Jumat, 28 Desember 2012

Keistimewaan Dagadu Yogyakarta


Kalau Bali punya Joger, Yogyakarta memiliki Dagadu. Masing-masing menjadi bagian dari wisata di dua kota pariwisata tersebut. Setiap orang yang ke Bali, pasti menyempatkan diri mampir di Joger untuk membeli suvenir kaus khas Joger yang mendeklarasikan diri sebagai pabrik kata-kata. Begitupun kalau ke Yogyakarta. Orang-orang pasti menyempatkan diri ke Dagadu untuk mendapatkan suvenir kaus Dagadu yang asli.

Senin, 24 Desember 2012 lalu kami ke Toko Dagadu yang terletak di Jalan Pakuningrat, Yogyakarta. Menurut salah satu sales promotion girl (SPG) di toko itu, Titi, inilah toko utama semua barang merek Dagadu di Yogyakarta. Masih ada tiga toko lainnya, tetapi semuanya ada di dalam mal di kawasan Malioboro dengan ukuran lebih kecil. Sedangkan rumah produksinya, kata Titi, ada di Bantul.

Dibandingkan ketiga toko lainnya itu, dan sebagai yang utama, toko Dagadu di Pakuningrat paling ramai dan paling besar. Dia menjadi tujuan utama bagi siapa saja yang memburu kaus atau produk-produk Dagadu.

Toko ini terletak di kompleks perumahan tua. Kiri-kanan dan di depannya masih sebagai tempat hunian. Toko Dagadu itu pun masih serupa sebuah hunian. Bukan toko. Bekas-bekas kamarnya masih sangat jelas. Baik kamar tidur maupun ruang tamu. Toko ini terdiri dari beberapa kamar. Dan di setiap kamar ada berbagai jenis barang yang dijual. Semuanya produk atau merek Dagadu. Selain kaus sebagai produk utama, toko ini juga menjual produk-produk dagadu lainnya seperti tas (baik kecil maupun ransel), sandal, buku catatan atau notes, kartu, gantungan kunci, dan mug.

Dari sudut penataan kaus, tempat ini terkesan lega, tidak sumpek, dan rapih. Kaus-kaus ditata bagus dalam rak-rak besi. Kaus-kaus dalam berbagai ukuran dan warna dalam kemasan plastik disusun seperti buku di rak-rak perpustakaan. Hanya ada beberapa yang digantung pada tempat di depan rak-rak itu sebagai sampel.

Selain itu, ada juga kaus yang dibungkus dalam sebuah gulungan kertas bulat warna merah dan diberi sumbu tali. Di luarnya ditulis mercon. Ya, memang menyerupai mercon besar atau petasan. Kaus-kaus ini ditempatkan pada dinding bundar pada ruangan paling belakang yang juga menjadi pusat keramaian toko itu.


Dagadu menjadi salah satu dari keistimewaan Yogyakarta karena dia hanya berada di sana. Sama seperti Joger yang menjadi keistimewaaan Bali. Berbeda dengan Joger yang memproduksi untaian kata yang lucu, usil, geli dan mengundang orang tertawa, Dagadu lebih banyak membuat plesetan. Inilah keistimewaan Dagadu. Misalnya, YouTube diplesetkan menjadi Yog Tugu. Atau lagu "topi saya bundar" diplesetkan menjadi "kopi saya bundar" dan masih banyak lagi plesetan lainnya.

Keistimewaan lainnya, semua SPG di toko ini adalah para mahasiswa dan mahasiswi yang masih kuliah dengan jumlah lebih dari 80 orang. Mereka bekerja dalam tiga shift, dan memilih shift kerja sesuai jadwal kuliah masing-masing dengan jam kerja 4,5 jam per hari. Titi sendiri, misalnya, adalah mahasiswi Akutansi Universitas Gajah Mada yang masuk shift pagi pada Senin 24 Desember 2012 itu. Rekannya, Ani, adalah mahasiswi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Keistimewaan berikutnya adalah mereka hanya digaji Rp 400.000 per bulan. Untuk ukuran seorang mahasiswi, jumlah ini lumayan, sambil menunggu kiriman dari orang tua. Apakah ini di bawah upah minimum regional? Tentu saja ya. Tetapi kan jam kerja mereka juga tidak hanya setengah dari ketentuan pemerintah.

