Minggu, 13 November 2011

Komodo Masuk Tujuh Keajaiban Dunia, Benahi Air di Bandara di Labuan Bajo


Kadal raksasa Komodo akhirnya masuk dalam salah satu tujuh keajaiban dunia bersama enam obyek wisata lainnya yaitu Hutan Amazon (Brasil), Pantai Halong Bay (Vietnam), air terjun Iguazu Falls, Jeju Island (Korea Selatan), sungai bawah tanah Puerto Rico, dan Table Mountain (Afrika Utara) yang diumumkan Yayasan New7wonders, pada Jumat, 11 November 2011 sore di Swiss atau Sabtu, 12 November 2012 dini hari WIB.

Kemenangan ini patut disambut gembira. Sebab ada pengakuan resmi dari dunia akan keajaiban binatang dari zaman dinosaurus yang berada di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu. Meskipun tanpa pengakuan itu, Komodo tetap ajaib.

Pengakuan ini diharapkan diikuti oleh makin banyak turis dari dalam dan luar negeri yang mengunjungi Komodo. Pintu masuk ke Komodo adalah Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Tidak ada yang lain.

Tetapi melihat infrastruktur di Labuan Bajo, harapan itu serentak juga menimbulkan sebuah kecemasan. Dikhawatirkan, pemerintah daerah setempat gagap menyambut pengumuman Komodo masuk tujuh keajaiban dunia. Meskipun Bupati Manggarai Barat Agustinus CH Dula mengaku gembira bukan kepalang mendengar Komodo masuk dalan tujuh keajaiban dunia (Kompas, Minggu 13 November 2011).

Mengapa cemas? Infrastruktur dan fasilitas di sana masih minim. Jalan-jalan di ibukota Labuan Bajo masih buruk. Dan, yang paling krusial adalah persoalan air bersih. Pemerintah daerah setempat seakan buta akan persoalan paling mendasar ini.

Bayangkan di tempat-tempat vital seperti Bandara Komodo saja air tidak menetes. Toilet yang ada kosong air. Akibatnya bau pesing menyebar ke mana-mana. Belum lagi jumlah toilet yang sangat-sangat terbatas membuat wisatawan harus mengantri untuk membuang hajat.

Padahal, kalau pemerintah setempat cerdas, masalah ini harus diatasi pertama. Sebab kesan pertama itu akan selalu menentukan padangan orang tentang sesuatu/seseorang secara keseluruhan. Itu kata ilmu psikologi. Dan masalah air ini semakin mendesak ketika jumlah turis ke kota itu terus meningkat menjelang masuknya Komodo dalam tujuh keajaiban dunia. Apalagi setelah dia masuk tujuh keajaiban dunia.

Seperti dikatakan Duta Komodo yang juga mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Jumat 11 November 2011 di Jakarta bahwa kalau Komodo masuk tujuh ke ajaiban dunia maka Manggarai Barat dan NTT umumnya harus siap kebanjiran wisatawan.

Maka kalau masalah air ini tidak segera dibenahi, sepulang dari Komodo turis hanya akan membawa cerita buruk dan ini berdampak buruk bagi seluruh dunia pariwisata Komodo dan Labuan Bajo. Marketing mouth to mouth akan mengancam ketenaran Komodo itu sendiri. Maka, benahi dulu masalah "kecil" ini.

Kalau masalah air saja tidak bisa diatasi, bagaimana bisa mengatasi masalah-masalah lebih besar seperti infrastruktur jalan yang masih berlubang dan berdebu?. Mari kita sambut Komodo masuk tujuh keajaiban dunia dengan berbenah dari hal-hal yang paling kecil seperti air. (Alex Madji)

Jumat, 11 November 2011

Jakob Oetama Itu Katolik


Saya pernah iseng mengetik kalimat ini di Mbah Google, "Jakob Oetama Islam?" Ternyata, pencarian dengan kata-kata serupa sudah mencapai 57.000. Dari jawaban yang diberikan Mbah Google, saya simpulkan bahwa pertanyaan itu sudah hidup bertahun-tahun. Paling tidak sudah satu dekade.

Di Forum Diskusi-Sharing phpBB, misalnya, ada pertanyaan yang diposting pada Senin 20 Februari 2006 pukul 12.23 pm seperti ini, (saya kutip apa adanya) “Apakah benar jakob oetama pimred Kompas pindah ke islam?”

Tiga tahun sebelumnya, tepatnya pada Senin 4 Agustus 2003 pukul 12.16 pm ditulis kalimat ini, “Mohon informasi apakah benar sekarang bapak Jakob Oetama pemimpin redaksi harian Kompas sudah pindah ke agama islam?”

Lalu seolah memberi jawab atas pertanyaan itu, di milis daarut-tauhiid ditulis, (saya kutip apa adanya) “Dari sebuah media Islam "ekstrim kanan" yang saya baca tadi malam diberitakan bahwa Jakob Oetama (Pemimpin Umum Harian Kompas) sudah masuk Islam dengan mengucapkan syahadat dibimbing oleh Nurcholish Madjid. Syukur Alhamdulillah kalau memang benar demikian. Publikasinya memang tidak luas karena ybs merasa rikuh dengan pimpinan Kompas lainnya yang yang mayoritasnya beragama Katolik. Mohon konfirmasi dari rekan-rekan lain yang mungkin lebih tahu. Wass. Wr. Wb.”

