Jumat, 10 Juni 2011

Mereka-reka Pernyataan SBY


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada pembukaan President Lecture di hadapan para pemimpin muda potensial di Jakarta, Kamis (9/6/2011) berjanji bahwa dia, istri, dan anak-anaknya tidak akan maju dalam pemilu presiden 2014.

Dia bilang begini, “Nama saya SBY. Saya Presiden RI ke-6. Saya bukan calon presiden 2014. Istri saya, sekali lagi, istri saya dan anak-anak saya tidak akan dicalonkan pada pilpres 2014. Saya juga tidak mempersiapkan siapa pun. Biarkanlah demokrasi berjalan dan rakyat memilih sendiri pemimpinnya.”

Pernyataan ini bukan hal baru. Berulang kali SBY menegaskan hal ini dalam berbagai kesempatan. Tetapi pernyataan itu sebaiknya jangan diterima sebagai sebuah kebenaran mutlak. Sebab pernyataan ini diucapkan oleh seorang politisi kawakan dan karena itu pula bernilai politis sangat tinggi. Dalam politik tidak ada yang pasti. Hari ini A, besok bisa B. Dalam politik, satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.

Dengan menegaskan kembali hal itu, sebenarnya SBY mau menyampaikan pesan tertentu. Dengan pernyataan itu SBY mau memperlihatkan wajah demokratis, taat konstitusi dan tidak haus kekuasaan. SBY mau memperlihatkan bahwa dia adalah seorang negarawan.

Konstitusi memang sudah membatasi masa jabatan presiden hanya dua periode. Tetapi ada kekhawatiran publik bahwa SBY akan mengamandemen pasal dalam Undang-Undang Dasar (UUD) yang membatasi masa jabatan presiden tersebut melalui fraksi-fraksi pendukung pemerintah di MPR untuk tetap berkuasa. Apalagi, dorongan untuk amandemen konstitusi sangat tinggi, terutama dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Sekilas, kekhawatiran dan keresahan itulah yang mau ditepis SBY dengan pernyataan tadi.

Dan, dengan mengatakan bahwa istri dan anak-anaknya juga tidak akan menjadi calon presiden pada 2014, SBY memperlihatkan wajah yang teduh bahwa dia bukan tipe pemimpin yang mau memelihara dinasti kekuasaannya seperti Kim Jong-Il di Korea Utara (Korut) yang mempersiapkan putranya Kim Jong-un sebagai penggantinya. Atau SBY tidak mau seperti almarhum Presiden Argentina Nestor Kirchner yang mendorong istrinya Cristina Kirchner untuk maju dalam pemilu presiden Negeri Tango itu, dan akhirnya terpilih, karena dilarang konstitusi untuk maju lagi untuk periode ketiga. Meskipun Nestor Kirchner masih sangat populer saat itu.

Apa ujung dari semua ini? Tidak lain ada politik pencitraan. Ini adalah upaya mengangkat kembali citra SBY yang terus menurun dalam satu tahun terakhir. Sebab, survei berbagai lembaga menunjukkan bahwa popularitas SBY anjlok tajam dari sekitar 60 persen setelah pemilu 2009 ke angka di bawah 50 persen pada awal tahun ini. Begitupun tingkat elektabilitas istrinya, Ny Ani Yudhoyono masih rendah dan kalah jauh dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Dengan demikian, kalau citranya pulih dan popularitas naik kembali dan terjaga hingga menjelang pemilu presiden 2014, kemungkinan faktanya akan lain. Mari kita tunggu kebenaran pernyataan ini menjelang 2014. [Alex Madji]

Kamis, 09 Juni 2011

Melihat Yesus yang Melangit (2)


Kami berangkat ke Patung Cristo Redentor di Gunung Carcavado dari Hotel JW Marriot yang terletak di bibir Pantai Copacabana - tempat Presiden Yudhoyono dan delegasi resminya menginap, menggunakan minivan hotel. Mobil itu hanya sampai di stasiun trem. Jaraknya hanya 15 menit perjalanan dari hotel. Sesampai di stasiun, kami mengantri membeli tiket masuk. Harganya 36 Real. Dalam tiket, tertera kami harus berangkat pukul 09.30. Tetapi 10 menit sebelum waktunya kami sudah meninggalkan stasiun. Dua gerbong trem itu penuh, bukan hanya oleh kami tetapi juga oleh wisatawan lainnya.

