Jumat, 24 Februari 2012

Memulai Usaha? Perlu Totalitas


Sudah dua tahun saya tidak pernah ke Kementerian Dalam Negeri. Tiba-tiba pada Rabu, 22 Februari 2012, saya mampir ke sana. Tidak untuk bertemu pejabat. Hanya membangunkan kembali memori ketika meliput di kantor itu. Tidak ada yang berubah di sana, selain gedung-gedungnya yang sudah dipoles dengan penambahan unit-unit gedung dari Gedung A sampai Gedung F.

Di ruang pers saya bertemu sejumlah teman. Masih ada teman lama, Sutomo Samsu. Yang lain rekan-rekan seprofesi yang tidak pernah bertemu sebelumnya. Tetapi kami larut dalam cerita-cerita menarik. Bukan tentang liputan, tetapi cerita-cerita motivasi.

Teman lama saya tadi, Mas Tomo, bercerita tentang dirinya yang ditawari oleh sejumlah temannya untuk segera pindah ke kantor konsultan mereka. Tetapi teman saya ini bergeming. Padahal, dia sudah sadar bahwa dia tidak bisa untuk selamanya menjadi wartawan.

Menurut dia, ada begitu banyak peluang di Jakarta Raya ini, asalkan ada keberanian untuk memulai. Dia mencontohkan, tempat-tempat kelas bermain dan taman kanak-kanan menjamur di sejumlah perumahan. Di kompleksnya saja, ada dua tempat untuk kelas bermain. Padahal, menurut pria lulusan UGM dan pernah menekuni bisnis bimbingan belajar ini, mengelola usaha seperti itu tidak sulit dan menggiurkan.

Banyak sekali cerita tentang sejumlah kisah sukses orang-orang tertentu baik yang membuka tempat bimbingan belajar kemudian melebarkan sayapnya dengan membuka warteg kelas restoran, atau orang yang membuat penerbitan seorang diri tetapi sukses pada sore itu.

Dari pembicaraan-pembicaraan itu kemudian bermuara pada sebuah kesimpulan, perlu totalitas. Artinya, kalau menekuni sesuatu memang harus total. Tidak boleh setengah-setengah. Setiap pekerjaan yang dilakukan secara setengah-setengah maka hasilnya pun tidak optimal. Sebaliknya, setiap pekerjaan yang dilakukan dengan penuh totalitas, hasilnya pun maksimal.

Karena itu bila Anda sedang menekuni bisnis, sebaiknya Anda fokus ke situ untuk mencapai hasil paling maksimal. Tinggalkan pekerjaan kantor. Jangan pernah takut kehilangan pekerjaan. Bila usaha Anda diurus nyambi kerja kantor, maka jangan berharap mendapatkan hasil yang menggiurkan.

Teman lainnya menambahkan, hal lain yang diperlukan adalah kesabaran dan ketabahan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan sabar dan tabah pasti membuahkan hasil. Kata-kata kunci dalam tulisan ini adalah totalitas, kesabaran dan ketabahan. (Alex Madji)

Foto Ilustrasi: http://bisnisukm.com/motivasi-sukses-bisnis.html

Selasa, 21 Februari 2012

Gunakan Pajak Saya untuk Perbaiki Jalan Rusak



Saya baru saja pulang mengurus pajak mobil di Samsat Jakarta Timur, Kebun Nanas, Selasa, 21 Februari 2012 pukul 14.00 WIB. Ini adalah pengalaman pertama saya mengurus sendiri pembayaran pajak kendaraan bermotor. Selama tiga tahun terakhir, saya selalu menitipkannya kepada seorang teman yang biasa meliput di Polda Metro Jaya. Saya tinggal menunggu di kantor dan STNK yang hampir habis masa berlakunya sudah terurus. Mudah dan gampang.

Entah kenapa, tiba-tiba saya berpkir, "Ah saya coba mengurus sendiri." Maka, sejak Selasa, 21 Februari 2012 pagi, saya mempersiapkan STNK mobil dan KTP istri, sebagai pemilik mobil tersebut. Pukul 13.00 WIB, saya berangkat dari kantor. Pukul 13.45, saya tiba di kantor yang terletak di Jalan Ahmad Yani tersebut, persis di samping layang tol ke Priuk.

