Kamis, 11 April 2013

Berani Keluar dari Kemapanan

Rabu, 10 April 2013 malam, saya kongkow dengan dua teman lama di sebuah warung makan 24 jam di kawasan Serpong, Tangerang. Sebenarnya, saya sudah siap mau tidur, ketika panggilan via blackberry messenger (BBM) datang. Saya pun lansung mengiyakan ajakan tersebut.

Maka pintu rumah dan gerbang yang sudah dikunci rapat harus dibuka kembali dan bergegas menuju tempat dua teman tadi menunggu pada pukul 23.00 WIB. Keduanya adalah teman lama, senasib sepenanggungan beberapa tahun silam. Tetapi salah satunya kini mengalami nasib lebih baik. Sedangkan yang satu lagi masih sama seperti saya.

Kami hanyut dalam diskusi, bertukar cerita sambil menyeruput segelas es coklat dan teh panas. Saling meneguhkan dengan kata-kata inspiratif dari sejumlah motivator dan orang-orang yang sudah sukses. Diselingi dengan menghidupkan kembali memori-memori lawas, terutama ketika ada yang “bening-bening” melintas di depan meja kami pada malam yang sesepi itu. Tertawa lepas pun membahana ketika memori-memori itu kembali.

Tetapi poin yang paling penting dari pertemuan itu adalah cerita sang teman yang nasibnya kini lebih baik. Kini dia tidak lagi sebagai kuli tinta, tetapi sudah naik kelas menjadi kelas pengusaha. Meski usahanya belum berskala besar, apalagi kakap, tetapi langkah yang diambilnya sudah jauh lebih maju dari saya dan satu teman tadi.

Dia lantas bercerita bahwa hal itu tidak terjadi begitu saja. Ada sebuah proses sebelum terjun ke dunia wirausaha. Hal utama yang dia lakukan adalah berani mengambil keputusan untuk membanting kemudi hidupnya dan memulai sesuatu yang baru. Pada saat bersamaan dia siap menanggung risiko dari keputusannya tersebut. Apapun itu. Dia juga tidak lelah belajar dari nol perihal sesuatu yang baru. Keberanian mengambil keputusan dan menghadapi semua risiko dari keputusan itu menjadi langkah awal untuk naik ke kelas wiraswasta.

Semua itu dilakukannya karena sadar bahwa kalau tetap bertahan dengan pekerjaan sebagai kuli tinta, maka masa depannya sama sekali tidak terjamin. Suram. Gaji dari bekerja sebagai kuli tinta belum cukup untuk makan minum satu keluarga selama sebulan. Kadang sebelum akhir bulan, gaji sudah habis. “Maka keputusan mendesak diambil. Roda kehidupan tidak boleh seperti ini terus. Harus ada keputusan radikal yang tidak boleh ditunda-tunda. Jangan terpaku pada apa yang digenggam saat ini dan harus berani keluar dari kemapanan,” begitu tekadnya dalam hati beberapa tahun silam.

Keberanian teman tersebut, kini membuahkan hasil. Hidupnya sekarang jauh lebih baik dari saya dan teman yang satunya lagi. Dia sudah merancang masa depan dia bersama keluarganya dengan sangat baik. Bahkan dia sedang mengembangbiakkan apa yang sudah dikumpulkannya sehingga suatu saat nanti menjadi lebih besar, lebih besar, dan lebih besar lagi.

Tetapi sebelum sampai ke sana, pesannya, keluar dulu dari kemapanan yang membelenggu saat ini dan berani mengambil keputusan.

Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.11 WIB dini hari. Tempat itu bukannya menyepi, malah semakin ramai. Sementara pertandingan bola Liga Champions leg kedua antara Barcelona versus Paris Saint-Germain (PSG) sudah berlangsung. Lalu kami putuskan untuk meninggalkan lokasi itu dan kembali ke rumah dengan membawa "oleh-oleh" dari teman yang sudah sukses itu tadi dan membangun tekad untuk segera banting stir. (Alex Madji)

Sumber foto: yulitanurmalasari.wordpress.com

Senin, 08 April 2013

Sepakbola dan Agama di Mata Prandelli

Ini adalah artikel pertama blog ini pada bulan Arpil 2013. Kali ini saya mengangkat cerita tentang Claudio Cesare Prandelli. Dia pelatih Tim Nasional (Timnas) Italia. Saya tidak ingin menulis tentang strateginya dalam meracik tim sehingga Italia yang tadinya terkenal dengan pola permainan bertahan (sepakbola negatif) kini mengusung permainan menyerang dan lebih indah (sepakbola positif). Saya ingin mengungkapkan sisi lain dari sosok ini.