Keistimewaan yang lainnya lagi adalah mereka dipasang target penjualan. Setiap shift dipasang target penjualan Rp 10,5 juta per hari pada hari-hari biasa dan Rp 50 juta per hari pada akhir pekan dan pada hari-hari libur. Artinya, penghasilan toko itu sehari Rp 31,5 juta pada hari biasa dan Rp Rp 150 juta pada per hari akhir pekan dan musim liburan. Lalu berapa penghasilan sebulan toko itu? Ya, tinggal kali sendiri saja....Di atas Rp 1 miliar.

Itulah beberapa keistimewaaan Dagadu versi Ciarciar berdasarkan wawancara dengan beberapa SPG di Toko Dagadu di Jalan Pakuningrat, Yogyakarta. Nah, Anda punya pendapat lain? Silahkan ditambah pada kolom komentar di bawah artikel ini. (Alex Madji)

Keterangan foto: Situasi toko dagadu di Jalan Pakuningrat Yogyakarta oleh Alex Madji

Kamis, 27 Desember 2012

Pungli Itu Dilakukan Aparat Negara


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Negara, suatu ketika saat saya masih meliput di Istana Presiden beberapa tahun silam, pernah mengeluhkan soal adanya pungutan liar (pungli) di sepanjang jalur pantai utara (Pantura) Jawa.

"Kalau saya bisa nyamar, saya mau naik truk lewat Pantura untuk memastikan benar tidaknya informasi soal pungli di Pantura," demikian kata SBY ketika itu.

Ketika saya melintasi Pantura pada Kamis, 20 Desember 2012 lau, saya tiba-tiba teringat kata-kata Sang Presiden. Apalagi ketika menyaksikan aksi sejumlah oknum berpakaian seragam pegawai negeri sipil (PNS) di Pasar Cikampek.

Hari itu masih pagi. Baru pukul 10.00 WIB. Kami harus melintasi Pasar Cikampek, setelah Simpang Jomin ditutup sehingga semua mobil yang melewati Pantura harus merasakan kemacetan akibat kehirukpikuan di Pasar Cikampek.

Di tengah suasana kemacetan tersebut, ada tiga orang petugas dari Dinas LLAJR atau Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Rraya. Dua di antaranya sudah berumur. Kulitnya menghitam dibakar matahari dan tampak keriput. Satunya lagi masih lebih muda. Semuanya mengenakan seragam biru langit yang membuat mereka gagah.

Sayangnya, mereka bukannya mengurai kemacetan, tetapi justru memungut "pajak" dari kendaraan-kendaraan umum yang melintas. Puntutan itu sudah pasti liar alias pungli.

Persis di depan saya, ada sebuah truk molen. Saya menyaksikan seorang dari tiga petugas LLAJR tadi mengulurkan tangan ke kaca samping sopir truk molen tersebut. Sejurus kemudian, tangannya turun sambil menggenggam dan memasukkan ke saku celananya. Lumayan, dia mendapat Rp 10.000 dari truk itu.

Belum sempat saya beranjak jauh, dari kaca spion, seorang petugas lain sedang memungut "pajak" di bis yang berselang satu mobil di belakang saya. Sayang, angkanya tidak bisa saya lihat karena cukup jauh.

Selepas Cikampek, memang tidak ada lagi petugas berseragam seperti itu yang melakukan pemungutan pajak secara liar. Tetapi mereka yang meminta-minta dengan kedok pembangunan masjid cukup banyak. Bahkan ini terjadi hingga Indramayu. Jumlahnya pun tidak sedikit dan juga melibatkan kaum perempuan.