Di depan pos masuk, tertulis parkir gratis. Seorang petugas duduk di ruangan kecil pos masuk sore itu. Saya minggir sebentar. "Pak, kalau mau bayar pajak mobil di mana ya?" tanya saya.
"Di situ, yang ada tulisan, "Selamat Datang," ucapnya sambil menunjuk lobi utama gedung itu.
"Mau diurusin," tanyanya kepada saya.

Tapi saya tidak menjawab. Sambil mengucapkan terima kasih saya menarik gas motor lalu langsung belok kiri dan parkir di samping pos masuk bersama sejumlah motor di situ. Sejurus kemudian, saya masuk ke ruangan yang ditunjuk tadi. Seorang pria paruh baya tiba-tiba mendekati saya.
"Urus STNK mobil, motor," tanyanya pelan.

Saya tak peduli. Saya terus menghampiri sebuah meja di mana formulir berada. Seorang petugas berkemeja putih dan celana bahan hitam yang sudah cukup umur duduk di balik meja. Di depannya, seorang petugas security (Satpam) sedang menghitung uang. Jumlahnya cukup banyak.

Saya lalu ambil formulir pendaftaran yang hanya satu lembar itu dari tumpukan formulir pendaftaran di depan bapak tua tadi. Tiba-tiba seorang ibu datang dan menawarkan jasanya. Peremuan yang mengaku asal Ambon itu berjanji mengurus hanya dalam 15 menit dan STNK sudah jadi. Tetapi imbalannya Rp 15.000. Dia pun mengambil formulir yang saya pegang. STNK dan KTP istri saya diminta untuk mengisi formulir tersebut. Lalu dia bertanya tentang BPKB. "Tidak ada," sahut saya.

Dia minta tambahan jasa Rp 25.000 untuk "menebus" BPKB yang "hilang". Mendengar itu, serta merta saya batal menggunakan jasanya. Seorang pria di samping kanan saya lalu menawarkan jasa serupa. Saya acuh.

Saya kemudian memutuskan untuk mengurus sendiri. Saya ke loket pendaftaran. Petugas di sana, seorang pria, menyarankan ke loket 8 di lantai dua karena tidak membawa BPKB. Saya mengikuti arahannya. Sampai di lantai dua, loket delapan, saya memberitahukan bahwa saya tidak membawa BPKB. Dengan cepat petugas di situ mengambil formulir, membubuhkan tandatangan di atas formulir pendaftaran yang belum saya isi tersebut. Setelah tandatangan dan mencatat nomor polisi mobil di buku pendaftarannya, dia kembalikan formulir tersebut sambil meminta jasa Rp 25.000. Saya pun membayar.

Setelah itu, saya kembali ke lantai satu. Mengisi formulir lalu menyerahkan ke loket pendaftaran. Saya sempat salah, karena memasukkannya ke bagian mobil. Tak lama berselang, saya dipanggil dan menyuruh memasukkan formulir itu ke deretan loket di seberangnya atau di sebelah kanan ketika masuk melalui pintu utama. Di situ loket-loket untuk mobil.

Saya pindah. Saya memasukkan formulir itu dan mengambil nomor antrian. Hanya dalam 15 menit, saya sudah dipanggil. Struk pembayaran keluar. Saya ambil struk itu lalu pindah ke kasir yang ada di sampingnya. Saya lalu membayar sebesar yang tertera dalam STNK, setelah sebelumnya mengambil uang di ATM bersama Bank DKI. Tidak ada bank lain di sina. Kalau mau ke BCA, petugas di situ menyarankan ke Kampung Melayu.

Setelah bayar saya tinggal menunggu STNK dan bergeser ke loket paling ujung. Loket nomor 5. Baru saja saya membuka Blackberry untuk sekedar mengirim pesan BBM, seorang ibu dari balik loket sudah memanggil saya. Struk saya ditukar dengan STNK yang sudah diperbaharui. Pajak mobil pun sudah dibayar lunas.

