Rabu, 12 Desember 2012

Kiamat Itu Bualan Belaka


"Kiamat" adalah kosa kata yang heboh jauh sebelum tahun 2012 ini datang. Semakin heboh ketika tanggal yang disebut-sebut sebagai hari kiamat semakin dekat. Disebutkan bahwa hari kiamat itu akan terjadi pada 21 Desember 2012, atau tinggal 9 hari lagi. Karena itulah, maka saya menulisnya di blog ini.

Tanggal 21 Desember 2012 itu didapat dari hitung-hitungan penanggalan Bangsa Maya di Meksiko. Penanggalan suku ini dimulai pada tahun 3.114 sebelum masehi. Mereka memiliki periode waktu 394 tahun yang dikenal dengan sebutan Baktuns. Nah, menurut penanggalan Bangsa Maya, Baktun ke-13 akan berakhir pada Jumat, 21 Desember 2012 mendatang.

Peramal Prancis dari abad ke-16, Nostradamus, juga mengungkapkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012. Nostradamus yang lahir di Boulougne, Perancis pada 1503 dan meninggal 1566 dalam umur 62 tahun meramal bahwa sebuah planet X atau disebut Nibiru akan menghantam laut Mediterania. Dan saat ini posisi planet X itu sejajar dengan venus dan siap menghantam bumi.

Disebutkan, pada 21 Desember 2012 nanti, sumbu bumi akan semakin miring, lalu perlahan-lahan bencana besar melanda. Gempa memecah belah bumi, mulai dari bagian bumi barat, dari Benua Amerika terus meluas hingga belahan bumi Timur, Jepang, dan kawasan Asia lainnya.

Ramalan-ramalan ini mendunia. Bukan hanya di Indonesia. Tak ayal, hal seperti ini membuat banyak orang cemas dan khawatir lalu mulai menghitung hari-hari sisa keberadaannya di muka bumi ini. Orang yang tidak kuat, bukan tidak mungkin mengalami stres dan melakukan aksi bunuh diri sebelum hari kiamat tiba.

Tidak Benar
Mungkin sadar akan kekhawatiran ini maka Vatikan pun angkat bicara. Vatikan menegaskan bahwa tidak akan terjadi kiamat pada 21 Desember 2012. Menurut Pastor Jose Funes, Direktur Observatori Vatikan dalam artikelnya di koran resmi Vatikan L'Ossevatore Romano, hitung-hitungan berdasarkan penanggalan Suku Bangsa Maya yang beredar di internet dan menyebutkan kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012, "sama sekali tidak layak didiskusikan" karena hanya isapan jempol belaka.

Para ahli juga berpendapat begitu. Para ahli sejarah, misalnya - berdasarkah hasil kajian pada balok kayu bertuliskan huruf paku yang terkait dengan akhir penanggalan Bangsa Maya yang ditemukan di reruntuhan sisa peradaban Maya di La Corona, Guatemala - menunjukkan bahwa kesimpulan kiamat pada 21 Desember 2012 itu tidak benar. La Corona adalah situs maya kuno yang sudah dieksplorasi arkeolog selama 15 tahun terakhir.

Kalaupun 21 Desember 2012 adalah Baktun ke-13, menurut penanggalan Bangsa Maya, itu tidak berarti sebagai hari kiamat. Melainkan sebuah hari yang spesial dan peringatan penting bagi Suku Maya yang tidak ada hubungannya dengan kepunahan massal atau kiamat. Ini adalah hari kedatangkan kembali pemimpin terkuat Bangsa Maya yang terkenal dengan sebutan Jaguar Paw yang kalah bertempur melawan Kerajaan Tikal pada tahun 695 M.

Para sejarahwan sebelumnya beranggapan bahwa Jaguar Paw mati atau ditangkap pada perang itu. Namun ternyata ia justru lari menunju La Corona. Kemungkinan, ia berupaya menarik simpati rakyatnya setelah kekalahan perang sejak empat tahun sebelumnya. Sebagai upaya menarik perhatian, Jaguar Paw menjuluki dirinya "Raja 13 K'aktun". K'aktun adalah bagian dari kalender Maya lainnya yang memiliki periode 7200 hari atau 20 tahun. Jaguar Paw memimpin hingga akhir masa k'aktun ke-13 pada tahun 692.

