Tampilkan postingan dengan label Dr Heri Soewarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dr Heri Soewarno. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Desember 2012

Pada Quantum Itu....


Seorang teman saya, Julius Jera Rema atau yang dikenal dengan inisial JJR menuliskan pengalaman proses penyembuhannya di sebuah mailing list. Sebenarnya secara matematis, seharusnya JJR telah tiada. Tetapi nyawanya terselamatkan oleh seseorang bernama Dokter Heri Soewarno. Itulah mukjizat yang pernah dialami JJR dalam hidupnya. Pengalaman tersebut sudah saya tulis di blog ini.

Tetapi kali ini, JJR sendiri mengisahkan sebuah proses penyembuhannya. Sebuah dialog antara JJR dengan dokter Heri. Atas seijin dia, saya menerbitkan penuturannya tersebut di blog ini.


"Apa yang JJR tahu tentang prinsip dasar terapi (akupuntur) ini," tanya dokter Heri, suatu ketika. Saya jawab, tidak tahu! Dia melanjutkan, "bagian apa dalam tubuh (badan) kita yang paling kecil?" Saya jawab, "sel!" "Anda adalah orang kesekian ribu yang salah menjawab," kata dr Heri.

Kata dia, bagian terkecil dalam tubuh bukan sel! Di bawah sel masih ada molekul, di bawah molekul ada atom, di bawahnya ada proton, lalu newton, selanjutnya "quantum". Newton hingga sel, itu "seeable" alias bisa dilihat, baik dengan mata telanjang juga microskop.

Lalu bagaimana dengan "quantum?" Ini yang menarik!! "Quantum itu mind," kata dr Heri. Tak bisa dilihat tetapi "ada". "Lha, apa itu "big master" (sapaan akrab saya untuk dr Heri)," tanya saya.

Begini: (dia justru menggunakan teori bahasa untuk menjelaskan). Dalam teori "semantik segitiga" bahasa, quantum hanya memenuhi prinsip segi dua. Jika "semantik segitiga" mensyaratkan tanda/lambang, konsep, dan referen atau objek, teori ini tidak bisa menjelaskan "quantum". Sebab, quantum hanya mempunyai unsur tanda (q-u-a-n-t-u-m), serta konsep dalam pikiran yang disepakati sebagai quantum, tetapi tanpa referen. Tidak ada yang bisa dilihat (indra) sebagai referen/objek quantum karena makluk ini memang tidak bisa dilihat. "Dia ada, tapi tiada, tiada tapi ada hahhaha," dr Heri terbahak, merespon kebingungan saya.

Lalu, apa urusannya dengan terapi ini? Saya balik bertanya. Jarum akupuntur ini dari aluminium, dr Heri mulai menjelaskan. Jenis logam ini bersenyawa dangan atom tubuh kita. Saat ditusuk ke tubuh, dia bertemu atom tubuh dan bersenyawa membentuk molekul tubuh. Molekul lalu bertemu nutrisi makanan, mereka membentuk sel tubuh. Selanjutnya, sel yang rusak dalam tubuh diganti sel baru melalui mekanisme organisme tubuh.

"Nah, tapi kan ada proton dan newton, serta quantum yang di bawah atom itu, kemana mereka? Apakah mereka tidak bersenyawa dengan atom dan molekul tubuh untuk membentuk sel tubuh," saya lanjut bertanya.

"Pertanyaan bagus, "kata dr Heri. "Begini: prinsip kerja proton dan newton itu dua arah. Pertama, peka (respon) ke atas yakni ke atom, kedua, peka ke bawah yakni ke quantum. Kerja atom seperti yang saya jelaskan tadi. Tapi kerja quantum?? Karena quantum hanya "ada" dari "tiada", "tiada" tapi "ada" maka saya boleh menyebutnya "mind". Quantum ada pada "mind", tetapi "mind" itu mensyaratkan "keyakinan" alias "belief/trust"! Menghadirkan quantum hanya bisa lewat "mind" yang diperkuat "belief", jelas dr Heri lebih lanjut.

