Kamis, 30 Juni 2011

Pengabdian


Tak terasa, sudah 10 tahun saya bekerja di PT Media Interaksi Utama yang menerbitkan Harian Umum Suara Pembaruan. Tepatnya 1 Juni lalu. Saya resmi tercatat bekerja di perusahan ini pada 1 Juni 2001. Pada tanggal itu, saya dan beberapa teman menandatangani kontrak di lantai empat kantor Suara Pembaruan di Jalan Dewi Sartika 136 D, Cawang Jakarta Timur.

Sebetulnya saya pertama kali masuk di perusahan itu pada 1 Februari 2001. Satu minggu pertama kami menjalani pendidikan di kelas. Lalu mulai minggu kedua Februari 10 tahun silam, kami masuk ke ruang redaksi. Kami diroling setiap satu minggu ke desk-desk yang ada di Suara Pembaruan. Kami belajar menulis dengan praktek langsung di lapangan.

Saya masih ingat, desk pertama yang saya masuki adalah Desk Budaya yang antara lain membawahi Kesra. Berita pertama saya yang dimuat di koran pun adalah liputan kesra, terutama soal pendidikan. Liputan-liputan selama di Desk Budaya adalah menghadiri undangan jumpa pers dan acara dari berbagai instasi. Masa-masa ini dikenal sebagai masa magang.

Kami mengakhiri masa magang pada 1 Juni 2001. Selama masa magang, kami diberi uang transpor Rp 175.000 per minggu. Setelah lulus masa magang kami diikat sebagai karyawan kontrak untuk jangka waktu satu tahun.

Setelah tanda tangan kontrak, kami, anak-anak baru ketika itu, langsung ditempatkan di Desk Metropolitan. Saya ditempatkan di Balaikota DKI Jakarta sebagian bagian dari Desk Metropolitan. Tidak sampai setahun saya di sana, awal 2002 saya lalu dipindahkan ke Desk Politik. Mula-mula saya menjadi wartawan floating yang meliput di mana pun ada acara. Di situlah saya mulai mengenal banyak nara sumber dan kawan wartawan. Selama bertahun-tahun saya menjadi wartawan Desk Politik, saya pernah meliput di Departemen Dalam Negeri (2002-2003), KPU (2003-2004), DPR (Oktober-Desember 2004), Istana Wakil Presiden (2005-2008), dan Istana Presiden (2009-November 2010).

November 2010, saya dipindahkan ke Desk Luar Negeri. Bergelut dengan pekerjaan terjemah menterjemah berita-berita dari kantor berita asing. Lalu pada Maret 2011, hanya satu bulan setelah kantor Suara Pembaruan dipindahkan dari Cawang ke Aryaduta Suites, Semanggi, saya diangkat menjadi Wakil Koordinator Portal SP hingga hari ini.

Dalam perjalanan waktu 10 tahun itu, ada banyak pengalaman pahit dan manis. Pengalaman pahit yang paling tidak bisa dilupakan adalah ketika pengangkatan saya sebagai karyawan ditunda pada 1 Juni 2002. Ketika itu hati saya bagai teriris sembilu. Gara-gara seorang redaktur yang kini sudah keluar dari Suara Pembaruan.

Menurut dia, saya belum layak menjadi seorang wartawan Suara Pembaruan. Padahal penilaian redaktur-redaktur lain, saya dinilai layak. Saya sakit hati. Masa kontrak saya pun diperpanjang selama enam bulan. Saya ketinggalan dari teman-teman seangkatan saya. Pengen keluar ketika itu. Tetapi, saya memikirkan adik-adik saya yang harus saya tanggung. Saat itu saya masih membiayai adik perempuan saya kuliah di STKIP St Paulus Ruteng, Flores NTT. Hanya karena mereka saya kuat meniti jalan ini. Masih banyak kisah pahit. Tapi cukup itu dulu.

Kisah manisnya juga banyak. Salah satunya, ketika pertama kali saya ditugaskan ke Palu, Sulawesi Tengah pada 2002. Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat terbang. Sebagai anak kampung, tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa suatu saat saya naik pesawat terbang. Setelah itu, tugas ke luar kota begitu akrab dengan tugas jurnalistik saya. Semua kota provinsi di seluruh Indonesia sudah saya kunjungi. Banyak kabupaten/kota juga sudah didatangi.

