Tampilkan postingan dengan label pindah agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pindah agama. Tampilkan semua postingan
Rabu, 31 Oktober 2012
Tidak Benar Tom Cruise Masuk Islam
Rabu, 31 Oktober 2012 saya mencoba menelusuri tentang Leon Osman, pemain Everton yang ikut mencetak gol ke gawang Liverpool pada derby Merseyside pekan lalu yang berakhir imbang 2-2. Saya memang penasaran dengan pemain ini. Tetapi tiba-tiba saya menemukan sebuah percakapan di Nairaland Forum yang menyebutkan bahwa bintang film Tom Cruise pindah ke Islam.
Padahal, belum lama ini (bulan ini juga) saya menulis tentang dia, terutama soal perceraiannya dengan Katie Holmes. Dalam tulisan itu saya menyebutkan bahwa Tom Cruise adalah penganut sekte Schientologist yang taat. Bahkan, gara-gara agama ini yang "dipaksakan" untuk dianut putri mereka, Suri, menjadi penyebab perceraian keduanya. Kini Katie yang tadinya penganut Katolik tinggal di New York dan kembali memeluk Katolik.
Saya lalu mencoba mencari tahu kebenaran informasi ini. Rekan sesama artis dan satu sekte dengan Tom Cruise, John Travolta langsung membantah gosip ini. "Saya tidak percaya dia melakukan ini. Tom adalah seorang penganut Scientologist yang sempurna. Bukan hanya itu. Dia sudah berada pada level ke-9 Xenu Warrior Wizard. Bagaimana mungkin dia bisa keluar dari itu semua," argumen John Travolta sengit menanggapi gosip murahan tersebut.
Rumor yang sama juga pernah ditanyakan anggota answers.yahoo.com. Seseorang yang menggunakan akun DapperDo menanyakan, "Rumor membanjiri sekolah saya, katanya Tom Cruises sudah resmi menjadi muslim. Apakah ada orang yang mengetahui ini atau ada komentar?"
Menjawab pertanyaan ini, banyak sekali anggota forum menjawab yang pada intinya menegaskan bahwa rumor itu tidak benar. Anggota forum itu yang menggunakan akun !*ZOEY*!, misalnya mengatakan, "Tidak, saya tidak pernah mendengar itu. Itu mungkin hanya sebuah rumor di sekolah Anda. Tom itu penganut Scientologist".
wiki.answers.com juga membenarkan bahwa Tom Cruises masih seorang penganut Scientologist. Begitu juga my.gurl.com. Seseorang yang menggunakan akun gURLstaff_alli di grup itu mengatakan bahwa gosip itu tidak benar. Sumber gosip itu, kata dia, adalah uncyclopedia. Kata "un" saja menunjukkan bahwa informasi itu tidak benar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Omar Mukhtar di Ummah Forum (ummah.com) juga menilai gosip itu adalah khabar angin yang sama sekali tidak benar. Peserta lain di forum itu juga menilai, itu fiksi belaka. Anggota lainnya lagi mengatakan, ini rumor lama. Tom Cruise masih menganut Scientologist.
Dari semua informasi yang saya dapatkan di atas bisa dipastikan bahwa Tom Cruise tidak pindah ke Islam dan dia masih menganut Scientologist. Rumor seperti ini ditiupkan karena ada semacam tren di kalangan selebriti dunia untuk gonta ganti agama, sama seperti kegemaran mereka gonta ganti pasangan hidup. (Alex Madji)
Selasa, 18 September 2012
Pangeran Kuwait Murtad?
Sabtu, 14 September 2012 sore, seorang teman meneruskan sebuah berita dari facebook ke Grup BBM tentang murtadnya seorang pangeran Kuwait. Disebutkan bahwa anggota keluarga Kerajaan Kuwait bernama Pangeran Abdullah Al-Sabah meninggalkan agama leluhurnya, Islam, dan memeluk Kristen.
Saya sendiri pernah menginjakkan kaki di bagian dalam Istana Kerajaan Kuwait ketika mengikuti rombongan Jusuf Kalla, saat menjadi Wakil Presiden. Ketika itu Kalla berkunjung ke Brussels, Helsinki, dan Jepang. Tetapi transit sebentar di Kuwait untuk melayat Raja Kuwait yang meninggal pada Januari 2006.
