Senin, 31 Oktober 2011

Terapi Bell's Pasy

Setelah seminggu mengalami Bell's Pasy, Sabtu, 29 Oktober 2011 siang, saya menjalani fisioterapi penyakit lumpuh pada wajah itu di Siloam Hospotal Lippo Karawaci.

Begitu masuk rumah sakit tersebut, kami (bersama istri, kedua anak kami dan dua orang yang membantu kami) mampir sebentar di salah satu kantin rumah sakit yang lobinya seperti hotel tersebut.

Dari situ kami (Saya, Istri saya Susi, dan carrol) langsung ke lantai lima, tempat fisioterapi berlangsung. Sementara Nani, Nita dan putra bungsu kami Enrique bertahan di kantin itu sambil sesekali lihat badut yang menghibur anak-anak di lobi rumah sakit itu.

Setelah menunggu sebentar, sambil tidur di kursi di depan kasir, saya masuk ke ruang dokter. Dokter yang tampak masih muda itu memanggil saya. Saya terbangun dari kantuk dan bergegas.

Sesampai di dalam, dia bertanya kenapa baru datang sekarang. Saya bilang, "Karena saya masih harus minum obat dari dokter saraf, Dokter Yusak." "Obatnya sudah habis?" tanya dia. "Masih berlangsung," timpalku.

Dia lalu menyuruh sanya menggelembungkan kedua pipi. Kemudan dia menusuknya. Pipi kanan masih bocor. "Ini bocor ya," ujarnya singkat.

Dia melanjutkan, "Kesembuhan Bell's Pasy ini sangat tergantung usaha Bapak. Bisa sembuh, tapi saya tidak bisa menjamin 100 persen kalau Bapak tidak aktif melatih di depan cermin. Karena itu kalau di depan cermin, alis coba diangkat ke atas, lalu pipi sebelah kanan juga diangkat," ujarnya sambil memberi contoh pada wajahnya sendiri.

Tak lama berselang dia pergi. "Nanti terapinya di ruangan lain. Silahkan menunggu," imbuhnya.

Saya lalu kembali ke deretan kursi di depan kasir tadi. Belum lama saya duduk, nama saya dipanggil. "Bapak Alexander Madji," panggil seorang suster terapis yang mengenakan kaos berkerah warna abu-abu pagi itu.

Saya yang didampingi sitri dan anak sulung saya, Carrol, masuk ke kamar yang dibatasi kain panjang degan kamar sebelahnya. Saya tidur di atas dipan kecil yang dibungkus seprei putih polos. Sang suster menjelaskan, akan dipasang alat sengatan listrik pada lima titik dengan durasi 3 menit pada masing-masing titik. Sengatan listrik itu dipasang pada dahi sedikit di atas alis mata, pipi, bibir atas, samping mulut sebelah kanan, dan pipi sedikit bagian bawah.

Rasanya seperti ditusuk jarum tumpul. Tidak sakit, kecuali yang di dahi karena, kata susternya, ada luka jerawat.

Setelah itu selesai, muka saya dipijet. Tidak dengan kencang tapi lembut. Saya disuruh buka mata lebar-lebar, senyum lebar-lebar, mengerutkan dahi sekuat-kuatnya, dan menyuruh buka mata kiri sambil mata kanan dipejam. Terasa susah dan berat. Tapi harus dilakukan. "Ini untuk merangsang sel-sel yang rusak itu," ujar suster terapis berkulit kuning langsat tersebut.

Terapinya sendiri tidak lama. Hanya 30-45 menit. Selesai itu kami belanja bulanan dan kembali ke rumah. Saya harus melakukan terapi ini minimal enam kali. Maka setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu dua minggu pertama November 2011, saya harus bolak balik rumah sakit tersebut.

Sesampai di rumah, saya mengikuti anjuran dokter tadi. Kebetulan di samping pintu kamar mandi rumah kami, ada cermin. Maka setiap kali lewat di situ saya praktekkan apa yang dilakukan suster terapis tadi. Dengan satu harapan, bisa cepat pulih. Ya, semoga bisa cepat pulih dan kembali ceria seperti sedia kala. (Alex Madji)

Jumat, 28 Oktober 2011

Mari Bermimpi Sejuta Dolar Bersama Merry Riana


Toko buku Kinokuniya Plasa Senayan Jakarta, Kamis, 27 Oktober 2011 siang riuh. Sebuah ruang kecil di antara rak-rak buku diisi kursi-kursi berbalut kain putih dengan ikatan kain biru tua pada bagian punggungnya. Semua terisi. Belum lagi di sisi kiri, kanan dan belakang, manusia berdiri berjejal. Di depannya ada panggung kecil dengan dua sofa plus satu meja kaca kecil. Di atasnya ada beberapa botol air mineral.

