Senin, 08 Oktober 2012

Tips Dasar Menjadi Penulis Lepas


Anda Ingin menjadi seorang penulis lepas sebagai sebuah profesi? Bila iya, sebelum mengambil keputusan itu perhatikan dulu sejumlah hal sangat mendasar dan penting berikut ini. Maksudnya, agar pilihan Anda itu tidak keliru.

Pertama, pastikan diri Anda memang punya bakat menulis. Bukan hanya itu, pastikan bahwa menulis sudah menjadi darah daging Anda. Ibaratnya, bila Anda tidak menulis, Anda pusing. Dengan kata lain, Anda tidak pernah berhenti menulis dan semangat menulis harus tetap berkobar di dalam diri setiap saat.

Kedua, semangat menulis yang berkobar-kobar saja tidak cukup. Tulisan yang dihasilkan juga harus memenuhi kaidah, bermutu, dan informatif. Dengan kata lain, harus ada keterampilan menulis dan di atas itu semua harus memiliki pengetahuan. Untuk mendapat pengetahun maka syarat mutlaknya adalah membaca. Jangan pernah berharap mendapat pengetahuan tanpa pernah membaca. Makin banyak Anda membaca, makin luas pengetahuan yang Anda miliki. Hal itu akan berdampak pada tulisan Anda yang makin kaya dan makin dalam. Pada tingkat tertentu Anda akan menjadi seorang ahli.

Ketiga, atur waktu sebaik mungkin. Persoalan utama dan tantangan terbesar menjadi seorang penulis lepas adalah kemampuan mengatur waktu. Maklum menjadi penulis lepas tidak ada yang mengontrol, selain diri sendiri. Anda menjadi manajer untuk diri Anda. Maka kemampuan mengatur waktu dan mentataatinya menjadi sangat penting. Tanpa itu, Anda hampir pasti akan gagal menjadi seorang penulis lepas. Karena itu musti ditetapkan sejak awal jumlah jam tertentu dalam seminggu untuk menulis, misalnya 40 jam per minggu untuk menulis dan itu harus ditaati.

Keempat, Bila tiga hal di atas sudah berjalan dengan baik, hal lain yang perlu dijalankan adalah "pemasaran". Anda perlu memasarkan diri anda sendiri sebagai penulis lepas yang handal, berkualitas, dan produktif. Sebab, meskipun pasar penulis lepas ada, tetapi tanpa pemasaran yang cukup Anda tidak akan dikenal orang. Pilihlah cara-cara pemasaran yang jitu dan murah untuk merebut pasar.

Kelima, bila sudah punya pasar maka Anda siap memetik hasilnya yaitu mendapat penghasilan yang tidak kecil dari dunia tulis menulis. (Alex Madji)

Jumat, 05 Oktober 2012

Agama Penyebab Tom Cruise-Katie Holmes Cerai


Pasangan artis Hollywood Tom Cruise dan Katie Holmes akhirnya bercerai. Usia perkawinannya baru seumur jagung, hanya lima setengah tahun. Tetapi begitulah hidup para artis di bawah muka bumi ini. Kawin cerai seolah menjadi hal yang lumrah. Bukan hanya di Amerika sana, tetapi juga di Indonesia.

Proses cinta Curise dan Holmes berlangsung kilat. Holmes mengaku mencintai Cruise saat dia menjabat tangannya untuk pertama kali di Los Angeles. "Itu cinta yang muncul ketika saya saya menjabat tangannya untuk pertama kali," kata Holmes.

Lalu keduanya memperlihatkan kepada publik untuk pertama kalinya bahwa mereka memiliki hubungan yang spesial pada 27 April 2005 di Roma, Italia. Satu bulan kemudian, dua sejoli yang umurnya terpaut jauh itu datang ke acara Oprah bersama-sama. Katie Holmes menggandeng tangan Cruise yang kemudian mengumumkan ke publik bahwa dia gila karena jatuh cinta pada seorang gadis yang beru berumur 26 tahun.

Keduanya akhirnya menikah dan melahirkan seorang anak perempuan yang cantik bernama Suri. Dalam perjalanan waktu, bahtera rumah tangga mereka terguncang, hingga akhirnya bercerai, setelah pisah ranjang selama enam bulan. Holmes menggugat cerai Cruise pada Juni 2012 lalu.