Prandelli adalah salah satu pelatih Italia yang cukup religius. Religiusitas pria berambut klimis ini paling tidak dibuktikan dengan dua hal berikut ini. Pertama, pada Piala Eropa 2012 silam, dia membawa stafnya mengunjungi sebuah biara Katolik di Polandia. Ceritanya, setelah sukses masuk ke perempat final pascamengalahkan Inggris, mereka mengunjungi biara Bruder-bruder Camaldolese yang berada di luar Kota Krakow, tempat "Gli Azzuri" bermarkas.

Sebetulnya kunjungan ini dilakukan untuk memenuhi janjinya. Sebelumnya bruder-bruder Benediktin Camaldolese itu mengunjungi tempat latihan Timnas Italia di Krakow. Kepada para bruder tersebut, Prandelli berjanji bahwa bila Italia tembus ke perempat final dia akan berjalan kaki sejauh 21 kilometer untuk mengunjungi biara mereka. Italia pun kemudian masuk perempat final, setelah menyingkirkan Inggris melalui adu tendangan penalti. Maka nazar harus dipenuhi.

Prandelli dan stafnya pun berjalan kaki dari hotel tempat mereka menginap berangkat ke biara yang terletak di kaki Pegunungan Carpathian di Polandia Selatan itu, sejauh 21 kilometer selama empat jam. Mereka berangkat pukul 03.00 dini hari waktu setempat dari hotel dan tiba di biara itu pada pukul 07.00 waktu setempat sebelum kemudian kembali kembali ke Krakow pada siang harinya. Bersama mereka, bergabung mantan bintang AC Milan dan Timnas Italia, Albertini. Salah satu saudara Albertini yang kini menjadi Wakil Ketua Federasi Sepakbola Italia adalah seorang pastor.

Kedua, pria yang istrinya meninggal pada 2007 itu ingin menggelar pertandingan persahabatan antara Timnas Italia versus Argentina. Tetapi yang unik, dia ingin agar Paus Fransiskus, pemimpin umat Katolik seluruh dunia yang berasal dari Argentina dan penyuka bola itu datang ke Stadion dan menyaksikan laga tersebut.

Laga persahabatan kedua negara belum ditetapkan. Tetapi kemungkinan akan dilakukan pada Agustus mendatang di Stadion Olimpico yang tidak terlalu jauh dari Vatikan. Prandelli ingin mempersembahkan laga tersebut untuk Paus Fransiskus yang orang tuanya berasal dari Italia dan anggota pendukung klub Buones Aires, San Lorenze. Paus ini adalah anggota fans San Lonrenzo yang membayar iuran secara rutin.

Dari dua hal sederhana ini oleh media-media asing lalu menyimpulkan bahwa Prandelli yang ketika masih aktif sebagai pemain berposisi di gelandang adalah seorang pelatih sepakbola yang religius. Sepakbola atau calcio dalam Bahasa Italia memang memiliki dua sisi. Di satu pihak, sepakbola bisa membawa orang ke hal-hal yang suci (agama), tetapi di sisi lain, bola juga membawa mereka ke kehidupan berdosa terutama ketika terjadi skandal pengaturan skor.

Bahkan Presiden UEFA Michel Platini secara berkelakar mengungkapkan bahwa melawan Italia bukan hanya melawan Timnasnya tetapi juga melawan agama Italia. “Setelah Paus, agama di Italia adalah bahwa bila Anda sudah pimpin 1-0, maka mustahil lawan bisa pulang,” kata mantan bintang Timnas Prancis yang pernah bermain untuk Juventus itu. (Alex Madji)

Selasa, 26 Maret 2013

Yohan Cabaye di Antara Pemain Prancis

Prancis adalah salah satu pengekspor pemain sepakbola terbanyak di Eropa. Di Inggris, misalnya, banyak sekali pemain Prancis yang merumput di klub-klub Liga Utama negara itu. Arsenal dan Newcastle United adalah dua klub yang paling banyak menggunakan jasa para pemain Prancis. Manchester City dan Tottenham Hotspur juga menggunakan jasa pemain Prancis, tetapi tidak sebanyak Newcastle United.