Kelompok-kelompok ini memiliki trik yang lain. Mereka sengaja memisahkan jalan dengan drum-drum agar laju kendaraan melambat. Sementara beberapa orang menyodorkan jaring kecilnya ke arah pintu mobil. Ada yang memberi pas di jaring, ada pula yang melempar sekenanya sambil jalan. Hal seperti ini juga banyak terjadi di Jakarta dengan model dan trik yang sama. Hanya saja saya tidak tahu, apakah ini termasuk pungli atau tidak.

Kalau pungli, seharusnya petugas yang berwenang menertibkan mereka paling tidak supaya jalanan tidak macet.

Sementara untuk petugas berseragam tadi, atasanya harus mengambil sikap tegas, misalnya dengan memberi sanksi terhadap anak buahnya yang nakal di lapangan. Repotnya kalau "pajak" itu disetor lagi ke atas, sehingga para pimpinan sulit mengambil tindakan atas anak buahnya yang bandel.

Padahal aksi mereka itulah yang membuat ekonomi bangsan ini berbiaya tinggi dan sangat merugikan konsumen. Sebab beban biaya-biaya tak terduga seperti itu oleh produsen dibebankan kepada konsumen dalam bentuk harga barang yang mahal.

Tetapi sampai kapankah aparat seperti ini bisa dibersihkan? Apakah tunggu sampai SBY lihat sendiri di Pantura? (Alex Madji)

Selasa, 25 Desember 2012

Merasakan Suasana Natal yang Lain


Kami sekeluarga merayakan Natal 2012 di Yogyakarta. Ini natal pertama saya di kota tersebut. Sebagai yang pertama, saya menyambutnya dengan sangat antusias. Berharap, ada sebuah suasana yang berbeda dari natal-natal sebelumnya.

Karena itu, penantian tibanya tanggal 24 Desember semakin tidak sabar. Sungguh-sungguh adventus. Begitu 24 Desember datang, kami segera bergegas ke Gereja St Antonius Padua Kota Baru untuk mengikuti misa pukul 17.00 WIB. Agar dapat tempat duduk di gereja, kami pun berangkat jam 15.00 WIB dari rumah yang terletak di Jalan Godean, tepatnya di Gamping.

Tetapi karena dalam beberapa hari terakhir Yogyakarta "muacetnya e pol" maka kami baru tiba di gereja Kota Baru pukul 16.00 WIB lewat. Bahkan hampir pukul 16.30 WIB. Beruntung, masih banyak tempat duduk di luar gedung gereja. Di dalam gereja sendiri semua kursi sudah terisi.

Ketika jam lima sore hampir tiba, semua kursi yang tersedia di dalam dan luar gerja, di bawah tenda-tenda, penuh terisi. Bahkan kursi cadangan yang ditupuk di pinggir gang di bawah tenda-tenda itu pun habis. Umat yang tak terhitung jumlahnya membeludak hingga di luar tenda di jalan-jalan sekitar Gereja.

Dan, misa Malam Natal pun tiba. Saya sedikit terganggu karena harus mengurus Carrol, putra saya yang pertama, yang tiba-tiba minta pup. Saya harus meliuk-liuk di antar begitu banyaknya orang untuk bisa sampai ke toilet. Sesampai di toilet yang handa dua itu pun ngantri. Pada saat antri itu, rombongan putra/putri atltar dan pastor lewat di belakang kami. Seperti yang saya duga, prosesi awal misa tidak bisa saya ikuti dari awal, atau ya diikuti dari dalam toilet sambil menyaksikan Carrol "ngeden".

Setelah semuanya kelar, saya balik ke tempat duduk. Untunglah, prosesi pembukaan belum sampai setengahnya. Karena niatnya memang merasakan suasana natal yang baru, saya pun mencoba khusuk mengikuti misa ini.

Dan inilah yang paling mengesankan saya. Ketika lagu Malam Kudus didendangkan, ada suasana yang magis. Bulu kuduk terasa berdiri. Mungkin karena lagu Malam Kudus ini sendiri memang menciptakan suasana yang lain dan membuat natal itu menjadi indah. Meskipun, mulai khotbah hingga misa selesai, Carrol terlelap dalam pangkuan. Tetapi saya mencoba tetap mengikuti misa dengan baik.

