yang dipunyainya.

Bukan hanya rajin mengikuti misa Hari Minggu bersama keluarga. Mantan pemain Sampdoria dan Lazio itu juga rajin berdoa setiap hari. Bahkan, dia juga sering mengunjungi tempat-tempat suci. The Sun memberitakan bahwa pada Maret 2012, Mancini berziarah ke sebuah tempat suci, tempat penampakan Santa Perawan Maria di Bosnia. Tempat ini sudah terkenal sebagai tempat ziarah, terutama di Eropa, meski belum diakui Tahta Suci, seperti Lourdes di Prancis atau Fatima di Portugal.

Sebelum partai terakhir Liga Utama Inggris, Minggu 13 Mei 2012, Mancini yang penganut Katolik taat itu juga menghadiri misa hari Minggu seperti biasa di Gereja Nama Suci Manchester atau Manchester's Holy Name Church. Dia mengikuti misa pukul 08.30 waktu setempat. Dia tidak datang seorang diri. Ada dua pemain City lainnya bersama dia.

Hebatnya lagi, sehabis misa, Mancini tidak segera meninggalkan gereja. Dia menghabiskan waktu 15 menit setelah misa untuk doa pribadi. Sementara dua pemainnya menunggu dia di luar gereja. Pastor gereja setempat, Romo Ray Matus mengakui bahwa Roberto Mancini mengikuti misa di gereja itu.

"Dia menghadiri misa bersama dua pemain lainnya. Setelah misa, dia menghabiskan 15 menit untuk berdoa seorang diri. Dia tampak tenang dan fokus untuk menjuarai Liga Utama Inggris," kata Romo Ray Matus seperti diberitakan The Sun.

Mancini sendiri menegaskan bahwa ada campur tangan Ilahi dalam gelar juara Liga Inggris yang diraihnya. "Ini mukjizat. Tuhan sudah menonton pertandingan ini dan sudah mengulurkan tangan-Nya kepada kami," kata Mancini seperti dikutip Sky Sports.

Yah, Mancini memang berdoa setiap hari. Dia memohon perlindungan Tuhan untuk kehidupannya dan keluarganya secara umum. "Saya tidak mengatakan sesuatu yang lain di ruang ganti. Saya hanya membicarakan sepakbola. Ini hal pertama yang paling penting. Bermain sepakbola itu sangat penting," kata Mancini seperti dilaporkan Manchester Evening News.

Selain rajin dan tekun berdoa, Mancini adalah seorang penyayang keluarga. Ketika para pemain dan pelatih memilih gonta ganti pacar atau kawin cerai dengan begitu gampang, Mancini tetap setia dengan istrinya, Federica. Dia sudah menikahi perempuan ini selama 20 tahun. Darinya lahir tiga orang anak, dua laki yaitu Filipo dan Andre, serta satu anak perempuan.

Filipo dan Andrea juga mengikuti jejaknya berkiprah di dunia sepakbola. Ketika Mancini melatih Inter Milan, Filipo dan Andrea masuk tim muda Inter Milan. Bahkan Filipo sempat main 10 menit di Copa Italia. Nah, begitu pindah ke Manchester City, Filipo dan Andrea pun ikut pindah. Keduanya kini menjadi skuad tim U-21 Manchester City.

Mancini telah memberikan sebuah teladan hidup.Dia tidak silau dengan uang dan popularitas,lantas meninggalkan Tuhan. Dia mengakui adanya Tuhan dan membuat karya-karya agung atas kehidupan pribadi dan keluarganya. Selamat ya Mancio. (Alex Madji)

Minggu, 11 Maret 2012

Mengapa Roberto Baggio Menganut Budha?


Roberto Baggio adalah legenda sepakbola Italia. Aksinya di lapangan hijau sulit dilupakan. Dia pernah menjadi pahlawan bagi Gli Azzuri. Tetapi juga pernah menjadi pecundang, ketika gagal menendang 12 pas pada partai final Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat melawan Brasil.

Di dunia sepakbola dia digelari il Fenomeno. Tetapi bagi kelompok tertentu, dia dicap sebagai pengkianat.

Apa pasal? Tidak lain karena keputusannya pindah dari Agama Katolik menjadi penganut Buddhisme. Maklum, Baggio lahir dan hidup di negara yang mayoritas dan jantungnya kekatolikan. Di sana, pemimpin tertinggi agama ini tinggal. Vatikan City. Lebih-lebih lagi, orang tuanya adalah penganut Katolik yang taat.