Ilmuwan John Major Jenkins yang secara khusus mempelajari Bangsa Maya Kuno juga menegaskan bahwa kiamat tidak akan terjadi pada 21 Desember 2012. "Bangsa Maya tidak pernah mengatakan bahwa kiamat akan terjadi pada 2012," ucapnya.

Bangsa Maya, kata dia, justru yakin bahwa pada 2012 ini adalah hari kelahiran kembali. Bukan kematian massal. Hal itu juga ditegaskan oleh anggota Organisasi Maya K'iche, Anibal Lukas. Menurut dia, 21 Desember 2012 ini bukanlah akhir dari dunia ini.

Baik Jenkins maupun Lukas hakul yakin bahwa hari kiamat ini sengaja disebarkan oleh Hollywood agar film mereka tentang hari kiamat itu laku di pasaran. Film "2012" produksi Hollywood diluncurkan pada 2009 silam dan dibuat berdasarkan ramalan Bangsa Maya itu. Sayangnya, penafsiran produser dan sutrada film itu terkait penanggalan Bangsa Maya salah total. Meskipun di sisi lain mereka sukses "mengguncang" dunia dengan isu kiamat ini.

Jadi, jangan percaya “mulu rica-rica” film Hollywood itu. Kiamat versi mereka hanya bualan belaka dan tidak akan terjadi. (Alex Madji dari berbagai sumber)

Foto: Ilustrasi diambil dari google.com)

Selasa, 11 Desember 2012

Natal dan Diskon Belanja Gila-gilaan


Sisi lain dari natal adalah belanja dan pesta. Mungkin terlalu berlebihan bila dikatakan natal dan belanja ibarat sekeping mata uang. Tetapi memang faktanya demikian. Coba tengok pusat-pusat perbelanjaan, terutama “Department Store”, menjelang natal ini. Semuanya penuh sesak. Orang berbondong-bondong membeli pakaian baru untuk dipakai pada hari raya natal nanti. Bahan-bahan makanan dan minuman pun distok dalam jumlah yang cukup untuk pesta natal (dan tahun baru).

Sabtu, 8 Desember 2012 lalu, saya bersama keluarga mendatangi sebuah “department store” di sebuah mal di kawasan Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Alamak, bukan main penuh sesaknya. Suasana natal memang sangat terasa di sana. Pohon natal ada di mana-mana. Lagu-lagu natal terus menggema. Terkadang saya pun ikut menyenandungkan lagu-lagu natal yang begitu akrab di telinga. Belum lagi, sebagian Sales Promotion Girls (SPG) mengenakan topi Santa Klaus membuat natal semakin semerbak.

Saya menyaksikan kesibukan para pengunjung. Mereka membolak balik tumpukan pakaian yang ada. Ada lagi yang keluar masuk kamar pas untuk mencocokan ukuran pakaian dengan tubuhnya. Setelah cocok baik ukuran, warna, dan modelnya, mereka kasih ke SPG di dekatnya untuk kemudian mendapat bon. Nanti bon ini dibawa ke kasir untuk proses pembayaran, sebelum pakaian dibawa pulang ke rumah.

Sore itu, saya hanya memilih sandal merek tertentu yang dijual dengan iming-iming "beli satu gratis satu". Harga sepasang sandal itu adalah Rp 99.900. Atau dengan "beli satu gratis satu", seharusnya harga per pasangnya adalah Rp 50.000. Karena sudah tidak punya sandal untuk bepergian, saya mengambil satu gratis satu.

Kemudian saya ke kasir. Saya mengantre di belakang seorang ibu muda. Saya bisa mengintip total belanja ibu itu, melalui struk belanjanya, pada sore tersebut. Jumlahnya bukan kepalang. Di atas satu juta rupiah. Begitu giliran saya tiba, saya menyodorkan lembaran Rp 100.000 untuk sepasang sandal dengan sepasang gratisannya.