Sambil menghidupkan kembali kenangan itu, saya mencoba menelusuri berita itu di Google. Ternyata, gosip atau rumor ini sudah ramai didiskusikan di sebuah forum berbahsa Inggris, Snopes.com. Diskusi di forum ini sudah berlangsung sejak Juli atau bahkan jauh sebelum itu. Dalam forum tersebut, beberapa anggota forum memberitahukan sejumlah link media yang menulis berita tentang murtadnya Pangeran Abdullah Al-Sabah ini.
Setelah ditelusuri, ternyata berita ini sudah lama muncul. Paling tidak, situs berita christianpost.com sudah menurunkan berita itu pada 24 Januari 2012 pukul 16.26 waktu setempat. Berawal dari sebuah rekaman yang ditayang oleh sebuah televisi satelit di Timur Tengah yang tidak disebutkan namanya. Isinya bahwa seorang Pangeran Kuwait pindah dari Islam ke Kristen. Pada awal Januari 2012, sebuah kanal satelit Arab mensinyalir bahwa rekaman itu dibuat oleh Pangeran Abdullah Al-Sabah sendiri. Dalam rekaman ini disebutkan bahwa dia tinggalkan muslim dan pindah ke Kristen. "Saya akan bersama Yesus Kristus untuk selama-lamanya," bunyi rekaman tersebut.
Abdullah Al-Sabah juga berbicara kritis tentang organisasi-organisasi Jihat, termasuk kelompok yang memenangkan Pemilu di Mesir. "Kelompok-kelompok Islam selalu ingin melakukan penyerangan di berbagai kota di seluruh dunia tetapi Allah melindungi kota-kota itu dan masih akan terus melindungi dunia," bunyi rekaman tersebut lebih lanjut.
Tetapi dalam sebuah rilis yang diterbitkan pihak Kerajaan Kuwait disebutkan bahwa tidak ada nama Abdullah Al-Sabah dalam keluarga kerajaan negara kaya minyak tersebut. Begitupun pernyataan yang dikeluarkan Vatikan. Vatikan menyebutkan bahwa nama Abdullah Al-Sabah memang ada dalam pohon keluarga Kerajaan Kuwait yang memerintah negara itu, tetapi tidak dalam keluarga kerajaan yang masih hidup. "Senyatanya, nama Abdullah tidak ada dalam daftar 15 anggota keluarga kerajaan yang memerintah negara kecil tetapi sangat sejahtera ini," tulis orang dalam Vatican, Marco Tosatti, seperti dikutip christianpost.com.
Tetapi, masih menurut media tersebut, Abdullah Al-Sabah dalam rekaman itu tidak lain adalah Shaikh Faisal Al Abdullah Al Sabah seorang Pangeran Kuwait yang pada 2010 lalu dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati karena membunuh kemenakan laki-lakinya.
Diangkat Lagi
Berita tentang kepindahan agama Abdullah Al-Sabah ini kemudian diangkat lagi oleh media online Tumfweko.com, sebuah media berita dan hiburan Zambia pada Senin, 17 September 2012. Media ini menyebutkan bahwa sebuah rekaman ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi satelit Kristen di Timur Tengah bernama al-Haqiqa yang isinya pengakuan dari Abdullah Al-Sabah bahwa dia meninggalkan Islam dan memeluk kristen.
Masih menurut media ini, dalam rekaman tersebut Abdullah Al-Sabah menegaskan bahwa dia tidak akan berpaling dari Yesus Kristus, meskipun diancam dibunuh karena membuat rekaman tersebut. Media ini mengutip rekaman suara orang yang disebut-sebut Abdullah Al-Sabah itu. "Pertama-tama, saya sangat setuju penyebaran rekaman ini dan sekarang saya menegaskan bahwa bila mereka membunuh saya karena ini, saya lalu akan datang ke hadapan Yesus Kristus dan akan berada bersamanya dalam kekekalan," bunyi rekaman tersebut lebih lanjut.