Tetapi dari sekian banyak banyak pemain Prancis itu, ada satu hal menarik yang ingin saya angkat pada artikel ini, yaitu perilaku gelandang Newcastle Yohan Cabaye. Setiap kali selesai mencetak gol, pemain ini selalu membuat tanda salib.

Ini menarik, pertama, karena dari sekian banyak pemain Prancis, dia adalah salah satu, kalau bukan satu-satunya, pemain Prancis yang melakukan tanda salib. Artinya, jumlah pemain Prancis yang mengungkapkan identitas agamanya sangat-sang jarang. Beda dengan para pemain dari Amerika Latin, misalnya.

Kedua, Prancis adalah negara sekuler dan pelopor sekularisasi di Eropa. Prancis yang dulu adalah "negara Katolik" kini menjadi negara sekuler, terutama sejak revolusi Prancis. Simbol-sombol keagamaan di negara tersebut dilarang. Agama menjadi nomor dua dan urusan dengan Yang Di Atas menjadi urusan personal.

Dalam situasi seperti itu, apa yang dilakukan Yohan Cabaye menjadi sangat berarti dan bermakna. Bahwa di tengah gemuruh sekularisme yang bahkan berkembang menjadi semacam agama baru, masih ada setitik nyala yang bukan tidak mungkin akan menyinari ruang-ruang gelap di sekitarnya.

Yohan Cabaya adalah orang yang mengusung pandu itu. Dia juga masih memperlihatkan akar kekatolikan di Prancis yang pernah menjadi salah satu pusat kekatolikan (Avignon) ketika terjadi skisma dalam sejarah gereja katolik. (Alex Madji)

Jumat, 22 Maret 2013

Isu Kudeta yang Lebay

Sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan adanya kelompok tertentu yang ingin mengkudetanya, para menterinya pun ikut-ikutan bicara masalah kudeta. Menteri Pertahan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakya Agung Laksono, dan Menteri Perumahan Rakyat juga menilai, apa yang disampaikan bosnya itu serius.

Logis bahwa para menteri memang harus sependepat dengan atasannya. Sebab kalau tidak nanti dinilai tidak loyal. Sekalipun apa yang disampaikan SBY itu absurd dan tidak logis. Dengan semuanya membicarakan kudeta, seolah-olah negara ini genting. Padahal, faktanya tidak.

Tapi apa mau dikata. Para menteri itu dibawa dalam arus tidak logis yang dibangun atasannya. Mengapa tidak logis? Paling tidak ada dua alasan. Pertama, dalam sejarah Indonesia belum pernah terjadi kudeta. Pemberontakan G 30 S PKI 1965 tidak pernah disebut sebagai kudeta terhadap Presiden Soekarno. Meskipun ada yang bilang bahwa itu adalah kudeta militer pimpinan Soeharto terhadap Soekarno.

Kedua, di mana-mana, kudeta selalu dilakukan oleh militer karena hanya mereka yang memiliki senjata. Kalaupun dilakukan oleh sipil, pasti mereka sipil bersenjata alias pemberontak. Tetapi tetap saja mereka bersenjata. Sementara di Indonesia, sipil bersenjata itu sudah tidak ada. Kalaupun masih ada Organisasi Papua Merdeka (OPM), mereka terlalu jauh di ujung timur sana. Dan, jumlahnya tidak signifikan. Jadi, tidak ada sejarah sipil melakukan kudeta terhadap kekuasaan.

Sementara bila melihat situasi Indonesia saat ini, tidak ada kelompok militer yang ingin melakukan kudeta. Lagi pula tidak ada faksi di dalam militer yang saling bertikai. Semua kekuatan militer Indonesia berada di bawah komando sang presiden sendiri. Lalu, siapa yang ingin kudeta? Sipil. Itulah yang dicium SBY.

Tetapi dugaan ini sangat absurd karena sipil di Indonesia tidak memiliki senjata untuk mengkudeta SBY. Bahkan, untuk menggelar demo kelompok-kelompok yang berencana menggelar unjuk rasa pada 25 Maret mendatang, seperti yang diduga SBY, kekurangan dana. Seorang teman mengirim BBM meminta bantuan logistik untuk aksi unjuk rasa tersebut. Artinya, jangankan senjata, uang untuk sekedar beli air minum para demostran saja mereka tidak punya.

Maka bila benar pernyataan SBY itu berdasarkan informasi intelijen, patut dipertanyakan kebenaran informasi intelijen itu. Lebih dari itu, kudeta yang ditiupkan dari istana sesungguhnya tidak ada. Isu ini dimainkan untuk mengalihkan persoalan atau pengalihan isu-isu politik yang menimpa Partai Demokrat. Tetapi menggunakan isu kudeta sama sekali tidak cerdas dan terkesan SBY lebay.