Ada lagi artikel yang diambil Mbah Google begini bunyinya, “Jakob Oetama Masuk Islam? Assalamu'alaikum wr. wb. Jumat pekan lalu JURNAL ISLAM kedatangan tamu istimewa dari Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Tentu saja dalam acara silaturahmi itu penuh canda, meski terkadang diselingi pertanyaan apakah memang benar Bos KKG Jakob Oetama telah memeluk agama Islam? Adalah Sukarman dan Haryadi sang "utusan" dengan pasti mengatakan bahwa Pak Jakob telah mengucapkan dua kalimah Syahadat di depan cendekiawan muslim Nurcholish Madjid. "Tapi untuk sementara ini Pak Jakob tidak mau tampil secara terang-terangan ke depan publik bahwa ia telah memeluk agama
Islam, soalnya nggak enak dengan teman-temannya yang Katolik," kata Sukarman
yang lebih dikenal sebagai Ketua Majelis Taklim KKG. Kami senang dengan apa yang diungkapkan Mas Karman, begitu kami menyebut sang "utusan". JURNAL ISLAM juga ditawari bekerja sama dalam bidang-bidang tertentu. Tentu saja tawaran itu dengan sangat menyesal tidak bisa kami penuhi. Biarlah JURNAL ISLAM berjalan dengan bantuan Allah. * end of quote- Sumber: Jurnal Islam, 28 Rajab - 4 Sya'ban 1421 H (27 Oktober – 2 November 2000).”

Masih Katolik
Sepulang misa di Gereja Santa Maria Regina (Sanmare) Bintaro Jaya, Minggu, 6 November 2011, saya membeli Majalah Hidup dengan gambar sampul depan Jakob Oetama yang berulang tahun ke-80 pada 27 September silam.

Saya termasuk cukup sering membaca majalah ini. Maka begitu lewat di depan gerbang gereja, saya membeli satu eksemplar mingguan katolik edisi ke-45 tahun ke-65, 6 November 2011. Seluruh halaman majalah itu saya baca. Hampir semua isinya mengulas tentang pendiri Kelompok Kompas Gramedia (KKG) tersebut yang diambil dari buku "Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama" yang diterbitkan dalam rangka ulang tahun ke-80 Jakob Oetama.

Yang menarik perhatian saya adalah foto setengah halaman pada halaman 10. Jakob Oetama yang mengenakan kemeja abu-abu bergaris tipis dan celana bahan gelap sedang duduk seorang diri di sebuah kursi panjang di sebuah ruangan yang sepi. Tak ada yang lain. Kursi-kursi serupa di belakangnya kosong. Dia tampak membaca secarik kertas. Tangan kanannya memegang secarik kertas itu sementara tangan kirinya sedikit mengangkat lensa kaca matanya. Foto itu saya repro seperti terlihat pada gambar di atas.

Pada caption foto itu tertulis, "Datang awal: Jakob Oetama di Gereja St Perawan Maria Ratu Blok Q, Jakarta Selatan." Tidak ada keterangan kapan foto itu diambil.

Kemudian pada halaman 11, pada box, ada tulisan berjudul "Jakob di Mata Romo Broto" lengkap dengan foto muka Romo F Subroto Widjojo SJ. Di aline ke-5 artikel itu tertulis, "Hampir setiap Minggu Pak Jakob mengikuti Ekaristi di Gereja Blok Q. Beliau tinggal di Lingkungan Lusia, Paroki Blok Q. Sebagai orang Katolik yang rajin ke gereja, pandangannya humanisme Kristiani. Semua orang mempunyai kepentingan bersama, tetapi juga kesukaran bersama. Di Kompas Gramedia dibangun masjid dan tempat untuk persekutuan doa. Penghargaan terhadap manusia sangat tinggi. Beliau menekankan kejujuran dan ketulusan."

Saya tidak perlu dan memang tidak ingin mengulas isi Majalah tersebut. Saya percaya laporan itu memenuhi prinsip-prinsip jurnalistik dengan check and recheck. Jadi, pertanyaan, “Jakob Oetama Islam?” terjawab sudah. Jakob Oetama masih dan tetap akan Katolik. (Alex Madji)

Kamis, 10 November 2011

Menyaksikan Pertarungan Viva Group vs Media dan MNC Group


Pemilik MNC Group Harry Tanoesoedibjo, pada Rabu, 9 November 2011 dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pakar Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Dia bergabung dengan partai baru itu karena ada kesamaan visi. Sementara alasan dia terjun ke politik praktis adalah ingin berkontribusi bagi negara, setelah secara bisnis sudah mapan.

Masuknya Harry Tanoe ke partai politik tidak menggemparkan. Sebab sudah mahfum terjadi di negeri ini bahwa para pengusaha seolah punya keharusan untuk memiliki cantolan politik.

Yang lebih mengejutkan, dan itu yang mau saya sampaikan dalam tulisan ini, adalah pernyataan para politisi partai-partai besar di DPR pasca penetapan Harry Tanoe itu sebagai Ketua Dewan Pakar Nasdem. Mereka tiba-tiba meminta perlu pengaturan penggunaan media untuk kepentingan partai politik.

Pernyataan itu pertama kali disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy. “Perlu pengaturan media untuk kepentingan dan publikasi parpol, baik di dalam maupun di luar masa kampanye, agar media tak kehilangan independensinya, dan agar tak terjadi persaingan tidak sehat ketika pemilik media terlibat aktif ke dalam politik praktis,” ujarnya. (Vivanews.com, Rabu 9 November 2011).

Gagasan itu disambut baik oleh kader Partai Golkar yang juga artis Nurul Arifin. “Pengaturan media itu memang perlu, supaya tidak terjadi ajang kanibalisme dalam ruang dan properti kampanye. Nanti kami bicarakan di Panitia Khusus Pemilu,” kata Nurul.

