Minggu, 08 Juli 2012

Segelas Bir di Rua Augusta


Senin, 25 Juni 2012. Saya diajak Flori keliling Kota Lisbon. Kali ini naik kendaraan umum. Pagi-pagi sebelum sarapan, Flori pergi beli tiket seharga 18 euro di stasiun metro dekat biara. Tiket ini bisa dipakai untuk naik kendaraan umum apa saja seperti bis dan metro (kereta bawah tanah) untuk masa berlaku 24 jam.Kami jalan kaki dari rumah SVD ke depan jalan yang dilalui bis.

Belum lama menunggu, tiba-tiba bis datang. Kami naik dan turun di bundaran, semacam Bundaran Hotel Indonesianya Jakarta. Di situ ada tugu. Tetapi tidak ada air mancur. Di bundaran itu, ada angkutan pariwisata bernama Red Line. Flori beli tiket bis terbuka dua tingkat di beberapa gadis cantik di sana.Setiap turis yang naik bis itu dibagikan peta jalur-jalur yang dilewati bis tersebut dilengkapi juga dengan ear phone sehingga kita mendengar penjelasan tentang tempat-tempat yang dilewati.

Tinggal pilih bahasa yang tersedia di situ. Yang pasti tidak ada Bahasa Indonesia. Ada Inggris, Portugis, Spanyol, Jerman dan beberapa lagi.Kami turun dari bis ini di kawasan Kota Tua di bibir Sungai Tejo. Sungai ini sangat besar dan membelah Kota Lisbon. Saking luasnya sungai ini, sampai-sampai dibangun dua jembatan untuk menghubungkan dua bagian Lisbon. Satu jembatan lebih pendek dan satu lagi jembatan panjang hingga 16 kilo meter. Di jembatan yang lebih pendek, fungsinya banyak.

Paling tidak, bagian paling atas untuk mobil dan di bawahnya rel kereta api. Setelah lelah, kami duduk-duduk di Rua Augusta. Dalam sejarah, jalan ini adalah pintu masuk ke Lisbon jaman dahulu kala. Hasil-hasil perdagangan dari berbagai negara dulu masuk ke portugis melalu pintu gerbang yang tinggi dan megah itu. Di depannya, ada lapangan terbuka yang luas. Dulunya tempat itu adalah pasar untuk memperjualbelikan barang-barang yang dibawa dari berbagai negara tersebut, mungkin termasuk dari Indonesia. Kini Rua Augusta menjadi salah satu pusat keramaian di kawasan Kota Tua Lisbon. Gangnya luas. Bersih dan rapih. Di sisi kiri kanan ada toko-toko dan restoran. Beberapa restoran mendirikan tenda di tengah gang itu. Tidak sekdikit turis yang duduk di meja-meja yang tersedia di situ untuk melepas lelah dengan menyeruput jus atau segelas bir yang dingin.

Siang itu, nyaris tidak ada kursi yang kosong.Siang itupun kami duduk di salah satu meja. Kami pesan satu gelas bir yan ukuran kecil dan satu gelas jus yang semuanya habis 5 euro. Setelah lelah sedikit terusir dan peluh mulai kering, maklum hari itu Lisbon sangat panas, kami mampir makan siang di restoran cina di kawasan tersebut. Buffe. Ambil sendiri dan makan sampai kenyang. Yang pasti di sini ada nasi dan B2 dan ayam goreng. Tinggal pilih.Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan, menyusur gang-gang kota tua yang beralaskan batu-batu lempeng ukuruan kecil mengkilat yang tertata rapi. Jalan-jalannya tidak beraspal. Sebagai penggantinya adalah batu-batu lempeng berukuran kecil tadi.

Kami menaiki bukit mengunjungi Gereja Santo Antonius yang di Indonesia dikenal sebagai Santo Antonius dari Padua. Tapi di Portugal disebut St Antonius dari Lisboa. Di bawah gereja ada situs di mana Antonius lahir. Kami ke sana dan berdoa sejenak di tempat itu. Paus Yohanes Paulus II yang kini sudah jadi Beato juga pernah berdoa di ruang bawah tanah ini. Hanya ada satu tempat berlutut di sana. Gereja tersebut adalah bangunan kuno yang indah.

Di belakangnya, masih pada tanjakan yang sama, ada Gereja Katedral Lisbon. Gereja ini megah dan bagian belakangnya masih renovasi. Ceritanya, dalam gempa bumi dahsyat pada abad ke-17, hanya bagian belakang dari gereja ini yang runtuh. Sedangkan yang lain masih utuh. Memang, secara fisik gereja itu sangat kokoh, kuat dan tentu saja indah.Kami terus menyusuri bukit itu sampai ngos-ngosan hingga ke Kastil Jorge. Tidak seperti kastil di Warsawa, kastil ini tinggal puing-puingnya. Meskipun pada bagian tertentu dibuat restoran yang tentu saja harganya mahal dan hanya mereka yang ingin merasakan kemewahan makan di kastil yang datang ke situ dan berdompet tebal.

Kata Flori, di tempat itu juga sering di selenggarakan pernikahan. Pernikahan Kastil. Woowww, romantis sekali.Dari atas kastil yang terletak di puncak bukit, kita bisa melihat seluruh Lisbon, termasuk patung Kristus Penyelamat yang menyerupai patung Cristo Redentor di Rio de Jeneiro, Brasil (tempat ini juga sudah saya kunjungi) di seberang Sungai Tejo.Setelah puas menelenjangi Kota Tua Lisbon, kami ke kawasan rekreasi modern yang terletak di belakang Mal Vasco Da Gama. Lokasi ini juga terletak di bibir Sungai Tejo. Kami ke sini naik Metro. Setelah puas melihat dan menikamti teriknya matahari yang menyengat, kami kembali ke biara.

