Maharani Suciyono. Dia mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Moestopo Jakarta. Namanya tiba-tiba menjadi tenar setelah tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima uang Rp 20 juta dari Ahmad Fathanah di Hotel Le Meridian Jakarta.
Orang yang disebut terakhir ini kemudian ditetapkan sebagai tersangka dan kemudian jadi terdakwa dalam kasus impor daging sapi yang melibatkan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq dan juga sudah jadi terdakwa. Kasus ini menjadi semacam bom bunuh diri untuk PKS.
Semula, Maharani menyebut dana itu hanya sebagai hadiah. Tetapi tidak disebutkan hadiah dalam rangka apa atau untuk apa. Kemudian baru diakui bahwa dana itu adalah pembayaran atas jasa “pemakaian” tubuh Maharani oleh Fathanah.
Benarkah oleh Fathanah? Ah, masalah ini tidak diusut lebih lanjut oleh KPK. Tetapi cerita-cerita di belakang layar menyebutkan bahwa Maharani "dipakai" oleh Luthfi. Bukan Fathanah yang merupakan kawan karib Luthfi Hasan Ishaaq. Dia hanya bertugas membayar. Bahkan gosip yang beredar ketika itu menyebutkan bahwa Luthfi kedapatan sedang berduaan dengan Maharani dikamar. Rumor-rumor ini sulit diverifikasi dan pasti dibantah kebenarannya.
Kamis, 20 Juni 2013, saya coba main ke universitas yang terletak di kawasan Hang Lekir Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tersebut. Intensinya, mendaftar adik saya yang baru tamat SMA untuk kuliah di sana. Suasana kampusnya ramai. Gerombolan mahasiswa sedang duduk-duduk di sejumlah warung tenda di sepanjang jalan di depan kampus tersebut.
Saya masuk ke ruang informasi yang tidak jauh dari gerbang utama. Sebuah ruang kecil di pojok sebelah kanan. Di situ banyak calon mahasiswa yang mengambil hasil tes masuk periode Juni 2013. Hanya saya dan adik saya yang mendaftar untuk periode Juli 2013 atau periode terakhir.
Yang melayani di sana dua orang. Seorang pria paruh baya. Berkumis dan sedikit botak. Saat kami mendaftar, dia sedang mencicip sate sebagai menu makan siangnya. Satu lagi perempuan berjilbab yang masih muda dan sedikit latah. Menurut keduanya, fakultas komunikasi universitas paling banyak diminati. Tetapi bukan karena faktor Maharani Suciyono.
Selesai proses mendaftar, saya coba iseng melempar pertanyaan soal nasib Maharani di perguruan tinggi swasta ini. Apakah dia masih kuliah di situ. Dan jawaban keduanya seragam. Perempuan yang bikin heboh itu sudah dinyatakan keluar dari kampus tersebut. Hanya tidak dijelaskan panjang lebar apakah di-drop out alias DO atau bagaimana karena mereka tidak berwenang menjelaskan kasus tersebut.
Lalu pindah kemana Maharani. Walahualam. Apakah masih kuliah atau berhenti sekolah? Juga tidak ada informasinya. Ah, mungkin dia masih fokus menghadapi pemeriksaan-pemeriksaan di KPK seperti juga Fathanah dan Luthfi Hasan Ishaaq yang sedang fokus menghadapi kasusnya di KPK. Tetapi sayang bahwa tindakan kedua orang ini dan pilihan Maharani sendiri sudah merusak studinya. (Alex Madji)
Jumat, 21 Juni 2013
Jumat, 14 Juni 2013
El Shaarawy Pakai Kalung Seperti Rosario
Saya pernah menulis tentang agama striker AC Milan, Stephan El Shaarawy, di blog ini dengan judul "Apa Agama Stephan El Shaarawy?" Sejak diposting pada 24 Oktober 2012, artikel ini sudah dilihat 14.657 kali atau artikel terpopuler nomor dua setelah artikel berjudul "Ya, Eden Hazard Muslim" yang telah dilihat 18.843 kali.
Artikel ini bukan hanya dilihat belasan ribu kali. Tetapi yang komentar pun tidak sedikit. 18 orang. Kebanyakan pakai anonim. Dari komentar-komentar itu dapat disimpulkan bahwa belum ada informasi yang pasti dari mulut sang pemain tentang apa agama yang dianutnya. Ini biasa. Karena di dunia sana, agama itu urusan privat. Bukan seperti di Indonesia yang menjadi domain publik.