Selama ini, saya hanya tahu bahwa Baggio adalah seorang penganut Budha. Tetapi tidak paham mengapa dan bagaimana ceritanya sehingga dia bisa menjadi penganut Budha yang tentu saja sangat-sangat minoritas di Italia. Setelah mencari, akhirnya saya menemukan jawabannya.

Ternyata keputusan itu tidak terjadi tiba-tiba. Tetapi didasarkan pengalaman pahit di dunia sepakbola. Ketika membela Fiorentina, tepatnya pada 1987, Baggio mengalami cedera lutut parah. Bahkan hingga dua kali. Akibatya, dia hanya tampil lima kali dalam dua tahun pertamanya bersama La Fiola.

Setelah menjalani operasi dan merasa agak baik, dia mencoba mengikuti sesi latihan. Tetapi setelah 10 menit, cederanya kambuh. Inilah pengalaman paling kelam dalam hidup pria kelahiran Venesia itu dan membuatnya frustrasi. Rasa frustrasi itu terwujud dalam pertanyaannya yang paling substansial, "Mengapa saya?"

Selama masa cedera itu, dia diperkenalkan tentang ajaran Budha oleh temannya Morrichio di Firense, Italia. Ternyata ajaran ini memikat hatinya. Dia lalu membaca banyak buku tentang agama tersebut. Setelah cukup paham, Baggio yang adalah seorang introvert dan tergila-gila pada perempuan yang punya tampang pembunuh tetapi hanya mencintai seorang wanita seumur hidupnya, lalu memutuskan beralih dari Katolik ke Budha.

Peristiwa peralihan ini berlangsung sangat sederhana dan begitu cepat. Januari 1988. Suhu dingin membeku. Hari masih pagi. Morrichio pulang dari pesta perayaan tahun baru dan baru tidur pukul 04.30 dini hari. Tiba-tiba pada pukul 07.30 pintu kamarnya diketok. Yang ketok itu bukan sembarang orang, tetapi Roberto Baggio.

Begitu pintu dibuka, tanpa tedeng aling-aling, Baggio menyampaikan keinginannya menjadi seorang penganut Budhisme. Morrichio kaget bukan kepalang. "Apa kamu sudah gila? Dan ngapain kamu datang pagi-pagi buta seperti ini hanya untuk menyampaikan hal itu," kata Morrichi.

Tetapi, Morrichio tak kuasa menolak. Dia pun meluluskan keinginan Baggio. Jadi, pada pagi yang dingin itu, 1 Januari 1988 itulah, Roberto Baggio resmi menjadi penganut Budhisme. Bagi pria yang terkenal dengan rambut kuncirnya itu, 1 Januari 1988 bukan saja hari pertama pada tahun yang baru, tetapi sebuah peziarahan baru dan bab baru dalam hidupnya.

Baggio tidak berani langsung memberi tahu ibunya, Matilde Baggio, tentang keputusannya pindah ke Budihsme. Dia butuh waktu tiga bulan untuk menceritakan hal itu kepada ibunya. Di kemudian hari, Matilde mengatakan, "Saya tidak ingin menghakimi pilihan anak saya. Apa yang ingin saya katakan adalah bahwa saya akan lebih bahagia bila dia (Roberto Baggio) bisa menjalanan agamanya. Tetapi saya berdoa kepada Tuhan setiap pagi, semoga dia kembali ke Gereja Katolik."

Setahun kemudian, pada 1989, Baggio berhasil keluar dari masa-masa sulitnya dan bergabung dengan Juventus. Di klub Kota Turin itu, anak ke-7 dari delapan bersaudara itu digaji 25 juta lira. Dia menjadi pemain yang dibayar paling mahal di dunia saat itu. Lalu pada 1993 dan 1994, dia terpilih sebagai pemain terbaik dunia secara berturut-turut, meskipun dia gagal menghantar Italia menjadi juara Piala Dunia karena dia gagal mengeksekusi penalti dalam adu penalti melawan Brasil di final Piala Dunia 1994.

Dalam wawancara setelah operasi dua lututnya, Baggio mengakui bahwa iman barunya itu membantu dia menjaga keseimbangan hidup, jauh dari sepakbola. Dan agama barunya itulah yang membantu dia tidak cepat-cepat gantung sepatu.

Sejak menjadi penganut Budha, dia terus meditasi dan berdoa dua kali sehari selama satu jam setiap kali berdoa dan tidak boleh diganggu. Dia terus melakukan itu (doa) kapan dan dimana pun, dan tidak perlu disuruh. Pengetahun pada ajaran Budha puna semakin meningkat dan meresap. Roberto Baggio kemudian percaya pada karma. Dalam karma, manusia mempertanggungjawabkan tindakan masing-masing orang.