Tanpa sadar sepatu saya jebol, selain karena jalan kaki seharian di Lisbon, juga karena jalan kaki selama dua hari di Warsawa.Karena saya tidak bawa uang, kami kembali ke biara untuk kemudian keluar lagi beli sepatu sekalian makan malam. Malam harinya, jam 19, kami diajak makan malam oleh Pater Antonio SVD, anggota komunitas biara SVD Lisbon. Dia traktir kami di Mal Colombo yang tidak jauh dari biara sebenarnya.

Sebelum kembali ke biara itu tadi, kami sempat mampir di situ untuk beli sesuatu.Setelah makan steak campur nasi (saya dan Flori) dan steak plus kentang untuk Pater Antonio yang menghabiskan 78 euro untuk bertiga, kami masih melanjutkan makan es krim di bagian lain mal itu. Setelah itu kami cari sepatu. Astaga, Pater Antonio membelikan saya sepatu Timberland untuk menggantikan sepatu Geox saya yang jebol tadi.

Saya pun langsung pakai sepatu tersebut saat itu juga, sementara sepatu yang sudah jebol dimasukkan ke dus untuk selanjutnua dibuang ke tempat sampah di biara SVD Lisbon.Dari situ, kami mengunjungi paroki SVD di Lisbon. Sebuah gereja kecil dan sederhana. Di dalamnya ada Salib San Damiano di belakang altar yang terkenal di kalangan Fransiskan. Di tempat itu juga saya bertemu teman-temannya Flori dan berkunjung ke rumah salah satu keluarga yang sudah menganggap Flori bagian dari keluarga mereka dan letaknya tidak jauh dari gereja tersebut.Keluarga ini sangat ramah.

Meski saya tidak mengerti bahasa mereka, tetapi saya disambut dengan cipiki cipika dan masuk sampai lantai atas rumah mereka yang mungil. Bahkan mereka ingin agar saya lebih lama di Lisbon. Yah, inginnya sih begitu. Mereka minta nanti datang lagi bawa serta anak-anak dan istri. Tadinya, keluarga ini yang mentraktir kami makan malam, tetapi dibatalkan karena menerima ajakan Pater Antonio.Setelah bertemu mereka, kami kembali ke biara jam 10 malam. Biara sudah senyap. Hanya ada satu pastor yang masih lihat tivi, tetapi ketika kami masuk malah tivi yang nonton dia. Yang lain belum pulang, dan ada yang sudah tidur. Kami bertiga lalu lihat tivi di lantai satu sambil minum bir botol kecil. Setelah mata mulai kantuk, kami masuk kamar, karena keesokan harinya saya harus kembali ke Warsawa dan setengah tujuh harus ke Bandara Lisbon yang hanya 15 menit pakai mobil.

Selasa, 26 Juni 2012, saya diantar Flori dan Pater Antonio ke Bandara dengan sedan VW Pater Antonio. Setelah check in, kami ngopi-ngopi dulu. Lagi-lagi dibayar Pater Antonio. Kami lalu berpisah di situ. Saya masuk ruang tunggu untuk terbang ke Warsawa pukul 09.00, sedangkan Pater Antonio dan Flori ke Portugal Utara.Terima kasih Flori dan Pater Antonio serta para biarawan SVD di Lisbon, Fatima, dan Almorova yang telah menerima saya dengan hangat selama berada di negeru Cristiano Ronaldo itu. (Alex Madji)

Keterangan foto: Inilah Rua Augusta, salah satu pusat keramaian di Kota Tua Lisbon. Zaman dulu, ini adalah pintu masuk segala barang dagang dari luar negeri ke Portugis. (Foto: Alex Madji)

Senin, 02 Juli 2012

Perut Kampung


Selama di Warsawa, saya sulit menemukan restoran Asia seperti Cina dan Thailand. Mungkin karena saya tidak mencari di pojok-pojok kota itu. Maklum saya hanya bergerak di sekitar Warsawa Pusat dan belum berani jalan ke pinggiran. Alasannya sederhana. Pusat aktivitas dan gema Piala Eropa 2012 ada di kawasan tersebut. Fa Zone ada di sana. Stadion Nasional Warsawa juga tidak jauh dari situ. Dengan jalan kaki saja sudah sampai. Sekalian olah raga.

Pada hari kedua saya di Warsawa, Kamis, 21 Juni 2012, saya pergi ke Kota Tua. Melihat sejumlah tempat menarik di kawasan itu. Di sana, saya juga bertemu dengan begitu banyak fans Portugal dan Ceko yang saling bertarung pada perempat final Piala Eropa 2012 pada malam harinya.

Sambil mengunjungi situs-situs bersejarah di kawasan itu, saya sebenarnya mengintip kalau-kalau ada restoran Asia dimana saya bisa menemukan menu nasi. Maklum perut ini adalah perut nasi. Bukan roti dan keju. Tetapi sepanjang hari itu, saya tidak juga menemukan restoran Asia.

Hingga jam 14.00, saya pun lapar. Di salah satu pojok Kota Tua ada restoran Polandia. Saya masuk ke situ. Di sana sudah banyak fans Republik Ceko. Saya potret mereka. Seorang di antara mereka, seorang anak muda, mendatangi saya. Ngobrol dengan Inggris terbata-bata. Saya pilih menu yang kemudian saya tahu sebagai makanan tradisional Poladia. Gambarnya menarik. Semangkuk sup kental berisi daging, empat tangkup roti, sebuah sosis agak panjang dan besar, dan setengah telur rebus.

