Kamis, 11 Agustus 2011

Menunggu Keberanian KPK dan Kelegowoan SBY


Mantan Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin sudah berhasil ditangkap polisi Kolombia di Cartagena, sebuah kota pinggir pantai dan destinasi wisata utama negara itu. Tim dari Indonesia pun sudah terbang ke negara tersebut untuk menjemput orang yang bikin para petinggi Partai Demokrat itu merah telinga dan cenat cenut.

Cepat atau lambat, Nazaruddin akan tiba di Indonesia. Kehadiran Nazaruddin menjadi tantangan bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

KPK sudah menetapkan Nazaruddin sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Palembang. Terakit kasus ini, dari persembunyiannya, dia mengobrak abrik Partai Demokrat dan menyebut sejumlah nama petinggi partai tersebut.

Dia menyebut, Ketua Umum Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Angelina Sondakh, dan sejumlah nama lain lagi terlibat dalam kasus ini. Menurut Nazaruddin, merekalah yang sesungguhnya menerima “dana bagi hasil” pembangunan wisma atlet itu. Bahkan, dana dari proyek itu antara lain dipakai untuk pemenangan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Dia juga menuduh sejumlah pimpinan KPK korup. Dia menyebut nama Chandra M Hamzah dan Ade Rahardja.

Diharapkan, nyanyian Nazaruddin selama di pelariannya itu diulangi dengan nada yang sama saat diperiksa di KPK. Di sinilah tantangannya. Diharapkan KPK berani menelusuri dan memanggil serta memeriksa semua saja yang disebut Nazaruddin dalam pemeriksaan terkait dugaan korupsi. Jangan hanya “menghabisi” Nazaruddin yang sudah dipecat dari Partai Demokrat. Dia tidak punya perlindungan politik lagi. Dia tinggal seorang diri.

Kasus Nazaruddin ini sekaligus bisa dimanfaatkan KPK untuk menunjukkan kredibilitasnya dalam mengikis korupsi di negeri ini. KPK harus berani menangkap siapa pun yang disebut Nazaruddin. Meskipun mereka berasal dari partai penguasa.

Sehubungan dengan itu, kedatangan Nazaruddin juga menjadi tantangan bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Komitmen pemberantasan korupsi SBY diuji dalam kasus ini. Apakah dia berani dan legowo para petinggi partainya seperti Anas Urbaningrum diperiksa KPK dan bila terbukti bersalah diseret ke pengadilan dan di jebeloskan ke penjara.

SBY begitu marah dan geram terhadap nyanyian Nazaruddin selama persembunyiannya. Dia dengan nada memelas minta Nazaruddin supaya segera pulang supaya semuanya jelas.

Sebentar lagi Nazaruddin pulang ke Indonesia Pak SBY. Sebagai kepala negara, seyogyanya dia membuktikan omongannya itu. Dia harus membiarkan KPK betul-betul independen untuk memanggil semua nama yang pernah disebut Nazaruddin. SBY harus legowo kalau para petinggi partainya ditangkap dan diseret KPK ke pengadilan.

Hanya dengan sikap seperti itu, orang betul-betul percaya bahwa SBY memang mau serius berantas korupsi di negeri ini. Sikap tersebut juga akan menegasi tuduhan sejumlah pihak bahwa penegakan hukum di negeri ini selama kepemimpinan SBY selalu tebang pilih. Tajam untuk musuh politik tapi tumpul untuk kalangan sendiri.

Maka ini momentum yang tepat untuk mewujudkan komitmen memberantas korupsi. Karena itu , mari kita tunggu pembuktian baik oleh KPK maupun oleh SBY dalam pemberantasan korupsi di negeri ini. (Alex Madji)

Selasa, 09 Agustus 2011

Yuk, Kita ke Cartagena


Kota Cartagena di Kolombia tiba-tiba akrab di telinga publik Indonesia pada dua hari terakhir, sejak mantan Bendahara Partai Demokrat yang dinyatakan buron M Nazaruddin ditangkap di kota itu oleh Interpol.

