Ini cerita tentang seorang anak berumur 10 tahun di Essex, Inggris yang "mualaf" dari Yahudi ke Kristen. Tadinya, kedua orang tua anak yang identitasnya tidak diungkapkan ini menganut agama Yahudi. Kakek neneknya pun Yahudi. Tetapi kemudian ayahnya memilih "mualaf" menjadi seorang Kristen.
Anak itu kemudian mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti jejak sang ayah. Gara-gara itu, lalu kedua orang tuanya "perang". Sang ibu yang masih setia dengan Yudaismenya memaksa anaknya untuk tidak pindah agama, sebelum dia cukup matang dari sudut usia. Sementara sang anak ngotot mau menjadi seorang kristen. Ayah dan ibu anak ini sudah bercerai sejak 2010.
Karena sama-sama ngotot, sang ibu lalu mengajukan gugatan ke pengadilan pada November 2011. Dia menduga mantan suaminyalah yang memaksa anaknya masuk kristen. Bahkan dia menuduh mantan suaminya itu menghalang-halangi anaknya menghayati agama Yahudinya. Parahnya lagi, sang ibu tidak mendiskusikan dengan mantan suaminya terlebih dahulu, sebelum mengajukan gugatan. Lalu apa yang terjadi di persidangan? Majelis hakim justru menyalahkan sang ibu. Mutlak salah, kata hakim, bahwa sang ibu mengajukan gugatan ke pengadilan tanpa berdiskusi dengan ayah anak ini terlebih dahulu.
Hasil akhirnya, majelis hakim memutuskan bahwa anak itu dinilai sudah matang untuk memilih agama yang dia peluk dan bisa dibabtis sejauh dia sudah siap.
Hakim John Platt dari Pengadilan Negeri Ramford, Essex, Inggris lalu menulis surat secara pribadi kepada anak itu terkait keputusannya itu. "Kadang-kadang orang tua secara sederhana tidak bisa menyetujui apa yang terbaik bagi anak mereka, tetapi mereka juga tidak bisa mutlak benar. Ayah Anda berpikir bahwa adalah sesuatu yang benar kalau Anda dibabtis sebagai seorang Kristen sekarang. Sementara ibumu ingin tunggu sampai kamu mengerti. Karena itu mereka meminta saya mengambil keputusan. Itulah pekerjaan saya," tulis Hakim John Platt.
Tugas hakim adalah mengambil keputusan terbaik untuk sang anak. Dan, keputusannya adalah bahwa sang anak dibabtis sebagai seorang Kristen kalau anak itu sendiri sudah siap dibabtis. "Tetapi hakim menetapkan bahwa itu tidak berarti anak ini kehilangan warisan yudaismenya. Dan akhirnya, ini adalah yang paling penting, baik ibu maupun ayah Anda tetap memperhatikan kamu dengan penuh cinta apapun yang terjadi dengan babtisan Anda," kata John Platt lebih lanjut seperti diberitakan The Telegraph.
Proses pindah agama di Indonesia juga banyak. Tetapi, orang tua mengajukan gugatan ke pengadilan karena anaknya pindah agama belum pernah saya dengar. Dari berita ini hanya mau ditunjukkan bahwa isu agama di negara demokratis liberal seperti Inggris juga ternyata sensitif dan bisa merusak hubungan keluarga. Sama sensitifnya seperti di Indonesia. (Alex Madji)
Jumat, 03 Agustus 2012
Rabu, 01 Agustus 2012
Dimensi Sosial THR

Sebentar lagi hari raya lebaran tiba. Menjelang hari raya itu, THR alias tunjangan hari raya menjadi topik pembicaraan penting. Yang butuh THR bukan hanya karyawan kantoran, tetapi juga para OB atau office boy di kantor-kantor yang rata-rata tenaga out sourcing. Pegawai negeri sipil juga mengharapkan THR. Bahkan wartawan pun mencari-cari yang namanya THR. Kalau THR para pejabat lain lagi. Selain cara, jumlahnya pun lebih besar.
