Sabtu, 08 September 2012
Bernostalgia di KPU
Jumat, 7 September 2012, saya ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ada janjian dengan teman liputan pemilu 2004 di sana. Kebetulan hari itu adalah hari terakhir pendaftaran partai politik peserta pemilu 2014. Kami berdua ingin melihat suasana pendaftaran yang ditutup pada pukul 16.00 WIB itu.
Saya tidak secara khusus menulis soal pendaftaran tersebut. Cukuplah itu menjadi konsumsi media-media mainstream. Saya hanya menceritakan soal lain, tentang pertemuan dengan kawan-kawan lama.
Saya tiba di KPU di Jalan Imam Bonjol Jakarta Pusat itu sekitar pukul 17.00 WIB. Teman saya sudah tiba duluan. Melalui pesan BBM (Blacberry Messanger), dia menanyakan posisi. Ketika saya jawab, sudah berada di KPU, dia langsung memberitahu posisinya. "Di lantai dua," tulisnya singkat.
Saya segera ke sana. Tidak ada pemeriksaan di pintu masuk, meski ada petugas dari pengamanan dalam KPU yang berseragam safari hitam berdiri di depan pintu. Sementara di halaman KPU didirikan sebuah tenda besar yang di bawahnya dideretkan kursi-kursi merah bagi para pendukung partai politik yang mengantar berkas ke gedung penyelenggara pemilu tersebut.
Di dekat gerbang masuk, di samping tenda itu, berjejer mobil-mobil dinas anggota KPU. Semuanya seragam. Mitsubhisi Pajero berwarna hitam. Pada Pemilu 2004, setiap anggota masing-masing memilih merek mobil dinasnya. Alhasil, berbagai macam mobil ada. Ada Nissan Terano, ada Toyota Altis, ada Honda Civic, ada Toyota Camry dan beberapa merek lagi.
Begitu tiba di lantai dua, masih ada banyak orang di sana. Termasuk wartawan. Orang-orang partai masih hilir mudik. Lebih sibuk lagi di ruang pertemuan utama (aula) di lantai itu itu, tempat pendaftaran partai politik. Para pengurus partai sibuk mendorong kontainer (kotak-kotak plastik) berisi dokumen-dokumen persyaratan partai politik peserta pemilu. Yang lain sibuk membolak balik dokumen-dokumen di hadapan petugas KPU yang dibagi ke dalam 10 tim.
Kontainer-kontainer milik Partai Amanat Nasional teronggok rapih di tengah ruangan. Sementara kontainer-kontainer Partai Demokrat sudah dipinggirkan ke sudut kiri agak ke depan dari pintu masuk. Begitu juga kontainer-kontainer PKPI, partainya Sutiyoso, tersusun rapih sebelah kanan pintu masuk. Sedangkan di atas panggung, dokumen-dokumen PKB sedang dibongkar bangkir. Di dekat pintu masuk sebelah kiri, Partai Keadilan juga memperlihatkan kelengkapan dokumennya. Sempat terjadi sedikit kericuhan terkait partai ini karena terjadi kepengurusan ganda. Tim KPU hanya menerima partai politik berbadan hukum yang diakui oleh Kementerian Hukum dan HAM. Akibatnya, ribut. Pihak yang tidak diakui Kemkum HAM marah. Untung itu hanya sebentar. Tidak berbuntut panjang.
Di sampingnya, ada meja yang menerima pendaftaran Partai Bulan Bintang. Di sampingnya lagi ada Partai PPN. Partai hasil penggabungan beberapa partai ini membawa banyak sekalai kontainer, tetapi dari luar tampak jelas terlihat bahwa satu kontainer hanya berisi satu bundel. Di sebelah kanan dari pintu masuk, petugas memeriksa kelengkapan Partai Hanura, persis di samping tumpukan kontainer PKP Indonesia.
Sementara itu anggota KPU yang merupakan teman lama, Hadar Navis Gumay tampak sibuk. Begitupun anggota KPU lainnya yang mantan anggota KPU DKI Jakarta, Juri Ardiantoro. Tak kalah sibuknya, Wakil Sekjen KPU Asrudi Trijono yang terus mengawasi kerja anak buahnya, meski dalam keadaan pincang.