Bayangkan kalau sebagian besar pengunjung datang dengan total belanja di atas satu juta seperti ibu di depan saya tadi. Berapa banyak duit konsumen yang disedot oleh “department-department store” dalam paket diskon gila-gilaan seperti itu? Tetapi masyarakat kita tidak peduli dengan itu. Buktinya, setiap kali natal dan lebaran tempat ini penuh sesak pengunjung, seperti diakui seorang SPG di sana. "Ramainya pas natal dan lebaran. Di luar itu sepi," ucap gadis dengan rok di atas lutut itu.

Hari raya memang identik dengan pesta. Sebelum pesta, orang berburu pakaian baru. Demikianpun menjelang natal. Keinginan dan hasrat untuk mengenakan pakain baru pada pesta natal seperti ini menjadi semacam tradisi natal. Meskipun sebenarnya ini salah kaprah.

"Tradisi" ini dimanfaatkan dengan sempurna oleh toko-toko penjual pakaian di pusat-pusat perbelanjaan. Mereka lalu membuat program diskon gila-gilaan. Semua jenis barang didiskon atau mendapat potongan hingga 70 persen. Bahkan ada trik lain yaitu beli satu gratis satu, seperti yang saya ceritakan di atas tadi. Bujuk rayu dalam bahasa diskon ini kemudian dimanfaatkan oleh konsumen. Jadi ada semacam sebuah lingkaran setan di situ.

Padahal kalau dipikir-pikir, tawaran diskon di hampir semua pusat perbelanjaan itu hanyalah sebuah trik dagang. Logika sederhananya, sesuai hukum ekonomi, menjelang hari raya seperti ini, para menjual pasti menaikkan harganya (bila perlu) dua kali lipat, menyusul meningkatnya permintaan. Kemudian mereka memberi diskon 30 hingga 70 persen dari harga yang sudah dinaikkan itu. Artinya, mereka tetap meraup untung 30-70 persen dari barang yang dijual. Tidak mungkin mereka memberi potongan 30-70 persen dari harga dasar.

Tetapi ini tidak disadari masyarakat. Konsumen hanya tergiur dan terhanyut oleh besarnya persentase diskon. Padahal angka-angka itu hanya pengelabu pembeli. Para penjual tetap meraup untuk di balik diskon gila-gilaan seperti itu. Tetapi itulah natal. Natal (dan juga lebaran) selalu diikuti oleh hal-hal seperti ini. (Alex Madji)

Foto: Ilustrasi diambil dari PressDesain/google.com

Senin, 10 Desember 2012

Membatik di Mal


Sabtu, 8 Desember 2012 malam. Kunasri, 36 tahun duduk seorang diri di atas panggung berukuran 3 x 6 meter di Plaza Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Diiringi alunan musik etnis Batak yang rancak, Kunasri tekun menarikan tangan kanannya dengan alat tulis yang terbuat dari bambu kecil dengan ujung yang sangat kecil menyerupai ujung pena atau bahkan lebih kecil lagi di atas sehelai kain putih sepanjang 2,5 meter. Sementara telapak tangan kirinya menjadi alas di balik kain tersebut. Kusnari, janda satu anak itu, sedang membantik. Uniknya, tidak diringi musik gamelan Jawa yang gemulai, tetapi dengan musik Batak.

Dia melukis seekor burung di atas kain putih yang pada bagian pinggirnya sudah digambari bunga itu. "Ini dikarang sendiri," ujarnya sambil menunjuk pada gambar burung yang sedang dilukisnya dengan cairan berwarna kecoklatan pekat.

Cairan ini sendiri berasal dari bahan bernama malam yang terbuat antara lain dari rendal. Malam ini sudah membeku dan keras. Warnanya putih dan berbentuk balok tipis. Ketika hendak mulai membatik, bahan ini dimasukkan ke dalam sebuah wajan mini yang dipanaskan di atas kompor kecil untuk dicairkan. Lelehannya yang menjadi air kemudian dicedok dengan "alat tulis batik" tadi, lalu ditiup sebelum dituangkan di atas kain, sesuai imajinasi yang ada di kepala sang pembatik.

Merealisasi imaji ini tidak mudah. Sebab tidak ada prototipe berupa goresan pensil, bolpoin atau apa pun, sebelum ditetesi cairan tersebut. Butuh kelembutan, ketenangan, kesabaran, dan ketelatenan untuk memberi detail pada gambar di atas kain. Kata Kusnari, inilah hal-hal yang paling dibutuhkan dalam membatik. "Yang paling penting itu telaten, "ucapnya di tengah suara musik yang menggelegar di mal itu.