Tidak hanya mereka. Pembantu di rumah, tukang antar koran, tukang sampah di kompleks tempat kita tinggal, tukang sayur langganan dan satpam di kompleks perumahan juga minta THR. Bahkan, petugas kebersihan yang Anda jumpai tiap hari di jalan minta THR. Tetapi biasanya, para petugas seragam kuning ini minta THR tepat pada hari raya. Paling tidak, itu yang saya jumpai setiap kali hari raya idulfitri. Singkatnya, semua orang saat ini membicarakan dan membutuhkan THR.
Sebagian kantor sudah membagikan THR kepada karyawannya. Sebagian lain, akan membagikannya menjelang hari raya. Atau mungkin ada kantor yang sama sekali tidak membayar THR dengan berbagai alasan. Semoga hal yang terakhir ini tidak terjadi.
THR selalu memiliki dimensi sosial. Terutama karena dia diberikan menjelang hari raya. THR bukan hanya untuk dinikmati sendiri selama hari raya itu, tetapi juga untuk dibagikan dengan mereka yang selama satu tahun terakhir berada bersama dan membantu kita. THR tidak lain adalah berbagi kebahagian, keceriaan, dan kegembiraan dengan mereka yang telah membantu kita. Dalam konteks orang-orang di luar pekerja kantoran, terutama mereka yang saya sebut di atas tadi, THR lebih banyak mengandung unsur belas kasih dan kebaikan hati.
Itu sebabnya, di sejumlah kantor, karyawannya rela saweran untuk THR OB out sourcing yang tidak mendapat jatah THR baik dari perusahaan yang menaungi mereka, apalagi dari perusahaan dimana mereka bekerja. Sifatnya sukarela. Seberapa ada. Karena itu jumlah THR para OB ini tidak sesuai dengan upah mereka yang umumnya hanya sesuai UMR.
Begitupun di lingkungan rumah. THR yang diterima dari kantor itu masih juga dibagi-bagi kepada petugas keamanan kompleks yang besarannya juga sukarela, tukang antar koran, tukang sayur langganan, tukang sampah, dan pembantu. Mereka, termasuk pembantu, mendapat THR sesuai kebaikan hati Anda. Maklum belum ada aturan yang mengharuskan bahwa para pembantu rumah tangga, misalnya, harus diberi THR sebesar satu kali upah.
Yang saya mau katakan adalah bahwa hari raya ini adalah kesempatan untuk berbagi dengan THR yang diterima dari kantor masing-masing, berapa pun besarnya. Seberapa besar yang kita beri kepada orang-orang yang sudah membantu kita, tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah semangat dan kesadaran berbagi. Berbagi keceriaan, kegembiraan, dan suka cita pada hari raya dalam wujud paling kecil berupa THR. Itulah dimensi sosial dari THR.
Jumat, 27 Juli 2012
Upaya Terakhir Foke

Kalau Anda melintasi Jalan Gatot Subroto, Jakarta mulai dari Semanggi sampai Pancoran, Anda coba memperhatikan iklan-iklan luar ruang yang berjejer di sisi kiri-kanan jalan tersebut. Ada begitu banyak baliho di sepanjang jalan itu. Semuanya meminta perhatian pengguna jalan.
Tetapi saya tertarik hanya pada sejumlah baliho. Isinya antara lain, Jakarta tanpa macet, disertai gambar jalan tol yang sepi dari mobil yang melintas. Ada lagi baliho bertuliskan, sekolah gratis sampai SMA. Dan, kesehatan gratis bagi warga Jakarta kalo sakit. Semua iklan ini diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sedangkan di bawah iklan ini tertulis, “Space Available”.
Di atas motor saya mencoba mengotak atik kira-kira apa maksud baliho-baliho itu. Karena dikeluarkan oleh Pemerintah DKI Jakarta, maka pertama-tama yang melintasi pikiran saya adalah bahwa konteks pemasangan baliho ini adalah Pemilihan Umum Kepala Daerah atau Pemilukada DKI Jakarta.