Dalam hati saya bergumam, menu ini pasti cocok dengan perut saya karena ada sup. Paling yang kurang hanya nasi. Apalagi harganya tidak terlampau mahal. Hanya 15 zlotych. Saya tidak pesan minuman karena saya bawa satu botol air mineral yang saya beli di sebuah toko di pom bensin dekat hotel tempat saya menginap di Mangalia 3, pinggiran Warsawa. Kalau dengan minuman, harganya sedikit lebih mahal.

Saya pun memesan menu yang bernama zurek ini. Tak terlalu lama saya menunggu dalam kedinginan karena hari itu hujan dan suhu sangat dingin, pesanan pun datang. Masih panas. Saya santap dengan lahap. Sup panas dan sosis panas cukup membuat badan yang kedinginan menghangat. Seperti biasa, saya tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan menu itu. Tidak sampai 30 menit, semuanya ludes. Cukup enak dan mengenyangkan.

Setelah itu, saya melanjutkan perjalanan, mengais-ngais dan berpikir kira-kira apa yang bisa ditulis. Setelah senja tiba, dan setelah menemukan ide untuk ditulis, saya pulang ke hotel untuk mandi sebelum kembali lagi ke Fan Zone untuk ikut noton bareng laga Portugal versus Ceko di pusat keramaian selama Piala Eropa itu. Ingin sekali nonton di Stadion, tetapi apa daya, tiket sangat mahal dijual oleh para calo tiket. Sebenarnya uang kantor cukup untuk beli satu tiket, tetapi takut harganya tidak sesuai yang tertara dalam tiket. Dari pada kemudia saya nombok saat pertanggungjawaban uang kantor, maka keinginan beli tiket pun diurungkan.

Begitu sampai hotel, perut saya bergolak. Bunyi terus dan buang-buang air. Saya langsung menyimpulkan, wah dasar perut kampung yang panik dengan roti. Kebiasaan makan nasi, begitu diisi roti langsung berontak.

Saya makan nasi terakhir, Selasa 20 Juni 2012 malam, dalam penerbangan dari Kuala Lumpur ke Amsterdam. Setelah itu, saya tidak berjumpa lagi dengan nasi. Sesampai di Warsawa pada Rabu, 20 Juni siang, sore harinya saya beli roti di toko di seberang Best Western Hotel Portos yang terletak di Jalan Mangalia 3 untuk makan siang dan malam. Toko ini adalah bagian dari pom bensi atau seperti Peramina yang lengkap dengan toko dan Circle-K di Indonesia. Di tempat ini dijual banyak hal, termasuk hot dogs, roti-roti kering, roti panjang yang di dalamnya berisi daging dan sayuran seperti burger.

Mangalia 3 ini adalah pertengahan antara Bandara Internasional Frederic Chopin dengan pusat kota yang berada di Fan Zone di lapanangan Palace of Culture and Science atau Pusat Budaya dan Ilmu Pengetahuan Polandia. Ini adalah gedung tertinggi di negara bekas komunis itu dan menjadi jantung kota tersebut. Dia sama seperti Monasnya Jakarta.

Selama Jumat, 22 Juni 2012 saya juga mengelilingi seluruh Kota Tua Warsawa dengan jalan kaki berjam-jam. Tetapi karena belum juga bertemu dengan restoran Asia dan karena perut masih berontak, saya lalu mampir makan ke McDonald. Yah, tetap saja bukan makan nasi. Tetapi paling tidak ada kentang dan ayam goreng. Dan di Jakart, jenis makanan seperti ini banyak. Ya, sedikit menghibur perut yang memberontak itu.

Saya baru bertemu dengan nasi lagi pada Minggu-Senin, 24-25 Juni 2012 ketika saya berada di Portugal untuk mengunjungi adik saya, Pater Florianus Jaling SVD di sana. Nah, cerita ked an selama di Portugal ini, akan saya ceritakan pada artikel berikutnya. (Alex Madji)

Keterangan foto: Inilah makanan tradisional Polandia. Namanya Zurek.

Misa di Fatima


Pengalaman paling indah pada Minggu, 24 Juni 2012 adalah misa di Fatima, di tempat penampakan Bunda Maria. Ada dua misa hari itu. Pukul 09.00 misa di gereja baru yang dibangun dalam gaya modern yang terletak di depan gereja utama. Gereja utama ini dibangun pada 1918 atau hanya satu tahun setelah penampakan Maria kepada Lucia, Yacinta, dan Franceso. Gereja besar tersebut dibangun khusus atas permintaan Bunda Maria yang disampaikan kepada tiga gembala kecil dan sederhana itu. Di dalam gereja ini terdapat makam ketiga gembala yang di kemudian hari menjadi pastor dan suster itu.

Misa kedua pada pukul 11.00 dilakukan di lapangan yang sangat luas di depan gereja tersebut. Ribuan peziarah khusyuk mengikut perayaan ekaristi yang dibawakan dalam Bahasa Latin dan Portugis itu.

Misa diawali dan ditutup dengan perarakan patung Bunda Maria dari kapel penampakan ke depan Gereja Utama tempat altar untuk misa di lapangan itu berada. Di sinilah saya menitikkan air mata.

Pada perarakan penutup, umat melambaikan kain putih. Ada juga yang melambaikan tisu untuk menghormati Bunda Maria sambil menyanyikan "Ave Maria". Saya meneteskan air mata menyaksikan dan merasakan hal paling istimewa seperti ini.

