Tampilkan postingan dengan label Etnisitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Etnisitas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juli 2011

Hewan Kurban


Beginilah suasana kampung di pojok lain Republik Indonesia ini. Pada bulan-bulan musim panas, banyak dilakukan acara syukuran. Acara ini selalu disertai dengan potong babi untuk acara tersebut. Itulah yang terjadi di Wela, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, 11 Juli 2011 lalu. (Foto: Alex Madji)

Senin, 26 Juli 2010

Perlu Juga Orang Bodok (4)

Kamis, 8 Juli 2010. Pagi itu saya bangun terlambat, pukul 07.30. Rumah sudah mulai kosong. Guru Mikel (kakak kandung Joni dan sepupu saya) yang tiba Rabu (7/7) malam di Wela sudah ke rumah gendang (rumah asli kami). Yang lain pun begitu. Ibu-ibu di dapur yang tadi malam berjubel juga semua sudah pindah ke sana. Setelah kumur, saya, Joni, Egi, Ino dan Bapa Lipus sarapan. Pagi ini menunya masih B2. Setelah itu saya dan Joni kembali ke rumah di Balang Lesa untuk melepas sarung dan pakai pakaian kerja. Sampai di sana juga masih disiapkan sarapan sama Levi, Sofi dan Ende. Kami pun makan lagi. Pokoknya makan terus.

Setelah itu baru kami ke kuburan melihat pemasangan batu nisan Ende Min. Yang kerjakan itu ipar kami, Titus (Emad Veni) yang menikah dengan sepupu kami Lina. Di situ ada Bapa Lipus, Egi, Vinsen Andi dan beberapa ponakan. Mereka bantu dan siap disuruh-suruh untuk membantu Titus. Sedangkan Ino dan Robert di rumah gendang.

Merasa di situ kami tidak kerja selain menonton, saya dan Joni lalu ikut ke rumah gendang. Sejumlah tamu seperti anak rona dari Wontong (keluarganya Ende Lena) sudah datang. Polus dan Bapa Lipus diminta untuk reis (menyapa dan menyambut mereka secara adat). Kami pun ikut-ikutan.

Ketika hari agak siang, truck milik Marten (Bapad Jois) yang memuat tiga ekor babi muncul di halaman rumah gendang dan membongkar muatannya di sana. Tak lama berselang, Polus dan Bapa Lipus yang biasa saya panggil Ema Tua, menyuruh Kalis, Fedis, dan Agus bunuh satu dari tiga ekor babi itu sebagai makanan tamu-tamu yang datang pada hari itu untuk acara kenduri Ende Min dan Bapa Stanis besok hari.

Tanpa menunggu terlalu lama, mereka langsung mengeksekusi. Caranya tidak seperti biasa dan ngeri. Kalis memukul kepala babi itu hingga tewas baru disembelih dengan parang. Saya sendiri tidak berani melihatnya dan lebih memilih mengurung diri di dalam rumah ketika di samping rumah gendang mereka membunuh babi itu. Baru setelah babi itu tewas, saya keluar dan membantu saudara-saudara saya ikut mengurusnya. Yang kerja paling keras ketika itu adalah Agus Abu, Fedis Bagus, Kalis Jeramat, David Siman dan anaknya Beni, Tarsi Mbuak, dan Nandus kakaknya. Saya, Joni dan Mikel juga ada di situ. Tapi praktis kami hanya membantu kerja mereka.

Babi itu kemudian dibakar menggunakan kayu bakar. Sebenarnya ada cara lain, yaitu dengan merebus air telebih dahulu sampai mendidih lalu disiram di atas babi itu untuk kemudian dibersihkan dengan parang. Tujuannya agar bulu-bulunya bisa terlepas. Tetapi cara itu tidak dipilih. Yang dipilih adalah cara membakar. Saya, Mikel dan Joni ikut memegang dan membolak balik babi naas itu.