Berita percerian yang mengagetkan para penggemar mereka itu dikuatkan oleh sebuah dokumen tertanggal 17 Agustus 2012 yang ditandatangani oleh Hakim Agung Negara Bagian New York, Matthew F Cooper. Dokumen itu juga menyebut tentang siapa yang berwenang mengasuh Suri yang sudah berusia enam tahun.

Khabarnya, perceraian ini terjadi karena Cruise dan Holmes terus berantem gara-gara Suri, terutama terkait agama yang harus dianut sang putri. Tom Cruise adalah penganut sekte Scientology yang didirikan oleh L Ron Hubbar (1911-1986) pada 1953. Scientology adalah pengganti sistem bantuan pribadi yang dia bentuk sebelumnya.

Scientology mengajarkan bahwa manusia adalah mahluk mati (immortal beings) yang telah melupakan alam mereka yang sebenarnya. Agama ini terkenal dengan metode rehabilitas spiritualnya yaitu sebentuk konseling yang terkenal dengan sebutan auditing. Dengan metode ini, para pengikutnya diajak mengalami kembali kejadian-kejadian ngeri dan traumatis pada masa lalu untuk kemudian membaskan diri mereka sendiri dari efek keterbatasan mereka.

Scientology menjadi agama yang legal di Amerika Serikat, Italia, Afrika Selatan, Australia, Swedia, Selandia Baru, Portugal, dan Spanyol. Gereja ini menjadi salah satu gereja yang kaya di Amerika Serikat.

Sementara Katie Holmes, aslinya adalah seorang penganut Katolik yang kemudian mengikuti jejak Tom Cruise sejak menikah. Tetapi dia tidak ingin buah hatinya mengalami cuci otak dan menjadi anggota sekte Scientology seperti Tom Cruise. Itu sebabnya pada pada 2009, Holmes menyekolahkan Suri ke sebuah taman kanak-kanak Katolik. Alasannya, di Scientology yang dianut Cruise tidak ada home schooling yang cocok dengan putrinya itu.

Meski demikian, seorang sahabat dekat Cruise menegaskan bahwa mega bintang Hollywood itu tidak mempersoalkan agama apa pun yang akan dianut Suri di kemudian hari. Tetapi apa mau dikata. Cruise dan Katie Holmes sudah cerai. Dan, sejumlah sumber menyebut ini adalah cara terbaik agar pertikaian kedua orang tuanya tidak berdampak buruk bagi Suri.

Setelah resmi bercerai, Holmes kemudian tinggal permanen di New York bersama Suri. Sebab berdasarkan dokumen tadi, Holmes mendapat hak asuh Suri. Selain itu Cruise harus menyantuni Suri dengan dana senilai 400.000 dolar AS setahun untuk mengcover kesehatan, perawatan gigi, asuransi cek medis dan gigi yang tidak bisa reimberused, pendidikan, kuliah, ekstrakurikuler dan lain-lainnya.

Cruise akan membayar itu selama 12 tahun hingga Suri berumur 18 tahun. Tetapi biaya itu tidak akan membuat kekayaannya yang berjumlah 250 juta dolar tergerus. Karena menurut hitungan Radar Online, total dana yang keluarkan Cruise hanya mencapai 4,8 juta dolar.

Kembali
Sejak pindah ke New York, Katie Holmes kembali ke agama masa mudahnya, Katolik. Di Manhattan, Holmes menjadi anggota Paroki Santo Fransiskus Xaverius. Dalam subuah artikel "A Tour of St. Francis Xavier, a Potential New Church for Katie Holmes" yang ditulis Michael Daly dan diteribitkan di thedailybeast.com tanggal 11 Juli 2012 pukul 04.45 pagi menyebutkan bahwa Katie datang ke gereja paroki itu dan bertemu dengan pastor parokinya, Romo Joe Costantino.

Semula pastor itu tidak mengenal perempuan cantik yang menghampirinya sebagai Katie Holmes. "Saya tidak mengnal siapa dia. Saya bilang kepada pemimpin koor kami, kalau dia mau bergabung dengan kelompok koor, sangat bagus," kata Romo Costantino.

Romo Constantino juga tidak tahu bahwa dia sudah kembali ke Katolik dan menjadi warga parokinya seperti diberitakan koran-oran di New York. "Itu berita baru untuk saya," ucap sang romo menanggapi berita-berita tersebut.

Meski demikian, Holmes kembali mengikuti perayaan ekaristi di kapel Santa Maria di gereja itu pada pukul 12.05 di sebuah siang belum lama ini bersama belasan orang lainnya. Dia mendengar khotbah Romo Costantino yang berbicara supaya menyembah hanya pada yang benar, yaitu Allah yang hidup.