Pengalaman manis lainnya, ketika seusai pemilu 2004, saya ditugaskan ke luar negeri untuk pertama kalinya, yaitu ke Taiwan. Tugasnya adalah liputan pariwisata di Formosa. Setelah itu hampir setiap tahun saya ditugaskan ke luar negeri hingga Akhir Januari sampai awal Februari 2010 lalu ketika saya ditugaskan ke India. Hanya 2011 ini saya belum ditugaskan lagi ke luar negeri.

Pada pengabidan 10 tahun ini, saya diberi sebuah piagam penghargaan dari perusahan. Hanya secarik kertas bertuliskan kata-kata penghargaan. Selain itu ada bonus masa kerja 10 tahun yang secara nominal kecil. Tetapi, saya tetap bersyukur, meskipun nilainya tidak seberapa.

Tepat pada 10 tahun berkarya di PT MIU, per 1 Juni 2011 lalu dimutasikan dari PT MIU ke PT Jakarta Globe Media. Saya tidak tahu apakah ini juga sebuah penghargaan atau tidak. Hanya pimpinan yang tahu. Sebab pemutasian itu tanpa didialogkan sebelumnya.

SK Pemutasian itu berlaku mulai 1 Juni 2011, tetapi baru saya terima pada 15 Juni 2011. Meskipun sampai tulisan ini saya buat, saya masih bekerja dan menulis untuk suarapembaruan.com. Yah, setelah Suara Pembaruan diakuisisi Lippo, koran sore dari Cawang ini menjadi satu grup dengan grup media milik Lippo.

Maka pemutasian ini adalah sebuah siarah baru lagi, sebuah pengabdian baru lagi dengan pemaknaan yang baru pula. Apakah saya bisa mengabdi 10 tahun lagi? Hanya waktu yang akan menjawab. Mari mengabdi. [Alex Madji]

Senin, 27 Juni 2011

Kembali ke Alam Bersama Kuda


Anak Anda pengen naik kuda? Atau sekedar ingin melihat kuda? Tidak usah panik. Datang saja ke Bintaro, Tangerang Selatan. TYpatnya di Graha Bintaro, setiap akhir pekan.

Setiap Sabtu dan Minggu, di sebuah lahan kosong di samping cluster Mahagoni Park, beberapa ekor kuda siap ditunggangi. Ada kuda gede, ada yang sedang, ada pula yang kecil. Ada kudah hitam, merah, dan putih. Tinggal pilih. Banyak orang tua datang dengan buah hatinya ke lokasi itu baik untuk sekedar melihat kuda maupun untuk naik kuda.

Sebenarnya, lokasi itu cukup luas. Tetapi para pemilik kuda tidak menjadikan seluruh lahan itu sebagai "lintasan" atau track. Entah apa alasannya. Hanya segelintir lahan yang mereka pakai sebagai track. Yah, tidak lebih dari satu lapangan voli.

Sekali putaran yang hanya seuprit itu dibayar dengan Rp 5.000. Dan rata-rata, seorang anak tidak puas hanya dengan sekali putaran. Musti dua atau tiga kali putaran. Tiga kali putaran itu tidak sampai 15 menit.

Soal keselamatan anak, tidak perlu khawatir. Sebab, pemilik kuda mendampingi anak dengan berjalan kaki di samping kuda. Anak-anak kecil yang belum bisa pegangan kekang, akan dipegang pemilik kuda. Sedangkan anak-anak yang sudah bisa mengendalikan kuda tidak dipegang, tetapi tetap diawasi.

Apalagi, rata-rata kudanya tidak berlari alias jalan. Kalau kudanya lari, ya satu putaran ditempuh hanya dalam beberapa detik.

Meski begitu, tiap Sabtu dan Minggu sore lokasi itu penuh padat. Tapi kadang-kadang, meskipun orang banyak, kuda-kuda itu nganggur. Sebab tidak sedikit warga yang datang ke lokasi yang tidak jauh dari Majid Bani Umar itu hanya untuk menghabiskan senja sambil menikmati ruang yang lega, daripada bertemu tembok terus di rumahnya.

