Selasa, 23 Agustus 2011

Menimba Nilai-nilai Luhur dari Kampung


Minggu ini, jutaan orang dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mudik alias pulang kampung. Mereka mengundurkan diri sejenak dari hiruk pikuk kehidupan ibu kota Jakarta untuk bertemu dengan keluarganya. Di sana mereka bersama-sama merayakan hari kemenangan, Idul Fitri.

Kampung selalu diasosiasikan dengan kejernihan, kepoloson, kejujuran, kemurnian, keharmonisan, cinta, dan masih banyak lagi. Udara di kampung juga masih bersih, jauh dari polusi seperti ibukota. Orang-orangnya bersahabat, hangat, tidak angkuh, dan sombong.

Sementara Idul Fitri sesungguhnya berarti ‘Kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci‘ sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Lalu secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang muslim selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.

Idul Fitri juga berarti kembali kepada naluri kemanusiaan yang murni, kembali kepada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak Islami.

Kemurnian, ketulusan, kejernihan hati dan budi, serta cinta itulah yang mau ditimba pada saat lebaran/idul fitri di kampung. Apalagi, berdasarkan tradisi di negeri ini, perayaan itu dilakukan bersama dengan orang-orang tercinta. Pada saat itu, ada cinta yang tercurah dan terbagi.

Maka pulang kampung atau mudik bukan sekedar mengalihkan gerak roda perekonomian dari ibu kota ke kampung, tetapi jauh lebih dari itu, yakni menimba nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kepolosan, ketulusan, cinta, solidaritas, keramahan, dan masih banyak nilai lagi yang hidup subur di kampung.

Nilai-nilai itu menjadi oleh-oleh dari kampung. Nilai-nilai “kampung” itu diharapkan bisa memberi warna lain dan membuat kehidupan ibu kota menjadi lebih beradab dan manusiawi dan menggantikan "nilai-nilai Perkotaan" seperti egoisme, ketidakjujuran, kemuskilan, tipu muslihat, dan masih banyak lagi.

Sebab keberadaban dan kemanusiawian kehidupan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pemerintahnya, tetapi juga oleh warganya sendiri. Kalau warga sudah berbuat optimal, termasuk dengan menimba nilai-nilai luhur dari kampung pada saat idul fitri, tinggal kita tunggu apa yang dilakukan oleh pemerintah untuk menciptakan kehidupan kota ini lebih manusia dan beradab.

Maka mari kita beri dan berbagi dengan apa yang bisa kita bagi, termasuk dalam hal nilai-nilai “kampung” tadi. Tidak perlu menunggu. Mulailah sebagai orang yang pertama membaikan nilai-nilai “kampung” tersebut. (Alex Madji)

Senin, 22 Agustus 2011

Ketika Pintu Surga Terbuka


Peristiwa pada Sabtu, 20 Agustus 2011 malam di Cuatro Vientos, Madrid tidak pernah dilupakan rakyat Spanyol. Ketika itu terjadi “mukjizat” yaitu pintu surga seakan terbuka, ketika Paus Benediktus XVI mulai berkotbah pada perayaan Hari Kaum Muda Sedunia 2011.

Sejak awal misa, cuaca buruk mendera. Angin kecang, kilat sambar menyambar, dan hujan lebat mengguyur. Angin kencang menerbangkan skullcap (topi kepausan) Paus Benediktus XVI. Seorang asisten Paus berupaya melindungi Paus dari tiupan angin dengan payung putih yang besar.

Paus yang berambut putih itu juga berupaya mempertahankan teks-teks khotbahnya dari tiupan angin kecang. Sementara kaum muda sedunia berlindung di bawah payung-payung berwarna putih dan kuning. Sementara yang lain menggunakan apa saja yang mereka temukan untuk melindungi diri dari terpaan angin. Regu pemadam kebakaran pun sigap memeriksa struktur panggung apakah kuat terhadap terpaan badai.

Tetapi Paus Benediktus XVI yang berusia 84 tahun itu tidak menghentikan atau menunda perayaan, kata juru bicara Paus Romo Federico Lombadrdi. “Benediktus bergeming, tetap tinggal karena kaum muda juga bertahan. Dia tidak punya keraguan sedikit pun. Badai itu sama seperti kehidupan Kristen yang pada saat tertentu mengalami kesulitan tetapi akan kembali kuat oleh kekuatan iman,” kata Lombardi.

