Rabu, 29 Februari 2012

Ramainya Kredit Sepeda Motor


Hampir setiap pergi dan pulang kantor, saya mendapati promosi kredit sepeda motor. Berbagai cara dilakukan dealer untuk menarik perhatian pengendara motor dan mobil. Biasanya, mereka mendirikan tenda di sebuah lapangan kosong dilengkapi dengan suara musik yang kencang. Kalau dealer sepeda motor itu lebih besar dan mempunyai dana yang besar, biasanya ada seorang penyanyi yang menghibur pengunjung. Di sekitar tenda atau di pinggir jalan, ada beberapa orang yang menyebarkan selebaran informasi harga dan cicilan sepeda motor. Tentu saja, selebaran itu dilengkapi dengan nama dan nomor kontak dealer.

Saya sering kali menerima selebaran itu, karena merasa iba dengan orang yang menyebarkannya. Pasti mereka dibayar jika selebaran habis dibagikan. Walaupun, tak lama kemudian kertas akan lepas dari tangan.

Itu baru penawaran yang ada di jalan-jalan. Belum lagi kalau datang ke mal, pasti ada pameran yang menawarkan kemudahan untuk membeli sepeda motor. Iming-imingnya adalah down payment (uang muka) yang sangat murah, minimal Rp 500.000 dan kita bisa membawa sepeda motor baru ke rumah.

Siapa yang tak tertarik dengan tawaran menggiurkan ini? Pastinya semua orang, terutama masyarakat dengan penghasilan menengah ke bawah akan melirik, kemudian tergoda untuk membelinya.

Saya pun akhirnya bisa membuktikan bahwa memang banyak orang yang tertarik dengan tawaran itu. Siang itu, sebelum berangkat ke kantor, saya menyempatkan diri ke kantor Adira Finance untuk membayarkan angsuran kredit sepeda motor milik adik saya. Setelah sempat bolak balik di Jalan Raya Ciledug selama 45 menit, akhirnya saya menemukan kantor pembiayaan bidang otomotif yang sangat terkenal itu.

Baru mau memarkir motor, saya sudah kaget. Ratusan motor diparkir di halaman kantor Adira. Saat membuka pintu, saya lebih kaget lagi, karena orang berkerumun di depan pintu. Ruang tunggu untuk mengantri di loket kasir, penuh sesak. Seluruh tempat duduk terisi, sehingga banyak orang harus berdiri menunggu giliran. Saya sempat bingung ke mana mengambil nomor antrian. Dan ternyata si resepsionis tertutup kerumunan orang-orang sehingga tidak terlihat.

Berjubel
Kekagetan saya tampaknya belum usai saat menerima nomor antrian. Saya mendapat nomor antrian 362, padahal nomor yang dipanggil baru nomor 272. Kalau saya hitung, diasumsikan setiap nomor antrian mendapat waktu dua menit saja, maka saya harus menunggu dua jam lebih untuk bisa membayar angsuran. Fiiuuhh… lama sekali. Bahkan lebih lama dibandingkan mengantri di bank.

Saya pun bertanya kepada seorang ibu yang duduk di sebelah saya. “Nomor antrian berapa bu? Lama ya nunggunya,” tanya saya. Ibu itu pun menjawab sambil tersenyum kecut, “Antrian 285. Ya lumayan, sudah sempat makan mie ayam di luar.” Hmmm pastinya lama juga tuh.

Ada tiga loket kasir, tetapi hanya dua yang buka. Satu kasir yang tutup bertuliskan “istirahat”. Apakah itu yang membuat antrian jadi panjang dan lama? Pikiran saya langsung melayang ke jalan raya yang selalu dipenuhi dengan sepeda motor. Pastinya bukan karena loket kasir yang terbatas, tetapi jumlah debitur (peminjam) yang sangat banyak. Apalagi, kalau DP-nya murah sekali.

Pertanyaan berikutnya, mengapa mereka tidak menggunakan fasilitas membayar dengan ATM? Adira telah bekerja sama dengan dua bank swasta besar untuk bisa membayar tagihan. Kembali saya mengira-ngira, karena mereka datang dari golongan menengah ke bawah, mungkin saja mereka tidak punya rekening di bank.