Cartagena adalah sebuah kota bibir pantai Kolombia yang terletak di Selat Cartagena, Karibia dan menjadi destinasi wisata yang sangat popular di kawasan tersebut. Ini adalah kota kelima terbesar di Kolombia. Kota ini juga menjadi pusat aktivitas ekonomi di Karibia dan Kolombia.

Kota ini memiliki sejarah panjang. Aktivitas di kota ini sudah ada sejak tahun 4.000 sebelum masehi. Kemudian ditemukan kembali oleh penjajah Spanyol pada 1 Juni 1533 dan diberi nama Cartagena Spanyol. Kota ini memiliki berbagai budaya masyarakat asli.

Ketika imperialis Spanyol menguasai dan membangun Amerika Latin, kota ini memainkan peranan kunci. Dia menjadi pusat aktivitas ekonomi dan politik. Pada 1984, kawasan kota tua Cartagena dinyatakan sebagai UNESCO World Heritage Site (Situs warisan dunia yang dilindungi badan PBB UNESCO). Hingga saat ini, menurut sensus 2005, penduduk di kota itu mencapai 892.545 orang.

Bagian barat Cartagena menghadap ke Laut Karibia sedangkan bagian selatan berbatasan dengan Selat Cartagena yang memiliki dua pintu masuk yaitu Bocachica (mulut kecil) di bagian selatan dan Bocagrande (mulut besar) di sebelah utara.

Cartagena adalah daerah tropis yang memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim panas. Musim hujan berlangsung pada April-Mei dan Oktober-November. Cuacanya panas dan berangin, terutama pada bulan November sampai Februari dan pada bulan-bulan ini suhunya menjadi lebih dingin.

Kota yang juga disebut Cartagena de Indias ini jarang diterjang badai seperti yang lazim terjadi di kota-kota Karibia lainnya seperti Havana, Santo Domingo, Kingston atau San Juan.

Sebagai destinasi wisata utama di kawasan Karibia, kota ini memiliki Bandar Udara Internasinal Rafael Nunez yang terletak di Zona Norte dekat Crespo. Jaraknya hanya 10 menit berkendara dari kota tua Cartagena atau 15 menit dari kawasan kota yang lebih modern.

Wisata Kota Tua

Salah satu objek wisata Cartagena adalah wisata kota tua. Di sini wisatawan diajak melihat dan menyaksikan peradaban abad pertengahan dalam bentuk berbagai gaya arsitektur bangunan. Umumnya, arsitektur di kawasan itu adalah gaya kolonial Spanyol. Tetapi tampak juga gedung-gedung dengan gaya Italia dan republikan seperti bisa dilihat pada tower lonceng Katedral setempat.

Pintu utama ke kawasan kota tua Puerta de Reloj (gerbang jam) masuk dari Plaza de los Coches. Beberapa langkah dari situ ada Plaza de la Aduana yang terletak di depan kantor Walikota. Di dekat situ ada San Pedro Claver Square, Gereja San Pedro, dan Museum Seni Modern.

Bangunan lainnya yang patut dilihat adalah Gereja Santo Domingo di depan Plaza Santo Domingo. Selain itu, ada juga biara para biarawan Santo Agustinus dan Universitas Cartagena (St Agustinus adalah Uskup yang berasal dari Kartago Afrika). Universitas ini (tadinya untuk pendidikan para biarawan Agustinian) kemudian dibuka untuk umum pada akhir abad ke-19. Ada juga gedung Claustro de Santa Teresa yang sudah dipugar dan diubah fungsinya menjadi hotel yang dikelola Hotel Charlston. Hotel ini memiliki lapangan yang dilindungi oleh San Franscesco Bastian.

Di luar kota tua, sekitar 20 menit perjalanan, terdapat Castillo de San Felipe de Barajas yang terletak di el Pie dela Popa. Ini adalah kastil terbesar yang dibangun Spanyol ketika mereka menjajah wilayah ini. Aslinya, kastil ini dibangun antara tahun 1639-1657 di atas puncak Bukit San Lorenzo. Tetapi pada 1762, terjadi perluasan bangunan hingga kondisinya seperti sekarang ini. Berkali-kali kastil ini coba diserbu, tetapi tidak bisa tembus karena bangunannya yang begitu kokoh.