Sekitar 400 orang ada di sana. Mereka sudah menyesaki space itu sejak pukul 12.30 WIB. Bukan hanya warga Jakarta. Ada yang datang dari luar kota seperti Lampung, Yogyakarta, Banyuwangi, dan Pontianak. Mayoritas anak muda. Satu dua orang tampak sudah berumur, bahkan ada yang membawa serta anak kecilnya.

Mereka menenteng buku tentang Merry Riana, baik buku "Mimpi Sejuta Dolar" yang akan diluncurkan di situ maupun buku yang sudah diterbitkan sebelumnya, "A Gift From A Friend". Saya pun "latah" dan tidak mau ketinggalan. Saya beli juga buku "Mimpi Sejuta Dolar" Merry Riana karangan Alberthiene Endah seharga Rp 63.000. Padahal, kalau saya beli di Gramedia bisa dapat diskon dengan pakai ID card istri saya yang adalah karyawati Kelompok Kompas Gramedia. Makahnya saya bilang latah.

Siang itu, motivator muda nan cantik kelahiran Jakarta dan bermukim di Singapura Merry Riana meluncurkan bukunya "Mimpi Sejuta Dolar". Buku ini menceritakan perjalanan hidup Merry Riana berangkat dari orang yang tidak punya apa-apa menjadi memiliki segalanya yang ditulis penulis biografi ulung Indonesia, Alberthiene Endah. Acara itu dipandu wartawan senior, suami artis dan anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar Nurul Arifin, Mayong Suryolaksono. Acara peluncuran itu semakin ramai karena lelucon peserta Stand Up Comedy Kompas TV, Raditia.

Acara peluncuran buku terbitan Gramedia Pustaka Utama itu sedianya dimulai pukul 14.00 WIB. Tetapi molor 25 menit dan baru dibuka Mayong pada pukul 14.25 WIB. Meski molor peserta tak beringsut dari tempatnya.

Sambil menunggu acara dimulai, seorang pemuda di belakang saya dimintai komentarnya soal Merry Riana. Bagi pria muda bermata sipit itu, Merry Riana adalah tokoh yang sungguh inspiratif. "Saya sudah baca buku-buku tentang dia. Saya pun mau seperti dia. Mimpi sejuta dolar saya adalah memulai mimpi saya untuk menjadi sukses, mulai dari nol," ucapnya semangat.

Partisipasi, Energi, dan Action
Tak lama berselang, tokoh yang ditunggu-tunggu datang juga. Merry Riana. Mengenakan kaus hitam bertuliskan "Mimpi Sejuta Dolar" yang dibalut blazer merah marun dipadu dengan celana bahan hitam dan sepatu hak tinggi merah, padu dengan atasannya. Kostum itu nyaris menutup perut buncitnya karena sedang hamil anak kedua 7,5 buan. Meski begitu, Ria - sapaan akrabnya - tampil energik dan menarik.

"Meski lagi hamil 7,5 bulan, saya tetap semangat menjumpai anda karena anda semangat, bahkan datang dari luar kota seperti Lampung, Yogyakarta, dan Banyuwangi," ucapnya penuh senyum.

Menurut Merry yang pindah ke Singapura pada 1998 itu, ada tiga hal yang diperlukan untuk sukses yaitu partisipasi, energi, dan action (aksi). Dia bagai menyihir peserta sehingga sungguh semangat mendengar paparannya. Padahal, jam-jam segitu adalah jam BBS alias bobo-bobo siang.

Caranya pun sederhana. Dia meminta partisipasi peserta cukup dengan mengangkat tangan. "Mana partisipasinya?" tanya Merry. Semua angkat tangan. Sedangkan untuk energi dia meneriakkan yel. "Dalam setiap pelatihan saya, saya selalu menggunakan yel. Kalau saya bilang Indonesia, jawabannya majulah, sambil mengepalkan tangan kanan dan meninju udara," ujarnya. Dan, yang paling penting adalah action atau aksi. Tanpa aksi seluruh mimpi kita tidak akan pernah terwujud.

Itulah yang dilakukan Merry. Dia mengisahkan tentang dirinya. Dia anak orang pas-pasan. Dia "terusir" dari Indonesia ketika negara ini dilanda kerusuhan pada 1998. Sebagai warga beretnis Tionghoa, orang tuanya khawatir akan keselamatan mereka sekeluarga. Maka pergilan dia ke Singapura dan menuntut ilmu di Nanyang Technologcal University, Singapura. Itu bukan rencana keluarganya. Tadinya dia hendak dikuliahkan di Universitas Trisakti, tetapi gagal karena kerusuhan.