Selasa, 19 Maret 2013

Intim dengan Buah Hati

Sudah beberapa hari, blog ini tidak di"update". Alasannya, karena saya sedang mengalami masalah di rumah. Dua pembantu kami meninggalkan rumah begitu saja, tanpa pemberitahuan. Tak tahu pula kemana mereka pergi. Untung, dua anak kami dititipkan di saudara saya yang rumahnya hanya sepelemparan batu jauhnya dari rumah kami. Mereka bermain bersama sepupu-sepupunya di situ ketika saya menjemputnya pada Rabu 13 Maret 2013 sore.

Kepergian dua pembantu baru diketahui ketika saya tiba di rumah, kondisi rumah gelap pada sore itu. Padahal, sudah jam 18.30. Biasanya, anak-anak sudah menyambut saya begitu mendengar suara motor saya. Beberapa saat kemudian, baru saya tahu bahwa dua pembantu itu kabur setelah diberitahu istri saya. Sempat agak emosi. Terutama karena cara mereka pergi meninggalkan rumah sangat tidak sopan. Mereka pergi bagaikan pencuri. Padahal, waktu datang, mereka bagaikan tuan.

Tetapi begitulah kondisi riil dunia pembantu rumah tangga. Kadang-kadang tidak tahu sopan santun. Mungkin hal ini terkait tingkat pendidikan yang rendah. Dan masalah seperti ini kerap terjadi dan dialami oleh beberapa orang lain.

Sejak itu, saya dan istri pun membagi tugas mengurus anak dan rumah. Pembagian tugas itu dilakukan berdasarkan jam kerja kantor masing-masing. Kebetulan saya bisa pulang setelah deadline, sementara istri saya bisa masuk kantor agak siang, kecuali kalau ada tugas pagi yang memang harus diselesaikan.

Prinsip dasarnya, kehilangan pembantu jangan sampai mengorbankan hal-hal lain yang lebih penting. Malah ini momentum yang bagus untuk semakin intim dengan anak.

Maka kami putuskan jaga anak dan urus rumah dibagi dua sift. Sift satu mulai jam 06.30 sampai pukul 13.00. Ini menjadi tanggung jawab istri saya. Sift dua mulai jam 13.00 sampai malam menjadi tanggung jawab saya. Kerjanya, mulai dari maen bareng, suapin, mandiin, cuci piring, masak nasi, nyapu-ngepel. Pokoknya, semua pekerjaan rumah.

Sejauh ini, hingga artikel ini dibuat, belum menemukan masalah, alias berjalan baik dan lancar-lancar saja. Rumah pun lumayan bersih.

Lebih dari itu, ada hal positif dari masalah yang dihadapi ini. Yaitu, kami semakin dekat dengan anak-anak. Waktu untuk bermain bersama mereka semakin banyak. Dengan demikian diharapkan hubungan dengan mereka akan semakin intim. Mereka semakin dekat dengan orang tuanya dan tidak melihat orang tuanya sebagai "om dan tante" yang hanya bertemu beberapa jam pada malam hari sepulang kerja.

Saya lalu teringat, seorang sahabat pernah bilang bahwa kedekatan dengan anak pada usia-usia dini seperti ini akan sangat menentukan kualitas hubungan atau relasi orang tua anak ketika mereka bertumbuh menjadi remaja dan orang dewasa di kemudian hari.

Saya hanya mau katakan bahwa intensitas hubungan dengan anak sangat penting. Dan kehilangan pembantu menjadi momentum untuk semakin intim dengan buah hati. Karena itu, jangan menyerahkan urusan anak pada pembantu. Tetapi uruslah sendiri.

Memang risikonya, banyak pekerjaan lain yang terlantar dan tidak terurus. Tetapi pada situasi seperti itulah mulai memilih berdasarkan skla prioritas. Dan, saat ini, saya prioritaskan untuk mengurus anak. (Alex Madji)

Kamis, 14 Maret 2013

Paus Baru Itu Bernama Fransiskus

Gereja Katolik kembali membuat sejarah. Ke-115 kardinal berhasil memilih paus baru pada hari kedua konfklaf mereka di Kapel Sistin, Kompleks Vatikan, pada Rabu, 13 Maret 2013 malam atau Kamis, 14 Maret 2013 dini hari WIB. Konfklaf dibuka pada Selasa 12 Maret 2013. Kardinal Jorge Mario Bergoglio terpilih sebagai paus ke-266 menggantikan Paus Emeritus Benediktus XVI yang mengundurkan diri pada 28 Februari 2013 lalu.