Nah, pada artikel ini, saya mencoba memberikan satu signal kuat tentang agama El Shaarawy. Begini, pada Jumat, 14 Juni 2013, saya menemukan foto-foto para pemain Tim Nasional Italia yang sedang berada di Kota Rio de Jeneiro, Brasil, dalam rangka mengikuti Piala Konfederasi yang berlangsung pada 15-30 Juni 2013 di kantor berita Associated Press (AP).
Di sela-sela kesibukan mereka yang padat, skuat “Gli Azzuri” ini berwisata ke Patung Kristus Penebus atau bahasa setempat, "Cristo Redentor" yang berdiri kokoh di puncak Gunung Carcavado di belakang Kota Rio de Jeneiro. Stephan El Shaarawy narsis di atas gunung itu bersama rekan-rekannya, terutama teman satu timnya di AC Milan, Mario Balotelli.
Sekedar catatan, saya juga pernah sampai di atas puncak gunung ini dan berfoto ria di bawah patung yang tinggi menjulang, menirukan gaya Yesus pada patung tersebut. Dari puncak gunung itu, seluruh pemandangan Kota Rio de Jeneiro terpampang indah. Seluruh lekukkannya terlihat. Mulai dari laut lepas, pantai Copacabana yang garis pantainya begitu luas, dan stadion kebanggaan masyarakat kota itu dan Brasil umumnya, Stadion Maracana.
Naik ke puncak gunung ini bisa menggunakan tram. Bisa juga pakai mobil, tetapi harus meliuk-liuk di sekujur tubuh gunung ini. Menjelang puncak, kita turun dari tram. Lalu dua kali naik eskalator, sebelum naik lift ke kaki patung itu. Di bawah kaki patung, ada sebuah kapel kecil, tempat doa para pengunjung dan peziarah. Saya masih ingat, ada seorang pemimpin redaksi sebuah televisi, menangis sesegukan sambil berlutut di dalam kapel ini.
Kembali ke cerita tentang El Shaarawy. Pada foto-foto itu, skuat Timnas Italia mengenakan setelan jaket warna biru sangat pekat plus biru langit di bagian bawah ketiak kiri dan kanan, secuil warna putih pada lengan kiri, serta garis-garis putih pada bagian dada kiri. Dipadu dengan celana training serupa. Aksesoris tambahan yang dipakai pemain keturunan Mesir ini adalah kaca mata hitam dengan beberapa gelang di tangan kiri dan kanan serta cincin di jari tengah kanannya. Dia lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar menirukan gaya Yesus yang merentangkan tangan-Nya melindungi Kota Rio de Jeneiro.
Satu lagi aksesoris yang dipakai El Shaarawy dan menjadi sangat penting untuk konteks artikel ini seperti tampak pada foto tersebut adalah kalung yang menggantung di leher dan disampir di luar jaketnya. Kalung itu menyerupai rosario. Hanya saja, pada salah satu foto, salibnya agak tidak jelas terlihat karena agak masuk ke dalam.
Tetapi pada foto lain, dia narsis bersama Mario Balotelli. Pada foto ini, El Shaarawy melepas kaca mata hitamnya. Kalung seperti rosario tadi malah lebih tertutup karena dimasukkan di dalam jaket. Sedangkan Balotelli yang mengenakan topi bak topi yang dipakai Fidel Castro di Kuba plus kaca mata hitam mengikat jaketnya di pinggang. Dia menggantung kalung rosario di luar kausnya. Sangat jelas dan tak terbantahkan. Masih ada kalung emas di dalam kaus mantan pemain Manchester City itu.
Bila melihat hubungan dekat keduanya, sejak dari AC Milan hingga di level Timnas Italia, maka kemungkinan besar dua sahabat karib ini, seragam. Artinya, apa yang tersampir di leher El Shaarawy itu juga rosario seperti yang dipakai Mario Balotelli, karib paling dekatnya. (Alex Madji)
Foto diambil dari globoesporte.globo.com
Artikel ini bukan hanya dilihat belasan ribu kali. Tetapi yang komentar pun tidak sedikit. 18 orang. Kebanyakan pakai anonim. Dari komentar-komentar itu dapat disimpulkan bahwa belum ada informasi yang pasti dari mulut sang pemain tentang apa agama yang dianutnya. Ini biasa. Karena di dunia sana, agama itu urusan privat. Bukan seperti di Indonesia yang menjadi domain publik.
Nah, pada artikel ini, saya mencoba memberikan satu signal kuat tentang agama El Shaarawy. Begini, pada Jumat, 14 Juni 2013, saya menemukan foto-foto para pemain Tim Nasional Italia yang sedang berada di Kota Rio de Jeneiro, Brasil, dalam rangka mengikuti Piala Konfederasi yang berlangsung pada 15-30 Juni 2013 di kantor berita Associated Press (AP).