Di NTU dia ambil jurusan teknik elektro dan lulus dalam tempo empat tahun pada 2002. Biaya kuliah diperoleh dari pinjaman bank Singapura. Selama kuliah dia hidup prihatin. Biaya hidupnya hanya dengan Rp 70 ribu rupiah per minggu. Makanannya pun sederhana. Mi instan. Makan siang di kampus selalu dibawa dari asrama, yaitu roti tawar. Makannya secara sembunyi-sembunyi di toilet. Seprihatin itu.

Berbagai pekerjaan dicobanya. Mulai dari bagi-bagi brosur di jalanan, menjaga toko bunga, dan pramusaji hotel. Dia lakoni itu semua dengan setia dan tekun. Tujuannya hanya satu, tidak ingin membebani kedua orang tuanya. Itulah fase hidup Merry dimana dia sungguh berkekurangan dalam hal finansial.

Pada hari ulang tahun ke-20, dia lalu membangun mimpi dan tekad dalam hati. Dia menegaskan bahwa sebelum umur 30 tahun, dia sudah harus mandiri secara finansial. Dan betul-betul terjadi. Bahkan, lebih cepat dari mimpinya itu. Pada umur 26 tahun, dia sudah mendapatkan 1 juta dolar pertamanya melalui berbagai usaha yang jatuh bangun, sebelum akhirnya sukses. Pencapaiannya itu membuat dia menjadi buah bibir di negeri Singa dan kemudian melebar ke negeri-negeri tetangga, termasuk tanah airnya sendiri Indonesia. Liputan tentang dia pun meluas hingga Vietnam.

Pencapaian itu kemudian membawanya, tentu saja menjadi seorang entrepreneur, dan juga model dan bintang iklan sejumlah produk. Dia juga menjadi motivator perempuan nomor satu di Asia. Dia sudah menyemangati ribuan orang. Kini Merry hidup berecukupan dan berkelimpahan. Tetapi dia tidak berhenti bermimpi. Mimpinya sekarang adalah mempengaruhi satu juga orang di kawasan Asia, terutama di tanah air tercinta Indonesia. Itulah Mimpi Sejuta Dolar Merry Riana berikutnya. Lalu Anda? Apa mimpi Sejuta Dolar Anda?? (Alex Madji)

Kamis, 27 Oktober 2011

Jadi CEO IBM, Virginia Ginni Rometty Meniti Karir dari Bawah


Virginia Ginni Rometty baru saja diangkat sebagai Chief Executive Officer (CEO) International Business Machines (IMB) Corp menggantikan Samuel J Pamisano pada Selasa, 26 Oktober 2011. Dia adalah wanita pertama yang menduduki jabatan eksekutif tertinggi pertama dalam 100 tahun sejarah perusahan raksasa komputer Amerika Serikat (AS) tersebut.

Pada saat bersamaan dia menjadi wanita kedua AS yang duduk pada jabatan tertinggi dalam perusahan komputer di negeri Paman Sam itu setelah sebelumnya Meg Whitman diangkat sebagai CEO pada raksasa komputer lainnya, HP, menyusul kesuksesannya membesarkan eBay.

Perempuan yang meraih gelar Bachelor of Science dalam bidang ilmu komputer dan mesin listrik dari Northwerstern University dan kini berumur 54 tahun ini akan resmi menggantikan Samuel J Palmisano pada 1 Januari 2012 mendatang. Dia akan menjadi orang nomor satu di perusahan yang bermarkas di The Armonk, New York itu. Sementara Palminaso yang menjabat CEO sejak 2002 akan menjadi chairman.

Rometty tidak mendadak naik ke puncak. Dia memulai kariernya di perusahaan itu dari bawah. Sebelum diangkat sebagai CEO, dia menjabat sebagai senior vice president, Enterprise Business Service, sebuah unit bisnis yang dibentuk pada Juli 2005. Dan, sejak saat itu pula dia dikader sebagai pengganti Palmisano.

Sebelumnya dia menjadi Managing Partner Layanan Konsultasi Bisnis yang memimpin formasi tim konsultan bisnis terbesar industri itu dan melayani para ahli spesialis dalam membantu klien untuk memberikan informasi teknologi kelas dunia guna mengoptimasi bisnis perusahaan. Di sini dia membangun strategi dan kapabilitas untuk meningkatkan penampilan layanan transformasi.

Sebelumnya lagi dia menjabat general manajer Layanan Global IBM Americas. Dia memimpin sebuah tim yang beranggotakan lebih dari 75.000 profesional. Dia bertanggung jawab terhadap kepemimpinan strategis operasi dan hubungan dengan klien layanan bisnis global di Amerika Serikat, Kanada dan Amerika Latin. Dia juga pernah menjabat sebagai manajer strategi, pemasaran dan penjualan untuk IBM Servies Worldwide.