Ekaristi hari Minggu dirayakan di bagian utama gereja yang sudah berusia satu abad itu, sebuah gereja model basilika Roma, tetapi penuh dengan ornamen sentuhan Amerika dan menjadi salah satu gereja yang megah dan menjadi landmark Kota New York. Gereja itu baru direnovasi dan menghabiskan dana belasan juta dolar.

"Holmes tanpa ragu diterima sebagai seorang volunteer . Dia bisa mendaftar sebagai anggota koor dan saya tahu ini akan menjadi spetakuler," kata Romo Constantino.

Ya, Suri sudah bersama Katie Holmes di New York dan mungkin sudah mengikuti ibunya ke gereja St Fransiskus Xaverius. Sementara Tom Cruise ditinggal sepi. Dia mengaku sedih karena jauh dari sang buah hati. Keduanya sangat dekat. Ketika harus syuting di luar kota atau bahkan di luar negeri, keduanya tetap berkomunikasi lewat telepon genggam. Itu cara mereka menjaga keintiman sebagai ayah dan anak. Tetapi kini hatinya teriris karena tidak berkomunikasi lagi dengan sang buah hati. (Alex Madji)

Foto: Google

Kamis, 04 Oktober 2012

Perjuangan Hidup Seorang Tuna Netra


Keterbatasan fisik tidak membuat Saono (44) pasrah dalam menjalani hidup ini. Sebaliknya, dia terus berusaha semampunya untuk menghidupi istri dan kedua buah hatinya.

Saono adalah seorang tuna netra. Sebenarnya bapak dua anak ini dilahirkan normal, tak kekurangan suatu apapun. Hingga kelas dua sekolah dasar, penglihatannya masih normal dan menikmati indahnya dunia.

Malapetaka tidak bisa melihat bermula ketika kelas dua SD. Saat itu, tiba-tiba badannya panas tinggi diikuti kejang-kejang. Karena khawatir, orang tuanya membawa Saono kecil ke mantri. Di sana dia disuntik. "Waktu itu di kampung tidak ada dokter. Yang ada mantri," ceritanya saat ditemui di Jalan Joglo Raya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, tepatnya di jalan yang membelah kawasan Puri Botanical Residence, Rabu, 3 Oktober 2012 sore.

Sejak dirawat sang mantri, kondisi pria kelahiran Cilacap Jawa Tengah itu bukannya membaik, malah memburuk. Panasnya memang reda, tetapi penglihatannya terganggu. Objek yang dilihatnya tampak kembar. Karena itu, orang tuanya kembali membawa dia ke mantri dengan keluhan baru. "Waktu itu, mata saya disinari," tuturnya.

Bukannya membaik, penglihatan makin kabur. Lama kelamaan matanya sama sekali tidak bisa melihat cahaya. Tetapi proses menuju ke kebutaan itu tidak seketika. Butuh waktu 8 tahun untuk sampai ke kondisi sama sekali tidak bisa melihat. Saono mengaku mengalami kebutaan total ketika menginjak usia 14 tahun. "Jadi, sekarang sudah berlangsung selama 30 tahun," ucapnya.

Meski tidak bisa melihat, Saono tetap merantau. Dia datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Dia mengambil prefesi sebagai tukang pijat. Seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi, kini Saono menjadi "pria panggilan". Dia melayani pesanan pijit di rumah-rumah melalui telepon. "Saya ini datang ke rumah-rumah, jadi tukang pijit keluarga," ceritanya lebih lanjut.

Penghasilan sebagai tukang pijit sebenarnya lumayan. Dia bisa membayar kontrakan dan menikah. Bukan hanya itu, dia bisa membiayai anak sulungnya sekolah hingga duduk di kelas dua Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat ini. Dia juga masih mampu menyekolahkan anak keduanya yang berusia enam tahun di taman kanak-kanak dan tahun depan masuk SD.

Jual Kerupuk
Tetapi karena tukang pijit tuna netra makin banyak sekarang, maka panggilan untuk pijit kadang-kadang sepi. Menghadapi situasi ini, pria yang tinggal bersama keluarganya di bilangan Meruya Selatan, dekat Universitas Mercubuana, Jakarta Barat itu memutar otak agar asap dapur tetap mengepul.