Kusnari berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah. Dia sengaja didatangkan ke Jakarta untuk tampil pada acara "Promosi Kerajinan Tangan Nusantara" di Plaza Bintaro Jaya yang berlangsung dari 28 November sampai 9 Desember 2012. Dia membatik di mal.

Sudah tiga hari dia berada di Jakarta untuk mengikuti acara tersebut. Selama mengikuti acara ini, saban hari, dia berada di atas panggung itu dari pukul 09.00 sampai pukul 21.00 WIB. Kain yang ada di tangannya itu sudah digambarinya sejak Jumat, 6 Desember 2012 dan baru kelar, Minggu, 9 Desember 2012, hari terakhir acara tersebut. "Satu kain sarung seperti ini biasanya selesai dalam tiga hari," ujarnya.

Di depannya ada satu keranjang berisi belasan gulungan kain batik tulis untuk baju, baik pria maupun wanita. Harganya Rp 200.000 per lembar. Sayang, pada Sabtu itu, hingga mal hendak ditutup, belum satu pun yang laku. Beberapa pengunjung datang sekedar menanyakan harganya, tetapi kemudian berlalu. "Belum ada yang laku," ujarnya lirih.

Kusnari adalah pembatik khas batik Pekalongan, Jawa Tengah. Di tanah kelahirannya, Kusnari adalah seorang pekerja borongan. Kata dia, di daerah ini ada juga pembatik yang diupah harian. "Kalau saya, kerja borongan. Di Pekalongan bosnya banyak dan pasti selalu ada pekerjaan. Batik tidak akan mati," ujarnya optimistis.

Ya, batik tidak akan ada matinya. Sebab dia menjadi tren mode masa kini di Indonesia sejak ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia yang dilindungi. Malah sekarang belum gaul kalau belum pakai batik. Maka patutlah Kusnari percaya diri bahwa pembatik seperti dia tetap akan berpenghasilan untuk menghidupi keluarganya. Semoga sukses terus ya Mbak. (Alex Madji)

Keterangan Foto: Kunasri sedang membatik di Plaza Bintaro Jaya, Tangerang Selatan (Foto: Alex Madji)

Jumat, 07 Desember 2012

Bola Salju Itu Sudah Sampai di Istana


Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan korupsi pengadaan sarana proyek stadion olahraga Hambalang di Sentul, Bogor. Kamis, 6 Desember 2012, melalui surat bernomor R-569/01-23/12/2012, KPK sudah mencekal Andi Mallarangeng bepergian ke luar negeri.

Bukan hanya dia. Adiknya yang tercinta, Zulkarnaen "Choel" Mallarangeng juga dicekal. Tidak boleh bepergian keluar negeri. Pemimpin FOX, lembaga konsultan politik ini, memang masih sebagai saksi dalam kasus serupa. Tetapi bukan tidak mungkin dia akan mengalami nasib yang sama dengan sang abang.

Tetapi saya tidak ingin menulis tentang kasus yang mereka alami. Saya hanya mau menulis tentang kiprah Andi Mallarangeng selama delapan tahun terakhir, terutama sejak masuk ke Istana Kepresidenan pada 2004.

Begini. Andi Mallarangeng adalah seorang yang bintangnya melesat bak meteor. Dia semula adalah seorang intelektual pegawai negeri sipil, yang nyambi sebagai pengamat politik. Yang terakhir ini membuat dia menjadi pesohor. Sebagai analis politik dia cukup disegani. Setelah puas dengan dunia amat mengamati, Andi mendirikan partai politik bersama seniornya Ryaas Rasyid. Mereka membidani lahirnya Partai Demokrasi Kebangsaan. Pada saat bersamaan dia mengundurkan diri dari PNS. Tetapi dia kemudian keluar dari partai itu ketika faksi Ryaas Rasyid mendukung Jenderal TNI (Purn) Wiranto sebagai calon presiden (capres) pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2004.

