Rabu, 21 November 2012

Kirimlah Relawan Kemanusiaan ke Jalur Gaza, Bukan Laskar Perang


Israel sedang menggempur dan membombardir Jalur Gaza, wilayah Palestina yang dikuasai faksi Hamas. Tujuan serangn ini untuk melucuti roket yang ditembakkan kelompok militan Hamas ke wilayah Israel. Serangan udara Israel itu sudah memakan banyak korban. Jumlahnya sudah ratusan, sebagian besar rakyat sipil, terutama anak-anak, perempuan dan yang sudah uzur. Peristiwa ini sungguh mencabik-cabik rasa kemanusiaan siapa pun.

Maka tidak heran kalau aksi brutal Israel ini mendapat protes dari seluruh dunia. Masyarakat internasional menaruh simpatik terhadap rakyat Palestina pada umumnya, dan rakyat Jalur Gaza pada khususnya yang menjadi sasaran tembak Israel.

Indonesia tidak mau dan tidak pernah ketinggalan dalam aksi solidaritas terhadap rakyat Palestina. Sebagai contoh, ada berita yang menyebutkan sekitar 300 orang kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah siap diberangkatkan ke Jalur Gaza, jika dibutuhkan. Mereka menggelar aksi di Semarang.

Hanya saja tidak disebut, apa maksud keberangkatan mereka ke sana. Apakah mereka mau berperang melawan Israel bersama rakyat Jalur Gaza? Juga tidak disebut dalam berita itu. "Yang kita persiapkan ya terutama fisik, jadi benar-benar kita ingin rakyat Palestina dibebaskan. Kalau memang dibutuhkan, relawan inisiap," kata Koordinator aksi itu, Amir Damanto seperti dilansir Kompas.com.

Berita lain menyebutkan, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia di Makassar dalam unjuk rasa di kota itu meminta para kepala negara muslim untuk mengirim tentara ke Jalur Gaza guna melawan Israel. "Dengan cara itulah, rakyat di Jalur Gaza bisa diliundungi dan sekaligus serangan yang dilakukan oleh Israel bisa dihentikan," tulisa Kompas.com mengutip orasi dalam unjuk rasa di Makassar itu.

Dua kutipan berita di atas memperlilhatkan bahwa solidaritas kelompok-kelompok tertentu di Indonesia adalah ingin mengangkat senjata bersama rakyat Palestina melawan Israel. Solidaritas seperti ini, menurut saya, sangat tidak dianjurkan dan tidak perlu.

Kenapa? Solidaritas dengan sama-sama mengangkat senjata bukannya menyelesaikan masalah di Jalur Gaza, sebaliknya justru menambah persoalan baru dan bikin masalah yang sudah ribet itu makin pelik karena keterlibatan sukarelawan perang dari Indonesia.

Terlibat dalam perang berarti siap mengorbankan nyawa. Dan, begitu angkat senjata maka kelompok-kelompok dari Indonesia itu bukan tidak mungkin juga menjadi sasaran tembak Israel. Akhirnya korban nyawa justru semakin bertambah. Persoalannya akan makin pelik karena akhirnya masalah menjadi antar negara: Israel dan Indonesia yang selama ini tidak punya hubungan diplomatik. Pada akhirnya Indonesia sebagai negara yang menganut politik luar negeri yang bebas aktif terseret dalam arus konflik yang sudah berusia tua itu.

Yang perlu dilakukan dan digerakkan adalah kelompok-kelompok solidaritas kemanusiaan. Yaitu, tenaga-tenaga sukarelawan yang bersedia datang ke Jalur Gaza untuk membantu para korban perang baik korban tewas, maupun korban luka-luka yang dirawat di rumah-rumah sakit. Karena itu yang perlu dikirim adalah tenaga-tenaga medis, baik dokter maupun para medis.