Dia memilih pekerjaan sampingan sebagai penjual kerupuk. Saono diantar tukang ojek dengan bayaran Rp 10.000 pergi pulang (PP) dari kediamannya ke Jalan Joglo Raya tepatnya di Puri Botanical Residence, Jakarta Barat. Dia dan beberapa temannya sesama tuna netra dan tukang pijit menjajakan kerupuk di kawasan itu setiap sore mulai pukul 15.30 WIB sampai pukul 20.00 WIB atau paling lambat pukul 20.30 WIB.

Tidak setiap hari memang. Mereka berjualan kalau tidak ada pesanan untuk pijit. Karena itu, jumlah mereka yang berjualan di Puri Botanical ini tidak tentu. Kadang tiga, empat, atau lima orang sehari. "Kalau tidak ada pesanan pijit saya jualan kerupuk. Tetapi ketika saya sudah jualan kerupuk di sini, lalu tiba-tiba ada telepon masuk untuk minta dipijit, saya tidak bisa melayani," ceritanya.

Setiap hari dia membawa 40-50 bungkus kerupuk yang dijual Rp 6.000 per plastik isi lima buah krupuk putih yang kriuk-kriuk itu. Rabu, 3 Oktober 2012 sore itu, dia membawa 40 bungkus kerupuk. Kadang laku banyak hingga 20-30 bungkus, bila ada yang borong. Tapi kadang hanya laku 10 plastik.

Kerupuk-kerupuk itu bukan miliknya sendiri. Dia hanya mendapat upah dari sisa setoran sebesar Rp 3.500 per bungkus kepada majikannya. Artinya dia hanya mendapat Rp 2.500 per bungkus (Rp 6.000-3.5000). Jadi, bila hanya bisa menjual 10 bungkus sehari, Saono dan kawan-kawannya mendapat Rp 25.000 sehari. Tetapi yang dibawa pulang ke rumah hanya Rp 15.000, karena harus dikurangi sewa ojek sebesar Rp 10.000 pergi pulang. Nilai yang dibawah ke rumah akan semakin besar kalau jumlah yang laku semakin banyak.

Meski tak seberapa hasilnya, Saono merasa bangga bisa mendapat penghasilan sampingan dan cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur. "Daripada nganggur mas," ucapnya sedikit bangga.

Saono bercerita, kalau hanya mengandalkan penghasilan sebagai tukang pijit tentu tidak cukup. Meskipun penghasilannya lebih bagus dari berjualan kerupuk. Apalagi harga kontrakan terus naik. Begitu juga harga kebutuhan pokok, belum lagi uang sekolah anak. "Yang pasti itu, harus bayar kontrakan setiap bulan. Terlambat sehari saja, pemilik kontrakan sudah datang mengetuk-ngetuk pintu. Kalau terlambat dua tiga hari, kita sudah diusir," tuturnya sambil terkekeh.

Meski demikian, Saono merasa bahwa Tuhan selalu memberi jalan kepadanya dan teman-temannya. Karena toh, kebutuhan-kebutuhan mereka sebagai orang kecil selalu tercukupi selama ini. Bukan untuk hidup mewah seperti para koruptor negeri ini, tetapi sekedar untuk mempertahankan hidup. "Meski kurang, tetapi kita tutup dengan percaya." ujarnya penuh yakin. (Alex Madji)

Foto: Saono sedang menjajakan krupuknya di Puri Botanical Residence, Jalan Joglo Raya, Jakarta Barat. (ciarciar/Alex Madji)

Rabu, 03 Oktober 2012

Angelina Jolie Tidak Beragama, Juga Tidak Ateis


Melacak agama Aktris Hollywood Angelina Jolie tidak mudah. Tidak ada satu sumber pun yang memberi isyarat satu agama yang dianut artis yang sudah tiga kali menikah itu. Jolie sendiri menegaskan bahwa dia tidak menganut satu agama apa pun. Tetapi pada saat bersamaan dia juga tidak terang-terangan mengungkapkan diri sebagai seorang ateis (tidak beragama), seperti yang dilakukan artis-artis lainnya.

Tetapi perempuan cantik ini bertumbuh di dalam sebuah keluarga Katolik yang taat. Ibunya, Marcheline Bertrand yang menikah dengan Jon Voight dan melahirkan Angelina Jolie pada 4 Juni 1975, adalah seorang penganut Katolik yang taat. Hal itu diungkapkan sendiri oleh Angelina Jolie dalam sebuah wawancara yang dimuat di www.parade.com, 9 Juli 2010.