Saya tidak membayangkan mengurus STNK begitu cepat dan gampang. Tetapi pada saat bersamaan, saya heran kok para calo berkeliaran begitu banyak di kantor ini. Bahkan mulai dari pintu masuk. Lebih heran lagi, masih ada saja orang yang mau menggunakan jasa mereka. Padahal pengurusan STNK sudah begitu mudah. Dan, hanya dalam tempo singkat STNK sudah jadi.

Sebelumnya, saya hanya membaca status facebook seorang teman yang memberi kesaksian serupa bahwa pengurusan STNK begitu cepat. Dalam pesan Facebooknya itu, dia salut kepada petugas. Saya pun mengamininya. Salut. Tetapi, saya hanya titip satu pesan. Semoga pajak yang saya bayar dipakai untuk memperbaiki kondisi jalan Jakarta yang berlubang. Bukan untuk Korupsi. (Alex Madji)


Sumber foto: http://edorusyanto.wordpress.com/2011/05/29/drive-thru-stnk-motor-di-samsat-jakarta-timur/

Senin, 20 Februari 2012

Menungu Hancurnya PD


Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacoa akhir pekan lalu menegaskan bahwa tidak ada perpecahan dalam Partai Demokrat. Partai pemenang pemilu 2009 ini masih solid, kata Sopacoa.

Tetapi pernyataan ini tidak lebih dari basa basi belaka. Sebab, fakta perpecahan itu makin jelas. Partai Demokrat kini tersegmentasi ke dalam dua kutup yaitu, Cikeas di satu pihak (Dewan Pembina) dengan kutup Anas Urbaningrum (DPP) di pihak lain.

Isu ini sudah lama. Khabar keterpecahan dan faksi-faksi ini terbentuk setelah Kongres Bandung, dimana Anas Urbaningrum terpilih sebagai Ketua Umum, menyisihkan Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng. Calon dukungan Cikeas, ketika itu, Andi Mallarangeng, malah kalah di putaran pertama. Di partai final, Anas mengalahkan Marzuki Alie.

Tetapi setelah kongres, fakta ini ditutup-tutupi. Ibarat pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jutuh jua, begitulah Partai Demokrat. Sepandai-pandai mereka menutupi fakta itu akan terkuak juga bahwa memang betul ada faksi dan kubu-kubuan dalam tubuh partai yang tiba-tiba besar itu.

Kesaksian bohong Angelina Sondakh di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pekan lalu, ketika bersaksi untuk terdakwa kasus korupsi Wisma Atlet, Muhammad Nazaruddin, dan akrobatik politik sesduahnya memperjelas dua kutub tadi; Cikeas dan Anas.

Dalam kesaksiannya, Angie, sapaan mantan orang tercantik di Indonesia itu, membantah keterangan di BAP, terutama terkait percakapannya dengan Mindo Rosalina Manulang di Blackberry Messenger. Kesaksian itu bermaksud untuk menyelematkan dirinya yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang sama oleh KPK dan Anas Urbaningrum.

Hanya selang sehari dari kesaksian yang oleh publik dinilai bohong itu, posisi Angie di DPR dipindahkan dari Komisi X ke Komisi III. Pemindahan ini menyebabkan KPK boikot rapat dengar pendapat dengan Komisi yang menangani hukum ini.

Cikeas pun geram. Sekretaris Dewan Pembina Andi Mallarangeng menegaskan, SBY sebagai Ketua Deawan Pembina marah besar atas pemindahan Angie tersebut. Langkah ini dinilai tidak cerdas. SBY, kata Andi, sudah meminta DPP untuk mengembalikan Angelina Sondakh ke posisi semula. Angie kemudian memang dikembalikan ke posisi semula.