Pikiran itu muncul begitu saja karena teringat bahwa Gubernur DKI Jakarta saat ini, Fauzi Bowo yang akrab dipanggil Foke, maju dalam Pilkada untuk masa jabatan kedua kalinya. Sayangnya, pada pemungutan suara 11 Juli lalu, Si Kumis, kalah telak dari pasangan Joko Widodo alias Jokowi dan Basuki Tjahja Purnama atau Ahok. Beda perolehan suaranya hampir 10 persen. Sebuah jurang yang dalam. Karena tidak ada peraih suara 50 persen plus satu, maka dua pasangan ini, dari lima pasang, maju ke putaran kedua yang rencananya digelar 20 September mendatang.
Saya lalu menyimpulkan, oh, baliho-baliho tadi adalah upaya Foke untuk mengejar defisit perolehan suara sebesar hampir 10 persen dari Jokowi-Ahok itu. Ini hanya salah satu cara. Tetapi seberapa ampuh janji-janji ini? Hanya waktu yang akan menjawab dan hanya para pemilih di DKI yang berhak menentukan. Tetapi fakta saat ini adalah Jakarta macetnya makin parah. Pendidikan masih sangat mahal. Kesehatan? Tidak yang gratis. Semua dibayar Padahal, sudah lima tahun Foke memimpin Jakarta. Tetapi kenapa hal-hal itu baru disampaikan sekarang. Kemana saja selama lima tahun lalu? Ini pertanyaan rakyat jelata yang tiap hari menikmati kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas Jakarta.
Cara lainnya yang ditempuh Foke untuk mendongkrak perolehan suaranya setelah kekalahan telak pada putaran pertama itu adalah dengan mulai ramah dengan wartawan. Seorang teman wartawan, dalam status facebokknya menulis, "Kok hari ini Pak Foke berubah ya. Dengan wartawan ramah. Padahal, sebelumnya, huh...Malah wartawan dibentak."
Terlepas dari apapun caranya, meraih defisit suara 10 persen itu tidak mudah. Apalagi, kalau pada putaran kedua nanti semua warga Jakara berprinsip "asal bukan Foke". Jadi, Foke memang kalah pamor dari Jokowi yang sudah terlanjur distigmakan sebagai orang yang akan membawa perubahan di Jakarta, seperti yang dilakukannya di Solo. Warga Jakarta sudah punya pilihan, dan pilihan itu adalah Jokowi.
Sekedar pembanding sederhana, pada pemilu presiden atau Pilres 2004, Megawati Soekarnoputri yang ketika itu masih menjadi presiden kalah dari SBY-Jusuf Kalla pada putaran pertama. Keduanya maju pada Pilpres putaran kedua. SBY saat itu distigmakan sebagai orang yang menjanjikan perubahan, sedangkan Megawati Status Quo. Kalau dihitung berdasarkan sumber daya yang ada, Megawati masih berpeluang mempertahankan jabatan presidennya pada putaran kedua. Tetapi rakyat terlanjur berperinsip, asal bukan Mega. Maka, ketika putaran kedua tiba, SBY-JK menang telak atas Mega-Hasyim Muzadi, ketika itu.
Saya khawatir, Pilkada DKI Jakarta juga begitu. Masyarakat DKI saat ini sudah memegang prinsip asal bukan Foke. Maka peluang mantan Sekda DKI itu pun tipis. Tetapi, ini belum final. Sebab politik bukan seperti hitungan matematika. Karena itu, segala usaha, termasuk dengan janji-janji yang pasti tidak terpenuhi dalam baliho-baliho yang Anda lihat di Sepanjang Jalan Gatot Subroto tadi, tetap perlu dilakukan. Siapa tahu, bisa membalikkan keadaan dan hitung-hitungan sederhana saya tadi. (Alex Madji)
Selasa, 24 Juli 2012
Orang Kristen Perlu Baca Al Quran

Berita bahwa mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair masuk Katolik sudah basi karena sudah lama sekali muncul di media masa, terutama media masa Eropa. Begitupun berita bahwa dia sedang mendalami Al Quran. Tetapi sebagai sebuah blog, saya merasa masih relevan mengangkat tema ini "Tony Blair Membaca Al Quran".
