Rabu, 30 November 2011

Jembatan-jembatan yang Pernah Runtuh


Jembatan Kertanegara atau Jembatan Mahakam di Kutai Kertanegara yang runtuh pada Sabtu, 26 November 2011 sekitar pukul 16.00 WIB, bukanlah satu-satunya yang pernah terjadi di dunia. Di belahan dunia lain, hal serupa juga terjadi. Bedanya, pada peristiwa-peristiwa di sana tidak menelan korban jiwa seperti di Kutai Kertanegara.

Saya hanya mau tunjukkan dua jembatan. Yang satu di perbatasan Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Tepatnya di Niagara Fall (AS) dan Ontario Kanada. Yang lainnya di Brisbane Ausralia.

Jembatan di Niagara Fall bernama Honeymoon Bridge (Jembatan Bulan Madu) yang aslinya bernama Upper Steel Arch Bridge. Dia melintas di atas Sungai Niagara dengan panjang 1039 meter . Jembatan ini menghubungkan Kota Ontario Kanada dengan Niagara Falls AS.

Jembatan ini dibangun pada Januari 1897 oleh Niagara Falls and Clifton Suspension Bridge Company. Perusahaan ini semula hanya untuk memperkuat suspensi jembatan, tetapi insinyur perusahaan tersebut, Leffert L Buck, diminta pihak perusahaan untuk mendisain ulang jembatan tersebut. Bahkan ada permintaan supaya dilakukan konstruksi jembatan baru.

The Upper Steel Arch Bridge selesai dibangun dan dibuka bagi kendaraan umum pada 23 Juni 1897. Jembatan itu dilengkapi dengan jalur ganda untuk troli listrik, ruang untuk bagasi dan pejalan kaki. Pemandangan jembatan ini sangat elok dengan struktur yang luar bisa sehingga bisa melihat pemandangan dari ketinggian yang mahaindah.

Pada 18 April 1899, The International Traction Company mencoba memperbaiki kondisi jembatan yang rusak akibat hantaman bongkahan es. Baja-baja yang bengkok dibetulkan, dinding batu setinggi 24 kaki yang dimulai empat kaki di bawah permukaan air dibangun untuk melindungi fondasi jembatan dari hantaman bongkahan es. Upaya itu sukses. Buktinya, jembatan itu tetap dibuka hingga hampir 40 tahun kemudian.

Tetapi The Upper Steel Arch Bridge memiliki muatan yang berlebihan plus tiupan angin yang kencang membuat jembatan itu tidak stabil. Ketidakstabilan itu terjadi pada 8 Juni 1925 dan terekam ketika sekelompok orang berkumpul di jembatan itu untuk menyaksikan fireworks pada perayaan bertajuk “The Festival of Lights”. Para penonton yang memenuhi jembatan itu segera sadar bahwa jembatan bergoyang. Menyadari itu mereka lalu dengan cepat meninggalkan jembatan.

Kalau jembatan itu kolaps bersama begitu banyak orang di atasnya, sungguh sebuah kejadian yang sulit terbayangkan. Dan karena itu, meskipun struktur jembatan tidak mengalami kerusakan, jembatan itu diperkuat untuk menghindari terjadi kecelakaan lebih parah di kemudian hari.

Setelah diperbaiki, jembatan tersebut masih bisa dibuka lagi hingga 13 tahun kemudian sampai Januari 1938. Pada 25 Januari 1938, bongkahan es setinggi 100 kaki dari Danau Erie kembali menghantam jembatan tersebut hingga tiang-tiang penyangganya bengkok. Ditambah lagi tiupan angin kencang mempercepat robohnya jembatan itu. Para saksi mata yakin bahwa jembatan ini tinggal menunggu waktu saja untuk runtuh.

Lalu, wartawan, warga setempat, wisatawan berdatangan ke Niagara Fall. Mereka berharap bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri runtuhnya jembatan tersebut. Dan benar. Dua hari kemudian, tepatnya pada 27 Januari 1938, pada pukul 16.10 sore, sebuah gerakan es kemudian mendorong jembatan tersebut. Akibatnya jembatan itu rubuh dan besi-besi baja berlipat hingga membentuk huruf “W” di bawah es. Besi-besi baja dari jembatan itu kemudian dipotong menjadi enam bagian dan tetap menjadi atraksi menarik bagi para wisatawan. Kemudian potongan-potongan itu diangkat satu demi satu.

Maka untuk menghubungkan Kanada dengan AS, dibangunlah jembatan baru bernama Rainbow Bridge (Jembatan Pelangi) pada 1941 agak sedikit ke utara dari lokasi Honeymoon Bridge yang roboh itu.

Albert Bridge
Satu lagi jembatan yang pernah runtuh yakni Jembatan Albert atau Albert Bridge di Brisbane Australia. Ini adalah jembatan rel kereta api yang menyeberangi Sungai Brisbane, Queensland, Australia dengan panjang 103,7 meter. Jembatan ini menghubungkan antara Stasiun Indooroopilly dan Chelmer.