"Ibu saya memiliki iman yang indah. Dia mencintai Yesus. Dia seorang katolik dan memiliki kenangan yang indah tentang pertumbuhan imannya. Dia suka ke gereja. Dia juga tahu bahwa ada hal-hal yang pasti di dalam gereja yang begitu ekstrim untuk kehidupan modern. Dia tidak menerima semua ajaran gereja dan kadang melawan gereja. Tetapi dia tetap berjalan bersama Yesus. Saya melihat spiritualitasnya sangat indah. Kalau kami tidak ke gereja pada hari Minggu, dia bilang, Tuhan menginginkan saya menghabiskan waktu bersama ana-anak saya, tertawa dengan mereka. Itulah Allah yang saya percaya, Allah yang menginginkan. Ibu saya benar dan kami melewati hari-hari yang indah dan menyenangkan," kata Angelina Jolie dalam wancara tersebut

Meski bertumbuh dalam keluarga seperti itu, dalam proses pertumbuhan selanjutnya, agama Angelina Jolie menjadi tidak jelas. Dalam setiap wawancara dengannya, masalah yang satu ini sulit terungkap. Paling tidak, sampai tahun 2000, Angelilna Jolie tidak punya agama khusus, dan secara personal merasa tidak butuh Allah, juga tidak suka dengan kekuasaan yang berdasarkan agama. Tetapi dia juga tidak berani mendeklarasikan dirinya sebagai ateis. Dia hanya berharap, Allah itu mengulurkan tangannya kepada mereka yang mengabdikan hidupnya berdasarkan kepercayaan agama yang dianutnya.

Sebuah website A.V Club yang berafiliasi dengan majalah The Onion pernah melontarkan pertanyaan, "Apakah Tuhan itu ada?" kepada sekelompok artis. Ada 52 orang artis yang menjawab pertanyaan itu, termasuk Angelina Jolie. Istri Brad Pitt ini menjawab, "Hmm...untuk beberapa orang. Saya harap seperti itu untuk mereka. Bagi mereka yang percaya, saya berharap seperti itu. Bagi saya tidak perlu ada Allah. Ada sesuatu dalam spiritual orang yang terasa seperti allah. Saya tidak merasa melakukan sesuatu hanya karena orang mengatakan, tetapi juga tidak sungguh tahu kalau itu lebih baik daripada tidak percaya sama sekali."

Pernyataan ini menurut www.atheistrev.com merupakan indikasi sangat jelas bahwa mantan istri Jonny Lee Miller (1996-1999) itu adalah seorang ateis, meskipun dia tidak secara jelas tegas memproklamirkannya.

Budhis
Sejumlah spekulasi kemudian menyebutkan bahwa sekarang mantan suami Billy Bob Thornton (2000-2003) itu memeluk Budha. Bahkan ada rumor yang menyebutkan bahwa pernikahannya dengan Brad Pitt pada 2005 dilakukan dalam tata cara Budha. Tetapi dia sama sekali tidak memperlihatkan diri sebagai seorang penganut Budha yang taat.

Spekulasi itu kemungkinan muncul karena Angelina Jolie memiliki seorang anak angkat dari Kamboja bernama Maddox Chivan yang diadopsinya sejak umur delapan bulan. Anak yang lahir di Rath Vibol, Phnom Penh 5 Agustus 2001 ini tetap menganut Agama Budha. "Saya punya seorang anak (angkat) bergama Budha. Kami menghabiskan banyak waktu di rumah kami di Kamboja. Saya belajar tentang Budisme dan saya mengajarinya sejauh saya bisa. Dia (anak angkatnya) menghabiskan banyak waktu bersama para biarawan Budha dan dia belajar dari mereka (para biarawan)," kata Jolie menceritakan aktivitasnya bersama anak angkatnya itu.

Jolie juga memiliki seorang anak angkat dari Etiopia bernama Zahara Marley yang diadopsi ketika masih berumur enam bulan. Zahara lahir di Yemsrach pada 8 Januari 2005 dari seorang janda pengidap HIV AIDS. Untunglah Zahara sendiri kemudian dinyatakan negatif virus maut itu. "Saya akan memiliki satu orang (anak angkat) beragama Kristen dan Muslim," kata Jolie lagi.

Meski tidak beragama, Jolie mengaku menghormati semua agama. Dalam wawancara lanjutan yang dimuat parade.com, Jolie menegaskan, "Saya menghormati semua agama. Yang saya tidak hormati adalah ketika orang menggunakan agama untuk menyerang yang lain. Saya sudah bertemu banyak orang di seluruh dunia, dengan mereka yang berjuang untuk bertahan hidup. Mereka semua beragama. Kadang agama bisa membantu mereka dan saya tidak akan mengambil mereka dari sana. Tetapi ada juga orang yang memanfaatkan itu untuk membenci dan membunuh. Saya tidak yakin mereka orang beragama."