Tonny Blair mengaku bahwa dia meninggalkan Gereja Anglikan bukan karena marah dengan gereja tersebut. Sebaliknya, dia "mualaf" ke Gereja Katolik karena faktor sang istri, Cherie dan keluarganya. Lebih dari itu, Blair yang pernah memimpin Partai Buruh Inggris itu merasa bahwa memang lebih betah di Gereja Katolik.
Sebagai pendatang baru di Gereja Katolik, Blair mengaku bahwa dia menerima doktrin-doktrin Gereja Katolik. Tetapi pada saat bersamaan, dia tidak lalu menjadi orang tidak mau dialog dengan orang dari agama lain. Dengan kata lain, Blair tetap mau berdialog, tanpa terhalangi oleh doktrin-doktrin Gereja Katolik. Dia terbuka terhadap aliran kepercayaan apapun, tanpa tersekat olek doktrin agama yang dianutnya. Bahkan dia berupaya untuk memahami agama lain dengan membaca kitab suci mereka.
"Ketika saya bertumbuh di Inggris Utara, rasa-rasanya hanya ada satu iman ketika itu. Meskipun, faktanya, teman sekolah saya di Durham Choristers School adalah seorang Yahudi. Tetapi saya sama sekali tidak memikirkan itu. Pokoknya hanya ada satu budaya yaitu Kristen," cerita Blair dalam sebuah debat bersama Uskup Agung Canterbury Roman Williams dan mantan Sekretaris Negara jaman kepemimpinannya di Pemerintahan Inggris, Charles Clarke.
Proses selanjutnya membuat Blair menjadi terbuka terhadap keberadaan agama-agama lain. Terutama ketika dia berada di Oxford dan berada di bawah bimbingan pastor Anglikan Peter Thompson. Dia kemudian menyimpulkan bahwa agama yang berbeda-beda itu, terutama agama-agawa Yudaisme warisan Abraham seperti Kristen dan Islam bisa bertemu pada titik yang menjadi perhatian bersama, terutama nilai-nilai universal.
Untuk memperkaya pemahamannya pada agama lain, Blair kini baca Kitab Suci mereka. Untuk memahami Islam, Blair kini membaca Al Quran. "Saya melihat Kuran dalam konteks saya sebagai orang luar. Kuran berada dalam sebuah tradisi kenabian yang besar yang mencoba mengembalikan orang ke prinsip-prinsip dasar spiritualitas. Kuran adalah sebuah deklarasi prinsip yang luar biasa progresif. Karena itu orang Kristen pun harus membacanya. Sebagai contoh ada begitu banyak referensi perihal Maria, bahkan lebih banyak dari pada yang tertulis dalam injil. Sayangnya, semuanya masih terbungkus dan salah aplikasi," tegas Blair.
Itulah sebabnya Blair mengaku bahwa sesungguhnya dia lebih tertarik pada studi-studi agama daripada politik. Sebab agama bergumul dengan kebenaran-kebenaran fundamental tentang kehidupan. Dia merasa, sekarang dia sangat memahami aturan-aturan politik, tetapi dalam agama masih begitu banyak hal yang belum tereksplorasi. Jadi, konteksnya adalah Bliar terus membaca Al Quran untuk semakin menyelami kebenaran yang ada di dalamnya guna membangun dialog yang harmonis antara Kristen dan Islam, barat dan timur.
Nah, mari kita coba meneladai ajakan Tony Blair ini. Untuk bisa memahami agama lain maka perlu ada upaya memahami inti ajarannya. Hanya dengan itu, masing-masing agama bisa saling menghargai dan, seperti kata Blair, bertemu pada nilai-nilai universal yang diajarkan pada kitab suci masing-masing agama. (Alex Madji)
Senin, 23 Juli 2012
Ketika Jokowi Ahok Disudutkan

Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Gubernur DKI Jakarta putaran kedua masih akan berlangsung 20 September 2012. Pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama atau Ahok akan saling berhadapan dengan pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli. Dua pasangan ini adalah peraih suara terbanyak pertama dan kedua pada putaran pertama yang tidak mencapai 50 persen plus satu.