Sebelum misa itu, saya diajak Flori, adik saya yang misionaris SVD di Portugal, melihat tempat pameran misi di ruangan bawah gereja baru tadi. Ada foto pembatisan putra kedua saya di situ, Enrique Paulo Vera Alleindra. Saya dan Flori berfoto di sana diambil oleh seorang suster SSPS asal Timor Leste yang sudah lebih dari 10 tahun berada di Portugal.

Beberapa suster lain yang menjaga dan bertugas menjelaskan pameran itu kepada pengunjung menyalami saya.

Seusai misa kami kembali ke hotel untuk makan siang. Menu hari itu adalah sup dan roti sebagai santapan pembuka lalu nasi, ikan, dan salad sebagai menu utama, dan dua buah jeruk. Tak ketinggalan wine. Kali ini di meja kami kebagian anggur putih. Setelah hampir seminggu tidak ketemu nasi akhirnya, makan nasi juga. Tapi anggurnya tidak diminum habis.

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke tempat kerja Flori di Almodovar, sebuah kecamatan kecil di Portugal Selatan. Sepanjang perjalanan, pemandangan di sisi kiri kanan jalan tol adalah padang yang kering diselingi pohon-pohon cemara dan satu jenis pohon yang kulitnya bisa diambil dan diolah menjadi penutup botol anggur. Hanya sebagian kecil wilayah Portugal yang hijau. Selebihnya padang dan karang. Persis seperti Kota Kupang.

Dalam perjalanan ke Almodovar itu, kami sempat ditahan polisi. Kami mengira karena kecepatan mobil di atas batas maksimal di jalur non tol. Setelah disuruh minggir, polisi meminta surat-surat kelengkapan kendaraan dan lisensi mengemudi. Setelah diperiksa, kami dipersilahkan melanjutkan perjalanan. Jadi masalahnya apa? Tidak jelas juga.

Akhirnya tiba juga di paroki tempat Flori bermisi, setelah lebih dari tiga jam perjalanan dari Fatima. Saya diperkenalkan dengan Pater Falente yang asal Portugal dan satu pastor muda asal India. Ngobrol sebentar dengan pastor India yang juga baru pulang memberi misa, sebelum masuk ke kamar tidurnya Flori.

Rumah pastoran itu dua lantai dan mepet dengan rumah warga. Letaknya di pojokan dekat perpustakaan kecamatan. Di bundaran jalan, ada patung besi seorang pria sedang duduk. Kota kecamatan itu kecil sekali. Dikelilingi jalan kaki tidak sampai 30 menit selesai.

Kami mengelilingi kota kecamatan yang sangat sepi tapi asri itu pada sore harinya. Pergi ke semacam alun-alun kecamatan. Di sana sedang ada pesta peringatan hari pramuka katolik. Ada koor laki dan perempaun di atas panggung. Sedangkan di pojokan lain, sejumlah ibu sibuk membakar daging dan ikan untuk pesta tersebut. Di sana sempat bertemu dan berkenalan dengan umatnya Flori. Cipiki Cipika dengan ibu-ibu tua di situ. Saya diperkenalkan Flori. "Mirmao," katanya. Atau abang saya. Ibu-ibu itu pun berbicara Bahasa Portugis, tapi saya tidak mengerti. Yang penting tak kurang senyum.

Dari situ, kami mengunjungi gereja paroki. Ini adalah gereja kuno dari abad ke-16. Megah, Indah, dan artistik. Letaknya di tengah-tengah kota itu. Bagian dalamnya indah sekali. Kata Flori, kalau misa hari minggu umat yang datang banyak.

Di sakristi, sore itu, ada persembahan umat berupa pisang, daging, dan anggur. Kami mencicipi pisangnya. Karena, kata Flori, barang-barang itu nanti akan dibawa ke pastoran juga.

Di kota itu, ada sebuah gereja lain dan bekas biara Fransiskan. Tapi gereja itu sedang direnovasi dan biaranya tidak berfungsi lagi karena para fransiskan sudah lama pergi. Kami tidak melihat bagian dalam dari gereja tersebut. Setelah melihat-lihat sekilas kota tersebut, kami kembali ke pastoran. Istirahat sebentar, sebelum kembali ke Lisbon.

Perjalanan kembali ke Lisbon ini lebih cepat. Sehingga kami masih sempat menyaksikan pertandingan babak pertama perempat final antara Inggris versus Italia di sebuah rest area tidak jauh lagi dari Lisbon. Kami mampir di situ untuk isi bahan bakar dan istirahat sambil minum jus dan makan sepotong kue. Kami bertahan hingga babak pertama usai dengan skor sementara 0-0. Laga tersebut akhirnya dimenangkan Italia melalui adu tendangan penalti. Kami tahunya saat sampai di biara SVD di Lisbon diberitahu Pater Antonio.

Sesampai di Lisbon, kami hanya mampir memarkir mobil di biara lalu keluar lagi untuk makan malam di restoran Cina yang tidak jauh dari biara. Itu sebabya kami hanya jalan kaki. Di sini kami makan nasi goreng dan B2 plus bir satu botol kecil.