Di sela-sela kesibukan mereka yang padat, skuat “Gli Azzuri” ini berwisata ke Patung Kristus Penebus atau bahasa setempat, "Cristo Redentor" yang berdiri kokoh di puncak Gunung Carcavado di belakang Kota Rio de Jeneiro. Stephan El Shaarawy narsis di atas gunung itu bersama rekan-rekannya, terutama teman satu timnya di AC Milan, Mario Balotelli.
Sekedar catatan, saya juga pernah sampai di atas puncak gunung ini dan berfoto ria di bawah patung yang tinggi menjulang, menirukan gaya Yesus pada patung tersebut. Dari puncak gunung itu, seluruh pemandangan Kota Rio de Jeneiro terpampang indah. Seluruh lekukkannya terlihat. Mulai dari laut lepas, pantai Copacabana yang garis pantainya begitu luas, dan stadion kebanggaan masyarakat kota itu dan Brasil umumnya, Stadion Maracana.
Naik ke puncak gunung ini bisa menggunakan tram. Bisa juga pakai mobil, tetapi harus meliuk-liuk di sekujur tubuh gunung ini. Menjelang puncak, kita turun dari tram. Lalu dua kali naik eskalator, sebelum naik lift ke kaki patung itu. Di bawah kaki patung, ada sebuah kapel kecil, tempat doa para pengunjung dan peziarah. Saya masih ingat, ada seorang pemimpin redaksi sebuah televisi, menangis sesegukan sambil berlutut di dalam kapel ini.
Kembali ke cerita tentang El Shaarawy. Pada foto-foto itu, skuat Timnas Italia mengenakan setelan jaket warna biru sangat pekat plus biru langit di bagian bawah ketiak kiri dan kanan, secuil warna putih pada lengan kiri, serta garis-garis putih pada bagian dada kiri. Dipadu dengan celana training serupa. Aksesoris tambahan yang dipakai pemain keturunan Mesir ini adalah kaca mata hitam dengan beberapa gelang di tangan kiri dan kanan serta cincin di jari tengah kanannya. Dia lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar menirukan gaya Yesus yang merentangkan tangan-Nya melindungi Kota Rio de Jeneiro.
Satu lagi aksesoris yang dipakai El Shaarawy dan menjadi sangat penting untuk konteks artikel ini seperti tampak pada foto tersebut adalah kalung yang menggantung di leher dan disampir di luar jaketnya. Kalung itu menyerupai rosario. Hanya saja, pada salah satu foto, salibnya agak tidak jelas terlihat karena agak masuk ke dalam.
Tetapi pada foto lain, dia narsis bersama Mario Balotelli. Pada foto ini, El Shaarawy melepas kaca mata hitamnya. Kalung seperti rosario tadi malah lebih tertutup karena dimasukkan di dalam jaket. Sedangkan Balotelli yang mengenakan topi bak topi yang dipakai Fidel Castro di Kuba plus kaca mata hitam mengikat jaketnya di pinggang. Dia menggantung kalung rosario di luar kausnya. Sangat jelas dan tak terbantahkan. Masih ada kalung emas di dalam kaus mantan pemain Manchester City itu.
Bila melihat hubungan dekat keduanya, sejak dari AC Milan hingga di level Timnas Italia, maka kemungkinan besar dua sahabat karib ini, seragam. Artinya, apa yang tersampir di leher El Shaarawy itu juga rosario seperti yang dipakai Mario Balotelli, karib paling dekatnya. (Alex Madji)
Foto diambil dari globoesporte.globo.com
Senin, 10 Juni 2013
Menanti Paket
Minggu, 2 Juni 2013 hari paling sial untuk saya. Saat itu, saya berada di lokasi off road, olahraga mobil panjat tebing dan turun ke jurang, Bukit Tembalang, Semarang. Di tengah jubelan penonton, saya coba mengarahkan kamera Canon untuk mendapat gambar dengan aksi menawan. Saking seriusnya, tanpa sadar, dalam waktu sekejap dompet saya di saku bagian belakang raib.Beberapa saat berselang, saya mundur. Ke kemah panitia. Di sana, terasa ada sesuatu yang kurang. Tangan kanan saya lalu meraba ke saku kanan belakang. Tak ditemukan sembulan dempet di sana. Wah, saya kemalingan, kata saya dalam hati.
Tak lama, pikiran saya lalu berubah. Jangan-jangan ketinggalan di Hotel Best Western, tempat kami menginap. Saya lalu menelepon teman sekamar yang tadi saya titipkan kunci mobil sewaan yang disediakan penyelenggara kejuaraan nasional itu, Genta Auto Sport.
