Sabtu, 23 Juni 2012

Bingung Beli Karcis Bis


Naik bis umum di Warsawa sebenarnya tidak sulit. Yang penting tahu nomor bis dan tempat berhenti, sudah cukup. Paling tidak itulah pengalaman saya naik bis umum yang nyaman di Warsawa untuk pertama kalinya.

Kamis, 21 Juni 2012, saya tanya ke resepsionis hotel nomor bis yang bentuk dan sistemnya sama seperti Trans Jakarta ke Fan Zone. Dia menyebut bis nomor 501, 519, dan 422. Bis-bis gandeng tiga ini semuanya lewat di arena Fan Zone Euro 2012. Tetapi saya harus menyeberangi jalan di samping hotel itu. Lalu tiketnya, kata mas resepsionis itu, bisa langsung beli di mesin otomatis. Di sinilah masalah bermula.

Di seberang hotel tempat saya menginap, memang ada sebuah mesin tiket otomatis. di Jalan Mangalia, hanya ada satu, yaitu di Mangalia 2. Sedangkan hotel tempat saya mengiap berada di Jalan Mangalia 3. Saya coba membaca petunjuk yang ada di mesin berwarna merah itu. Ada petunjuk Bahasa Polandia, Inggris, dan Jerman.

Saya mengikuti petunjuk Bahasa Inggris. Saya coba lihat layarnya, ada pesan Bahasa Polandia yang tidak saya paham. Saya coba sentuh layar itu. Tidak bisa. Ternyata itu bukan layar sentuh. Saya mencoba memasukkan koin Zlotych, juga gagal. Makin bingung saya.

Seorang ibu, kemudian datang mau beli tiket otomatis. Saya mencoba mengamati apa yang akan dilakukan ibu itu, tetapi dia hanya menggelengkan kepala. Saya tidak mengerti apa maksudnya. Saya pun enggan bertanya. Untung ada seorang lelaki pakai celana pendek bersepatu olahraga sambil tenteng plasti melintas. Saya coba meminta bantuannya. Dia mula-mnula bertanya kepada saya mau beli tiket apa. Sekali jalan, satu hari, tiga hari, atau satu minggu. Saya bilang, tiket sekali jalan saja. Dia pun melihat layar mesin itu. Astaga, ternyata pesan Bahasa Polandia tadi berarti out of order alias rusak.

Di belakang mesin itu, berjarak empat sampai lima meter, ada sebuah kios majalah dan koran yang semuanya berbahasa Polandia. Tidak ada satupun yang berbahasa Inggris. Di pojok kiri atas pintu masuk, saya lihat ada kata tiket dengan gambar dan logo seperi di mesin tiket otomatis tadi. Saya pun berani masuk dan tanya tiket bis. Ternyata benar. Ibu tua itu menjual tiket. Saya lalu beli tiket untuk satu hari yang bisa dipakai selama 24 jam seharga 12 zlotych.

Berbekal tiket itu saya dengan PD alias percaya diri naik bis ke Fan Zone dan tiba dengan selamat tanpa acara tersesat. Tiket yang hanya secuil, seukurun jari telunjuk itu, saya pegang. Saya nggak ngeh, ternyata di bis itu ada mesin verifikasi karcis. Selama pergi dan pulang ke hotel, saya perhatikan penumpang lain. Beberapa di antara mereka memasukkan karcis seperti yang saya pegang ke dalam mesin itu. Kemudian baru saya sadar bahwa karcis saya belum diverifikasi.

Keesokan harinya, tiket itu pasti tidak bisa dipakai lagi karena hanya berlaku 24 jam. Saya lalu membeli yang baru. Setelah beli tiket di tempat yang sama, saya dengan yakin masuk ke dalam bis, memasukan tiket ke dalam mesin verifikasi dan duduk manis. Jadilah saya seperti orang yang sudah lama di Warsawa. Saya pun tiba di kawasan Kota Tua dengan aman dan selamat.