Kami berhenti sebenar di Estacao (stasiun) Paineiras, sebelum akhirnya turun di Estacao Christo Redentor, tempat tujuan terakhir. Jarak tempuhnya hanya 25 menit. Itu pun dengan kecepatan yang rendah karena harus mendaki gunung yang cukup tinggi. Di sisi kiri kanan jalan, hutan cukup lebat. Menjelang stasiun terakhir ada patung Bunda Maria dan Santo Yosef. Selain menggunakan trem, untuk sampai ke puncak juga bisa menggunakan mobil pribadi, tetapi parkirannya agak jauh dari puncak.

Turun dari trem, tiket kami diperiksa petugas sebelum diijinkan naik lift. Keluar dari lift, masih harus melewati dua eskalator untuk sampai ke Patung Christo Redentor yang berdiri kokoh di puncak gunung batu itu. Sebenarnya untuk sampai ke sana, bisa juga melalui tangga di samping kanan ekslator itu. Orang yang tidak tahan di ketinggian pasti gemetaran bila melihat ke bawah.

Sesampai di Puncak, kami tidak hanya mengagumi patung Yesus yang tinggi menjulang seolah menyentuh langit dan kokoh sambil merentangkan tangan melindungi Kota Rio de Jeneiro, tetapi juga menikmati keindahan kota itu. Tidak ada yang tersembunyi dari kota itu. Semuanya telanjang bulat. Sungguh sebuah keindahan yang menakjubkan.

Wisatawan yang ke sana tidak menyia-nyiakan momen itu. Semua berlomba-lomba berfoto baik dengan latar belakang Patung Christo Redentor maupun berlatar belakang Kota Rio de Jeneiro. Orang yang difoto dan pemotret sama-sama bergaya. Biar Patung Christo Redentor terekam utuh, pemotret rela mengambil gambar dengan berbaring. Yang difoto bergaya merentangkan tangan, meniru gaya Patung Christo Redentor di belakangnya. Di sana juga ada pemotretah langsung jadi. Tetapi kelihatannya mereka tidak terpakai karena semua orang membawa kamera.

Di bawah kaki Yesus ada sebuah kapel. ”Capela de Nossa Senhora da Apareida” namanya. Di dalamnya ada 22 tempat duduk dengan sebuah altar, mimbar, taber nakel, dan sebuah kotak kolekte. Setiap orang yang berdoa di situ dengan suka rela memasukkan uang kolekte ke kotak tersebut. Di pintu masuk, ada seorang penjaga yang dengan ramah mempersilahkan setiap pengunjung masuk dan berdoa sejenak di situ. Tidak jarang orang berdoa di sana sambil meneteskan air mata. Entah apa yang mereka alami.

Yang berwisata ke situ bukan hanya orang yang beragama Katolik, tetapi siapa saja yang ingin menikmati keindahan alam yang diciptakan-Nya dan keagungan karya cipta manusia dalam membangun tempat wisata tersebut.

Sebenarnya waktu satu jam lebih belum cukup untuk menikmati keindahan di sana. Tetapi apa mau dikata, waktu sangat terbatas. Kami harus segera turun melalui rute yang sama. Dua puluh lima menit kemudian, kami tiba di stasiun keberangkatan dan dengan bus kembali lagi ke hotel untuk berkemas meninggalkan Rio de Jeneiro dengan Pantai Copacabana yang eksotik dan Cristo Redentornya yang agung menuju Lima, Peru untuk mengikuti KTT APEC. Sampai jumpa di Rio de Jeneiro. [Alex Madji]

Sebuah Siang di Copacabana (1)


Pengantar: Tulisan ini adalah pengalaman saya berada di Rio de Jeneiro, Brasil. Sudah dimuat di blog saya yang lain, tapi saya tampilkan lagi di sini. Saya bagi dua soal Pantai Copacana dan Patung Cristo Redentor. Selamat menikmati.