Pembangunan jembatan ini rampung pada Juli 1875. Selama pembangunan jembatan ini, arus kereta api Ipswich tidak dibuka. Pasca pembangunan, rel kereta api dari Ipswich ke Granschester bisa sambung hingga ke Brisbane.

Jembatan itu runtuh pada 1893 karena banjir. Kemudian dibangun kembali dan rampung pada 1895 dan bertahan hingga saat ini. Jembatan itu dirancang oleh Henry Charles Stanley, Kepala Insinyur Kereta Api Queensland periode 1891-1901. Dalam rancangannya, dia tidak mau mengulangi kesalahan sebelumnya sehingga jembatan itu bisa runtuh akibat banjir.

Jembatan itu dibuka kembali pada Agustus 1895 dan tetap menjadi jembatan tebesar di Australia. Kedua jembatan itu tetap diberi nama Albert Bridge untuk menghormati Pangeran Wales, Pangeran Albert.

Selama konstruksi jembatan yang kedua pasca runtuh akibat banjir, sebanyak 240 pekerja dikerahkan. Pada jembatan itu disediakan pula tempat pejalan kaki (pedestarian), hingga dibangun Jembatan Walter Taylor pada 1937 di dekat Albert Bridge. Ada juga jembatan kereta api yang tanpa nama dan terletak antara Albert Bridge dan Walter Taylor Bridge.
Itulah dua jembatan yang pernah runtuh dan berhasil dibangun kembali. Runtuhnya dua jembatan itu bukan karena kelalaian manusia, seperti yang terjadi di Jembatan Kertanegara. Tetapi karena faktor alam yang berada di luar jangkauan manusia. (Dari berbagai sumber/Alex Madji)

Selasa, 29 November 2011

Kambing Hitam


Ini bukan catatan tentang kambing berwarna hitam. Tetapi tentang sebuah kebiasaan buruk di negeri ini, yaitu suka menyalahkan orang atau pihak atau sesuatu yang lain. Mereka yang seharusnya bertanggung jawab terhadap sesuatu cuci tangan alias lempar tanggung jawab. Yang lazim terjadi adalah mengkambinghitamkan orang lain. Lebih buruk lagi, mengkambinghitamkan benda mati.

Hal seperti itu tidak hanya terjadi dalam dunia politik. Juga dalam bencana. Termasuk dalam peristiwa runtuhnya Jembatan Kertanegara atau Jembatan Mahakam di Kutai Kertanegara pada Sabtu, 26 November 2011 sore.

Jembatan itu rubuh ketika umurnya baru 10 tahun. Padahal, dia didisain untuk kokoh hingga 50 tahun. Tapi apa mau dikata. Roboh dalam usia yang masih sangat muda.

Jembatan tersebut dibangun oleh perusahaan konstruksi milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Hutama Karya. Tetapi belum apa-apa, Menteri BUMN Dahlan Iskan membela anak buahnya. “Runtuhnya jembatan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur kini tidak ada lagi kaitannya dengan Hutama Karya,” tulis Vivanews.com pada Senin, 28 November 2011.

Menurut Dahlan Iskan, jembatan itu sudah lama diserahkan kepada operator pengelola swasta. “Soal pemeliharaan sudah diserahkan kepada pihak swasta,” kata mantan Direktur Utama PLN itu. Karena itu, pihaknya tidak akan memanggil direksi Hutama Karya terkait rubuhnya jembatan terpanjang di Kalimantan itu.

Sementara Bupati Kuta Kertanegara yang juga anak kandung mantan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani AR, Rita Widyasari, seolah melemparkan tanggung jawab kepada PT Bukaka, perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla, atas runtuhnya jembatan yang dibangun pada masa pemerintahan ayahnya itu. Pasalnya, mereka yang memenangkan tender senilai Rp 2,7 miliar untuk memperbaiki jembatan tersebut.

Sementara Direktur Utama PT Bukaka, Irsal Kamarudin menampik. Robohnya jembatan itu karena kondisi awal sejak dibangun sudah berubah. Sejumlah baut sudah mulai longgar. “Kami mendapat kontrak dari PU (Kementerian Pekerjaan Umum) untuk mengencangkan baut-baut jembatan yang mulai longgar,” ucapnya Senin, 28 November 2011 seperti dikutip Vivanews.com.

Mur-mur atau baut-baut yang longgar itulah yang menyebabkan jembatan menjadi miring dan bebannya menjadi tidak merata hingga akhirnya rubuh. “Memang sudah ada perubahan dari awal jembatan itu dibangun,” lanjutnya.

Dengan kata lain, pembangunan jembatan itu sudah bermasalah sejak awal. Hutama Karya juga patut dimintai pertanggungjawaban atas rubuhnya jembatan tersebut.

Lingkaran kambing hitamnya sangat jelas. Dahlan Iskan menuding pihak swasta sebagai yang bertanggung jawab. Rita Widyasari memperjelas bahwa yang dimaksud adalah PT Bukaka. Lalu Bukaka menuding benda mati baut atau mur yang longgar. Baut longgar itu adalah kesalahan Hutama Karya sebagai penyebab utama rubuhnya jembatan itu.