Lalu apa yang terjadi? Surga bagaikan terbuka ketika mantan pembantu dekat Beato Yohanes Paulus II itu berkhotbat dan berbicara masalah perkawainan tradisional. Paus tentu saja membela perkawinan Katolik.

Perihal hujan lebat itu, biarawan dari Jepang yang datang bersama 300 orang kaum muda Jepang yang menghabiskan malam dengan beratapkan langit dan beralaskan tanah mengatakan, “Hujan ini adalah berkat. Dia membuat kita tertawa karena kita tidak kepanasan lagi.”

Angin kecang pada Sabtu, 20 Agustus 2011 itu menghancurkan satu dari 17 tenda yang disiapkan untuk penerimaan komuni dan melukai tujuh orang, termasuk salah satunya mengalami patah tulang lengah. Beruntung semuanya sudah dirawat ke rumah sakit.

Cuaca buruk itu tidak mengurangi semangat kaum muda untuk mengikuti acara penutupan Hari Kaum Muda Sedunia pada Minggu, 21 Agustus 2011. Meskipun sepanjang malam, mereka hanya tidur di alam terbuka.

Kaum muda dari seluruh dunia bersorak kegirangan ketika mantan Angkatan Muda Hitler itu tiba di Madrid Airbase pada Minggu 21 Agustus 2011. Pemimpin 1,2 miliar umat Katolik seluruh dunia ini naik ke atas panggung putih yang dinaungi pohon raksasa yang terbuat dari tangkai kertas warna keemasan. “Saya berharap, Anda bisa tidur nyenyak, meskipun cuacanya tidak mendukung,” kata Paus sebelum merayakan misa penutup menandai berakhirnya enam hari perayaah Hari Kaum Muda Sedunia itu.

Di penghujung misa, Paus asal Jerman itu kemudian mengumumkan kepada kaum muda dari 193 negara yang sebagian besar mengenakan topi warna merah atau kunging dan menggunakan payung berbagai warna-warni untuk melindungi diri dari teriknya matahari, bahwa Hari Kaum Muda Sedunia 2013 akan diselenggarakan di Rio de Jeneiro, Brasil.

Pesan untuk Raja Spanyol
Kemudian, seusai acara itu, Mantan Dekan Ajaran Iman itu memberi pesan khusus kepada Raja Spanyol, Juan Carlos I. “Saya sudah memberikan pesan terakhir kepada kaum beriman. Sekarang saya meminta Anda untuk menyampaikan ke seluruh dunia pengalaman suka cita iman yang Anda alami di sini, sebuah negara yang hebat ini,” kata Paus.

Teolog ulung itu menambahkan, Spanyol yang memudahkan perceraian, mempermudah akses untuk aborsi dan mengijinkan perkawinan gay tetaplah bertahan pada jiwa kekatolikannya. “Spanyol adalah sebuah negara besar yang masyarakatnya sangat terbuka, pluralistis, saling menghormati, sangat mampu untuk maju tanpa menggadaikan jiwa religiusitas dan kekatolikannya,” imbuhnya.

Paus juga menaruh simpatik yang mendalam terhadap rakyat Spanyol yang sedang menghadapi kesulitan termasuk masalah pengangguran yang tinggi. Mereka inilah yang memprotes terlalu besarnya anggaran yang dikeluarkan Pemerintah Spanyol untuk kunjungan Paus ini.

“Saya mau meyakinkan rakyat Spanyol bahwa saya akan tetap mendoakan Anda, khususnya untuk pasangan yang menikah dan keluarga yang anak-anaknya menghadapi berbagai kesulitan, mereka yang sangat membutuhkan, orang tua dan anak-anak, juga mereka yang tidak mendapat pekerjaan,” ujar Paus menanggapi tingkat pengangguran Spanyol saat ini yang berada di atas 20 persen.

Sebelum kembali ke Vatikan, Paus Benediktus XVI menyampaikan ucapan terima kasih khusus kepada 30.000 sukarelawan yang bekerja untuk Hari Kaum Muda Sedunia itu.