Rio de Jeneiro tiga tahun silam. Tepatnya, Kamis 20 November 2008. Pagi itu cuaca sangat cerah. Udara pun tak terlalu panas seperti daerah tropis umumnya, serasa seperti di Jakarta. Jas dan jaket penahan dinggin ditanggalkan. Cukup pakai kaus oblong. Sehari sebelumnya kota metropolitan dan industri Brasil itu mendung dan diguyur hujan, saat Pesawat Kepresidanan Garuda Indonesia Airbus A-330 mendarat di Bandar Udara Internasioanl Galeo Antonio Carlos Jobim.

Memasuki Kota Rio de Jeneiro, orang akan terpikat pada dua hal yaitu Pantai Copacabana yang begitu mempesona dan Patung Christo Redentor, pelindung kota itu. Keduanya masyhur. Patung itu terletak di atas gunung batu Corcovado di belakang Kota Rio de Jeneiro. Dari sana, pemandangan seluruh kota terlihat indah. Lekukan, kontur bukit, dan detali-detail kota, serta garis Pantai Copacabana transparan sekali.

Keindahan alam dan karya manusia itu langsung menutup pemandangan lain Kota Rio de Jeneiro yang di beberapa sudutnya masih kumuh, dinding-dinding rumah, kantor dan papan reklame yang penuh coretan orang iseng merusak pemandangan. Begitulah Rio de Jeneiro. Pemandangan itu mungkin sekaligus menunjukkan karakter ibu kota negara-negara berkembang, seperti juga Jakarta.

Dalam cuaca yang cerah di hari itu, pemandangan Pantai Copacabana sangat indah dan mengagumkan. Dia sangat cantik dan mempesona. Semakin mempesona karena sejak pagi, orang sudah memenuhi pantai yang luas itu serta sebagaian jalan yang memang sengaja ditutup bagi kendaraan sehingga warga bisa dengan leluasa ber-jogging. Kebetulan hari itu merupakan hari libur nasional bagi rakyat Brasil.

Hampir semua orang di sepanjang pantai dengan deburan ombak yang tinggi itu telanjang. Laki-laki dari yang muda sampai yang tua hanya mengenakan celana dalam. Beberapa di antaranya mengenakan celana pendek. Sedangkan perempuan, tua muda, lenggang kangkung berjalan maupun jogging di pedestarian yang luas dan median jalan hanya mengenakan bra. Tak ada yang terusik. Banyak pula yang membawa serta binatang kesayangannya, seperti anjing.

Di bibir pantainya, ditemukan sangat banyak lapangan bola voli yang dipakai baik untuk voli pantai, voli biasa atau bahkan untuk takraw menggunakan bola kaki. Makin siang, suasana pantai makin ramai. Ribuan orang berjemur di bibir pantai, seperti yang bisa disaksikan di Pantai Kuta Bali. Tetapi bedanya, di pantai itu baik pria maupun wanita atau gabungan pria-wanita bermain voli pantai. Sangat serius.

Tak ketinggalan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga menikmati indahnya Pantai Copacabana. Dia bersama sejumlah menteri dan pasukan pengamanan kepresidenan bermain voli di bibir pantai. Serius. Sementara Ibu Ani setia memberi semangat di pinggir lapangan. Hari itu, jarak SBY, Ibu Ani dengan rombongan kunjungan Presiden SBY ke Brasil sangat dekat.

Kata Ibu Ani, Pak SBY tidak bisa lagi optimal bermain voli karena permainan yang disukai SBY itu tidak lagi direkomendasikan dokter. Pasalnya, Presiden SBY mengalami gangguan lutut.

Setelah bermain voli di bibir pantai pada pagi yang indah itu, Presiden SBY, Ibu Ani dan para menteri kembali ke hotel. Sementara tim hore, termasuk wartawan, berwisata ke Patung Cristo Rendetor. Kebetulan jadwal dua hari Presiden SBY di Rio de Jeneiro tidak padat. Smangat! [Alex Madji]

Kalau ke Ambon, Jangan Lupa ke Tulehu


Kalau Anda ke Ambon, jangan lupa ke lokasi wisata alam yang mengandalkan permandian air panas di daerah hutan yang asri. Di sana, Anda berendam di kolam air panas sambil menyeruput secangkir kopi hangat atau menikmati makanan ringan.