Karena itu tindakan Dahlan Iskan “melindungi” Hutama Karya sebagai perusahaan yang membangun jembatan tersebut tidak tepat dan terlalu prematur. Seyogyanya, biarkan aparat kepolisian memeriksa Hutama Karya, seperti juga polisi memeriksa karyawan Bukaka yang sedang mempersiapkan pekerjaan perbaikan.

Sehubungan dengan itu, menarik pernyataan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bidang Pencegahan M Jasin bahwa ada indikasi ketidakjujuran dalam pembangunan Jembatan Kertanegara itu, terutama terkait pengadaan barang dan jasa. Tetapi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diminta untuk mengaudit perusahaan yang membangun jembatan itu. Kalau ada indikasi korupsi di dalamnya baru akan ditindaklanjuti KPK. (Suarapembaruan.com, 28 November 2011).

Mari kita tunggu hasil akhirnya. Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas runtuhnya jembatan itu. Atau, seperti biasa terjadi di negeri ini, masalah itu selesai pada pengkambinghitaman dan yang menjadi “korban” adalah baut-baut yang logar itu??? Semoga ada makhluk hidup yang secara gentle akan bertanggung jawab. (Alex Madji)

Senin, 28 November 2011

Di Ujung Jembatan Kertanegara


Berita Sabtu, 26 November 2011 siang sungguh mengejutkan. Isinya, Jembatan Kertanegara atau yang akrab disebut Jembatan Mahakam runtuh. Seluruh jembatan jatuh ke Sungai Mahakam. Tidak ada yang tersisa. Kecuali dua tiang penyangga di kedua ujungnya. Sejumlah mobil jatuh ke sungai. Hingga, Senin, 28 November 2011 baru 11 orang ditemukan tewas.

Mendapat berita ini, pikiran saya melayang ke jembatan itu dan mencoba mengiat-ingat peristiwa di ujung jembatan tersebut lima setengah tahun silam. Tepatnya 13 Juni 2006. Saya termasuk dalam 10 wartawan yang dipukul oleh pereman suruhan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani AR di ujung jembatan Kertanegara pada hari itu. Foto di atas adalah kenangan buruk lima setengah tahun silam itu.

Ceritanya begini. Saya ditugaskan kantor tempat saya bekerja memenuhi undangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk meliput persiapan penyelanggaraan Pekan Olah Raga Nasional (PON) di Smarinda 2008. Bersama wartawan-wartawan dari media lain, kebanyakan wartawan olah raga, kami tiba di Samarinda 12 Juni 2006, setelah beberapa saat sebelumnya mendarat di Bandar Udara Sepinggan Balikpapan.

Pada 12 Juni 2006 sore, kami bertemu dengan Gubernur Kalimantan Timur ketika itu Suwarna AF alias Suwarna Abdul Fatah dan beberapa pejabat setempat termasuk Sekretaris Daerah. Dalam pertemuan itu, Suwarna memaparkan perkembangan pembangunan infrastruktur PON 2008. Dalam pembicaraan di Kantor Gubernur Kaltim itu, terselip juga masalah politik lokal.

Isu yang mencuat ketika itu adalah Bupati Kutai Kertanegara Syaukani AR pergi ke luar negeri tanpa sepengetahuan Gubernur Suwarna AF. Sebagai wartawan peliput di Depdagri, saya tahu betul bahwa seorang bupati, kalau ke luar negeri harus meminta ijin kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur. Tetapi itu tidak dilakukan Syaukani. Karena itu, sayalah wartawan yang paling gencar mempertanyakan masalah ini.

Tetapi saya sebenarnya bertanya dalam ketidaktahuan saya tentang pertarungan politik lokal. Kemudian baru saya tahu bahwa ternyata Suwarna AF dan Syaukani AR bersaing untuk memperebutkan jabatan Gubernur Kalimantan Timur. Keduanya saling potong dan saling jegal. Suwarna AF akhirnya dijebloskan ke penjara karena korupsi dan gagal maju dalam pemilihan umum Gubernur Kaltim. Untunglah, Syaukani AR juga dijebloskan ke penjara lagi-lagi karena masalah korupsi dan juga gagal maju ke pemilihan Gubernur Kaltim. Justru yang menjadi Gubernur kemudian adalah Awang Faroek.

Setelah acara tatap muka selesai, kami diantar ke penginapan di Hotel Samarinda. Malam itu dilewati dengan suka cita.

Keesokan harinya, 13 Juni 2006, karena tidak ada kegiatan lagi, ketua rombongan wartawan Zulkarnain Alregar mengajak kami ke Kutai Kertanegara untuk melihat pembangunan di Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kertanegara, yang disebut-sebut maju.

Maka setelah sarapan, dengan menggunakan beberapa mobil kami meluncur ke Tenggarong melewati jalan bak tol, yang belum lama dibuka. Mobil melintas dengan kecepatan tinggi.

Tetapi ada yang aneh. Ada sebuah mobil Avanza menguntit rombongan ini. Begitu mobil rombongan berhenti, laju kendaraan itu melambat. Tetapi kecurigaan sepanjang jalan itu tidak sampai menghentikan rencana ke Tenggarong.