Ini yang sangat dianjurkan. Mereka adalah pekerja kemanusiaan. Para relawan ini tidak peduli dengan perang. Mereka hanya peduli dan mengabdi pada nilai-nilai kemanusiaan. Meskipun nyawa mereka juga menjadi taruhannya.

Seruan agar negara-negara Islam mengirim tentara guna menghentikan serangan Israel juga tidak tepat. Usulan itu lebih tepat disampaikan ke Perserikatan Bangsa Bangsa atau PBB. PBB yang perlu terus didorong dan didesak untuk mengambil tindakan guna menghentikan serangan Israel. Di sinilah peran Indonesia sebagai negara yang menjadi anggota PBB.

Jadi, hal terpenting yang ingin saya sampaikan adalah solidaritas untuk Palestina sebaiknya lebih menitikberatkan pada tenaga-tenaga sukarelawan kemanusiaan untuk mengurus para korban perang, bukan sukarelawan untuk angkat senjata berperang melawan Israel. (Alex Madji)

Keterangan foto; Seorang bocah korban kegasan serangan Israel. (Foto dari Kompas.com)

Selasa, 20 November 2012

11 Bakal Capres dan Cawapres 2014


Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden (Pilpres) Indonesia tinggal dua tahun lagi. Sejak sekarang, sejumlah nama disebut-sebut sebagai bakal calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) pada pemilu tersebut.

Sebelum artikel ini, saya sudah menulis beberapa artikel tentang tokoh-tokoh yang potensial muncul sebagai capres di blog ini. Yang paling mutahir adalah penyanyi dangdut Rhoma Irama yang ingin menjadi capres pada Pilpres mendatang. Sebelumnya lagi, saya menulis tentang Aburizal Bakrie yang disingkat dengan ARB, sebagai bakal capres yang sudah "mencuri" start kampanye Pilres dengan berbagai media.

Kali ini saya hanya mencoba membuat daftar para bakal capres dan cawapres pada pilpres mendatang sebagai rangkuman dari nama-nama yang sudah beredar luas di berbagai media massa.

1. Aburizal Bakrie atau ARB. Ketua Umum Golkar ini sudah pasti menjadi capres dari partai berlambang pohon beringin ini. Berdasarkan survei terbaru Lembaga Survei Nasional yang bekerja sama dengan Golkar, Golkar akan memenangkan Pemilu Legislatif 2014 mendatang dengan perolehan 18,1 persen suara. Karena itu, ARB membuka peluang menggaet calon dari Partai Demokrat sabagai Cawapres.

2. Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo. Dia adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat saat ini. Menurut Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso, ARB bukan tidak mungkin akan dipasang dengan adik kandung Ibu Ani Yudhoyno ini sebagai cawapres.

3. Megawati Soekarnoputri. Meskipun PDI Perjuangan belum menetapkannya sebagai capres, tetapi sejauh ini belum ada nama lain dari partai moncong putih itu yang disebut-sebut sebagai capres. Apalagi popularitasnya, berdasarkan survei berbagai lembaga, masih yang tertinggi di antara para bakal capres lainnya.

4. Prabowo Subianto. Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini juga sudah pasti menjadi capres partainya. Popularitasnya juga cukup tinggi bahkan melampaui ARB. Dia hanya kalah sedikit dari Megawati Soekarnoputri dari sudut popularitas dan elektabilitas.

5. Jusuf Kalla. Meski peluang masuk melalui pintu Golkar sudah tertutup, Jusuf Kalla juga disebut-sebut akan maju lagi pada Pilpres 2014. Pada 2009, dia kalah dari SBY-Boediono. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Kalla akan dicalonkan oleh Partai Nasdem, bila partai itu berhasil memenuhi syarat mengajukan pasangan capres sendiri.

6. Kristiani Yudhoyono. Nama ini sempat disebut-sebut sebagai bakal capres dari Partai Demokrat. Meskipun beberapa kali dalam sambutan resmi menegaskan bahwa dia tidak akan mendorong anggota keluarganya pada Pilpres mendatang.