Walaupun khotbah pastor pada misa itu tidak terbilang luar biasa. Dalam khotbahnya, sang pastor yang sudah sangat senior mengungkapkan bahwa natal adalah perayaan kegembiraan dan perayaan cinta kasih. Pernyataan cinta bisa diwujudkan lewat macam-macam medium mulai dari cara yang paling tradisional sampai yang paling modern.

Nah, mungkin itu sebabnya, hiasan natal di dalam gereja itu syarat dengan simbol-simbol media dunia maya seperti facebook, google, twitter, blogger, blackberry, dan sebagainya. Hiasan-hiasan itu membuat gereja ini terkesan tidak tradisional dan bersahabat dengan dunia maya. Kata sang pastor, kata-kata I Love U, tidak lagi diucapkan secara langsung, tetapi melalui pesan BBM, email atau dengan model medium tercanggih sekalipun.

Beda dengan Allah. Dia tidak mengungkapkan "I Love U"-Nya dengan media-media itu, tetapi dengan menghadirkan diriNya sendiri dalam diri Yesus Kristus. Meski ada risiko Dia ditolak, tetapi Dia tetap mengirim PutraNya Yesus Kristus.

Selebihnya, misa natal berjalan seperti biasa. Dan, saya mencoba mengikuti perayaan ini dengan baik untuk merasakan suasana natal yang lain hingga akhir misa, suasana natal Yogyakarta. Akhirnya, selamat merayakan natal bagi Anda yang merayakannya. Silahkan ada menuangkan pengalaman natal Anda pada blog Anda masing-masing. (Alex Madji)

Foto Gereja Kota Baru Yogyakarta (Alex Madji)

Rabu, 19 Desember 2012

Membayangkan

Saya tiba-tiba membayangkan perjalanan jauh ke Yogyakarta pada Kamis, 20 Desember 2011 menggunakan kendaraan pribadi. Membayangkan macet yang begitu panjang di sepanjang Pantai Utara (Pantura) atau di jalur Selatan. Membayangkan pegelnya kaki karena terus menginjak kopling. Juga membayangkan cuapeknya begitu tiba di Yogyakarta.

Begitu tiba di Yogyakarta, lalu membayangkan enaknya dipijet di tempat pijet tradisional atau pijit refleksi untuk mengusir pegal-pegal dan kecapekan setelah menempuh perjalanan jauh sepanjang hari. Pada saat bersamaan membayangkan enaknya makan gudeg di kota gudeg itu, bukan di tempat lain.

Di atas itu semua, saya lalu membayangkan indahnya merayakan natal dengan orang-orang tercinta. Membayangkan keceriaan dan kegembiraan natal bersama keluarga. Bagi saya, ini adalah natal pertama di Yogyakarta, setelah selama bertahun-tahun selalu merayakan natal di Jakarta. Suasana natal yang berbeda ini mudah-mudahan memberi warna tersendiri pada natal tahun ini. Karena itu, membayangkan yang terakhir ini membuat saya bersemangat untuk menempuh perjalanan jauh besok itu.

Rencananya kami akan berangkat Kamis pagi-pagi buta untuk menghindari kemacetan tol dalam kota. Sebab kalau berangkat jam enam pagi, maka harus berebutan dengan mereka yang juga berlomba-lomba ingin tiba di kantor lebih cepat dan menghindari three in one di jalan-jalan protokol ibukota. Karena itu kami memutuskan untuk berangkat paling lambat jam 05.00 WIB. Pada saat ini, anak-anak pasti masih tidur. Tetapi kami akan angkat mereka dan memandikannya di rest area atau pas mampir sarapan di daerah Cikampek.