Perkiraan-perkiraan saya itu bisa salah. Tetapi, terlepas dari itu semua. Membanjirnya sepeda motor di jalan-jalan akibat pemerintah tidak menyediakan transportasi massal yang nyaman dan aman bagi masyarakatnya, sehingga mereka harus berjuang sendiri untuk memiliki alat transportasi yang murah. Meskipun tingkat kenyamanannya kadang tidak terjamin. Sebab tidak sedikit pengandara motor meninggal karena kecelakaan. Sungguh menyedihkan. (Putri Biyan)

Foto: Putri Biyan

Selasa, 28 Februari 2012

“Hidden Agenda” Kenaikan Harga BBM


Pemerintah berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 1 April 2012, menyusul kenaikan harga minyak dunia. Penaikan harga BBM adalah upaya penyelamatan APBN. Pasalnya, APBN akan sangat tercekik bila harga BBM tidak dinaikkan karena terlalu banyak anggaran yang dipakai untuk subsidi.

Kenaikan harga BBM sudah pasti akan berdampak luas bagi kehidupan masyarakat. Harga barang-barang pun naik karena biaya angkut barang dan jasa juga meningkat. Tarif angkutan umum sudah pasti melonjak. Para pengguna kendaraan umum juga siap-siap merogoh kocek lebih dalam hanya untuk biaya transportasi. Padahal gaji/penghasilan tidak mengikuti kenaikan harga BBM. Dengan kata lain, siap-siaplah mengencangkan ikat pinggang akibat kenaikan harga BBM.

Meskipun pemerintah sedang merancang kompensasi kepada mereka yang mendapat dampak langsung dari kenaikan harga BBM ini. Menteri ESDM yang berasal dari Partai Demokrat, Jero Wacik, mengatakan, kompensasi ini cukup beragam bentuknya.

Harian Kompas Selasa (28/2/2012) menulis, “Salah satu yang tengah dirancang adalah pemberian kupon gratis bagi siswa pengguna angkutan umum. Selanjutnya pemilik angkutan umum dapat menukarkan kupon dan mengklaim uang jasa ankutan itu ke pemerintah. Pemerintah juga merancang pemberian kompensasi bagi nelayan yang menangkap ikan menggunakan kapal berbobot di bawah 60 ton bobot mati. Namun belum dipastikan bagaimana mekanisme pemberian kompenasi itu.”

Tetapi, kenapa kenaikan harga minyak dunia yang memaksa kenaikan harga BBM dalam negeri selalu terjadi menjelang pemilu? Sebab, menjelang pemilu 2009, pemerintah juga menaikkan harga BBM yang disusul berbagai paket program seperti bantuan langsung tunai (BLT) dan berbagai program pro rakyat lainnya.

Program-program itu, meskipun secara subtantif tidak mendidik rakyat, tetapi justru disukai oleh rakyat kelas bawah yang mayoritas buta huruf. Bagi mereka tidak penting ini mendidik atau tidak. Yang penting bisa pegang uang cash dan bisa membeli kebutuhan pokok. Bagi mereka ini adalah uang yang jatuh dari langit dan tidak perlu keluar keringat untuk mendapatkannya. Akibatnya, pemimpin seperti ini mendapat tempat di hati mereka.

Kalaupun kemudian harga BBM diturunkan seiring penurunan harga minyak dunia, harga barang-barang dan tarif angkutan umum tidak pernah ikut diturunkan. Tetapi pemerintah tetap mengkampanyekan bahwa mereka sangat berpihak pada rakyat karena berani menurunkan harga BBM. Lagi-lagi ini bahan kampanye yang jitu. Itulah kunci kesuksesan Partai Demokrat dan SBY memenangi pemilu 2009.

Kali ini, kenaikan juga terjadi hanya dua tahun menjelang pemilu 2014. Paket bantuan untuk meringankan beban rakyat menyusul kenaikan BBM, seperti disampaikan Jero Wacik di atas tadi, akan berlangsung hingga menjelang pemilu mendatang. Pemerintah akan kembali menjadi sinterklas bagi rakyat jelata yang datang dengan paket bantuan, apa pun bentuknya nanti.

Yang pasti program-program itu sadar atau tidak sadar akan membangun persepsi di tengah masyarakat bahwa pemerintah ini baik dan perlu didukung kembali. Paket-paket program itu sudah pasti akan menjadi bahan jualan pada kampanye 2014 nanti, seperti yang terjadi pada 2009. Inilah nilai jual partai penguasa pada pemilu mendatang.