Sebagai destinasi wisata, Cartagena de Indias tentu bukan hanya wisawat kota tua. Tetapi masih ada begitu banyak objek wisata. Dan, sebagai destinasi wisata utama, kota ini memiliki begitu banyak hotel berbintang dengan berbagai fasilitas kelas dunia dan hiburan khas Karibia dan Amerika Latin dengan gadis-gadis cantik nan adu hai. Itu sebabnya kota itu juga menjadi tujuan kapal-kapal pesiar dunia.

Di kota indah bibir pantai itulah Nazaruddin bersembunyi sebelum akhirnya dibekuk petugas. Pelarian Nazaruddin pun berakhir di Cartagena de Indias. Mau lihat? Datang saja ke Cartagena de Indias. (Alex Madji/Berbagai Sumber)


Senin, 08 Agustus 2011

Marzuki Alie dan Survei LSI


Ketua DPR Marzuki Alie belum lama ini kembali membuat pernyataan menghebohkan publik. Dia meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibubarkan saja, kalau tidak bisa memberantas korupsi di republik ini. Dia pun menyerukan perdamaian nasional seraya mengundang para koruptor kembali ke Indonesia berikut seluruh kekayaan dan aset-asetnya.

Pernyataan ini kemudian menjadi berita utama di berbagai media massa dan diulas selama beberapa hari. Para pengamat pun menuduh Marzuki Alie berkomplot dengan para koruptor. Sebab, ketika publik masih membutuhkan KPK untuk memberantas korupsi dia, sebagai Ketua DPR, justru membuat pernyataan kontradiktif.

Hanya rekan-rekannya dari Partai Demokrat yang membela mantan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat tersebut. Menurut mereka, pernyataan Marzuki Alie harus dibaca secara utuh. Pernyataannya itu mengungkapkan keprihatinannya dan rasa frustrasinya atas ketidakmampuan KPK memberantas korupsi. Sementara politisi lain menilai, pernyataan seperti itu tidak layak diucapkan seorang Ketua DPR. Dan, yang lain lagi berpendapat, pernyataan Marzuki Alie itu sebagai bagian dari kebebasan berpendapat warga negara.

Marzuki sendiri menyalahkan media. Media massa dinilainya memelintir pernyataannya. Sebab, tidak ada satu pun kalimat yang meluncur dari mulutnya tentang pembubaran KPK.

Setelah pernyataan Marzuki Alie itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama dan ketika wacana pembubaran KPK itu masih hangat di ruang publik, tiba-tiba muncul hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Intinya, tingkat kepercayaan publik terhadap KPK menurun tajam hingga di bawah 50 persen.

Survei ini juga membuat publik terkaget-kaget. Sepintas muncul kesan, seolah-olah ada kaitannya antara pernyataan Marzuki Alie tentang pembubaran KPK. Hasil survei LSI itu seolah-olah membenarkan pernyataan Marzuki Alie.

Menanggapi hasil survei itu, Wakil Ketua KPK M Jasin bersuara keras. Menurutnya, survei LSI itu dilakukan berdasarkan pesanan dan bagian dari serangan balik dari koruptor terhadap KPK.

Lalu apakah memang ada hubungan antara Marzuki Alie dengan hasil survei LSI itu? Belum ada bukti yang bisa menunjukkan hubungan mereka. Tetapi, mungkin perlu melihat ke belakang sebentar.

Pada pemilu 2009 lalu, LSI adalah salah satu lembaga survei yang “dipakai” Partai Demokrat dan pasangan SBY untuk memuluskan langkah SBY menjabat sebagai Presiden untuk kedua kalinya. Ketika itu, Marzuki Alie adalah Sekretaris Jenderal Partai Demokrat. Ketika itu LSI mengkampanyekan pemilu presiden satu putaran melalui spanduk yang dipasang di berbagai sudut Jakarta.

Apakah hubungan dua tahun silam itu masih mesra? Juga tidak ada jawaban yang pasti. Hanya LSI dan Marzuki Ali yang tahu.