Kalau Anda mau memperkenalkan anak Anda dengan kuda atau mau merasakan menunggang kuda, boleh datang ke "tanah kosong" itu. Dari sektor 9 ambil ke arah Graha Raya. Sementara dari Alam Sutera ke arah Pasar Segar lalu terus ke arah Sektor 9. Begitu Anda turun dari kendaraan, para pemilik kuda sudah menyambut Anda. Lalu rasakan nikmatnya berkuda. (Alex Madji)

Kamis, 23 Juni 2011

Jangan Pandang Sebelah Mata Tukang Tambal Ban


Perjalanan saya ke kantor hari ini (Kamis, 23 Juni 2011) agak sedikit tidak menyenangkan. Penyebabnya sederhana. Ban motor saya pecah. Untunglah pecahnya saat lampu merah di Pos Pengumben, Jakarta Barat, ketika hendak melewati Jalan Panjang. Lebih beruntung lagi, tidak jauh dari situ ada dua tempat tambal ban. Yang satu ke arah kantor Indo Pos, yang lainnya di Jalan Panjang ke arah ITC Permata Hijau.

Nah yang bikin capek adalah saya terlebih dahulu mendorong motor ke tukang tambal ban di jalan menuju Indo Pos itu. Sudah ngos-ngosan karena harus dorong motor di jalan tanjakan, si abang tukang tambal ban menolak karena karet tambalnya habis. Saya lalu balik kanan dan dorong ke tukang tambal ban di Jalan Panjang. Untunglah menuju ke situ jalannya menurun sehingga tidak membuat nafas ngos-ngosan lagi.

Sesampai di situ saya kebelet pipis pula. Setelah mengamati situasi, di belakang kios kecil pemilik tambal ban ternyata ada toilet super kecil. Ada closet biru kusam dengan air seember besar yang ditampung dari sebuah selang kecil yang dialir entah dari mana. Di bawah closet itu, ada sebuah pipa pembuangan yang ujungnya saya tidak lihat. Pipislah saya di situ. Yeah, lumayan lega.

Sekembalinya dari situ, saya ngobrol dengan tukang tambal ban itu. Pemuda itu mengaku bernama Ahmad. Asalnya Cirebon, Jawa Barat. Dia bekerja bersama seorang temannya dari Sumatera Utara yang saat itu masih tidur pulas di atas sebuah dipan kecil. Ada televisi 14 inchi juga di situ.

Menurut Ahmad, tambal ban itu buka 24 jam dan sudah bertahan tujuh tahun. Karena itulah mereka bagi dua shif. Temannya yang masih terlelap itu dinas malam, sementara dia dinas siang. “Kalau malam ada saja yang datang tambal ban atau isi angin,” ujar Ahmad.

Usaha keduanya bukan hanya tambal ban. Di samping tempat tambal ban itu, ada kios kecil. Isinya roti, air mineral, rokok, teh botol, dan sejumlah keperluan lainnya. Tambal ban dan jaga kios dijalankan secara bersamaan.

Menurut pria lajang ini, pendapatan mereka dari usaha tambal ban bisa mencapai Rp 100.000 per hari. Kadang lebih. Artinya, dalam sebulan mereka mendapat di atas Rp 3 juta. Pendapatan ini sudah jauh di atas upah minimum regional (UMR) DKI Jakarta.

Pendapatan itu hampir sama atau malah lebih besar dari penghasilan seorang sarjana yang bekerja kantoran. Bedanya, pekerja kantoran rada bersih dan necis, tetapi tukang tambal ban itu bergulat dengan oli dan debu. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah jangan menganggap enteng mereka, apalagi menghina mereka sebagai pekerja rendahan.

Ketika hendak mengakhiri catatan ini saya tiba-tiba teringat lelucon teman saya begini: Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 berbunyi, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Lalu teman saya itu menambahkan, “Kecuali angin, dikuasai orang Batak.” Horas Bah. [Alex Madji]

Rabu, 22 Juni 2011

Kealpaan Negara


Sejak Sabtu, 18 Juni 2011 lalu, media di Jakarta riuh memberitakan soal hukuman mati yang diterima tenaga kerja Indonesia (TKI) Ruyati Binti Satubi di Arab Saudi. Ucapan belasungkawa, penyesalan, caci maki dan sumpah serapah memenuhi ruang publik, paling tidak di Jakarta.

