Rabu, 31 Oktober 2012

Tidak Benar Tom Cruise Masuk Islam


Rabu, 31 Oktober 2012 saya mencoba menelusuri tentang Leon Osman, pemain Everton yang ikut mencetak gol ke gawang Liverpool pada derby Merseyside pekan lalu yang berakhir imbang 2-2. Saya memang penasaran dengan pemain ini. Tetapi tiba-tiba saya menemukan sebuah percakapan di Nairaland Forum yang menyebutkan bahwa bintang film Tom Cruise pindah ke Islam.

Padahal, belum lama ini (bulan ini juga) saya menulis tentang dia, terutama soal perceraiannya dengan Katie Holmes. Dalam tulisan itu saya menyebutkan bahwa Tom Cruise adalah penganut sekte Schientologist yang taat. Bahkan, gara-gara agama ini yang "dipaksakan" untuk dianut putri mereka, Suri, menjadi penyebab perceraian keduanya. Kini Katie yang tadinya penganut Katolik tinggal di New York dan kembali memeluk Katolik.

Saya lalu mencoba mencari tahu kebenaran informasi ini. Rekan sesama artis dan satu sekte dengan Tom Cruise, John Travolta langsung membantah gosip ini. "Saya tidak percaya dia melakukan ini. Tom adalah seorang penganut Scientologist yang sempurna. Bukan hanya itu. Dia sudah berada pada level ke-9 Xenu Warrior Wizard. Bagaimana mungkin dia bisa keluar dari itu semua," argumen John Travolta sengit menanggapi gosip murahan tersebut.

Rumor yang sama juga pernah ditanyakan anggota answers.yahoo.com. Seseorang yang menggunakan akun DapperDo menanyakan, "Rumor membanjiri sekolah saya, katanya Tom Cruises sudah resmi menjadi muslim. Apakah ada orang yang mengetahui ini atau ada komentar?"

Menjawab pertanyaan ini, banyak sekali anggota forum menjawab yang pada intinya menegaskan bahwa rumor itu tidak benar. Anggota forum itu yang menggunakan akun !*ZOEY*!, misalnya mengatakan, "Tidak, saya tidak pernah mendengar itu. Itu mungkin hanya sebuah rumor di sekolah Anda. Tom itu penganut Scientologist".

wiki.answers.com juga membenarkan bahwa Tom Cruises masih seorang penganut Scientologist. Begitu juga my.gurl.com. Seseorang yang menggunakan akun gURLstaff_alli di grup itu mengatakan bahwa gosip itu tidak benar. Sumber gosip itu, kata dia, adalah uncyclopedia. Kata "un" saja menunjukkan bahwa informasi itu tidak benar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Omar Mukhtar di Ummah Forum (ummah.com) juga menilai gosip itu adalah khabar angin yang sama sekali tidak benar. Peserta lain di forum itu juga menilai, itu fiksi belaka. Anggota lainnya lagi mengatakan, ini rumor lama. Tom Cruise masih menganut Scientologist.

Dari semua informasi yang saya dapatkan di atas bisa dipastikan bahwa Tom Cruise tidak pindah ke Islam dan dia masih menganut Scientologist. Rumor seperti ini ditiupkan karena ada semacam tren di kalangan selebriti dunia untuk gonta ganti agama, sama seperti kegemaran mereka gonta ganti pasangan hidup. (Alex Madji)






Senin, 29 Oktober 2012

Mimpi "TIJ" di Tengah Maraknya Media Online


Pertumbuhan media online di Indonesia makin subur. Setelah sekian banyak media online muncul, Satu lagi media online "The Indonesian Journalist" (TIJ) meluncur ke publik Indonesia bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2012. Karena itu, tema yang diangkat redaksinya untuk edisi perdana ini adalah Sumpah Pemuda.

Sejumlah wartawan senior dari berbagai media ikut bicara soal topik ini. Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan dan Investor Daily Primus Dorimulu menulis "Jika Saya Presiden". Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Trias Kuncahyono menulis tentang "Zaman Edan dan Gerakan Mahasiswa". Sementara wartawan senior Mayong Suryolaksono menulis tentang "Nasionalisme Hanya Pepesan Kosong".