Menurutnya, poin tentang pengaturan penggunaan media untuk publikasi parpol memang belum tercantum dalam draf revisi UU Pemilu. “Belum ada. Tapi itu bisa diusulkan. Pembahasan kan sangat dinamis, bisa melahirkan usulan-usulan baru,” kata Nurul yang juga anggota Pansus UU Pemilu. (Vivanews.com, 9 November 2011).

Pendapat berbeda disampaikan Wakil Ketua Komisi II DPR yang juga anggota Pansus UU Pemilu dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Ganjar Pranowo. Menurut dia, penggunaan media oleh partai tidak perlu diatur. Sebab itu hanya masalah etika.

Tetapi pendapat berbeda disampaikan rekan Ganjar dari PDI-P yang juga duduk di Komisi II yaitu Arif Wibowo. Menurut dia, pembatasan publikasi partai politik di media massa penting dilakukan agar tidak terjadi persaingan seperti mekanisme pasar bebas. Bahwa siapa yang kuat maka menjadi pemenang. "Nanti bisa saja siapa yang duitnya paling banyak maka jadi paling sering tayang atau paling sering beriklan. Tidak bisa begitu. Itu tidak adil," kata Arif. (Vivanews.com, 9 September 2011).

Perang Media
Pernyataan-pernyataan itu bisa dimengerti. Sebab Nasdem dengan dua tokoh utamanya Surya Paloh dan Harry Taone memiliki kekuatan media yang luar biasa. Surya Paloh, pemilik Media Group, mempunyai Metro TV, Media Indonesia, dan beberapa koran daerah. Sementara Harry Tanoe, pemilik MNC Group, memiliki RCTI, Global TV, MNC TV, SUN TV, beberapa televisi daerah, jaringan radio, Harian Seputar Indonesia, dan beberapa media cetak lainnya.

Selama ini Metro TV sangat gencar mengiklankan Nasdem sebagai organisasi massa dan setelah Partai Nasdem diresmikan, iklan tentang partai itu juga gencar. Beberapa hari terakhir, iklan tentang Partai Nasdem di Global TV juga mulai muncul. Dengan kekuatan media yang dimiliki dua pentolan Partai Nasdem, maka proses pengenalan partai itu ke publik akan berjalan efektif.

Bukan hanya itu, kekuatan media mereka miliki juga menjadi kekuatan yang maha dahsyat untuk mencitraburukkan lawan-lawan politik dan lawan-lawan bisnis mereka dengan berbagai strategi pemberitaan. Sebagai contoh, Metro TV selama ini sangat gencar memberitakan kasus Lumpur Lapindo atau kasus Gayus Halomoan Tambunan karena banyak terkait perusahaan milik Aburizal Bakrie yang adalah Ketua Umum Golkar dan rival politik Surya Paloh.

Maka bisa dipahami, para politisi di atas tadi meminta pembatasan penggunaan media untuk publikasi parpol. Mungkin mereka khawatir Nasdem menjadi besar dan menggerus suara partai mereka. Tentu saja ini kerugian politik bagi partai-partai itu. Tetapi sesungguhnya kekhawatiran itu terlalu berlebihan. Biarkanlah pasar yang menentukan mana partai yang baik pada 2014. Pasar (rakyat pemilih) sudah cerdas, termasuk untuk tidak memilih partai apa pun.

Ketakutan itu berlebih juga karena yang memiliki kekuatan media adalah Partai Golkar. Bukan hanya Nasdem. Secara institusional, Golkar memiliki harian Suara Karya. Sedangkan Ketua Umumnya, Aburizal Bakrie memiliki Viva Group yang terdiri dari TV One, ANTV, dan Vivanews.com. Kekuatan mereka memang tidak seimbang dengan kekuatan Harry Tanoe dan Surya Paloh. Tetapi keunggulan Partai Golkar adalah mesin politik yang sudah matang.

Tinggal mereka bersaing secara sehat saja. Malah lebih baik, kalau media massa yang mereka miliki tidak dibawah ke ranah politik dan menjadi media campaign partai masing-masing. Tetapi sepertinya hal ini sulit dilakukan.

Yang terjadi justru sebaliknya. Kedua kelompok ini, akan saling bertarung menjelang 2014. Ini pertarungan lama antara Surya Paloh versus Aburizal Bakrie sebagai buntut dari perebutan kursi Ketua Umum Partai Golkar di Pekan Baru tahun lalu. Pertarungan itu juga pertarungan media mereka miliki. Hanya saja, Surya Paloh mendapat amunisi baru dengan bergabungnya Harry Tanoe ke Nasdem.

Lalu siapa yang menang? Kita tunggu dan saksikan saja pertarungan mereka yang sebetulnya sudah dimulai. (Alex Madji)

Rabu, 09 November 2011

Sebuah Malam di Sungai Gangga


Selasa, 8 November 2011 senja, saya membaca berita dari kantor berita Associated Press (AP) bahwa 16 orang India tewas karena berdesak-desakan untuk mengikuti upacara suci Agama Hindu di tepi Sungai Gangga. Peristiwa ini terjadi di Kota Haridwar, negara bagian Uttar Pradesh, India Utara.

Tiba-tiba saja pikiran saya terbang ke bagian lain Sungai Gangga. Tepatnya di Kota Patna, juga di negara bagian Uttar Pradesh, India Utara, satu setengah tahun silam.