Hadar tidak banyak bicara, seperti ketika masih aktif Cetro. Meski tetap ramah dalam bertegur sapa. Saat ditanya dia hanya berujar singkat, "Ada 46 partai yang mendaftar. Tetapi kami double check," ujarnya. Setelah itu dia tenggelam dalam kesibukannya.
Tidak ada pembicaraan lain. Selebihnya saya dan teman saya bercengkrama dengan staf KPU yang, ternya masih ingat satu sama lain. Dari mereka, saya mendapat cerita bahwa perilaku partai ini tidak berbeda dari pemilu ke pemilu. Selalu menunggu detik-detik terakhir dalam mendaftar.
Memang ada sedikit perbedaam. Pada 2004, pendaftaran seperti ini ditutup pukul 00.00. Jadi hingga tengah malam kantor KPU itu bagai pasar malam. Ramai dan hiruk pikuk. Sekarang penutupannya lebih sore. Tetapi tetap saja. Partai-partai itu datang dan mendaftar pada detik-detik terakhir. Tentu saja ini menyulitkan petugas. Belum lagi kalau dokumennya belum lengkap.
Situasi sore itu cukup untuk mengenang kembali liputan pemilu 2004 dan bertemu teman-teman lama yang masih setia mengurus pemilu. Meskipun produk pemilu itu tidak pernah membuat negara ini semakin baik. (Alex Madji)
Pengurus partai politik dan staf KPU sibuk memeriksa kelengkapan dokumen partai politik peserta pemilu di kantor KPU, Jumat, 7 September 2012. (Foto: Alex Madji)
Jumat, 07 September 2012
Diplomat Perlu Cepat Tanggap
August Parengkuan sudah ditunjuk dan dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Duta Besar Luar Biasa dan berkuasa penuh Indonesia untuk Italia, Malta, dan Siprus serta perwakilan tetap Indonesia untuk lembaga Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang berbasis di Roma pada Senin, 3 September 2012 lalu di Istana Negara Jakarta.
Pengangkatan ini menghantar August ke sebuah jenjang karier yang baru sama sekali dari dunia yang digelutinya selama ini. Maklum, sebagian besar hidup August habis di dunia jurnalistik. Sebagai jurnalis, August sudah tentu memiliki pengetahuan yang luas dan paham banyak hal, termasuk untuk urusan diplomatik. Meskipun, dia bukan birokrat dan diplomat karir. Seorang jurnalis adalah orang yang terus belajar.
August Parengkuan adalah wartawan Kompas yang menjalan profesi itu hingga pensiun. Bahkan saking pentingnya August, setelah pensiun pun tetap “dipakai”. Dia adalah wartawan generasi pertama Kompas. Kesetiaan dia pada profesi tersebut membuat jaringannya begitu luas. Hal inilah yang pada akhirnya menghantar dia ke Roma.
August memang bukan wartawan pertama yang ditunjuk sebagai Duta Besar. Sebelumnya juga ada beberapa wartawan yang memegang jabatan tersebut, seperti Sabam Pandapotan Siagian dari Suara Pembaruan dan The Jakarta Post yang pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Australia periode 1967-1973. Atau Hazairin Pohan, SH. MA, mantan wartawan harian Waspada Medan yang menjadi Duta Besar Indonesia Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Polandia pada 2008 lalu.
Setelah dilantik SBY sebagai Duta Besar, August Parengkuan kebanjiran ucapan selamat. Di salah satu grup milis yang diikutinya, August aktif menjawab semua ucapan selamat dari sesama rekan wartawan dan penulis. Meskipun dengan jawaban-jawaban pendek, August tetap memerlihatkan sisi kewartawanannya yang cepat tanggap.
Saya sampaikan segelintir contoh. "Terima kasih Romo Markus atas perhatiannya. Saya sudah berkomunikasi dengan Pak Budiarman Bahar, Dubes RI untuk Vatican. Sampai jumpa di Roma awal Oktober. Tuhan Yesus memberkati," tulis August Parengkuan dalam sebuah milis wartawan menanggapi ucapan selamat dari seorang pastor yang bekerja di Roma.