Berangkat dari kehidupan keagamaannya sendiri, Jolie mengaku akan memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih agama sesuai keyakinannya sendiri. Dan, dia bersama suami ketiganya saat ini Brad Pitt mengajarkan semua agama kepada anak-anaknya. Karena itu di rumah mereka kitab suci berbagai agama tersedia. Ada Injil, Taurat, Alquran dan lainnya. "Kami akan membawa mereka ke gereja, tempel, mengikuti upacara-upacara Budha, masjid dan mengajar mereka tentang semua keyakinan. Biarkan mereka memilih sendiri, agama yang akan dianutnya," ungkapnya dalam wawancara dengan parade.com.

Meski Angelina Jolie nyaman dengan status agama yang tidak jelas, ternyata sang mertua, ibu Brad Pitt, Jane Pitt berang. Bahkan sang mertua sudah membeli sebuah Alkitab sebagai hadiah perkawinan untuk menantunya itu agar bertobat. Gossipcop.com dalam sebuah artikerlnya berjudul, "Angelina Jolie Fighting Brad Pitt's Mom Jane Over Religion" yang diposting pada 18 Juli 2012 pukul 12.58, mengutip "The National Enquirer", menyebutkan bahwa ibu Brad Pitt, Jane Pitt "perang suci" dengan Angelina Jolie.

Enquirer menyebutkan bahwa Jane Pitt sudah membeli sebuah Alkitab untuk dihadiahkan kepada Angelina Jolie guna menyelamatkan nasib menantunya itu. "Jane membeli sebuah Alkitab beberapa minggu lalu untuk membantu menyelamatkan jiwa Angelina dan membawanya lebih dekat dengan Tuhan," jelas nara sumber yang disebut sebagai orang lingkaran dalam keluarga itu sambil menambahkan, "dan berdoa bersamanya agar hidup Brad dan Angelina berlangsung baik."

Masih menurut Enquirer, ketika Angelina mendengar khabar bahwa mertuanya mendoakannya, dia pun berang. Angelina Jolie, menurut orang lingkaran dalamnya, juga sudah muak dengan sang mertua, Jane Pitt. Tak pelak, aksi Jane ini membuat hubungannya dengan sang mertua semakin membeku.

Apapun agama Angelina Jolie, kini dia terlibat aktif dalam misi kemanusiaan. Dia menjadi Duta UNHCR yang mengurus pengungsi. Dia bepergian ke daerah-daerah konflik untuk menyelamatkan jiwa manusia tanpa peduli apa agama mereka. Mungkin yang terpenting bagi Jolie adalah berbuat baik kepada sesama tanpa dibungkus dengan agama tertentu. Kamusiaan adalah “agama” universal. (Alex Madji)

Selasa, 02 Oktober 2012

Estadio Da Luz


Klub ibukota Portugal, Benfica menjamu raksasa Spanyol, Barcelona pada laga kedua babak grup Liga Champions, pada Selasa, 2 Oktober 2012 atau Rabu, 3 Oktober 2012 dini hari WIB di Estadio Da Luz, Lisbon.

Akhir Juni 2012 lalu, ketika meliput Piala Eropa 2012 di Polandia, saya sempat ke Lisbon dan melintas di depan Estadio Da Luz. Berikut saya bagikan foto-foto bagian luar dari stadion kramat bagi Benfica itu.


Sebenarnya, ada satu lagi stadion di Lisbon yang tidak jauh dari stadion ini, yaitu stadion milik klub elite Portugal lainnya, Sporting Lisbon. Tetapi saya waktu itu tidak sempat ke sana, dan beruntung sekali saya melintas di depan Estadio Da Luz.

Di sinilah Benfica menjamu Barcelona pada babak grup Liga Champions musim 2012/2013 ini.

Foto diambil oleh Alex Madji

Hari Batik Nasional Tanpa Batik


Hari ini, Selasa, 2 Oktober 2012, adalah hari batik nasional. Hari batik nasional sudah ditetapkan melalui Keputusan Presiden No 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik Nasional. Tanggal 2 Oktober dipilih sebagai Hari Batik Nasional karena pada tanggal itu Badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. UNESCO memasukkan batik dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia. Pengakuan terhadap batik merupakan pengakuan internasional terhadap mata budaya Indonesia.