Masih ada beberapa pemimpin media online lainnya yang menulis di situ dengan judul tulisan yang bervariasi dan menguliti Sumpah Pemuda. Selain mereka, ada juga pengamat dan analis, tokoh agama, dan aktivis gerakan, seperti Direktur Eksekutif KPPD yang juga pakar dan pengamat Otonomi Daerah Robert Endi Jaweng, tokoh agama seperti KH Maman Imanulhaq, dan Noviandy Ginting, Ketua Presidium GMNI periode 2011-2013.

Narasumber utama untuk media baru ini adalah wartawan karena memang dia dibidani oleh para jurnalis. Bukan hanya itu. Arah media ini adalah dari, oleh, dan untuk jurnalis. Hal itu tergambar oleh tulisan sang Pemimpin Umum AM Putut Prabantoro yang mengklaim bahwa "Situs opini ini memang merupakan yang pertama di Indonesia dengan menitikberatkan wartawan sebagai narasumber. Rekan-rekan wartawan yang bergabung dalam TIJ melihat bahwa banyak rekan wartawan bahkan wartawan senior yang memiliki pemikiran baik dan mengagumkan untuk Indonesia. Namun sayang, mereka tidak memiliki ruang di medianya masing-masing karena terikat pada aturan kode etik jurnalisme dalam berkarya."

Putut melanjutkan, "Kami memulai dengan cara yang sederhana dan berharap bahwa yang sederhana ini akan mengubah cara pandang, berpikir dan bertindak bangsa ini dalam melihat dirinya. Tak perlu bertanya lagi, apakah kita peru berubah atau tidak. Yang perlu ditanyakan seberapa cepat kita berubah. Kecepatan perubahan ini akan menentukan ketahanan diri bangsa Indonesia untuk tetap berdiri tegak di tengah-tengah persaingan nilai-nilai global."

"Tanpa harus menggurui, apa yang dimuat dalam The Indonesian Journalist.com hanyalah sumbangsih kecil dari para kuli berita yang merasa prihatin akan masa depan negara, bangsa dan masyarakatnya yang tanpa tersadar sudah masuk dalam persaingan sengit Amerika dan Cina," tulis Putut lebih lanjut.

Ditutupnya, "Kami ingin bangsa dan negara ini mampu berdiri tegak dengan kekuatan sendiri di antara negara-negara lain dan pada akhirnya mampu menyejahterakan rakyatnya seperti yang dimaksudkan sila kelima Pancasila. Seperti peribahasa latin yang mengatakan, Quique Aliis Cavit, non Cavet Ipse Sibi - Siapa yang Suka Mengurusi Urusan Orang Lain, berarti Tidak Mampu Mengurus Dirinya Sendiri."

Meski menggunakan nama berbahasa Inggris, media ini semuanya ditulis dalam Bahasa Ingdonesia. Model huruf pada tulisan "The Indonesian Journalist" dengan tagline "jurnalisme tedas" juga mirip dengan "The New York Times", tetapi media ini tetaplah media berbahasa Indonesia. TIJ memiliki 13 kategori utama yaitu Merdeka, Kota Nusantara, Ekonomi, Politik Hukum, Humaniora, Pantura, Inspirasi, Perempuan, Jejak, Kesehatan, Lingkungan, Galeri, dan Resensi.

Pada kemunculan pertamanya ini, TIJ belum berbadan hukum. Paling tidak di laman Meja Redaksi, belum tertera badan hukum yang menerbitkan TIJ seperti CV atau PT. Sumber di dalam TIJ sendiri menyebutkan bahwa badan hukum ini dalam bentuk perseroan terbatas sedang dalam proses pengurusan dan baru akan rampung dalam waktu tiga bulan.

Di "Meja Redaksi" hanya tertulis awak redaksi dengan pemimpin Redaksi Algooth Putranto, mantan wartawan Bisnis Indonesia, Wakil Pemimpin Redaksinya Alexander Mering dan Redaktur Pelaksana Tunggul. Belum ada/belum tertulis awak redaksi seperti di media-media online lainnya atau media cetak. Sementara Putut Prabantoro bertindak sebagai pemimpin umum.