Tibalah kami di Jembatan Kertangara. Jembatan itu panjang sekali dan menjadi jembatan terpanjang di Kalimantan. Indah. Di atasnya agak di sebelah kanan, ada kereta gantung. Ini adalah proyek-proyek mercusuar Syaukani AR sebagai Bupati Kutai Kertanegara.

Kami berhenti di situ. Menyaksikan keindahan Sungai Mahakam dan Tenggarong agak dari kejauhan. Kami abadikan keindahan itu dalam gambar. Belum lama kami berfoto ria, tiba-tiba segerombolan laki-laki menyerang. Kami kalang kabut. Saya yang tidak tahu menahu masalahnya berteriak. Paha saya ditendang dan dan didorong masuk ke dalam mobil. Untung tidak dipukul dengan benda keras.

Kami disuruh kembali ke Samarinda melintasi jembatan Kertanegara itu. Di ujung sebelah sana kami dipaksa belok kiri mengikuti mobil Avanza yang menguntit kami sejak dari Samarinda. Kami lalu belok kanan dan menyusuri Sungai Mahakam kembali ke Samarinda. Sementara Avanza tadi menghilang. Gara-gara kasus kekerasan ini, kami tidak jadi menyaksikan pembangunan di Kota Tenggarong, selain melihat jembatan dan kereta gantung, proyek ambisius Syaukani.

Hari itu menjadi hari tersedih dan termuram dalam hidup saya. Dipukul tanpa salah pada saat menjalankan tugas jurnalistik. Setelah menyusuri Sungai Mahakam, kami tiba kembali di Hotel Samarinda. Saya menghabiskan satu malam lagi di hotel ini dalam ketakutan.

Sejumlah rekan warawan Kaltim berdatangan ke hotel untuk sekedar memberi dukungan. Sejumlah orang, sepertinya dari kelompok Gubernur Suwarna, juga datang memberi jaminan keamanan kepada kami. Tetapi saya tetap takut. Kemudian saya minta Bang Zulkarnain untuk membelikan saya tiket agar bisa pulang keesokan harinya, 14 Juni 2006.

Akhirnya saya pulang juga ke Jakarta pada hari itu. Sejak kasus ini, saya tidak pernah datang lagi ke Samarinda. Beberapa tahun kemudian pernah ditugaskan ke sana. Tetapi saya menolak tugas itu karena masih trauma.

Kenangan akan peristiwa ini muncul kembali ketika mendengar berita runtuhnya Jembatan Kertanegara yang untuk sementara menelan korban jiwa sebanyak 11 orang. Ya, semoga mereka semua diterima di sisi Tuhan. (Alex Madji)

Jumat, 25 November 2011

Mengintip Blog Orang Terkenal


Kenal Budiono Darsono kan? Kalau tidak, terlalu. Dia adalah pendiri Detikom dan pemimpin redaksi portal berita terbesar di Indonesia itu. Ternyata, dia bukan hanya seorang entepreneur dan pemimpin redaksi. Dia juga seorang blogger handal dan aktif. Dia rajin menulis. Tentang apa saja. Muali dari kuliner, budaya, sampai tentang dirinya sendiri. Luar biasa.

Di sela-sela kesibukannya yang setumpuk, dia menyempatkan diri untuk menulis. Ya, mungkin karena menulis sudah menjadi DNA-nya. Maklum sebagian besar hidupnya habis di dunia jurnalistik. Dia malang melintang di berbagai media sebelum akhirnya mendirikan Detikom.

Tengok saja blognya di budiono.blogdetik.com. Di blog yang berwarna kepala orange ini, BD, begitu dia disapa, selalu memutakhirkan tulisannya. Setiap hari mantan wartawan Tempo dan Detik yang dibreidel rezim Soeharto ini selalu mengunggah satu tulisan.

Sebagai contoh, pada 20 November 2011, dia memuat tulisan berjudul “Cakar Ayam itu Membuat Gigiku Patah dan Ompong”. Lalu keesokan harinya dia memposting tulisan berjudul “Penjinak Asam Lambung: Alpukat Dipadu Yakult”. Lalu 22 November 2011, dia menulis tentang “Artis Tong Setan Itu Telah Bubar”. Tanggal 23 November 2011, dia menulis dengan judul “Menutup Ompong, Pilih Impalan atau Gigi Palsu”.

Lalu pada 24 dan 25 November dia masing-masing menulis tentang “Eks Tempo, Eks Surabaya Post dan Alumni Detik” serta “Dan Saya pun Terhindar Jadi Anak Buah Butet Kartaredjasa”. Hanya dua hari dia tidak meng-up date blognya, yaitu pada tanggal 18 dan 19 November 2011. Pada 17 November dia menulis tentang “Kepala Ikan: Medan Baru, Hunan Hingga Apolo”.

Tulisannya pun ringan. Santai dan pendek. Tidak bertele-tele. Gaya Tempo-nya terasa sangat kental dengan kalimat yang pendek-pendek. Menarik. Dan yang penting adalah informatif. Termasuk tentang ketika giginya patah dan harus ditambal atau diganti dengan gigi palsu.