Sejak itu dia kembali menjadi seorang profesional. Nah, setelah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih sebagai presiden dalam pemilu delapan tahun silam itu, Andi Alfian Mallarangeng diangkat sebagai juru bicara kepresidenan untuk masalah dalam negeri selama lima tahun. Sementara untuk masalah luar negeri, jubirnya adalah Dino Patti Djalal, seorang birokrat dari Departemen Luar Negeri.

Selama menjabat sebagai juru bicara kepresidenan, Andi Alfian Mallarangeng menjadi orang yang sangat dekat dengan Presiden SBY dan keluarganya. Kedekatan itu tidak terlepas dari kegesitan Andi menangkis berbagai kritikan para lawan politik bosnya. Dia memang pandai bermain kata-kata dan “menguasai” media massa. Terkadang dia berbicara tanpa berkonsultasi dengan Presiden SBY terlebih dahulu. Tetapi dengan begitu dia menjadi sangat dipercaya SBY.

Kedekatan Andi dengan SBY tidak hanya sebatas di Istana Kepresidenan. Tetapi juga di Cikeas, kediaman pribadi Presiden SBY, yang sering disebut Istana Cikeas. Ya, Andi memang orang yang selalu berada tidak jauh dari SBY. Bisa dikatakan, di mana pun Presiden SBY berada, di situ ada Andi. Bahkan, Andi menjadi orang yang berada pada lingkarang paling dalam keluarga SBY.

Ke Demokrat
Dalam kedekatan seperti itu, Andi kemudian kembali masuk partai politik. Dia memilih Partai Demokrat, partai yang didirikan oleh Keluarga SBY. Di partai itu, dia bukan hanya anggota biasa, tetapi memiliki jabatan. Sebagai petinggi partai, pada Pemilu 2009, Andi menjadi salah satu pemain kunci. Dia menjadi salah satu juru kampanye partai itu dan untuk pasangan capres SBY-Boediono.

Sebagai pendukung SBY, dia pandai bermain kata-kata untuk melemahkan posisi lawan politik bosnya. Sebagai contoh saja. Dalam sebuah kampanye untuk pasangan SBY-Boediono di Makassar, tanah kelahirannya, dia membuat pernyataan yang membikin orang Makassar marah. Ketika itu, dia menegaskan bahwa untuk saat ini (2009) orang luar Jawa belum layak menjadi Presiden. Ketika itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang sangat disegani di wilayah itu maju sebagai capres Partai Golkar. Maka tak ayal, Andi menjadi musuh bersama orang Makassar. Bahkan dia dilarang untuk kembali ke tanah kelahirannya. Pernyataan itu juga membuat hubungannya dengan JK tegang.

Kedekatan Andi dengan SBY dan langsung masuk dalam lingkaran inti Partai demokrat juga memberi berkah bagi adiknya Choel Mallarangeng. Seluruh proyek kampanye Partai Demokrat dan pasangan SBY-Boediono digarap oleh FOX, lembaga milik tiga bersaudara, Andi, Rizal, dan Choel Mallarangeng, dengan nahkoda Choel dan Rizal Mallarangeng. Fox adalah konsultan tunggal politik Partai Demokrat. Mereka mengurus segala macam hal pada saat kampanye Partai Demokrat dan SBY-Budiono pada Pemilu 2009. Hal ini membuat Choel dengan mudah keluar masuk Istana Presiden dengan mobil BMW hitamnya bernomor polisi B 1 FOX.

Begitu pasangan SBY-Boediono menang pada Pilpres 2009, karier politik Andi Mallarangeng semakin melejit. Dia diangkat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga. Sementara rekannya, sesama juru bicara Presiden, Dino Patti Djalal diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.

Tetapi karier politik yang gemilang itu dan setelah tiga tahun menjadi menteri, kini terhenti sementara karena Andi diduga terlibat dalam skandal korupsi proyek fasilitas olahraga Hambalang. Adiknya Choel Mallarangeng juga tergelincir dalam kasus yang sama. Kakak beradik ini memang selalu akur. Mereka berkibar bersama, dan kini mereka sama-sama tergelincir.