Tetapi kedekatan waktu antara pernyataan Marzuki Alie dengan pengumuman hasil survei LSI membuat orang, termasuk saya curiga. Jangan-jangan memang ada hubungan antara pernyataan Marzuki Alie dengan hasil survei LSI tersebut. Lalu pertanyaan lainnya, ada siapa di belakang mereka? Jangan-jangan tudingan Wakil Ketua KPK M Jasin bahwa dua hal ini adalah bagian dari serangan balik koruptor terhadap KPK benar. Mari kita tunggu perkembangan dan cerita selanjutnya. (Alex Madji)

Kamis, 04 Agustus 2011

Partai SRI=PIB?


Partai SRI (Serikat Rakyat Independen) resmi mendaftar ke Departemen Hukum dan HAM pada Rabu, 3 Agustus 2011 pukul 14.00 WIB. Partai ini mengusung mantan Menteri Keuangan yang kini menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati sebagai calon presiden pada pemilu 2014.

Sejumlah tokoh pers, cendikiawan, dan lembaga swadaya masyarakat masuk ke partai baru ini. Sebut saja misalnya, Todung Mulya Lubis, Arbi Sanit, Rocky Gerung, Fikri Jufri dan sebagainya. Duduk sebagai ketua umumnya adalah Damianus Taufan.

Orang-orang ini bukanlah orang baru dalam berpartai. Sebagian besar dari nama-nama yang disebutkan di atas pernah menjadi pengurus dan think tank Partai Indonesia Baru (PIB) pimpinan almarhum Sjahrir. Damianus Taufan, misalnya, adalah bekas pengurus PIB. Rocky Gerung disebut-sebut sebagai ideolognya PIB. Meskipun secara struktur tidak duduk dalam partai itu. Dia bersama Chatib Basri duduk di Perhimpunan Indonesia Baru. Sementara Fikri Jufri juga menjadi salah satu tokoh di partai tersebut bersama Sabam Siagian yang pernah menjadi calon anggota DPR mewakili daerah pemilihan Papua pada 2004 lalu, tetapi gagal.

Melihat para aktivis dan pengurus partai itu, maka tidak berlebihan kalau Partai SRI ini adalah “revitalisasi” PIB. Bahkan, saya bisa katakan, Partai SRI adalah “Partai Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia”. Pasalnya, sebagian besar nama yang disebut di atas adalah orang-orang UI. Apalagi tokoh kunci dalam dua partai itu, almarhum Sjahrir, dan Sri Mulyani Indrawati adalah orang FE UI. Dalam bidang akademis, keduanya tidak perlu diragukan lagi. Mereka adalah jagoan ekonomi di republik ini dan diakui dunia.

Tetapi pertanyaan pokoknya kemudian adalah apakah Partai SRI ini bisa sukses pada 2014 dan berhasil mengantar Sri Mulyani ke Medan Merdeka Utara seperti Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)? Ataukan dia mengulangi capaian PIB yang hanya menjadi partai nol koma dan akhirnya tidak berhasil menghantar Sjahrir sebagai calon presiden pada pemilu 2004. Padahal, acara deklarasi Sjahrir sebagai capres dilakukan secara megah di Hotel Indonesia sebelum pemilu?.

Para petinggi partai ini tentu saja optimis. Alasannya, seperti argumen Arbi Sanit, pengamat politik dari UI itu, Sri Mulyani adalah satu-satunya tokoh berkaliber internasional saat ini dan dikenal sebagai tokoh yang tidak mau kompromi. Untuk konteks 2014, dialah satu-satunya tokoh yang mumpuni, setelah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak diijinkan konstitusi mencalonkan diri lagi.

Untuk memperkuat optimisme mereka, patutlah dikutip berita dari sebuah situs yang menyebutkan bahwa pada 2014, Sri Mulyani akan disandingkan dengan Letjen TNI (purn) Agus Widjojo. Diberitakan, pasangan ini sudah didukung Amerika Serikat. Bahkan pasangan ini didisain AS untuk menggantikan SBY pada 2014. Kalau rumor selama ini bahwa semua Presiden Indonesia adalah hasil disain AS benar, maka bukan tidak mungkin Sri Mulyani memang akan menjadi presiden mendatang.