Maka kasus korupsi yang begitu membelit dan membalut Partai Demokrat saat ini akan hilang begitu saja dan tak berbekas. Semua itu kemudian terbungkus oleh paket kompensasi kenaikan harga BBM ini. Lagi-lagi, ini adalah pintu pencitraan positif Partai Demokrat menjelang pemilu 2014. Hasilnya? Tunggu Pemilu 2014. (Alex Madji)

Foto ilustrasi diambil dari: http://dwiketephyte.wordpress.com/2010/12/23/sejarah-sinterklas/

Senin, 27 Februari 2012

Tips Air Putih Chris John


Senin, 27 Februari 2012, saya bertemu Chris John. Penampilannya sederhana. Hanya mengenakan celana pendek dan kaus. Sebuah ransel di punggungnya. Dia mampir sebentar ke kantor, sebelum berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta untuk selanjutnya terbang ke Markas WBA di Panama untuk menerima sebuah penghargaan yang cukup prestisius. Tak tampak bahwa dia adalah seorang bintang.

Penampilan Chris John juga jauh dari sangar. Kesangaran adalah ukuran umum seorang petinju. Tidak ada setitik pun tato di tubuhnya. Juga tak ada tindik pada wajahnya. Kulitnya pun putih bersih. Tidak juga terlalu berotot seperti para binaragawan. Tetapi badannya tetap padat berisi. Dia sempat berganti kaos. Kaus putihnya diganti kaus merah lengan buntung yang disimpan begitu saja di ranselnya untuk sesi foto-foto.

Pada pertemuan itu, Chris John yang kini berumur 31 tahun berbicara panjang lebar tentang prestasi tinju nasional. Menurut suami Anna Maria Megawati ini, petinju amatir di Indonesia cukup bagus. Tetapi petinju profesional masih sangat kurang. Hal itu terjadi karena pertandingan pada tingkat internasional sangat minum. Karena itu, perlu disain dari seluruh stake holder untuk memajukan tinju tanah air. Khawatirnya, setelah era Chris John, tidak ada lagi petinju yang mengukir prestasi.

Dia juga berbicara soal beberapa tinju yang meninggal usai bertarung di atas ring. Menurut dia, sangat mungkin para petinju itu meninggal karena kurang minum air putih. Ini sengaja dilakukan untuk menurunkan berat badan sehingga memenuhi standar kelas yang dipertandingkan. Padahal, otak manusia dibungkus oleh begitu banyak cairan. Begitu cairan menipis akibat kurang minum, maka saat batok kepala kena pukulan lawan, maut pun tak bisa ditolak.

Mengurangi konsumsi air, kata dia, memang efektif menurunkan berat badan. Tetapi sangat tidak bagus untuk kesehatan seorang petinju. Karena itu, minumlah air putih yang banyak. Inilah cara perlindungan pertama seorang petinju. Dan bagi masyarakat awam, ini adalah cara hidup sehat yang paling ampuh.

Tetapi ketika ditanya seberapa banyak Chris John mengkonsumsi air minum, pria yang bercita-cita ingin membagikan pengetahuan tinjunya kepada banyak orang pascapensiun dari dunia gebuk menggebuk ini tidak memaparkan dengan gamblang, misalnya berapa gelas sehari. “Saya minum air putih sampai saya tidak haus,” ucapnya singkat.

Jadi minumlah air putih yang cukup. Hindari minuman-minuman yang manis, apalagi yang bersoda demi kesehatan tubuh Anda. Beli air putih jauh lebih murah dibandingkan biaya masuk rumah sakit karena kekurangan minum air putih yang pada akhirnya merusak organ tubuh seperti ginjal. Akhirnya, terima kasih Chris John atas tips minum air putihnya. (Alex Madji)

Foto: Diambil pakai Blackberry

Jumat, 24 Februari 2012

Memulai Usaha? Perlu Totalitas


Sudah dua tahun saya tidak pernah ke Kementerian Dalam Negeri. Tiba-tiba pada Rabu, 22 Februari 2012, saya mampir ke sana. Tidak untuk bertemu pejabat. Hanya membangunkan kembali memori ketika meliput di kantor itu. Tidak ada yang berubah di sana, selain gedung-gedungnya yang sudah dipoles dengan penambahan unit-unit gedung dari Gedung A sampai Gedung F.