Tidak Cerdas
Sementara Anas mengelak bahwa dia berada di balik pemindahan tersebut. Perpindahan Angie, kata mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu adalah wewenang fraksi. Dengan kata lain, Anas cuci tangan. Padahal publik tahu bahwa fraksi di DPR adalah perpanjang tangan partai/DPP. Jadi kalau Anas tidak tahu pemindahan itu, patut dipertanyakan. Jangan-jangan ini masih bagian dari penyangkalan Angie di pengadilan.

Sedangkan Ketua Faksi Demokrat di DPR, Djafar Hafsyah mengaku bahwa pemindahan itu tidak memiliki maksud tertentu. Tetapi sekedar refresing atau penyegaran. Alasan ini juga tampak tidak cerdas. Sebab, selain Angie tidak pernah sekolah hukum juga waktunya tidak tepat. Sama tidak cerdasnya dengan argumen Ketua Komisi III, Benny K Harman yang mengatakan bahwa Panda Nababan, anggota DPR dari PDI Perjuangan juga berada di Komisi III, padahal dia menjadi tersangka perkara cek pelawat. Benny K Harman lupa bahwa Panda sudah menjadi anggota Komisi III sebelum menjadi tersangka. Jelas sekali bahwa ini adalah alasan pembenaran yang dicari-cari, tetapi tidak logis.

Dari fakta-fakta di atas, maka faksi dan keterpecahan Partai Demokrat tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Ada faksi Dewan Pembina dan faksi DPP dibawah pimpinan Anas Urbaningrun yang sedang bertarung di internal partai. Pernyataan Max Sopacua seperti disinggung di awal adalah bagian dari kebohongan lain partai tersebut.

Konflik yang semakin terbuka dan tajam ini akan menghantar Partai Demokrat jatuh dan terbelah berkeping-keping seperti Partai Kebangkitan Bangsa, ketika DPP berkonflik dengan Dewan Syuro pimpinan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Maka sekarang kita tinggal menunggu kutup siapa yang kuat dalam konflik ini. Yang lemah akan tergusur dan bukan tidak mungkin akan mendirikan partai sempalan. Tenu ini sangat tidak produktif menjelang pemilu 2014. Tetapi mari kita tunggu saja seperti apa hasil akhirnya.

Foto: http://pontianak.tribunnews.com/2012/02/05/anas-aman-di-demokrat

Jumat, 17 Februari 2012

Penyangkalan Angelina Sondakh


Kesaksian Angelina Sondakh (AS) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi beberapa hari lalu ketika diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Muhammad Nazaruddin ditanggap sinis oleh publik. Bahkan dia dinilai berbohong karena menyangkal percakapannya via Blackberry Messanger (BBM) dengan Mindo Rosalina Manulang.

Padahal ada fakta yang sama dengan percakapan di BBM itu yang tidak disangkalnya. Tetapi ketika ditanyakan pengacara Nazaruddin Hotman Paris Hutapea soal percakapan BBMnya terkait fakta tersebut dengan Mindo Rosalina Manulang, dengan serta merta Angie membantah. Dengan logika sederhana saja, publik yang menyaksikan sidang tersebut dari siaran langsung televisi memvonis Angelina Sondakh berbohong.

Kebohongan Angie ini kemudian disindir publik di media-media sosial dengan berbagai cara. Ada pengguna Facebook menilai, Angie sedang membangun mercusuar kebohongan. Mungkin memang dia baru membangun satu pilar kebohongan. Tetapi kebohongan itu akan ditutup oleh kebohongan-kebohongan lainnya.

Status facebookers lainnya menyindir kebohongan Angie ini secara satir. Tetapi maknanya tajam, menusuk, dan menukik. Sebagai orang beragama, Angie seharusnya malu. Ini olokan untuk dia.

Simak saja status Adelvine Maria dalam dinding Faceboonya. “Hakim : "apa benar anda tidak pernah BBM-an dengan Rosa?".Anggie : "nggak!". Hakim. : "telpon? ". Anggie : " nggak". Hakim. : "SMS?". Anggie : "nggak". Hakim. : "Kenapa bisa begitu?". Anggie : "aku gak punya pulsaaaa" :'(Mat braktivitas all...).”