Setelah kunci di tangan, saya tancap gas. Mengendalikan kemudi Xenia yang baru berusia beberapa hari menuju hotel. Perjalanan ke sana ditempuh selama 30 menit. Saya langsung naik ke kamar 1108. Dalam keadaan bingung, saya mencoba membangkitkan harapan bahwa dompet itu tertinggal di kamar hotel.
Sesampai di sana, kamar sudah rapi. Saya coba lihat di atas meja, dompet warna hitam, hadiah ulang tahun dari istriku, tak ada. Kucoba cari di samping kiri kanan meja. Kalau-kalau terjatuh. Tak ditemukan juga.
Saya keluar kamar. Di sana seorang petugas hotel sedang memantau anak buahnya sedang membereskan kamar di depan. Kutanya, apakah menemukan dompet di kamar saya. Kebetulan di situ masih ada room boy, yang membersihkan kamar 1108. Pemuda jangkung itu mengaku tidak menemukan dompet di kamar tersebut.
Kemudian saya menyimpulkan dan memastikan dompet itu hilang. Lalu, saya kembali ke lokasi off road. Sesampai di sana, saya titip secarik kertas kepada MC yang tidak pernah berhenti berbicara hari itu menyemarakkan lomba balap. Kemudian dibacakan. Tetapi hingga sore, tak ada juga yang mengembalikan dompet tersebut, seperti dompet-dompet orang lain yang hilang di tempat yang sama, tetapi dikembalikan. Pada saat bersamaan saya menelepon BCA dan CIMB Niaga untuk memblokir ATM dua bank tersebut.
Sebenarnya dalam dompet itu tidak banyak uang. Cuma Rp 100.000. Tetapi di situ ada STNK motor, dua buah SIM, dan dua ATM. ATM sudah berhasil diblokir. Tetapi SIM dan STNK motor? Itulah yang membuat saya galau.
Bagai sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sore harinya, batrei HP jebol dan blas tidak bisa digunakan lagi. Jadilah sore itu hingga Senin malam hidup jauh dari alat komunikasi. Bak tinggal di sebuah pedalaman yang nun jauh di sana. Orang rumah dari Jakarta tidak bisa hubungi baik lewat BBM, SMS, maupun telepon.
Minggu malam, saya berkomunikasi dengan istri dan anak-anak via email. Kemudian istri menelepon ke hotel dan bisa berbicara dengan anak-anak. Rasa kangen terobati, meski baru pisah dua hari.
Senin, 3 Juni 2013 pagi, saya kembali ke Jakarta menggunakan Garuda Indonesia. Saya sedikit lebih cepat dari rombongan lain yang baru pulang Senin sore menggunakan Air Asia. Setiba di Jakarta, sore hari, saya bersama istri dan anak-anak ke Living World, mal di Alam Sutera, Serpong, Tangerang dengan intensi mencari batrei BB. Tetapi di kios-kios HP di sana tidak menjual batrei untuk BB yang saya punyai. Akhirnya diputuskan beli BB baru agar bisa komunikasi, terutama dengan kantor, lebih cepat.
Dengan BB baru itu, tiba-tiba ada sebuah pesan singkat masuk pada Senin malam. Bunyinya, "Pagi...dengan Pak Alex Madji?" Tetapi saya tidak langsung menjawab sms tersebut. Sebab, saya kira itu sms dari driver yang kemarinnya janji mengantar saya ke Bandar Udara Ahmad Yani Semarang.
Selasa, 4 Juni 2013. Sepulang kantor, di meja makan sebelum masuk kamar mandi, saya coba buka lagi BB. Masih ada sms tadi. Saya coba iseng membalas. "Malam bos, maaf baru balas. HP baru jadi. Iya, saya Alex Madji. Ada yang bisa dibantu," bunyi pesan singkat saya.
Dari seberang disahut, "Kehilangan dompet Pak?" Seketika itu juga saya kaget dan dengan cepat menjawab, "Iya." "Kok tahu," tanya saya lebih lanjut. "Begini pak, saya menemukan dompet di lokasi off road Minggu malam. Dompet itu ada dalam sebuah plastik kantong hitam. Saya lalu buka, duitnya sudah tidak ada, tapi saya lihat ada STNK motor yang masih baru, SIM dan ATM," jawabnya.
Komunikasi kami dilanjutkan dengan telepon. Pria itu mengaku sms dan telepon pada Senin pagi, tapi tidak masuk. Minggu malam saat dompet ditemukan, tidak ada lagi panitia di lokasi lomba. Dia bingung mau diantar ke mana dompet tersebut.