Setelah bulunya habis, babi itu kemudian dicuci. Anak-anak kecil seperti Angelus Barung (anak teman kelas SD saya Stanis Bandur) dan Nong (anaknya sepupu saya Fedis Bagus) disuruh timba air. Setelah bersih, babi itu baru dibelah, dicincang, dan dipotong-potong menjadi daging. Keempat pahanya dipisah dari kepala, isi perut, tulang rusuk dan punggung.

Persoalan kemudian muncul karena tidak ada anak-anak yang bisa disuruh untuk membersihkan perut babi itu. Satu-satunya pemuda yang bisa disuruh di situ adalah Risan (anak sepepupu saya Vitalis Talis). Karena tidak ada anak kecil, maka saya dan Risan pun pergi membersihkan jeroan babi itu tambak ikan Bapa Lipus. Sesampai di kuburan, Leli Nimat melihat saya tengah memikul jeroan babi itu bersama Risan. Lalu dia menyuruh anak-anak muda yang ternyata menonton pemasangan batu nisan Ende Min. Di situ ada adik bungsu saya Rino. Dia pun berlari untuk mengambil alih tugas saya itu. Tetapi saya terlanjur marah dengan mereka yang tidak menampakkan batang hidungnya di rumah gendang. Begitu dia mendekat saya tempeleng. Kemudian, dia bersama Risan membawa jeroan babi itu. Saya tetap ikut, juga Bapa Lipus. Yang bersihkan itu kemudian Bapa Lipus, Risan, Rino, Saya, Relis, dan Jois (anak sulung Marten dan Leli).

Setelah selesai, kami kembali ke rumah gendang dan makan siang di sana. Kali ini menunya ikan asin dan sayur daun singkong. Setelah makan siang, saya dan Joni kembali ke Balang Lesa untuk mandi dan istirahat sebentar. Jam 17.00, kami kembali ke kuburan, menerobos hujan dengan mantel karena ada jadwal pemberkatan kuburan. Tetapi acara itu batal karena hujan dan ditunda besok pagi (9/7). Kami bertemu mereka yang dari kuburan di “Wela Pusat” perempatan ke kampung asli dan Wejang Buang.

Di situ beberapa saat sebelumnya, baru saja datang saudara-saudari kami Guru Nelis dan anaknya Prisno, Bapa-mama Rista, Ritno, dan Gio. Mereka basah kuyup karena menerobos hujan. Kami pun lalu sama-sama ke rumah Bapak Lipus. Di sana kami bersenda gurau dan bercanda. Tak lama berselang, Yuti dan suaminya Ardi datang. Tapi mereka tidak basah karena pas mereka lewat hujan berhenti. Setelah itu, saya ke rumah untuk mandi. Malam harinya kami sama-sama ke rumah gendang untuk memulai acara kenduri Ende Min dan Bapak Stanis. Malam itu anak rona dan woe semua berkumpul. Saudari-saudari kami bersama suami mereka dan ponakan-ponakan kami juga bersama suaminya.

Setelah makan malam, mereka semua menuju rumah-rumah yang sudah ditetapkan sebagai “kemah” mereka. Saya, Joni, dan Ustin yang tiba malam itu dari Denpasar kembali ke Balang Lesa jam 10 malam karena masih ngobrol dengan saudara-saudara di situ, makan babi panggang dan minum bir traktiran Robert. Sementara Joni makan sirih pinang, kebiasaan ibu-ibu dan bapak-bapak tua di kampung. Sedangkan Ino, Robert, dan Mikel tidur di situ. Amang/kesa/kakek Kala Kembus yang datang dalam keadaan mabuk tidur di situ sambil ngoceh. Malam itu saya tidur cukup nyenyak. (Bersambung)

Jumat, 23 Juli 2010

Meratap di Atas Pusara (3)



Akhirnya kami tiba juga di Wela. Di tengah rintik hujan, saya turun sebentar mengeluarkan koper dan tas untuk lebih dulu dibawa ke rumah. Adik-adik saya Yos, Rino, dan Sofi menjemput. Saya juga ikut berjalan dengan hati-hati ke rumah karena jalan becek dan licin. Setelah berpelukan dan mencium Ende dan Polus (bapak saya bernama Paulus Jalu, tetapi sejak kecil kami panggil dia Polus hingga sekarang), Sofi, Levi dan suaminya Sil serta anak mereka yang sangat cantik Gratia, saya melanjutkan perjalanan ke kuburan.