Kasus itu kemudian berbuntut tuntutan mundur kepada Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar, Ketua BNP2TKI Jumhur Hidayat, serta Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Tetapi tidak sedikit pula, pengamat menilai hukuman mati Ruyati ini adalah bukti kegagalan Presiden SBY melindungi warga negaranya.

Sebab Ironis. Ketika Ruyati menjalani hukuman pancung di Arab Saudi, pada saat hampir bersamaan, Presiden SBY berbicara tentang perlindungan tenaga kerja migran di International Labor Organization (ILO) di Swis.

Para politisi Partai Demokrat seperti Saan Mustopha dan Ramadhan Pohan pun tangkas. Mereka menilai, terlalu berlebihan kalau kasus Ruyati diarahkan kepada SBY.

Sebelum kasus Ruyati menyeruak, ada satu kasus kematian lagi yang tidak kalah mengenaskan. Seorang nenek tua meninggal secara tragis di Jalan Thamrin, yang jaraknya hanya sepelemparan batu jauhnya dari Istana Presiden yang beralamat di Jalan Medan Merdeka Utara. Berita tentang kematian nenek tua ini sempat dipublikasikan media televisi. Diberitakan, kemungkinan nenek tua ini meninggal karena kelaparan. Sebab tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh ringkihnya. Sayang, kepergian nenek tua ini tenggelam oleh kasus kematian Ruyati. Begitulah media di Indonesia. Kematian nenek tua itu dianggap kurang seksi sebagai berita dibandingkan Ruyati.

Padahal baik Ruyati maupun nenek tua yang mati di Thamrin itu sama-sama warga negara Indonesia. Keduanya sama-sama meninggal secara mengenaskan. Bedanya, Ruyati meninggal di luar negeri, sementara nenek tua tadi meninggal di Jalan Thamrin yang menjadi pusat perputaran ekonomi Indonesia di di luar pagar Istana Presiden.

Dari dua kasus itu, ada satu hal yang pasti. Yaitu, negara alpa melindungi warga negaranya baik di dalam maupun di luar negeri. Konstitusi mengamantkan bahwa negara harus “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”. Lalu siapa yang bertanggung jawab? Ya negara. Siapa negara? Ya Presidennya. Karena Presiden SBY yang kini sedang menjabat harus bertanggung jawab atas kematian Ruyati dan nenek tua itu.

Tetapi pertanggungjawaban SBY tidak harus dengan cara dimakzulkan. Sebagai kepala pemerintahan, SBY bisa saja memberi sanksi terhadap bawahannya yang sudah ditugaskan untuk mengurus TKI tetapi tidak bekerja optimal, seperti BNP2TKI. Begitupun lembaga yang sudah ditugasi mengurus fakir miskin, seperti Kementerian Sosial tetapi tidak menjalankan tugasnya sehingga seperti nenek tua tadi harus meninggal secara mengenaskan di dekat Istana Presiden.
Sayang, tidak banyak media yang mengangkat kealpaan negara dalam melindungi warga negaranya. Dan, media terlalu fokus pada kasus Ruyati seraya melupakan nenek tua yang meninggal secara mengenaskan di luar pagar Istana Presiden. [Alex Madji]

Etos Kerja


Selasa 21 Juni 2011 kemarin, saya marah besar. Penyebabnya sederhana. Ada seorang calon wartawan yang masih magang di desk saya, ngelunjak. Bayangkan. Dia baru mengirim pesan singkat bahwa dia kesiangan pukul 08.15 WIB, tanpa alasan dan penjelasan yang logis.

Enaknya lagi, dia minta langsung ke TKP alias tempat kejadian perkara (istilah polisi yang diadopsi dunia jurnalistik). Sebagai orang yang bertanggung jawab sementara atas pendidikannya sebagai wartawan, saya sedikit keras dengan kata-kata sedikit pedas. Sebab menurut saya, dan itu yang saya alami ketika tahun-tahun pertama saya menjadi wartawan 10 tahun silam, wartawan baru harus pulang paling akhir dan datang paling pertama di kantor keesokan harinya. Dengan kata lain, bila perlu wartawan baru itu bekerja 24 jam.

Tetapi justru kata-kata sedikit pedas saya itu ditanggapi dengan lebih keras sama dia. Saya kutip saja pesan singkatnya. “Lho kok malah begitu. Aku kan bilang baik2, aku kesiangan. Kok malah dihina. Jangan mentang-mentang anda atasan saya bang bisa menghina.”