Dalam hati saya bergumam, betapa malunya saya kalau tiba-tiba diperiksa dan saya bisa ditangkap karena tidak memverifikasi tiket. Untunglah hal itu tidak terjadi. Paling kalau ditangkap, saya akan bilang, maklumm Pak di Jakarta hal-hal seperti ini belum ada.

Ah, alangkah indahnya kalau Jakarta punya layanan bis seperti ini. Memang Jakarta sudah punya Trans Jakarta yang mirip dengan bis di Warsawa ini. Tetapi pelayanannya jauh berbeda. Bis di Warsawa ini tidak pernah numpuk penumpang dan tidak pernah macet karena jumlahnya banyak. Datangnya pun tepat waktu. (Alex Madji)

Keterangan Foto: Bis gandeng di Warsawa seperti Trans Jakarta, tetapi yang di Warsawa jauh lebih nyaman daripada Trans Jakarta. (Foto: Alex Madji)

Kamis, 21 Juni 2012

Ke Warsawa


Akhirnya, Saya tiba juga di Warsawa, tempat Piala Eropa digelar, setelah menempuh perjalan panjang Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam-Warsawa. Meski terlambat, paling tidak bisa mengalami euforia masyarakat Polandia dalam penyelenggaraan pesta sepakbola empat tahunan di Benua Biru ini.

Saya berangkat dari Jakarta menggunakan KLM dengan nomor penerbangan KL810 pada Selasa, 19 Juni 2012 pukul 18.50 WIB. Hingga Kuala Lumpur, sebagian besar penumpang pesawat adalah warga Malaysia yang baru pulang belanja dari Jakarta. Seorang ibu muda berbadan subur mengaku baru saja menghabiskan uang di Indonesia dengan berbelanja di Jakarta dan Bandung. Bahkan dia setiap enam bulan sekali datang ke Indonesia untuk berbelanja. Bagi dia, wisawata belanja Indonesia sangat menarik.

Di Ruang Tunggu D2, dialek melayu begitu akrab. Di depan dan belakang saya, semua berbicara logat melayu. Nyaris tidak ada dialek Indonesia. Ah, mungkin karena saya sedang berada di ruang tunggu keberangkatan internasional. Jadi wajar. Tetapi kok yang dominan, orang-orang Malaysie ya??

Perjalanan ke Kuala Lumpur malam itu aman-aman saja, hingga mendarat dengan mulus di Kuala Lumpur. Di sana, transit satu jam, sebelum melanjutkan perjalanan panjang ke Amsterdam. Selama perjalanan, pesawat terus bergoyang karena cuaca buruk. Puji Tuhan, akhirnya berhasil mendarat di Bandara Internasional Schipol, Amsterdam pada pukul 05.30 pagi, Rabu, 20 Juni 2012.

Di sini saya harus menunggu beberapa jam, sebelum melanjutkan perjalan ke Warsawa pada pukul 09.50. Keluar dari pesawat, saya mampir sebentar di toilet. Selepas itu, saya mampir di self service transfer untuk mengetahui saya harus masuk gate berapa. Sebab dalam boarding pass yang didapat di Jakarta, tidak tertera gate. Hanya ada nomor kursi 15 F dalam penerbangan ke Warsawa.

Di sinilah saya bingung. Saya coba memilih Bahasa Inggris dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh mesin. Tetapi gagal. Bingunglah saya. Untunglah di samping saya ada seorang Indonesia yang hendak ke Peru. Dia juga melakukan self service transfer. Bedanya, dia sukses. Sementara saya menalami kebingungnan. Saya minta bantuan dia untuk proses transfer pesawat. Dan berhasil. Saya mendapat petunjuk, harus tunggu di Gate C-14. Perjalanan ke sana cukup panjang. Nyaris mengitari satu terminal Schipol itu sendiri. Meski bingung, paling tidak ini pengalaman. Sebab di Indonesia, belum ada hal seperti ini.