7. Hatta Radjasa. Ketua Umum PAN dan Menteri Koordinator Perekonomian ini juga akan diusung partainya sebagai capres. Hatta adalah juga besan SBY. Dan, penetuan capres Partai Demokrat pada 2014 akan sangat tergantung SBY. Bukan tidak mungkin faktor kekeluargaan ini akan sangat berpengaruh dalam kiprah politik Hatta Radjasa selanjutya.

8. Djoko Suyanto. Menteri Koordinator Politik dan Keamanan ini adalah mantan Panglima TNI dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara. Dia digadang-gadang sebagai capres dari Partai Demokrat. Hubungannya dengan SBY juga dekat.

9. Anas Urbaningrum juga sempat disebut-sebut sebagai salah satu capres dari Partai Demokrat. Tetapi nama ini tenggelam setelah mencuatnya berbagai kasus korupsi yang sedang ditangani okeh KPK seperti kasus korupsi pembangunan wisma Atlet SEA Games Palembang dan proyek fasilitas olahraga Hambalang.

10. Rhoma Irama. Nama ini tiba-tiba muncul beberapa minggu terakhir. Yang memunculkannya adalah dia sendiri. Karena itu, sebagian publik menilai ini hanya lelucon belaka. Karena itu, di berbagai media sosial beredar foto Rhoma Irama dan Dorce Gamalama sebagai pasangan Capres dan cawapres.

11. Jokowi. Nomo Jokowi sempat disebut-sebut sebagai salah satu bakal cawapres 2014 menjelang pemilukada DKI Jakarta lalu. Meskipun Jokowi sendiri membantah isu tersebut. (Alex Madji)

Senin, 19 November 2012

Youth Day 2013 Brasil, Visa Gratis


Hari ini, saya tidak mendapat inspirasi untuk mengisi blog ini. Saya lalu menemukan sebuah berita di website www.catholicnewsagency.com. Isinya tentang acara Youth Day atau hari kaum muda sedunia di Brasil tahun depan. Maka saya menterjemahkannya saja untuk blog ini.

Youth Day 2013 digelar di Rio de Jeneiro, sebuah kota metropolitan di Brasil. Bagi kaum muda dari seluruh dunia yang akan mengikuti kegiatan tersebut akan mendapat visa tanpa bayaran. Mereka bisa masuk ke Brasil dengan tidak mengeluarkan sepeser pun.

Ratusan ribu kaum muda dari seluruh dunia diperkirakan akan menyerbu Brasil pada musim panas tahun depan untuk mengikuti acara yang dijadwalkan akan dihadiri oleh Paus Benediktus XVI. Youth Day Rio 2013 akan berlangsung selama lima hari dari 23-28 Juli 2013 di Rio de Jeneiro.

Para penyelenggara acara itu menyebutkan bahwa agar bisa mendapatkan visa gratis, para peserta perlu mengisi formulir yang diunduh dari website Kementerian Luar Negeri Brasil atau Kedutaan Besar Brasil di negara masing-masing. Yang penting mereka memiliki dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai syarat untuk memperoleh visa.

Visa gratis ini akan berlaku selama 90 hari dan bisa didapat pada 28 Juli 2013. Sementara untuk para sukarelawan dari seluruh dunia bisa mendapat visa gratis yang masa berlakunya hingga satu tahun.

Membayangkan acara itu, memori saya langsung menuju Kota Rio de Jeneiro. Saya pernah berada di kota itu selama tiga hari saat mengikuti kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa tahun silam. Saya tidak melihat seluruh kota yang sangat besar itu. Saya hanya melihat di kawasan Copacabana, sebuah kawasan pantai yang eksotik seperti Balinya Indonesia.