Di ruang pers saya bertemu sejumlah teman. Masih ada teman lama, Sutomo Samsu. Yang lain rekan-rekan seprofesi yang tidak pernah bertemu sebelumnya. Tetapi kami larut dalam cerita-cerita menarik. Bukan tentang liputan, tetapi cerita-cerita motivasi.

Teman lama saya tadi, Mas Tomo, bercerita tentang dirinya yang ditawari oleh sejumlah temannya untuk segera pindah ke kantor konsultan mereka. Tetapi teman saya ini bergeming. Padahal, dia sudah sadar bahwa dia tidak bisa untuk selamanya menjadi wartawan.

Menurut dia, ada begitu banyak peluang di Jakarta Raya ini, asalkan ada keberanian untuk memulai. Dia mencontohkan, tempat-tempat kelas bermain dan taman kanak-kanan menjamur di sejumlah perumahan. Di kompleksnya saja, ada dua tempat untuk kelas bermain. Padahal, menurut pria lulusan UGM dan pernah menekuni bisnis bimbingan belajar ini, mengelola usaha seperti itu tidak sulit dan menggiurkan.

Banyak sekali cerita tentang sejumlah kisah sukses orang-orang tertentu baik yang membuka tempat bimbingan belajar kemudian melebarkan sayapnya dengan membuka warteg kelas restoran, atau orang yang membuat penerbitan seorang diri tetapi sukses pada sore itu.

Dari pembicaraan-pembicaraan itu kemudian bermuara pada sebuah kesimpulan, perlu totalitas. Artinya, kalau menekuni sesuatu memang harus total. Tidak boleh setengah-setengah. Setiap pekerjaan yang dilakukan secara setengah-setengah maka hasilnya pun tidak optimal. Sebaliknya, setiap pekerjaan yang dilakukan dengan penuh totalitas, hasilnya pun maksimal.

Karena itu bila Anda sedang menekuni bisnis, sebaiknya Anda fokus ke situ untuk mencapai hasil paling maksimal. Tinggalkan pekerjaan kantor. Jangan pernah takut kehilangan pekerjaan. Bila usaha Anda diurus nyambi kerja kantor, maka jangan berharap mendapatkan hasil yang menggiurkan.

Teman lainnya menambahkan, hal lain yang diperlukan adalah kesabaran dan ketabahan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan sabar dan tabah pasti membuahkan hasil. Kata-kata kunci dalam tulisan ini adalah totalitas, kesabaran dan ketabahan. (Alex Madji)

Foto Ilustrasi: http://bisnisukm.com/motivasi-sukses-bisnis.html

Selasa, 21 Februari 2012

Gunakan Pajak Saya untuk Perbaiki Jalan Rusak



Saya baru saja pulang mengurus pajak mobil di Samsat Jakarta Timur, Kebun Nanas, Selasa, 21 Februari 2012 pukul 14.00 WIB. Ini adalah pengalaman pertama saya mengurus sendiri pembayaran pajak kendaraan bermotor. Selama tiga tahun terakhir, saya selalu menitipkannya kepada seorang teman yang biasa meliput di Polda Metro Jaya. Saya tinggal menunggu di kantor dan STNK yang hampir habis masa berlakunya sudah terurus. Mudah dan gampang.

Entah kenapa, tiba-tiba saya berpkir, "Ah saya coba mengurus sendiri." Maka, sejak Selasa, 21 Februari 2012 pagi, saya mempersiapkan STNK mobil dan KTP istri, sebagai pemilik mobil tersebut. Pukul 13.00 WIB, saya berangkat dari kantor. Pukul 13.45, saya tiba di kantor yang terletak di Jalan Ahmad Yani tersebut, persis di samping layang tol ke Priuk.

Di depan pos masuk, tertulis parkir gratis. Seorang petugas duduk di ruangan kecil pos masuk sore itu. Saya minggir sebentar. "Pak, kalau mau bayar pajak mobil di mana ya?" tanya saya.
"Di situ, yang ada tulisan, "Selamat Datang," ucapnya sambil menunjuk lobi utama gedung itu.
"Mau diurusin," tanyanya kepada saya.

