Tampilkan postingan dengan label Paus Baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paus Baru. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Maret 2013

Paus Baru Itu Bernama Fransiskus

Gereja Katolik kembali membuat sejarah. Ke-115 kardinal berhasil memilih paus baru pada hari kedua konfklaf mereka di Kapel Sistin, Kompleks Vatikan, pada Rabu, 13 Maret 2013 malam atau Kamis, 14 Maret 2013 dini hari WIB. Konfklaf dibuka pada Selasa 12 Maret 2013. Kardinal Jorge Mario Bergoglio terpilih sebagai paus ke-266 menggantikan Paus Emeritus Benediktus XVI yang mengundurkan diri pada 28 Februari 2013 lalu.

Mantan Uskup Agung Buones Aires, Argentina, ini kemudian memilih nama Paus Fransiskus. Sesaat setelah terpilih dan diumumkan kepada publik, "Habemus Papam" biografi tetang anggota Serikat Yesus ini pun bermunculan. Tetapi satu hal yang paling mencolok dari berbagai biografi ini adalah bahwa paus ini dilukiskan sebagai seorang yang sangat sederhana, rendah hati, tetapi seorang intelektual dan memiliki kemampuan memimpin yang hebat.

Dia memilih tinggal di sebuah apartemen yang sederhana dibandingkan tinggal di istana keuskupan yang megah. Dia memilih naik bus umum kalau mau bepergian dibandingkan pakai limusin dan memilih memasak sendiri makanannya alias tidak memakai pembantu.

Gambaran seperti ini tercermin pula pada pilihan nama pontifikatnya yaitu Paus Fransiskus. Fransiskus adalah orang kudus dari Italia, tepatnya dari Asisi. Dia pendiri Ordo Fratrum Minorum atau yang disebut Fransiskan dengan berbagai cabang yang hidup pada abad ke-12. Fransiskus adalah orang yang memperkenalkan kesederhaan dan persaudaraan sekaligus pencinta damai.

Dari kalangan Yesuit sendiri, ada orang suci bernama Santo Fransiskus Xaverius. Dia adalah seorang misionaris ulung asal Spanyol yang hidup pada abad ke-16 dan pernah singgah di Indonesia. Maka nama Fransiskus, kemungkinan selain menercerminkan kesederhanaan St Fransiskus Asisi juga semangat misioner St Fransiskus Xaverius.

Perihal Paus baru ini, koresponden CNN di Vatikan yang juga ahli Vatikan, John Alen sudah menulis tentang biografi Kardinal Jorge Mario Bergogli SJ, sembilan hari sebelum konklaf. Tokoh ini ditulisnya karena Kardinal Bergogli adalah "runner up"-nya Paus Benedikutis XVI pada konfklaf 2005 lalu.

Bergogli lahir di Buonos Aires, Ibukota Argentina pada 1936. Dia anak dari imigran Italia, pekerja rel kereta api dari daerah sekitar Turin, Italia Utara. Dia mempunyai empat saudara dan seorang saudari. Awalnya, dia bercita-cita menjadi seorang ahli kimia karena itu dia sempat masuk perguruan tinggi umum dan mengamil kuliah kimia.

Tetapi pada 1958, dia memilih masuk biara dan bergabung bersama Serikat Yesus. Dia menempuh studi filsafat dan teologi sebelum ditahbiskan imam. Dia pernah bekerja sebagai dosen psikologi dan filsafat pada awal-awal kariernya. Studi filsafat dan teologi lebih lanjut ditempuhnya di Jerman.

Sekembalinya ke Argentina, pada periode 1973-1979, dia dipercayakan sebagai provinsial Yesuit Argentina dan pada 1980 menjadi rektor Seminari tinggi tempat dia menemputh studi filsafat dan teologi. Pada 1992, Bergoglio diangkat sebagai Uskup Auxilier Buones Aires dan pada 1998 menggantikan kardinal Antonio Qurracino sebagai Uskup Agung Buones Aires. Pada 2001, Bergoglio dipilih sebagai kardinal oleh Paus Yohanes Paulus II.

Selama bertahun-tahun Bergoglio sangat dekat dengan gerakan Comunione e Liberazione yang didirikan oleh Fr Luigi Giussani di Italia. Dia juga memperkenalkan tulisan-tulisan Giussani kepada para biarawan di Argentina. Bergoglio juga mendukung etos keadilan sosial Katolik di Amerika Latin, termasuk pembelaan terhadap kaum miskin di kawasan itu.

"Kita hidup dalam bagian dunia yang paling tidak adil. Distribusi barang-barang tidak adil, menciptakan siatusi dosa sosial yang membawa orang keluar dari jalan ke Surga dan membatasi kemungkinan menjadi seorang pemenuh kehidupan bagi begitu banyak saudara kita yang lain," kata Bergogli pada pertemuan uskup-uskup Amerika Latin.

Bergoglio adalah seorang konservatif. Dia menentang aborsi, pernikahan sesama jenis kelamin dan kontrasepsi. Dalam hal pernikahan sesama jenis kelamin, dia harus berseberangan dengan Presiden Argentina, Cristina Fernandez yang pada 2010 melegalkan perkawinan sesama jenis.