Habis makan kembali ke biara, Pater Antonio belum tidur. Kami masih lihat tivi bersama dan minum bir lagi satu-satu botol kecil. Kami saksikan cuplikan adu tendangan penalti Inggris vs Italia. Setelah sedikit lega, kami kembali ke kamar untuk istirahat malam. (Bersambung)

Keterangan foto: Ini adalah gereja utama di Fatima yang dibangun pada 1918 atau satu tahun setelah penampakan. Di depan gereja ini ada sebuah kapel tempat Maria menampakkan diri kepada tiga gembala. Di depannya lagi, di ujung lapangan luas itu ada gereja yang dibangun dalam gaya kontemporer. (Foto: Alex Madji)

Ke Portugal, Mimpi yang Jadi Kenyataan


Sabtu 23 Juni 2012. Cuaca hari itu di Warsawa sangat cerah. Tidak ada kegiatan berarti yang saya lakukan, selain menyelesaikan dua tulisan untuk edisi Senin, 25 Juni dan Selasa, 26 Juni 2012. Sebenarnya tulisan ini sudah selesai dari Jumat malam. Sabtu pagi tinggal merapihkan, sebelum dikirim ke Jakarta.

Sabtu sorenya, pada pukul 14.55 waktu Warsawa saya harus terbang ke Lisbon, Portugal untuk mengunjungi adik persis setelah saya, Pater Florianus Jaling SVD. Tiket ke negara Cristiano Ronaldo itu sudah di tangan. Maka dua jam sebelum 14.55, atau pukul 12.55, saya sudah harus berada di Bandar Udara Frederic Chopin Warsawa.

Ternyata ke Bandara ini tidak sulit. Bisa pakai bis siang nomor 148 dari Mangalia 3, alamat hotel saya menginap, dan langsung turun di Terminal A, terminal keberangkatan Internasional. Waktu tiba pertama kali di Warsawa, Rabu, 20 Juni 2012, saya harus membayar 50 zlotych sampai ke hotel tersebut. Padahal dengan tiket satu kali jalan 3,6 zlotych saja sudah bisa sampai di tempat itu.

Dalam bis itu saya bertemu dengan seorang pemuda Rusia yang mengaku bekerja sebagai bar tender, yang datang ke Warsawa untuk menonton pertandingan perempat final antara Portugal versus Ceko yang dimenangkan Portugal 1-0 berkat gol sundulan kepala Cristiano Ronaldo.

Nama pemuda itu Sergei. Anaknya lucu dan gokil habis. Kami ngobrol selama di bis. Dia mau kembali ke negaranya melalui Kopenhagen. Banyak hal yang dia ceritakan mulai fanatismenya terhadap Manchester United sehingga dia mendukung Portugal pada laga tersebut karena ada Nani yang bermain untuk MU sampai persoalan minimnya prestasi sepakbola Rusia karena korupsi. Bahkan dia juga menyerempet ke masalah politik dengan menyebut Presiden Vladimir Putin sebagai Joseph Stalin yang kedua.

Setelah dia Chek in, dia ke tempat saya duduk sambil menunggu loket check in penerbangan ke Portugal di buka. Selang satu kursi dari saya, duduk seorang perempuan Polandia bernama Natalia. Dia pekerja travel agent dan hendak bepergian ke Sisilia Italia. Saya pun tahu nama cewek manis ini, karena dia akhirnya tersenyum saat digoda Sergei. Setelah itu kami bertiga ngobrol ngalor ngidul.

Tiba-tiba loket chek in saya dengan Penerbangan TAP Portugal, semacam Garuda Indonesia, dibuka. Saya bergegas mengantri dan memberitahu Sergei bahwa saya akan kembali. Tunggu di sini, kata saya. Tetapi sampai saya usai check in dan kembali ke tempat duduk tadi, Sergei dan Natalia menghilang. Ya, mungkin mereka sudah masuk ke ruang tunggu. Sergei ke Kopenhagen sebelum ke St Petersburg, Natalia ke Sisilia, dan saya pun masuk ke ruang tunggu untuk terbang ke Lisbon. Kami berpisah.

Saya masuk ruang tunggu di dekat Gate 17. Lama saya menunggu di sana. Jadwal 14.55 yang seharusnya pesawat take off, molor. Penumpang baru boarding pukul 15.00 untuk selanjutnya terbang ke Lisbon.

Penerbangan ke Lisbon memakan waktu 4 jam dan lima menit, seperti penerbangan dari Jakarta ke Biak. Penerbangan sore itu nyaman. Tidak ada guncangan karena cuaca sangat cerah. Di udara lalu lalang pesawat tampak jelas terlihat. Kebetulan saya duduk di jendela, kursi No 14A.

Pesawat dengan nomor penerbangan TP 581 itu diterbangkan tidak terlalu tinggi. Saya lupa ketinggiannya. Sehingga, saya masih bisa melihat daratan Eropa di bawahmya. Kampung, kota, dan tanah-tanah yang masih kosong jelas terlihat. Pemandangan Pegunungan Alpen yang selalu diselimuti salju juga terlihat jelas karena kami terbang tidak jauh dari sana. Indah.

Pesawat dengan pramugari ibu-ibu tua ini akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Portugal yang terletak di tengah kota pada pukul 18.00. Waktu Portugal lebih lambat satu jam dari Warsawa. Pesawat itu terbang rendah di atas stadion Sporting Lisbon dan Benfica yang letaknya berdekatan sebelum mendarat.

Meski sudah jam enam, matahari masih terasa terik, seperti baru pukul dua atau tiga sore. Panas langsung menyergap. Tidak ada pemeriksaan paspor dan visa lagi di sini karena saya menggunakan visa schengen yang diberi Kedutaan Besar Polandia di Jakarta. Setelah menunggu satu tas yang dipaksa masuk bagasi, saya keluar bandara. Di sana Flori, adik saya yang misionaris di Portugal dalam 10 tahun terakhir, sudah lama menunggu. Kami lalu berpelukan setelah bertemu terakhir pada liburan musim panas 2011 lalu di Jakarta dan di kampung.