Lebih lanjut, bagi Baggio, kehidupan adalah sebuah kebenaran yang pahit dan mulai melihat masa depan secara berbeda. Pengalaman traumatis akibat cedera panjang membuatnya nyaris mundur dari dunia sepakbola. Tetapi berkat iman barunya dia menemukan bahwa hidup adalah sebuah tantangan dan Budhisme sudah memberinya kekuatan untuk menghadapi tantangan.

Dalam bagian pengantar buku otobiografinya, "Baggio il Fenomeno" disebutkan, "Kehidupan adalah sebuah lingkaran yang tanpa ujung bagi mereka yang percaya pada reinkarnasi."

Beberapa tahun kemudian, dia merasa sedih setelah membaca di koran bahwa salah satu bekas rekan setimnya terjerumus dalam narkotika. Dia sedih karena dia tidak bisa membantu teman tersebut. Sebab dia dan BUdhisme menolak penggunaan obat-obatan terlarang seperti itu untuk kepentingan yang keliru. (Alex Madji/Dari berbagai sumber)

Rabu, 01 Februari 2012

Melacak Agama Ibrahimovic


Orang Indonesia gemar mencari tahu agama orang-orang terkenal dan public figure dari berbagai profesi. Entah kenapa. Mungkin karena di Indonesia agama bukan urusan privat. Tetapi berada di ranah publik. Beda dengan negara-negara barat yang tidak peduli dengan agama seseorang. Sebab bagi mereka, agama menyangkut hubungan personal dengan Yang Di Atas. Sementara di Indonesia, agama yang seharusnya urusan personal selalu memiliki aspek sosial.

Untuk memenuhi kegemaran dan keingintahuan itu, saya mencoba menelusuri agama salah satu orang terkenal di dunia, yaitu pesepakbola yang kini merumput di klub Seri A Italia, AC Milan, Zlatan Ibrahimovic.

Untuk melacak agama Zlatan Ibrahimovic, maka hal yang harus diketahui adalah latar belakang keluarganya. Kedua orang tuanya adalah imigran dari bekas negara Yugslavia ke Swedia.

Bapaknya bernama Sefik Ibrahimovic. Dia lahir di Bijeljina, Bosnia. Sedangkan ibunya adalah Jurka Gravic lahir di Zadar, Kroasia. Sefik beragama Islam, sedangkan Jurka disebut beragama Kristen. Keduanya bertemu di Swedia, lalu pacaran, dan kemudian menikah campur. Dari hasil pernikahan itu, lahirlah Zlatan Ibrahimovic pada 3 Oktober 1981 di Malmo. Dia bertumbuh di Rosengard, tetangga Malmo yang terkenal dengan komunitas imigrannya. Zlatan yang berarti gold, emas memiliki tiga saudari dan dua saudara.

Meski ayahnya Muslim dan ibunya Kristen, sejumlah sumber menyebutkan bahwa Zlatan tidak terlalu peduli dengan dua agama itu. Tetapi menurut http://en.wikipedia.org/wiki/Zlatan_Ibrahimovi%C4%87, “Ibrahimović is a Catholic Christian.” Ibrahimovic adalah seorang Katolik.

Setelah besar, Ibrahimovic berpacaran dan hidup bersama dengan Helena Seger, seorang model dan bintang iklan Swedia. Mereka memiliki dua putra bernama Maximilian yang lahir pada 22 September 2006 dan Vincent yang lahir pada 6 Maret 2008.

Zlatan kini tinggal di sebuah rumah mewah di Kota Milan bersama Helena dan dua putranya. Setiap musim panas, selalu pulang kampung ke Malmo, Swedia. Ibrahimovic memiliki koleksi mobil mewah seperti sebuah Volvo C30 TS, sebuah Ferrari Enzo, Spider 360, sebuah Porsche Carrera, dan Audi S8. Masih ada sejumlah koleksi lainnya.

Lalu apa agama Zlatan Ibrahimovic? Apakah Katolik seperti kata Wikipedia di atas atau Islam seperti dipahami banyak orang selama ini? Tidak penting. Sebab itu bukan urusan kita. Itu urusan personal Zlatan yang memegang sabuk hitam takewondo itu. Yang pasti, salah satu tato pada tubuhnya yang terletak persis di samping perut sebelah kiri tertera kalimat ini, “Only God Can Judge Me” (Hanya Tuhan yang Bisa mengadili saya). Ini mencerminkan religiositas Zlatan Ibrahimovic, apa pun agamanya.