Tetapi baru saja Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta mengumumkan hasil Pilkada DKI pekan lalu, awal minggu ini pesan pendek yang berbau SARA (suku, ras, agama, dan antargolongan) mulai bermunculan. Bahkan, sejumlah pihak menilai ini adalah sebuah kampanye hitam. Upaya pembusukan calon lain.
Berikut ini saya mengutip sebuah sms atau pesan pendek yang beredar di sebuah milis. Saya kutip pada adanya:
"Ini SMS Ahok kepada kelompok Cina dan orang Kristen, dlm rangka utk pemenangannya: 1. Teman seiman yg dikasihi Tuhan Yesus, Mari sama2 kita rapatkan barisan menjaga kekristenan kita dgn memiih no 3, dan Tuhan Yesus pasti menolong kita.
2. Kuasa Salib di depan mata. Pilih Ahok, Iman kristen kita pasti terjaga
3. Kasih Tuhan dan kuasa Gereja akan terbukti setelah 20 September 2012 Satukan barisan buat Jokowi-Ahok
4. Hadirkan Kuasa Yesus di Jakarta dan kita kalahkan kesombongan muslim. Pilih No 3
5. Mari rapatkan barisan gereja, kita menuju kemenangan No. 3
6. Kita pasti menang, Ahok pasti jadi Gubernur setelah Jokowi menjadi Wapres
7. Jokowi se-iman dg kita, jangan kuatir. Kristen bersatu memenangkan Jakarta
8. Kalbar dan kalsel sdh di tangan kita, kristen berkibar di Indonesia dimulai dari Jakarta. Pilih Ahok dan jangan ragu. Tuhan Yesus bersama kita
9. Kristen dan Katholik bersatu memenangkan Jakarta Satu
10. Cristian Center pasti terwujud menyambut kemenangan jokowi Ahok
11. Kita belajar dari Singapura, Cina kuasai melayu. Jakarta milik kita
12. Masa' sih cuma Islamic Center, Kapan Cristian Center terbentuk? Jangan tunda lagi, pilih Jokowi-Ahok. Cristian Center pasti terwujud.
"Sebarkan ke sesama muslim agar waspada",,,kalo bener,,,lgs berpindah 200 derajat dech,,,FOKE aj,,,yang menang,,,,tdk ada alasan yg laen,,,:)"
Dari bunyi sms di atas jelas sekali muatan SARA-nya. Tetapi yang lebih penting adalah pesan terakhir di bawah poin ke-12 itu. Ini dia, ""Sebarkan ke sesama muslim agar waspada",,,kalo bener,,,lgs berpindah 200 derajat dech,,,FOKE aj,,,yang menang,,,,tdk ada alasan yg laen,,,:)"
Dari bunyi pesan terakhir ini, jelas sekali bahwa ini adalah kampanye hitam. Siapa yang membuatnya? Saya tidak mau menilai. Silahkan Anda menilai sendiri. Tetapi menurut saya, dengan sms ini, Jokowi-Ahok justru ditempatkan sebagai korban dan ini akan semakin menguatkan posisi keduanya pada Pemilukada putaran kedua nanti. (Alex Madji)
Rabu, 18 Juli 2012
Mengenal Sedikit Marissa Mayer, CEO Yahoo yang Baru

Usia Marissa Mayer masih sangat muda, 37 tahun. Saya masih lebih tua 1,5 tahun. Tetapi dalam usianya yang sangat belia itu, dia sudah masuk jajaran eksekutif kelas atas Google, raksasa internet dunia dan menjadi perempuan yang paling disegani. Selama 13 tahun dia berkiprah bersama google dan duduk di jajaran eksekutif puncak perusahan raksasa internet Amerika Serikat itu.