Televisi satelit al-Haqiqa menjelaskan bahwa Abdullah Al-Sabah adalah keluarga kerajaan Kuwait yang meninggalkan Islam dan lalu memeluk Kristen. Hanya saja, televisi itu tidak menyebut dia menganut kristen apa."Saya akan terima apapun yang mereka perbuat untuk saya karena kebenaran dalam Alkitab sudah membimbing saya ke jalan kebenaran," lanjut rekaman tersebut.
Tumfweko.com juga menulis bahwa Mohabat News, sebuah website berita Kristen di Timur Tengah, menyebutkan bahwa berita ini sudah dimuat oleh kantor berita Arab dan kantor berita negara Iran. Tetapi sejumlah media independen dari kelompok Syiah, mengutip seorang keluarga Kerajaan Kuwait lainnya, Azbi Al-Sabah mengatakan bahwa berita ini tidak benar karena tidak ada nama seperti itu dalam keluarga Kerajaan Kuwait. "Tidak ada nama seperti itu (Abdullah Al-Sabah) dalam keluarga Kerajaan Kuwait," tulis Tumfweko.com mengutip media independen tersebut.
Nah, dari sumber-sumber berita di atas menunjukkan bahwa berita atau gosip yang muncul terkait perindahan Abdullah Al Sabah dari Islam ke Kristen bukanlah hal baru. Tetapi ini isu lama yang disebarkan lagi. Belum terungkap apa motif di belakang penyebaran isu tersebut. Lalu, apakah ada kebenaran di balik berita itu? Belum ada media yang mengungkapnya. (Alex Madji)
Selasa, 28 Agustus 2012
Neil Armstrong Digosipkan Mualaf

Astronot Amerika Serikat yang pertama kali mendarat di bulan, Neil A Armstrong sudah wafat pada Sabtu, 25 Agustus 2012 di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, dalam usia 82 tahun. Berita wafatnya astronot yang mendarat di Bulan pada 20 Juli 1969 itu menghiasi media-media massa dunia. Tak terkecuali Indonesia.
Lalu tiba-tiba seorang teman lama, melalui facebook, meminta saya menulis sisi lain dari Neil Armstrong ini. Terutama terkait isu, gosip, dan rumor setelah Neil Armstrong pulang dari bulan. Media-media di Indonesia dan Malaysia ramai memberitakan bahwa begitu mendarat di Bulan, Neil Amstrong mengaku mendengar bunyi azan. Kemudian dia mengatakan bahwa Islam adalah agama yang benar.
Sebenarnya, Neil A Armstrong mengenal bahwa suara yang didengarnya di bulan itu adalah azan ketika mendengar bunyi serupa saat berkunjung ke Mesir. Best-hoaxes.blogspot.com mengutip wikislam, menulis, "Ini (azan) seperti bunyi yang pernah saya dengar ketika saya mendarat di Bulan." Kemudian dilanjutkan lagi, "Seorang teman Mesir Neil Armstrong mengatakan bahwa itu adalah bunyi Azan. Dan seketika itu juga dia menjadi mualaf karena pengalamannya tersebut.”
Rumor itu begitu meluas di negara-negara Asia. Maka ketika suatu ketika Neil A Armstrong berkunjung ke Malaysia, ini adalah kesempatan emas untuk mengkonfirmasi langsung kebenaran rumor tersebut. Kepada dia ditanyakan, apakah benar bahwa dia mendengar bunyi azan di bulan dan apakah betul dia sudah mualaf. Mendengar pertanyaan ini, Neil Armstrong heran. Dia menegaskan bahwa tidak pernah mendengar suara azan di bulan.
Isu, rumor, dan gosip ini ternyata tidak benar. Ini hoax belaka. Blog berbahasa Inggris, http://best-hoaxes.blogspot.com/2011/05/how-neil-armstrong-converted-to-islam.html, mengutip pernyataan resmi dari seorang pembantu administratifnya, Vivian White. Orang ini, atas permintaan Neil Armstrong sendiri, menulis sebuah surat kepada Phil Parshall, Direktur Asian Research Center, International Christian Fellowship 29524 Bobrich, Livonia, Michigan 48152.