Tapi saya tidak menjawab. Sambil mengucapkan terima kasih saya menarik gas motor lalu langsung belok kiri dan parkir di samping pos masuk bersama sejumlah motor di situ. Sejurus kemudian, saya masuk ke ruangan yang ditunjuk tadi. Seorang pria paruh baya tiba-tiba mendekati saya.
"Urus STNK mobil, motor," tanyanya pelan.

Saya tak peduli. Saya terus menghampiri sebuah meja di mana formulir berada. Seorang petugas berkemeja putih dan celana bahan hitam yang sudah cukup umur duduk di balik meja. Di depannya, seorang petugas security (Satpam) sedang menghitung uang. Jumlahnya cukup banyak.

Saya lalu ambil formulir pendaftaran yang hanya satu lembar itu dari tumpukan formulir pendaftaran di depan bapak tua tadi. Tiba-tiba seorang ibu datang dan menawarkan jasanya. Peremuan yang mengaku asal Ambon itu berjanji mengurus hanya dalam 15 menit dan STNK sudah jadi. Tetapi imbalannya Rp 15.000. Dia pun mengambil formulir yang saya pegang. STNK dan KTP istri saya diminta untuk mengisi formulir tersebut. Lalu dia bertanya tentang BPKB. "Tidak ada," sahut saya.

Dia minta tambahan jasa Rp 25.000 untuk "menebus" BPKB yang "hilang". Mendengar itu, serta merta saya batal menggunakan jasanya. Seorang pria di samping kanan saya lalu menawarkan jasa serupa. Saya acuh.

Saya kemudian memutuskan untuk mengurus sendiri. Saya ke loket pendaftaran. Petugas di sana, seorang pria, menyarankan ke loket 8 di lantai dua karena tidak membawa BPKB. Saya mengikuti arahannya. Sampai di lantai dua, loket delapan, saya memberitahukan bahwa saya tidak membawa BPKB. Dengan cepat petugas di situ mengambil formulir, membubuhkan tandatangan di atas formulir pendaftaran yang belum saya isi tersebut. Setelah tandatangan dan mencatat nomor polisi mobil di buku pendaftarannya, dia kembalikan formulir tersebut sambil meminta jasa Rp 25.000. Saya pun membayar.

Setelah itu, saya kembali ke lantai satu. Mengisi formulir lalu menyerahkan ke loket pendaftaran. Saya sempat salah, karena memasukkannya ke bagian mobil. Tak lama berselang, saya dipanggil dan menyuruh memasukkan formulir itu ke deretan loket di seberangnya atau di sebelah kanan ketika masuk melalui pintu utama. Di situ loket-loket untuk mobil.

Saya pindah. Saya memasukkan formulir itu dan mengambil nomor antrian. Hanya dalam 15 menit, saya sudah dipanggil. Struk pembayaran keluar. Saya ambil struk itu lalu pindah ke kasir yang ada di sampingnya. Saya lalu membayar sebesar yang tertera dalam STNK, setelah sebelumnya mengambil uang di ATM bersama Bank DKI. Tidak ada bank lain di sina. Kalau mau ke BCA, petugas di situ menyarankan ke Kampung Melayu.

Setelah bayar saya tinggal menunggu STNK dan bergeser ke loket paling ujung. Loket nomor 5. Baru saja saya membuka Blackberry untuk sekedar mengirim pesan BBM, seorang ibu dari balik loket sudah memanggil saya. Struk saya ditukar dengan STNK yang sudah diperbaharui. Pajak mobil pun sudah dibayar lunas.

Saya tidak membayangkan mengurus STNK begitu cepat dan gampang. Tetapi pada saat bersamaan, saya heran kok para calo berkeliaran begitu banyak di kantor ini. Bahkan mulai dari pintu masuk. Lebih heran lagi, masih ada saja orang yang mau menggunakan jasa mereka. Padahal pengurusan STNK sudah begitu mudah. Dan, hanya dalam tempo singkat STNK sudah jadi.

Sebelumnya, saya hanya membaca status facebook seorang teman yang memberi kesaksian serupa bahwa pengurusan STNK begitu cepat. Dalam pesan Facebooknya itu, dia salut kepada petugas. Saya pun mengamininya. Salut. Tetapi, saya hanya titip satu pesan. Semoga pajak yang saya bayar dipakai untuk memperbaiki kondisi jalan Jakarta yang berlubang. Bukan untuk Korupsi. (Alex Madji)


Sumber foto: http://edorusyanto.wordpress.com/2011/05/29/drive-thru-stnk-motor-di-samsat-jakarta-timur/

Senin, 20 Februari 2012

Menungu Hancurnya PD


Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacoa akhir pekan lalu menegaskan bahwa tidak ada perpecahan dalam Partai Demokrat. Partai pemenang pemilu 2009 ini masih solid, kata Sopacoa.