Sebagai media baru, TIJ memang masih perlu banyak pembenahan baik dari sudut isi maupun tampilan agar lebih menarik, lebih memikat, dan merangsang pembaca untuk kembali dan kembali lagi setelah kunjungan perdana. Meski demikian, tidak ada kata lain selain kata Salut dan bravo atas penerbitan TIJ dengan satu harapan semoga bisa bertahan dalam persaingan media online yang menjamur dalam mewujudkan mimpi-mimpi besarnya. (Alex Madji)

Foto: Alex Madji

Kamis, 25 Oktober 2012

Makna Sebuah Idul Adha


Jumat, 26 Oktober 2012 adalah hari raya Idul Adha atau hari raya kurban. Wikipedia memberi penjelasan tentang Idul Adha begini, "Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika nabi Ibrahim (Abraham) yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, akan mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba."

Dilanjutkan, "Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya."

"Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam. Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji. Hari Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim," tulis Wikipedia lebih lanjut.

Sehari menjelang Idul Adha 2012 ini, seorang teman saya yang adalah ahli Kitab Suci Agama Kristen Hortensius Mandaru pada dinding Facebook-nya menulis begini, "Dgn (dengan) mengurbankan kambing (hewan kurban), Nabi Ibrahim tdk (tidak) jadi mengurbankan Nabi Ishmail (atau nabi Ishak dlm versi Yudeo-Kristiani). Pesannya abadi: Tidak boleh 'mengurbankan' manusia sbg (sebagai) bukti ketaatan kepada Allah."

Di bawah status itu seorang rekan lainnya Ansel Alaman menulis, "Betul Kraeng (sebutan paling hormat untuk seorang pria dewasa laki-laki) Tensi, tanda taat pada Allah tidak boleh korbankan sesama bahkan eksploitir alam. Dalam konteks itu, toleransi, persaudaraan dan solidaritas wangsa Abrahamik (Yahudi, Kristen,Islam) adalah keharusan."

Jadi cerita kurban ini tidak hanya ada pada Islam, tetapi juga pada Kristen, dan Yahudi (agama-agama samawi). Maka refleksi universalnya (untuk saya) adalah bahwa ketaatan pada Allah jangan sampai mengurbankan sesama manusia. Kemanusiaan yang adalah nilai-nilai universal harus menjadi titik berangkat semua umat beragama di seluruh dunia untuk menciptakan keadilan dan perdamaian di muka bumi ini. Akhirnya, selamat merayakah hari raya Idul Adha bagi teman-teman Muslim. (Alex Madji)

Rabu, 24 Oktober 2012

Apa Agama Stephan El Shaarawy?


Stephan El Shaarawy adalah bintang muda dan menjadi andalan AC Milan musim ini, setelah kepergian Zlatan Ibrahimoic ke Paris Saint-Germain pada musim panas lalu. El Shaarawy menjadi pencetak gol utama klub itu, meskipun masih terseok-seok di awal musim ini.

Nah, melihat nama berbau Timur Tengah, El Shaarawy, pikiran orang mungkin langsung menilai bahwa dia adalah seorang muslim karena ada darah Timur Tengah yang mengalir pada dirinya. Ya, El Shaarawy adalah warga negara Italia keturunan Mesir. Dia lahir pada 27 Oktober 1992 di Savona, Italia dari seorang ayah keturunan Mesir dan ibu orang Italia.

Penilaian itu seolah-olah mendapat pembenaran bila menyimak jawaban media online, seperti Answers.com. Menurut media ini, Stephan El Shaarawy adalah seorang muslim, tetapi tidak memberi penjelasan atas jawaban tersebut. Sementara di www.nada5.net pernah mengajukan poling sederhana dengan pertanyaan ini, "Apakah agama Stephan El Shaarawy?" Apakah dia Muslim, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, atau Ateis? Jawaban terbaik pilihan pemilih dalam poling sederhana itu adalah:

"Saya tidak tahu. Saya kira dia muslim, tetapi saya tidak yakin dengan itu. Saya kira dia adalah seorang pemain yang bagus, pemuda yang luar biasa. Dia sedang bertumbuh dan dia bisa menjadi seornag pemain hebat. Dia baru 20 tahun. Kariernya masih panjang. Dia masih pada awal kariernya. Saya seorang pendukung Milan dan berharap El Shaarawy (yang juga digelari Pharaon atau il faraone dalam Bahasa Italia) akan membuat tim kami kembali ke posisi yang bagus karena tim kami saat ini sedang dilanda masalah dan mengalami situasi yang sangat sulit setelah Thiago Silva, Ibra dan semua generasi terdahulu meninggalkan "San Siro"."

Jawaban ini seakan-akan mengingatkan pembaca untuk tidak terlalu terburu-buru mengamini jawaban seperti yang disampaikan Answers.com di atas tadi. Sebab ada fakta lain yang disajikan wikipedia. Ensiklopedia online itu mengukapkan bahwa berdasarkan data 2007, imigran Mesir di Italia berjumlah 3.374 orang. Kebanyakan mereka berasal dari Alexandria, Kairo, Suez, dan Port Said.

Keturunan Mesir di Italia menggunakan Bahasa Italia sebagai bahasa utama, sedangkan Bahasa Inggris, Arab, dan Prancis sebagai bahasa kedua. Tetapi generasi barunya menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa utama, sedangkan Bahasa Italia sebagai bahasa kedua.

Sementara dari sudut agama, dan ini penting, menurut Wikipedia, hampir seluruh warga Italia keturunan Mesir beragama Katolik. El Shaarawy sendiri memang tidak mengungkapkan secara terus terang apa agamanya. Tetapi tidak sedikit juga yang mengira-ngira bahwa dia adalah seorang katolik karena ibunya adalah seorang perempuan Italia yang menganut Katolik. Jadi, apa agama Stephan El Shaarawy? Untuk sementara belum ada jawaban yang pasti. Saya hanya mengungkapkan sejumlah fakta, silahkan mengambil kesimpulan sendiri-sendiri. (Alex Madji)

Selasa, 23 Oktober 2012

Menyongsong Kematian Media Cetak


Senin, 22 Oktober 2012 saya tidak ke kantor. Tepar karena flu berat sampai suara hilang. Itu sebabnya saya alpa mengisi blog ini. Selasa, 23 Oktober 2012 ini saya aktif kembali dan ingin menulis tentang perkembangan dunia media massa saat ini.

Perkembangan media cetak di dunia sekarang ini mengalami stagnasi, menyusul munculnya media televisi dan, terutama, internet. Kemajuan teknologi komunikasi membuat bisnis media massa cetak kelimpungan. Pekan lalu diberitakan bahwa majalah bergengsi Newsweek akan segera menghentikan edisi cetaknya. Dia memulai terbit online (digital), setelah 78 tahun terbit secara off line.

Bukan hanya Newsweek. Banyak media besar dunia yang mencoba melakukan penghematan, menyusul macetnya sirkulasi yang berbuntut pada semakin berkurangnya pendapatan dari iklan dan juga dari sirkulasi itu sendiri. Penghematan itu antara lain dilakukan dengan cara mengubah ukurannya atau resizing. Stagnasi ini berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan karyawan. Bahkan tidak sedikit media yang akhirnya gulung tikar sebagai dampak dari kemajuan teknologi dan perkembangan new media.

Lalu untuk survival, media-media itu kemudian membuat strategi baru dengan membuat digitalisasi atau versi online. Tujuannya untuk menjaring pembaca lebih banyak dan diharapkan iklan pun kembali naik. New York Times sudah melakukan itu, juga Newsweek.

Kondisi Indonesia
Kondisi di dalam negeri, setali tiga uang. Media-media cetak mengalami stagnasi. Sirkulasi tidak beranjak naik, bahkan cenderung menurun. Pendapatan dari iklan juga menurun. Beberapa media massa cetak terancam gulung tikar, karena pemasukan kurang, sementara beberapa lainnya sudah mati terlebih dahulu, seperti Sinar Pagi dan Berita Buana. Meskipun, beberapa media cetak baru bermunculan seperti harian Jurnal Nasional dan Seputar Indonesia di Jakarta, Harian Jogja dan Warta Jateng di Jawa Tengah, sertai berbagai tribun terbitan Kelompok Kompas Gramedia.