Di perempatan Wela, Bapak Lipus sudah menunggu. Mengenakan celana pendek dan payung. Begitu kami turun dari mobil, saya berpelukan dengannya di bawah rintik hujan. Dia meneteskan air mata. Saya pun demikian. Bedanya suara tidak keluar. Peristiwa itu berlangsung sebentar. Kami lalu ke kuburan Ende Min yang sangat indah dan mewah terbuat dari batu granit. Di situ baru saya menangis meraung-raung mengenang dan mengingat senyuman, tawa, dan sambutan hangat Ende Min. Tapi apa mau dikata dia sudah dimakamkan di situ.

Yah, ketika Ende Min meninggal saya tidak bisa datang karena sedang berada di India. Khabar kematiannya pun bagaikan petir menyambar di pagi buta. Istri saya, Susi kirim pesan singkat mengabarkan berita duka itu sejak 31 Januari tengah malam. Tetapi saya tidak mendengarnya karena sudah terlanjur terlelap dalam suhu dingin di Bodhgaya, negara bagian Bihar, India. Saya baru mengetahuinya pagi-pagi buta ketika saya ditelepon Susi memberitahu berita duka ini.

Ketika itu saya baru saja selesai sarapan. Begitu mendengar khabar itu, saya langsung histeris di luar hotel kelas melati. Pemandu kami bertanya apa yang terjadi. Saya memberitahukan bahwa orang yang saya cintai meninggal dunia. Ino sebenarnya sudah kirim pesan ke email, tetapi saya tidak bisa buka email di pedalaman India itu.

Saya memang sangat menyesal tidak bisa memberi penghormatan terakhir kepadanya. Terakhir saya melihat wajahnya ketika pulang kampung Juli 2009 saat adik bungsu bapak saya, Stanislaus Nami meninggal. Ketika itu saya pamit dengan dia. Saya memeluk dan menciumnya erat. Dia menangis, seperti biasa dia lakukan setiap kali kami meninggalkan rumah untuk pergi ke tempat jauh. Di tengah sesenggukan dia berujar, “mungkin ini yang terakhir kamu berjumpa dengan saya.” Waktu itu saya tidak terlalu menganggap serius kalimat itu karena hampir tiap tahun dia mengucapkannya. Tetapi kali ini rupanya benar.

Saya menangis sejadi-jadinya di atas pusaranya, persis seperti ketika hari penguburannya di situ. Ketika dia dikuburkan, saya sedang berada di Varanasi, India, baru tiba dari Bodhgaya setelah menempuh perjalanan dengan kereta khusus, Paranirvana semalam suntuk. Waktu itu, saya menangis sejadi-jadinya di kamar hotel.

Kali ini Robert, Ino, Joni, Leli, dan Bapa Lipus juga menangis. Hanya Polus dan Egi yang tidak menangis dan beberapa saudara lain yang bersama kami berdoa di situ. Tetapi kesedihan tampak juga dalam wajah mereka. Setelah berdoa, Bapa Lipus pimpin doa. Selama berdoa, Robert dan Ino terus menangis. Usai berdoa di situ, saya dan Joni pindah ke kuburan Bapak Stanis di sebelahnya yang juga bagus terbuat dari keramik warna merah dengan salib panjang di atasnya serta batu nisan bergambar Tuhan Yesus. Yang kurang hanya tidak ada nama “Stanislaus Nami”. Saya dan Joni menangis dengan suara keras di sana.