Menyusul kasus ini, Andi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga terhitung 7 Desember 2012. Presiden SBY sudah mengabulkan permintaan tersebut. Langkah ksatria ini patut diacungi jempol. Pasalnya, dia adalah menteri pertama yang langsung mengundurkan diri setelah terjerat kasus hukum. Sikap ini patut dicontoh oleh menteri-menteri lain ke depan yang terlilit kasus korupsi.

Bukan hanya Andi yang diberi hormat. Langkah KPK menetapkan Andi Mallarangeng sebagai tersangka juga patut dipuji. Ini adalah langkah paling berani. Sebab mereka sudah membidik orang yang berada pada lingkaran paling dalam keluarga Cikeas? Nah, apakah KPK akan masuk lebih dalam lagi? Kita tunggu saja langkah KPK selanjutnya. (Alex Madji)

Foto: Andi Mallarangeng


Rabu, 05 Desember 2012

Wajah Sepakbola Kita yang Semakin Buruk


Wajah sepakbola Indonesia bagai ditampar bertubi-tubi. Setelah gagal di Piala AFF 2012, berita mengejutkan datang dari Solo. Seorang pemain asing yang merumput di Indonesia meninggal dengan cerita mengenaskan. Diego Mandieta namanya. Dia datang jauh-jauh dari Paraguay untuk mengadu nasib di negeri ini. Sayang dia menemukan nasib sial di tanah ini.

Mandieta yang membela Persis Solo tidak mendapat gaji selama empat bulan dari klubnya. Pada saat krisis keuangan seperti itu, dia menderita sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Bagai sudah jatuh tertimpa tangga pula, Mandieta pun tidak mampu membayar rumah sakit. Terakhir, dia menghembuskan nafasnya di rumah sakit pada Selasa, 4 Desember 2012 dini hari dengan menyisakan utang di rumah sakit tempat dia dirawat.

Kerinduan Mandieta untuk berjumpa dengan mamanya pada kesempatan terakhir pun pupus. Bahkan untuk menghembuskan nafas di atas pangkuan sang bunda di tanah kelahirannya tidak terwujud karena Sang Pemilik kehidupan sudah lebih dulu memanggilnya.

Peristiwa ini sungguh-sungguh menampilkan wajah buruk sepakbola Indonesia. Klub yang memakai jasanya tidak bertanggung jawab. Mereka menelantarkan pemainnya dengan tidak membayar hak-hak mereka. Akibatnya, Mendieta meninggal dengan cara mengenaskan.

Seharusnya, manajemen Persis Solo bisa dituntut secara hukum karena kelalaian mereka menyebabkan Mandieta kehilangan nyawa. Kalau saja mereka membayar hak-haknya sebagai pemain, mungkin Mandieta tidak mengalami nasib senaas ini. Atau kalaupun memang sudah ajalnya, mungkin, seperti keinginan dan kerinduan mendalamnya, dia menghembuskan nafasnya dalam dekapan sang mama.

Pada saat bersamaan, kematian Mandieta adalah tamparan sangat telak pada wajah PSSI, otoritas sepakbola tertinggi. Kasus ini membuat wajah PSSI yang sudah kusam itu, bertambah buruk. Kalau mereka tegas dan kalau organisasinya berjalan sehat, seharusnya mereka bisa memberi sanksi kepada klub-klub yang tidak bisa memenuhi kewajiban para pemainnya, termasuk Persis Solo. Di luar negeri, organisasi semacam ini adalah otoritas yang berwenang melempar sebuah klub yang manjemennya buruk, termasuk klub yang bermasalah keuangan, ke divisi di bawahnya. Atau bahkan mencoretnya sama sekali dari kompetisi sepakbola negaranya, kalau memang sungguh tidak layak.

Dalam kasus ini, PSSI sudah lalai. Maka pantaslah dia bertanggung jawab. Bentuk tanggung jawabnya sekarang adalah meminta maaf kepada keluarga korban di Paraguay karena atas kelalaiannya menyebabkan anggota keluarganya meninggal di Indonesia. PSSI juga meminta maaf kepada federasi sepakbola Paraguay atau pemerintah Paraguay atas kegagalannya "melindungi" warga negara Paraguay di Indonesia.