Kami tidak akan terburu-buru. Akan berusaha menikmati perjalanan panjang ini sambil melihat fakta yang terjadi sepanjang Pantura untuk kemudian saya tuliskan di blog ini. Rencananya, saya akan mencoba menulis fakta pungutan liar (pungli) di sepanjang Pantura, seperti dikeluhkan banyak orang selama ini. Atau apapun yang akan kami alami dan lihat besok akan saya tuangkan di blog ini, termasuk jalan Pantura yang terus diperbaiki sepanjang tahun, tetapi juga tidak pernah selesai.

Karena itu, selamat menunggu laporan perjalanan kami dalam edisi selanjutnya di Blog ini dan semmoga perjalanan kami besok lancar sehingga tetap menyajikan tulisan-tulisan ringan di blog ini bagi Anda. (Alex Madji)

Selasa, 18 Desember 2012

Paradoksal Kehidupan


Setiap hari saya melewati Jalan Pos Pengumben, Jakarta Barat. Setiap hari pula saya melihat seorang bapak tua menarik gerobaknya di antara himpitan kendaraan di pagi yang padat dan "muacet". Selalu bergerak ke arah Jalan Panjang. Dia tidak seorang diri. Selalu ditemani anak lelakinya. Kadang si bocah itu duduk manis di dalam gerobak tak beratap. Kadang mengikuti ayahnya di belakang gerobak yang sering kali masih kosong.

Sang bapak badannya ringkih. Setiap hari mengenakan kaus kaki, tanpa alas sandal, apalagi sepatu. Beberapa kali dia duduk di pinggir jalan untuk melepas lelah. Selalu bermandi peluh. Kadang menyeret kakinya sendiri pun susah. Entah dia "berkantor" di mana.

Ingin sekali bercakap dengan bapak ini bersama anaknya. Tetapi saya selalu merasa dikejar waktu pada pagi hari. Sehingga keinginan itu tak pernah terwujud. Pernah berharap menjumpainya pada sore hari ketika pulang kantor karena waktu agak longgar, tetapi selalu gagal.

Rabu, 19 Desember 2012, saya kembali berjumpa dengannya. Saya meminggirkan motor sebentar, lalu saya potret dia dengan kamera saku. Gambarnya saya pajang di sini. Tampak sekali dia lelah.

Apapun yang dia lakukan setiap hari bersama anaknya itu, si bapak ini sedang berjuang mempertahankan dan mengisi kehidupannya. Dengan segala keterbatasannya dia berjuang untuk tetap hidup, meski dengan cara yang menurut kita sangat sulit. Tetapi itulah hidup. Hidup ini memang sebuah perjuangan.

Tetapi sungguh tidak adil, ketika menemukan bahwa segelintir orang (pejabat) berfoyah-foya dan pesta pora di atas penderitaan orang-orang seperti ini. Pajak atau anggaran negara yang seharusnya diperuntukkan bagi orang-orang seperti ini, masih ditilep juga untuk menggenduti dirinya sendiri dan keluarga serta kroni-kroninya.

Mudah-mudahan para pejabat yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan lebih mengutamakan orang-orang seperti bapak tadi yang tersebar luas di seluruh Indonesia daripada mementingkan diri mereka sendiri. Tanpa menilep urang rakyat, sesungguhnya para pejabat negara itu sudah bisa hidup layak dan mewah.

Hai para aparat negara janganlah maruk. Tugas kalian adalah mensejahterakan/melayani orang-orang seperti bapak tadi. Untuk itulah kalian digaji oleh uang rakyat. Dan, bukan untuk mencuri uang rakyat, seperti yang marak terjadi saat ini. (Alex Madji)

Senin, 17 Desember 2012

Pongki Pun Terjun ke Dunia Media Massa


Pongki Barata bukan hanya seorang musikus. Tetapi dia adalah seorang musikus yang sukses. Dia pernah sukses bersama Jikustik. Kemudian dia ikut membentuk grup band "The Dance Company" yang berawakan Pongki, Nugie, Baim, dan Aryo Wahab. Grup ini pun kemudian sukses dan mendapat tempat tersendiri di pasar musik Indonesia.