"Apa agamamu," tanya dr heri. "Saya katolik". Ya, apakah ada dalam agamamu sesuatu yang tidak kalian lihat tapi kalian percaya memberi pertolongan? saya jawab ada! "Namanya Roh Kudus", kata saya sekenanya hahahhaaaa.

"Nah, good! Dalam teori terapi ini, saya menyebutnya quantum, dan JJR menyebutnya Roh Kudus. Itu sama, hanya kita menyebutnya berbeda," kata dokter Heri.

Dia melanjutkan, "Ingat waktu pertama kali saya terapi JJR, saya katakan jarum ini hanya alat, yang menyembuhkan kamu itu "Yang Di Atas". Karena itu saya minta kamu berdoa.

Secara teknik, jika kita mampu menghadirkan quantum dangan penuh keyakinan, maka bagian tubuh yang paling peka adalah proton dan newton. Keduanya segera merespon dan seketika bersenyawa dengan atom, lalu molekul, lalu sel. Demikian seterusnya."

"Big master, ajari saya cara efektif menghadirkan quantum," saya meminta. "Gampang, "kata dia. "Kamu sering-sering meditasi. Cara berdoa ini punya banyak manfaat. Secara spiritual bisa terkait langsung dengan quantum, tetapi secara fisik bisa menjaga keseimbangan psikis dan fisik. Hanya ada dua tempat yang bagus di bumi ini untuk meditasi. Anda ke gunung sekalian atau anda ke tepi pantai. Di dua tempat itu oksigen (o2) sangat bagus, tidak hanya kualitas tapi juga bobotnya."

"Secara fisik, meditasi mensyaratkan hening. Hening memudahkan respon saraf, baik saraf sadar dalam tubuh maupun saraf tak sadar. Pusat saraf sadar adalah otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Orientasi otak kiri (logis, matematis), otak kanan (seni, rasa, intuisi, juga nurani). Quantum dekat dengan otak kanan."

"Pusat saraf tidak sadar adalah sum-sum tulang belakang. Ada 2 jenis sarah tak sadar yakni saraf simpatetik dan saraf parasimpatetik. Saraf tak sadar ini yangg menggerakkan irama jantung, ginjal, limpah, hati, dll. Secara mekanik, jika ada respon pada otak kanan yang menyenangkan, pesan itu langsung ditangkap saraf parasimpatetik (tak sadar) untuk selanjutnya memberi sinyal pada jantung. Seketika irama jantung lebih pelan, smooth, dan seseorang merasa lebih cool, tentram. Tak heran jika kondisi ini yang diharapkan seseorang dalam mengambil keputusan penting. Jika ini yg terjadi, seseorang itu akan mengatakan," jelas de Heri panjang lebar.

"Saya bersyukur karena memutuskan sesuatu berdasarkan kata hati, suara hati (nurani)," gumam saya dalam hati. Padahal, secara fisik yang disebut kata hati itu adalah pekerjaan otak kanan. Demikian juga jika pesan dari otak kanan adalah sebaliknya, maka sinyal itu langsung ditangkap saraf simpatetik. Dampaknya otomatis berlawanan dengan parasimpatetik. Kacau, stress, marah marah, dll.

Secara spiritual, meditasi itu jalan masuk menghadirkan quantum (roh kudus). Yang tampak abstrak ini ternyata bisa dijelaskan secara konkrit dalam teori Dokter Heri.

"Jika Anda, melalui "mind" dengan penuh keyakinan mengharapkan quantum agar ada, maka dia ada. Untuk memastikan "ada"nya yang abstrak itu, ternyata bisa secara konkrit dikonfirmasi melalui perpaduan saraf sadar dan saraf tak sadar sekaligus. Ada banyak feel yang bisa dipakai, tetapi yg gampang adalah rasakan irama jantungmu, jika lebih pelan, teratur, dan anda tentram, itu pekerjaan quantum," kata dr Heri.

Tak heran, jika dr Heri terus berharap saya rajin meditasi. Meski, untuk mencapai keseimbangan seperti yang diharapkan, masih jauh dari ideal. Apalagi, meditasi dengan orientasi luar biasa yakni quantum itu tadi. Itu sungguh sebuah perjuangan yang tak boleh lelah.