Sesampai di pemeriksaan sebelum masuk ruang tunggu C-14, saya lagi-lagi tidak menemui kesulitan. Kecuali ada cerita lucu ini. Setelah selesai mengemas barang yang dibuka saat melewati pintu pemeriksaan imigrasi, seorang petugas berseragam imigrasi Belanda bertanya. "Dari mana?" "Dari Indonesia," jawab saya. "Bawa rokok," tanya dia lebih lanjut. "Tidak. Dan saya tidak merokok," timpal saya. "Wonderfull," ujar dia lagi, sambil saya berlalu.

Saya tidak mengerti apa maksud si londo itu. Mungkin karena Indonesia terkenal sebagai negara penghasil rokok atau mungkin karena orang Indonesia tidak kenal aturan saat merokok alias merokok di sembarang tempat, meski sudah ada Perda larangan merokok seperti di Jakarta. Setelah lolos dari situ, saya menunggu datangnya jam 09.20, saat boarding tiba. Waktu terasa lama. Sempat tidur sebentar sambil menunggu, akhirnya gerbang pertanda boarding mulai dibuka.

Tepat pukul 09.50 KLM 1363 ke Warsawa take off. Penerbangan ke negara Beato Yohanes Paulus II itu hanya 1 jam 30 menit. Sesaat sebelum mendarat di Bandara F Chopin, pesawat terguncang karena cuaca buruk. Kabut. Untunglah, akhirnya bisa mendarat dengan selamat. Di sini, tidak ada lagi pemeriksaan pasport. Keluar Bandara begitu saja.

Begitu sampai di Warsawa, maka mulailah petualangan di negara bekas komunis ini meliput perempat final dan semifinal Piala Eropa 2012 yang persiapannya sangat akrobatik dan penuh tidak kejelasan. (Alex Madji)

Keterangan Foto: Saya bersama Carlos Brum (kedua dari kiri), pendukung fanatik Portugal, Yolanda (kedua dari kanan) Gadis Warsawa, dan Jorge Franco (duduk) juga pendukung Portugal. (Foto: Alex Madji)

Senin, 04 Juni 2012

Kemana Toleransi Itu?


Seorang teman tiba-tiba mengirim Blackberry Messanger alias BBM kepada saya. Dulunya teman ini adalah seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) selama bertahun-tahun dan membela mereka yang tertindas dari kelompok manapun. Kemudian dia mengubah haluan menjadi seorang aktivis sebuah gerakan yang menghalalkan penggunaan kekerasan dan intoleran.

Isi BBM-nya adalah pernyataan seorang kiai yang selama ini terkenal pluralis dan acap mengecam tindakan kelompok si teman tadi. Sang Kiai, menurut teman itu, mengeritik dunia barat yang menilai Indonesia tidak toleran. Kalau penilaian itu berdasarkan kasus Gereja Yasmin, kata teman tadi mengutip Sang Kiai, penilaian dunia barat itu keliru karena para pihak dalam konflik Gereja Yasmin tidak ingin masalah itu selesai. Ada yang ambil keuntungan dari konflik tersebut. Kalau karena masalah Ahmadiyah, lanjutnya, masalah ini akan selesai kalau Ahmadiyah menjadi agama tersendiri dan tidak mengaku-ngaku sebagai Islam. Dengan kata lain, tidak benar bahwa Indonesia tidak toleran.

Pada hari berikutnya, seoang kawan di sebuah grup milis meneruskan sebuah pesan dari suatu grup Facebook. Isinya mengajak umat Katolik berdoa bagi gereja-gereja Katolik yang disegel di Nanggroe Aceh Darusalam dan yang dipaksa dibongkar dengan alasan tanpa ijin mendirikan bangunan atau IMB di Sumatera Barat.