Sebelumnya lagi dia menjabat general manajer pada Sektor keuangan dan Asuransi IBM. Di sana dia memimpin strategi bisnis IBM untuk pasar asuransi seluruh dunia dengan bidang tanggung jawab, pemasaran, penjualan dan konsultasi. Dia juga melakukan mensupervisi Pusat Penelitian Asuransi IBM di Hawthorne, New York, Zurich Swis dan Yamaha Jepang. Masih ada jabatan lain di IBM sebelum dia duduk di posisi puncak perusahaan tersebut.

Sebelum bergabung dengan IBM pada 1981, Rometty bekerja di General Motor Corporations. Di sana dia bertanggung jawab atas aplikasi dan sisem pengembangan.

Belajar dari Pengalaman
Dalam sebuah wawancara, Rometty mengatakan bahwa karirnya di IBM melejit karena belajar dari pengalaman. "Saya belajar untuk selalu mengerjakan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya," ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg.

Berbekal pengalaman yang dimilikinya, Rometty yakin dia mampu menambah pendapatan perusahan sebesar 20 miliar dolar antara 2010-2015 seperti yang dia sampaikan tahun lalu. Dia pun akan tetap mempertahankan peta jalan perusahaan yang sudah diletakkan sebelumnya karena di sendiri ikut dalam membuat peta jalan tersebut.

"Saya sudah menjadi Kepala Strategi di IBM dan bersama teman-teman lainnya turut membuat rencana lima tahun. Prioritas saya adalah terus menjalankan dan melaksanakan rencana-rencana tersebut," ujarnya.

Saat ditunjuk menduduki jabatan tertinggi ini, dia sebenarnya merasa tidak mampu. Sejak awal bergabung di IBM tidak pernah terlintas di benaknya bahwa suatu saat dia menduduki jabatan tersebut. "Sungguh sejak awal karier saya, saya tidak membayangkan mendapat tugas berat seperti ini. Anda tahu kenapa? Karena saya tidak siap untuk tugas ini."

Sekembali ke rumah, dia menceritakan penunjukan ini kepada suaminya Mark. Mendengar itu, Mark hanya melihat padanya dan berkata, "Anda kira, seorang pria juga akan pernah menjawab pertanyaan seperti itu? Kamu harus percaya diri meskipun Anda dikritik. Pertumbuhan dan kenyamanan tidak bisa berada secara bersama." Maka diterimalah Rometty jabatan tersebut. Oleh Majalah Fortune, pada 2011 ini dia dinobatkan sebagai perempuan yang paling berpengaruh nomor tujuh dari 50 perempuan paling berpengaruh dalam bisnis dengan total penghasilan pada 2010 sebesar 6.395.556.00 dolar Amerika Serikat.

Rometty tumbuh di daerah pinggiran Chicago. Dia adalah anak sulung dari empat bersaudara. Pada 1979 dia lulus dari Northwestern University dalam bidang Ilmu Komputer dan Mesin Listrik. Dia memulai kariernya di General Motors di Detroit. Di sana dia bertemua seorang pria bernama Mark yang kemudian menjadi suaminya. Setelah kawin dia bergabung dengan IBM.

Dengan menduduki jabatan itu membuat dia harus pintar-pintar membagi waktu untuk perusahan dan keluarga. Dia harus bolak balik dari rumahnya di White Plains, New York dan Bonita Springs, Florida di mana dia dan suaminya Mark melakuan kegiatan menyelam. Sukses ya bu. (Alex Madji)

Rabu, 26 Oktober 2011

Mengenal Lebih Jauh tentang Bell's Pasy

Bell's Pasy yang menyerang saya menuntut saya mencari tahu tentang penyakit ini. Sebab, sebelumnya saya tidak paham dan bahkan jarang mendengar tentang penyakit tersebut. Bukan hanya saya. Survei kecil-kecilan yang saya lakukan di tempat saya bekerja pada Rabu, 26 Oktober 2011 menunjukkan bahwa penyakit ini tidak banyak diketahui publik.

Dari tiga orang yang saya tanya tentang Bell's Pasy, tidak ada satu pun yang mengetahui penyakit tersebut. Mereka mengira, penyakit ini sama dengan stroke karena ciri-cirinya sama.

Bell's Palsy diambil dari nama seorang dokter dari abad ke-19 asal Skotlandia, Sir Charles Bell. Dia melakukan studi tentang saraf dan inervasinya pada wajah 200 tahun silam. Dialah yang menemukan penyakit ini sehingga nama penyakit ini diambil dari namanya sendiri. Dialah orang pertama yang menjelaskan kondisi ini dan menghubungkan dengan kelainan pada saraf wajah.