Ratusan sukarelawan yang mengenakan kaus hijau bersorak kegirangan ketika mobil kepausan memasuki ruang pertemuan, tempat para sukarelawan berkumpul. Beberapa di antara mereka berdiri dan saling membantu untuk bisa melihat Bapa Suci.

“Pada setiap even yang saya ikuti, Anda ada di sana. Beberapa kelihatan, sementara yang lain di belakang panggung, membantu untuk meyakinkan bahwa segala sesuatunya berjalan sesuai rencana,” ucapnya.

Terimaksih juga Bapa Suci, sampai juga di Rio de Jeneiro pada 2013. (Alex Madji/Berbagai Sumber)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Mengapung di "Laut Mati" Ancol


Salah satu kisah menarik tentang Laut Mati yang terletak di antara wilayah Israel, Palestina, dan Yordania adalah soal mengambang atau terapung di atas air. Yah, di Laut Mati, Anda bisa mengambang tanpa perlu takut tenggelam. Bahkan, Anda bisa tiduran sambil baca buku atau koran di atas air.

Konon, hal itu bisa terjadi karena kadar garam Laut Mati yang terbentuk tiga juta tahun silam itu sangat tinggi, yaitu 32 persen, jauh di atas kadar garam air laut mana pun di dunia yang hanya 3 persen. Hal itu terjadi karena iklim kering meningkatkan konsentrasi mineral di Laut Mati yang terbentuk dari retakan kecil di Jordan Riff Valey sehingga air laut masuk dan terkumpul membentuk danau itu.

Nah, apakah Anda pernah ke sana? Kalau belum, tidak perlu malu. Kita senasib. Saya juga belum pernah dan mungkin tak akan pernah ke sana. Selain jauh, biayanya juga mahal.

Tetapi, kalau hanya sekedar mau mengapung atau tidur di atas air, Anda tidak perlu jauh-jauh ke Laut Mati di Tanah Suci itu. Yang dekat-dekat juga ada. Di Ancol, tepatnya di Gelanggang Samudra, ada satu kolam "Laut Mati". Biayanya murah meriah, apalagi kalau dapat voucer dari tempat kerja Anda.

Beberapa minggu lalu, tepatnya 7 Agustus 2011, kami sekeluarga ke Samudra Atlantis memanfaatkan fasilitas tiket gratis. Di situ ada sejumlah wahana seperti "sungai", luncuran, kolam renang, kolam ombak, plosotan untuk anak-anak, dan kolam untuk mainan anak. Tapi wahana-wahana seperti ini hampir ada di semua tempat rekreasi air. Paling tidak di tempat-tempat wisata air yang pernah saya kunjungi seperti Waterboom Cikarang, The Jungle Bogor, dan BSD.

Yang unik di Samudra Atlantis Ancol itu adalah "Laut Mati". Kolamnya kecil dan tidak dalam. Hanya setinggi pinggang orang dewasa. Letaknya persis di samping kolam renang besar. Dari pintu masuk, anda bisa ambil lintasan kiri atau kanan, pasti sampai di kolam yang terletak kamar mandi itu.

Airnya memang asin luar biasa. Kemungkinan kadar garamnya tinggi sekali. Karena itu tidak dianjurkan untuk menyelam. Seorang penjaga lengkap dengan pengeras suaranya, selalu mengingatkan pengunjung untuk tidak menyelam. Sebab, kolam itu hanya untuk mengapung.

Anda yang tidak bisa berenang, seperti saya, pun bisa mengapung. Tetapi Anda tidak diperkenankan mengampung sambil mengenakan baju, kecuali perempaun. Setelah bosan mengapung, Anda bisa keluar dari situ dan, sebelumnya, bilas pada dua shower yang ada di pintu masuk.

Enaknya lagi, Anda tidak dilarang bawa makanan dan minuman sendiri ke dalam Samudra Atlantis. Meskipun, di dalam Anda bisa beli makanan dan minuman. Tetapi lebih murah kalau bawa makanan dari luar atau dari rumah Anda.