Tetapi pernyataan ini tidak lebih dari basa basi belaka. Sebab, fakta perpecahan itu makin jelas. Partai Demokrat kini tersegmentasi ke dalam dua kutup yaitu, Cikeas di satu pihak (Dewan Pembina) dengan kutup Anas Urbaningrum (DPP) di pihak lain.

Isu ini sudah lama. Khabar keterpecahan dan faksi-faksi ini terbentuk setelah Kongres Bandung, dimana Anas Urbaningrum terpilih sebagai Ketua Umum, menyisihkan Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng. Calon dukungan Cikeas, ketika itu, Andi Mallarangeng, malah kalah di putaran pertama. Di partai final, Anas mengalahkan Marzuki Alie.

Tetapi setelah kongres, fakta ini ditutup-tutupi. Ibarat pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jutuh jua, begitulah Partai Demokrat. Sepandai-pandai mereka menutupi fakta itu akan terkuak juga bahwa memang betul ada faksi dan kubu-kubuan dalam tubuh partai yang tiba-tiba besar itu.

Kesaksian bohong Angelina Sondakh di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pekan lalu, ketika bersaksi untuk terdakwa kasus korupsi Wisma Atlet, Muhammad Nazaruddin, dan akrobatik politik sesduahnya memperjelas dua kutub tadi; Cikeas dan Anas.

Dalam kesaksiannya, Angie, sapaan mantan orang tercantik di Indonesia itu, membantah keterangan di BAP, terutama terkait percakapannya dengan Mindo Rosalina Manulang di Blackberry Messenger. Kesaksian itu bermaksud untuk menyelematkan dirinya yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang sama oleh KPK dan Anas Urbaningrum.

Hanya selang sehari dari kesaksian yang oleh publik dinilai bohong itu, posisi Angie di DPR dipindahkan dari Komisi X ke Komisi III. Pemindahan ini menyebabkan KPK boikot rapat dengar pendapat dengan Komisi yang menangani hukum ini.

Cikeas pun geram. Sekretaris Dewan Pembina Andi Mallarangeng menegaskan, SBY sebagai Ketua Deawan Pembina marah besar atas pemindahan Angie tersebut. Langkah ini dinilai tidak cerdas. SBY, kata Andi, sudah meminta DPP untuk mengembalikan Angelina Sondakh ke posisi semula. Angie kemudian memang dikembalikan ke posisi semula.

Tidak Cerdas
Sementara Anas mengelak bahwa dia berada di balik pemindahan tersebut. Perpindahan Angie, kata mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu adalah wewenang fraksi. Dengan kata lain, Anas cuci tangan. Padahal publik tahu bahwa fraksi di DPR adalah perpanjang tangan partai/DPP. Jadi kalau Anas tidak tahu pemindahan itu, patut dipertanyakan. Jangan-jangan ini masih bagian dari penyangkalan Angie di pengadilan.

Sedangkan Ketua Faksi Demokrat di DPR, Djafar Hafsyah mengaku bahwa pemindahan itu tidak memiliki maksud tertentu. Tetapi sekedar refresing atau penyegaran. Alasan ini juga tampak tidak cerdas. Sebab, selain Angie tidak pernah sekolah hukum juga waktunya tidak tepat. Sama tidak cerdasnya dengan argumen Ketua Komisi III, Benny K Harman yang mengatakan bahwa Panda Nababan, anggota DPR dari PDI Perjuangan juga berada di Komisi III, padahal dia menjadi tersangka perkara cek pelawat. Benny K Harman lupa bahwa Panda sudah menjadi anggota Komisi III sebelum menjadi tersangka. Jelas sekali bahwa ini adalah alasan pembenaran yang dicari-cari, tetapi tidak logis.

Dari fakta-fakta di atas, maka faksi dan keterpecahan Partai Demokrat tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Ada faksi Dewan Pembina dan faksi DPP dibawah pimpinan Anas Urbaningrun yang sedang bertarung di internal partai. Pernyataan Max Sopacua seperti disinggung di awal adalah bagian dari kebohongan lain partai tersebut.