Isinya, "Laporan tentang kepindahannya (Neil Armstrong) ke Islam karena mendengar suara azan di bulan dan di tempat-tempat lain di dunia itu, semuanya tidak benar. Sejumlah media massa di Malaysia, Indonesia dan negara-negara lain sudah menerbitkan laporan ini tanpa verifikasi. Kami meminta maaf atas kerja jurnalistik yang tidak berkompeten seperti ini."
Blog berbahasa Inggris lainnya, http://islamqa.info/en/ref/20880 juga menegaskan bahwa rumor itu tidak benar karena tidak memiliki sumber yang jelas. Rumor itu sengaja disebarluaskan untuk “menipu” iman umat Muslim awam, seperti juga banyak artis, olahragawan dan tokoh publik lainnya diberitakan memeluk agama ini. Tujuannya untuk memberi kesan bahwa agama ini lebih superior dari agama lain.
Bahkan sebuah blog berbahasa Indonesia, aji3b.wordpress.com menegaskan bahwa rumor ini sengeja dihembuskan untuk mendiskreditkan, membodoh-bodohi umat Islam, dan bahkan menghancurkan dunia Islam. "...mereka menganggap kebodohan dunia Islam karena tidak mau menerima kenyataan 'American kafir'-lah yang pertama menginjakkan kaki di bulan, bukan orang muslim," tulis blog tersebut.
Dilanjutkan, "Umat muslim tidak perlu seorang Neil Armstrong untuk meyakinkan dirinya bahwa agama Islam yang dianutnya adalah benar. Jika anda menyakini agama benar, maka yakinilah bahwa hal itu benar. Muslim dianggap menggunakan nama besar Neil Armstrong untuk membenarkan agamanya. (Saya menentang pernyataan itu). Masa kita dikatakan kurang meyakini agama kita sendiri sehingga perlu nama-nama besar dari dunia barat (Umat muslim, percayalah nama rasullullah sudah cukup besar buat kita dan dunia. Umat kita sendiri yang akhirnya menjadi bahan tertawaan, cukup sudah."
Dimakamkan Secara Kristen
Neil Alden Armstrong yang lahir di Wapakoneta, Ohio pada 5 Agustus 1930 adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya, Stephen Armstrong adalah pegawai negeri sipil. Sementara ibunya, Viola adalah seorang putri petani yang memiliki ladang sendiri atau tuan tanah. Stephan Armstrong dan Viola selalu berdoa agar anak-anaknya bertumbuh menjadi orang yang baik dan berguna di kemudian hari. Kedua orang tuanya taat beragama dan memiliki devosi yang kuat. Tetapi Neil yang kemudian dua kali menikah, menurut Telegraph.co.uk, tidak memiliki agama yang jelas. Atau paling tidak, dia tidak menunjukkan secara eksplisit agama yang dianutnya.
“Mereka (kedua orang tuanya) membiarkan saya mengikuti keinginan saya sendiri. Mereka tidak mencoba mendikte saya, apa yang saya harus lakukan atau kemana saya harus pergi,” kata Neil Armstrong di kemudian hari seperti dikutip media Inggris itu.
Tetapi satu hal yang pasti, anggota Senat Partai Republik dari negara bagian Ohio, Johnson mendesak Presiden Barack Obama untuk memakamkan Neil Arsmtrong dengan upacaya kenegaraan. Acara itu juga akan memberi kesempatan kepada warga Amerika Serikat untuk memberi penghormatan kepadanya.
Upacara kenegaraan itu akan melibatkan lima cabang angkatan bersenjata Amerika Serikat, dilakukan tembakan salvo artileri, flypast dan diiringi sejumlah band dan kor. Peti jenasah yang dibaluti bendera Amerika Serikat akan diarak di Pennsylvania Avenue dengan kereta kuda menuju Capitol, sebelum melakukan kebaktian di Washington National Katedral. Bagian terakhir ini, mudah-mudahan sedikit menguak rahasia agama Neil Armstrong.