Jadi, ngapain jauh-jauh ke Laut Mati kalau hanya sekedar merasakan mengapung dan mengambang di atas laut? Ke Samudra Atlantis saja. Murah meriah. (Alex Madji)

Jumat, 19 Agustus 2011

Benediktus XVI Disambut Ratusan Ribu Kaum Muda di Spanyol


Ratusan ribu kaum muda dari seluruh dunia menyambut Paus Benediktus XVI pada upacara penyambutan pemimpin umat Katolik sedunia itu Kamis, 18 Agustus 2011, sesaat setelah tiba di Madrid untuk mengikuti perayaan Hari Kaum Muda Sedunia yang berlangsung hingga Minggu, 21 Agustus 2011 di Madrid.

Tetapi sayang, perayaan penyambutan itu sedikit ternoda. Pasalnya, di tempat yang sama mobil anti huru hara kepolisian Spanyol dipasang untuk memisahkan pemerotes anti Paus yang jumlahnya hanya 150 orang yang sudah berkumpul di lapangan Puerta del Sol tempat perayaan itu berlangsung dengan massa penyambut Paus.

Sebelumnya, di tempat yang sama terjadi bentrokan antara polisi setempat dan pengunjuk rasa yang memprotes terlalu besarnya anggaran kunjungan enam hari Paus Benediktus XVI ke Spanyol dalam rangka perayaan Hari Kaum Muda Sedunia. Apalagi anggaran yang besar itu dikeluarkan pada saat kondisi ekonomi Spanyol (dan Eropa umumnya) melesu.

Polisi setempat juga memisahkan dengan baik-baik para gay dan lesbian yang berupaya mengadakan aksi ciuman massal di sepanjang jalan yang dilalui Paus Benediktus XVI. Mereka mau memprotes dan menggugat kebijakan Gereja yang begitu ketat dan kaku terhadap kelompok ini.

Disambut Meriah
Mengenakan jubah putih dengan stola berwarna keemasan yang melingkar di lehernya dan skullcap putih di kepalanya, Paus Benediktus XVI berdiri di atas panggung putih yang megah di Lapangan Plaza Cibeles di Madrid.

Paus berusia 84 tahun itu dilindungi sebuah payung putih raksasa untuk menghindari silauan dan panasnya mentari musim panas serta didinginkan oleh pendingin udara dari atas panggung raksa putih yang menampakkan gambar Santa Perawan Maria dan Yesus Kristus berukuran besar.

Sementara lautan manusia membentang di depannya, mengenakan kaus kuning dan topi memenuhi seluruh lapangan pada perayaan sore itu. Kaum muda Katolik dari lima benua (Asia, Australia, Afrika, Amerika, dan Eropa) menyalaminya. Kaum muda itu juga memberinya hadiah yang khas dan unik dari masing-masing benua. Utusan dari lima benua naik ke atas panggung dan memberinya mulai dari roti dan garam yang diberikan seorang perempuan Polandia sampai bunga pulau-pulau pasifik dari seorang pemuda Australia.

Pemimpin 1,2 miliar umat Katolik sedunia itu tiba di Madrid pada Kamis, 18 Agustus 2011 pagi pagi untuk memimpin perayaan hari Kaum Muda Sedunia yang berlangsung hingga Minggu, 21 Agustus 211 mendatang. Acara itu diikuti oleh perwakilan dari 193 negara.

Serahkan Kunci
Sebelumnya, Paus Benediktus menyerahkan kunci kota kepada Walikota Madrid, Alberto Ruiz Gallardon. Kemudian dia berjalan ke Lapangan Puerta de Alcala, salah satu dari lima pintu gerbang bersejarah Kota Madrid. Mantan pembantu dekat Beato Yohanes Paulus II itu didampingi oleh 50 kaum muda yang mewakili lima benua, 10 orang masing-masing benua.

Paus juga dihadiahi pohon Zaitun dan dikenakan pakaian bak seorang jagoan penunggang kuda oleh para pembalap tradisional Spanyol, sebelum melanjutkan perjalanan dengan mobil Kepausan ke Plaza Cibeles untuk perayaan penyambutan selamat datang.

Dalam sambutannya, Sri Paus meminta kaum muda Katolik untuk tetap mengikui ide-ide modern. “Kepada semua mereka yang ingin mengikuti ide-ide modern, mereka berkemah di sini dan sekarang, melupakan keadilan sesungguhnya atau tetap tinggal pada pendapat mereka meskipun tetapi mencari kebenaran sederhana,” ujarnya.