Orang tenar lainnya yang sempat saya intip adalah Merry Riana. Dia entrepreneur, motivator perempuan nomor satu di Asia Tenggara. Dia perempuan kelahiran Jakarta tetapi menetap dan berbisnis di Singapura. Dia punya www.merryriana.com. Meski punya domain sendiri, website itu sebetulnya adalah sebuah blog. Coba saja tengok sendiri.

Isinya, kata-kata motivasi. Pendek-pendek. Hanya satu dua alinea. Terkadang ada satu artikel panjang dan ditulis dalam Bahasa Inggris. Mungkin karena dia tinggal di Singapura. Hanya satu artikel ditulis dalam Bahaysa Indonesia yang diposting pada 20 November 2011. Itupun tentang bukunya “Mimpi Sejuta Dolar” yang diterbitkan di Jakarta.

Isi blog Merry Riana ini lebih banyak tentang aktivitas dia sebagai seorang motivator ulung.

Dari sudut updating, Merry Riana tidak serajin Budiono Sudarsono. Merry Riana termasuk cukup jarang mengupdate blognya. Mungkin karena kesibukan yang luar biasa baik untuk mengurus bisnisnya sendiri maupun untuk berbicara di berbagai forum seminar.

Contohnya, pada bulan Juli Merry Riana hanya tiga kali meng-up date blognya yang pada tanggal 4, 24 dan 31 Juli. Begitupun Agustus. Dia hanya upload artikel pada 7, 9, dan 14 Agustus. Dia baru upload lagi pada 25 September. Selama Oktober Merry Riana tidak mengunggah satu tulisan pun. Dia baru mengunggah tulisan lagi pada 20 November 2011. Itu tulisan terakhir. Perihal bukunya “Mimpi Sejuta Dolar” yang diluncurkan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Meski demikian, blog Merry Riana paling banyak dikunjungi. Postingan terpopulernya dilihat sampai 97.032 kali. Hebat kan? Postingan-postingannya pun ditwit hingga 50-60-an kali.

Nah, saya pun ingin seperti mereka. Rajin seperti BD dan populer seperti Merry Riana. Menulis tentang apa saja dan memposting di blog ini www.ciar-ciar.blogspot.com. Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang mengunjunginya. Dan Anda? Mau seperti mereka juga? Ayo mari kita memulai. (Alex Madji)

Kamis, 24 November 2011

Antara Pernikahan Istana dan Keraton


Pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas, putra bungsu pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Ani Yudhoyono dengan Siti Rubi Aliya Rajasa, putri Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa usai sudah. Keduanya sudah sah menjadi suami istri. Tinggal menunggu resepsi di JCC pada Sabtu, 26 November 2011.

Ijab kabul dan akad nikah yang berlangsung di Istana Cipanas, Kabupaten Cianjur Jawa Barat itu disiarkan Trans corporation milik Chairul Tanjung yang dekat dengan SBY dan Hatta Rajasa. Sehingga publik pun bisa menyaksikan detik-detik paling bersejarah dalam perjalanan kisah cinta Ibas dan Aliya.

Di Cipanas, warga menontong detik-detik ijab kabul dan akad nikah ini melalui layar lebar yang disiapkan di lapangan terbuka yang tidak jauh dari Istana Cipanas. Foto yang diambil wartawan Suara Pembaruan Ruht Semiono seperti yang saya tampilkan di atas memperlihatkan antusiasme warga sekitar istana menyakiskan acara tersebut.

Sebulan silam, tepatnya 18 Oktober 2011, Raja Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono X menikahkan putrinya Gusti Kanjeng Ratu Bendara dengan Achmad Ubaidillah atau Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara.

Dibandingkan dengan pernikahan Ibas-Aliya, pernikahan Ratu Bandera dengan Pangeran Haryo Yudanegara jauh lebih iruh. Pernikahan Ibas-Aliya kalah pamor dan tidak terlalu menyedot perhatian publik. Paling tidak, di kantor saya, tidak semua orang menyaksikan acara itu. Hanya dua dari delapan televisi yang memutar channel Trans. Jadi hanya mereka yang berada di dekat dua televisi itu yang melihat acara tersebut. Sisanya, melihat acara-acara lain di channel berbeda.

Sementara pernikahan Ratu Bandera dan Pengaran Haryo Yudanegara mendapat perhatian yang luas. Liputan televisi dan media cetak juga massif. Perhatian publik pun tersedot. Rakyat Yogyakarta berjejal di pinggir jalan menyaksikan kirap pengantin. Mirip dengan The Royal Wedding di Inggris.

Maklum, dua pernikahan ini memang berbeda. Yang satu (Ibas-Aliya) pernikahan rakyat biasa yang kebetulan menjadi anak seorang presiden dan pejabat negara. Dan karena itu tidak memiliki pakem dan tradisi turun temurun. Sedangkan yang lain (Ratu Bandera-Pangeran Haryo Yudanegara) pernikahan kerajaan yang memiliki tradisi dan tata cara serta pakem yang hidup secara turun temurun selama berabad-abad. Sama dengan pernikahan keluarga kerajaan Inggris yang selalu menyedot perhatian mayoritas manusia di muka bumi ini.