Meskipun, dalam pernyataan resmi pihak keluarga mengumumkan wafatnya Neil Armstrong 25 Agustus 2012 malam disebutkan, “Bagi mereka yang mungkin bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuk menghormati Neil, kami punya permintaan sederhana. Hormati teladan pelayanannya, kerendahan hatinya, dan kasih sayangnya. Setelah itu, ketika malam cerah tiba, Anda keluar dan melihat bulan akan tersenyum pada Anda. Ketika itu berpikirlah tentang Neil Armstrong dan berikanlah kepadanya sebuah kedipan.”
Selamat jalan Neil Armstrong. Apapun agamamu, yang pasti Anda sudah menginspirasi dunia bahwa apa yang tidak mungkin, menjadi mungkin. Selamat beristirahat dalam keabadian. (Alex Madji)
Keterangan foto: Neil A Armstrong (Foto: The Telegraph.co.uk)
Jumat, 03 Agustus 2012
Ketika Masalah "Mualaf" Dibawa ke Pengadilan
Ini cerita tentang seorang anak berumur 10 tahun di Essex, Inggris yang "mualaf" dari Yahudi ke Kristen. Tadinya, kedua orang tua anak yang identitasnya tidak diungkapkan ini menganut agama Yahudi. Kakek neneknya pun Yahudi. Tetapi kemudian ayahnya memilih "mualaf" menjadi seorang Kristen.
Anak itu kemudian mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti jejak sang ayah. Gara-gara itu, lalu kedua orang tuanya "perang". Sang ibu yang masih setia dengan Yudaismenya memaksa anaknya untuk tidak pindah agama, sebelum dia cukup matang dari sudut usia. Sementara sang anak ngotot mau menjadi seorang kristen. Ayah dan ibu anak ini sudah bercerai sejak 2010.
Karena sama-sama ngotot, sang ibu lalu mengajukan gugatan ke pengadilan pada November 2011. Dia menduga mantan suaminyalah yang memaksa anaknya masuk kristen. Bahkan dia menuduh mantan suaminya itu menghalang-halangi anaknya menghayati agama Yahudinya. Parahnya lagi, sang ibu tidak mendiskusikan dengan mantan suaminya terlebih dahulu, sebelum mengajukan gugatan. Lalu apa yang terjadi di persidangan? Majelis hakim justru menyalahkan sang ibu. Mutlak salah, kata hakim, bahwa sang ibu mengajukan gugatan ke pengadilan tanpa berdiskusi dengan ayah anak ini terlebih dahulu.
Hasil akhirnya, majelis hakim memutuskan bahwa anak itu dinilai sudah matang untuk memilih agama yang dia peluk dan bisa dibabtis sejauh dia sudah siap.
Hakim John Platt dari Pengadilan Negeri Ramford, Essex, Inggris lalu menulis surat secara pribadi kepada anak itu terkait keputusannya itu. "Kadang-kadang orang tua secara sederhana tidak bisa menyetujui apa yang terbaik bagi anak mereka, tetapi mereka juga tidak bisa mutlak benar. Ayah Anda berpikir bahwa adalah sesuatu yang benar kalau Anda dibabtis sebagai seorang Kristen sekarang. Sementara ibumu ingin tunggu sampai kamu mengerti. Karena itu mereka meminta saya mengambil keputusan. Itulah pekerjaan saya," tulis Hakim John Platt.
Tugas hakim adalah mengambil keputusan terbaik untuk sang anak. Dan, keputusannya adalah bahwa sang anak dibabtis sebagai seorang Kristen kalau anak itu sendiri sudah siap dibabtis. "Tetapi hakim menetapkan bahwa itu tidak berarti anak ini kehilangan warisan yudaismenya. Dan akhirnya, ini adalah yang paling penting, baik ibu maupun ayah Anda tetap memperhatikan kamu dengan penuh cinta apapun yang terjadi dengan babtisan Anda," kata John Platt lebih lanjut seperti diberitakan The Telegraph.