Akhir Januari hingga 9 Februari 2010 saya berada di India Utara. Mengunjungi tempat-tempat suci Agama Buddha. Mulai dari tempat kelahiran Sidharta Gautama di Lumbini, sebuah kampung di Nepal yang berbatasan dengan India, tempatnya menjadi Buddha di bahwa pohon Body di Bodgaya, tempat berkaryanya di Patna, tempat-tempat persinggahan Buddha di India Utara, hingga ke lokasi wafatnya di Kusinagar.

Ketika itu, saya diundang Kementerian Pariwisata India untuk mengikuti acara Buddhist Conclave di Nelanda, sebuah kampung pedalaman di negara bagian Uttar Pradesh. ‘

Tadinya, saya membayangkan bahwa Buddhist Conclave itu adalah proses pemilihan pimpinan tertinggi Agama Budha seperti pemilihan Paus, pemimpin umat Katolik di Vatikan, Roma. Ternyata meleset. Buddhist Conclave yang dimaksud hanyalah semacam simposium atau seminar tentang Buddhisme.

Mengapa di Nelanda? Karena dua ribu tahun silam sebelum masehi, tempat ini menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahuan Buddhisme. Di sana ada universitas yang luar biasa besarnya bernama Universitas Nelanda. Orang-orang dari seluruh dunia termasuk dari Cina belajar di sana. Kampusnya dilengkapi dengan biara yang maha luas. Jejaknya masih terlihat jelas dari reruntuhan universitas itu.

Buddhist Conclave tidak dilangsungkan di bekas universitas itu, tetapi di luarnya. Tidak terlalu jauh dari tempat yang sudah ditetapkan PBB sebagai warisan dunia dan menjadi objek wisata tersebut. Buddhist Conclave berlangsung di bawah tenda darurat.

Inti Buddhist Conclave adalah bagaimana menjadikan situs-situs suci umat Buddha di India Utara menjadi seperti situs-situs rohaninya umat Kristen di Timur Tengah yang ramai dikunjungi lengkap dengan berbagai fasilitas. Pemerintah India menyadari bahwa fasilitas di situs-situs rohani Buddha sama sekali tidak ada. Bahkan situs-situs rohani itu tidak terjaga dan terurus dengan baik. Kesadaran itulah yang mau dibangun oleh Pemerintah India. Cita-cita lainnya adalah menjadikan India seperti Mekahnya umat Buddha.

Kembali ke Sungai Gangga
Hari itu, Senin 1 Februari 2010. Saya baru tiba dari Bodgaya, tempat Sidharta Gautama menjelma menjadi Buddha setelah melakukan meditasi panjang di bawah pohon Body, menumpang kereta api khusus untuk para pesiarah Buddhist Conclave. Kereta itu disulap bak hotel. Dibikin kamar-kamar. Satu kamar memiliki empat tempat tidur yang disusun. Perjalanan Bodgaya-Patna yang ditempuh satu malam dihabiskan dengan tidur seperti di hotel. Kamar mandi dan toilet kereta pun selalu bersih dan kering. Meskipun bagian luar kereta itu, kotor.

Sesampai di Patna, kami langsung di antar ke hotel. Hanya untuk numpang mandi dan sarapan serta istirahat sejenak. Selepas itu, kami lalu dibawa keliling Kota Patna, tempat di mana Budha memulai karyanya. Di sana banyak situs, tempat-tempat persinggahan Buddha. Siang itu kami makan di restoran.

Sore hari, kami dibawa menyusuri Sungai Gangga. Setelah meliuk-liuk di Kota Padna yang penuh sesak dengan manusia, akhirnya tiba juga dipinggiran Sungai Gangga. Sungai ini bukan hanya suci bagi umat Hindu, tetapi juga bagi umat Buddha. Tuhan Buddha pernah berjalan di atas air sungai yang luas dan lebar ini dengan air yang teduh. Tetapi sebenarnya sungai ini tidak beda dengan Sungai Musi di Palembang atau Sungai Mahakam. Airnya juga seperti itu. Tidak bersih-bersih amat.

Di pinggir sungai, banyak diparkir kapal motor. Begitu rombongan kami datang, bergegas para pengemudi kapal motor itu menawarkan jasanya dengan Bahasa Inggris yang lancar. Tetapi untuk kami sudah disiapkan beberapa perahu motor. Saya bersama dua orang lain dari Indonesia naik satu perahu motor dengan satu orang perempuan dari Vietnam dan beberapa orang dari Thailand. Rata-rata mereka dari kantor travel and tour.

Pemandangan pinggir Sungai Gangga tidak ada yang luar biasa. Hotel-hotel melati bertebaran di pinggir sungai yang bertebing. Satu dua orang tampak mandi di pinggir sungai, senja itu.

Matahari perlahan menghilang di ufuk barat. Perahu kami terus membelah sungai yang tenang. Sementara di pinggir sebelah kanan, api pembakaran mayat berkobar. Wisatawan dilarang mengambil gambar.

Ketika gelap tiba, semua perahu berhenti tepat di depan titik upacara keagamaan umat Hindu di pinggir Sungai Gangga, tidak jauh dari tempat pembakaran mayat tadi. Semua hening. Kecuali bunyi-bunyian alat musik dari tempat doa di pinggir sungai. Kepada para peziarah dibagikan lilin-lilin kecil untuk dinyalakan. Tidak jarang, ada anak-anak kecil yang mendayun sampannya hanya untuk menjual lilin. Sore itu, seorang anak lelaki kecil mendayun sampannya sambil menawarkan lilin dari satu perahu ke perahu lain.