Sebelumnya, Paus Benediktus XVI disambut Raja Juan Carlos I dan Ratu Sofia di Bandar Udara Madrid pada Kamis (18/9) siang. Kemudian dia diarak dengan mobil Kepausan di sepanjang jalan Madrid. Ratusan ribu orang mengelu-elukannya sambil melemparkan bunga dan balon ke arah mobil Kepausan sambil berteriak, “Semoga Paus Umur Panjang”, “Benediktus, Benediktus”, “Ini adalah kaum muda Paus”. (Dari berbagai sumber/Alex Madji)

Kamis, 18 Agustus 2011

Ketika Sekat Geografis Luluh


Iman sungguh menyatukan. Paling tidak itu yang diperlihatkan kaum muda Katolik dari Israel dan Palestina yang mengikuti perayaan hari kaum muda sedunia di Spanyol yang juga dihadiri oleh Paus Benediktus XVI mulai Kamis, 18 Agustus-Minggu, 21 Agustus 2011.

Lebih dari 160 orang dari Israel dan Palestina datang ke Spanyol untuk mengambil bagian pada acara tersebut. Meskipun untuk sampai Spanyol, mereka menempuh cara yang berbeda-berbeda.

Ala Sayej, seorang warga Palestina dari Ramallah, Tepi Barat, mengaku perayaan hari Kaum Muda Sedunia ini memberinya kesempatan yang sangat jarang untuk bertemu dengan penganut Katolik lainnya dari Palestina. Di negaranya, pos-pos pemeriksaan tentara Israel serta pembatasan bepergian menyulitkannya bertemu dengan sesama Katolik dari Gaza, wilayah Palestina. Apalagi untuk bertemu sesama penganut Katolik di Israel. Sulitnya bukan kepalang.

“Tetapi kami semua berteman sekarang. Sebagian besar orang Israel sudah saya tambahkan sebagai teman pada Facebook. Kalau saya mendapat ijin untuk pergi ke Israel kami akan berkumpul kembali,” kata Sayej saat ditemui di Gereja di Madrid Selatan di mana mereka merebahkan diri di lantai di atas kasur.

Orang Kristen yang tinggal di Tanah Suci, tempat Yesus Kristus hidup dan wafat adalah kelompok minoritas. Sudah begitu, mereka juga terisolasi satu sama lain oleh pos-pos pemeriksaan tentara Israel dan pembatasan bepergian terhadap warga Palestina oleh negara Yahudi itu.

Tetapi dalam keterpisahan seperti itu, akhirnya mereka bisa bertemu dan bersatu dalam perayaan hari Kamu Muda Sedunia yang tahun ini diselenggarakan di Spanyol. Kaum muda Katolik Israel, berangkat ke Spanyol relatif lebih mudah. Mereka terbang dari Tel Aviv. Sementara kaum muda Katolik dari Palestina relatif lebih sulit. Mereka harus melewati jalan darat dari Palestina ke Amman, Yordania terlebih dahulu, sebelum terbang ke Spanyol.

Tetapi baik kaum muda Israel maupun Palestina bertemu dan gergabung dalam satu kelompok pada 10 Agustus di Valencia, Spanyol Timur. Di sini mereka tinggal selama lima hari sebelum bersama-sama berangkat ke Madrid, ibukota Spanyol.

“Sangat sulit bagi kami di Tepi Barat untuk pergi ke Israel. Anda harus mendapat ijin dan melewati pos-pos pemeriksaan. Ini harga yang harus kam bayar sebagai warga Palestina. Kami berada dalam penjara besar,” kata Romo Jack Nobel Abed (53) dari Gereja Malecite di Desa Taybeh, wilayah Palestina di Tepi Barat.

Sementara Terez Moalem (22 tahun) dari Haifa, Kota ketiga terbesar Israel mengatakan, awalnya, ketika dilebur menjadi satu grup, masing-masing mereka masih canggung dan hati-hati sekali. Tetapi perlahan-lahan pembatas-pembatas itu luluh. “Saya bahagia sekali ada di sini dan menjadi bagian dari kelompok ini dan bertemu orang-orang baru,” ucapnya.