Tetapi lupakan dulu disain AS itu. Kembali ke optimisme para pengurus Partai SRI. Para pengurus Partai SRI boleh saja optimis. Tetapi tanpa kerja keras, optmisme itu harus dikubur dalam-dalam. Lagipula, menurut saya, ketokohan Sri Mulyani saat ini juga belum menonjol amat.

Berbagai survei lembaga survei juga belum pernah menempatkan Sri Mulyani pada deretan teratas tokoh yang bakal muncul sebagai capres pada 2014. Sebaliknya, tokoh-tokoh lama seperti Megawati Soekarnoputri tetap bertengger di nomor teratas berbagai survei itu. Apalagi Sri Mulyani bukanlah tokoh yang sulit “dipotong” oleh lawan-lawan politiknya.

Karena itu, kerja keras baik dalam membangun infrastruktur partai maupun dalam menciptakan ketokohan Sri Mulyani adalah tuntutan mutlak. Sebab Sri Mulyani tidak bisa disamakan dengan SBY pada 2004. Tanpa kerja keras, Partai SRI dan Sri Mulyani hanya akan mengulangi sejarah PIB dan Sjahrir pada 2004 lalu yang diisi oleh orang-orang yang disebutkan di atas tadi. (Alex Madji)

Kuliahkan Anak dengan Jualan Kue


Ibu di samping ini sungguh luar biasa. Bukan hanya karena dia cantik. Tetapi lebih dari itu adalah perjuangan hidupnya untuk membiayai hidup keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya hingga di bangku kuliah.

Namanya Joice. Ibu asal Manado, Sulawesi Utara ini, hanyalah penjual kue. Ada macam-macam jenis kue dagangannya. Ada panada, pisang goreng, bolu, lontong, pisang kukus, dan bakpiao kacang hijau. Kue-kue itu dijajakannya di tiga tempat. Satu di kawasan kuningan, dan dua lainnya di kawasan Semanggi. Setiap jenis kue dijual dengan Rp 2.000.

Ke tiga tempat itu, dia membawa rata-rata 100-150 biji kue. Sementara kalau suaminya, Raymond, yang jualan, bisa bawa 250-300 biji. Pasalnya, suaminya itu bisa menjual ke lebih banyak tempat. Selain tiga tempat tadi, suaminya bisa jual ke Menara Sampoerna di kawasan Sudirman. Kalau semua laku, pasangan ini mendapat 300-500 ribu sehari. Saat ditanya, berapa keuntungan bersih yang mereka dapat, dengan polos ibu kuning langsat ini mengaku mendapat penghasilan bersih Rp 150-250 ribu per hari.

Kalau dikali bagi, penghasilan mereka bisa mencapai Rp 4-6 juta per bulan. Belum lagi, dia masih mendapat pesanan dari lingkungan gerejanya. Bahkan pesanan dari gereja bukan hanya kue, tetapi juga makanan khas Manado. "Puji Tuhan bisa menguliahkan anak di Manado," ucap ibu yang menyekolahkan dua anaknya di Universitas Adven di Manado.

Tetapi dia kadang mengeluh karena lelah melakoni pekerjaannya ini. Sebab, dia harus bangun subuh untuk bikin kue-kue itu, lalu pagi-pagi pula harus menjual sendiri ke beberapa tempat tadi. Ngider dengan sepeda motor dari kediaman mereka di bilangan Cililitan, Jakarta Timur menuju kawasan Kuningan dan kawasan Semanggi Jakarta Pusat.

Setelah jualan, dia masih harus belanja bahan kue lagi untuk hari berikutnya. Begitu terus setiap hari. “Capek sekali. Kalau suami saya yang jual kan, saya tidak terlalu capek. Setelah saya bikin kue, saya bisa istirahat,” ujar ibu tiga anak ini. Tetapi itulah perjuangan hidup.

Kena PHK
Kegiatan ini sudah dilakoni Joice bersama suaminya selama enam tahun terakhir. Semula, suaminya Raymond adalah pekerja kantoran. Tetapi pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 1999 membuat hidup mereka berubah. Meskipun, setalah PHK itu, Raymond masih mendapat pekerjaan lagi menjadi sopir.