Mantan Uskup Agung Buones Aires, Argentina, ini kemudian memilih nama Paus Fransiskus. Sesaat setelah terpilih dan diumumkan kepada publik, "Habemus Papam" biografi tetang anggota Serikat Yesus ini pun bermunculan. Tetapi satu hal yang paling mencolok dari berbagai biografi ini adalah bahwa paus ini dilukiskan sebagai seorang yang sangat sederhana, rendah hati, tetapi seorang intelektual dan memiliki kemampuan memimpin yang hebat.

Dia memilih tinggal di sebuah apartemen yang sederhana dibandingkan tinggal di istana keuskupan yang megah. Dia memilih naik bus umum kalau mau bepergian dibandingkan pakai limusin dan memilih memasak sendiri makanannya alias tidak memakai pembantu.

Gambaran seperti ini tercermin pula pada pilihan nama pontifikatnya yaitu Paus Fransiskus. Fransiskus adalah orang kudus dari Italia, tepatnya dari Asisi. Dia pendiri Ordo Fratrum Minorum atau yang disebut Fransiskan dengan berbagai cabang yang hidup pada abad ke-12. Fransiskus adalah orang yang memperkenalkan kesederhaan dan persaudaraan sekaligus pencinta damai.

Dari kalangan Yesuit sendiri, ada orang suci bernama Santo Fransiskus Xaverius. Dia adalah seorang misionaris ulung asal Spanyol yang hidup pada abad ke-16 dan pernah singgah di Indonesia. Maka nama Fransiskus, kemungkinan selain menercerminkan kesederhanaan St Fransiskus Asisi juga semangat misioner St Fransiskus Xaverius.

Perihal Paus baru ini, koresponden CNN di Vatikan yang juga ahli Vatikan, John Alen sudah menulis tentang biografi Kardinal Jorge Mario Bergogli SJ, sembilan hari sebelum konklaf. Tokoh ini ditulisnya karena Kardinal Bergogli adalah "runner up"-nya Paus Benedikutis XVI pada konfklaf 2005 lalu.

Bergogli lahir di Buonos Aires, Ibukota Argentina pada 1936. Dia anak dari imigran Italia, pekerja rel kereta api dari daerah sekitar Turin, Italia Utara. Dia mempunyai empat saudara dan seorang saudari. Awalnya, dia bercita-cita menjadi seorang ahli kimia karena itu dia sempat masuk perguruan tinggi umum dan mengamil kuliah kimia.

Tetapi pada 1958, dia memilih masuk biara dan bergabung bersama Serikat Yesus. Dia menempuh studi filsafat dan teologi sebelum ditahbiskan imam. Dia pernah bekerja sebagai dosen psikologi dan filsafat pada awal-awal kariernya. Studi filsafat dan teologi lebih lanjut ditempuhnya di Jerman.

Sekembalinya ke Argentina, pada periode 1973-1979, dia dipercayakan sebagai provinsial Yesuit Argentina dan pada 1980 menjadi rektor Seminari tinggi tempat dia menemputh studi filsafat dan teologi. Pada 1992, Bergoglio diangkat sebagai Uskup Auxilier Buones Aires dan pada 1998 menggantikan kardinal Antonio Qurracino sebagai Uskup Agung Buones Aires. Pada 2001, Bergoglio dipilih sebagai kardinal oleh Paus Yohanes Paulus II.

Selama bertahun-tahun Bergoglio sangat dekat dengan gerakan Comunione e Liberazione yang didirikan oleh Fr Luigi Giussani di Italia. Dia juga memperkenalkan tulisan-tulisan Giussani kepada para biarawan di Argentina. Bergoglio juga mendukung etos keadilan sosial Katolik di Amerika Latin, termasuk pembelaan terhadap kaum miskin di kawasan itu.

"Kita hidup dalam bagian dunia yang paling tidak adil. Distribusi barang-barang tidak adil, menciptakan siatusi dosa sosial yang membawa orang keluar dari jalan ke Surga dan membatasi kemungkinan menjadi seorang pemenuh kehidupan bagi begitu banyak saudara kita yang lain," kata Bergogli pada pertemuan uskup-uskup Amerika Latin.

