Rabu, 5 September 2013, saya main ke Kota Tua di Kawasan Kota, Jakarta Barat. Hanya sekedar melihat dan menikmati suasana dan situasi di kawasan tersebut. Memasuki plaza atau lapangan luas di depan "Gouverneurskantoor" atau yang kini menjadi Museum Sejarah, hal yang paling mencolok adalah deretan sepeda ontel.
Meski jadul alias jaman dulu, sepeda-sepeda ini menarik dan unik. Pertama karena mereka dicat dengan berbagai macam warna; merah, kuning, biru, pink dan sebagainya. Belum lagi sepeda-sepeda itu dilengkapi dengan topi seperti yang dipakai keluarga-keluarga kerajaan di Belanda atau Inggris. Kedua, ini adalah kendaraan "resmi" Kota Tua yang bisa dipakai turis untuk sekedar mengelilingi plaza Kota Tua atau memutari seluruh kawasan Kota Tua hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa.
Para pemilik sepeda ini dilengkapi dengan seragam rompi. Mereka juga paham sejarah Kota Tua. Paling tidak menghafal tahun berdirinya bangunan-bangunan dan situs-situs bersejarah di kawasan tersebut. Salah seorang penyewa sepeda, Ahmad, misalnya, saat menawarkan sepeda menyebutkan tahun berdirinya sejumlah situs yang akan dikunjungi dengan sepedanya, sambil menunjuk sejumlah foto.
Dia menuturkan, sepeda-sepeda itu hanya dibayar Rp 20.000 per 30 menit setelah mendapat potongan untuk berputar-putar di plaza Kota Tua tersebut. Tetapi kalau dipakai untuk mengelilingi seluruh kawasan Kota Tua, biayanya Rp 40.000 per 1,5-2 jam. Harga itu sudah termasuk diskon. Normalnya, bisa mencapai Rp 80.000 per sepeda.
Tetapi bila mengunjungi seluruh kawasan Kota Tua, kata Ahmad, seorang wisatawan juga harus didampingi seorang pemandu agar tidak tersesat. Seorang pemandu menggunakan sepeda tersendiri yang dibayar oleh turis seharga Rp 40.000. Sedangkan tenaga si pemandu dibiayai Rp 50.000 sekali jalan. Jadi, kalau mengunjungi seluruh kawasan Kota Tua menggunakan sepeda sewaan itu, minimal harus mengeluarkan anggaran Rp 130.000 (sepeda dua unit dan pemandu). Belum termasuk biaya masuk objek yang dikunjungi. Yah, lumayan mahal juga ya?
Siang itu, sejumlah pengunjung menyewa sepeda-sepeda itu untuk berputar-putar di halaman luas tersebut. Ada yang menyewa untuk sekedar berfoto dengan sepeda jadul sambil mengenakan topi bak keluarga kerajaan tanpa menggowesnya. Ada pula sepasang kekasih, yang satu mengayuh sepeda dengan terus tersenyum lebar sedangkan yang lain merekamnya dengan kamera dari kejauhan. Entah hasilnya seperti apa. Tetapi kelihatannya romantis.
Sementara PKL menjadi menarik karena tempat ini sudah ditetapkan sebagai kawasan bebas PKL pada 26 Agustus 2013. Sejak itu hingga Rabu, 4 September 2013, petugas Satpol PP masih berjaga-jaga. Keberadaan mereka sangat mencolok. Ada yang duduk-duduk sambil ngobrol dan menggoda cewek yang lewat, ada yang duduk-duduk sambil menikmati kopi panas di pos pengamanan. Ada juga yang hanya mondar-mandir.
Meski demikian, PKL tetap saja ada dan berkeliaran bebas. Di pojokan Kantor Pos di depan "Gouverneurskantoor", misalnya, ada penjual gorengan, minuman, dan rujak. Sementara PKL lainnya aktif menawarkan barang kepada para pengunjung di tengah-tengah plaza. Selain PKL, pengamen dan pemulung juga berkeliaran di sana.