Setelah berdoa kami ke rumah Bapak Lipus. Sampai di sana sudah banyak saudara yang menunggu. Ended Beni (Rancis) juga menangis keras. Lagi-lagi mengenang Ende Min. Tidak ada yang menyapa dan menyambut kami begitu tiba di rumah. Senyum khas Ende Min sudah tiada. Pelukan hangatnya hanya tinggal kenangan. Ah, jadi meneteskan air mata lagi pas bikin tulisan ini.

Setelah bersalam-salaman dengan sanak saudara yang sudah ramai di situ, kami lagi-lagi menikmati kopi panas dan serabe buatan saudari-saudari kami di dapur. Enak dan sedap. Apalagi dinikmati dalam cuaca dingin. Setelah itu saya dan Joni ke rumah sebentar hanya untuk mandi karena seharian belum mandi, ambil jaket dan sarung. Selimutan memang lebih enak. Ternyata di rumah, Levi dan Sofi sudah siapkan makan malam. Kali ini menunya ayam kampung. Wah enak tenan. Setelah makan, kami lalu kembali ke rumah Bapak Lipus untuk makan malam bersama dan membicarakan persiapan kenduri (kelas) Ende Min dan Bapak Stanis yang dimulai tanggal 8 Juli dengan puncak pada 9 Juli. Menu makan malam di rumah Bapak Lipus itu adalah B2. Setelah makan malam, kami tidur di situ dan bangun kembali pukul 02.30 untuk menyaksikan semifinal kedua Piala Dunia 2010 antara Jerman dan Spanyol yang dimenangkan Spanyol 1-0 dengan gol tunggal bek Barcelona Charles Puyol melalui tandukan kerasnya. (Bersambung)

Kamis, 22 Juli 2010

Meliuk-Liuk di Lereng Gunung (2)

Ke Cancar kami pakai dua mobil. Yang satu travel dan satu lagi mobil milik Bapa Koe Bapad Berty. Saya, Egi, Joni, Robert dan Kaka Memi naik travel. Sedangkan Ino naik di Toyota Avanza. Dari rumah makan Gardena kami berjalan beriringan melewati jalan utama Labuan Bajo di pinggir pantai yang bagai kubangan. Lubang-lubang besar dan penuh genangan air. Becek. Padahal jalan itu ada di depan mata bupati (waktu itu masih Fidelis Pranda yang maju dalam pemilu kada sebagai incumbent, tetapi kalah dari wakilnya Agustinus Dula). Tetapi dia acuh dan membiarkannya. Mungkin karena dia terlalu sibuk menyiapkan pemilu kada. Padahal itu jalan utama. Bule manca negara lalu lalang di sana. Kawasan itu tak ubahnya dengan Kuta Bali.

Meski sudah makan kenyang dan kurang tidur, saya tidak segera ngantuk. Keluar dari Labuan Bajo saya menyaksikan bukit-bukit yang hijau, sebuah pemandangan yang tak lazim kalau pulang libur pada musim panas. Biasanya, bukit-bukit Labuan Bajo pada musim panas, gosong. Tetapi kali ini berbeda. Hijau. Penyebabnya, saban hari Labuan Bajo dan Manggarai pada umumnya masih diguyur hujan seperti pada musim hujan. Mungkin inilah yang disebut perubahan iklim. Musim panas diganti musim hujan. Takutnya nanti pas musim hujan justru kering. Kalau ini terjadi, kasihan bapak saya, petani sederhana yang miliki sawah tadahan di Terang dan hanya mengandalkan air hujan. Jalanan yang mendaki dan berputar-putar turut mengusir rasa kantuk.