Kini pria alumnus Universitas Sanata Darma Yogyakarta itu mulai merambah dunia jurnalistik. Dia mendirikan website berita musik www.kamarmusik.com. Dia ikut menulis dan meng-upload sendiri berita-beritanya.

Sebagai pendatang baru, penampilan website ini lumayan bagus dan segmented sekali. Dia fokus pada musik. Sebagai website musik, kategori-kategori atau rubrikasinya semua berkaitan dengan seni dan musik. Selain kategori berita, ada juga behind the music, CD Review, In the Studio, Local Act, video of the Month, For Sale, Calender, dan Topik Musik.

Berita-beritanya juga lumayan diupdate setiap hari. Tak terkecuali hari libur. Sabtu, 15 Desember 2012 lalu, misalnya, website ini mengupdate empat berita, termasuk tentang istri Pongki sendiri, Sophie Navita di bawah judul "Sophie Navita, Jadi Host Anugerah Planet Muzik 2012 di Singapore". Juga tentang grupnya sendiri "The Dance Company" yang beranggotakan Baim, Nugie, Pongki, dan Aryo Wahab dengan judul berita "The Dance Company Best Rock Group Smartone Nagaswara Music Awards 2012".

Hanya saja peringkat website ini di Alexa.com per 17 Desember 2012 pukul 07.32 WIB masih di posisi 43.347 di Indonesia dan 2.777.137 di dunia. Angka ini bisa naik turun, tergantung keseringan Pongki dan timnya mengupload artikel-artikel ke websitenya.

Ya, pada zaman kemajuan teknologi seperti ini dan keterbukaan informasi seperti sekarang ini, siapa pun bisa membikin media. Jangankan Pongki yang publik figur itu. Orang yang tidak dikenal sebagai siapa-siapa pun bisa mendirikan media online. Sebab mendirikan media online tidak perlu modal besar. Dengan modal Rp 125.000 untuk sewa hosting, sebuah media online sudah bisa jalan, meski dengan kapasitas terbatas.

Namun demikian, agar media itu bisa sukses, modal tetap menjadi faktor paling utama. Tanpa modal media online itu sulit dikembangkan. Dan saya kira, dengan sumber daya yang ada padanya, Pongki bisa mengembangkan media onlinenya itu ke arah yang lebih baik. Paling tidak dia sudah menunjukkan sentuhan tangan dinginnya di dunia musik.

Dia sudah sukses di dunia musik. Diharapkan kesuksesan itu juga akan menular ke dunia media yang sedang digelutinya. Apalagi segmennya tetap berkaitan dengan dunia yang digeluti Pongki yaitu dunia musik. Artinya, passion pada musik akan membawa berkah bagi Pongki. Akhirnya, selamat ya Pongki, semoga sukses menjadi pengusaha media di Indonesia menyaingin penguasa media papan atas negeri ini yang sangat hegemonik. (Alex Madji)

Foto: Pongki Barata diambil dari Rolling Stone



Jumat, 14 Desember 2012

Pakai Twitter, Paus Latah?


Paus Benediktus XVI resmi menggunakan twitter minggu lalu dengan nama akun @Pontifex. Tidak tanggung-tanggung. Sri Paus berkicau dalam delapan bahasa antara lain, Inggris, Spanyol, Portugis, Arab,Jerman, dan Italia. Tetapi akun-akun itu tidak dioperasikan sendiri oleh Paus yang teolog besar itu. Dan, seperti biasa, apa yang dilakukan Sri Paus pasti menjadi berita-berita utama media-media besar dunia dan tentunya menghebohkan.

Aktivitas Sri Paus di twitter ini sebenarnya menimbulkan pro dan kontra. Sebagian orang menilai, Paus tidak layak terjun ke twitter karena media seperti ini dimanfaatkan banyak orang untuk "menyombongkan" diri. Dikhawatirkan, kekudusan Paus sebagai wakil Tuhan di dunia akan ternoda dengan aktivitas di dunia mikroblog ini.