Selasa malam itu pria yang mengaku bernama Rosi itu berjanji akan mengirim dompet tersebut keesokan harinya. Tetapi khawatir ini modus perdagangan narkoba, atas usul sang istri, maka dikirimlah alamat kantor istri. Saya janjikan bahwa biaya pengiriman akan saya tanggung dan ditransfer begitu barangnya tiba.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekitar jam 12.30, saya sms Rosi lagi. Menanyakan perihal pengiriman dompet itu. Dengan sigap, tetapi dengan nomor yang baru lagi, dia mengaku sudah kirim menggunakan jasa JNE dengan biaya pengiriman Rp 14.000.
Senin, 10 Juni 2013, pagi-pagi istri mengirim BBM bahwa paket dari semarang berisi STNK motor, dua SIM dan ATM sudah tiba. Sejenak saya berpikir, masih ada orang baik di muka bumi ini.
Peristiwa ini mengingatkan saya akan cerita driver yang mengantar saya ke Bandara Ahmad Yani Semarang dua pekan lalu itu. Dia mengaku pernah mengalami nasib serupa. Dia kemudian pasrah dengan terus bersedekah sambil berharap suatu saat ada orang yang mengembalikan dompetnya yang berisi SIM sebagai modal untuk menghidupi keluarganya. Dan benar, satu bulan berselang, ada orang yang menelepon dia dan mengabarkan bahwa dompetnya ditemukan di sebuah masjid di wilayah Jawa Barat.
Saat saya turun di teriminal keberangkatan, saya memang kasih tips Rp 20.000 kepada si driver baik hati itu. Dia sempat menolak keras. Tetapi saya tetap memaksa. Terakhir, dia bilang, semoga dompet Pak Alex cepat ditemukan. Dan benar. Dompet itu sudah ditemukan dan paket berisi STNK motor dan SIM itu sudah sampai. Terima kasih Pak Rosi, terima kasih pak driver atas doa dan kekuatannya. Alex Madji)
Senin, 27 Mei 2013
World Statesman Award untuk SBY
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan menerima World Statesman Award atau Penghargaan Negarawan Dunia di Amerika Serikat. Pemberinya, the Appeal of Conscience Foundation (ACF), sebuah yayasan milik seorang rabi Yahudi Amerika Serikat, Arthur Schneier. SBY dinilai berperan besar dalam menjaga dan menciptakan toleransi kehidupan beragama di Indonesia. Karena itu dia pantas menerimanya.Tetapi Guru Besar Emeritus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta Franz Magnis Suseno mengirim surat protes secara terbuka kepada yayasan tersebut. Menurut Magnis, pemberian penghargaan kepada SBY sangat memalukan dan akan memalukan lembaga itu sendiri. Magnis protes karena lembaga itu tidak menanyakan rakyat Indonesia, sebelum mereka menjatuhkan pilihan.
Di mata Magnis, SBY tidak berbuat apa-apa terhadap begitu banyak kasus intoleransi beragama di Indonesia. Ketika banyak gereja ditutup dan dirobohkan, SBY bisu. Ketika jemaat Ahmadiyah dikejar-kejar dan bahkan dibunuh, SBY tak peduli. Saat kelompok syiah dianiaya, SBY kemana? Entalah. Intinya, SBY tidak berbuat apa-apa terhadap begitu banyak kejadian intoleransi di Indonesia, yang menelan korban jiwa sekalipun.
Padahal filosofi dan yang menjadi prinsip dasar yayasan tersebut adalah kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia (HAM). Mantra organisasi ini adalah "sebuah kejahatan atas nama agama adalah kejahatan melawan agama yang terbesar".
Tetapi kenapa penghargaan itu justru diberikan kepada kepala negara Indonesia yang kekerasan atas nama agamanya sangat marak? Parahnya lagi diberikan kepada orang yang tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan pelanggaran tersebut? Lalu kemana kebebasan, demokrasi, dan HAM yang menjadi prinsip dasar lembaga itu?
Itulah dasar gugatan Magnis yang diikuti banyak orang. Gelombang penolakan di dunia maya sangat dahsyat. Aksi penolakan pemberian penghargaan ini kepada SBY dilakukan dengan mengumpulkan tanda tangan melalui www.change.org. Di berbagai forum diskusi, terutama di dunia maya, topik tersebut marak didiskusikan. Mayoritas mendukung sikap Rm Magnis.
Satu dua orang mendukung SBY menerima penghargaan itu, termasuk para pembantu SBY di Istana seperti para juru bicaranya dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam. Bahkan, nama yang terakhir ini cenderung melakukan kekerasan verbal dan berbau SARA terhadap Rm Magnis melalui akun twitter-nya.
Di sini, penghargaan itu dianggap "besar" karena tarafnya internasional. Tetapi media-media di Amerika Serikat menilainya sebagai yang biasa saja. Malah, mereka sinis karena diberikan kepada seorang pemimpin negara yang kebebasan beragamanya masih terancam.
