Tampilkan postingan dengan label BBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BBM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Media Sosial dan Autisme


Suatu hari, sekelompok perempuan duduk dalam satu meja di sebuah rumah makan di Kawasan Jakarta Pusat. Masing-masing memegang gedget di tangan. Kebanyakan Blackberry. Mereka asyik dengan dirinya sendiri.

Tidak ada percakapan, saking sibuknya dengan media-media komunikasi tersebut. Sesekali, beberapa di antara perempuan itu tertawa ngakak dalam kebisuan itu. Yang lain lagi tersenyum sendiri sambil terus memencet tuts-tuts pada keypad Blackberry mereka.

Yang lain lagi tersenyum renyah, sementara yang lain tetap menatap Bleckberry dengan wajah serius, sambil terus menari-narikan jempol mereka di atas tuts BB.

Kemudian, pada kesempatan lain, saya menyaksikan sebuah keluarga muda sedang duduk pada kursi sofa di ruang tamu rumah mereka. Tetapi keduanya duduk dalam hening. Sesekali tersungging senyum dari wajah mereka tanpa ada cerita lucu dari pasangan masing-masing.

Mereka memang berada bersama tetapi sesungguhnya mereka jauh satu sama lain. Mereka lebih memilih tetap berkomunikasi dengan "dunia luar" daripada dengan teman dan pasangannya yang berada di depannya. Mereka mendekatkan yang jauh tetapi pada saat bersamaan mereka menjauhkan yang dekat.

Lalu dalam hati saya bertanya, apa yang membuat mereka berkumpul dan berada bersama di tempat itu? Karena pertemanan? Karena ikatan perkawinan? Lalu apa makna pertemanan dan perkawinan bila kehadiran pasangan dan temannya itu ternyata diabaikan dan tidak dihiraukan?

Saya tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu karena terlampau sulit. Butuh refleksi mendalam untuk menemukan jawaban yang pas.

Saya hanya mau mengatakan bahwa aktivitas yang berlebihan di media sosial seperti di facebook, twitter, grup BBM dan media-media sosial lainnya membuat banyak orang menjadi autis, sebuah autisme sosial.

Dalam konteks ini, autis berarti orang yang tenggelam dalam keasyikan dengan dirinya sendiri dan tidak mempedulikan orang lain di sekitarnya, termasuk orang yang paling dekat sekalipun. Orang yang berada di sampingnya dianggap tidak ada, sebaliknya orang yang nun jauh di sana dan maya menjadi ada.

Karena itu dalam arti tertentu ini sebentuk sakit, seperti seorang autis dalam arti yang sesungguhnya. Tetapi autis yang saya maksudkan tadi sesungguhnya lebih parah daripada jenis autis yang terakhir ini. Kalau autis dalam arti sesungguhnya terjadi begitu saja, sedangkan autis sosial terjadi karena disengaja atau dibuat sendiri oleh mereka yang mengalaminya.

Dampak dari autisme sosial ini bisa parah. Hubungan antar orang yang dekat, misalnya dengan pasangan hidup, bisa jadi hambar dan tak bearti. Sebaliknya hubungan dengan orang lain di luar rumah bisa lebih akrab dan intim. Pada titik ini, tidak heran kalau banyak terdengar cerita bahwa banyak pasangan yang akhirnya berpisah karena tidak adanya kehangatan komunikasi di dalam rumah akibat lebih akrab dengan dunia liar daripada orang yang paling dekat dengan kita secara fisik.