Sekedar menambah daftar yang dikirm teman ini, masih banyak gereja Kristen yang terpaksa ditutup karena sikap intoleran kelompok si teman yang pertama tadi, seperti Gereja Ciketing Bekasi. Belum lagi, begitu banyak gereja yang proses pendiriannya dipersulit. Pengurusan IMB berlangsung bertahun-tahun dan menghabiskan anggaran yang tidak sedikit. Bahkan ada gereja yang sudah kantongi IMB dan di tengah jalan pembangunan tiba-tiba dikatakan bangunan itu salah tempat dan tidak ber-IMB.

Sikap intoleran ini juga ditunjukkan terhadap kelompok Ahmadiyah. Kelompok ini dikejar-kejar, bahkan ada yang terbunuh. Rumah-rumah mereka dihancurkan dan tempat ibadah mereka dirusak.

Dengan sederet fakta seperti ini maka pernyataan Sang Kiai tadi patut dipertanyakan. Pasalnya, Kiai ini terkenal membela kelompok minoritas. Bila dia tiba-tiba berubah maka patut dipertanyakan kebenaran isi pernyataannya.

Atau jangan-jangan, kutipan pernyataan Sang Kiai tadi hanya karangan si teman tadi untuk membenarkan tindakan kelompoknya. Padahal faktanya ya memang tidak ada toleransi di negara ini. Demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan beragama tercabik-cabik. Ironisnya, negara tidak berdaya di hadapan para pelaku intoleran itu. Bahkan seringkali kalah dari kelompok ini.

Sungguh menyedihkan hal ini terjadi di negara yang berfalsafah Pancasila. Lalu kemana toleransi yang dikatakan Sang Kiai seperti dikutip si teman tadi? Ah, mungkin sudah ke laut kali. (Alex Madji)

Kamis, 31 Mei 2012

Malam yang Syahdu di Gereja Makam Suci


Malam sudah larut. Gelap menyergap. Semua turis sudah pulang. Tidak ada lagi hiruk pikuk. Yang tersisa hanya keheningan. Tetapi dari balik kegelapan dan keheingan itu muncul suara yang membuat bulu kuduk merinding. Suara seperti malaikat lembut menggema menyeruak ke angkasa.

Itulah suasana di Gereja Makam Suci yang terletak di Kota Tua Yerusalem. Tidak banyak yang tahu bahwa ternyata pada setiap malam, di tempat itu, para biarawan dari Gereja Ortodoks Yunani, Armenia dan Katolik yang menjaga tempat suci itu silih berganti berdoa di tempat tersebut hingga pagi menjelang. Tradisi ini sudah berlangsung selama berabad-abad di tempat suci kristen tertua itu.

Ketiga denominasi itu silih berganti berdoa bersama dan berjaga bersama Yesus di tempat Dia disalibkan, dimakamkan, dan bangkit dari antara orang mati. Suara para rahib dan biarawan itu membuat malam yang sunyi itu menjadi syahdu. Mereka berdoa selama berjam-jam. Doa dan nyanyian mereka menggema di seluruh ruang-ruang gelap tempat suci tersebut.

"Pntu-pintu gereja ditutup. Tidak ada lagi peziarah. Tidak ada turis. Sangat-sangat tenang. Sungguh luar biasa merasakan dan menghayati liturgi tanpa orang. Yang ada hanya para biarawan," kata Romo Isidoros Fakitsas, superior Patriark Ortodoks Yunani di gereja tersebut yang sudah 21 tahun menjadi pelayan di tempat itu.

Persiapan doa malam tersebut menjadi rutinitas yang ketat. Sebelum kelompok pertama berdoa pada hari yang baru, tempat suci itu sudah harus dibersihkan dan semua pengerjaan sudah selesai dilakukan. Para biarawan menyapu lantai, mengganti minyak-minyak lampu dan membersihkan tempat lilin, setelah ribuan peziarah mengunjungi tempat itu pada hari sebelumnya.

Terkadang, sejumlah kecil peziarah membantu mereka membantu membersihkan tempat itu dan minta ijin untuk tinggal dan berdoa di dalam gereja sepanjang malam.