Selain itu, kedua pernikahan itu berlangsung di istana. Yang satu di Istana milik negara dan yang lain di Istana milik kerajaan. Apakah pernikahan itu dibiayai oleh negara? Menurut pengakuan SBY, Juru bicaranya Julian Aldrin Pasha, dan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, tidak sepeser pun uang negara diambil untuk pernikahan Ibas-Aliya. Biaya pernikahan murni uang SBY dan Hatta Rajasa. Apakah SBY menyewa tempat Istana Cipanas? Hanya mereka yang tahu.

Pertanyaan soal penggunaan uang negara pernah juga ditanyakan wartawan pada pernikahan Agus Harimurti Yudhoyono dengan Anissa Larasati Pohan enam tahun silam. Ketika itu jumpa persnya di Istana Bogor tempat resepsi pernikahan berlangsung. Seorang teman wartawan bertanya penggunaan uang negara dalam pernikahan itu.

SBY tidak menjawab pertanyaan itu, tapi langsung menghentikan jumpa pers. Dan pergi. Setelah itu, teman wartawan tadi dilarang meliput di Istana. Kali ini SBY tidak ditanya wartawan. Dia berbicara sendiri tentang tidak ada anggaran negara dalam pernikahan Ibas dan Aliya.

Ah daripada pusing-pusing memikirkan dana negara dalam pernikahan itu, toh KPK juga tidak mampu mengusutnya, lebih baik kita memberi ucapan selamat kepada Ibas dan Aliya. Selamat Bahagia ya, semoga langgeng sampai kakek nenek dan jauh dari gosip seperti para selebritis negeri ini. (Alex Madji)

Rabu, 23 November 2011

Menunggu Hata Radjasa-Ani Yudhoyono Naik “Pelaminan”


Selasa, 22 November 2011, prosesi pernikahan pasangan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas, putra bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Ani Yudhoyono dengan Siti Ruby Aliya Radjasa, putri Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa, dimulai. Diawali dengan upacara mandi kembang pagi hingga siang hari dilanjutkan dengan midodareni pada malam harinya.

Sementara akad nikah berlangsung di Istana Cipanas, Jawa Barat, Kamis 24 November 2011 pukul 10.00-12.00 WIB. Wakil Presiden Boediono bertindak sebagai saksi mempelai pria. Sementara saksi untuk mempelai perempuan adalah mantan Ketua MPR yang juga mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Amin Rais.

Ini adalah pernikahan kedua dan terakhir selama SBY menjadi Presiden. Pada periode pertama kepresidenannya, dia menikahkan putra sulungnya Kapten TNI Agus Harimurti Yudhoyono dengan Anissa Larasati Pohan di kediaman orang tua Annisa di Jalan Senopati No. 8, Jakarta, 7 Juli 2005. Resepsi berlangsung di Istana Bogor.

Tetapi pernikahan Ibas dan Aliya ini punya warna dan makna tersendiri. Pernikahan mereka ini adalah perkawinan politis, seperti perkawinan aristokrat zaman dulu. Alasannya, pertama, karena Ibas dan Aliya sama-sama anak politisi dan penggede di negeri ini. SBY, ayah Ibas, adalah Presiden saat ini. Sementara Hatta Radjasa, ayah Aliya, adalah Ketua Umum PAN Menteri Koordinator Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu II pimpinan SBY. Selian itu, Ibas sendiri adalah seorang politisi.

Kedua, pernikahan mereka berlangsung sangat dekat dengan perhelatan politik pada 2014. Nama Hatta Radjasa dan Ny Ani Yudhoyono, ibu Ibas, juga disebut-sebut menjadi bakal calon presiden pada 2014. Bahkan, menurut Kantor Berita Antara, ada wacana keduanya dipasang sebagai satu paket.

Nama Hatta Radjasa dan Ny Ani Yudhoyono juga disebut dalam polling berbagai lembaga survei sebagai bakal calon presiden 2014. Meskipun popularitas keduanya masih di papan bawah alias berada di bawah nama-nama lama, spesialis calon presiden.

Sebagai contoh, survei Sugeng Sarjadi Syndicated (SSS) periode Oktober 2011 menyebutkan, Hatta Radjasa hanya meraih 2,8 persen resonden. Dia hanya berada satu langkah di atas Surya Paloh yang hanya meraih 2,5 persen responden. Dia masih kalah dari nama-nama seperti Sri Mulyani (7,4%), Aburizal Bakrie (6,8%), Said Akil Siradj (6%), Din Syamsuddin (5,2%), Pramono Edhie Wibowo (4,2%), Jusuf Kalla (4,0%), dan Djoko Suyanto (3,2%).

Survei Reform Institute pada 12-24 September 2011 menunjukkan bahwa Ani Yudhoyono hanya meraih 4,13 persen respondon. Dia berada di urutan paling buncit dari sekian nama. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie berada di urutan pertama dengan perolehan suara 13,58 persen, disusul Prabowo Subianto (8,46%), Jusuf Kalla (7,06%), dan Hidayat Nurwahid (5,17%).