Mereka bersama kaum muda Katolik dari negara-negara Timur Tengah lainnya, pada Rabu, 17 Agustus 2011 mengikuti perayaan ekaristi berbahasa Arab di Madrid. Pada perayaan itu, mereka mengibarkan bendera negara mereka masing-masing. Ada bendera Yordania, Libanon, Irak dan bendera-bendera negara lainnya dari kawasan itu.

Mereka rencananya akan mengikuti perayaan penyambutan Paus Benediktus XVI, pemimpin lebih dari 1 miliar umat Katolik sedunia di Lapangan Cibeles Madrid, pada Kamis, 18 Agustus 2011 waktu setempat. Kemudian mereka ikut misa akbar dalam alam terbuka pada Minggu, 21 Agustus 2011 pagi di Madrid.

Untuk menjadi pengetahuan Anda, jumlah orang Kristen di Israel sekitar 154.000 atau sekitar 2 persen dari 7,4 juta jumlah penduduk negeri itu yang mayoritas Yahudi. Sementara di Palestina, jumlah orang Kristen sekitar 50.000 orang. Mereka hidup di antara 3,9 juta warga Muslim negara yang masih dijajah Israel itu. Sebagian besar dari Orang Kristen Palestina tinggal di Tepi Barat terutama di Bethlehem dan Yerusalem Timur. Sekitar 3.000 orang tinggal di Jalur Gaza.

Yah, status penjajah dan dijajah serta konflik berkepanjangan yang seakan tak berujung antara Israel dan Palestina tidak membuat kaum muda Katolik dua negara itu juga tetap membawa bara api kemana pun mereka pergi. Pada perayaan hari Kaum Muda Sedunia di Spanyol tahun ini, bara api, dendam, dan kemarahan di antara mereka ditinggalkan dan melebur menjadi satu, sama-sama menjadi anak-anak Allah.

Bahkan menurut Pastor Johnny Abu Khalil (41) dari Gereja St Yustinus di Nablus, pertemuan di Spanyol ini adalah titik awal bagi umat Katolik Israel dan Palestina untuk terus membangun komunikasi yang baik ke depan. “Apa yang kami mulai di sini tidak akan berakhir. Kami berharap kami bisa melanjutkannya. Akan lebih mudah bagi mereka di Israel untuk mengunjungi kami di Palestina, daripada kami ke sana. Kami akan mepersiapkan diri untuk menerima mereka,” ujarnya. (Alex Madji)


Merdeka!


Hari ini, 17 Agustus 2011 adalah hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66. Pekik kemerdekaan dengan nada lantang dan sayup-sayup terdengar di mana-mana.

Tetapi apakah kita sungguh merdeka? Merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang, iya. Itu terjadi 66 tahun silam ketika proklamator Soekarno dan Mohammad Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sementara merdeka dalam arti bebas dari segala belenggu yang mencekik, belum.

Simaklah kesaksian beberapa orang berikut ini. Ibu Maria, seorang ibu rumah tangga di Tangerang Selatan, merasa belum merdeka. Sebab, harga-harga kebutuhan pokok masih melonjak tajam. Ini saja sudah mencekik leher.

Ibu yang juga karyawati di sebuah perusahan swaswa ini mengaku belum merdeka karena masih "dijajah" atasannya di kantor. "Saya merdeka kalau sudah bisa bebas dari tekanan kantor dan mendirikan usaha sendiri," ucapnya.

Seorang jurnalis dari Kalimantan Barat lain lagi. Dalam nada puitis, pada sebuah mailing list mengatakan bahwa merdeka hanya bagi mereka yang belagu dan begundal. Karena mereka sudah membajak kemerdekaan bangsa ini hanya untuk kepentingan mereka dan kelompok serta golongannya, lantas menjajah rakyat jelata. Mereka merdeka karena bebas menghisap darah rakyat hingga sengsara.

Jurnalis lainnya, pada mailing list yang sama, juga dengan nada puitis ala sastrawan menulis, "Merah kita belum cukup berani untuk mengatakan tidak pada korupsi. Putih kita belum cukup suci untuk berbagi."