Stagnannya media cetak dan maraknya pertumbuhan media online sekaligus memunculkan pemain-pemain baru dalam bisnis media. Orang yang tadinya hanya wartawan biasa atau bahkan bukan siapa-siapa tiba-tiba menjadi pemilik media dan langsung menyodok ke pemain media papan atas. Sebut saja sebagai contoh, Detikom yang meraih sukses di pasar sejak berdiri 1998. Apalagi setelah Detikom dibeli CT Group dan berada di bawah Tranc Corporation.

Setelah Detikom, muncul berbagai media online baru. Sebagian tidak bertahan lama, tetapi sebagian lagi langsung mendapat tempat di pasaran seperti Vivanews.com (Kelompok Bakrie), Inilah.com (Inilah Group), Okezone.com (MNC) atau Merdeka.com (KapanLagi Grup).

Bahkan ada media online yang bermula dari blog dan melejit menjadi media yang disegani dunia. Sebut saja yosefardi.com yang bermula dari yoserardi.blogspot.com. Blog ini kemudian menjadi newswire atau semacam kantor berita berbayar khusus dalam bidang analisis ekonomi. Dia menjadi acuan bagi para pebisnis dan pengambil kebijakan keuangan di seluruh dunia.

Menghadapi perkembangan seperti itu, para pemilik media massa cetak mulai mengembangkan versi digitalnya seperti yang dilakukan Kompas.com yang terhitung sukses dan menjadi media berita online nomor dua di Indonesia setelah Detikom. Kemudian muncul Tempo.co, mediaindonesia.com, republika.co.id yang perkembangannya lumayan bagus.Jawa Pos Grup mengembangkan JPPN dan koran daerah KKG mengembangkan Tribunnews.com.

Apa yang dilakukan para pemain media cetak utama di Indonesia ini adalah antisipasi tren umum menurun tajamnya oplah media cetak. Banyak pihak yang meramal bahwa cepat atau lambat media cetak akan mati. Tanpa proses digitalisasi, maka media-media cetak yang akrab di telinga Anda selama ini kemungkinan hanya akan tinggal nama.

Nah, bagi Anda yang ingin menjadi pengusaha, ini adalah peluang untuk berbisnis yaitu bisnis media online. Banyak orang sudah menangkap peluang ini. Tetapi tidak ada salahnya kalau Anda juga memulai dari sekarang. Siapa tahu, Anda akan menjadi salah satu pemain media massa di luar mereka yang menguasai pasar saat ini. Ayo, selamat mencoba. (Alex Madji)

Jumat, 19 Oktober 2012

Ketidakjelasan Agama Untungkan Obama


Masalah identitas agama Presiden Barack Obama kembali menyeruak menjelang pemilu presiden (Pilpres) Amerika Serikat bulan depan. Obama akan maju dalam Pilpres tersebut untuk periode keduanya melawan calon dari Partai Republik, Mitt Romney.

Ketika muncul untuk pertama kalinya sebagai calon presiden dari Partai Demokrat pada 2008 silam, agama Obama juga diobok-obok. Banyak yang menduga bahwa dia adalah seorang muslim karena ayah dan ayah tirinya adalah seorang muslim. Apalagi di antara Barack dan Obama terselip nama Husein dan dia pernah tinggal dan sekolah di Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk Islam terbanyak di dunia.

Tetapi menjawab semua tuduhan itu, Barack Obama sudah menegaskan bahwa dia adalah seorang Kristen, pengikut Yesus Kristus. Sebagai senator dia disumpah di atas injil. Begitupun saat menjadi Presiden, dia juga disumpah di atas injil.