Karena itu, patut diduga penghargaan ini memiliki motif dan tujuan lain. Sebab, bagaimana mungkin seorang rabi Yahudi memberikan penghargaan kepada seorang pemimpin sebuah negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel? Sejumlah isu menyebutkan bahwa penghargaan ini diberikan untuk memuluskan langkah dan rencana membangun hubungan diplomatik Indonesia-Israel.
Bila ini yang terjadi, kemana kelompok-kelompok yang selama ini anti Israel di negeri ini? Ataukah mereka sudah melunak dan siap membangun hubungan diplomatik dengan bangsa Yahudi itu seperti yang diinginkan pemimpinnya? Yang pasti Magnis tidak memprotes karena masalah politik ini, tetapi murni karena tidak ada kebebasan kehidupan beragama di tanah ini. (Alex Madji)
Rabu, 22 Mei 2013
Satu Demi Satu Perempuan Luthfi Hasan Ishaaq Muncul
Masalah perempuan dalam skandal korupsi impor daging sapi akhirnya menyentuh eks Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq. Semua media, baik cetak, elektronik, maupun online memberitakan bahwa ada satu anak baru gede (ABG) berusia 17 tahun bernama Darin Mumtazah tersangkut kasus ini. Bahkan perempuan yang masih berstatus siswi pada sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Jakarta Timur itu diduga dinikahi secara siri oleh Luthfi Hasan Ishaaq.Dalam artikel sebelumnya, saya menulis tentang perempuan-perempuan cantik di sekeliling Ahmad Fathanah, karib Luthfi Hasan Ishaaq. Perempuan-perempuan cantik jelita nan wangi seperti Maharani Suciyono, Ayu Azhari, Vitalia Sesya, Tri Kurnia Puspita diberi hadiah mobil, perhiasan mahal dan uang dalam jumlah besar oleh Fathanah.
Satu pertanyaan yang mengganjal. Apakah wanita-wanita ini hanya "dipakai" Fathanah. Ataukah Fathanah hanya menjadi perantara dan cewek-cewek cantik ini juga disodorkan ke Luthi Hasan Ishaaq yang kerap dipanggil Ustadz Besar dan Fathanah dipanggil Ustadz Kecil?
Dengan munculnya nama siswi SMK berdarah Arab Darin Mumtazah, kesimpulan sementara saya adalah bahwa tidak mungkin perempuan-perempuan cantik di atas tadi hanya berhenti di Fathanah. Sang Ustadz Besar juga kebagian "mencium wangi" mereka. Apalagi, marak diberitakan bahwa Fathanah lebih berperan sebagai perantara Luthfi Hasan Ishaaq dalam berbagai kasus, termasuk kasus korupsi yang sedang melilit keduanya.
Saya sebenarnya ingin menyentil hubungan Luthfi Hasan Ishaaq dengan Darin Mumtazah. Bila benar seperti diberitakan media bahwa gadis ini dinikahi secara siri oleh Luthi Hasan Ishaaq, maka patut diduga Luthfi Hasan Ishaaq mengalami kerusakan akhlak.
Mungkin memang dia tidak melanggar UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Sebab pada pasal 7 ayat (1) UU tersebut dikatakan, "Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita mencapai 16 (enam belas) tahun." Ayat 2-nya berbunyi, "Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita."
Artinya, bila sekarang Darin Mumtazah berumur 17 tahun, maka, menurut UU itu, Luthfi Hasan Ishaaq seharusnya menikahi secara siri anak itu tahun lalu saat dia berumur 16 tahun. Tetapi fakta ini memang harus ditelisik lagi. Apakah benar mereka menikah tahun lalu atau bahkan sudah dari tahun sebelumnya? Bila dari tahun sebelumnya, berarti Luthfi juga melanggar UU Perkawinan tersebut.
Terlepas dari itu, secara akhlak Luthfi Hasan Ishaaq kemungkinan mengalami kerusakan. Bagaimana mungkin sebagai seorang pemimpin partai dia bisa "membunuh" masa depan seorang ABG yang lagi asyik dengan dunianya. Dengan dinikahi secara dini, anak ini tidak bisa lagi mewujudkan mimpi dan meraih masa depannya yang lebih baik. Dia sudah masuk dalam kerangkeng Luthfi Hasan Ishaaq.
Keputusan untuk menikah secara siri, kalau itu benar, juga patut dipertanyakan kevalidannya. Sebab pada umur belasan tahun, seseorang belum bisa mengambil keputusan secara bebas dan bertanggung jawab. Secara kepribadian, anak seusia itu sedang mencari jati diri dan masih labil. Karena itu pula, keputusan Darin Mumtazah untuk dinikahi secara siri kemungkinan karena keterpaksaan.