Atau catatan Gerard N. Bibang yang sedikit nakal menyindir kebohongan tersebut dalam percakapan berikut ini:
“Hakim : Benar itu sdri Angie punya BB= BeiBi?
Angie : Beibi?
Hakim : Iyah. Beibi. Masa’ gk tahu sih? Itu yg Anda pegang apa? Beibi kan?
Angie : Sekarang Pa Hakim. Dulu aq gk punya Beibi. Kalo ada BBS, iyah: dari dulu, ada saya!
Hakim : Tolong jelaskan BBS itu...
Angie : Bobo-Bobo Siang, Pa Hakim
Hakim : Adoh.... bilang kek dari dolo. Aku juga mau , tau?
Angie : BBS ku hanya dengan penyidik, pa Hakim...Sidikan dan bidikan penyidik nusukkkkkk bangett...
Hakim : Oooooooooo??”

Ya, mantan putri Indonesia itu memilih pasang badan untuk bosnya Anas Urbaningrum, dengan cara berbohong sekalipun. Sebab kalau dia mengakui percakapan BBM itu maka makin kuatlah keterlibatan Anas dan dirinya yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus tersebut.

Tetapi, menurut saya, langkah ini tidak tepat. Lebih simpatik kalau janda Adjie Massaid itu mengatakan fakta sebenarnya secara jujur, terbuka, dan gamblang. Lebih baik jujur dan menyesali perbuatannya, kalau memang bersalah, daripada membangun mercusuar kebohongan yang cepat atau lambat akan ambruk dan jatuh berkeping-keping. Tetapi itulah pilihan AS. Memilih untuk menyangkal alias berbohong. (Alex Madji)

Foto: Dari Facebook

Kamis, 16 Februari 2012

Melihat “Dapur” Pendeta Gilbert Lumoindong


Selasa, 14 Februari 2012 lalu, saya bertemu Pendeta Gilbert Lumoindong, pemimpin Gereja Betel Indonesia (GBI) Glow Ministry di kantornya, Thamrin City, Jakarta Pusat. Ini adalah perjumpaan pertama saya dengan pendeta bertubuh tambun ini. Wajahnya tampan. Kulitnya putih bersih. Suaranya serak.

Sebelumnya, saya pernah melihat pendeta keturunan Manado ini berkhotbah di televisi. Khotbahnya menarik dan memikat. Sebelum bertemu, saya mendengar beberapa khotbahnya tentang perkawinan melalui rekaman yang diberikan seorang teman untuk sebuah kepentingan. Khotbahnya memang menarik. Kadang-kadang dia melontarkan lelucon.

Selasa lalu itu, kami tiba di lantai 3A gedung Thamrin City. Dari kejauhan terbaca tulisan “Glow Sanctuary”. Di balik pintu ada sebuah meja resepsionis menghadap keluar. Di depan meja itu ada stan-stan tempat berjualan buku dan benda-benda rohani. Kebanyakan buku yang dijual adalah karya Gilbert Lumoindong.

Di belakang meja resepsionis itu ada dua pintu masuk ke sebuah ruangan panjang dan luas yang terisi dengan ribuan kursi tertata rapi. Saat kami lewat, sekelompok jemaat sedang mendengarkan ceramah seorang bule sambil diterjemahkan seorang pemuda. Di pertengahan ruangan itu ada panggung dengan sebuah mimbar. Inilah gedung gereja Glow Ministry, pimpinan Gilbert Lumoindong. Memang tidak ada suasana sakral dalam gereja tersebut. Paling tidak itu yang saya rasakan saat melintasi ruang panjang tersebut.

Seorang pemuda di situ bercerita bahwa kebaktian hari Minggu di gereja ini berlangsung tuju kali. Setiap kebaktian selalu dihadiri ribuan jemaat. Gilbert Lumoindong berkhotbah pada tujuh kebaktian tersebut. Terbayang lelahnya. Di ujung gereja ini, ada semacam ruang tamu. Di situ ada dua deret kursi sofa dengan satu meja kayu coklat di tengahnya. Di samping pintu masuk ruangan tersebut, ada sebuah meja kayu yang lebih tinggi dari mejad di depan sofa. Di atasnya terletak sebuah patung kepala Yesus, protopite Alkitab, dan beberapa benda rohani lainnya, serta foto Gilbert Lumoindong dan istrinya.