Menurut Romo Eugenio Alliata, profesor Arkeologi Kristen pada Studium Biblicum Franciscanum di Yerusalem, misa pada dini hari adalah sebuah tradisi dari kehidupan monastik. "Hampir semua rahib dan orang beriman ingin berdoa bukan hanya sepanjang hari, tetapi juga sepanjang malam atau setengah hari atau setengah malam. Ini adalah bagian dari kerinduan untuk berdoa tanpa henti, karena berdoa kepada Tuhan harus dilakukan sepanjang waktu, siang dan malam," kata Alliata.

Gardian Komunitas Fransiskan (Ordo Fratrum Minorum= OFM) di Gereja Makam Suci itu, Romo Fergus Clarke OFM mengatakan, berdoa malam hari adalah sebuah pengorbanan pribadi tetapi juga sebuah pemenuhan spiritual yang lebih besar. "Ini sebuah panggilan yang luar biasa. Bisa melakukan hal seperti itu ketika semua orang sudah terlelap, sedangkan yang lain masih berdoa," ucapnya.

Doa malam itu diatur secara rapi dengan sebuah tradisi yang terkonsolidasi dengan baik. Gereja Ortodox Yunani mulai merayakan misa di dalam makam Yesus pada pukul 24.30, diikuti Gereja Armenia, dan terakhir para Fransiskan. Biarawan Gereja Ortodoks berdoa paling lama yaitu selama tiga setengah jam, sedangkan Gereja Armenia berdoa selama 1,5 jam, dan para Fransiskan hanya setengah jam.

Misa malam terkadang variasi. Pada Pesta Santo Matias pada pagi hari 14 Mei, misalnya, Katolik memulai prosesi ke Makam Yesus ketika liturgi para biarawan Ortodoks Yunani juga sedang berlangsung. Akibatnya, suara doa dan nyanyian para rahib itu seperti sahut-sahutan. Suara para imam Armenia muncul dari bagian lain gereja yang sama, sementara suara organ dari para Fransiskan menggema dari arah yang berlawan.

Hal ini bukan sesuatu yang baru di gereja kuno itu. Tidak ada yang terganggu dan tidak ada iri hati, meski mereka berdoa pada saat bersamaan. Tidak ada perebutan tempat. Para imam Armenia dan Fransiskan tidak tidak melintasi bagian Ortodoks Yunani ketika mereka sedang berdoa. Begitupun sebaliknya.

Gereja Makam Suci itu terbagi tiga kepada tiga kelompok itu, yaitu Ortodoks Yunani, Armenia, dan Fransiskan. Hanya ada satu tempat umum yaitu, Makam Suci itu sendiri. Kapel Santa Helena di dekat tempat Salib Yesus ditemukan adalah milik para imam Armenia. Sedangkan sebagian besar gereja itu adalah milik Ortodoks Yunani termasuk Altar Kalvari di mana Salib Yesus dipancang. Sedangkan para Fransiskan "menguasai" kapel Penyaliban dimana Yesus disalib serta bagian utara gereja tersebut, tempat dimana Yesus menampakkan diri kepada Ibu-Nya, Maria.

Gereja itu pertama kali dibangun oleh Kaiser Romawi, Konstantin pada 325 persis di tempat kubur Yesus. Bangunan ini kemudian rusak pada tahun 1009 oleh pasukan Muslim pimpinan Caliph al-Hakim. Pada abad ke-12, restorasi dilakukan oleh tentara Perang Salib hingga ke bentuknya yang bertahan hingga sekarang ini.

Tetapi kadang terjadi keributan dan perebutan dalam tempat tersebut. Menurut Superior Imam Armenia di Gereja Makam Suci itu, Romo Samuel Aghoyah, kehidupan di dalam Makam Suci itu diatur oleh sebuah aturan yang kompleks yang sering kali diinterpretasi secara berbeda oleh tiga komunitas itu. Kadang-kadang, aturan-aturan itu memunculkan ketegangan pun di antara para biarawan di gereja itu sendiri.