Kini Sang Kardinal yang sederhana ini terpilih sebagai Paus. Bahtera Gereja Katolik dunia berada di pundaknya. Penampilan pertamanya di depan umum setelah terpilih sebagai Paus sungguh mencerminkan dia layak untuk mengemban tanggung jawab besar itu. Dia menawan, sederhana, dan sosok kegembalaannya sangat tampak. Selamat bekerja Bapa Suci. (Alex Madji)

Selasa, 12 Februari 2013

Selamat Datang Paus Baru


Senin, 11 Februari 2013 pagi waktu Roma atau Senin sore WIB, Paus Benediktus XVI mengambil keputusan yang mengejutkan dunia. Dia mengundurkan diri sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik seluruh dunia. Mengejutkan karena ini untuk pertama kalinya dalam 600 tahun terakhir, seorang paus mengundurkan diri. Paus terakhir yang berhenti di tengah jalan adalah Paus Gregorius XII pada 1415. Setelah itu, paus selalu menjalankan tugasnya hingga menghembuskan nafas terakhir, termasuk Paus Agung Yohanes Paulus II yang digantikan Benediktus XVI ini.

Sebenarnya, peristiwa pengunduran diri ini bukan sesuatu yang baru terjadi dalam sejarah Gereja Katolik. Sudah ada preseden pada abad-abad sebelumnya dengan berbagai alasan.

Benediktus XVI mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Uskup Roma dan pengganti tahta St Petrus karena usia yang sudah uzur. Kekuatan fisik pria kelahiran Jerman ini 85 tahun silam itu menurun tajam. Padahal, kekuatan fisik juga dibutuhkan, selain kekuatan spiritual, untuk mengemban tugas kegembalaan yang sungguh berat ni. Paus secara resmi akan menanggalkan jabatannya pada 28 Februari 2013 pukul 20.00 waktu setempat.

Alasan pengunduran dirinya ini diterima baik oleh umatnya di seluruh dunia, terutama karena alasan kesehatan yang diajukannya. Benekditus XVI pun semakin dikagumi atas kerendahan hatinya itu yang sadar akan keterbatasannya. Selanjutnya dia mempersembahkan sisa hidupnya dalam doa tiada henti bagi gereja yang dicintainya dan tidak akan terlibat lagi dalam membimbing Gereja Kristus seperti yang diperankannya sejak April 2005 silam.

Yang ditunggu-tunggu saat ini adalah siapa penggantinya. Juru bicara Vatikan Romo Federico Lombardi SJ mengatakan bahwa Dewan Kardinal akan memilih paus baru 15 hari setelah Paus Benediktus XVI resmi mengundurkan diri. "Sebelum paskah, kita sudah memiliki paus baru," kata Lombardi yakin.

Konklaf
Paus dipilih oleh Dewan Kardinal yang jumlahnya tidak lebih dari 117 orang yang berumur di bawah 80 tahun. Tetapi jumlah ini kemungkinan akan berkurang menjadi 115 karena pada Maret 2013 karena ada dua kardinal yang memasuki usia 80 dan berarti tidak akan memilih dan dipilih. Kardinal-kardinal ini akan memilih paus baru dalam sebuah konklaf.

Konfklaf ini dimulai di Kapel Sistin. Pada pagi hari, Dewan Kardinal menyelenggarakan misa "Pro Eligendo Papa". Proses pemilihannya baru dimulai pada sore hari. Para kardinal memilih tiga orang di antara mereka untuk mengumpulkan kertas suara, tiga orang lain bertugas menghitung surat suara, dan tiga lainnya untuk melihat hasilnya.

Kertas-kertas suara kosong disiapkan dan dibagikan kepada para anggota Dewan Kardinal yang berjumlah 117 atau 115 pada Maret nanti. Pada pagian tengah atas kertas kosong itu tertulis dalam bentuk cetakan, bila memungkinkan, kata-kata ini, "Eligo in Summum Pontificem" yang berarti "Saya memilih sebagai Paus" lalu para kardinal menulis nama calon pada bagian tengah bawah kertas tersebut lalu melipatnya menjadi dua.

Setelah itu para kardinal itu naik ke altar lalu memasukkan kertas yang sudah diisi dengan nama pilihannya masing-masing pada sebuah disket kecil yang terbuat dari metal dan dimasukan dalam kalix. Lalu, surat suara itu dihitung dan hasil pilihan mereka dibacakan di hadapan Dewan Kardinal.

Bila ada satu dari para kardinal itu meraih suara dua per tiga plus satu, maka dialah yang akan menjadi paus baru menggantikan Paus Benediktus XVI. Kertas-kertas itu kemudian dibakar dengan dicampur sat kimia tertentu sehingga asal dari hasil bakaran itu menghasilkan asap putih yang keluar dari cerobong asap Vatikan untuk memberitahukan kepada umat yang menunggu di lapangan St Petrus bahwa paus baru terpilih. Bahasa simbol itu kemudian diikuti pengumuman, "Habemus Papam" yang berarti "Kita Punya Paus Baru".

Tetapi bila belum terpilih, surat-surat suara tadi dibakar dan dicampur dengan bahan kimia tertentu sehingga menghasilkan asap yang berwarna hitam pekat. Kemudian dilakukan pemilihan ulang dengan proses yang sama hingga terpilih seorang paus baru

Menurut ahli Vatikan yang juga koresponden CNN di Vatikan, John Allen, siapa pun paus berikutnya dan dari manapun dia berasal, sudah hampir pasti dia akan meneruskan kebijakan Paus Benediktus XVI dan akan melanjutkan tradisi konservatif yang dipelihara paus asal Jerman ini. Isu-isu tentang aborsi, KB, dan perceraian tetap akan menjadi prioritas utama paus baru.

Dan siapapun puas berikutnya, umat Katolik pasti akan menerima dan tunduk kepadanya. Akhirnya selamat datang paus baru. (Alex Madji/dari berbagai sumber)