Seorang penjual kopi, pop mie, rokok, dan krupuk bernama Sumiati mengaku terus berjualan, meski sudah dilarang. Dia dan teman-temannya harus main kucing-kucingan dengan petugas. "K ami tetap saja jualan, terutama untuk jualan tentengan seperti ini. Kalau ada petugas dan usir kita ya minggir dulu, nanti balik lagi," kata perempuan asal Solo itu.
Perempuan paruh baya ini sudah tiga tahun berjualan di kawasan Kota Tua. Dia pun sudah memetik hasilnya. Dengan modal awal Rp 450.000, sekarang dia sudah memiliki satu unit sepeda motor. "Sehari kalau ramai bisa bawa pulang Rp 200 ribu. Tetapi kalau pada hari-hari kerja dan sepi hanya bawa pulang gocap," ujarnya.
Menurut dia, pengunjung Kota Tua ini paling banyak terjadi pada Sabtu dan Minggu. Sedangkan hari-hari kerja tidak terlampau banyak. "Pariwisata tanpa jualan kayak gini sama juga dengan neraka. Pengunjung yang haus mau minum di mana?" tanyanya retoris.
Pemerintah DKI Jakarta harus menata keberadaan PKL ini dengan lebih baik lagi. Mereka harus menjadi bagian dari pariwisata Kota Tua. Bagusnya, kawasan Kota Tua ini ditata seperti kota-kota tua di luar negeri. Di kota-kota besar di Eropa, kota tua ini menjadi destinasi wisata. Mereka menatanya dengan sangat bagus, indah, dan cantik sehingga enak dan nyaman dikunjungi. Selain gedung-gedung bersejarahnya terawat bagus, akses ke kota tua itu juga mudah.
Di Kota Tua Warsawa, Polandia, misalnya, pedestrian jauh lebih luas dari jalan untuk kendaraan. Bahkan menjelang pusat kota tua, kendaraan tidak boleh masuk. Ini sangat melegakan dan nyaman bagi pejalan kaki.
Bila Kota Tua Jakarta dibuat seperti ini, akan sangat bagus. Ditambah dengan memperbaiki gedung-gedung yang sudah rusak dan hampir roboh agar enak dipandang, pasti akan memberi nilai tambah bagi pariwisata DKI Jakarta. (Alex Madji)
Foto-foto: Ciarciar
Tampilkan postingan dengan label Kota Tua Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Tua Jakarta. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 September 2013
Rabu, 30 Januari 2013
Mengenang Kota Tua Lisbon
Kali ini saya ingin menulis tentang Lisbon. Terinspirasi oleh pengalaman aktris The Downton Abbey, Elizabeth McGovern yang memilih Lisbon, ibukota Portugal, sebagai tempat berlibur seperti dilaporkan oleh media Inggris “The Guardian”.
Di mata dia, kota itu indah dan cantik. Sama cantiknya dengan Paris, ibukota Prancis. Bedanya Lisbon lebih berwarna dengan orang-orangnya yang jauh lebih hangat. Menurutnya, kota ini sangat sempurna sebagai sebuah tempat liburan musim semi. Lisbon, kata McGovern, lebih hangat daripada kota-kota di Inggris. Tetapi, bila pergi pada musim semi, masih perlu pakai jas hujan karena sering diguyur hujan gerimis.
Hal pertama yang dilakukannya di Lisbon adalah mengelilingi kawasan Kota Tua lalu pergi ke pelabuhan yang sangat bersejarah. Tempat-tempat lain yang perlu dilihat adalah Torre de Belem, salah satu landmark terkenal Lisbon dan Padra dos Descobrimentos. Tetapi sebelum mengelilingi kawasan Kota Tua, tanggalkan sepatu hak tinggi Anda di rumah. Sebab jalan-jalan di sana tidak beraspal mulus, melainkan batu-batu atau semacam konblok yang tertata sangat rapih, kuat, dan kokoh.
Sementara tempat minum favoritnya di kota itu adalah Pasteis de Belem sebuah bar yang penuh sejarah sambil memutar balik memori ke 150 tahun silam. McGovern sedikit diet. Siang hari dia hanya ingin menikmati secangkir kopi dan pasteis de natas (kue tart khas portugal) di Pasteis de Belem. Untuk makan malam dia memilih “dinner” di Bica do Sapato yang juga dimiliki aktor John Malkovich.