Pada Selasa, 18 Juli 2012, Perempuan ini ditetapkan sebagai Chief Executive Officer (CEO) Yahoo!. Dia adalah CEO kelima Yahoo dalam lima tahun terakhir. Diharapkan di bawah kepemimpinan Marissa Mayer, Yahoo bukan hanya menjadi sasaran antara para pengguna internet melainkan menjadi tutuan akhir. Selama ini, orang datang ke Yahoo hanya untuk mencari berita atau melihat video klip sebelum pindah ke destinasi-destinasi internet yang lebih besar dan lebih lengkap.
"Saya melihat peluang untuk memberi dampak secara global bagi para pengguna internet dan sungguh bisa membantu selama menduduki jabatan ini untuk bisa memperlihatkan talenta yang besar dan menginspirasi dan mencerahkan banyak orang," kata Mayer.
Mayer akan bekerja keras guna bersaing dengan Google, mantan tempat kerjanya. Untuk mengejar Google, Mayer harus memiliki strategi yang efektif. Maklum Yahoo tertinggal jauh dari Google bahkan dari Facebook. Pendapatan Yahoo kalah jauh dari Google dan Facebook.
Selama 13 tahun di Google, dia menduduki jabatan eksekutif bersama rekan pendiri Google Larry Page, Sergey Brin, dan Chariman Eric. Tetapi di antara mereka, yang paling cemerlang adalah Marisaa Mayer. Dialah otak di balik kesuksesan Google.
Sebenarnya Mayer bergabung dengan Google pada 1999, sebagai karyawan ke-20 Google. Tetapi kemudian dia berperan penting membawa Google semakin terbang tinggi. Dia membantu mengembangkan email populer perusahan, peta online dan layanan berita. Dia juga menjadi topik gosip di Silicon Valley pada tahun-tahun pertama di Google ketika dia kencan dengan Page selama tiga tahun. Kemudian mereka menikah dengan orang lain. "Kami kehilangan dia," kata Page, yang kini menjadi CEO Google.
Mayer menjadi salah satu eksekutif perempuan paling terpandang di Silicon Valley, sebuah tempat yang selama berpuluh-puluh tahun didominasi laki-laki. Dia adalah CEO perempuan kedua Yahoo. Sebelumnya, Carol Bartz (63) memimpin Yahoo sebagai CEO selama dua pertiga usia Yahoo sebelum diberhentikan pada September tahun lalu.
Setelah diangkat sebagai CEO Yahoo, perempuan yang tengah hamil dan akan melahirkan seorang bayi laki-laki dalam waktu beberapa bulan ke depan tidak sabar lagi menunggu bekerja di Yahoo. "Bagi saya kerja adalah senang-senang dan senang-senang adalah kerja. Saya sangat suka dengan tantangan-tantangan besar di sini dan tidak sabar lagi menunggu bekerja bersama mereka. Itu pasti akan sangat-sangat menambah energi," ucapnya.
Mayer adalah warga negara Amerika keturunan Finlandia yang lahir 30 Mei 1975. Setelah lulus dari Wausau West High School pada 1993, Mayer terpilih oleh Gubernur Wisconsin Tommy Thompson sebagai salah satu delegasi untuk mengikuti National Youth Science Camp di West Virginia. Mayer meraih dua gelar dari Stanford University yaitu dalam gelar sistem simbolik dan ilmu komputer. Lalu pada 2009, Illinois Institute of Technology menganugerahkan gelar doktor kehormatan kepada Mayer.
Mayer menikah dengan Zachary Bogue pada 2009. Kini perempuan ini tengah hamil yang diperkirakan akan melahirkan seorang bayi laki-laki pada Oktober 2012. (Alex Madji)
Keterangan foto: Marissa Mayer
Kamis, 12 Juli 2012
Ada Pastor Mualaf?