Dari ruangan ini, saya bersama seorang teman diajak pergi ke kantor Gilbert Lumoindong yang berada di lantai lain gedung yang sama. Di situlah dapur ketenaran dan kesuksesan seorang Pendeta Gilbert Lumoindong membangun dan mengembangkan jemaatnya. Inilah pusat pelayanannya. Ruangan yang tidak terlalu besar itu disekat-sekat menjadi beberapa ruangan.

Saat kami masuk, di salah satu ruangan sedang dilangsungkan pertemuan tim pastoral bersama Gilbert Lumoindong. Beberapa saat berselang, pria berbadan subur yang hari itu mengenakan kemeja kuning kotak-kotak pindah ke ruangan sebelah tempat kami menunggu. Kami berbincang selama hampir dua jam. Bercakap tentang perkawinannya. Ya, bulan ini dia merayakan ulang tahunnya yang ke-20. Selepas itu, kami pergi ke sebuah ruangan lain yang agak lebih kecil dan berselang satu ruangan dari tempat kami bertemu Pendeta Gilbert.

Di ruangan kecil ini, saat itu, ada tiga pemuda yang sedang asyik dengan komputernya masing-masing. Ternyata ini adalah ruang produksi untuk segala buletin Glow Ministry bernama Glowing. Tampilan buletin ini menarik dan professional. Maklum, yang mengerjakannya, paling tidak layouter di ruangan itu, cukup mumpuni. Dibandingkan buletin serupa di beberapa gereja Katolik, yang pasti Glowing jauh lebih bagus. Buku-buku, tulisan, bahkan bahan-bahan khotbah Gilbert Lumoindong juga dilayout di ruangan ini.

Para pemuda itu adalah bagian kecil dari 40 orang yang bekerja di bawah Glow Ministry. Ke-40 orang inilah penentu suksesnya Pendeta Gilbert Lumoindong, termasuk di dalamnya tim pastoral yang melayani 14.000 jemaatnya di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Nah, yang mau saya bagikan adalah bahwa kesuksesan Pendeta Gilbert Lumoindong menjaring dan memimpin belasan ribu jemaat di Jabodetabek, belum termasuk di daerah-daerah lain, bukan kerja pribadi semata. Meskipun dia menjadi faktor penentu. Tetapi bukan satu-satunya. Kerja tim dan profesionalisme diserta manajerial yang baik turut menentukan keberhasilan, termasuk dalam organisasi gereja. Inilah yang patut ditiru oleh gereja-gereja lain. Bukan business as usual. (Alex Madji)

Keterangan foto: Bagian dalam Glow Sanctuary (Foto: Alex Madji)

Senin, 13 Februari 2012

Ironi Pesawat Kepresidenan


Beberapa hari terakhir ini, publik meributkan pengadaan pesawat kepresidenan senilai Rp 800 miliar. Padahal rencana ini bukan baru. Paling tidak Jusuf Kalla sudah mewacanakannya sekitar 2007, ketika dia masih menjabat Wakil Presiden, mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pesawat Kepresidenan itu nantinya akan dipakai Presiden dalam setiap kunjungannya, terutama ketika berkunjung keluar negeri. Dia menjadi semacam Air Force One-nya Indonesia. Selama ini, saat berkunjung keluar negeri, Presiden menggunakan pesawat kepresidenan Garuda Indonesia bermerek Airbus A330.

Air Force One adalah Pesawat Kepresidenan Amerika Serikat yang dilengkapi berbagai peralatan canggih dengan fasilitas paling top. Tujuannya agar Presiden AS tetap mengendalikan dunia dari atas udara, kapan dan dimana pun dia berada.