Saya baru tertidur selepas Bambor dan baru tersadar lagi di Pela Lembor. Saya tidak menyaksikan keindahan Lengkong Wol bekas proyek ubi kayu aldira dari Bupati Fidelis Pranda yang gagal total. Saya juga tidak menikmati indahnya hamparan sawah Lembor yang begitu luas. Saya baru bangun ketika travel kami berhenti di depan rumah seorang sahabat lama di Jakarta, Hubertus Mega Tanji, yang kini bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di BKKBN di Kecamatan Lembor. Kami panggil dia dari luar rumahnya yang terletak persis di pinggir jalan. Dia keluar. Kami diajak masuk sekeder menikmati kopi hangat, tetapi karena kami terburu-buru, akhirnya kami hanya bercakap-cakap sebentar di pinggir jalan. Kebetulan juga dia seorang diri. Istri dan anaknya sedang ke Ruteng mengunjungi adiknya yang baru saja melahirkan.

Setelah melepas kangen sebentar kami melanjutkan perjalanan. Saya tidak bisa tidur lagi sepanjang jalan sampai di Cancar. Saya kembali menikmati pemandangan alam yang indah dan menghirup udara bersih yang bebas dari polusi seperti udara di Jakarta. Udara dingin mulai terasa setelah melewati Pa’ang Lembor. Kabut mulai menyapa. Jalanan juga basah pertanda baru saja turun hujan di wilayah itu. Kami kembali menikmati jalan berliuk-liuk menyusuri lereng gunung turun ke Cancar.

Sebelum masuk perempatan Ketang, ada empat orang ibu penjual jeruk duduk di dalam gubuknya. Begitu mobil kami melambat mereka berdiri dan menghampiri. Sopir lalu menginjak rem persis di gubuk paling ujung. Seorang ibu muda sambil berlari ringan berujar, “Eh nara daku” (Ah, saudara saya). Kami menduga itu hanya trik pedagang biar dagangannya laku. Egi pun menyahut asal, “Eng e inang (iya tante).” Lalu disambung, “ai nia maig leng ami (memang kami dari mana).” Ibu itu menyahut, “sili mai Wela (dari Wela).” Kami sontak kaget. Ternyata sapaannya tadi bukan trik, tetapi sungguhan. Lebih kaget lagi ketika dia menyebut nama Egi dengan panggilan masa kecilnya, “Gius.” Ah, kami baru tahu ternyata itu Mel Banut, kakak kelas saya satu tahun di SD Inpres Golowelu I dulu. Dia kawin dengan seorang pemuda dari Lentang dekat Ketang yang datang ke situ dengan ojek menjual jeruk di pinggir jalan.

Karena merasa sekampung, kami membeli jeruknya dua bakul kecil, entah isinya berapa, dengan harga Rp 50 ribu. Tiga ibu lainnya berdiri bengong menyaksikan kejadian itu. “Ta Pak agu dami koe ye (Pak beli juga punya kami dong),” pinta mereka. Egi lalu menyahut, “Di rumah kami di Wela juga ada jeruk. Ini kami beli karena kami satu kampung.” Ketiga ibu itu memahaminya.

Dalam perjalanan ke Cancar yang tinggal 30 menit lagi, kami menikmatinya sambil makan jeruk. Jeruknya manis dan dingin seperti baru daimbil dari kulkas. Terasa makin dingin karena udara di luar pun dingin yang masuk lewat kaca mobil yang dibuka lebar. Tepat pukul 15.00 kami tiba di rumah saudari kami Leli Nimat (Mamad Jois) di Popor Cancar. Kami disambut tangis mengenang Ende Min yang meninggal 1 Februari 2010 lalu. Saya pun jatuh dalam tangisan. Ino langsung masuk kamar dan meraung-raung di kamar. Begitupun Robert. Joni juga meneteskan air mata. Hanya Egi dan Bapad Josi (Marten Deus, suaminya Leli) yang tegar. Seusai menangis, kami berpelukan erat.

Setelah kuat semuanya, Leli suguhi kami kopi panas dan kue disusul makan siang. Dia sudah menyiapkan menu opor bebek, sup bebek campur labu yang masih panas, dan sayur kering. Enak dan lezat. Sementara itu di luar hujan mengguyur deras bikin tambah dingin. Setelah lelah dalam perjalanan kami makan dengan lahap. Semua tambah.