Selesai upacara, para wisatawan pulang, kembali ke titik berangkat. Menyusuri Sungai Gangga dalam kegelapan malam. Ada yang berkelompok, tetapi ada juga yang seorang diri di atas perahu motor. Mendayung dalam sepi.

Lalu tersadar aku dari lamunanku. Itu ternyata pengalaman satu setengah tahun silam. Sementara nyawa ke-16 orang umat Hindu yang tewas karena berdesak-desakan di tepian Sungai Gangga di Haridwar pada Selasa, 8 November 2011 tak terselamatkan. Mereka mengakhiri hidupnya dalam upacara suci di pinggir sungai yang suci pula. (Alex Madji)

Selasa, 08 November 2011

Asyiknya Belajar Mengolah Cokelat



Siapa sih yang enggak suka makan cokelat? Mengonsumsi cokelat bisa menimbulkan rasa senang. Jadi, kalau lagi sedih, makanlah cokelat. Nah, ada lho tempat kursus mengolah cokelat supaya enak dipandang mata dan dirasakan lidah. Yuks diintip.

Rasa dingin langsung menusuk kulit ketika memasuki ruang kursus Chocolate School by Tulip yang berada di kawasan Permata Hijau, Jakarta itu. Yap, ruangan tempat belajar mengolah cokelat itu memang diatur dingin untuk melancarkan proses tempering cokelat. Pada proses pelelehan cokelat, tempering berarti proses penyesuaian suhu.

Akhir bulan Oktober lalu, Chocolate School menggelar media class yang diikuti sekitar 16 orang wartawan. Kesempatan langka ini enggak boleh dilewatkan begitu saja dong. Chef Andy Van Den Broeck dari Chocolate School dengan gesit melakukan proses tempering dengan cara tabling yaitu menuangkan coklat leleh di atas meja marmer. Andy meratakan dan mengaduk coklat dengan spatula.

Andy yang merupakan chocolatier dari Belgia itu mengajarkan membuat cokelat praline. Setelah melelehkan cokelat koin, tempering, Andy mencontohkan menuangkan cokelat leleh ke dalam cetakan praline yang tersedia dalam berbagai bentuk. Setelah Andy memberi contoh, peserta kursus mengikutinya.

Ada dua cetakan praline yang disediakan untuk peserta, yaitu praline berbentuk hati, dan bulat yang kecil-kecil, ada juga cetakan berbentuk boneka.

Eits, jangan dikira mudah lho. Untuk menuangkan cokelat leleh ke dalam cetakan praline membutuhkan konsentrasi, karena cetakan yang agak berat diangkat dengan satu tangan. Belum lagi cetakannya harus dibalik lagi untuk menumpahkan sisa cokelat yang masih cair, untuk diisi ganache.

Sepertinya sih gampang ketika melihat Andy, tapi ketika praktek, lumayan sulit juga. Saya sendiri sempat menjatuhkan cetakan praline ke dalam mesin tempering cokelat. Tentu saja, cetakannya menjadi kotor dengan cokelat leleh yang menempel di bagian bawah cetakan.

Setelah cokelat dituangkan ke dalam cetakan, kemudian dibekukan di frezer selama setengah jam. Sambil menunggu cokelat beku, kami membuat isi praline atau yang disebuh ganache, yang dibuat dari coklat leleh dicampur dengan krim susu. Setelah coklat praline diisi dengan ganache, disimpan lagi ke dalam frezer. Terakhir, praline ditutup dengan coklat leleh di bagian atasnya. Nah, jadi deh coklat praline dengan isi ganache yang akan meleleh di mulut ketika dimakan. Enaaknyaaa…

Tetap Asyik
Meski sulit, belajar membuat praline tetep asyik. Salah satunya, kita bisa colak colek cokelat leleh. Hmmm.. yummy. POkoknya sampai puas deh makan coklat sambil belajar.

Kursus membuat praline bisa didapatkan dari Chocolate School yang menawarkan program kursus satu hari. Dalam satu hari itu, kita bisa mendapat teknik-teknik dasar membuat aplikasi cokelat sederhana. Teknik-teknik sederhana seperti tempering, melelehkan dan mencetak cokelat dengan benar. Dan, chef juga akan mengajarkan membuat ganache untuk mengisi cokelat.

Bila ingin lebih dalam lagi mempelajari praline, Chocolate School menawarkan 2 Days Piped Praline Class. Dijamin deh keluar dari kelas, bisa bikin usaha cokelat praline. Banyak lho hotel-hotel berbintang yang mencari praline dari home industry.

Kepala Sekolah Chocolate School Christina Mumpuni Erawati mengungkapkan sebagian besar pelajar SMA yang mengikuti kursus mengambil program One Day Fall In Love Chocolate Course. Di setiap kelas, Chocolate School membatasi 12 peserta.

“Kami tidak membedakan cara mengajar pelajar SMA dengan peserta lainnya. Kebanyakan pelajar SMA memang memilih yang satu hari, sifatnya praktis. Kami selektif memilih peserta, dan menanyakan apa tujuannya ikut kursus,” ungkap Christina.

Christina mengungkapkan, peserta akan diajarkan mengolah cokelat jenis real chocolate yaitu cokelat yang dibuat dengan menggunakan lemak kakao, sehingga mereka dapat merasakan dan melihat kualitas yang ada dalam real chocolate. Berbeda dengan cokleat compound yang dibuat bukan dari lemak kakao.