Bell's palsy adalah nama penyakit yang menyerang saraf wajah hingga menyebabkan kelumpuhan otot pada salah satu sisi wajah. Penyakit ini terjadi secara tiba-tiba dan mencapai puncaknya dalam 48 jam.

Penyakit ini bukanlah stroke, meski ciri-cirinya hampir sama dengan stroke. Memang umumnya Bell'S Pasy hanya menimpa salah satu bagian wajah. Tetapi satu dua kasus menunjukkan bahwa penyakit ini bisa menimpa dua wajah.

Berbeda dengan stroke, kelumpuhan pada sisi wajah ditandai dengan kesulitan menggerakkan sebagian otot wajah, seperti mata tidak bisa menutup, tidak bisa meniup, mulut perot, kening tidak bisa dikernyit, sakit pada bagian bawah telinga, dan sakit pada kepala bagian sebelah.

Beberapa ahli mengatakan penyebabnya adalah karena terjadi disfungsi syaraf VII (syaraf fascialis). Virus herpes membuat syaraf ke-7 itu menjadi bengkak akibat infeksi. Ada juga dokter yang menyebutkan bahwa penyakit ini terjadi karena peradangan pada syarat ke-7 yang terletak di bawah telinga sehingga perintah dari otak yang menjadi pusat syarat tidak bisa diteruskan oleh syaraf tersebut. Peradangan ini ditimbulkan oleh terpaan angin AC atau kipas angin. Penyebab lainnya adalah karena trauma.

Tetapi jangan takut. Sebab kerusakan saraf ke-7 ini ternyata tidak permanen dan bisa diobati. Karena itu dengan atau tanpa pengobatan, penderita Bell's Pasy bisa pulih dalam waktu dua minggu dan bisa normal kembali dalam waktu 3 sampai 6 bulan.

Orang yang sangat parah terserang Bell's Pasy, kata Dokter Yusak Mangara Siahaan yang saya jumpai di Siloam Hospitals Lippo Karawaci, Selasa, 25 Oktober 2011, akan memiliki sisa sedikit pada ujung mulut yang terserang Bell's Pasy. "Masa ibu tidak bisa menerima itu," ujarnya sambil mlihat istri saya.

Metode pengobatannya berupa obat-obatan jenis steroid yang dapat mengurangi pembengkakan dan vitamin yang membantu pemulihan syaraf yang rusak tersebut. Selain itu, pengobatannya bisa dilakukan dengan cara terapi. (Alex Madji)

Selasa, 25 Oktober 2011

Terserang Bell's Palsy

Kalimat Dr Willy di Ladogi Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo, Senin 24 Oktober 2011 sore bagai petir di siang bolong. Saya diduga mengidap penyakit Bell's Pasy. Dugaan itu cukup mengagetkan saya. Bahkan istri saya syok dan cepat-cepat keluar ruangan pemeriksaan gigi. Kegembiraan setelah wisuda Feus sesaat sebelumnya bagai sirna.

Sebelum ke situ, kami ke klinik Doctors&Dentist di Pasar Palmerah, Jakarta Barat. Tapi resepsionis di sana mengatakan bahwa di tempat itu tidak bisa lagi bedah mulut. Bedah mulut dilakukan di RSCM, karena dokter bedah mulutnya praktek di sana dan terlalu jauh datang dari Depok ke Pasar Palmerah.

Beberapa hari ini, saya merasakan perih pada mata sebelah kanan disertai pusing pada kepala sebelah kanan. Mulai Senin, 24 Oktober 2011 pagi, saya merasakan sesuatu yang aneh pada mulut saya. Setiap buang ludah, saya merasa mulut miring ke kiri. Sudah itu, saat kumur, air yang ditekan di dalam mulut keluar ke bagian bibir kiri. Padahal, biasanya, air yang ditekan dan digerak-gerakan di dalam mulut tidak bocor setes pun.

Kemudian, saya merasakan sakit pada bagian belakang telinga dan kini saya tidak bisa bersiul lagi. Selain itu, sejak beberapa hari sebelumnya, ujung lidah saya bagai mati rasa. Nasi goreng yang dibikin Nanik, pembantu kami di rumah, tidak berasa.

Saya mengira, gejala-gejala itu disebabkan oleh gerakan gigi bungsu yang menabrak kakak-kakaknya dan saraf-saraf mata dan sekitarnya terjepit.

Bulan Mei 2011, saya pernah mengalami sakit tak terkira pada rahang kanan. Lalu saya ke klinik Doctors&Clinic di Palmerah Barat. Sampai di sana, saya disuruh foto rontgen gigi. Setelah foto, saya kembali ke sana dan dijadwalkan operasi mulut. Tetapi, bedah mulut saya batalkan karena keesokan harinya, tiba-tiba rasa sakit itu hilang.