Tetapi Copacabana jauh lebih eksotik dengan luas garis panti yang aduhai. Orang-orang di sana lalu lalang, berjogging ria dengan pakaian seadanya, bahkan ada yang hanya mengenakan CD dan bra. Lalu di sepanjang pantai penuh lapangan voli. Pria wanita dan anak-anak bermain voli. Tak peduli panas terik.

Setelah puas memandang pantai indah itu, saya lalu teringat pendakian dengan trem ke Gunung Corcovado, tempat di mana Patung Cristo Redentor berdiri tegak melindungi Rio de Jeneiro. Dari atas gunung batu itu, seluruh kota terlihat jelas. Tidak ada yang tersembunyi. Saya juga sudah pernah menulis tentang pengalaman ke Corcovado dalam blog ini.

Nah untuk kaum muda Katolik yang akan mengikuti Youth Day itu nanti, selamat ya. Selamat mengikuti acara itu dan selamat menikmati Rio de Jeneiro, terutama Pantai Copacabana-nya. (Alex Madji)

Sabtu, 17 November 2012

Agama Leon Osman Pun Diperdebatkan


Leon Osman adalah pemain yang merumput bersama Everton di Liga Utama Inggris. Penampilannya bersama klub Merseyside itu pada musim ini memukau dan mencetak sejumlah gol penting bagi The Tofees. Kecemerlangannya di lini tengah Everton tersebut membuat pelatih Tim Nasional Inggris Roy Hodgson jatuh hati dan memanggilnya ke "The Three Lions" untuk pertama kalinya untuk laga persahabatan melawan Swedia pada Rabu, 14 November 2012 malam atau Kamis, 15 November 2012 dini hari WIB di Stockholm. Sayang pada laga tersebut, Swedia menang dengan skor 4-2.

Pemanggilan ini terbilang terlambat karena usianya sudah 31 tahun. Artinya, karier sepakbola Osman tinggal beberapa tahun lagi. Setelah itu pensiun. Osman memang baru bersinar, setelah lama terlilit cedera. Tetapi dia sendiri tidak mempersoalkannya itu. Bahkan dia bangga bisa membela Inggris, meski hampir di penghujung kariernya.

Pemanggilan Osman ke Tim Tiga Singa itu memunculkan topik diskusi yang lain dan hangat di berbagai forum online. Sebuah forum bernama NSNO.co.uk, misalnya mendiskusikan soal agama Leon Osman. Beberapa anggota anggota forum itu dengan yakin mengatakan bahwa Osman adalah pemain muslim pertama yang dipanggil ke Timnas Inggris.

Alasan mereka hanya karena ayahnya adalah orang Siprus Turki. Meskipun ibunya adalah seorang Inggris. Osman sendiri, menurut data Wikipedia, lahir di Billinge Higher, Wigan, Inggris pada 17 Mei 1981 dan bertumbuh serta dibesarkan di Skelmersdale dan Huyten di Merseyside. Tetapi dia diasumsikan sebagai penganut muslim karena 95 persen warga Turki (negara asal orang ayahnya) adalah muslim.

Sementara yang lain lagi di forum tadi tidak peduli dengan agama Osman. Yang terpenting bagi mereka adalah bahwa Osman berbamain bagus baik untuk Timnas Inggris maupun Everton.

Sedangkan di YouTube, sebuah viedo tentang aksi Leon Osman dikomentari oleh puluhan (58) orang. Sebagian besar mengomentari tentang agama Osman, mulai dari yang informatif dan sopan, sampai yang paling tidak etis. Bahkan sampai saling memaki. Yang satu mengatakan dia Islam, tetapi yang lain mengatakan tidak. Ada juga yang menyebutnya sebagai agnostik.

Sedangkan di sebuah situs Inggris bernama www.fpl-dugout.co.uk disebutkan bahwa Leon Osman beragama Islam. Dia berada di dalam daftar pemain Liga Utama Inggris yang beragama Islam. Dalam salah satu artikelnya berjudul "Premier League Muslim footballers and Ramadan – the fasting month" yang dimuat pada 19 Juli 2012 membuat daftar 24 pemain di Liga Utama Inggris yang beragama Islam, termasuk Leon Osman di antaranya.