Chocolate School juga mempunyai program Three Day Passionate Chocolatier Course. Program kegiatan kursus selama tiga hari itu merupakan kelas yang memberikan dasar-dasar penanganan cokelat yang penting diketahui seorang chocolatier seperti simple praline, simple decoration. Hari pertama dan kedua, peserta mendapatkan ilmu tentang cokelat di dalam kelas. Di hari terakhir, peserta diajak berkunjung ke kebun dan pabrik pengolahan kakao yang dimiliki PT Freyabadi Indotama di Karawang.

Nah, gimana? Tertarik dengan cokelat? Silakan datang ke Chocolate School di Bellezza Shopping Arcade Lt3, Jl. Arteri Soepeno No34, Permata Hijau Jakarta. (Putri Biyan)

Senin, 07 November 2011

Merry Riana, Kisah Sukses Seorang Sales Asuransi


Selesai sudah saya membaca buku "Mimpi Sejuta Dolar Merry Riana" karya Alberhiene Endah. Membaca buku ini layaknya membaca sebuah novel kisah nyata. Enak, mengalir, dan menggugah.

Tokoh utamanya tentu saja Merry Riana dengan setting, Singapura. Buku ini berkisah tentang perjuangan menuju sukses seorang Merry Riana, yang kini menjadi motivator perempuan nomor satu di Asia Tenggara, dari Jakarta hingga Singapura.

Kisah sukses Merry Riana sebenarnya tidak lain adalah kisah sukses seorang sales asuransi atau kalau di Singapura disebut Konsultan Keuangan karena yang mereka jual bukan hanya asuransi tetapi produk-produk keuangan lainnya seperti deposito, kartu kredit dan sebagainya. Yah, dia menekuni usaha ini hingga menghantarnya menggapai 1 juta dolar pada umur yang relatif begitu muda, 26 tahun.

Pekerjaan sebagai sales asuransi kadang-kadang tidak dianggap sebagai pekerjaan elit, terutama di Indonesia. Bahkan, tidak jarang mereka dicibir karena suka mengusik dan mengganggu ketenangan orang.

Tetapi Merry Riana telah menunjukkan dan mebuktikan bahwa pekerjaan itu mulia dan bisa menjadi kaya raya. Pekerjaan itu jauh lebih menggiurkan daripada kerja kantoran yang hanya mengandalkan gaji bulanan yang tidak seberapa dan amat sangat jarang naik. Gaji sales asuransi sangat tergantung komisi. Keberhasilan sales asuransi tidak diraih dengan mudah.

Tidak banyak orang bisa mencapai itu. Dan, Merry Riana adalah satu di dalam sedikit orang sukses itu. Resolusi untuk bebas secara finansial sebelum umur 30 tahun, motivasi yang tinggi, semangat yang menggebu, kerja keras hingga larut malam tanpa kenal lelah, ketajaman pikiran dan hati, serta hubungan yang intim dengan Yang Di Atas menjadi kata-kata kunci kesuksesannya.

Kisah Sukses
Buku ini diawali dengan kisah keberangkatan Merry Riana dari Jakarta ke Singapura pada 1998. Setelah tamat SMA Ursula, dia tadinya hendak kuliah di Universitas Trisakti. Proses pendaftaran sudah dilakukan. Tiba-tiba pecah kerusuhan. Sebagai etnis Tionghoa yang menjadi sasaran amuk massa ketika itu, orang tua Ria, sapaan akrabnya, mengubah haluan demi masa depan putrinya.

Meski ekonomi terbatas, orang tuanya memutuskan untuk melanjutkan kuliah sulung dari tiga bersaudara itu ke luar negeri dan pilihannya Singapura. Ria kuliah di Nanyang Technological University (NTU). Untuk biaya kuliah di situ, Ria dan beberapa WNI yang kuliah di sana mendapat pinjaman dari Development Bank of Singapura yang kalau dirupiahkan sebesar 300 juta.

Uang ini dipakai untuk membayar kuliah hingga lulus, uang asrama, dan uang saku. Ria haris menyiasati uang yang begitu sedikit agar bisa bertahan dan tidak membebani orang tuanya di Jakarta.

Tahun pertama, Ria konsentrasi pada kuliah. Biaya hidupnya hanya dengan 10 dolar per minggu. Untuk itu dia harus makan mi instan yang dibawa dari Jakarta setiap pagi dan malam sedangkan siang dia hanya makan setangkup ruti tawar.

Pada tahun kedua kuliah, pada masa liburan, Ria tidak berlibur ke Jakarta tetapi mencoba mencari uang tambahan dengan menjual brosur dengan gaji 3-5 dolar Singapura per jam. Kemudian dia bekerja di toko bunga. Uang hasil jerih payahnya itu tidak dipakai untuk berfoyah-foyah tetapi ditabung. Uang tabungannya makin banyak ketika dia kerja magang di perusahan terkenal di negeri singa itu dengan gaji 750 dolar per bulan.

Pengalaman susah ini kemudian melahirkan resolusi dalam dirinya. Tepatnya, ketika dia merayakan ulang tahun ke-20, dia membangun resaolusi bahwa dia mau merdeka secara finansial sebelum umur 30 tahun.

Menjelang akhir kuliah di NTU, Merry Riana, sempat terjun ke bisnis Multi Level Marketing (MLM). 200 dolar hilang. Dia juga mencoba main saham. Tapi gagal. Menjelang akhir kuliah, dia bersama pacarnya yang kini menjadi suaminya Alva Tjenderasa, melirik bisnis mencetak skripsi mahasiswa NTU dan pembuatan kaus. Tetapi bisnis ini tidak jadi karena sudah dikuasai pemain besar.