"Tetapi yang pasti kami bangun tengah malam di sini untuk memastikan bahwa semuanya berjalan secara adil, tepat waktu. Tidak ada satu orang pun yang merampas hak yang lain dan memaksa yang lain untuk menunda doanya. Jadi kami harus hati-hati dan melihat apa yang harus kami lakukan atau apa yang mereka lakukan," kata Romo Samuel. (Alex Madji)

Keterangan foto: Salah satu bagian dalam Gereja Makam Suci. (Gambar diambil dari WhereJesusWalked.org)

Selasa, 22 Mei 2012

Berdoa di Depan Piala


Didier Drogba menjadi pahlawan Chelsea saat klub dari London Barat itu menjuarai Liga Champions musim 2011/2012. Pemain bernama lengkap Didier Yves Drogba Tébily itu mencetak gol penyama kedudukan 1-1 melawan Bayern Muenchen hanya lima menit setelah Thomas Mueller mencetak go yang membawa Bayern Muenchen unggul 1-0 menit ke-83.

Setelah bermain imbang pada waktu normal dan babak tambahan waktu, bapak tiga anak ini menjadi penentu Chelsea menjuarai Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub itu. Dalam tendangan 12 pas, Drogba mengarahkan bola dengan pelan menyusur tanah ke sisi kiri penjaga gawang Manuel Neuer, sementara kiper nomor satu Jerman itu jatuh ke kanan.

Setelah menjuarai Liga Champions, The Telegraph melaporkan bahwa para pemain Chelsea enggan beranjak dari ruang ganti Allianz Arena. Mereka enggan pulang ke hotel. Bergadang di sana sampai jam tiga dini hari. Mereka bercengkerama, bercerita satu sama lain. Bahkan Drogba menari di atas meja mengelilingi piala itu. Tetapi ini bukan sekedar menari. Tetapi sebentuk doa seorang Drogba di depan piala yang baru direbutnya itu untuk pertama kali dalam sejarah Chelsea. Sebuah cara berdoa khas Afrika.

"Drogba menari di atas meja, berdoa untuk piala yang baru direbut tersebut. Ini sebuah pengalaman religius yang luar biasa," kata Chairman Chelsea Bruce Buck.

Ya, Drogba memang seorang yang religius. Sebagai seorang Katolik, dia selalu memulai laga dengan tanda salib. Dalam Nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Setiap kali mencetak gol, Drogba tidak pernah lupa membuat tanda salib. Bahkan nyaris mencetak gol saja, Drogba membuat tanda salib. Itulah religiositas seorang Drogba. Tuhan selalu ada dalam permainan sepakbola Didier Drogba yang oleh ibunya dipanggil Titto itu.

Musik
Drogba bukan hanya religius dan jago sepakbola. Dia juga jago musik. Bahkan dia bisa disebut musikus. Saking hebatnya Drogba dalam dunia musik, sampai-sampai ada istilah yang terkenal yaitu "Drogbacite" atau dalam Bahasa Inggris disebut "Drogbaness". Drogbaness adalah sebuah fenomena budaya dalam dunia musik dan tarian yang tidak memperlihatkan tanda-tanda akan hilang. "Drogbacite? Ya itu semua tentang saya, tentang keberhasilan saya dalam empat tahun terakhir," imbuhnya seperti diberitakan The Observer.

Sebelum Piala Dunia Afrika Selatan 2010 silam, dia bersama teman-teman setimnya masuk dapur rekaman dengan sistem magis. Bersama sebuah band lokal, Drogba dan rekannya yang bermain di Arsenal Emmamuel Eboue memperlihatkan bahwa mereka bisa bernyanyi dengan baik yang sama baiknya dengan sepakbola. "Benar saya bisa nyanyi," kata Drogba.