Nah untuk saya, tidak peduli apa agama yang dianut Osman. Saya hanya menikmati permainannya, termasuk saat dia mencetak gol untuk mempertipis ketertinggalan timnya dari Liverpool pada Derby Merseyside pada 28 Oktober 2012 di Goodison Park. Kedua tim dari Kota Liverpool itu akhirnya bermain imbang 2-2. Akhirnya, semoga Osman terus bermain baik di Everton sehingga tetap dipanggil Hodgson ke Timnas Inggris, sebelum karier sepakbolanya berakhir karena usia yang makin menua. (Alex Madji)

Kamis, 15 November 2012

Rhoma Irama Mau Capres, Mimpi Kaleee...


Rhoma Irama berniat maju sebagai calon presiden (capres) pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 mendatang. Niat "si raja dangdut" itu sontak mendapat tanggapan dari media baik cetak, elektronik, online maupun media sosial.

Dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi pada Kamis, 15 November 2012 siang, Rhoma Irama menjelaskan alasan mengapa dia berniat maju pada Pilpres dua tahun mendatang.Menurutnya, sejumlah elite politik dan elite agama mendorong dia untuk maju dalam pertarungan perebutan RI 1. Bahkan dia bercerita bahwa pada Pemilu 2004 silam, dia sudah didorong untuk maju sebagai capres. Pada Pemilu 2009, ada capres yang meminangnya sebagai cawapres. Tetapi semua tawaran pada dua pemilu itu ditolaknya.

Kini dia merasa, Pilpres 2014 menjadi momen yang pas untuk maju menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tidak bisa maju lagi karena dibatasi konstitusi. Mengapa? Karena menurut dia, saat ini tidak ada lagi tokoh yang sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan umat Islam. Padahal Indonesia adalah negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia.

Tetapi dalam sejarah pemilu di Indonesia, partai-partai agama baik Islam maupun non Islam tidak pernah memenangkan pemilu. Selama Soeharto berkuasa, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hasil fusi partai-partai Islam, dimana Rhoma Irama menjadi anggotanya saat ini, hanya menjadi partai kedua di bawah Golkar.

Pada masa reformasi, sejak 1999, partai-partai Islam juga belum ada yang memenangkan pemilu. Sejak itu kelompok Islam juga terfrgamentasi, bahkan terpecah-pecah. Pada 1999 kekuatan PPP berkurang karena Nahdlatul Ulama memiliki partai sendiri yaitu Partai Kebangkitan Bangsa sebelum partai itu kemudian pecah berkeping-keping, meskipun sebagian orang NU tetap berada di PPP. Sementara Muhammadiyah guyup dalam Partai Amanat Nasional (PAN), lalu Masyumi berkumpul di Partai Bulan Bintang (PBB) serta masih ada Partai Keadilan. Yang berjaya ketika itu adalah PDI Perjuangan dan Golkar yang dicaci maki publik ketika itu masing-masing di urutan pertama dan kedua.

Pada Pemilu 2004, dari partai-partai Islam itu, hanya Partai Keadilan Sejahtera yang mendapat suara signifikan, tetapi tetap saja tidak tembus sebagai partai politik papan atas. Sedangkan perolehan suara partai-partai lain seperti PPP, PKB, PBB anjlok. Hanya PAN yang perolehan suaranya lumayan stabil.

Pada Pemilu 2009, perolehan suara semua partai Islam turun drastis. Bahkan PBB harus terlempar dari percaturan politik nasional karena gagal masuk parlemen akibat tidak memenuhi syarat parlementary treshold 2,5 persen.