Proses pindah agama di Indonesia juga banyak. Tetapi, orang tua mengajukan gugatan ke pengadilan karena anaknya pindah agama belum pernah saya dengar. Dari berita ini hanya mau ditunjukkan bahwa isu agama di negara demokratis liberal seperti Inggris juga ternyata sensitif dan bisa merusak hubungan keluarga. Sama sensitifnya seperti di Indonesia. (Alex Madji)
Anak itu kemudian mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti jejak sang ayah. Gara-gara itu, lalu kedua orang tuanya "perang". Sang ibu yang masih setia dengan Yudaismenya memaksa anaknya untuk tidak pindah agama, sebelum dia cukup matang dari sudut usia. Sementara sang anak ngotot mau menjadi seorang kristen. Ayah dan ibu anak ini sudah bercerai sejak 2010.
Karena sama-sama ngotot, sang ibu lalu mengajukan gugatan ke pengadilan pada November 2011. Dia menduga mantan suaminyalah yang memaksa anaknya masuk kristen. Bahkan dia menuduh mantan suaminya itu menghalang-halangi anaknya menghayati agama Yahudinya. Parahnya lagi, sang ibu tidak mendiskusikan dengan mantan suaminya terlebih dahulu, sebelum mengajukan gugatan. Lalu apa yang terjadi di persidangan? Majelis hakim justru menyalahkan sang ibu. Mutlak salah, kata hakim, bahwa sang ibu mengajukan gugatan ke pengadilan tanpa berdiskusi dengan ayah anak ini terlebih dahulu.
Hasil akhirnya, majelis hakim memutuskan bahwa anak itu dinilai sudah matang untuk memilih agama yang dia peluk dan bisa dibabtis sejauh dia sudah siap.
Hakim John Platt dari Pengadilan Negeri Ramford, Essex, Inggris lalu menulis surat secara pribadi kepada anak itu terkait keputusannya itu. "Kadang-kadang orang tua secara sederhana tidak bisa menyetujui apa yang terbaik bagi anak mereka, tetapi mereka juga tidak bisa mutlak benar. Ayah Anda berpikir bahwa adalah sesuatu yang benar kalau Anda dibabtis sebagai seorang Kristen sekarang. Sementara ibumu ingin tunggu sampai kamu mengerti. Karena itu mereka meminta saya mengambil keputusan. Itulah pekerjaan saya," tulis Hakim John Platt.
Tugas hakim adalah mengambil keputusan terbaik untuk sang anak. Dan, keputusannya adalah bahwa sang anak dibabtis sebagai seorang Kristen kalau anak itu sendiri sudah siap dibabtis. "Tetapi hakim menetapkan bahwa itu tidak berarti anak ini kehilangan warisan yudaismenya. Dan akhirnya, ini adalah yang paling penting, baik ibu maupun ayah Anda tetap memperhatikan kamu dengan penuh cinta apapun yang terjadi dengan babtisan Anda," kata John Platt lebih lanjut seperti diberitakan The Telegraph.
Proses pindah agama di Indonesia juga banyak. Tetapi, orang tua mengajukan gugatan ke pengadilan karena anaknya pindah agama belum pernah saya dengar. Dari berita ini hanya mau ditunjukkan bahwa isu agama di negara demokratis liberal seperti Inggris juga ternyata sensitif dan bisa merusak hubungan keluarga. Sama sensitifnya seperti di Indonesia. (Alex Madji)
Kamis, 12 Juli 2012
Ada Pastor Mualaf?

Sebuah Grup BBM (Blackberry Messanger) memunculkan gambar sepasang kekasih yang baru selesai melangsungkan akad nikah. Pengantin pria mengenakan jas dengan kalungan bunga di leher serta kopiah di kepala. Sedangkan pengantin putri yang mukanya pas-pasan mengenakan kebaya putih dengan bawahan batik putih bercorak. Sangat sederhana. Bukan hanya foto. Ada juga undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan mereka yang berlangsung di kawasan Rawasari Jakarta Pusat, pekan lalu, tepatnya 8 Juli 2012. Pengantin itu didampingi empat orang, masing-masing berdiri di sisi kiri dan kanan pengantin pria dan wanita. Tidak dijelaskan siapa mereka.