Wujudnya, mungkin sederhana. Yaitu membiayai pengiriman jenasah Mandieta ke keluarganya di Paraguay agar keluarganya bisa menatap wajah Mandieta yang sudah terbujur kaku untuk terakhir kalinya. Bila perlu membiayai segala urusan penguburan hingga selesai. Bila PSSI melakukan ini, mungkin sedikit bisa mengurangi sembab pada wajahnya akibat keterpurukan sepakbola negara ini yang begitu memilukan. (Alex Madji)

Selasa, 04 Desember 2012

(Ng)Aceng Fikri


Bupati Garut Aceng HM Fikri tiba-tiba saja menggemparkan publik. Dia hadir dengan berita menghebohkan. Isinya, lelaki paruh baya ini menceraikan seorang perempuan muda belia berusia 18 tahun bernama Fani Octora yang baru dinikahi dalam waktu empat hari secara siri.

Berita ini tentu saja sudah membuat publik marah. Lebih marah lagi ketika mendengar alasan dia menceraikan gadis malang yang baru lulus dari bangku sekolah menengah atas itu. Aceng mengungkapkan bahwa dia menemukan fakta yang berbeda dari yang diceritakan sebelumnya tentang perempuan itu.

“Pas habis nikah, ternyata apa yang saya harapkan tidak sesuai. Sumpah demi Allah, demi Rasulullah. Saya kan duda, pernah punya istri; yang namanya perawan itu dipakai lalu berdarah, terlepas dengan cara yang baik, saya tidak tahu itu. Tapi ini, dari ekspresi seperti ia orang yang sudah terbiasa,” ujar Aceng, seperti dikutip dari berbagai media massa.

Pernyataan ini semakin membuat publik marah. Kasarnya, dia sudah "memakai" FO, tetapi dia mencampakan dan merandahnya. Sungguh ibarat sebuah pepatah, habis manis sepah dibuang. Itulah yang dialami FO akibat kelakuan Aceng Fikri yang tidak bermoral ini.

Lebih keji lagi kalau memperhatikan pernyataannya ini. “Karena nikah itu kan perdata, perikatan, akad. Jadi kalau dianalogikan, tidak ada bedanya dengan jual beli. (Janjinya), Wah ini barang dipakainya enak, performanya banyak orang suka. Tapi pas saya beli ternyata, loh ininya kurang, tidak sesuai dengan speknya. Saya dari malam pertama saja, sudah minta ampun, sudah tidak kuat.”

Dia menganalogikan perkawinan dengan FO itu seperti membeli barang. Dia tidak memperlakukan FO sebagai manusia, tetapi sebagai barang yang bisa dicoba/ditest dan kalau ternyata cacat dapat dikembalikan ke "toko" karena memiliki garansi untuk jangka waktu tertentu. Pada titik ini, Aceng sesungguhnya sudah merendahkan martabat manusia seorang FO. Dan, ini adalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang serius.

Karena itu, Aceng Fikri seharusnya tidak saja diberi sanksi politis karena melanggar etika/moral seorang pejabat publik, tetapi juga diadili karena melanggar HAM. Komnas Perempuan dan Perlindungan Anak, dalam dialog di sebuah stasiun televisi, sudah mengidentifikasi bahwa Aceng sebenarnya sudah melakukan atau minimal terlibat dalam perdagangan perempuan. Ini pintu masuk bagi aparat kepolisian untuk memeriksa Aceng Fikri dan kemudian mengadilinya.

Tanpa dijerat secara hukum, bukan tidak mungkin ada korban lain setelah FO akibat ulah (Ng)Aceng Fikri. Di akhir tulisan ini, pesan artis Addie MS melaui akun twitternya @addiems patut disimak. “Bupati, seperti pemimpin masyarakat lainnya, harusnya melindungi dan mengayomi masyarakatnya. Bukan “memakai”nya lalu dibuang,” kicau Addie MS. (Alex Madji)


Senin, 03 Desember 2012

Wahana Air yang Tidak Manusiawi


Wahana air menjadi daya tarik tersendiri bagi warga di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Itu sebabnya berbagai kompleks perumahan di kawasan ini berlomba-lomba melengkapi diri dengan fasilitas tersebut, sebagai salah satu daya tarik. Di Cikarang, misalnya, ada Waterboom Cikarang yang terletak di kawasan Lippo Cikarang. Di Bumi Serpong Damai terdapat Ocean Park. Pantai Indah Kapuk memiliki Water Bom Pantai Indah Kapuk. Atau di Bogor ada The Jungle. Nama-nama ini hanya sekedar contoh. Tempat-tempat ini menjadi tujuan wisata warga ibukota pada akhir pekan dan hari-hari libur.