Hari lain, August menanggapi ucapan seorang pastor dari Kalimantan dengan kalimat singkat ini, "Terima kasih Romo Bangun." Hari lain lagi, August merangkum ucapan terima kasih anggota milis dengan menyebut nama mereka satu per satu.
Bahkan dia menanggapi masukan peserta milis soal usulan perlunya makin banyak tenaga kerja Indonesia dari NTT pergi ke Italia. Dengan kelakar, pria berkumis tebal ini menulis bahwa dia akan memberitahu Perdana Menteri Italia untuk menerima TKL (tenaga kerja laki-laki).
Anggota milis lain sedikit usil mengusulkan agar kumisnya dicukur sebelum ke Roma. Dengan enteng pria keturunan Manado itu menjawab bahwa kumis tetap akan dipertahankan. Begitu juga ketika seorang rekan meminta supaya diajak ke Roma. "Ajakan itu (sebut nama wartawannya) boleh juga," tulis August.
Masih banyak jawaban lain yang diberikan seorang August Parengkuan. Tetapi semua itu memperlihatkan sisi jurnalis yang begitu melekat pada dirinya yaitu cepat tanggap. Tidak cuek.
Sisi ini penting, terutama dalam menyelesaikan berbagai masalah dan dalam menjalankan tugas. Bahkan sukses tidaknya sebuah tugas ditentukan oleh seberapa tanggap seseorang pada tugas dan tanggung jawabnya. Nah semoga sisi ini tetap melekat pada saat secara resmi bertugas di Roma. Cepat tanggap terhadap berbagai persoalan dan berdiplomasi dengan hubungan baik kedua negara dan tentu saja kebaikan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. (Alex Madji)
Kamis, 06 September 2012
Wae Rebo, Wisata Keaslian Alam
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membidangi urusan budaya dan ilmu pengetahuan atau UNESCO memberi penghargaan, “Award of Excellence”, terhadap rumah tradisional Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, Mbaru Niang yang ada di Wae Rebo. Penghargaan itu diberikan dalam UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation 2012 di Bangkok, Selasa 27 Agustus 2012 sebagai bentuk penghargaan terhadap konservasi arsitektural. Berita ini sudah diberitakan www.theindonesianway.com pada Rabu 28 Agustus 2012 dan Kompas.com sehari kemudian.
Berita gembira ini memancing diskusi hangat di mailing list warga Manggarai: forum_lonto_leok_nuca_lale@yahoogroups.com. Dalam diskusi itu semua sepakat bahwa Wae Rebo yang sudah lama menjadi objek wisata perlu dikembangkan lebih bagus agar makin banyak wisatawan berkunjung ke sana dan rakyat setempat makin sejahtera. Tetapi yang menjadi soal adalah caranya.
Wae Rebo, adalah sebuah kampung kecil yang terletak di Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, NTT. Dia dapat dijangkau dengan kendaraan dari Labuan Bajo, Ibukota Kabupaten Manggarai Barat, menuju Kampung Denge, selama empat jam. Pengunjung bisa nginap dulu di sini, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kampung Wae Rebo dengan berjalan kaki selama tiga sampai tiga setengah jam, melewati Wae Lomba dan hutan alam yang indah dan sejuk. Penduduk Wae Rebo sudah membangun jalan setapak dari Denge ke kampung mereka.
Persoalan muncul setelah membayangkan berjalan kaki selama berjam-jam itu. Imaji yang muncul adalah, betapa terisolirnya Wae Rebo. Tidak dilalui kendaraan. Perekonomian tidak jalan. Pelayanan lain-lainnya mati. Jadi begitu tertutup.
Itu sebabnya, beberapa anggota milis seperti Frans Surdiasis dan Dominikus Darus mengusulkan perlu dibangun infrastruktur jalan yang bagus dari Denge ke Wae Rebo. Tujuannya untuk membuka keterisolasian, mempercepat akses, meningkatkan pelayanan, serta menaikkan pertumbuhan ekonomi di daerah itu. Selain itu, infrastruktur jalan yang bagus akan memudahkan wisatawan datang ke sana.