Saya bersyukur bisa bertemu dokter budhis ini yang tampak lebih katolik dari saya hahahaa. Saya makin kagum aja hehehee.

Dalam termangu, aku hanya bisa berbisik dalam hati, "akhhh, dr Heri mau suruh saya berdoa aja muternya jauh amat, pake teori atom proton sgala hahahaaa".....tetapi, kenapa penjelasannya logis dan bisa saya trima?? Lebih dari itu saya adalah orang yang langsung mendapat manfaatnya......??
Terserahlah, hanya Tuhan dan dr Heri yang tau....

Thanks Tuhan, thanks dokter Heri.....

Begitulah penuturan JJR tentang dialognya dengan dr Heri. Atas saran Sang Master, JJR pun rutin bermeditasi di pertapaan Romo Yohanes Indrakusuma di Lembah Karmel Ocarm, Cipanas, Jawa Barat. Penuturan ini pun ditulisanya dari sana, di tengah-tengah keheningan meditasinya, merasakan kuantum yang ada tapi tak nyata. (Alex Madji)

Foto: Julius Jera Rema atau JJR dengan kaca mata hitam yang menjadi ciri khasnya. (Foto: Alex Madji)

Senin, 17 September 2012

Ini Betul-betul Penyelenggaraan Tuhan


Julias Jera Rema atau dikenal dengan inisial JJR bukan orang terkenal. Bukan seorang pengusaha, apalagi politisi. Dia orang biasa, seorang kuli tinta di sebuah surat khabar ekonomi ibu kota. Tetapi kisah hidupnya mengagumkan.

Dia terselamatkan dari maut yang hampir merenggutnya akibat sakit yang dideritanya. Saya tidak pernah mengira bahwa pria yang selalu tampil gagah dengan kacamata hitam itu mengidap penyakit kronis. Badannya cukup atletis. Selalu ceria dan penuh canda tawa setiap kali bertemu.

Belakangan baru saya tahu, ternyata dia hanya hidup dengan satu ginjal, setelah menjalani operasi ginjal pada 2007. Lima tahun berselang, JJR belum terlalu mengalami persoalan dengan kesehatannya. Sampai pada Mei 2012, terpaksa dirawat di Rumah Sakit Siloam Karet, Semanggi, Jakarta, lagi-lagi karena masalah ginjal yang tersisa satu itu.

Di rumah sakit tersebut, ternyata ditemukan penyakit lain yaitu jantungnya melemah. Bagai sudah terjatuh, tertimpa tangga pula. Itulah yang dialami JJR. Belum beres soal ginjalnya, pihak rumah sakit mengusulkan agar dilakukan pemasangan balon pada jantungnya. Dan, satu-satunya cara untuk itu adalah operasi atau istilah dia “dibelek”. Setelah agak membaik, JJR memutuskan tinggalkan rumah sakit itu, dengan menyisakan persoalan besar.

Tetapi di rumah, kondisi JJR bukannya membaik. Malah memburuk. Seluruh badannya bengkak-bengkak. "Badan saya hancur, dari muka sampai kaki. Bengkak semua," tuturnya dalam perjumpaan di sebuah pojokan Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta Timur, Jumat, 14 September 2012 petang.

Maka Juni 2012, dia kembali masuk rumah sakit. Kali ini ke Rumah Sakit St Carolus di Jalan Salemba, Jakarta Pusat. Keadaannya parah. Untuk sampai ke rumah sakit itu saja dengan susah payah. Sempoyongan. Sangat lemah. Dia harus beberapa kali menghimpun kekuatan untuk melanjutkan perjalanan.

Sesampai di sana, Dokter memfonis, ginjalnya secara teoritis sudah off alias tidak berfungsi. "Beruntung saya masih hidup. Betul-betul mukjizat Tuhan. Ginjal yang sudah off itu bisa on kembali," ceritanya bersemangat.

Tidak hanya itu. Fungsi jantungnya sangat-sangat lemah. Ada angkanya dalam persentase, tetapi JJR minta tidak ditulis. Yang pasti, menurut pengakuan dokter yang menerimanya, dia adalah pasien dengan fungsi jantung terlemah yang penah diterima rumah sakit tersebut. Bahkan, dengan fungsi jantung yang hanya sekian persen itu, dia seharusnya sudah menghadap Tuhan.