Wartawan Suara Pembaruan dari Ambon, Vonny Litamahuputty menceritakan, lokasi itu terletak di desa Tulehu Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) yang berjarak hanya 25 kilometer dari Kota Ambon, ibukota Provinsi Maluku. Nama lokasi itu, Permandian Air Panas Tulehu. Selain menawarkan pemandangan alam yang indah, berendam di kolam air panas yang jernih bisa membuat masyarakat lebih rileks dan segar.

Ini adalah salah satu objek wisata yang berguna untuk terapi kesehatan alami. Memanjakan dengan air jernih bersuhu hangat dan memungkinkan pengunjung berendam sepuasnya sambil menyeruput kopi atau menikmati makanan ringan dan mie instan panas yang memanjakan lidah Anda.

Selain keunikan sumber air panas yang menyembul dari bebatuan, berendam di kolam yang hangat di sekitarnya juga dipercaya bisa menyembuhkan beragam penyakit kulit dan rematik.

"Saya senang menghabiskan liburan akhir pekan di sini. Selain karena alasan sehat berendam di air panas, juga karena alamnya yang asri," ujar Johan Gerson (70), pengunjung Hatuasa di Tulehu.

Air panas Hatuasa mulai dibangun pada tahun 1993 oleh Muhammad Nahumarury, seorang punawirawan TNI. Pertama dibuka, pengunjung yang datang tidaklah banyak karena akses jalan menuju lokasi air panas berbatu dan sulit dilalui. Terlebih dihalangi kali yang sewaktu-waktu banjir jika turun hujan. Jangankan mobil, motor saja susah lewat.

Pada hari-hari biasa jumlah pengunjung berkisar 300 orang per hari. Sedangkan hari libur atau akhir pekan yakni sabtu dan minggu mencapai 600 orang

"Sejak pertama dibangun pemiliknya tahun 1993, sumber air panas Hatuasa diniatkan untuk sarana terapi kesehatan bagi mereka yang ingin menjalankan terapi kesehatan secara alami," kata Syam Adam, tokoh masyarakat desa Tulehu di Ambon.

Syam yang juga keluarga pemilik sumber air panas Hatuasa mengatakan, seiring bergulirnya waktu, sarana air panas itu meningkat fungsinya sebagai objek wisata dan terapi dengan merendam tubuh.

Mea Culpa

Tak terasa, blog ini berusia satu tahun. Tetapi dalam kurun waktu itu, blog ini mengalami tidur panjang. Tak ada nafas. Tak ada hidup. Sejak dibikin Mei 2010, praktis dia bertahan hidup selama tiga bulan. Setelah itu mati suri.

Penyebabnya tidak lain karena kealpaan pengasuhnya. Saya absen hadir setiap hari dengan cerita apa saja. Padahal, tidak sedikit cerita yang dijumpai. Lagi pula, semula saya bertekad untuk mengisi blog ini dan berbagi cerita apa saja secara rutin. Tapi itulah manusia. Selalu ada saja keterbatasan dan kelemahan serta selalu ada alasan pemaaf.

Karena itu, pada saat ini saya hanya hadir untuk mengaku dosa. Dosa karena tidur terlalu panjang dan alpa mengisi blog ini. Padahal, trafiknya lumayan dengan 415 pageview. Daripada berpanjang kata, sekali lagi saya mau mengaku dosa atau mea culpa dalam Bahasa Latin. (Alex Madji)

Senin, 26 Juli 2010

Perlu Juga Orang Bodok (4)

Kamis, 8 Juli 2010. Pagi itu saya bangun terlambat, pukul 07.30. Rumah sudah mulai kosong. Guru Mikel (kakak kandung Joni dan sepupu saya) yang tiba Rabu (7/7) malam di Wela sudah ke rumah gendang (rumah asli kami). Yang lain pun begitu. Ibu-ibu di dapur yang tadi malam berjubel juga semua sudah pindah ke sana. Setelah kumur, saya, Joni, Egi, Ino dan Bapa Lipus sarapan. Pagi ini menunya masih B2. Setelah itu saya dan Joni kembali ke rumah di Balang Lesa untuk melepas sarung dan pakai pakaian kerja. Sampai di sana juga masih disiapkan sarapan sama Levi, Sofi dan Ende. Kami pun makan lagi. Pokoknya makan terus.