Sebuah Grup BBM (Blackberry Messanger) memunculkan gambar sepasang kekasih yang baru selesai melangsungkan akad nikah. Pengantin pria mengenakan jas dengan kalungan bunga di leher serta kopiah di kepala. Sedangkan pengantin putri yang mukanya pas-pasan mengenakan kebaya putih dengan bawahan batik putih bercorak. Sangat sederhana. Bukan hanya foto. Ada juga undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan mereka yang berlangsung di kawasan Rawasari Jakarta Pusat, pekan lalu, tepatnya 8 Juli 2012. Pengantin itu didampingi empat orang, masing-masing berdiri di sisi kiri dan kanan pengantin pria dan wanita. Tidak dijelaskan siapa mereka.
Di sebuah mailing list, foto ini juga beredar diikuti diskusi panjang tentang pengantin pria pada foto tersebut. Diskusi yang sama terjadi di grup BBM tadi. Isi diskusi di dua media itu sama. Ungkapan kekesalan, kemarahan, dan rasa tidak percaya bahwa peristiwa itu terjadi.
Kenapa? Karena Sang Pengantian Pria adalah seorang pastor Katolik yang memilih mundur setelah menjadi pastor selama bertahun-tahun (mungkin lebih dari 20 tahun) dan menikah. Saya mengenal pastor ini, meski tidak pernah menjadi anak bimbingannya. Dan saya tidak perlu mengungkapkan namanya dalam tulisan ini karena alasan etis.
Sebenarnya, kalau hanya menikah tidak soal. Sebab tidak sedikit pastor yang meninggalkan imamat lalu menikah, atau terpaksa menanggalkan jubahnya karena sudah terlebih dahulu kawin dengan perempuan. Urusan para pastor meninggalkan imamat lalu kawin, sudah lumrah. Yang membuat orang marah, paling tidak anggota Grup BBM dan mailing list tadi, adalah bahwa dia menikah secara Islam.
Sebagian besar dari anggota Grup BBM dan mailing list itu seolah tidak menerima dan percaya bahwa seorang mantan pastor menikah secara Islam. Belum jelas benar, mengapa itu yang dipilih. Tentu dia punya alasan dan pertimbangan. Patut diduga adalah demi asas legalitas (karena sang mantan pastor itu adalah ahli hukum gereja). Sebab, dia tidak bisa menikah secara Katolik sebelum proses pengawamannya diterima Vatikan. Untuk yang terakhir ini bukan perkara mudah. Butuh waktu panjang untuk mendapat persetujuan dari Vatikan.
Persoalan yang lebih berat dan yang saya duga menjadi dasar kemarahan anggota grup BBM dan mailing list tadi adalah apakah dia menjadi mualaf, sebelum melangsungkan pernikahan secara muslim? Ini juga belum ada jawaban yang pasti. Informasi terkait masalah ini masih simpang siur. Kemungkinan kemarahan orang menyeruak karena menduga bahwa sang mantan pastor sudah mualaf alias pindah keyakinan dari Katolik menjadi Islam. Bahkan khabar lebih serem mengatakan bahwa dia akan menjadi da'i (pendakwa) karena sakit hati dengan gereja dan tarekatnya. Dia akan melakukan aksi balas dendam. Tetapi informasi ini juga masih sumir.
Ada pula informasi, berdasarkan sumber terpercaya salah satu anggota mailing list tadi, bahwa sang mantan pastor tidak meninggalkan imannya alias tetap menjadi seorang Katolik, meski sudah menikah secara Islam. Tetapi apakah bisa melangsungkan pernikahan secara Islam, tanpa menjadi mualaf terlebih dahulu? Nah, ini yang belum saya paham.
Jadi, dari cerita tadi, hanya satu hal yang pasti jelas yaitu bahwa sang pastor tadi meninggalkan imamat lalu menikah secara Islami. Yang lain-lainnya yaitu apakah dia mualaf atau tetap menganut Katolik, tidak jelas. Hanya sang mantan pastor itu dan Tuhan yang tahu persis. (Alex Madji)
Foto: Ilustrasi diambil dari Mbah Google
Langganan:
Postingan (Atom)