Menurut Drogba, ada hubungan antara musik dan sepakbola. Dan sebelum bermain, dia harus selalu mendengar musik. "Saya butuh musik, khususnya sebelum pertandingan. Saya praktekkan itu di Chelsea, khususnya saat persiapan di ruang ganti," imbuhnya dalam sebuah wawancara dengan The Ovserver.

Droga menikah dengan seorang perempuan asal Mali bernama Diakite Lalla yang dijumpainya di Paris. Perkawinan mereka menghasilkan tiga anak. Anak pertamanya bernama Isaac lahir di Paris pada 1999. Drogba punya dua adik yang juga pemain sepakbola profesional, yaitu Joel dan Freddy Drogba. Freddy yang baru 19 tahun bermain untuk klub Ligue 1 Prancis, Dijon. Akhirnya, selamat yang Drogba... (Alex Madji)

Selasa, 15 Mei 2012

Roberto Mancini, Taat Agama dan Cinta Keluarga


Roberto Mancini baru saja menjuarai gelar Liga Utama Inggris bersama Manchester City, setelah mengalahkan Queens Park Rangers (QPR) 3-2 pada laga dramatis, Minggu, 13 Mei 2012 di Stadion Etihad. Di tengah hingar bingar dan kegemerlapan perayaan kejuaraan tersebut, terselib sebuah kisah. Kisah tentang sisi lain Roberto Mancini.

Sebagai pelatih dan mantan pemain terkenal, ternyata Mancini tetaplah seorang yang taat beragama dan sangat religius. Ketika bergelimang uang, ternyata Mancini tidak pernah melupakan Tuhan. Dia tahu ada campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan tidak pernah terpinggirkan oleh kegelimangan uang dan popularitas yang dipunyainya.

Bukan hanya rajin mengikuti misa Hari Minggu bersama keluarga. Mantan pemain Sampdoria dan Lazio itu juga rajin berdoa setiap hari. Bahkan, dia juga sering mengunjungi tempat-tempat suci. The Sun memberitakan bahwa pada Maret 2012, Mancini berziarah ke sebuah tempat suci, tempat penampakan Santa Perawan Maria di Bosnia. Tempat ini sudah terkenal sebagai tempat ziarah, terutama di Eropa, meski belum diakui Tahta Suci, seperti Lourdes di Prancis atau Fatima di Portugal.

Sebelum partai terakhir Liga Utama Inggris, Minggu 13 Mei 2012, Mancini yang penganut Katolik taat itu juga menghadiri misa hari Minggu seperti biasa di Gereja Nama Suci Manchester atau Manchester's Holy Name Church. Dia mengikuti misa pukul 08.30 waktu setempat. Dia tidak datang seorang diri. Ada dua pemain City lainnya bersama dia.

Hebatnya lagi, sehabis misa, Mancini tidak segera meninggalkan gereja. Dia menghabiskan waktu 15 menit setelah misa untuk doa pribadi. Sementara dua pemainnya menunggu dia di luar gereja. Pastor gereja setempat, Romo Ray Matus mengakui bahwa Roberto Mancini mengikuti misa di gereja itu.

"Dia menghadiri misa bersama dua pemain lainnya. Setelah misa, dia menghabiskan 15 menit untuk berdoa seorang diri. Dia tampak tenang dan fokus untuk menjuarai Liga Utama Inggris," kata Romo Ray Matus seperti diberitakan The Sun.

Mancini sendiri menegaskan bahwa ada campur tangan Ilahi dalam gelar juara Liga Inggris yang diraihnya. "Ini mukjizat. Tuhan sudah menonton pertandingan ini dan sudah mengulurkan tangan-Nya kepada kami," kata Mancini seperti dikutip Sky Sports.