Merry Riana pernah mau menjadi distributor tunggal Tiansi di Singapura. Merry Riana sudah mengkondisikan teman-teman kampusnya untuk menjadi down line-nya untuk bisnis MLM yang marak di Indonesia itu. Tetapi akhirnya, Tiansi gagal masuk Singapura.

Merry Riana dan Alva adalah penyuka buku-buku motivasi sekelas Robert Kiyosaki dan Anthony Robbins. Bahkan, keduanya mengeluarkan dana lebih dari 2.000 dolar untuk mengikuti seminar Robbins di Singapura. Bahkan, Merry Riana berhasil berfoto dengan idolanya itu. Usaha ini tidak mudah. Tetapi tekadnya yang kuat hingga mimpi berfoto bersama Anthony Robbins terwujud.

Setamat kuliah, Merry Riana dan Alva memilih untuk berwirausaha. Mereka tidak mengikuti arus seperti teman-temannya yang bekerja di perusahan dengan gaji 2.500-3.000 dolar per bulan. Keduanya memilih menjadi sales asuransi.

Mereka menghubungi nasabah dari kantor, tetapi sering kali gagal. Lalu mereka pergi ke mal-mal untuk memprospek calon nasabah. Eh malah diusir satpam. Keduanya lalu ke stasiun MRT. Satu dua orang berhasil mendengar penjelasan mereka. Tetapi tidak sampai deal. Mereka lalu mengatur strategi dan siasat untuk menawarkan produk keuangan. Target pun dipasang. Harus wawancara 20 orang per hari. Target itu harus dipenuhi, meski badan lelah. Tak jarang, Ria menangis karena terlalu capek. Saking ngototnya, kadang-kadang target itu baru terpenuhi dini hari.

Dari 20 orang yang diprospek itu, rata-rata lima orang bisa diprospek lebih lanjut. Dan dari lima orang itu, satu orang bisa deal. Sedikit demi sedikit usaha ini mulai menuai hasil. Tahun pertama, Merry Riana berhasil mencapai target, transaksi 100.000 dolar. Tahun kedua, target yang sama tercapai juga. Setelah itu Merry Riana dengan sendirinya menjadi manajer dan berhak merekrut anak buah.

Puncaknya ketika Merry Riana berhasil meraih 1 juta dolar pada umur 26 tahun, lebih cepat empat tahun dari resolusinya ketika merayakan ulang tahun ke-20. Kesuksesan itu menghantarnya terpilih sebagai Presiden Star Club. Inilah yang membawa dia diliput secara luas media massa di Asia Tenggara. Dia kemudian menjadi pembicara seminar di mana-mana dan menjadi motivator ulung.

Buku ini sangat menarik dan harus dibaca oleh siapa pun yang ingin sukses. Tips-tips sukses tidak diurai secara khusus tetapi berada dalam satu tarikan nafas cerita sukses Merry Riana. Ya, sukses Merry Rana, sukses seorag sales Asuransi. (Alex Madji)

Sabtu, 05 November 2011

Ning Li Jajah Eropa dengan Jualan Furnitur Online


Namanya Ning Li. Dia pria keturunan Cina yang "menjajah" Eropa dengan bisnis furnitur onlinenya bernama made.com. Mula-mula usahanya itu dimulai di Prancis, kemudian dia tinggalkan dan berkelana keliling dunia sebelum dimulai lagi di Inggris hingga bertahan sampai saat ini. Dia mendirikan usaha itu ketika berumur 25 tahun. Masih sangat muda. Tetapi pertumbuhan usahanya sungguh mencengangkan.

Ning Li, merantau ke Prancis ketika dia baru berumur 15 tahun untuk melanjutkan sekolah. Tinggal di Prancis sejak usia masih sangat muda membuatnya memiliki dua budaya sekaligus yaitu Cina dan Prancis. Dia mudah mengawinkan dua budaya itu untuk hal yang menguntungkan.

Sebelum memulai usaha sendiri, Ning Li adalah seorang karyawan bank. Tetapi selama bekerja di bank, Ning Li tidak betah. Dia menyimpan sebuah kerinduan mendalam yaitu berwirausaha. Dia bekerja di bank hanya untuk membuktikan bahwa dia bisa melakukan pekerjaan itu.

Meski demikian, bekerja sebagai karyawan bank tetap berguna karena memiliki pengalaman yang lain, walaupun membuatnya tidak bebas. Padahal dia suka kebebasan. Inilah salah satu ciri seorang entrepreneur. Karena itu dia memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai seorang karyawan bank.

“Semakin lama Anda bekerja di bank, makin mahal anda dibayar maka makin sulit anda meninggalkan pekerjaan Anda dan memulai sesuatu yang baru oleh diri anda sendiri,” lanjutnya.

Ning Li tidak mau tinggal dalam kemapanan dan zona nyaman sebagai seorang karyawan bank. Dia lalu mendirikan usaha pertamanya yaitu menjual furnitur secara online. Pilihan usaha ini juga terasa aneh bila menyaksikan kebanyakan orang Cina di perantauan. Mereka lebih banyak memilih usaha restoran.

Tetapi Ning Li mau sesuatu yang lain dan insting bisnisnya mengatakah bahwa jualan furnitur juga pasti laku. Maka usaha pertamanya yaitu toko furniture online diluncurkan kepada para pelanggan di Prancis.