Makan usai. Kami bersiap terus ke Wela. Agak terburu-buru karena sopir travel, katanya, akan menjemput penumpang di Ruteng dan kembali ke Labuan Bajo. Perjalanan ke Wela dilanjutkan. Kali ini Ino bergabung dengan kami karena Toyota Avanza Bapad Berty terus ke Ruteng. Leli juga bergabung dengan kami. Sementara Marten menggunakan motor. Hujan terus mengguyur. Kami menerobos hujan dan kabut sejak dari Cancar hingga Wela. Perjalanan Cancar-Wela hanya 15-20 menit. Singkat sekali dan menanjak melewati jalan sempit. Puar Lewe yang gundul sejak tahun 2000 tampak hijau, karena pohon sensus dan tumbuhan lainnya tumbuh subur di musim kering yang masih turun hujan ini, meski hutan lebat tahun 1990-an telah hilang. Kondisi pinggir jalan di Wae Usang dan Wae Siar nyaris kembali ke kondisi seperti tahun 1990-an. Sensus dan Sera tumbuh subur minus pohon-pohon alam yang hilang dan berharap kembali, entah kapan. (Bersambung)

Selasa, 20 Juli 2010

Perjalanan Ke Sebuah Kampung (1)

Tanggal 7-12 Juli 2010 saya berlibur ke Wela, sebuah kampung lereng gunung di Desa Goloworok, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur (NTT). Kampung yang pada sore hari selalu diselimuti kabut dan bersuhu dingin itu berbatasan langsung dengan Golowelu, ibu kota Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat.

Saya berangkat dari Jakarta hari Selasa (6/7) pukul 20.30 WIB dengan pesawat Air Asia dari terminal tiga Bandara Internasional Soekarno Hatta bersama Egi, Ino dan Kaka Memi. Mendarat di Bandara I Gusti Nurah Rai pukul 23.00 Witeng. Sedangkan Joni yang juga pakai Air Asia dengan nomor penerbangan berbeda mendarat di Ngurah Rai 30 menit berselang. Sementara Robert yang menggunakan Batavia Air sudah tiba satu jam lebih dulu di Ngurah Rai. Dia dengan Onsi yang beberapa tahun terakhir menetap di Bali menunggu kami di Solaria dalam kompleks bandara itu.

Onsi, saudara bungsu Joni dan sepupu kandung saya sudah mencari hotel buat kami di wilayah Popies II kawasan Kuta Bali. Tadinya, muncul ide untuk melewati malam itu dengan nonton bareng semi final pertama Piala Dunia antara Belanda dan Uruguay di kafe pinggir jalan ke Kuta karena besok pagi-pagi jam 07.00 harus melanjutkan penerbangan ke Labuan Bajo. Tetapi niat itu urung, karena Onsi ternyata sudah bayar dua kamar hotel. Terpaksa kami lewatkan malam itu dengan nonton bareng di kamar hotel yang cukup luas tetapi dengan televisi buram. Gambarnya tidak terlalu terang.

Malam itu total tidak tidur. Begitu sampai hotel, kami istirahat sebentar sambil menunggu Ustin yang juga baru tiba di Bali dengan bis dari Jakarta. Dia dijemput Onsi. Setelah mereka datang, kami lalu mencari makan malam di bibir Pantai Kuta sekedar menghabiskan waktu menjelang semifinal Piala Dunia 2010. Kami makan di Mc’Donald di ujung gang Popies II, Kuta. Robert, Ustin, Onsi, dan Joni makan, sedangkan saya hanya makan es krim dan Memi tidak makan sama sekali. Sambil makan kami menikmati bule-bule perempuan yang mengenakan pakaian seadanya. Empat orang perempuan bule yang masih muda-muda dan duduk di samping meja kami tertawa geli karena Onsi makan Mc’Donald (ayam goreng dan nasi) plus sup. Bagi mereka itu tidak biasa.