Sementara menjelang Pemilu 2014, survei Lingkaran Survei Indonsia (LSI) yang diumumkan Minggu, 14 Oktober 2012 menyebutkan bahwa perolehan suara partai-partai Islam pada pemilu nanti makin melorot lagi atau lebih buruk dari 2009. Disebutkan, perolehan suara semua partai Islam ada di bawah lima persen. Tidak ada yang di atas itu. Dengan kata lain Partai Islam sedang menuju ke kematian. Survei ini tentu saja mendapat protes keras dari partai-partai Islam. Tetapi ini sebuah lonceng peringatan bagi mereka bahwa partai agama tidak laku dalam politik Indonesia.

Pemilukada DKI
Selain fakta sejarah di atas, ada fakta lain yang tersaji ketika Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta. Rhoma Irama yang mendukung pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli menyulutkan isu agama untuk menjatuhkan pasangan Joko Widodo atau Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang beretnis Cina dan beragama Kristen. Dia mengajak umat Islam untuk memilih pemimpin dari sesama umat Islam.

Terbukti kampanye ini tidak berhasil menggagalkan kemenangan Jokowi-Ahok. Pasangan ini tetap memenangkan Pemilukada DKI Jakarta putaran kedua dan dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, tepat sebulan silam.

Nah, dalam peta seperti itu, termasuk fakta sejarah pemilu di atas tadi, rasanya sulit bagi Rhoma Irama untuk bisa merebut kursi RI 1. Kalau perolehan suara partai-partai Islam anjlok tajam di bawah lima persen, lalu siapa yang akan mencalonkan dia? Belum lagi partai-partai seperti PKS dan PAN pasti memiliki jagonya sendiri. Sementara partai-partai nasionalis sudah pasti tidak mencalonkan Rhoma Irama. Lalu apakah suara PPP saja cukup untuk mencalonkannya? Rasanya sulit sekali.

Benar bahwa Pilpres bukan pemilu legislatif. Karakternya berbeda. Pilpres, seperti Pemilukada, lebih mengutamakan figur, bukan Partai Politik. Tetapi figur seperti Rhoma Irama juga belum atau tidak layak dijual. Masyakat Indonesia sudah cerdas dalam menggunakan hak pilihnya. Mereka mencari pemimpin yang mengayomi dan memperjuangkan kepentingan semua kelompok masyarakat, seperti dicita-citakan para pendiri bangsa ini. Mereka tidak mencari seorang pemimpin yang terang-terangan hanya ingin memperjuangkan kepentingan kelompok tertentu.

Bangsa ini masih membutuhkan seorang pemimpin yang nasionalis. Atau kalau mau mengikuti distingsi Rhoma Irama sendiri, kita butuh seorang pemimpin Islam Nasionalis, bukan nasionalis Islam seperti Rhoma Irama.

Tetapi tidak ada salahnya juga bagi "Bang Haji" untuk mencoba mewujudkan mimpi menjadi Presiden RI. Siapa tahu dia bisa mengubah dan menciptakan sejarah baru dalam perpolitikan Indonesia. Selamat mencoba bang. (Alex Madji)

Foto diambil dari FB Muhamad Kardeni

Rabu, 14 November 2012

Akankah Ahok Menjadi "Mesias Baru"?


Beberapa hari belakangan ini media-media sosial baik Facebook, twitter, maupun Blackberry Messanger alias BBM banjir dengan berita dan khabar tentang Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab dipanggil Ahok. Khabar itu berawal dari tayangan di YouTube (sesuai permintaan Ahok sendiri) yang kemudian dikutip menjadi berita yang dilihat 399,430 orang (data pada Rabu, 14 November 2012 pukul 14.10 WIB), di-like 9.229 dan di-dislikes hanya 92 kali.