Di sebuah mailing list, foto ini juga beredar diikuti diskusi panjang tentang pengantin pria pada foto tersebut. Diskusi yang sama terjadi di grup BBM tadi. Isi diskusi di dua media itu sama. Ungkapan kekesalan, kemarahan, dan rasa tidak percaya bahwa peristiwa itu terjadi.
Kenapa? Karena Sang Pengantian Pria adalah seorang pastor Katolik yang memilih mundur setelah menjadi pastor selama bertahun-tahun (mungkin lebih dari 20 tahun) dan menikah. Saya mengenal pastor ini, meski tidak pernah menjadi anak bimbingannya. Dan saya tidak perlu mengungkapkan namanya dalam tulisan ini karena alasan etis.
Sebenarnya, kalau hanya menikah tidak soal. Sebab tidak sedikit pastor yang meninggalkan imamat lalu menikah, atau terpaksa menanggalkan jubahnya karena sudah terlebih dahulu kawin dengan perempuan. Urusan para pastor meninggalkan imamat lalu kawin, sudah lumrah. Yang membuat orang marah, paling tidak anggota Grup BBM dan mailing list tadi, adalah bahwa dia menikah secara Islam.
Sebagian besar dari anggota Grup BBM dan mailing list itu seolah tidak menerima dan percaya bahwa seorang mantan pastor menikah secara Islam. Belum jelas benar, mengapa itu yang dipilih. Tentu dia punya alasan dan pertimbangan. Patut diduga adalah demi asas legalitas (karena sang mantan pastor itu adalah ahli hukum gereja). Sebab, dia tidak bisa menikah secara Katolik sebelum proses pengawamannya diterima Vatikan. Untuk yang terakhir ini bukan perkara mudah. Butuh waktu panjang untuk mendapat persetujuan dari Vatikan.
Persoalan yang lebih berat dan yang saya duga menjadi dasar kemarahan anggota grup BBM dan mailing list tadi adalah apakah dia menjadi mualaf, sebelum melangsungkan pernikahan secara muslim? Ini juga belum ada jawaban yang pasti. Informasi terkait masalah ini masih simpang siur. Kemungkinan kemarahan orang menyeruak karena menduga bahwa sang mantan pastor sudah mualaf alias pindah keyakinan dari Katolik menjadi Islam. Bahkan khabar lebih serem mengatakan bahwa dia akan menjadi da'i (pendakwa) karena sakit hati dengan gereja dan tarekatnya. Dia akan melakukan aksi balas dendam. Tetapi informasi ini juga masih sumir.
Ada pula informasi, berdasarkan sumber terpercaya salah satu anggota mailing list tadi, bahwa sang mantan pastor tidak meninggalkan imannya alias tetap menjadi seorang Katolik, meski sudah menikah secara Islam. Tetapi apakah bisa melangsungkan pernikahan secara Islam, tanpa menjadi mualaf terlebih dahulu? Nah, ini yang belum saya paham.
Jadi, dari cerita tadi, hanya satu hal yang pasti jelas yaitu bahwa sang pastor tadi meninggalkan imamat lalu menikah secara Islami. Yang lain-lainnya yaitu apakah dia mualaf atau tetap menganut Katolik, tidak jelas. Hanya sang mantan pastor itu dan Tuhan yang tahu persis. (Alex Madji)
Foto: Ilustrasi diambil dari Mbah Google
Kamis, 15 Maret 2012
Pindah Agama

Ini berita lama. Tetapi saya ingin tampilkan di blog ini yaitu bahwa mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair pindah dari Anglikan ke Katolik beberapa saat setelah berhenti dari PM Inggris. Pada saat yang sama ada berita dari Papua bahwa ada warga biasa suku Asmat oleh sejumlah media di Jakarta disebut sebagai kepala suku besar Asmat sudah pindah dari Katolik ke Islam. Pemberitaan itu dibantah oleh Uskup Agats, Mgr Aloysius Murwito, OFM.
Sinansius Kayimter yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi Umar Abdullah Kayimter, kata Keuskupan Agats, adalah warga biasa yang lahir di Per tanggal 13 Desember 1962 dan dibaptis dalam Gereja Katolik pada tanggal 31 Januari 1963 di Per oleh Pastor Miller, OSC. Sebagai saksi pembaptisan waktu itu adalah bapak Mikael Apakci. Data kelahiran dan baptisan ini tercatat dalam buku Baptis Paroki Ewer No. LB. IV. 5988, tahun 1963.