Ketika gejala-gejala yang saya sebutkan di atas tadi muncul, saya mengira itu karena gigi bungsu. Maka kali ini saya yang didesak sama istri memutuskan untuk melakukan bedah mulut.

Tetapi betapa kagetnya saya ketika Dr Willy di Ladogi mengatakan, "Kemungkinan Anda terkena Bell's Pasy. Tapi bukan sesuatu penyakit yang terlalu serius. Saya anjurkan Anda ke Neurolog," ujarnya.

Menurut dia, keluhan-keluhan saya bukan karena gigi bungsu. Sebab berdasarkan foto rontgen yang saya bawa, gigi bungsu saya masih berada di bawah rahang semuanya. Dia pun menyarankan saya ke neurolog. Dia membaut pengantar dalam secarik kertas dan baru diamplopkan di kasir. Jasa dokter itu kami bayar Rp 75.000.

Sesampai di rumah, kami telusurui jenis penyakit ini di Mbah Google. Gejala yang saya alami, berdasarkan artikel-artikel itu, betul-betul memastikan bahwa saya terkena Bell's Pasy.

Keesokan harinya, Selasa 25 Oktober 2011, kami ke neurolog di Siloam Hospital Lippo Karawaci. Kami bertemu Dokter Yusak Siahaan. Ketika konsultasi ke dia, sang dokter memastikan bahwa saya terkena Bell's Pasy. Menurut dia, penyakit ini disebabkan oleh terpaan angin pada wajah baik air conditioner maupun kipas angin.

Tetapi dia buru-buru menegaskan bahwa penyakit itu tidak berbahaya. Sebab dia bukan stroke. Kalau stroke yang diserang adalah pusat syarat yaitu otak. Sedangkan ini hanya syaraf di bawah telinga yang terganggu. Sehingga tekanan darah tidak sampai dahi, mata, dan mulut. Akibatnya, dahi tidak bisa mengernyit, mata tida bisa berkedip dan mulut monyong. Dia menganalogikan penyakit ini seperti jaringan listrik. Bell's Pasy dianalogkan dengan kerusakan listrik di rumah, sedangkan jaringan dari pusatnya (PLN) alias otak masih normal. Karena itu dia bilang, jangan takut.

Dia malah ketawa ketika saya disuruh monyong karena mulut saya miring dan tidak enak dilihat. Dia menguatkan saya bahwa penyakit ini bisa sembuh total tanpa obat sekalipun, terutama dalam usia-usia seperti saya dan bisa pulih dalam tempo maksimal dua bulan. Meski demikian dia menyarankan saya minum obat, terutama vitamin dan anti radang. Anti radang untuk menghentikan peradangan yang terjadi pada saraf di bawah telinga. Sedangkan vitamin untuk memulihkan kembali saraf yang tidak berfungsi itu.

Selain itu dia mengusulkan untuk melakukan terapi di rumah sakit terdekat dengan rumah. Dia menulis pengantar untuk rumah sakit terdekat. Tetapi kami akhirnya memilih terapi di Siloam Hospital Karawaci mulai Sabtu, 29 Oktober 2011. Maka surat itu dititipkan di fisioterapi rumah sakit itu. Yah semoga cepat sembuh. (Alex Madji)

Akhirnya Diwisuda


Senin 24 Oktober 2011. Ini hari istimewa bagi adik saya Alfeus Jebabun. Dia diwisuda sebagai seorang sarjana hukum dari Universitas Kristen Indonesia (UKI). Dia lulus hanya dalam 3,5 tahun, sesuai target yang saya berikan.

Ada perasaan bangga di hati bahwa pengorbanan saya untuk mengongkos dia akhirnya berbuah hasil. Meski diwarnai suka duka. Pernah marah dan jengkel tapi tak kurang cinta kasih. Apalagi sekarang dia sudah kerja menjadi peneliti di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Meskipun, penghasilkannya cukup untuk bayar kos dan biaya hidupnya sendiri selama sebulan. Paling tidak dia tidak tergantung lagi pada saya.

Pada acara wisuda itu, saya, istri saya, Maria Susi Berindra, dan anak sulung kami Carrol Houben Alleindra datang. Tiba di tempat acara, Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta Pusat pukul 09.30. Padahal, kami berangkat dari rumah pukul 07.00 WIB.

Acara berlangsung sangat lama dan membosankan. Diisi dengan pidato dari Rektor UKI, Ketua Yayasan UKI, dan pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pemindahan tali topi wisuda, dan penyerahan sebuah gulungan kertas dalam bungkusan hitam yang setelah dibuka anak saya ternyata isinya hanya ucapan selamat karena sudah lulus. Bukan ijazah.