Untuk mengatasi hal ini sebenarnya gampang. Gunakan media sosial secara proporsional dan kritis. Artinya, aktivitas media sosial jangan sampai mengabaikan, apalagi menegasi orang yang sedang berada bersama kita. Pakaialah media sosial secukup dan seperlunya, tidak berlebihan, apalagi kalau sampai maniak. Itu saja dan sederhana. Tinggal ada kemauan untuk menjalankannya atau tidak. Terakhir, ya, selamat menjalankan hal sederhana itu. (Alex Madji)

Senin, 26 Maret 2012

Terimakasih BBM dan Tomcat


Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi berita utama berbagai media massa beberapa hari belakangan ini. Apalagi, reaksi mahasiswa di sejumlah daerah membuat berita terkait kenaikan harga BBM ini makin marak. Aksi unjuk rasa mahasiswa dan buruh menghiasi halaman depan media massa dan menjadi topik utama talk show media televisi. Lebih-lebih lagi, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) over acting ingin mengerahkan tentara guna mengamankan unjuk rasa mahasiswa dan buruh.

Di sela-selanya, ada berita tentang serangga Tomcat yang menyerang warga. Mula-mula dari Jawa Timur kemudian menular ke daerah-daerah lain, termasuk kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Media televisi paling gencar memberitakan serangga ini, termasuk memperlihatkan warga yang sudah terkena bisa serangga ini. Lukanya seperti luka gores. Bukan luka serius yang mematikan.

Tetapi anehnya, sejumlah wartawan di Jawa Timur tidak menemukan serangga Tomcat ini saat mereka melacak ke lokasi yang diberitakan media televisi. Lalu tersiar khabar bahwa berita serangga ini sengaja dibesar-besarkan. Bahkan, cerita serangga Tomcat ini adalah rekaan. Tujuannya untuk mengalihkan berita aksi unjukrasa mahasiswa dan buruh yang menolak kenaikan harga BBM.

Bila melihat pemberitaan media saat ini, sepertinya serangga Tomcat belum bisa menutupi berita aksi unjuk rasa mahasiswa dan buruh. Meski berita serangga Tomcat tetap ada, tetapi berita unjuk rasa juga tidak kalah serunya. Keduanya belum saling menutupi. Sementara Presiden SBY “lari” ke luar negeri, ketika unjuk rasa dalam negeri marak. Ya ini taktik lama SBY. Setiap kali Jakarta dilanda unjuk rasa, dia mengungsi baik dengan melakukan kunjungan ke luar negeri maupun ke daerah-daerah.

Tetapi yang pasti, dua berita itu menutup tuntas pemberitaan dugaan korupsi para petinggi Partai Demokrat dalam kasus pembangunan wisma atlet dan dan sarana olahraga Hambalang, Sentul, Jawa Barat, yang diduga melibatkan Ketua Umum Partai itu Anas Urbaningrum dan Angelina Sondakh yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Pada satu minggu terakhir, pemberitaan tentang praktek korupsi partai penguasa ini tenggelam oleh hingar bingar pemberitaan kenaikan harga BBM dan serangga Tomcat. Para petinggi Partai Demokrat untuk sementara bisa menarik napas lega, setelah pemberitaan media massa yang begitu gencar. Dan bukan tidak mungkin, mereka melakukan operasi senyap untuk mempatieskan kasus tersebut karena sudah luput dari perhatian publik.

Tugas media massa seharusnya adalah terus mengawal dan menggonggong agar ingatan masyarakat pada kasus korupsi para petinggi Partai Demokrat ini tetap hidup. Tetapi memang, media di negara kita ini selau menerapkan taktik “hit and run”. Setelah sebuah isu diberitakan habis-habisan dan ketika tidak seksi lagi, karena ada isu baru, lantas ditinggal. Ingatan masyarakat pun sependek pemberitaan media massa seperti itu. Situasi inilah yang dimanfaatkan para koruptor untuk menyusun strategi menghilangkan jejak kasus tersebut.

Karena itu, para tersangka dan calon tersangka kasus korupsi dari Partai Demokrat harus berterima kasih kepada BBM dan serangga Tomcat. Keduanyalah yang menyingkirkan mereka dari ruang publik, sambil berharap masyarakat dan media cepat lupa pada kasus korupsi tersebut. Selanjutnya, mereka membangun citra diri sebagai orang paling bersih dari korupsi. (Alex Madji)

Sumber foto: http://www.bloginfonews.com/