Sabtu, 1 Desember 2012 lalu, kami sekeluarga memilih berekreasi wahana air The Jungle yang terletak di kompleks perumahan Nirwana, Bogor, Jawa Barat. Sebenarnya, ini bukan yang pertama kami ke tempat tersebut. Malahan, ketika baru dibuka dan masih gersang, kami sudah ke sana. Setelahnya, kami masih beberapa kali mengunjungi tempat tersebut, termasuk pada Sabtu lalu itu.

Pada kunjungan kali ini, kami menyaksikan pemandangan yang berbeda. Selain pengunjungnya yang semakin banyak, tempatnya juga semakin hijau dan teduh dengan rindangnya pepohonan yang ada. Pemandangan juga cukup bervariasi karena selain bermain air, kita juga bisa menyaksikan "kolam terapung" di mana terdapat ikan-ikan besar yang dipelihara. Atau lebih tepat sebenarnya akuarium besar, meski tidak segede Sea World. Variasi lainnya di tempat ini adalah kicaun burung-burung peliharaan yang terletak di tengah-tengah wahana tersebut.

Seiring dengan makin menariknya tempat ini, jumlah pengunjung pun membeludak. Terutama pada akhir pekan. Sayangnya, hal ini tidak sepadan dengan luas areal yang tidak bertambah. Akibatnya, sebagai tempat rekreasi, tempat ini menjadi tidak manusiawai dan tidak nyaman lagi.

Pada Sabtu lalu itu, di The Jungle nyaris tidak ada tempat yang kosong. Mulai dari pinggir kolam hingga ke kamar mandi semua terisi manusia. Di kolam renang baik untuk anak-anak maupun dewasa, sulit bergerak bebas, saking padatnya manusia.

Yang datang ke tempat ini bukan hanya orang-per orangan. Pada saati itu, sejumlah perusahaan juga menyelenggarakan family gathering di sini. Minimal ada empat perusahaan yang menggelar family gathering, yakni Indofood, BNI dan dua perusahaan lainnya. Belum lagi kelompok-kelompok lain yang dalam jumlah kecil. Maka bisa di mengerti kalau jumlah manusia di tempat itu sangat banyak dan membuat kita sulit bergerak. Kenyataan seperti ini mungkin tidak hanya dialami The Jungle. Wahana air di tempat-tempat lain sangat mungkin mengalami hal serupa.

Akibatnya, rekreasi yang tadinya untuk bersenang-senang akhirnya tidak mencapai sasaran. Yang terjadi malah pusing kepala karena melihat begitu banyak manusia. Rekreasi menjadi tidak terlalu optimal dan tidak nikmat. Sebab bergerak saja susah. Singkatnya, rekreasi itu menjadi sungguh tidak nyaman.

Hal itu seharusnya bisa diatasi kalau saja pihak pengelola membatasi jumlah maksimal pegunjung agar tempat tersebut tetap manusiawi sebagai tempat rekreasi. Kenyamanan konsumen seharusnya menjadi pertimbangan utama. Bukan jumlah rupiah yang masuk ke kantong pengelola. Bila melihat fakta seperti itu, rasanya membeli karcis masuk The Jungle seharga Rp 85.000 pada akhir pekan menjadi percuma. Sebab rekreasinya menjadi tidak optimal.

Diharapkan ke depan tempat-tempat seperti ini dikelola dengan lebih bagus dan mementingkan kenyamanan konsumen agar kebutuhan mereka benar-benar terpenuhi. Jangan sampai, pengelola hanya menginginkan duit dari konsumen, tetapi tidak memperhatikan kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan konsumen. Padahal mereka sudah membayar cukup mahal. Semoga ke depan ada perbaikan di wahana-wahana air seperti ini di Jabodetabek agar tetap enak dikunjungi. (Alex Madji)

Foto diambil dari Radar Bogor