Setelah makan kami kembali ke hotel, bercakap sambil menunggu jarum jam menunjuk pukul 02.30 WIB. Joni, Ino, Ustin, Onsi tertidur. Yang lihat bola hanya saya, Egi, Robert, dan Ricard “Sapek” (ponakan kami dari kampuang yang bekerja di Bali). Setelah pertandingan Belanda-Uruguay yang berakhir dengan skor 3-2, jarum jam menunjukkan pukul 05.00. Kami tidak bisa tidur lagi. Apalagi jam enam sudah harus sampai di bandara. Kalau tidur, bisa-bisa ketinggalan pesawat. Egi, Ino, Robert, dan Kaka Memi masih sempat mandi. Saya dan Joni sengaja tidak mandi. Jam 05.30 kami cabut ke bandara dan langsung check in.

Saya masih sempat cuci muka di bandara biar agak segar. Tapi kantuk tak bisa ditahan. Begitu duduk di ruang tunggu, kami tertidur sampai pengumuman, “penumpang pesawat Indonesia Trans Nusa tujuan Labuan Bajo dipersilahkan naik ke pesawat melalui pintu nomor 18” disiarkan melalui pengeras suara. Dalam keadaan setengah sadar, saya berdiri dan angkat tas. Tidur kemudian dilanjutkan di pesawat. Perjalanan 55 menit dengan pesawat Aviastar bermesin jet ganda tidak terasa. Tiba-tiba terbangun karena dicolek pramugari supaya sandaran kursi ditegakkan menjelang mendarat di Bandara Komodo Labuan Bajo. Saking nyenyaknya, sampai-sampai “jatah” voucher nginap di Hotel Jayakarta (hotel bintang empat) Labuan Bajo diambil Robert. Tapi tidak apa-apalah, yang penting saya bisa tidur nyenyak.

Pesawat itu mendarat tepat pukul 08.00 di Labuan Bajo. Di parkiran bandara, travel yang sudah dihubungi dari Denpasar sudah siap. Mobil colt L 300 milik Pater Marsel Agot SVD juga ternyata siap menjemput kami di bandara. Tidak hanya itu. Toyota Avanza milik Bapa Koe Bapad Berti yang mengantar Om Mus ke Labuan Bajo juga siap membawa kami ke Wela. Ah, kami seperti tuan-tuan besar saja. Tetapi karena Soni, sopir travel yang dipesan Egi dari Denpasar, sudah menolak penumpang lain dan demi menjaga hubungan baik kami tolak mobil gratis Pater Marsel.

Mobil Pater Marsel hanya mengantar kami ke kantornya di Prundi diikuti travel Suzuki APV dan Toyota Avanza tadi. Sesampai di Prundi, Pater Marsel menyambut kami dengan gayanya yang khas penuh ramah dan senyum berlimpah plus pelukan hangat. Belum juga kami duduk, dia sudah langsung meminta staf perempuannya yang menjaga toko dan wartel di situ mengambil bir dan anggur orang tua. Kami sempat menolak karena kami belum sarapan, tetapi dia keukeh. Katanya, ini adalah bir dan anggur merayakan kekalahan Fidelis Pranda, calon incumbent dalam pemilihan kepala daerah (pemilu kada) Kabupaten Manggarai Barat.

Kami lalu ajak Pater Marsel sarapan di Gardena, sebuah tempat makan favorit di Labuan Bajo selain karena tempatnya yang lumayan bagus, tetapi juga karena pemandangan lautnya yang sungguh indah dan memesona. Dari situ hotel mewah Jayakarta yang masih sangat baru tampak di kejauhan. Sungguh indah. Kami masuk ke rumah makan itu tepat pukul 09.00 dan langsung pesan cap cay dan ikan kuah asam kesukaan Pater Marsel. Sayang sekali, tempat yang indah ternoda pelayanan yang lamban dari para pramuniaga hotel dan rumah makan itu. Pesanan kami baru datang dua jam kemudian, pukul 11.00. Padahal perut sudah keroncongan.