Tetapi terlepas dari itu, yang pasti satu demi satu perempuan-perempuan di sekitar Luthfi Hasan Ishaq mulai terkuak. Tunggu saja penyelidikan lebih lanjut dari KPK soal hubungannya dengan cewek-cewek cantik yang "dipelihara" Fathanah atau mungkin ada perempuan baru yang masuk dalam perangkap Fathanah dan Luthif Hasan Ishaaq dan sama-sama menikmati hasil bisnis daging itu.
Darin Mumtazah (Foto diambil dari Detik.com)
Kamis, 16 Mei 2013
Wayne Rooney Penganut Katolik yang Taat
Wayne Rooney adalah seorang penganut Katolik Roma yang taat. Meskipun, dia tidak selalu menunjukkan kekatolikannya itu dengan membuat tanda salib saat masuk dan ke luar lapangan atau setiap kali setelah mencetak gol atau saat nyaris mencetak gol seperti yang dilakukan oleh para pemain dari Amerika Latin.Tetapi Rooney adalah penganut Katolik sejak kecil. Di akte kelahirannya tercantum agamanya Katolik Roma. Ya, dia dilahirkan dari keluarga Katolik, meskipun orang tuanya tidak selalu hadir misa setiap hari minggu di gereja. Tetapi ketika dia masih kecil, rumah mereka sering dikunjungi pastor, biasanya untuk mengumpulkan kolekte.
Dia pun disekolahkan di sekolah-sekolah Katolik. Pendidikan awalnya ditempuh di Sekolah Katolik “Our Lady” dan sekolah dasar dijalani di Sekolah Katolik “St Wsithin” yang hanya berjarak 10 menit jalan kaki dari rumahnya di Kota Liverpool, Inggris. Iman Katoliknya makin bertumbuh saat menempuh pendidikan di sekolah. Saat sekolah, dia selalu semangat kalau berdiskusi tentang Yesus. Setelah menjadi dewasa, terutama setelah menikah dengan Coleen, Rooney menjadi semakin religus. Dia berdoa setiap malam dan setiap kali sebelum pertandingan.
"Saya percaya pada Yesus tentu saja. Saya sering melukisnya saat di sekolah dan sering berdoa hampir setiap malam. Biasanya, saya juga berdoa untuk kemenangan Everton pada Sabtu," kata Rooney seperti dikutip “The Independent”.
Sumber kekatolikannya semakin menemukan akarnya dalam pencariannya akan pembebasan setelah peristiwa Piala Dunia di Gelsenkirchen pada 2006, ketika dia mendapat kartu merah karena diprovokasi oleh bintang Portugal Cristiano Ronaldo, saat Inggris bertemu Portugal.
Peran istrinya, Coleen, sangat besar di sini. Beda dengan keluarga Rooney, Coleen berasal dari keluarga Katolik yang sangat taat. Ayahnya, Tony, seorang penganut Katolik yang taat, rajin dan tekun berdoa. Ketaatan Coleen menghayati iman Katolik juga menular kepada Rooney.
Tetapi rupanya tidak banyak yang mengetahui, termasuk Alastair Campbell, bahwa Rooney adalah seorang Katolik. Maklum, Inggris adalah negara dengan mayoritas Anglikan. Maka ketika dia mengenakan kalung rosario terutama saat latihan, ada saja orang yang mempertanyakan agamanya., termasuk si Campbell tadi. Tetapi Rooney menegaskan bahwa dia adalah seorang Katolik.
"Itulah agama saya. Saya sudah pakai ini (kalung rosario) selama bertahun-tahun, dan Anda kan tidak selalu nonton di tempat latihan. Saya tidak mengenakan kalung rosario itu saat pertandingan," kata Rooney singkat.
Tetapi rupanya banyak pejabat di Football Association atau FA yang tidak suka kalau Rooney terlalu menonjolkan agamanya saat membela “The Three Lions”. Karena itu dia diminta oleh para pejabat FA untuk tidak menonjolkan simbol-simbol agamanya. Kadang hal seperti ini menjadi sumber konflik antara Rooney dengan para pejabat sepakbola itu. Rooney memang tidak terlalu menunjukkan agama yang dianutnya itu di depan umum. Tetapi setiap kali sebelum pertandingan, dia masuk ke sebuah ruangan dan berdoa di sana untuk keselamatan para pemain dan semua saja yang berada di lapangan baik saat membela klubnya, Manchester United (MU) maupun Timnas Inggris.