Setelah itu baru kami ke kuburan melihat pemasangan batu nisan Ende Min. Yang kerjakan itu ipar kami, Titus (Emad Veni) yang menikah dengan sepupu kami Lina. Di situ ada Bapa Lipus, Egi, Vinsen Andi dan beberapa ponakan. Mereka bantu dan siap disuruh-suruh untuk membantu Titus. Sedangkan Ino dan Robert di rumah gendang.

Merasa di situ kami tidak kerja selain menonton, saya dan Joni lalu ikut ke rumah gendang. Sejumlah tamu seperti anak rona dari Wontong (keluarganya Ende Lena) sudah datang. Polus dan Bapa Lipus diminta untuk reis (menyapa dan menyambut mereka secara adat). Kami pun ikut-ikutan.

Ketika hari agak siang, truck milik Marten (Bapad Jois) yang memuat tiga ekor babi muncul di halaman rumah gendang dan membongkar muatannya di sana. Tak lama berselang, Polus dan Bapa Lipus yang biasa saya panggil Ema Tua, menyuruh Kalis, Fedis, dan Agus bunuh satu dari tiga ekor babi itu sebagai makanan tamu-tamu yang datang pada hari itu untuk acara kenduri Ende Min dan Bapa Stanis besok hari.

Tanpa menunggu terlalu lama, mereka langsung mengeksekusi. Caranya tidak seperti biasa dan ngeri. Kalis memukul kepala babi itu hingga tewas baru disembelih dengan parang. Saya sendiri tidak berani melihatnya dan lebih memilih mengurung diri di dalam rumah ketika di samping rumah gendang mereka membunuh babi itu. Baru setelah babi itu tewas, saya keluar dan membantu saudara-saudara saya ikut mengurusnya. Yang kerja paling keras ketika itu adalah Agus Abu, Fedis Bagus, Kalis Jeramat, David Siman dan anaknya Beni, Tarsi Mbuak, dan Nandus kakaknya. Saya, Joni dan Mikel juga ada di situ. Tapi praktis kami hanya membantu kerja mereka.

Babi itu kemudian dibakar menggunakan kayu bakar. Sebenarnya ada cara lain, yaitu dengan merebus air telebih dahulu sampai mendidih lalu disiram di atas babi itu untuk kemudian dibersihkan dengan parang. Tujuannya agar bulu-bulunya bisa terlepas. Tetapi cara itu tidak dipilih. Yang dipilih adalah cara membakar. Saya, Mikel dan Joni ikut memegang dan membolak balik babi naas itu.

Setelah bulunya habis, babi itu kemudian dicuci. Anak-anak kecil seperti Angelus Barung (anak teman kelas SD saya Stanis Bandur) dan Nong (anaknya sepupu saya Fedis Bagus) disuruh timba air. Setelah bersih, babi itu baru dibelah, dicincang, dan dipotong-potong menjadi daging. Keempat pahanya dipisah dari kepala, isi perut, tulang rusuk dan punggung.

Persoalan kemudian muncul karena tidak ada anak-anak yang bisa disuruh untuk membersihkan perut babi itu. Satu-satunya pemuda yang bisa disuruh di situ adalah Risan (anak sepepupu saya Vitalis Talis). Karena tidak ada anak kecil, maka saya dan Risan pun pergi membersihkan jeroan babi itu tambak ikan Bapa Lipus. Sesampai di kuburan, Leli Nimat melihat saya tengah memikul jeroan babi itu bersama Risan. Lalu dia menyuruh anak-anak muda yang ternyata menonton pemasangan batu nisan Ende Min. Di situ ada adik bungsu saya Rino. Dia pun berlari untuk mengambil alih tugas saya itu. Tetapi saya terlanjur marah dengan mereka yang tidak menampakkan batang hidungnya di rumah gendang. Begitu dia mendekat saya tempeleng. Kemudian, dia bersama Risan membawa jeroan babi itu. Saya tetap ikut, juga Bapa Lipus. Yang bersihkan itu kemudian Bapa Lipus, Risan, Rino, Saya, Relis, dan Jois (anak sulung Marten dan Leli).