Perihal Blair pindah ke Katolik, diceritakan bahwa sebenarnya ketertarikan menjadi Katolik sudah lama. Bahkan selama menjadi PM Inggris, dia sering mengikuti misa di Gereja Katolik. Tetapi selama menjadi PM, dia haruslah seorang Anglikan.
Blair mengaku bahwa perpindahan itu dipengaruhi oleh sang istri, Cherie Blair yang adalah seorang penganut Katolik. Anak-anak mantan Ketua Partai Buruh Inggris itu juga memilih menjadi Katolik diarpada Anglikan. “Ketika saya menjalani tahap persiapan menjadi seorang Katolik, saya merasa pulang ke rumah sendiri. Hati saya ada di sini (Katolik) dan saya pun milik Katolik,” ujarnya.
“Sejujurnya, semua ini berawal dari istri saya. Saya mulai mengikuti misa bersama. Kami harus memilih apakah ke Geraja Anglikan atau Katolik. Dan Katolik selalu menang. Sudah lama saya mengikuti misa. Sangat sulit menemukan kata-kata yang tepat. Saya merasa ini tepat untuk saya. Ada sesuatu, bukan saja mengenai doktrin gereja tetapi tentang Gereja Katolik yang universal,” lanjutnya.
Tetapi masih ada cerita lain dari keluarga Blair. Adik iparnya, presenter dan wartawan Lauren Booth, yaitu adik dari Cherie Blair, pindah ke Islam. Keputusannya itu membuatnya dikecam di seantero Inggris.
Dia memutuskan menjadi seorang muslim setelah mengunjungi Masjid Fatima al-Masumeh di Kota Qom di Iran. “Hari itu, Selasa malam. Ketika saya duduk, saya merasakan sebuah pengalaman spiritual,” ceritanya kepada The Mail.
“Sekarang saya tidak makan babi dan membaca Al Quran setiap hari. Sekarang sudah halaman 60. Saya juga sudah tidak minum alcohol. Sudah 45 hari. Ini periode terpanjang (tidak minum alcohol) selama 25 tahun,” imbuhnya.
Tetapi menurut Blogger Andrew Brown, pernyataan Luren Booth ini politis dan merupakan bentuk penolakan terhadap masyarakat tertentu. Sebelum membuat pernyataan itu di publik, Booth dan suaminya baru saja mengalami kecelakaan motor yang membuatnya harus koma. Mereka yang tadinya tinggal di Prancis terpaksa kembali ke Inggris untuk perawatan.
Menurut Andrew Brown, menjadi seorang muslim di Inggris berbeda sekali dengan menjadi muslim di Indonesia. Apalagi di Argentina. Ini tidak terkait sama sekali dengan doktrin. Disraeli tidak akan pernah menjadi perdana menteri bila tidak mau pindah dari Yudaisme ke Kristen. Begitupun Margaret Thatcher harus pindah dari Kristen Metodis ke Anglikan untuk menjadi Perdana Menteri Inggris.
Dengan demikian, pernyataan Luaren Booth adalah sangat politis karena dia bekerja di Iran dan Timur Tengah. Sebab, kata sang Blogger, sangat tidak mungkin bagi Booth yang baru masuk sudah membaca Al Quran sampai halaman 60. Dia khawatir tiga bulan kemudian dia masih juga di halaman 60.
Nah, yang mau saya katakan adalah bahwa tidak terlalu penting apa agama seseorang. Yang lebih penting adalah perbuatan baik bagi orang lain. Percuma orang mengaku beragama kalau perbuatannya tidak lebih baik atau bahkan lebih buruk dari seorang ateis. Jadi, mari kita menghayati agama kita masing-masing dengan tetap berbuat baik kepada sesama, apa pun agamanya. Dan yang lebih penting lagi, perbuatan baik itu bukan bertujuan politis, tetapi tulus dan murni dari hati terdalam.
Langganan:
Postingan (Atom)