Bergoglio adalah seorang konservatif. Dia menentang aborsi, pernikahan sesama jenis kelamin dan kontrasepsi. Dalam hal pernikahan sesama jenis kelamin, dia harus berseberangan dengan Presiden Argentina, Cristina Fernandez yang pada 2010 melegalkan perkawinan sesama jenis.

Kini Sang Kardinal yang sederhana ini terpilih sebagai Paus. Bahtera Gereja Katolik dunia berada di pundaknya. Penampilan pertamanya di depan umum setelah terpilih sebagai Paus sungguh mencerminkan dia layak untuk mengemban tanggung jawab besar itu. Dia menawan, sederhana, dan sosok kegembalaannya sangat tampak. Selamat bekerja Bapa Suci. (Alex Madji)

Rabu, 13 Maret 2013

Putra Mahkota Bernama Gita Wirjawan

Beberapa hari terakhir tiba-tiba nama Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mencuat. Dia disebut-sebut menjadi putra mahkota Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebagai putra mahkota, dia akan diusung sebagai calon Ketua Umum Partai Demokrat dan selanjutnya menjadi calon presiden dari partai itu.

Fungsionaris Partai Demokrat yang juga sosiolog Kastorius Sinaga adalah orang pertama yang menyampaikan kepada publik bahwa SBY sudah merestui Gita Wirjawan untuk maju sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dan kemudian menjadi capres partai tersebut. Ruhut mengaku sering berkomunikasi dengan Gita. Kepadanya, Gita mengaku tidak tertarik dengan partai politik.

Tetapi Ruhut Sitompul membantah pernyataan Kastorius itu. Menurutnya, SBY tidak akan mengusung Gita masuk bursa ketua umum Partai Demokrat dan sebagai capres. Bahkan dia menuduh Kastorius sebagai orang sakit dan badut yang hanya membuat suasana politik makin gaduh.

"Itu orang sakit. Badut dia itu yang hanya bikin ramai suasana saja. Tidak benar Pak SBY akan mengusung Gita masuk bursa Ketum dan nantinya jadi capres, terlalu jauh. Kami tidak bahas Pilpres saat ini," ujar Ruhut, di Gedung Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu 13 Maret 2013, seperti dikutip dari Kompas.com.

Bantahan yang sama disampaikan rekan separtainya yang juga anggota DPR Ramadhan Pohan. Menurut mantan wartawan ini, belum pas bagi Gita untuk maju sebagai capres Partai Demokrat. Meskipun secara kualitas pribadi cocok karena ada keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan. Gita lebih pas untuk maju sebagai ketua umum Partai Demokrat, kata Ramadhan Pohan.

Bantahan para politisi Demokrat ini bagaikan berbalas pantun. Mereka yang lemparkan isu, mereka pula yang bantah. Ini hanya trik. Mereka mau mengukur pasar. Kira-kira reaksi publik seperti apa. Bila publik menanggapi dingin, maka mungkin mereka akan berpikir ulang atas rencana pencalonan Gita Wirjawan ini baik sebagai ketua umum Partai Demokrat maupun untuk maju sebagai capres. Tetapi bila penerimaan publiknya bagus, maka gagasan ini akan dilanjutkan.

Sebab informasi bahwa Gita akan menjadi capres Partai Demokrat pilihan SBY sudah lama beredar. Jauh sebelum nama itu dilambungkan saat ini. Sudah lama nama itu disimpan sambil menunggu momen yang pas. Gita dipilih karena, katanya relatif bersih. Selain itu, dari sudut usia masih muda, wajahnya pun enak dilihat, dan pasti bisa menaklukkan para pemilih perempuan. Pasalnya, mantan Kepala BKPM ini piawai bermain musik, khususnya Piano.

Karena itu, langkah Gita menuju Istana semakin mulus karena SBY sudah jatuh hati padanya. Pendongkelan Anas Urbaningrum yang secara sistematis membangun kekuatan di dalam Partai Demokrat untuk menuju Istana adalah bagian dari memuluskan langkah Gita Wirjawan. Tetapi apakah Gita akan berjalan mulus? Belum tentu. Tunggu reaksi pasar. Apalagi, Gita harus berhadapan dengan Jokowi yang popularitas terus melejit bahkan melampaui Prabowo Subianto. Takutnya Gita malah akan tergilas oleh popularitas Jokowi. Tetapi mari kita tunggu saja perkembangan lebih lanjutnya. (Alex Madji)