Sejumlah negara juga memiliki Pesawat Kepresidenan. Tetapi kalau ada berita bahwa Korea Selatan punya Pesawat Khusus Kepresidenan, itu tidak tepat. Sebab, dalam KTT G-20 di Washington dan APEC di Lima tahun 2008 silam, Presiden Korea Selatan datang menggunakan pesawat maskapai Korean Airlines. Meskipun itu disebut Pesawat Kepresidenan. Peswat itu diparkir berdampingan dengan Pesawat Kepresiden Indonesia, Garuda Indonesia, di Bandar Udara TNI Angkatan Udara AS di Washington dan di Lima, ibukota Peru.

Nah, Pesawat Kepresidenan yang ramai diperbincangkan publik belakangan ini sama dengan Air Force One-nya AS itu. Pabrik pembuatnya pun sama. Boeing Company, perusahaan AS. Sebagai peswat kepresidenan, pastinya akan canggih, lengkap, mewah sekali, seperti Air Force One. Intinya, Pesawat Kepresidenan itu akan menjadi istana dan kantor Presiden di udara.

Dengan proyek ini, menurut saya, Indonesia mau memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara mapan. Ekonominya sedang mengalami pertumbuhan sangat signifikan, bahkan tertinggi nomor tiga di dunia setelah Cina dan India saat krisis 2008-2009 silam. Pesawat kepresiden itu adalah pencitraan Indonesia yang makmur dan sejahtera di mata dunia.

Dengan begitu diharapkan, Indonesia semakin diakui dan dihargai. Hal itu sekaligus juga mempertegas pengakuan dunia atas Indonesia yang sudah diterima dalam kelompok G-20 yang selalu dibanggakan SBY dan stafnya sebagai sebuah catatan keberhasilan pemerintahannya.

Tetapi sayangnya pencitraan itu tidak sesuai dengan kenyataan di dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang tinggi. Tetapi tidak berdampak signifikan pada kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu masih belum adil. Sebab masih banyak rakyat Indonesia yang hidup melarat. Jangankan di pelosok-pelosok yang jauh dari Jakarta, di ibukota ini saja masih banyak yang hidup melarat.

Maka, sungguh ironis pengadaan pesawat kepresidenan itu dilakukan di tengah penderitaan rakyat dan ketidakberdayaan mereka minimal untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Padahal, uang Rp 800 miliar ini jumlah yang luar biasa banyak untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan di NTT, Papua, Maluku dan daerah-daerah terpencil lainnya. Tetapi pemerintah lebih mengutamakan pencitraan ke dunia luar daripada berbuat hal yang lebih substantif; mensejahterakan rakyatnya.

Tetapi begitulah negeri ini. Selalu melahirkan ironi. Para pemimpinnya berfoya-foya sementara rakytanya hidup melarat dan sengsara. Ketika para pemimpinnya naik kendaraan mewah dan Presidennya membangun istana di udara, rakyatnya berjalan kaki berkilo-kilo meter, bahkan tanpa alas kaki, karena ketiadaan jalan raya untuk dilalui bis kayu sekalipun dan terjerat kemiskikan yang memilukan.

Pengadaan pesawat kepresiden seperti itu memang penting. Tetapi bukan sekarang. Yang mendesak sekarang adalah bagaimana mensejahterakan rakyatnya secara merata dan adil, bukan hanya segelintir orang seperti yang terjadi saat ini. Bila rakyatnya sudah sejahtera, maka Presiden beli pesawat kepresidenan sampai lima pun tidak soal.

Karena itu, jangan asal meniru AS. Apalagi hanya untuk gagah-gagahan bahwa Indonesia Bisa, seperti judul buku Dino Patti Djalal. (Alex Madji)

Sumber foto: http://news.okezone.com/read/2012/02/13/337/574376/pks-pertanyakan-pembelian-pesawat-kepresidenan

Minggu, 12 Februari 2012

Berterima Kasih dengan Pohon


Sabtu, 11 Februari 2012 malam, kami sekeluarga menghadiri resepsi pernikahan putri Mulyana W Kusumah di Gedung Antam, Jalan TB Simatupang, Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Pernikahan itu meriah. Tidak sedikit mantan pejabat yang hadir. Ucapan dalam bentuk karangan bunga dari para pejabat dan mantan pejabat pun berjibun.