Untuk membunuh kebosanan, kami bertiga ngopi-ngopi di depan ruang acara itu. Bukan persediaan panitia, tetapi beli sendiri. Kami "terhibur" oleh seorang ibu yang datang ke situ mendampingi putrinya diwisuda sebagai sarjana kedoteran. Dia datang sendiri. Dia cerita bahwa suaminya yang dokter tentara sibuk sendiri. Dia banyak berkisah tentang tentara dan kehidupan keluarga tentara.

Seluruh cerita itu berakhir setelah Feus keluar dari ruangan. Sebelumnya dia mendatangi kami di meja itu di sela-sela acara wisuda tapi dia kembali. Kali ini, acara sudah rampung.

Kemudian dilanjutkan dengan sesi foto yang sudah dibayar Rp 350.000 hanya untuk dua sesi foto yakni foto sendiri dan bersama keluarga yang tidak lebih dari lima orang. Kalau lebih, per orangnya dibayar Rp 50.000.

Setelah foto-foto, kami rayakan kegembiraan itu berempat secara sederhana. Kami makan siang di FX Plaza yang tidak jauh dari lokasi JCC. Kami ambil meja di Sate House Senayan. Menu pesanan kami sederhana. Sop Buntut, sate ayam, kambing, kangkung plecing, dan sayur pecel. Sementara minumnya jus stroberry, air mineral, dan es cendol. Lumayan kenyang. Lebih menyenangkan lagi, karena Carrol "cerewet"; bercerita, nyanyi dan sungguh semangat. Mungkin dia juga turut bergembira bersama omnya.

Setelah makan, kami antar Feus ke kosnya di Jalan Pramuka, Jakarta Pusat. Tidak persis di kosnya, tetapi diturunkan di Percetakan Negara. Dari situ dia cukup jalan kaki ke kosnya yang hanya sepelemparan batu jauhnya.

Dari sana kami ke klinik gigi Doctors and Dentist di kawasan Pasar Palmerah, Jakarta Barat untuk memastikan apa yang sedang saya alami saat itu. Tetapi periksa gigi tidak jadi dilakukan di situ,melainkan di Ladogi, Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo. (Alex Madji)

Jumat, 21 Oktober 2011

Korporasi Media dan Masa Depan Demokrasi


Perkembangan media massa Indonesia dalam satu dekade terakhir sungguh pesat. Berbagai media baru tumbuh. Sementara yang lama terancam. Bisnis media bukan lagi monopoli sejumlah pengusaha saja seperti Jakob Oetama dengan Kompas-Gramedia-nya, Dahlan Iskan dengan Jawa Posnya, Goenawan Mohammad dengan Temponya, atau Surya Paloh dengan Grup Medianya.

Konglomerat kakap yang tadinya tidak main di bisnis media mulai merambah bisnis ini. Sebut saja sebagai contoh, perusahan rokok Djarum yang baru saja membeli Kaskus, sebuah forum komunitas terbesar di Indonesia. Atau Lippo Grup yang dalam beberapa tahun terakhir menggeluti bisnis media di bawah Berita Satu Media Holdings. Begitupun Chairul Tandjung yang terjun ke media dengan bendera Trans Corporationnya.

Lebih unik lagi, dalam beberapa tahun terakhir, tren bisnis media di Indonesia adalah grouping atau pengelompokan. Satu grup bisa memiliki begitu banyak media. Penelitian yang dilakukan Merlyna Lim, Director of Participatory Media Lab at ASU, Faculty of School of Social Transformation and Consortium for Science, Policy, and Outcomes, Arizona State University, menunjukkan bahwa paling tidak ada 12 grup usaha media di Indonesia.

Ke-12 grup itu adalah, Media Nusantara Citra (MNC) Group milik Hary Tanoesoedibjo, Mahaka Group milik Erick Tohir, Kelompok Kompas Gramedia milik Jakob Oetama, Jawa Pos Group milik Dahlan Iskan, Media Bali Post Group milik Satria Narada, Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) Group milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja, Lippo Group milik James T Riady, Bakrie & Brothers milik Anindya Bakrie, Femina Group milik Pia Alisyahbana dan Mirta Kartohadiprodjo, Media Group milik Surya Paloh, Mugi Reka Aditama (MRA) Group milik Dian Muljani Soedarjo, dan Trans Corpora milik Chairul Tanjung.

Tetapi sebenarnya masih ada group lain yang tidak dimasukkan Merlyna dalam penelitiannya yaitu Tempo Group milik Goenawan Muhammad dan Bisnis Indonesia Group milik R Sukamdani S Gitosardjono. Kedua grup ini juga cukup kuat dan tangguh serta, terutama Bisnis Indonesia, memiliki usaha lain selain media seperti 12 grup di atas.