Sementara survei Jaringan Suara Indonesia (JSI) pada 10-15 Oktober 2011 menyebutkan, Ani Yudhoyono dan Hatta Radjasa masing-masing mendapat 1,6 persen suara responden. Mereka hanya unggul dari Anas Urbaningrum (1,5%), Sutanto (0,2%), dan Djoko Suyanto (0,2%). Sementara posisi teratas masih ditempati Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan 19,6 persen disusul berturut-turut Prabowo Subianto (10,8%), Aburizal Bakrie (8,9%), Wiranto (7,3%), Sri Sultan Hamengkubuwono X (6,5%), Hidayat Nur Wahid (3,8%), dan Surya Paloh (2,3%).

Data tiga lembaga survei di atas menunjukkan bahwa nama Hatta Radjasa dan Ani Yudhoyono patut diperhitungkan pada pemilu presiden 2014. Apalagi keduanya memiliki kendaraan politik. Hatta Radjasa sudah didorong oleh pengurus PAN di daerah menjadi Calon Presiden. Bahkan, Arya Bima meminta Hatta mundur dari Menteri Koordinator Perekonomian untuk fokus pada kursi RI 1.

Ani Yudhoyono juga memiliki kendaraan politik yaitu Partai Demokrat. Tetapi internal partai tidak terang-terangan mendorong putri Sarwo Edi Wibowo itu. Ini adalah gaya berpolitik SBY dan Partai Demokrat. Politik jaim alias jaga imij. Tetapi bukan tidak mungkin dia akan dimunculkan sebagai calon presiden. Tinggal menunggu momen yang pas. Meskipun, beberapa kali SBY menegaskan bahwa istri dan anaknya tidak akan dicalonkan sebagai presiden.

Baik Hatta Radjasa maupun Ani Yudhoyono dapat maju sendiri-sendiri. Tetapi persaingan di dunia politik tentu bakal berpengaruh pada hubungan kekeluargaan mereka. SBY sebagai orang yang sangat memperhatikan tata krama politik sudah pasti akan menjaga ini.

Karena itu kemungkinannya ada dua. Pertama, Hatta Radjasa dan Ani Yudhoyono akan “dikawinkan” dan naik ke pelaminan politik 2014. Tetapi ini sangat tergantung tingkat elektabilitas keduanya. Figur SBY tetap akan menjadi daya tarik bagi pasangan ini. Soal siapa nomor satu dan siapa nomor dua, tergantung hasil pemilu legislatif.

Tetapi pada saat bersamaan, perkawinan keduanya akan menjadi sasaran empuk lawan-lawan politik mereka. Isu politik klan yang selalu berkonotasi negatif akan dihembuskan guna menghancurkan pasangan ini.

Kedua, pencalonan salah satu dari keduanya akan dianulir. Bagi SBY, mungkin lebih aman kalau Ibu Ani tidak maju agar konsisten dengan pernyataannya bahwa istri dan anaknya tidak akan maju pada pemilu presiden mendatang. Sebaliknya, kalau Hatta yang mundur, kader PAN akan berontak. Tetapi semua itu masih akan sangat tergantung hasil pemilu legislative 2014.

Tetapi peluang Hatta Radjasa dan Ani Yudhoyono menjadi “pengantin” berikut, setelah Ibas dan Aliya yang nikah Kamis 24 November 2011 tetap terbuka lebar. Maka kita tunggu saja keduanya naik pelaminan. (Alex Madji)

Selasa, 22 November 2011

Berharap Banyak pada Rahmad Darmawan


Ini lagi-lagi catatan tentang sepakbola. Tentang hasil laga final cabang olah raga paling popular di dunia pada SEA Games ke-26 antara Indonesia versus Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin, 21 November 2011. Pada laga itu, Indonesia kalah melalui adu tendangan penalti 3-4 setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit.

Indonesia unggul lebih dulu melalui gol tandukan bek Gunawan Dwi Cahyo pada menit ke-6 menyambut bola hasil sepak pojok Okto Maniani. Gunawan Dwi Cahyo yang berdiri bebas di dekat tiang gawang jauh langsung menyundul bola ke gawang Malaysia dan gol. Kedudukan 1-0.

Setelah gol itu, ritme permainan justru dikuasai Malaysia. Mereka mengandalkan umpan-upan atas yang akurat plus sentuhan dari kaki ke kaki yang bagus, meski berlangsung dalam tempo yang agak lamban. Sementara para pemain tim Garuda Muda mengandalkan umpan-umpan menyusur tanah disertai kesalahan sendiri yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Penguasaan bola yang dominan oleh Malaysia pasca gol cepat Indonesia itu, akhirnya membuahkan hasil. Pada menit ke-33, Malaysia berhasil menyamakan kedudukan melalui sundulan bek Omar Asraruddin. Gol ini terbilang unik. Omar harus menjatuhkan dirinya untuk menyundul bola di dalam kotak penalti menyambut umpan kapten tim Bachtiar Badrul. Bola itu melintas di antara dua bek Indonesia dan menyusur tanah ke pojok kanan gawang Indonesia dan tidak terjangkau Kurnia Mega. Kedudukan 1-1 bertahan hingga menit ke-120.