Maklum, korupsi pada masa kemerdekaan ini masih saja meraja lela dengan modus dan cara yang makin mutakhir dari hari ke hari. Pencurian uang rakyat oleh para elit makin marak. Sementara rakyat jelata terus tercekik akibat tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya.

Nani, pembantu rumah tangga, juga mengaku belum merdeka. Pasalnya, undang-undang tentang pembantu rumah tangga saja belum ada. Kalaupun rancangannya ada, tidak menjadi prioritas mereka yang menyebut diri wakil rakyat.

Yah, makna merdeka para elite berbeda dengan rakyat kecil. Rakyat kecil merasa berjuang hidup sendiri. Bepeluh keringat mereka bekerja dan tekun membayar pajak untuk negara. Sementara para elite berpesta pora mengeruk uang rakyat dengan laku korupsi. Bahkan rakyat dibawa-bawa untuk mencuri uang rakyat biar pencurian itu "legitimate".

Kini saatnya para elite berhenti mencuri uang rakyat dan memanfaatkan pajak rakyat untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan. Hanya dengan itu mereka boleh dengan lantang memekikkan merdeka! Kalau tidak, jangan kita bilang sudah merdeka. (Alex Madji)

Jumat, 12 Agustus 2011

Daniel Barenboim, Calon Peraih Nobel Perdamaian


Kantor Berita AFP, Kamis 11 Agustus 2011 memberitakan bahwa Konduktor kelahiran Argentina, Daniel Barenboim dinominasi meraih penghargaan prestisius, Nobel Perdamaian atas jasanya menggunakan musik untuk mempromosikan perdamaian di Timur Tengah.

Pengumuman secara resminya akan dilakukan pada 17 Agustus pekan depan di Academia Argentina de Letras di Buenos Aires. Sebanyak 2.500 orang di Argentina sudah menyatakan dukungannya atas nominasi yang diberikan kepada pria berusia 69 tahun itu.

Mantan Presiden Urugay Julio Maria Sanguinetti dan penulis Juan Jose Sebreli juga masuk dalam daftar nama yang dinominasi untuk mendapat penghargaan paling prestisius di mua bumi ini tersebut.

Nah, mana tahu nanti Daniel Barenboim terpilih sebagai peraih Nobel Perdamaian tahun ini, yang biasanya diumumkan pada 10 Desember bertepatan dengan peringatan hari HAM sedunia, saya tuliskan untuk Anda sekelumit tentang Daniel Barenboim ini. Sekedar untuk mengetahui sedikit tentang tokoh ini.

Keturunan Yahudi

Daniel Barenboim lahir di Buenos Aires tahun 1942. Orang tuanya adalah keturuan Yahudi Rusia. Dia belajar piano sejak umur lima tahun pada ibunya, kemudian dilanjutkan belajar pada ayahnya.

Daniel memang anak jenius. Bayangkan! Pada Agustus 1950, ketika baru berumur 8 tahun, dia sudah menggelar konser resmi pertama di Buenos Aires. Musisi-musisi penting sungguh mempengaruhinya seperti Rubinstein dan Adolf Busch yang pernah konser di Argentina.

Keluarga Barenboim kemudian pindah ke Israel pada 1952. Dua tahun kemudian pada musim panas 1954, orang tuanya membawa anak jenius ini ke Salzburg, Austria, untuk mengambil kelas dirigen/konduktor pada Igor Markevich. Pada saat itu dia juga bertemu dengan Wilhelm Furtwangler, bermain bersamanya dan mengikuti konser-konser kondukter hebat dunia.

Furtwangler kemudian menulis sebuah surat yang mengungkapkan kehebatan bocah ini. Dia menuliskan, “Anak berumur 11 tahun bernama Barenboim adalah sebuah fenomena.” Kalimat ini kemudian membuka begitu banyak pintu bagi Daniel Barenboim dalam seluruh kariernya di kemudian hari.

Pada 1955, Daniel Barenboim muda belajar harmoni dan komposisi pada Nadia Boulanger di Paris, Prancis. Tetapi mulai 1952, Barenbom sudah melakukan debut sebagai pianis di Wina dan Roma. Lalu pada 1955 dia tampil di Paris, London (1956), dan New York pada 1957 bersama Leopold Stokowski dan Symphony of the Air. Sejak itu dia melakukan tur konser tahunan ke Amerika Serikat dan Eropa. Kemudian pada 1958, dia tur ke Australia dan segera setelah itu dia menjadi terkenal sebagai salah satu pianis hebat pada generasinya.