Karena kebiasaan sejak kecil, saya tidak menyapa dia dengan sebutan Pater. Tetapi langsung dengan namanya. Itu terasa lebih intim untuk saya sebagai adik kakak kandung. Saya lalu diajaknya ke parkiran, tempat dia menambatkan mobilnya. Sedan Opel Blazer. Mungil. Ini mobil kongregasinya. Bukan mobil dia sendiri.

Kami berdua lalu meluncur ke biara SVD yang letaknya tidak jauh dari bandara atau hanya 15 menit dengan mobil. Juga tidak jauh dari Stadion Benfica. Sesampai di sana, saya diberi kamar di lantai tiga di biara yang besar itu. Kamarnya persis hotel. Kamarnya cukup luas dengan kamar mandi dalam pakai shower. Hanya kurang bath up.

Hanya duduk sebentar di situ, saya diajak ke kamar makan untuk makan malam, meski matahari masih panas. Di kamar makan, hanya ada satu pastor Portugis yang sudah berumur dan bekerja sebagai profesor di perguruan tinggi. Dia menyiapkan sup, roti, spaghetti plus daging goreng, sayuran segar, dan dua botol anggur; red wine dan white wine. Ketika kami sedang makan, beberapa pastor lain datang, termasuk Pater Antonio yang ikut mentraktir saya selama di Lisbon. Mereka menyambut saya dengan ramah. Sungguh akrab, meskipun mereka berbicara Bahasa Portugis. Tetapi keakraban dan keramahan itu sangat tampak.

Setelah makan malam, saya dan Flori langsung berangkat ke Fatima. Perjalanan ke tempat penampakan Bunda Maria kepada tiga gembala sederhana itu memakan waktu dua jam dengan kecepatan 120 km per jam. Kami tiba di Biara SVD di sana pukul 9.15 malam.

Biara SVD ini sangat besar. Saking besarnya, sebagiannya dijadikan hotel bintang dua. Sebagian kecilnya jadi komunitas SVD. Kamar makannya saja tiga dan besar-besar. Kapelnya juga tiga. Dua kapel kecil dan satu kapel besar tempat umat di sekitarnya ikut misa Hari Minggu.

Malam itu, ada jadwal doa rosario di tempat penampakan Maria. Kami berjalan kaki ke sana. Tidak jauh memang, tetapi cukup ngos-ngosan karena letaknya agak di ketinggian. Udara juga dingin. Kami tiba di sana pada peristiwa rosario ketiga. Saya mengikuti doa itu dengan khusuk bersama ribuan peziarah lainnya sambil menyalakan lilin. Rangkaian doa itu ditutup dengan perarakan patung Bunda Maria keliling lapangan yang sangat laus dari kapel tempat Maria menampakkan untuk kembali lagi ke kapel itu. Setelah doa, kami kembali ke biara dalam suasana hening untuk selanjutnya istirahat malam. Saya dapat kamar sendiri. Begitupun Flori. Sebenanrya bisa satu kamar, tetapi biar tetap menjaga privasi seorang pastor, saya memilih kamar sendiri. (Berlanjut)

Keterangan Foto: Kastil Jorge yang terletak di ketinggian di Kota Lisbon. Dari atas kastil ini, pemandang Kota Lisbon bisa terlihat sangat indah. (Foto: Alex Madji)

Sabtu, 23 Juni 2012

Bingung Beli Karcis Bis


Naik bis umum di Warsawa sebenarnya tidak sulit. Yang penting tahu nomor bis dan tempat berhenti, sudah cukup. Paling tidak itulah pengalaman saya naik bis umum yang nyaman di Warsawa untuk pertama kalinya.

Kamis, 21 Juni 2012, saya tanya ke resepsionis hotel nomor bis yang bentuk dan sistemnya sama seperti Trans Jakarta ke Fan Zone. Dia menyebut bis nomor 501, 519, dan 422. Bis-bis gandeng tiga ini semuanya lewat di arena Fan Zone Euro 2012. Tetapi saya harus menyeberangi jalan di samping hotel itu. Lalu tiketnya, kata mas resepsionis itu, bisa langsung beli di mesin otomatis. Di sinilah masalah bermula.

Di seberang hotel tempat saya menginap, memang ada sebuah mesin tiket otomatis. di Jalan Mangalia, hanya ada satu, yaitu di Mangalia 2. Sedangkan hotel tempat saya mengiap berada di Jalan Mangalia 3. Saya coba membaca petunjuk yang ada di mesin berwarna merah itu. Ada petunjuk Bahasa Polandia, Inggris, dan Jerman.

Saya mengikuti petunjuk Bahasa Inggris. Saya coba lihat layarnya, ada pesan Bahasa Polandia yang tidak saya paham. Saya coba sentuh layar itu. Tidak bisa. Ternyata itu bukan layar sentuh. Saya mencoba memasukkan koin Zlotych, juga gagal. Makin bingung saya.

Seorang ibu, kemudian datang mau beli tiket otomatis. Saya mencoba mengamati apa yang akan dilakukan ibu itu, tetapi dia hanya menggelengkan kepala. Saya tidak mengerti apa maksudnya. Saya pun enggan bertanya. Untung ada seorang lelaki pakai celana pendek bersepatu olahraga sambil tenteng plasti melintas. Saya coba meminta bantuannya. Dia mula-mnula bertanya kepada saya mau beli tiket apa. Sekali jalan, satu hari, tiga hari, atau satu minggu. Saya bilang, tiket sekali jalan saja. Dia pun melihat layar mesin itu. Astaga, ternyata pesan Bahasa Polandia tadi berarti out of order alias rusak.