Mengapa jualan furnitur? Dia melihat ada perbedaan harga antara barang-barang manufaktur di Asia dan yang dijual di dunia barat. Inilah peluang bisnis yang dibaca Ning Li. “Bagaimana sofa yang yang seharga 300 dolar di Asia lalu dijual dengan 3.000 euro di Eropa? Gila kan,” katanya.

Yang dia pikirkan, setelah memilih bisnis itu, adalah bagaimana menekan ongkos produksi dan ongkos kirim sehingga harganya bisa ditekan serendah mungkin. Tentu, kualitas tetap sama dengan harga 3.000 euro itu.

Tetapi menjual dan membeli barang-barang seperti itu dengan cara tradisional, menurut Ning Li, sangat tidak ekonomis. Maka dia membuat trobosan dengan menjualnya secara online. Menggunakan internet untuk mendapat pesanan itu sangat membantu sebelum dikapalkan dalam bentuk kontainer. Cara ini dinilainya bisa membantu memotong biaya yang akan berujung pada penekanan harga tadi.

Sungguh keberhasilan toko furnitur online ini sudah terlihat sejak awal. Banyangkan, “Kami mendapat 300 permintaan per hari. Tiga ratus permintaan bagi sebuah bisnis furnitur adalah sesuatu yang sungguh luar biasa,” jelasnya.

Bisnis furnitur online di Prancis itu kemudian berkembang pesat berkat ketekunan, kerja keras dan kepemimpinan Ning Li. Meskipun Ning Li mengaku bahwa dia tidak memiliki pengalaman manajemen. Tetapi dia terus belajar dan menemukan pola kepemimpinan sendiri sehingga bisnis furnitur onlinenya itu sukses.

Di tengah kesuksesan itu, tiba-taba pada pada 2009, Ning Li menjual sahamnya. Dia memilih beristirahat sebentar untuk mengelilingi dunia selama satu tahu. Waktu jeda ini memberinya ruang untuk menarik nafas dan memulai lagi sesuatu yang baru dengan segar.

Dalam perjalanan keliling dunia itu, dia bertemu dengan pengusaha online bernama Brent Hoberman di London. Brent Hoberman mendorong dan mendukung Ning Li untuk memulai kembali jualan furnitur online itu. Tetapi kali ini diperuntukkan bagi pasar Inggris. Itulah usaha kedua Ning Li yang kini bermarkas di Notting Hill Gate, London.

Sekarang perusahan online Ning Li ini bekerja secara langsung dengan para para disainer untuk barang-barang eksklusif di negeri Ratu Elisabet itu.

Industri manufaktur di Inggris dan Eropa mengalami berbagai proses dalam beberapa tahun terakhir. Sangat sulit ditemukan manufaktur bagus yang berbasis di negara-negara barat. Meskipun 20 persen pemasoknya adalah orang Inggris, tetapi mereka pasti membeli furnitur-furnitur itu dari Cina. Selain karena harganya dan biayanya murah, juga karena Cina sudah mengembangkan sebuah ekosistem manufaktur selama lebih dari 30 tahun.

Furnitur-furnitur yang dijual secara online Ning Li pun datang dari tanah leluhurnya itu, terutama dari daerah asalnya yang menjadi sentra produk furnitur terkenal di Cina. "Mereka memiliki segalanya untuk apa yang dicari orang," jelasnya lebih lanjut.

Bagi Ning Li, menempatkan pasar retail furnitur secara online telah membantunya merevolusi apa yang dia sebut industri debu (dusty industry). Sebab sesungguhnya membeli furnitur adalah sesuatu yang konvensional. Tetapi dia mengangkatnya ke dalam dunia maya.

Bisnis furnitur secara online mengandung dua hal penting yaitu risiko dan kecepatan. Sebuah barang bagus yang kita potret lalu dipublish ke publik, tetapi baru kemudian diketahui ternyata barang itu cacat, maka hampir pasti barang itu tidak dilirik. untungnya dalam bisnis online seperti ini, barang-barang cacat seperti itu bisa segera ditarik dan tidak dijual. Sebaliknya bila barang yang dipamerkan itu bagus, pasti akan dicari orang.

“Kita pajang itu di online, kalau itu tidak dijual, kita tarik. Dan kalau kita jual, orang akan berlomba-lomba mendapatkannya,” jelasnya.

Hal penting lain dalam bisnis online adalah masalah kecepatan, terutama dalam era pasar modern seperti sekarang ini. "Internet memberi kita kebebasan untuk meluncurkan produk-produk lebih cepat daripada bisnis tradisional. Kecepatan adalah rajanya. Kecepatan menghasilkan produk baru dan juga membaharaui katalog Anda adalah kunci untuk tetap memelihara daya tarik konsuen dan menjaga mereka agar tetap kembali ke websitenya," ujarnya.

Kisah sukses Ning Li ini bukan tidak diwarnai kegagalan. Bahkan kegagalan, kata Ning adalah bagian integral dari entrepreneurship. Tetapi ada begitu banyak orang yang sukses dan berhasil setelah belajar dari kegagalan-kegalan itu. Mereka menjadi orang yang sungguh yakin bahwa mereka orang palig kuat dan tahan banting.

Tips lain bagi seorang entrepreneur adalah harus mampu menjaga rahasia. Tidak semua hal bisa diceritakan kepada siapa pun, termasuk kepada bawahan. Ada hal yang perlu dijaga. Meski demikian, sharing tetap perlu, tetapi hanya kepada partner bisnis yang sungguh-sungguh cocok dengan anda. Karena itu pilihan partner bisnis yang tepat yang mendorong usaha Anda maju. (BBC/Alex Madji)