Pada saat bersamaan dia masuk dapur rekaman pertama pada 1954 yang kemudian disusul dengan berbagai rekaman penting untuk karya reportoir pianonya, termasuk sonata piano Mozart dan Beethoven dan concerto Mozart, Beethoven (bersama Otto Klempere), Brahms (bersama John Barbirolli) dan Bartok (bersama Pierre Boulez).

Kemudian Barenboim mulai lebih konsentrasi pada dunia konduktor. Dia mulai begitu dekat dengan English Chamber Orchestra sejak 1965 hingga berdekade-dekade kemudian. Dia lalu tampil secara rutin di Inggris baik sebagai konduktor maupun solo piano.

Pria 69 tahun ini juga berkeliling dunia mengadakan konser seperti ke Eropa, AS, Jepang, Australia dan Selandia Baru. Dia pernah mempimpin orkestra-orkestra terkenal di AS dan Eropa seperti The New Philharmonia Orchestra di London.

Sejak 1975-1989 Barenboim menjadi Direktur Musik Orchestre de Paris. Di sini dia lebih konsen pada musim-musik kontemporer termasuk kareya-karya Lutoslawski, Berio Boulez, Henze, Dutilleux, Takemitsu dan yang lainnya.

Lalu, bersama temannya, seorang intelektual Palestina Edward Said, Barenboim mengumpulkan pemuda-pemuda Arab, Israel dan Iran untuk membentuk sebuah orkestra pada 1999 dengan nama The West-Eastern Divan Orchestra. Orkestra ini keliling dunia untuk menggelar konser. Karya inilah yang membuat Barenboim dinominasi mendapatkan Penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini.

“Musik tidak bisa mencegah konflik, tetapi musik memiliki kemampuan menarik minat orang dan menggeluti hal yang sama,” kata Barenhoim Selasa, 9 Agustus 2011 sebelum konser di Korea Selatan.

Raih Berbagai Penghargaan

Selain karya-karya di atas, masih sangat banyak karya monumental Barenboim selama karier musiknya. Dia pun sudah banyak mendapat penghargaan. Sekedar contoh saja: pada 2002, Daniel Barenboim dan Edward Said mendapatkan penghargaan paling prestisius yaitu Prince Asturias Concord Prize atas karya mereka mendirikan The West-Easter Divan Orchestra.

Barenboim juga dianugerahi sebagai warga negara kehormatan Spanyol. Pada tahun yang sama dia juga diberi penghargaan Tolerance Prize oleh Akademi Protestan Tutzing, Jerman atas upayanya menciptakan persaudaraan dan perdamaian Israel-Palestina. Dia juga memegang paspor Palestina.

Lalu pada 2007, dia mendapat Goethe Medal dari Goethe Institute dan mendapat gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang musik dari Universitas Oxford. Dia juga digelari Commandeur de la legion d’honneur oleh Presiden Prancis, ketika itu, Jacques Chirac dan mendapat penghargaan Preaemium Imperiale di Jepang.

Barenhoim juga dikenal sebagai penulis buku. Buku-bukunya antara lain A Life in Music dan Everyting is Connected. Dia juga ikut menulis buku Parallels and Paradoxes: Explorations in Music and Society. Buku ini adalah seri percakapan antara Daniel Barenboim dengan Edward Said. Dia juga ikut munulis buku Dialoghi su musica e teatro: Tristano e Isotta bersama Patrice Chereau. Buku ini mengisahkan panjang lebar hubungan antara direktur dan konduktor dalam produksi opera Tristan und Isolde.

Penghargaan Nobel Perdamaian, kalau dia yang memenangkan, akan menjadi mahkota atas seluruh penghargaan yang sudah dia terima selama ini. Dan, Barenhoim akan menambah daftar penerima Nobel Perdamaian dari Argentina. Hingga saat ini, sudah lima orang Argentina meraih Nobel Perdamaian. (Dari berbagai sumber/Alex Madji)