Di belakang mesin itu, berjarak empat sampai lima meter, ada sebuah kios majalah dan koran yang semuanya berbahasa Polandia. Tidak ada satupun yang berbahasa Inggris. Di pojok kiri atas pintu masuk, saya lihat ada kata tiket dengan gambar dan logo seperi di mesin tiket otomatis tadi. Saya pun berani masuk dan tanya tiket bis. Ternyata benar. Ibu tua itu menjual tiket. Saya lalu beli tiket untuk satu hari yang bisa dipakai selama 24 jam seharga 12 zlotych.

Berbekal tiket itu saya dengan PD alias percaya diri naik bis ke Fan Zone dan tiba dengan selamat tanpa acara tersesat. Tiket yang hanya secuil, seukurun jari telunjuk itu, saya pegang. Saya nggak ngeh, ternyata di bis itu ada mesin verifikasi karcis. Selama pergi dan pulang ke hotel, saya perhatikan penumpang lain. Beberapa di antara mereka memasukkan karcis seperti yang saya pegang ke dalam mesin itu. Kemudian baru saya sadar bahwa karcis saya belum diverifikasi.

Keesokan harinya, tiket itu pasti tidak bisa dipakai lagi karena hanya berlaku 24 jam. Saya lalu membeli yang baru. Setelah beli tiket di tempat yang sama, saya dengan yakin masuk ke dalam bis, memasukan tiket ke dalam mesin verifikasi dan duduk manis. Jadilah saya seperti orang yang sudah lama di Warsawa. Saya pun tiba di kawasan Kota Tua dengan aman dan selamat.

Dalam hati saya bergumam, betapa malunya saya kalau tiba-tiba diperiksa dan saya bisa ditangkap karena tidak memverifikasi tiket. Untunglah hal itu tidak terjadi. Paling kalau ditangkap, saya akan bilang, maklumm Pak di Jakarta hal-hal seperti ini belum ada.

Ah, alangkah indahnya kalau Jakarta punya layanan bis seperti ini. Memang Jakarta sudah punya Trans Jakarta yang mirip dengan bis di Warsawa ini. Tetapi pelayanannya jauh berbeda. Bis di Warsawa ini tidak pernah numpuk penumpang dan tidak pernah macet karena jumlahnya banyak. Datangnya pun tepat waktu. (Alex Madji)

Keterangan Foto: Bis gandeng di Warsawa seperti Trans Jakarta, tetapi yang di Warsawa jauh lebih nyaman daripada Trans Jakarta. (Foto: Alex Madji)

Kamis, 21 Juni 2012

Ke Warsawa


Akhirnya, Saya tiba juga di Warsawa, tempat Piala Eropa digelar, setelah menempuh perjalan panjang Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam-Warsawa. Meski terlambat, paling tidak bisa mengalami euforia masyarakat Polandia dalam penyelenggaraan pesta sepakbola empat tahunan di Benua Biru ini.

Saya berangkat dari Jakarta menggunakan KLM dengan nomor penerbangan KL810 pada Selasa, 19 Juni 2012 pukul 18.50 WIB. Hingga Kuala Lumpur, sebagian besar penumpang pesawat adalah warga Malaysia yang baru pulang belanja dari Jakarta. Seorang ibu muda berbadan subur mengaku baru saja menghabiskan uang di Indonesia dengan berbelanja di Jakarta dan Bandung. Bahkan dia setiap enam bulan sekali datang ke Indonesia untuk berbelanja. Bagi dia, wisawata belanja Indonesia sangat menarik.

Di Ruang Tunggu D2, dialek melayu begitu akrab. Di depan dan belakang saya, semua berbicara logat melayu. Nyaris tidak ada dialek Indonesia. Ah, mungkin karena saya sedang berada di ruang tunggu keberangkatan internasional. Jadi wajar. Tetapi kok yang dominan, orang-orang Malaysie ya??

Perjalanan ke Kuala Lumpur malam itu aman-aman saja, hingga mendarat dengan mulus di Kuala Lumpur. Di sana, transit satu jam, sebelum melanjutkan perjalanan panjang ke Amsterdam. Selama perjalanan, pesawat terus bergoyang karena cuaca buruk. Puji Tuhan, akhirnya berhasil mendarat di Bandara Internasional Schipol, Amsterdam pada pukul 05.30 pagi, Rabu, 20 Juni 2012.

Di sini saya harus menunggu beberapa jam, sebelum melanjutkan perjalan ke Warsawa pada pukul 09.50. Keluar dari pesawat, saya mampir sebentar di toilet. Selepas itu, saya mampir di self service transfer untuk mengetahui saya harus masuk gate berapa. Sebab dalam boarding pass yang didapat di Jakarta, tidak tertera gate. Hanya ada nomor kursi 15 F dalam penerbangan ke Warsawa.

Di sinilah saya bingung. Saya coba memilih Bahasa Inggris dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh mesin. Tetapi gagal. Bingunglah saya. Untunglah di samping saya ada seorang Indonesia yang hendak ke Peru. Dia juga melakukan self service transfer. Bedanya, dia sukses. Sementara saya menalami kebingungnan. Saya minta bantuan dia untuk proses transfer pesawat. Dan berhasil. Saya mendapat petunjuk, harus tunggu di Gate C-14. Perjalanan ke sana cukup panjang. Nyaris mengitari satu terminal Schipol itu sendiri. Meski bingung, paling tidak ini pengalaman. Sebab di Indonesia, belum ada hal seperti ini.