Tetapi menjelang pemilu bulan depan, agama Obama kembali dipertanyakan. Pasalnya, dalam sebuah poling yang dilakukan Pew Research Center dan diberitakan Deseret News (deseretnews.com) pada Jumat 27 Juli 2012 pukul 5:09 sore waktu Amerika serikat, disebutkan bahwa jumlah pemilih yang meyakini Obama muslim meningkat dari posisi terakhir pada Oktober 2008 silam.

Padahal dalam poling itu, mayoritas responden menginginkan bahwa Presiden Amerika Serikat adalah seorang yang religius. Tetapi 31 persen pemilih mengaku tidak tahu agama yang dianut Barack Obama. Sementara 17 persen lainnya mengenalnya sebagai seorang muslim. Hanya kurang dari 49 persen yang mengidentifikasinya sebagai seorang Kristen. Benar bahwa dia seorang Kristen, tetapi angka ini turun dari 55 persen pada akhir 2008 silam.

Pada Oktober 2008, sebanyak 12 persen peserta poling dari kalangan Partai Demokrat yang dilakukan Pew Research Center mengenal Obama sebagai seorang muslim. Angka ini meningkat menjadi 17 persen pada poling beberapa bulan lalu.

Sementara di kalangan pemilih Repulik, angka itu jauh lebih besar lagi. Sebanyak 30 persen kelompok Repulik percaya bahwa Obama sebagai seorang muslim atau naik 14 persen dari 2008.

Bila agama Obama masih menjadi teka teki, meski sebenarnya sudah jelas, maka Mitt Romney lebih pasti. Sebanyak 60 persen responden mengenalnya sebagai seorang Mormon.

Seperti di Indonesia, masalah keterkaitan agama dengan politik di Amerika Serikat sangat tinggi. Bahkan sejumlah analis menilai, posisi agama Obama “yang tidak jelas” itu sedikit menguntungkan Obama sendiri.

Sebab, poling terakhir Pew Forum on Religion & Publik, seperti ditulis blog ini pada Rabu 10 Oktober 2012 lalu) menyebutkan bahwa jumlah kelompok Protestan di negeri Paman Sam itu merosot tajam ke angka 48 persen dalam lima tahun terakhir. Inilah untuk pertama kalinya jumlah kelompok agama mayoritas di negara itu berada di bawah 50 persen. Sedangkan kelompok Katolik tetap dengan 25 persen, sementara yang bertumbuh signifikan adalah kelompok tidak beragama yaitu dari 15 persen menjadi 20 persen dalam lima tahun terakhir.

Kelompok ini diyakini menjadi salah satu lumbung suara Barack Obama pada Pilpres AS bulan depan itu. Nah, apakah analisis seperti ini benar, kita tunggu saja hasilnya. (Alex Madji)

Rabu, 17 Oktober 2012

Stadion Nasional Warsawa yang Megah Itu


Rabu, 17 Oktober 2012 pagi, saya membaca berita tentang penundaan pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2014 antara Polandia versus Inggris di Stadion Nasional Warsawa, Polandia. Membaca berita ini, tiba-tiba pikiran saya melayang ke stadion termegah di negara Beato Yohanes Paulus II itu.

Saya berada di dalam Stadion tersebut untuk menyaksikan laga semifinal antara Italia versus Jerman Piala Eropa 2012 pada Jumat, 29 Juni 2012 malam waktu setempat atau Sabtu, 30 Juni 2012 dini hari WIB.

Sebenarnya, sejak tiba di Warsawa pada 20 Juni 2012, saya tidak berani pergi ke sekitar stadion tersebut. Saya khawatir pengamanannya begitu ketat. Apalagi saya tidak mendapat akreditasi dari Federasi Sepakbola Eropa atau UEFA untuk meliput pertandingan Piala Eropa. Padahal, jarak antara Fan Zone di pusat kota dengan stadion itu hanya sepelemparan batu jauhnya. Bisa ditempuh dengan jalan kaki. Bisa juga dengan trem atau bis yang langsung turun di mulut stadion.