Setelah selesai, kami kembali ke rumah gendang dan makan siang di sana. Kali ini menunya ikan asin dan sayur daun singkong. Setelah makan siang, saya dan Joni kembali ke Balang Lesa untuk mandi dan istirahat sebentar. Jam 17.00, kami kembali ke kuburan, menerobos hujan dengan mantel karena ada jadwal pemberkatan kuburan. Tetapi acara itu batal karena hujan dan ditunda besok pagi (9/7). Kami bertemu mereka yang dari kuburan di “Wela Pusat” perempatan ke kampung asli dan Wejang Buang.

Di situ beberapa saat sebelumnya, baru saja datang saudara-saudari kami Guru Nelis dan anaknya Prisno, Bapa-mama Rista, Ritno, dan Gio. Mereka basah kuyup karena menerobos hujan. Kami pun lalu sama-sama ke rumah Bapak Lipus. Di sana kami bersenda gurau dan bercanda. Tak lama berselang, Yuti dan suaminya Ardi datang. Tapi mereka tidak basah karena pas mereka lewat hujan berhenti. Setelah itu, saya ke rumah untuk mandi. Malam harinya kami sama-sama ke rumah gendang untuk memulai acara kenduri Ende Min dan Bapak Stanis. Malam itu anak rona dan woe semua berkumpul. Saudari-saudari kami bersama suami mereka dan ponakan-ponakan kami juga bersama suaminya.

Setelah makan malam, mereka semua menuju rumah-rumah yang sudah ditetapkan sebagai “kemah” mereka. Saya, Joni, dan Ustin yang tiba malam itu dari Denpasar kembali ke Balang Lesa jam 10 malam karena masih ngobrol dengan saudara-saudara di situ, makan babi panggang dan minum bir traktiran Robert. Sementara Joni makan sirih pinang, kebiasaan ibu-ibu dan bapak-bapak tua di kampung. Sedangkan Ino, Robert, dan Mikel tidur di situ. Amang/kesa/kakek Kala Kembus yang datang dalam keadaan mabuk tidur di situ sambil ngoceh. Malam itu saya tidur cukup nyenyak. (Bersambung)

Jumat, 23 Juli 2010

Meratap di Atas Pusara (3)



Akhirnya kami tiba juga di Wela. Di tengah rintik hujan, saya turun sebentar mengeluarkan koper dan tas untuk lebih dulu dibawa ke rumah. Adik-adik saya Yos, Rino, dan Sofi menjemput. Saya juga ikut berjalan dengan hati-hati ke rumah karena jalan becek dan licin. Setelah berpelukan dan mencium Ende dan Polus (bapak saya bernama Paulus Jalu, tetapi sejak kecil kami panggil dia Polus hingga sekarang), Sofi, Levi dan suaminya Sil serta anak mereka yang sangat cantik Gratia, saya melanjutkan perjalanan ke kuburan.

Di perempatan Wela, Bapak Lipus sudah menunggu. Mengenakan celana pendek dan payung. Begitu kami turun dari mobil, saya berpelukan dengannya di bawah rintik hujan. Dia meneteskan air mata. Saya pun demikian. Bedanya suara tidak keluar. Peristiwa itu berlangsung sebentar. Kami lalu ke kuburan Ende Min yang sangat indah dan mewah terbuat dari batu granit. Di situ baru saya menangis meraung-raung mengenang dan mengingat senyuman, tawa, dan sambutan hangat Ende Min. Tapi apa mau dikata dia sudah dimakamkan di situ.

Yah, ketika Ende Min meninggal saya tidak bisa datang karena sedang berada di India. Khabar kematiannya pun bagaikan petir menyambar di pagi buta. Istri saya, Susi kirim pesan singkat mengabarkan berita duka itu sejak 31 Januari tengah malam. Tetapi saya tidak mendengarnya karena sudah terlanjur terlelap dalam suhu dingin di Bodhgaya, negara bagian Bihar, India. Saya baru mengetahuinya pagi-pagi buta ketika saya ditelepon Susi memberitahu berita duka ini.