Tetapi yang lain lagi menyambut gembira. "Wou, benar? Selamat datang Bapa Suci. Saya bersyukur bisa mendapat berkatmu. Follow dia," tulis seseorang dalam akunnya @alexaSaclao seperti dikutip CNN.com. Yang lain lagi, @wimremes menulis, "@Pontifex selamat datang. Senang, akhirnya bisa berdiskusi secara terbuka dengan Anda mengenai perkawinan gay, kontrol kelahiran dan kesamaan jender." Bahkan ada pula yang menilai Paus Benediktus XVI ini sebagai seorang Paus yang cool dengan tampil di twitter.

Sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik seluruh dunia, akun Sri Paus langsung di-follow oleh lebih dari satu juta orang. Sebagai pendatang baru di media sosial mikroblog, itu fantastis. Meskipun, jumlah ini masih kalah dari followers Dalai Lama yang mencapai di atas 4,5 juta orang. Tetapi harus diingat bahwa pengikut akun Paus terus bertambah lebih dari 5.000 orang per jam. Puluhan ribu pengikutnya ikut me-retweet kicauan Sri Paus.

Para pengikut ini berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk dari Timur Tengah, lebih-lebih Arab Saudi. Paus pun memberi pesan dan berkat kepada mereka yang tinggal di wilayah itu, terutama bagi mereka yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di wilayah dimana gereja-gereja dinyatakan ilegal.

Sesaat setelah akun twitternya dibuat, Paus langsung berkicau, "Teman-teman yang baik, saya sangat senang bisa berkomunikasi dengan Anda melalui Twitter. Terima kasih atas tanggapannya. Saya memberkati Anda semua dari dalam lubuk hati saya." Disebutkan bahwa kata-kata ini diketik sendiri oleh Paus Benediktus XVI.

Paus kemudian mendapat begitu banyak pertanyaan dari para followersnya. Tetapi jawaban pertama Paus diberikan atas pertanyaan ini. "Bagaimana kita bisa menghayati iman kita dengan lebih baik dalam kehidupan harian kita?" Dan inilah jawaban pertamanya, "Dengan berbicara kepada Yesus dalam doa, mendengar apa yang Dia sampaikan dalam Injil dan menceri-Nya dalam mereka yang membutuhkan."

Terkadang, banyak orang iseng melontarkan pertanyaan-pertanyan "gila" kepada Sri Paus. Saya kutip saja beberapa kicauan pada Jumat, 14 Desember 2012. "@Godless Atheist: @Pontifex gunakan apple? Tidakah dia membaca tentang Adam dan Hawa?
@Andy Levi: @Pontifex apakah saya bisa bicara dengan Anda tentang isu-isu paypal?
@danguterman: @Pontifex Kenapa Allah membiarkan hal-hal seperti Holocoust atau Twitter ke Surga?
@Celebjuice (Celebrity Juice): "...Apakah @Pontifex Katolik?"

Lalu mengapa Sri Paus mau masuk ke dunia maya seperti ini? Apakah biar dinilai tidak gagap teknologi? Atau sekadar latah karena mayoritas penduduk bumi ini termasuk Dalai Lama dan Barack Obama menggunakan Twitter? Bila menyimak pernyataan juru bicara Vatikan Romo Federico Lombardi SJ, jawabannya adalah bahwa Paus tidak menggunakan twitter hanya untuk latah alias ikut arus.

Federico Lombardi menegaskan, Paus terjun di Twitter karena menyadari begitu banyak informasi dan suara yang ada di sana. "Kami ingin hadir dan memperkenal pesan yang positif dan religius di sana," kata Lombardi seperti dikutip The Guardian.

Jadi, twitter menjadi medium pewartaan. Teknolgi makin canggih, maka pewartaan juga harus mengikuti kecanggihan teknologi. Lebih dari itu, terjun ke twitter ini memperlihatkan bahwa Paus yang terkenal dengan kaku ini tidak anti teknologi. Akhirnya, selamat berkicau ria Bapa Suci. (Alex Madji)