Pada laga perempat final antara Portugal melawan Republik Ceko di stadion tersebut, saya hanya merasakan gegap gempita para pendukung kedua tim di kawasan Kota Tua Warsawa. Di sini para pendukung akur. Tidak ada saling ejek, apalagi tawuran antar pendukung seperti di Indonesia. Bahkan, mereka duduk satu meja untuk menikmati bir sebelum menyaksikan aksi para pemain kesayangannya pada malam hari di stadion tersebut. Tetapi saya hanya menyaksikan laga perempat final Portugal versus Ceko itu di Fan Zone.

Saya baru memberanikan diri bepergian ke stadion kebanggaan warga ibukota Polandia itu pada laga semifinal antara Italia dan Jerman pada Jumat, 29 Juni 2012. Pagi-pagi sekali saya sudah berangkat dari Partos Hotel yang terletak di Jalan Mangalia 3 ke Fan Zone. Dari situ saya berjalan kaki ke arah Stadion Nasional Warsawa melintas di atas Sungai Wisla yang membelah Kota Warsawa.

Sejak pagi, kesibukan sudah mulai tampak di sana. Sejumlah wartawan berakreditasi UEFA mulai hilir mudik di sekitar stadion. Sementara saya mencoba memberanikan diri melintas di luar pagar stadion, sambil khawatir jangan-jangan ada petugas yang akan menghentikan saya. Begitu merasa aman, saya meminta seorang ibu dengan anak gadisnya yang membawa bendera Swedia memotret saya di depan stadion itu. Belakangan saya baru tahu ibu dan anak itu ternyata orang Polandia.

Ramai

Kemudian saya menyusuri jalan di sisi kiri Stadion kembali ke Kota Tua dan Fan Zone melalui jalan dan melintasi jembatan lain Sungai Wisla. Sebuah perjalanan yang melelahkan tapi sekaligus mengasyikan. Begitu tiba di Kota Tua dan Fan Zone, pendukung Jerman sudah banyak. Mereka menguasai hampir seluruh restoran baik di sekitar Fan Zone maupun di Kota Tua. Mereka berpesta. Seolah mereka sudah menang sebelum laga.

Dari obrolan dengan para pendukung Jerman yang membanjiri Warsawa hari itu, mereka begitu optimistis. Meski terselip sedikit kecemasan karena Jerman tidak pernah mengalahkan Italia pada turnamen-turnamen resmi. Sementara pendukung Italia tidak terlalu tampak. Kalaupun ada, jumlah mereka tidak terlalu banyak.

Menjelang sore, sekitar pukul 15.00 waktu setempat atau 4,45 jam sebelum laga dimulai, saya kembali berjalan kaki menuju stadion. Kali ini makin banyak orang menuju ke sana. Sesampai di sana, para penjual tiket sudah menumpuk di pintu gerbang. Mereka menawarkan tiket pertandingan tersebut.

Seorang pria asal Jepang menawarkan tiketnya kepada saya. Dia bercerita bahwa dia memiliki dua tiket yang dibelinya secara online. Tetapi dia ingin menjual satunya. Sayang, harganya terlampau mahal, 350 dolar Amerika Serikat untuk sebuah tiket tribun atas.

Saya lalu bergeser dari situ, menjauh sedikit dari gerbang. Pada bagian lain, ketika sedang berdiri menyaksikan ribuan orang yang tiada putusnya mengalir ke stadion, tiba-tiba seorang pemuda Polandia menawarkan tiket kepada saya. Saya cari tiket yang berharga 200 dolar Amerika Serikat. Saat itu, pemuda tersebut mengaku ada tiket seharga itu. Dia lalu pergi sambil miminta saya menunggu. Tak lama berselang, dia kembali. "Tiketnya sudah terjual," ucapnya dalam Bahasa Inggris patah-patah.

Kira-kira satu jam, kami bertemu lagi. Dia lagi-lagi menawarkan tiket. "Masih cari tiket? tanyanya. "Iya," jawab saya, seraya melanjutkan, "tetapi yang maksimal harganya 200 dolar." Dia kemudian mengeluarkan tiketnya dan saya membayar dengan 200 dolar. Harga asli tiket itu sebenarnya adalah 150 euro atau kalau dikurskan ke dalam dolar Amerika Serikat, kira-kira hampir 200 dolar juga.