Ketika itu saya baru saja selesai sarapan. Begitu mendengar khabar itu, saya langsung histeris di luar hotel kelas melati. Pemandu kami bertanya apa yang terjadi. Saya memberitahukan bahwa orang yang saya cintai meninggal dunia. Ino sebenarnya sudah kirim pesan ke email, tetapi saya tidak bisa buka email di pedalaman India itu.

Saya memang sangat menyesal tidak bisa memberi penghormatan terakhir kepadanya. Terakhir saya melihat wajahnya ketika pulang kampung Juli 2009 saat adik bungsu bapak saya, Stanislaus Nami meninggal. Ketika itu saya pamit dengan dia. Saya memeluk dan menciumnya erat. Dia menangis, seperti biasa dia lakukan setiap kali kami meninggalkan rumah untuk pergi ke tempat jauh. Di tengah sesenggukan dia berujar, “mungkin ini yang terakhir kamu berjumpa dengan saya.” Waktu itu saya tidak terlalu menganggap serius kalimat itu karena hampir tiap tahun dia mengucapkannya. Tetapi kali ini rupanya benar.

Saya menangis sejadi-jadinya di atas pusaranya, persis seperti ketika hari penguburannya di situ. Ketika dia dikuburkan, saya sedang berada di Varanasi, India, baru tiba dari Bodhgaya setelah menempuh perjalanan dengan kereta khusus, Paranirvana semalam suntuk. Waktu itu, saya menangis sejadi-jadinya di kamar hotel.

Kali ini Robert, Ino, Joni, Leli, dan Bapa Lipus juga menangis. Hanya Polus dan Egi yang tidak menangis dan beberapa saudara lain yang bersama kami berdoa di situ. Tetapi kesedihan tampak juga dalam wajah mereka. Setelah berdoa, Bapa Lipus pimpin doa. Selama berdoa, Robert dan Ino terus menangis. Usai berdoa di situ, saya dan Joni pindah ke kuburan Bapak Stanis di sebelahnya yang juga bagus terbuat dari keramik warna merah dengan salib panjang di atasnya serta batu nisan bergambar Tuhan Yesus. Yang kurang hanya tidak ada nama “Stanislaus Nami”. Saya dan Joni menangis dengan suara keras di sana.

Setelah berdoa kami ke rumah Bapak Lipus. Sampai di sana sudah banyak saudara yang menunggu. Ended Beni (Rancis) juga menangis keras. Lagi-lagi mengenang Ende Min. Tidak ada yang menyapa dan menyambut kami begitu tiba di rumah. Senyum khas Ende Min sudah tiada. Pelukan hangatnya hanya tinggal kenangan. Ah, jadi meneteskan air mata lagi pas bikin tulisan ini.

Setelah bersalam-salaman dengan sanak saudara yang sudah ramai di situ, kami lagi-lagi menikmati kopi panas dan serabe buatan saudari-saudari kami di dapur. Enak dan sedap. Apalagi dinikmati dalam cuaca dingin. Setelah itu saya dan Joni ke rumah sebentar hanya untuk mandi karena seharian belum mandi, ambil jaket dan sarung. Selimutan memang lebih enak. Ternyata di rumah, Levi dan Sofi sudah siapkan makan malam. Kali ini menunya ayam kampung. Wah enak tenan. Setelah makan, kami lalu kembali ke rumah Bapak Lipus untuk makan malam bersama dan membicarakan persiapan kenduri (kelas) Ende Min dan Bapak Stanis yang dimulai tanggal 8 Juli dengan puncak pada 9 Juli. Menu makan malam di rumah Bapak Lipus itu adalah B2. Setelah makan malam, kami tidur di situ dan bangun kembali pukul 02.30 untuk menyaksikan semifinal kedua Piala Dunia 2010 antara Jerman dan Spanyol yang dimenangkan Spanyol 1-0 dengan gol tunggal bek Barcelona Charles Puyol melalui tandukan kerasnya. (Bersambung)