Konflik yang semakin terbuka dan tajam ini akan menghantar Partai Demokrat jatuh dan terbelah berkeping-keping seperti Partai Kebangkitan Bangsa, ketika DPP berkonflik dengan Dewan Syuro pimpinan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Maka sekarang kita tinggal menunggu kutup siapa yang kuat dalam konflik ini. Yang lemah akan tergusur dan bukan tidak mungkin akan mendirikan partai sempalan. Tenu ini sangat tidak produktif menjelang pemilu 2014. Tetapi mari kita tunggu saja seperti apa hasil akhirnya.

Foto: http://pontianak.tribunnews.com/2012/02/05/anas-aman-di-demokrat

Jumat, 17 Februari 2012

Penyangkalan Angelina Sondakh


Kesaksian Angelina Sondakh (AS) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi beberapa hari lalu ketika diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Muhammad Nazaruddin ditanggap sinis oleh publik. Bahkan dia dinilai berbohong karena menyangkal percakapannya via Blackberry Messanger (BBM) dengan Mindo Rosalina Manulang.

Padahal ada fakta yang sama dengan percakapan di BBM itu yang tidak disangkalnya. Tetapi ketika ditanyakan pengacara Nazaruddin Hotman Paris Hutapea soal percakapan BBMnya terkait fakta tersebut dengan Mindo Rosalina Manulang, dengan serta merta Angie membantah. Dengan logika sederhana saja, publik yang menyaksikan sidang tersebut dari siaran langsung televisi memvonis Angelina Sondakh berbohong.

Kebohongan Angie ini kemudian disindir publik di media-media sosial dengan berbagai cara. Ada pengguna Facebook menilai, Angie sedang membangun mercusuar kebohongan. Mungkin memang dia baru membangun satu pilar kebohongan. Tetapi kebohongan itu akan ditutup oleh kebohongan-kebohongan lainnya.

Status facebookers lainnya menyindir kebohongan Angie ini secara satir. Tetapi maknanya tajam, menusuk, dan menukik. Sebagai orang beragama, Angie seharusnya malu. Ini olokan untuk dia.

Simak saja status Adelvine Maria dalam dinding Faceboonya. “Hakim : "apa benar anda tidak pernah BBM-an dengan Rosa?".Anggie : "nggak!". Hakim. : "telpon? ". Anggie : " nggak". Hakim. : "SMS?". Anggie : "nggak". Hakim. : "Kenapa bisa begitu?". Anggie : "aku gak punya pulsaaaa" :'(Mat braktivitas all...).”

Atau catatan Gerard N. Bibang yang sedikit nakal menyindir kebohongan tersebut dalam percakapan berikut ini:
“Hakim : Benar itu sdri Angie punya BB= BeiBi?
Angie : Beibi?
Hakim : Iyah. Beibi. Masa’ gk tahu sih? Itu yg Anda pegang apa? Beibi kan?
Angie : Sekarang Pa Hakim. Dulu aq gk punya Beibi. Kalo ada BBS, iyah: dari dulu, ada saya!
Hakim : Tolong jelaskan BBS itu...
Angie : Bobo-Bobo Siang, Pa Hakim
Hakim : Adoh.... bilang kek dari dolo. Aku juga mau , tau?
Angie : BBS ku hanya dengan penyidik, pa Hakim...Sidikan dan bidikan penyidik nusukkkkkk bangett...
Hakim : Oooooooooo??”

Ya, mantan putri Indonesia itu memilih pasang badan untuk bosnya Anas Urbaningrum, dengan cara berbohong sekalipun. Sebab kalau dia mengakui percakapan BBM itu maka makin kuatlah keterlibatan Anas dan dirinya yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus tersebut.

Tetapi, menurut saya, langkah ini tidak tepat. Lebih simpatik kalau janda Adjie Massaid itu mengatakan fakta sebenarnya secara jujur, terbuka, dan gamblang. Lebih baik jujur dan menyesali perbuatannya, kalau memang bersalah, daripada membangun mercusuar kebohongan yang cepat atau lambat akan ambruk dan jatuh berkeping-keping. Tetapi itulah pilihan AS. Memilih untuk menyangkal alias berbohong. (Alex Madji)

Foto: Dari Facebook