Masuk Stadion

Begitu mendapat tiket, saya langsung berdesakan dengan ribuan orang lain yang berebutan masuk ke stadion. Pemeriksaan dilakukan dua lapis. Pertama hanya periksa tiket. Begitu bisa tembus desakan manusia yang begitu banyak dengan bau bir yang menyengat, pada periksaan lapis kedua, tas digeledah. Seluruh isinya dikeluarkan. Setelah diperiksa, ternyata tas juga tidak boleh dibawa ke dalam stadion. Terpaksa harus dititip di loket yang sudah disediakan dan harus mundur.

Padahal isi tas saya banyak. Selain laptop, ada uang, kamera, dan beberapa buku panduan Kota Warsawa. Setelah dijamin aman, saya mengeluarkan kamera karena dibolehkan bawa kamera ke dalam stadion, lalu tas saya tukar dengan kartu penitipan. Setelah semua beres, baru saya antri lagi untuk pemeriksaan, sebelum akhirnya lenggang kangkung ke dalam stadion.

Saya masuk ke stadion itu sebenarnya dengan sedikit tergesa-gesa, karena akibat antri dan pemeriksaan yang cukup lama, pertandingan sudah siap dimulai. Seketika itu juga saya menyaksikan keindahan dan kemegahan serta nyaman. Begitu masuk suasana sudah riuh. Seluruh kursi terisi penuh. Saya harus dengan susah payah mencari tempat duduk yang tertera dalam tiket. Jalur kursi saya sebenarnya sudah berhasil ditemukan, tetapi ternyata dia berada pada nomor tiga dari ujung sana dan untuk sampai ke sana harus melewati sekian banyak orang yang sudah duduk manis di kursinya.

Karena takut mengganggu yang lain, petugas di situ meminta saya untuk keluar lagi dan masuk dari lorong sebelahnya agar lebih mudah sampai di kursi yang saya tuju dan memang masih kosong. Begitu sampai di kursi itu, saya langsung duduk. Saya terkagum-kagum dengan stadion itu. Saya pun memotretnya mencoba membagikannya kepada Anda melalui foto-foto pada tulisan ini.

Belum lama saya duduk, pertandingan segera akan dimulai. Saya bisa dengan jelas menyaksikan para pemain Italia dan Jerman memasuki ke lapangan Stadion Nasional Warsawa. Seorang pria di samping saya mengecat wajahnya dengan bendera Jerman. Tampak jelas dia adalah pendukung Jerman. Beberapa kali dia meneriaki pemain Jerman yang gagal mengumpan atau kehilangan bola dengan sebutan bebek.

Ketika Jerman kalah 1-2 dari Italia, pria itu terdiam. Tak banyak bicara. Tetapi juga tidak marah-marah karena kekalahan tim yang didukungnya. Saya lalu membayangkan wajah sekelompok pendukung Jerman yang saya temui tadi di Fan Zone yang begitu optimistis bisa mengalahkan Italia dan siap melawan Spanyol di final. Mereka pasti sedih seperti pria di samping saya ini. Mereka pasti meneteskan air mata.

Saya pun kemudian meninggalkan stadion itu dengan suka cita, bukan karena Italia menang. Kembali ke jalan darimana saya masuk, mengambil tas di tempat penitipan dan berjalan kaki bersama ribuan orang ke Fan Zone karena jalur ke stadion ditutup untuk seluruh kendaraan.

Dari Fan Zone saya mengambil bis dan terpaksa menunggu sangat lama sebelum akhirnya mendapat bis malam ke Mangalia 3, alamat hotel tempat saya menginap. Sesampai di hotel, saya menulis berita dan memilih gambar untuk dikirim ke Jakarta. Saya baru tidur ketika jam 03.00 dini pada Sabtu, 30 Juni 2012. Padahal siang itu juga saya harus tinggalkan Warsawa untuk kembali ke Jakarta.

Ternyata stadion yang indah dan megah itu juga punya kekurangan. Ketika hujan lebat, air tergenang yang menyebabkan laga kualifikasi Piala Dunia antara Polandia dan Inggris harus tertunda. (Alex Madji)

Foto-foto diambil oleh Alex Madji