Dalam berita itu, Ahok memperlihatkan dirinya sebagai orang "gila". Bayangkan, dia berani dan tanpa takut menantang para birokrat di Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta. Belum ada sedetik rapat dibuka, Ahok sudah menghentak. Ahok memberikan dua alternatif. Pertama, Potong anggaran PU sampai 25 persen. Kedua, dia menjalankan proyek-proyek PU dengan dana-dana operasional Wakil Gubernur. "Tetapi kalau saya bisa dapat lebih murah, kalian semua akan saya bawa ke KPK dan saya korek semua kasus lama. Kalau tidak bisa maka akan kami potong semua jabatan di sini sampai eselen tiga," kata Ahok seperti disiarkan di media-media sosial tersebut.

Para pengguna media sosial mengajak semua orang untuk menyebarkan berita tersebut. Bukan hanya itu. Setiap pengguna media sosial selalu memberi catatan tambahan. Seseorang mengirim BBM kepada saya perihal berita di atas memberi komentar seperti ini, "Kita membutuhkan pemimpin bersih yang tidak takut mati untuk membersihkan pemerintahan dari koruptor. Dan pemimpin itu kini sudah datang! Ahok."

Dia melanjutkan, "Beberapa komentar di forum sebelah mengatakan, mereka dulu anti dengan pasangan Jokowi-Ahok.Tetapi setelah melihat video Ahok membabat koruptor di PU DKI Jakarta, dia mendoakan pasangan ini agar berhasil memimpin Kota Jakarta. Seandainya semua pemimpin daerah seperti ini, Indonesia akan sangat maju!. Kalau setuju, mohon sebarkan."

Seorang teman lain pada dinding facebooknya memberi pengantar ini, "Gello......Ahok emang gelo....ganggu kenyamanan Dinas PU aje....porak poranda nih DKI......tp pastinya ke arah yg lbh baik....," saat meneruskan link YouTube Ahok tersebut ke Facebooknya.

Bukan hanya mereka, tayangan di YouTube itu juga dikomentari oleh 4.179 orang. Komentar dari orang bernama Fransisca Emeline misalnya berbunyi, "saya masih percaya bahwa Allah akan mengirimkan orang yang akan menyelamatkan negara ini, dan lewat Belau beliau (JOKOWI -AHOK) inilah perubahan untuk menyelamatkan negara ini di mulai dan smoga nawaitunya tanpa PAMRIH ya PAK,,,,,, amiin."

Seseorang yang menggunakan nama akun jaxxolantern mengatakan, "top pak basuki. sikat-mereka yg teriak2 alih2 kepentingan rakyat padahal bukan". Sementara SinyoTolotolo menulis, "Nggak adil! Masa semua propinsi cuma dapat satu gubernur tapi DKI dapat dua! Dua-duanya kwalitas utama lagi!" Atau Rini Routh menanggapi, "Kenapa Jaman nya FOKE tidak di youtube-khan ketika meeting????..... takut ketahuan kali ya!! :D"

Masih banyak komentar lain. Tetapi mereka sudah mewakili bahwa apa yang dilakukan Ahok itu didukung oleh rakyat kebanyakan. Dan, saya sengaja mengutip pernyataan-pernyataan di atas apa adanya, asli, tanpa editan. Inilah suara rakyat. Tidak ada unsur politis di sana.

Bersama para komentator itu saya hanya berharap, semoga Ahok kuat untuk membersihkan Jakarta dari budaya korup yang dipraktekkan para birokratnya, dan sebagian besar dana APBD dipakai betul-betul untuk kesejahteraan rakyat banyak, bukan untuk para pejabat seperti lazim dipraktekkan selama ini. Terakhir, ya semoga Ahok sukses dan tidak dibunuh oleh kelompok-kelompok yang dirugikan oleh kebijakan, keberaian dan kegilaannya itu. (Alex Madji)


Selasa, 13 November 2012

Ketika PSSI Telanjangi Indonesia


Selasa, 13 November 2012 ini, saya mencoba bermain ke kantor PSSI di Stadion Utama Gelora Bung Karno di kawasan Senayan Jarta Pusat. Tujuannya meliput jumpa pers pra pertandingan persahabatan internasional antara Tim Nasional Indonesia versus Timor Leste. Ini pertandingan persahabatan internasional. Acara jumpa pers mula-mula dilakukan oleh pelatih dan kapten Timor Leste, Emerson Alcantara dan Jessy Pinto kemudian disusul asisten pelatih Indonesia Fabio Olivera dan penyerangnya Syamsul Arif. Acara jumpa pers itu berjalan bagus.