Joice bercerita, usaha kue ini dimulai ketika teman-teman Raymond bosan dengan gorengan di dekat tempat kerja mereka. Dia lalu menyuruh Joice untuk membikin kue lalu dibawanya ke kantor. Bagai gayung bersambut. Teman-teman sopir Raymond menilai, kue bikinan Joice itu enak. Keesokan harinya dia diminta bawa lagi. Makin lama jumlah kue yang dibawa Raymond makin banyak.

Cerita tentang kue itu kemudian menyebar dari mulut ke mulut. Sampai akhirnya dia memilih untuk menekuni jualan kue dan berhenti dari pekerjaannya sebagai sopir. Raymond melakoni profesi itu dengan tekun dan setia.

Dia datangi bekas kantornya dan menawarkan sejumlah kantor lain, mula-mula ke komunitas sopir. Lama-lama karyawan kantor juga ikut menikmati kue dagangan pasangan ini.

Joice bertutur, beberapa hari terakhir ini Raymond kembali menjadi sopir. Tapi kali ini menjadi sopir keluarganya. Itulah sebabnya, Joice sendiri yang jalan dari kantor ke kantor mejajakan kue dagangannya. “Nggak enak. Keluarga sendiri,” ucapnya.

Kerja keras pasangan ini sungguh luar biasa. Mereka tidak kenal lelah. Tidak malu. Hasilnya pun diraih. Mereka bisa menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Inilah model perjuangan seorang rakyat jelata. (Alex Madji)

Senin, 01 Agustus 2011

Puasa Berarti Mengosongkan Diri


Hari ini, Senin 1 Agustus 2011, umat muslim seluruh dunia memasuki masa puasa. Ramadhan. Ini adalah ziarah selama satu bulan penuh sebelum akhirnya dimahkotai dengan kemenangan pada hari raya Idul Fitri. Selama 30 hari ini, saudara-saudari umat muslim bagai melewati padang pasir yang kering dan tandus. Tidak ada air. Apalagi makanan.

Dalam siarah padang pasir ini, mereka diuji secara fisik untuk tidak makan dan minum selama sehari penuh. Ini tentu bukan perkara mudah. Butuh tekad dan kemauan yang sungguh. Tetapi, di sinilah letak keutamaan selama puasa ini, yaitu pengendalian diri, pengekangan diri dan menahan diri dari seluruh keinginan daging dan tubuh.

Karena itu puasa tidaklah pasif, melainkan aktif. Puasa tidak sekedar tidak makan dan minum sambil tunggu berbuka kala senja tiba. Tetapi berpuasa berarti aktif. Mengosongkan diri dan mengisi kekosongan itu dengan berupaya semakin mendekatkan diri dengan Yang Di Atas baik dengan doa, laku tapa mapun perbuatan. Berpuasa tidak lalu juga berhenti beraktivitas. Kalau aktivitas berhenti selama puasa, maka hilanglah makna puasa itu.

Puasa sebenarnya bukanlah hanya monopoli umat Muslim. Pada agama-agama sawami, tradisi puasa ini ada. Dalam tradisi Kristen, misalnya, juga ada puasa. Malah waktunya lebih lama, yaitu 40 hari. Hanya bedanya, pada tradisi Kristen, saat berpuasa tidak ada sahur dan berbuka. Sebab selama puasa mereka tetap boleh makan dan minum.

Dalam Katolik, pada hari Rabu Abu dan setiap Jumat dan Jumat Agung ada pantang. Ini diatur dalam Kitab Hukum Kanonik. Hanya boleh makan kenyang sekali sehari. Sebenarnya tidak ada yang dilarang. Hanya dalam prakteknya, masing-masing orang memilih pantangnya sendiri selama puasa. Misalnya ada yang memilih pantang daging.

Dengan memilih pantang, misalnya pantang daging, anggaran untuk beli daging disisihkan untuk mereka yang membutuhkan. Ini hanya salah satu contoh. Tetapi intinya adalah pengendalian diri dari kenikmatan lidah dan tubuh sambil berbuat amal bagi mereka yang lebih membutuhkan/menderita.