Yah, Mancini memang berdoa setiap hari. Dia memohon perlindungan Tuhan untuk kehidupannya dan keluarganya secara umum. "Saya tidak mengatakan sesuatu yang lain di ruang ganti. Saya hanya membicarakan sepakbola. Ini hal pertama yang paling penting. Bermain sepakbola itu sangat penting," kata Mancini seperti dilaporkan Manchester Evening News.

Selain rajin dan tekun berdoa, Mancini adalah seorang penyayang keluarga. Ketika para pemain dan pelatih memilih gonta ganti pacar atau kawin cerai dengan begitu gampang, Mancini tetap setia dengan istrinya, Federica. Dia sudah menikahi perempuan ini selama 20 tahun. Darinya lahir tiga orang anak, dua laki yaitu Filipo dan Andre, serta satu anak perempuan.

Filipo dan Andrea juga mengikuti jejaknya berkiprah di dunia sepakbola. Ketika Mancini melatih Inter Milan, Filipo dan Andrea masuk tim muda Inter Milan. Bahkan Filipo sempat main 10 menit di Copa Italia. Nah, begitu pindah ke Manchester City, Filipo dan Andrea pun ikut pindah. Keduanya kini menjadi skuad tim U-21 Manchester City.

Mancini telah memberikan sebuah teladan hidup.Dia tidak silau dengan uang dan popularitas,lantas meninggalkan Tuhan. Dia mengakui adanya Tuhan dan membuat karya-karya agung atas kehidupan pribadi dan keluarganya. Selamat ya Mancio. (Alex Madji)

Kamis, 10 Mei 2012

Mau Wisata Kuliner? Ya ke Bintaro


Kawasan Alam Sutra dan Graha Raya Bintaro di Tengerang Selatan, saat ini menjadi salah satu objek wisata kuliner. Bagi mereka yang ingin memanjakan lidah, tidak salah kalau mengunjungi kawasan ini. Yang paling mencolok adalah Alam Sutra.

Di perumahan elite ini, ada mall bernama Living World. Tetapi sebagian besar isinya adalah restoran dengan berbagai jenis makanan. Jenis makanan apa saja bisa ditemukan di berbagai restoran di mal tersebut. Selain restoran, ada supermarket Hero, toko bangunan, dan pusat elektronik. Tetapi di antara itu semua, yang paling mencolok di sini restoran-restoran dan warung-warung kopinya.

Tidak hanya di situ. Di seberang mal itu ada Flavor Bliz. Ini juga pusat restoran. Berbagai jenis restoran ada di sini. Tinggal Anda pilih. Mau restoran cepat saji atau restoran yang harus menunggu sesaat sebelum pesanan Anda datang. Pada malam tertentu, di sini anda dihibur live music.

Bergerak sedikit dari situ, ke arah Graha Bintaro, khususnya di Pasar Segar, Anda bertemu dengan lokasi serupa. Wisata kuliner. Ya, di tempat ini berbagai jenis makanan kaki lima dijajakan dalam suasana mal, tetapi di bawah alam terbuka. Ada nasi/mie goreng, pecel ayam, seafood, dan masih banyak jenis makanan lainnya. Atau kalau anda sekedar menikmati kopi dan roti bakar, semua ada di sana. Tentu dengan tarif terjangkau.

Uniknya, tempat itu dihiasi lampu warna warni yang terpendar-pendar ketika malam tiba. Lampion-lampion yang bergelantungan di udara juga membuat suasana makan malam Anda makin berkesan. Setiap akhir pekan, terutama malam Minggu, Anda dihibur live music, organ tunggal. Tetapi kalau Anda mau nyanyi juga boleh. Atau sekedar memesan lagu kesukaan Anda juga bisa dilakukan. Penyanyi akan mendendangkan lagu itu sambil Anda juga ikut bersenandung dan menghentak-hentakan kaki. Sedangkan Minggu sore, Anda diiringi kaset. Karena itu, tidak salah kalau pas lewat, Anda sesekali menikmati suasana makan malam atu sekedar ngopi di tempat ini.

Akhirnya selamat menjajal.