Peristiwa memalukan terjadi beberapa saat berselang, ketika skuat Timnas Timor Leste memasuki lapangan kebanggaan masyarakat Indonesia itu. Di tengah lapangan mereka berkumpul mendengar arahan pelatih asal Brasil, Emerson Alcantara.

Tiba-tiba manajer tim mereka marah-marah dalam Bahasa Indonesia. Dia keluar dari lapangan sambil memprotes. Intinya, mereka menuntut PSSI menyediakan lapangan sebagai tempat latihan mereka. Ya, mereka dilarang untuk berlatih di tempat itu karena besoknya lapangan ini dipakai untuk pertandingan.

Sebenarnya, jadwal mereka berlatih adalah Selasa, 13 November 2012 jam 08.00 WIB. Tetapi setelah koordinasi, jadwal itu diundur ke pukul 16.00 WIB. Alasannya, skuat Timnas Timor Leste baru tiba di Jakarta pada Selasa 13 November 2012 pukul 02.00 WIB dini hari.

Timor Leste sebenarnya tidak mempersoalkan larangan penggunaan Stadion Utama Gelora Bung Karno tersebut. Mereka marah karena PSSI tidak menyediakan lapangan alternatif. Padahal, PSSI-lah yang mengundang Timor Leste untuk menjalani laga persahabatan internasional itu. Menurut sang manajer, PSSI melanggar aturan FIFA dan AFF. Pasalnya, FIFA mengatur bahwa dalam laga persahabatan, pihak pengundang harus menyediakan lapangan bagi tim tamu untuk latihan.

"Ngapain kami diundang ke sini bila kami tidak diberi lapangan untuk latihan. Kalau Anda ke Timor Leste kami akan menyediakan lapangan untuk latihan. Itu standar internasional dan peraturan FIFA. Saya juga aktif di FIFA sehingga saya tahu aturannya," ujar pria bernama Ignatio da Silva Carvalho itu dengan suara tinggi.

Dia lalu menilai, ketidakprofesionalan itu membuat PSSI dilanda perpecahan. Lebih dari itu, sikap PSSI ini memalukan. Hal itu diakui oleh petinggi PSSI yang datang ke lapangan. "Ini pertandingan persahabatan internasional loh. Kenapa tidak disiapkan lapangan. Ini pasti masuk berita ini," ujarnya setengah berbisik karena banyak wartawan yang menyaksikan latihan Timor Leste tersebut.

Setelah mendapat protes keras dari pihak Timor Leste, mereka akhirnya dijinkan menggunakan lapangan Stadion Utama Gelora Bung Karno itu. Hanya saja, Timnas Timor Leste tidak menggunakannya untuk latihan dengan bola, melainkan hanya untuk latihan ringan berupa senam. Itu pun tidak berlangsung lama.

Insiden kecil ini sungguh memalukan. Hal ini memperlihatkan bahwa PSSI tidak profesional dan tidak serius serta tidak siap menyelenggaran event internasional. Mereka terlalu menyepelekan persoalan.

Tanpa sadar mereka sebenarnya sudah menelanjangi Indonesia. Mungkin sudah saatnya PSSI dirombak, tetapi tidak dengan aksi saling menjatuhkan seperti yang terjadi selama ini, melainkan dengan meningkatkan kinerja lebih profesional sesuai standar internasional agar PSSI berhenti mempermalukan Indonesia. (Alex Madji)