Dalam tradisi Kristen, puasa lebih dititik beratkan pada sikap batin. Selama puasa umat Kristen mengosongkan diri, seperti Yesus mengosongkan diri selama retret di padang gurun selama 40 hari. Karena mengosongkan diri, maka harus ada upaya untuk mengisinya dengan berbuat baik atau laku tapa.

Meski tradisinya sama, puasa pada Muslim dan Kristen tetaplah berbeda baik secara praksis maupun teologis. Saya tidak bermaksud masuk pada dua hal yang sulit dan rumit itu.

Tetapi saya hanya mau merenungkan puasa pada awal Ramadhan ini. Bagi saya, puasa adalah mengosongkan dan menelanjangi diri untuk semakin mendekatkan diri dengan Dia yang di atas sana. Proses pengosongan dan penelanjangan diri ini dilukiskan bagai sebuah keadaan dan perjalanan di padang pasir yang tandus dan kering. Perjuangan di gurun pasir itu diharapkan bisa mencapai sebuah oase. Di sanalah kita akan merayakan kemenangan, meneguk rahmat yang berlimpah ruah, membebaskan, dan menyucikan. Diharapkan, ini semua menjadi kekuatan baru untuk melanjutkan peziarahan hidup berikutnya. Selamat berpuasa. (Alex Madji)

Yuk Makan Iga Penyet di Warung Tekko


Sabtu, 30 Juli 2011. Panas matahari sungguh menyengat. Udara panas pun menembus dinding-dinding batu dan kaca Warung Tekko Alam Sutera Kota Tangerang Selatan. Tapi rindangnya pohon trembesi di belakang Warung Tekko itu, cukup meneduhkan.

Plus angin pendingin ruangan cukup menetralisir udara panas itu. Meskipun sekelompok anak muda (tujuh orang) yang sepertinya baru abis olah raga tetap saja membuka jendela biar udar luar menyelinap masuk.

Setelah memesan menu makanan dan minuman, dan setelah menunggu beberapa lama, pesanan minuman datang. Segelas jus alpokat kerok, es cincao hijau, es kelapa muda, dan sebotol air mineral muncul.

Di tengah udara panas, menyeruput jus dingin sungguh melegakan dan plong. Dahaga yang tertahan beberapa jam terluap. Dan, hawa panas dalam tubuh bagai terusir.

Tak lama berselang, pesanan kami datang. Satu porsi iga penyet (tiga potong) di atas cobek plus sambel, daun kemangi sepotong, timun seiris dan jeruk. Ada juga sup iga, tempe goreng, terong goreng telor dihidang di atas cobe dengan sambel, dan sepiring sayur daun genjer. Masih ada satu porsi paket sepotonh ayam goreng, sepotong iga penyet plus tempe tahu

Iga penyet goreng adalah kekhasan Warung Tekko. Sebab taglinenya, "Spesialis iga penyet". Tak salah memang. Iga penyetnya empuk bukan main. Sambelnya mantap. Gak terlalu pedes. Pas. Tempenya garing. Sementara nasinya bisa pilih antara nasi putih, nasi merah atau nasi bakar. Pokoknya maknyus.

Maka tidak heran mayoritas yang datang ke situ pesan iga penyet. Pengunjung warung dua lantai itu berjibun. Lantai bawah, atas, dan selasar di depan warung penuh sesak. Nyaris tak ada bangku kosong.

Soal harga, cukup terjangkau. Siang itu, kami makan berempat dengan menu yang disebut di atas tadi hanya habis Rp 214.000. Itu sudah termasuk pajak restoran 10 persen. Itu pun pakai tambah nasi, saking iganya enak.

Mau coba? Datang saja ke Warung Tekko di Alam Sutera, Kota Tangerang Selatan, persis di dalam kompleks di depan Rumah Sakit Omni. Di situ pusat kuliner. Ada macam-macam restoran di situ. Tinggal pilih. Warung Tekko Iga Penyet terletak paling ujung. Selamat mencoba. (Alex Madji)