Selingkuh
Dalam pemaparan hasil penelitiannya berjudul “At Crossroads: Democratization & Corporatization of Media in Indonesia” pada Kamis, 13 Oktober lalu di Jakarta, Merlina Lim mengatakan, sebagian besar pemilik grup media itu juga aktif di partai politik. Bahkan ada yang menjadi petinggi partai. Kalaupun ada yang tidak aktif di partai, paling sedikit mereka dekat dengan penguasa dan petinggi partai.

Dia misalnya menyebutkan, Surya Paloh pernah menjadi petinggi Partai Golkar lalu keluar dari partai beringin itu dan mendirikan Nasional Demokrat. Aburizal Bakrie, pemilik Bakrie & Brothers adalah Ketua Umum Partai Golkar. Harry Tanoesoedibjo baru-baru ini masuk ke Partai Partai Nasional Demokrat. Sementara Lippo, meski tidak aktif di partai politik, tetapi dengan menempatkan Theo Sambuaga sebagai Presiden Direkturnya cukup memperlihatkan preferensi politik James T Riady. Theo Sambuaga adalah Wakil Ketua Umum Partai Golkar. Sedangkan Chairul Tanjung dan Dahlan Iskan memang tidak masuk partai politik tetapi mereka sangat dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Satu-satunya grup media yang dinilai Merlyna Lim masih independen adalah Tempo. Tetapi sebetulnya kalau Merlyna teliti, Tempo juga tidak independen. Sebab pada pemilu 2009 lalu, pemilik grup itu, Goenawan Muhammad menjadi pendukung Wakil Presiden Boediono. Hubungan itu tetap mesra sampai sekarang. Sebagai imbalannya, Tempo menang tender iklan pengumuman tender seluruh proyek pemerintah yang sebelumnya dimenangkan Media Indonesia. Kini Goenawan Muhammad masuk atau paling tidak mendukung Partai SRI, sebuah partai yang akan mengusung Sri Mulyani menjadi Presiden 2014 mendatang.

Korporasi media dan hubungannya dengan partai politik dan penguasa ini, menurut Merlyna sungguh mengancam demokrasi. Sebab terjadi hegemoni informasi di sana. Berita-berita yang terkait dengan masalah yang membelit korporasi pemilik media tidak akan dibuka ke pulik. Dia memberi contoh kasus Lumpur Lapindo yang pemberitaannya kalah marak dari berita koin untuk Prita. Padahal, kasus Lumpur Lapindo itu sungguh dahsyat.

Pemilik media yang dekat dengan kekuasaan juga akan dengan gampang dikendalikan oleh penguasa. Kebobrokan pemerintah sulit terungkap ke publik karena media-media pun dibungkam.

Dengan kata lain, perselingkuhan antara korporasi media dengan penguasa partai politik akan sangat mengancam demokrasi di negeri ini. Proses menuju masyarakat komunikatif, meminjam bahasa Jurgen Habermas, sulit tercapai. Karena itu, menurut Merlyna, perlu ada media alternatif, seperti blog atau media sejenis itu dan media sosial.

Media-media kecil seperti ini akan bisa menyelamatkan demokrasi kalau bersatu padu “melawan” korporasi media untuk tetap menyampaikan fakta yang tidak diberitakan media yang sudah dikuasai korporasi tersebut. Dia memberi contoh, di Amerika Serikat, blog-blog jaringan warga hispanik mampu melengserkan pemimpin tertinggi CNN dari jabatannya menyusul pernyataan rasialisnya terhadap warga hispanik.

Tetapi untuk itu perlu ada sinergitas antara blog yang satu dengan yang lain dan perlu membangun jaringan seperti yang dilakukan warga hispanik AS itu. Hanya dengan begitu, media-media seperti ini bisa menyelamatkan demokrasi dari pembajakan para konglomerat-penguasa.

Atau cara lainnya adalah perlu aturan tegas dari pemerintah agar hak masyarakat untuk mendapatkan informasi apa pun tetap terjamin. Pemerintah, kata Merlyna, perlu membatasi korporasi media. Tetapi hal ini cukup sulit dilaksanakan karena penguasa juga perlu media untuk memelihara dan memoles citra pemerintahannya. Untuk itu dia harus berbaikan dengan para pemilik media. Pemerintah tidak mungkin membuat aturan keras yang membatasi penguasaan media.

Kalau itu yang terjadi, maka demokrasi yang dibangun dengan darah dan nyawa mahasiswa dan rakyat ini sedang melewati persimpangan jalan dan berada di tubir jurang. Itu sebabnya Merlyna memberi judul penelitiannya: At Crossroads: Democratization & Corporatization of Media in Indonesia. (Alex Madji)