Saya lalu menyuruh dia ke kantor sesegera mungkin. Sesampainya di kantor, saya suruh dia duduk di samping meja saya. Saya tanyakan alasan mengapa dia kesiangan. Sebab saya tidak menugaskan dia meliput sampai malam, apalagi sampai dini hari.

Apa yang terjadi? Dia justru melakukan kebohongan. Dia menceritakan bahwa dia meliput acara jumpa pers Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar tentang TKI asal Bekasi Ruyati binti Satubi yang dihukum pancung di Arab Saudi. Menurut dia, acara yang berlangsung Senin (20/6/2011) itu dimulai jam 20.00 WIB. Padahal, faktanya, acara jumpa pers itu sudah berlangsung dari jam 16.00 WIB dan disiarkan secara langsung oleh TVOne dan Metro TV. Konyolnya lagi, berita live kedua televisi, dianggapnya bohong. Sebab menurut dia acara itu baru dimulai pukul 20.00 WIB. Dia pun baru bikin beritanya pada Selasa (21/6/2011) pagi.

Kebohongan demi kebohongan ini membuat saya tambah marah sampai bibir bergetar dan seisi kantor memelototi kami. Saya pun usir kawan itu dan mengatakan bahwa saya tidak akan memberinya tugas lagi selama berada di bawah tanggung jawab saya. Dengan kata lain, saya persona non grata-kan kawan ini.

Setelah itu, anak ini hilang entah ke mana. Dan, Rabu (22/6/2011) tidak menampakkan batang hidungnya lagi di kantor.

Saya berpendapat, setiap karyawan sebuah perusahan, termasuk wartawan, harus memiliki etos kerja. Ini syarat utama bagi semua upaya peningkatan kualitas tenaga kerja atau SDM, baik pada level individual, organisasional, maupun sosial.

Pada kawan itu saya tidak melihat ada etos kerja. Yang ada malah kebohongan dan tipu muslihat. Bila hal seperti ini dipelihara, perusahan tidak akan maju. Asumsi saya, baru masuk saja sudah begitu, apalagi kalau sudah menjadi pegawai tetap. Bisa hancur perusahan.

Kalau ini menjadi sikap dasar, maka perilaku seperti ini akan selalu muncul. Dan, perusahan mana pun pasti tidak mau menampung orang-orang seperti ini. Karena itu tidak ada gunanya mempertahankan orang-orang yang tidak memiliki etos kerja yang baik. [Alex Madji]

Senin, 20 Juni 2011

Berburu Barang Bermerek di Sogo Jongkok BTC


Anda ingin mendapat barang-barang bermerek dengan harga miring? Cobalah berkunjung ke Bintaro Trade Center (BTC). Ini salah satu alternatif. Letaknya cukup strategis. Bila ikut tol Lingkar Luar Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (JOR), Anda keluar di Pondok Aren, lalu menuju ke Bintaro.

Menjelang jembatan layang Bintaro (yang sedang dibangun) Anda belok kiri. Lalu jalanlah pelan-pelan dan siap-siap masuk BTC. Di kawasan itu banyak pedagang kaki lima menjajakan dagangan. Ada pakaian, sepatu, tas, mainan anak-anak, dan masih banyak lagi. Semuanya bermerek.

Kalau sudah capek berkeliling dan kelaparan, jangan khawatir. Di situ juga ada penjual makanan yang siap memanjakan lidah Anda.

Sebenarnya ini adalah pasar kaget. Aslinya, BTC itu adalah deretan rumah toko (ruko). Karena pasar kaget, maka tidak dibuka setiap hari. Hanya sekali seminggu yaitu pada hari Minggu. Meski begitu, sesungguhnya para pedagang sudah ada di tempat itu sejak Sabtu sore.

Minggu, 19 Juni 2011, setelah pulang Gereja Santa Mari Regina (Sanmare) yang terletak tidak jauh dari BTC, kami mampir sebentar di situ. Kami jumpai sepatu-sepatu bermerek seperti Geox, Kickers, Adidas, dan merek-berek kenamaan lainnya. Merek boleh keren, tetapi harganya miring. Original dan bisa ditawar pula. Mak tak pelak, BTC menjadi Sogo Jongkok.