Saking tidak tahannya, Joni Datur atau yang biasa kami panggil Jontor, sepupu kami lainnya yang ke Labuan Bajo mengantar Om Mus sampai bertanya ke beberapa gadis pelayan hotel dan restoran itu, “Enu (nona) apakah kami harus tidur di sini?” Sambil menunggu makanan, Pater Marsel bercerita tentang serunya pemilu kada di Manggarai Barat. Tampak dia sangat puas dan antusias atas kekalahan Fidelis Pranda. Maklum sudah satu tahun lebih dia bersama sejumlah pastor dan aktivis lembaga swadaya masyarkat di wilayah itu menentang kebijakan pro tambang Fidelis Pranda. Empat orang bule dari Prancis dan Italia minta saya menjepret mereka berlatar hamparan laut Labuan Bajo yang bersih dan pulau-pulau kecil yang menyembul di tengah laut biru dan Hotel Jayakarta di kejauhan. Indah. Mereka berbicara Bahasa Inggris. Dengan Inggris patah-patah saya timpali mereka. Seorang bule pria dari Italia mengatakan, “Ha, your English is better.” No, my English is not so good,” ucap saya. Sementara sepasang bule lainnya duduk santi di seberang kami menghadap ke laut dan sembulan pulau-pulau kecil di depan mereka sambil menikmati kopi hitam.

Saya bilang ke mereka, kalau mau bicara Bahasa Italia, di sini (rombongan kami itu) ada orang yang sangat fasih berbicara Italia karena pernah tinggal lebih dari empat tahun di Italia yaitu Pater Marsel. Tetapi mereka hanya saling menyapa dan mengedipkan mata dari jauh. Pater Marsel pun mengaku Bahasa Italianya tinggal sisa-sisanya saja. Maklum sudah lama tidak dipakai. Setelah bosan bersenda gurau dan setelah berkali-kali ditanya, makanan pesanan kami akhirnya datang juga. Ikan kuah asam dan cap cay. Enak memang. Tetapi tunggunya itu yang tidak kuat. Kami melahap makanan itu sampai habis tanpa sisa. Pesan nasi tambah pun lamanya minta ampun, meskipun akhir datang.

Setelah selesai makan, Pater Marsel cepat-cepat menyambangi kasir dan membayar semua makanan yang diorder. Saya, Ino, Egi, dan Joni tidak enak hati. Karena seharusnya yang mentraktir dia adalah kami. Tetapi Pater Marsel membayar semuanya. Lagi-lagi kalimat yang meluncur dari mulutnya, “ini adalah perayaan kekalahan Fidelis Pranda”. Begitulah Pater Marsel, tulus dan jujur.

Lama kami duduk di Gardena, Tarsi Budaya, teman angkatan Egi di Seminari Kisol datang bergabung setelah ditelepon Egi. Tetapi dia tidak makan karena katanya sudah makan dari rumah. Selesai makan, kami berdiri hendak pulang, tiba-tiba Romo Sipri Hormat (bekas guru saya di Seminari Kisol) dan Romo Ardus Jehaut (kakak kelas di Kisol) datang. Mereka yang baru mendarat dari Bali hendak makan siang di tempat itu. Tetapi saya bilang, “Romo kalau sudah lapar sebaiknya cari tempat lain saja. Di sini sangat lama. Kami saja menunggu dua jam baru makanan datang.”

Entahlah mereka tetap makan di situ atau tidak. Kami tidak perhatikan lagi karena kami segera masuk travel yang menunggu di depan Gardena. Kami berpisah dengan Pater Marsel di situ. Kami ke Wela, dia kembali ke tempat kerjanya. (Bersambung/Alex Madji)