Sudah tiga tahun hari batik nasional ini berjalan. Tetapi gemanya minim. 1 Oktober 2012, beberapa sahabat mengirim pesan via blackberry messenger alias BBM baik secara pribadi maupun melaui grup yang isinya mengingatkan saya untuk mengenakan batik pada hari batik nasional ini.

Begini bunyi BBM yang disampaikan secara berantai itu, "Boleh ya mengingatkan bahwa besok tgl 2 okt adalah Hari Batik Nasional. Jangan lupa pakai Batik ya.... Mohon bantuan utk mengingatkan teman, saudara, anak, atau siapapun yg dikenal utk mengajaknya memakai Batik. Terimakasih atas kesediaannya bergabung memakai Batik di esok hari. Selamat beraktifitas."

Ingat akan BBM sang sahabat, saya lalu pakai batik warna merah marun, Selasa, 2 Oktober 2012 ini. Padahal, saya biasanya mengenakan batik pada setiap hari Jumat. Tetapi, saya kaget karena di tempat saya bekerja, tidak banyak yang mengenakan batik. Hanya segelintir orang mengenakan batik yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Lalu saya coba bertanya ke sejumlah teman di luar kantor. Seorang kawan yang bekerja di Rumah Sakit St Carolus di Jakarta Pusat, Santi menginformasikan bahwa para karyawan di rumah sakit itu mengenakan seragam biasa, bukan batik. Teman lainnya lagi dari kawasan Sudriman, Monita, juga menginformasikan bahwa di tempat kerja mereka, tidak banyak yang mengenakan batik. Padahal tidak ada juga kewajiban mengenakan seragam di kantornya.

Seorang teman lain di kawasan Jalan Thamrin, Joy, juga menginformasikan bahwa rekan-rekan sekantornya mengenakan seragam seperti biasa. Hanya, karyawan yang tidak punya seragam yang mengenakan batik.

Bahkan seorang abdi negara dari kawasan Tangerang mengaku tetap mengenakan seragam pegawai negeri sipil, bukan batik. Secara kelakar dia menulis begini, "Saya pk (pakai) uniform bos tp (tetapi) dalemannya batik hahahaha."

Wajib Batik
Sementara satu rekan yang bekerja di perusahan asuransi AIA, Linda, menginformasikan bahwa perusahannya mewajibkan karyawannya di seluruh Indonesia untuk mengenakan batik pada hari batik nasional ini. Teman lainnya lagi, Ino, mengabarkan, "Saya penggemar batik lengan pendek, model kemeja biasa. Enak dan nyaman di badan ke manapun."

Memang tidak ada yang salah kalau tidak mengenakan batik pada hari batik nasional ini. Tetapi seyogyanya mengenakan batik sebagai bentuk penghargaan dan kebanggaan atas produk khas Indonesia yang diakui dunia. Kita hanya cepat marah kalau batik "diakuisisi" negara tetangga, Malaysia. Tetapi begitu UNESCO sudah menetapkannya sebagai miliki kita, malah reaksi kita biasa-biasa saja. Apa kita harus tunggu dan malu ketika semua orang Malaysia mengenakan batik di negaranya baru kita marah? Harap tidak.

Maka peran pemerintah dan lembaga swasta untuk mensosialisasikan ini penting. Tetapi karena ini sudah ditetapkan melalui Kepres, maka sebaiknya pemerintah mewajibkan seluruh rakyat Indonesia untuk mengenakan batik pada hari batik nasional ini. Hingga tahun ketiga ini, sosialisasi hari batik nasional sangat minim. Menjelang 2 Oktober 2012, sosialisasinya hanya lewat media-media sosial. Itupun tidak massif. Diharapkan tahun depan, memakai batik pada hari batik nasional ini menjadi sebuah gerakan bersama rakyat Indonesia. Sehingga, hari batik nasional betul-betul memakai batik. Bukan yang lain. (Alex Madji)

Foto: Situasi di sebuah kantor pada hari batik nasional (Foto: Alex Madji)

Senin, 01 Oktober 2012

Pulihnya Kepercayaan Lembaga Survei


Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta sudah mengumumkan hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) ibukota negara ini, Jumat, 28 September 2012 sore. Hasilnya, pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) meraih suara terbanyak dengan 53,82 persen dari total 4.592.945 orang yang menggunakan hak pilih. Sedangakan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) hanya mengumpulkan 46,17 persen.