Mulyana W Kusumah adalah mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada pemilu 2004. Ketika itu, saya meliput pemilu di sana. Karena itu menghadiri resepsi pernikahan ini seolah reuni dengan kawan-kawan lama seperti Hamid Awaludin mantan anggota KPU yang pernah menjadi Menteri Hukum dan HAM dan Duta Besar RI untuk Rusia. Bertemu juga dengan mantan Sekjen KPU, Yusac, dan beberapa pejabat KPU. Ada juga mantan Sekjen Departemen Dalam Negeri Progo Nurdjaman yang begitu akrab dan ramah. Selain itu teman-teman liputan pemilu 2004 bertemu di sana. Cukup untuk melepas kangen dan menghidupkan kembali memori penyelenggaraan Pemilu 2004 dengan segala karut marut dan kisah pilu setelahnya yang berujung pemenjaraan beberapa anggota dan berokrat KPU.

Sayang, acara itu berlangsung dalam guyuran hujan lebat. Datang ke acara tersebut butuh perjuangan karena harus menerabas cuaca buruk. Hujan lebat membatasi jarak pandang dalam berkendara.

Tetapi yang menarik ini. Ketika mau pulang, undangan diberi pohon sebagai souvenir. Ada macam-macam jenis pohon. Ada alpukat, sirsak, jambu, dan berbagai jenis pohon lainnya. Pohon-pohon itu ditukar dengan kartu souvenir yang diterima setelah menandatangani buku tamu.

Kartu souvenir itu ada dua. Yang agak besar untuk tamu. Sedangkan yang agak kecil untuk ditukarkan dengan pohon. "Mohon kartu ini ditukarkan dengan souvenir pada waktu meninggalkan ruangan. Gita dan Faisal," tulis pada kartu souvenir tersebut.

Saya lalu memilih Sirsak. Sebanarya saya pilih pohon Alpukat. Tetapi, kata istri teman saya, awas ulat bulu. Takut juga. Akhirnya Sirsak yang dipilih. Sebab kasiatnya banyak. Bukan hanya buahnya yang bisa dimakan, tetapi daunnya juga berkasiat untuk menyembuhkan sejumlah penyakit.

Rupanya souvenir pohon sudah menjadi tren sebagai souvenir pernikahan belakangan ini. Dalam era go green seperti saat ini, souvenir pohon menggeser dan mengganti souvenir-souvenir lucu, menarik, dan berkesan lainnya, seperti dompet koin, kipas, tanggalan, sumpit, gelas, lilin, dan masih banyak lagi.

Sayangnya, souvenir itu masih dipraktekkan di kalangan terbatas yaitu pada mereka yang berkelas atas. Souvenir pohon juga sekaligus penanda kelas keluarga yang menyelenggarakan pernikahan. Dan, umumnya hanya terjadi di kota-kota besar. Sementara bagi masyarakat kelas bawah, di kota-kota serupa, souvenir pernikahannya masih yang biasa-biasa saja.

Padahal, kalau ini menjadi tren umum masyarakat, sangat bagus. Pinciptaan hutan, di tengah penggundulan secara maruk oleh para garong negeri ini, dimulai dari rumah, lingkup yang paling kecil. Makin banyak pohon yang ditanam, menjadikan Indonesia sebagai paru-paru bumi. Asal, proses pembalakan liar segera dihentikan dan penanaman kembali hutan yang sudah gundul perlu digalakkan besar-besaran.

Anyway, terimakasih kepada para pengantin yang sudah membangun kesadaran menanam pohon melalui souvenir pernikahan. Maka berterimakasihlah dengan sebatang pohon. (Alex Madji)

Keterangan Foto: Pohon sirsak yang didapat dari pernikahan anak Mulyana W Kusumah (Foto: Alex Madji)