"Tetapi betul-betul rahmat Tuhan bahwa saya misah bisa hidup hingga saat ini. Hari demi hari saya menjalani perawatan di rumah sakit. Dokter melakukan penindakan atas diri saya. Berbagai macam obat harus saya minum, sampai akhirnya kondisi sedikit membaik," ceritanya lebih lanjut.

Dr Heri Soewarno
Meski mengalami perubahan, jantung pria yang sore itu mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku tetap bermasalah. Rumah Sakit St Carolus menawarkan solusi sama seperti yang keluarkan RS Siloam sebelumnya, harus menjalani operasi pemasangan balon pada jantungnya. Atau, JJR harus minum sekian banyak obat sambil melakukan pengobatan alternatif dengan akupuntur. JJR membayangkan tubuhnya dibelek, sambil juga memikirkan biaya operasi yang sangat mahal. "Ngeri ngero," ujarnya dengan gaya yang khas.

Karena takut dioperasi, JJR memilih minum obat yang sangat banyak itu dengan risiko bahwa ginjalnya juga akan terkena dampak dari obat-obat tersebut. Selain itu dia memilih pengobatan alternatif yaitu dengan cara akupuntur.

Untuk pengobatan yang terakhir ini, dia bertemu Dr Heri Soewarno yang berpraktek di bilangan Menteng Jakarta Pusat. Dokter ini adalah seorang ahli “chi” dan akupuntur. JJR menjalani pengobatan tusuk jarum untuk menyentuh komponen terkecil dalam tubuhnya. Menurut dokter ini, ternyata bagian terkecil dalam tubuh manusia bukan sel, tetapi atom. Di atas atom ada molekul, baru sel. Atom-atom dalam tubuh JJR didibangunkan dan memberi efek positif pada molekul dan akhirnya pada sel, dan ternyata sukses.

Setelah sekitar 12 kali menjalani pengobatan akupuntur dengan biaya Rp 250.000 sampai Rp 300.000 sekali datang, fungsi jantung JJR mengalami peningkatan hingga mencapai hampir 100 persen dari kondisi ketika masuk rumah sakit. Saat ini fungsi jantungnya berada di atas 40 persen, tetapi masih di bawah 50 persen. Sedangkan denyut jantungnya sudah masuk kategori normal.

Total dana yang sudah dikeluarkan JJR untuk merawat sakitnya ini tidak sedikit. Sudah mencapai Rp 60 sampai 70 juta. Tetapi dia tidak peduli dengan uang sebanyak itu. Bagi dia yang terpenting kondisinya membaik.

Selain menjalani pengobatan medis, JJR mulai rutin meditasi. Tempat yang paling bagus untuk ini adalah pertapaan Rm Yohanes Indrakusuma Ocarm di Cikanyere, Cipanas, Jawa Barat. Hampir dua kali sebulan dia mengikuti meditasi di pertapaan ordo CSE itu. Itupun tergantung jadwal di pertapaan tersebut. Meditasi dipilih sebagai bagian dari proses penyembuhan dari dalam diri.

Semua itu dijalani JJR hanya demi kesehatannya. Dia begitu penuh harapan. Segala bentuk pengobatan itu akhirnya membuahkan hasil. Fungsi jantungnya terus membaik berkat sentuhan Dr Heri Soewarno, meditasi yang dijalaninnya serta berbagai obat yang diminumnya. Lebih dari itu, JJR menyadari bahwa kehidupan yang sedang dijalaninya saat ini betul-betul hanya karunia Tuhan. Kini JJR bisa kembali ceria. Bepergian ke mana-mana dan berbagi cerita dengan penuh gelak tawanya yang khas. Penampilan fisiknya pun seolah-olah tidak sedang mengalami sakit berat. Kaca mata hitam tidak pernah lepas, entah di kepala atau di antara kancing bajunya. (Alex Madji)

Foto: Julius Jera Rema atau JJR dalam kondisinya paling akhir. (Foto: Alex Madji)