Angka ini tidak terlalu beda jauh dengan hitung cepat (quick count) semua lembaga survei pada hari pemungutan suara 20 September 2012. Semua hasil hitung cepat menempatkan pasangan Jokowi-Ahok sebagai pemenang Pemilukada DKI Jakarta. Pasangan Foke sendiri sudah menyampaikan ucapan selamat kepada Jokowi yang akan menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017, ketika hitung cepat semua lembaga survei hampir memasuki angka 100 persen.

Tetapi dari sekian banyak lembaga yang melakukan hitung cepat, ada dua lembaga survei yang nyaris tepat dengan hasil penetapan KPU Jakarta tersebut. Deviasi angkanya sangat kecil. Kedua lembaga itu adalah Lembaga Survei Indonesia dan Lingkaran Survei Indonesia yang sama-sama disingkat LSI. Yang paling mendekati hasil hitungan manual KPU DKI Jakarta adalah hasil hitung cepat Lembaga Survei Indonesia . Menurut hitung cepat lembaga ini, pasangan Jokowi-Ahok meraih suara 53,81 persen suara, sedangkan Foke-Nara 46,19 persen. Sementara menurut hitung cepat Lingkaran Survei Indonesia (LSI), pasangan Jokowi-Ahok meraih 53,69 persen suara dan Jokowi Ahok 46,31 persen.

Sementara hasil hitung cepat Kompas menempatkan pasangan Jokowi-Ahok pada angka 52,97 persen dan Foke-Nara 47,03 persen. Kali ini, Kompas tergeser oleh dua lembaga survei tersebut. Pada putaran pertama, hitung cepat versi Kompas inilah yang paling mendekati hasil perhitungan manual KPU dibandingkan lembaga-lembaga survei manapun, termasuk dua lembaga survei di atas.

Tetapi Kompas tidak sendirian. Lembaga survei lainnya, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang juga melakukan hitung cepat mengunggulkan pasangan Jokowi-Ahok meraih dukungan 52,91% suara, unggul atas Foke-Nara yang memperoleh 47,09%.

Sedangkan menurut hitungan Indobarometer, pasangan Jokowi-Ahok meraih 54,11 persen dan Foke-Nara 45,89 persen. Hasil ini hampir sama dengan hasil hitung cepat Cyrus Network yang mengungguli pasangan Jokowi-Ahok dengan 54,72 persen dan
Foke-Nara dengan 45,28 persen

Hasil hitung cepat paling jauh dari hasil hitungan manual KPU DKI Jakarta adalah versi Indonesia Network Election Survey yang mengungguli pasangan Jokowi-Ahok dengan 57,39 persen dan Foke-Nara dengan 42,61 persen.

Bukan Uang
Ketepatan hitungan dua lembaga survei tadi yang sama-sama disingkat LSI cukup mengembalikan kredibilitas lembaga survei di negara ini, terutama bila melihat sepak terjang mereka selama proses Pemilukada DKI Jakarta. Pasalnya, sejak sebelum pemungutan suara putaran pertama, hampir semua lembaga survei menjagokan dan mengungguli pasangan Foke-Nara. Bahkan ada di antara lembaga itu yang meramal, pasangan Foke-Nara menang dalam satu putaran.

Hasil survei mereka ternyata meleset. Hasil Pemilukada putaran pertama memperlihatkan, pasangan Jokowi-Ahok unggul jauh atas pasangan Foke-Nara. Kemudian muncul dugaan bahwa lembaga-lembaga tersebut sudah dibayar oleh pasangan Foke-Nara sehinga hasilnya pun semuanya mengunggulkan Foke-Nara.

Entah belajar dari pengalaman tersebut, menjelang putaran kedua, tidak ada satu pun lembaga survei yang melakukan survei. Lembaga-lembaga ini baru muncul pada hitung cepat di hari pemungutan suara dengan hasil seperti yang sudah saya sampaikan di atas tadi.

Poin yang mau saya sampaikan adalah bawah seyogyanya lembaga-lembaga survei itu tidak tunduk pada lembaga/instansi/orang per orangan yang membayar. Untuk mendapat hasil yang objektif, mereka tetap harus tunduk pada prinsip-prinsip survei yang benar dengan menggunakan metodelogi yang bisa dipertanggungjawabkan. Hanya dengan begitu, mereka membangun lembaga intelektual yang terpercaya dan bukan tidak mungkin dibayar dengan nilai yang lebih fantastis daripada sekedar menghasilkan survei berdasarkan pesanan belaka. (Alex Madji)