Sebagai contoh, saya membeli sepasang sepatu Kickers hanya dengan harga Rp 190.000. Tadinya dijual Rp 200.000. Tetapi setelah ditawar, hanya boleh turun Rp 10.000 ke Rp 190.000. Coba bandingkan harga sepatu dengan merek yang sama di etalase-etalase mal-mal berbintang di Jakarta.

Saya juga membeli sepatu sandal Geox untuk anak saya dengan harga Rp 100.000 dari Rp 125.000 yang ditawarkan. Saya pernah menyanyakan harga sandal serupa di sebuah mal di Jakarta. Astaga, harganya hampir dua kali lipat.

Menurut salah seorang penjual sepatu-sepatu bermerek itu, barang-barang yang mereka jual original dan dijamin kualitasnya. Lalu kenapa dijual murah? Menurut dia, barang-barang itu adalah produk-produk yang mengalami sedikit cacat. Dan, mereka mengambilnya langsung dari pabrik. Tetapi kalau kita jeli, kata dia, tidak sedikit barang yang tanpa cacat alias mulus.

Nah, Anda tidak percaya? Buktikan saja sendiri. Silahkan datang ke BTC setiap hari Minggu. [Alex Madji]

Kamis, 16 Juni 2011

Membaca Jurus Mr A Partai Demokrat


Kemelut yang dihadapi Partai Demokrat melahirkan jurus baru dari partai penguasa tersebut. Jarus itu bernama Mr A yang pertama kali meluncur dari mulut Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Ramadan Pohan.

Pohan yang mantan wartawan itu hingga kini tidak mengungkapkan identitas Mr A. Tetapi jurus ini sedikit meredakan serangan bertubi-tubi kepada partai yang didirikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.

Salah satu petinggi partai itu yang juga mantan Ketua Ahmad Mobarok juga mengeluarkan pernyataan Mr A. Tetapi kali ini terkait dengan kemunculan Sri Mulyani Indrawati untuk menjadi calon presiden pada 2014. Mubarok mengatakan, Mr A ada di balik Sri Mulyani. Belum ketahuan apakah jurus Mr A ini bisa menghambat gerak laju mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani itu.

Kemudian, beberapa hari lalu, ada teman yang men-tag foto lucu. Almarhum Soeharto, seorang jenderal bintang lima sedang berdiri di depan kelas dengan papan tulis hitam di belakangnya, mengajar. Sementara seorang murid duduk dengan takjim mendengar penjelasan sang guru. Murid itu adalah SBY.

Entah apa maksud orang yang membikin gambar tersebut. Tetapi orang awam seperti saya membacanya begini: SBY adalah satu-satunya murid Soeharto (karena hanya dia siswa di kelas yang diajarkan Soeharto itu). Pembacaan itu didukung oleh fakta bahwa SBY adalah salah satu petinggi TNI ketika Soeharto masih berkuasa. Bahkan, seperti diakui SBY sendiri, SBY-lah salah satu otak di balik reformasi TNI sebelum akhirnya Soeharto turun.

Lalu apa kaitannya jurus Mr A dan gambar tersebut? Soeharto adalah ahli strategi. Juga dalam politik. Salah satu hal yang terkenal pada masa Soeharto adalah politik kambing hitam. Orang lain dituduh dan dijadikan korban demi sebuah tujuan penguasa. Pada 1996, misalnya, penyang kantor PDI-P di Jalan Diponegoro adalah TNI. Tetapi yang dituduh adalah Budiman Sudjatmiko dengan PRD (Partai Rakyat Demokrati)-nya. Budiman dan kawan-kawan kemudian dijebloskan ke penjara.

Saya melihat, strategi Soeharto itulah yang di copy paste dan dimodifikasi oleh Partai Demokrat dengan Mr A-nya. Penyebutan Mr A itu adalah hasil modifikasi. Modifikasi lainnya adalah pernyataan itu disampaikan oleh orang-orang sipil. Padahal, hal itu murni taktik dan strategi khas militer.

Strategi itu terbukti mampu meredam serangan terhadap Partai Demokrat. Publik disibukkan untuk mencari-cari sendiri siapa Mr A yang misterius itu. Publik kemudian lupa pada persoalan pokok yang seharusnya dipertanggungjawabkan oleh Partai Demokrat yaitu korupsi di Kementerian Pemuda dan Olah Raga. [Alex Madji]