Sesampai di pemeriksaan sebelum masuk ruang tunggu C-14, saya lagi-lagi tidak menemui kesulitan. Kecuali ada cerita lucu ini. Setelah selesai mengemas barang yang dibuka saat melewati pintu pemeriksaan imigrasi, seorang petugas berseragam imigrasi Belanda bertanya. "Dari mana?" "Dari Indonesia," jawab saya. "Bawa rokok," tanya dia lebih lanjut. "Tidak. Dan saya tidak merokok," timpal saya. "Wonderfull," ujar dia lagi, sambil saya berlalu.

Saya tidak mengerti apa maksud si londo itu. Mungkin karena Indonesia terkenal sebagai negara penghasil rokok atau mungkin karena orang Indonesia tidak kenal aturan saat merokok alias merokok di sembarang tempat, meski sudah ada Perda larangan merokok seperti di Jakarta. Setelah lolos dari situ, saya menunggu datangnya jam 09.20, saat boarding tiba. Waktu terasa lama. Sempat tidur sebentar sambil menunggu, akhirnya gerbang pertanda boarding mulai dibuka.

Tepat pukul 09.50 KLM 1363 ke Warsawa take off. Penerbangan ke negara Beato Yohanes Paulus II itu hanya 1 jam 30 menit. Sesaat sebelum mendarat di Bandara F Chopin, pesawat terguncang karena cuaca buruk. Kabut. Untunglah, akhirnya bisa mendarat dengan selamat. Di sini, tidak ada lagi pemeriksaan pasport. Keluar Bandara begitu saja.

Begitu sampai di Warsawa, maka mulailah petualangan di negara bekas komunis ini meliput perempat final dan semifinal Piala Eropa 2012 yang persiapannya sangat akrobatik dan penuh tidak kejelasan. (Alex Madji)

Keterangan Foto: Saya bersama Carlos Brum (kedua dari kiri), pendukung fanatik Portugal, Yolanda (kedua dari kanan) Gadis Warsawa, dan Jorge Franco (duduk) juga pendukung Portugal. (Foto: Alex Madji)

Senin, 04 Juni 2012

Kemana Toleransi Itu?


Seorang teman tiba-tiba mengirim Blackberry Messanger alias BBM kepada saya. Dulunya teman ini adalah seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) selama bertahun-tahun dan membela mereka yang tertindas dari kelompok manapun. Kemudian dia mengubah haluan menjadi seorang aktivis sebuah gerakan yang menghalalkan penggunaan kekerasan dan intoleran.

Isi BBM-nya adalah pernyataan seorang kiai yang selama ini terkenal pluralis dan acap mengecam tindakan kelompok si teman tadi. Sang Kiai, menurut teman itu, mengeritik dunia barat yang menilai Indonesia tidak toleran. Kalau penilaian itu berdasarkan kasus Gereja Yasmin, kata teman tadi mengutip Sang Kiai, penilaian dunia barat itu keliru karena para pihak dalam konflik Gereja Yasmin tidak ingin masalah itu selesai. Ada yang ambil keuntungan dari konflik tersebut. Kalau karena masalah Ahmadiyah, lanjutnya, masalah ini akan selesai kalau Ahmadiyah menjadi agama tersendiri dan tidak mengaku-ngaku sebagai Islam. Dengan kata lain, tidak benar bahwa Indonesia tidak toleran.

Pada hari berikutnya, seoang kawan di sebuah grup milis meneruskan sebuah pesan dari suatu grup Facebook. Isinya mengajak umat Katolik berdoa bagi gereja-gereja Katolik yang disegel di Nanggroe Aceh Darusalam dan yang dipaksa dibongkar dengan alasan tanpa ijin mendirikan bangunan atau IMB di Sumatera Barat.

Sekedar menambah daftar yang dikirm teman ini, masih banyak gereja Kristen yang terpaksa ditutup karena sikap intoleran kelompok si teman yang pertama tadi, seperti Gereja Ciketing Bekasi. Belum lagi, begitu banyak gereja yang proses pendiriannya dipersulit. Pengurusan IMB berlangsung bertahun-tahun dan menghabiskan anggaran yang tidak sedikit. Bahkan ada gereja yang sudah kantongi IMB dan di tengah jalan pembangunan tiba-tiba dikatakan bangunan itu salah tempat dan tidak ber-IMB.

Sikap intoleran ini juga ditunjukkan terhadap kelompok Ahmadiyah. Kelompok ini dikejar-kejar, bahkan ada yang terbunuh. Rumah-rumah mereka dihancurkan dan tempat ibadah mereka dirusak.

Dengan sederet fakta seperti ini maka pernyataan Sang Kiai tadi patut dipertanyakan. Pasalnya, Kiai ini terkenal membela kelompok minoritas. Bila dia tiba-tiba berubah maka patut dipertanyakan kebenaran isi pernyataannya.

Atau jangan-jangan, kutipan pernyataan Sang Kiai tadi hanya karangan si teman tadi untuk membenarkan tindakan kelompoknya. Padahal faktanya ya memang tidak ada toleransi di negara ini. Demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan beragama tercabik-cabik. Ironisnya, negara tidak berdaya di hadapan para pelaku intoleran itu. Bahkan seringkali kalah dari kelompok ini.

Sungguh menyedihkan hal ini terjadi di negara yang berfalsafah Pancasila. Lalu kemana toleransi yang dikatakan Sang Kiai seperti dikutip si teman tadi? Ah, mungkin sudah ke laut kali. (Alex Madji)