Jadi jangan takut tunjukkan identitas agamamu dalam situasi seperti apapun dan jangan takut mengakui agamamu kepada siapa saja. (Alex Madji)
Wayne Rooney mengenakan kalung rosario. (Foto: The Independent)
Rabu, 08 Mei 2013
Perempuan-perempuan Cantik Ahmad Fathanah
Ahmad Fathanah beberapa hari ini bak Don Juan. Seorang pria yang hidupnya dikelilingi para perempuan cantik jelita. Kenyataan ini sangat ironis bila melihat latar belakangnya. Dia adalah anak seorang kiyai kenamaan dan karismatik di Sulewesi Selatan, Kiyai Fadeli Luran.Pendidikannya sejak kecil juga selalu di pesantren sejak di Sulawesi Selatan. Tetapi memang dia dikenal nakal. Bahkan ayahnya tidak segan-segan mengeluarkannya dari Pesantren Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah Makassar milik keluarganya. Kemudian dipindahkan ke pesantren modern Gontor. Meski ditolak, dia tetap diperbolehkan tinggal di pesantren tersebut hanya karena menghormati orang tuanya.
Di sana Fathanah berkenalan dengan Luthfi Hasan Ishaaq dan menjadi teman baik. Keduanya kemudian sama-sama menempuh pendidikan di Timur Tengah hingga akhirnya sama-sama terjerambab dalam skandal korupsi impor daging sapi dan sama-sama tinggal di hotel prodeo.
Beberapa hari ini, KPK mengungkapkan sisi lain kehidupan Fathanah, yaitu sisi "murah hati"-nya. Saking baiknya, dia memberi hadiah mobil, uang dan barang mewah kepada sejumlah perempuan cantik. Sayangnya, hadiah itu diduga hasil pencucian uang korupsi impor daging sapi yang terkait juga dengan teman karibnya, Luthi Hasan Ishaaq. Dan, inilah perempuan-perempuan cantik yang dihadiahi Fathanah:
Pertama, Maharani Suciyono. Dia seorang mahasiswa jurusan Komunikasi Universitas Moestopo yang ditangkap tangan KPK saat sedang bersama Ahmad Fathanah di Hotel Le Meridian dan diberi hadiah uang senilai Rp 20 juta. Gosip yang berada di luar berita main stream dan beredar di dunia maya menyebutkan bahwa perempuan ini sedang tidur dengan Luthfi Hasan Ishaaq saat ditangkap KPK. Tetapi pihak Luthfi pasti membantah gosip-gosip seperti ini dan KPK tidak mengkonfirmasi informasi-informasi tersebut.
Kedua, setelah Maharani hilang, tiba-tiba muncul nama artis seksi Ayu Azhari. Perempuan ini mendapat hadiah Rp 20 juta dan 1.800 dolar Amerika Serikat. Perempuan yang gonta ganti suami ini sudah diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus impor daging sapi.
Tentang Ayu Azhari banyak sekali gosip yang beredar tentang kiprahnya, termasuk cerita teman saya tentang perempuan seksi ini. Tetapi tidak enak saya ceritakan di sini. Karena itu, ketika dikabarkan mendapat hadiah dari Fathanah saya langsung berpikir, tidak mungkin Fathanah memberi tanpa pamrih. Selalu ada pamrih di balik pemberian tersebut.
Ketiga, Vitalia Sesha. Kepada perempuan yang berprofesi sebagai model ini, Fathanah memberikan sebuah mobil Honda Jazz dan arlaji mewah merek Chopard. Perempuan ini adalah foto model untuk majalah pria dewasa. Coba pikirkan, ngapain Fathana memberi hadiah kepada perempuan dengan profesi seperti ini?
Keempat, Tri Kurnia Puspita. Kepada perempuan ini Fathanah memberikan mobil Honda Freed, jam tangan Rolex, dan Gelang Hermes. Puspita mengaku sebagai teman Fathanah. Nah seberapa dekat mereka sehingga sampai diberikan hadiah seperti itu?
Gosipnya masih ada beberapa wanita lain yang mendapat hadiah dari Fathanah. Keempat perempuan itu memang disebut sebagai teman dekat Fathanah. Tetapi apakah mereka juga dekat dengan Luthfi Hasan Ishaaq? Penyidikan KPK belum sampai ke sana. Tetapi agak mustahil kalau perempuan-perempuan cantik jelita nan seksi itu tidak berhubungan dengan LHI. Dan tega nian pula kalau Fathanah tidak memperkenalkan perempuan-perempuan itu kepada karibnya, LHI. Kita tunggu saja penyidikan lebih lanjut dari KPK keterkaitan mereka dengan LHI. (Alex Madji)
Langganan:
Postingan (Atom)