Sebenarnya dua kali Indonesia menjebol gawang Malaysia. Satu melalui Titus Bonay (Tibo) dan satu lagi melaui pemain pengganti Ferdinand Sinaga. Tetapi dua gol itu dibatalkan wasit karena pemain Indonesia terperangkap off side sebelumnya. Ferdinand Sinaga, misalnya, sudah berlari ke pinggir lapangan untuk merayakan golnya. Tetapi hakim garis mengangkat bendera membatalkan gol itu karena Okto Maniani yang menyambut bola umpan dari sayap kanan pertahanan Malaysia dengan kepalanya terlebih dahulu terperangkap off side.

Anti Klimaks
Penampilan Indonesia pada partai final ini, menurut saya, tidak seatraktif ketika mereka mengalahkan Vietnam 2-0 di semifinal. Pressing football dengan permainan cepat tidak terlalu tampak. Kemungkinan karena para pemain lelah. Sebab mereka hanya istirahat satu hari sebelum tampil di laga final.

Pada semifinal, permainan pressing football Tibo dan kawan-kawan sangat memukau. Ini yang membuat Vietnam keteteran. Pada laga final, para pemain Indonesia justru terperangkap dalam strategi dan taktik permainan Malaysia yang ingin mengurangi tempo. Strategi dan taktik Malaysia ini berhasil, paling tidak pada babak pertama.

Keberhasilan taktik Malaysia lainnya adalah mereka bisa mengunci Patrich Wanggai. Dia tidak diberi ruang tembak sedikit pun. Penjagaan begitu ketat membuat pemain ini mati gaya. Tidak ada aksi-aksi berbahaya yang dilakukan pemain Persidafon ini. Hanya satu kali dia melakukan tembakan kaki kirinya dari dalam kotak penalti. Tetapi bola tendangan itu melebar di luar jaring. Hanya Titus Bonay yang sering kali terlepas dari penjagaan ketat para pemain belakang Malaysia berkat keberaniannya bertarung dan berduel dengan pemain lawan dan beberapa kali mengancam gawang lawan. Akibat kengototannya dalam bermain, beberapa kali juga dia dijatuhkan pemain lawan.

Sementara dari sudut kebugaran, baik Indonesia maupun Malaysia, kualitasnya sama. Malahan kelihatannya, Indonesia lebih bagus. Sebab pada 15 menit terakhir waktu normal dan masa perpanjangan waktu, stamina para pemain Malaysia kedodoran. Indonesia mengepung pertahanan Singa Malaya. Hanya saja, anak-anak asuh Rahmad Darmawan tidak mampu memanfaatkan kelelahan fisik para pemain Malaysia itu. Mereka juga kesulitan membongkar pertahanan Harimau Malaya.

Akibatnya, peraih emas SEA Games 2011 cabang sepakbola harus ditentukan melalui adu tendangan penalti. Faktor mental, ketenangan, dan akurasi tendangan ke gawang sangat menentukan. Bagi tim Indonesia, ironis bahwa justru Gunawan Dwi Cahyo termasuk yang gagal memasukkan bola ke gawang. Ferdinand Sinaga juga gagal mengeksekusi tendangan 12 pas. Arah tendangan keduanya sama, ke sisi kanan gawang. Tendangan menyusur tanah Gunawan membentur tiang gawang. Sementara tendangan kaki kiri Ferdinand Sinaga yang sangat lemah dengan mudah dikuasai kiper Malaysia. Di pihak Malaysia, hanya satu orang yang gagal mengeksekusi tendangan penalti. Mereka akhirnya menang 4-3. Pelatih kepala tim nasional U-23 Indonesia Rahmad Darmawan mengakui, tim Malaysia lebih siap untuk adu tendangan penalti.

Meski demikian, kekalahan Indonesia pada laga final ini terbilang cukup terhormat. Meskipun faktanya, Indonesia tetap kalah dan pencinta sepakbola yang begitu besar di negeri ini kecewa. Apalagi kalah dari musuh bebuyutan Malaysia di kandang sendiri pula. Menjadi juara umum SEA Games menjadi kurang afdol karena tidak dilengkapi dengan emas dari cabang sepakbola.

Terlepas dari itu, penampilan anak-anak asuh Rahmad Darmawan selama turnamen ini cukup menjanjikan masa depan sepakbola Indonesia yang lebih baik dan patut diacungi jempol. Hanya saja, yang perlu diperhatikan serius adalah pembentukan mental bermain dan mental juara, ketenangan saat bermain dan tidak cepat puas. Para pemain Indonesia patut mencontohi para pemain Malaysia yang kelihatan sekali memiliki mental juara.

Nah, mari kita berharap banyak kepada Rahmad Darmawan. Mudah-mudahan dia bisa membawa sepakbola negara ini berkembang pesat. Tanamkan mental juara pada setiap pemain. Para pemain juga harus ditempa untuk memiliki mental bertarung demi kebanggaan dan harga diri bangsa. (Alex Madji)