McGovern juga ingin menyaksikan Kastil Sao Jorge. Kastil yang terletak di atas bukit itu sangat indah. Bahkan, yang terindah dari semua kastil yang pernah dikunjunginya. Dari atas kastil ini seluruh lekukan Kota Lisbon bisa dinikmati. Untuk ke sana, perlu juga menikmati tram-tram tua berwarna kuning yang masih terjaga hingga kini. Meskipun harus siap-siap jalan kaki agak mendaki hingga ke kastil.
Membaca artikel ini, tiba-tiba memori saya terbang ke kota yang pernah saya datangi pada akhir Juni 2012 lalu. Jalan-jalan mengelilingi Kota Tua Lisbon hingga sepatu sobek. Saya mengunjungi beberapa tempat yang disebut McGovern tadi. Menyusuri jalan-jalan dan menikmati seni arsitektur pada bangunan-bangunan tua di kawasan itu. Juga sempat melihat pelabuhan tempat dimana dulu seluruh kekayaan alam dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia, masuk ke Portugal. Lalu berfoto ria di sebuah lapangan luas di depan pelabuhan tempat di mana kekayaan-kekayaan itu dulu diperdagangkan.
Lalu di belakangnya, menghadap ke pelabuhan, berdiri gerbang megah nan tinggi tempat kekayaan-kekayaan itu masuk ke Portugal. Di balik gerbang itu ada jalan yang sangat terkenal. Namanya “Rua Augusta” (saya pernah menulis soal ini dengan judul “Segelas Bir di Rua Augusta”). Ini tempat paling ramai dan paling asyik untuk duduk sejenak setelah lelah mengelilingi Kota Tua sambil menyeruput segelas bir dingin. Akhhh….
Dalam cuaca panas yang begitu menyengat, saya jalan kaki mendaki bukit ke Kastil Sao Jorge. Tetapi sebelum sampai di sana, sempat menikmati sejumlah bangunan kuno, terutama gereja-gereja tua berusia ratusan tahun, seperti gereja tempat kelahiran Santo Antonius Padua atau yang di Lisbon disebut Antonius dari Lisboa. Di belakangnya ada Katedral Lisbon yang luas, tetapi dengan halaman yang terbatas.
Ketika terik mata hari menyengat, saya duduk di bahwa pohon-pohon rindang di atas reruntuhan kastil Sao Jorge yang sisa-sisa kemegahan masa silam masih sangat terasa. Lalu meneropong Kota Lisbon dari ketinggian lewat tele yang disiapkan di beberapa titik dan melihat kembali jalan-jalan yang tadi dilewati.
Setelah menelisik semua sudut kastil ini, saya lalu turun menggunakan minibus yang bisa masuk hingga ke depan pagar kastil. Sedangkan tram tua berwarna kuning dengan ukuran mungil seperti disebut McGovern berhenti agak jauh dari kastil. Lalu cari makan siang di dekat Rua Augusta, sebelum menelanjangi bagian-bagian lain Kota Lisbon.
Saya hanya mau megatakan bahwa kawasan kota tua yang terawat dengan baik selalu menjadi objek wisata terkenal di berbagai kota di seluruh dunia dan ramai dikunjungi wisatawan manca negara. Tidak seperti kawasan Kota Tua di Jakarta yang terabaikan dan sangat tidak terawat. Kondisinya muram dan pucat pasti. Kotor dan berbau pula.
Akibatnya, minim dikunjungi wasatawan baik lokal, apalagi manca negara. Pemerintah Kota Jakarta harus memiliki kemauan baik untuk meniru ibukota-ibukota negara lain di dunia, termasuk Lisbon yang menjadikan kawasan kota tuanya sebagai ladang uang untuk pendapatan daerahnya. Bila terawat baik, tertata indah, rapih, bersih serta pelayanan yang prima, bukan tidak mungkin si aktris cantik Elizabeth McGovern akan datang ke Kota Tua Jakarta. (Alex Madji)
Foto diambil dari The Guardian: Tram tua berukuran kecil yang beroperasi di kawasan Kota Tua Lisbon.
Langganan:
Postingan (Atom)