Sedangkan John Manasye berpendapat, yang perlu dibanun jalan raya cukup dari Denge sampai Wae Lomba yang berjarak tiga kilometer. Sedangkan dari situ ke Wae Rebo yang masih berjarak enam kilometer cukup dengan jalan setapak. Pertimbangannya, bukan sekedar untuk kepentingan pariwisata atau olahraga. Tetapi akses ke pusat ekonomi, kesehatan, pendidikan dan lain-lain sangat sulit dijangkau warga setempat.
“Bagi wisatawan, mungkin suatu daya tarik ketika melihat warga tersengal-sengal memikul kopi dari Wae Rebo menuju Denge atau memikul beras dari Denge menuju Wae Rebo. Atau ketika warga menggotong orang sakit, ibu hamil, dan ibu melahirkan yang mencari pertolongan medis dari Wae Rebo menuju Denge. Atau ketika anak-anak SD sejak kelas 1 sudah harus meninggalkan orang tuanya sehingga sebagian besar anak kelas 1-2 tidak naik kelas karena lebih membutuhkan kasih sayang orang tua ketimbang belajar,” kata John Manasye.
Jaga Keaslian
Tetapi sejumlah orang lain seperti Leonardus Nyoman dan Inonesiansius Jemabut lebih ekstrim. Talan raya tidak perlu dibangun dari Denge ke Wae Rebo untuk menjaga keselarasan keaslian alam dengan Mbaru Niang. Wae Rebo adalah wisata keaslian, bukan hanya Mbaru Niang dan budaya serta adat istiadatnya, tetapi juga alam di sekitarnya. Yang terpenting adalah bagaimana membuat perekonomian warga Wae Rebo tergantung pada wisata. Artinya, wisatawan yang tinggal berlama-lama di Wae Rebo akan membelanjakan banyak uang di sana, maka perekonomian mereka juga terangkat. Sebaliknya, jalan beraspal mulus membuat wisatawan hanya mampir sebentar di Wae Rebo lalu membelanjakan uangnya di Labuan Bajo atau Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai.
Selain itu, kelompok yang terakhir ini khawatir, pembukaan jalan ke kampung itu akan merusak lingkungan hidup dan ekosistem di Wae Rebo. Sebab pembukaan jalan raya sudah hampir pasti diikuti aksi pembalakan liar yang sulit dihentikan oleh pemerintah. Aksi seperti ini pada saatnya akan mengancam keaslian dan bahkan keberadaan Mbaru Niang itu sendiri.
“Masyarakat Wae Rebo pun sudah sepakat untuk tidak menebang pohon-pohon di hutan yang masih "virgin" di sekitarnya. Mereka kwatir apabila dibuka jalan yang bisa dilalui kendaran roda empat, pembalakan liar akan marak dan terjadi pembukaan lahan perkebunan di hutan-hutan tersebut,” tulis anggota milis lainnya, Fransiskus Harum.
Apalagi ada fakta bahwa orang Wae Rebo memiliki dua kampung yaitu Kampung Wae Rebo itu sendiri dan Kampung Kombo. Kampung Wae Rebo dipertahankan sebagai kampung adat dan Kombo sebagai pusat aktivitas pendidikan dan ekonomi. Pada hari Sabtu dan acara-acara penting, mereka berkumpul di Wae Rebo.
Kesaksian senada disampaikan Kanis Dursin yang berasal dari Nikeng, kampung tetangga Wae Rebo. Menurut dia, Mbaru Niang di Wae Rebo berfungsi sebagai rumah istirahat. Keluarga-keluarga muda Wae Rebo mempunyai rumah di Kampung Kombo, yang letaknya sekitar 7-8 kilo selatan Wae Rebo menuju ke pantai. Banyak rumah tembok di sana. Banyak pula yang memiliki genset untuk penerangan. Di banyak rumah terdapat televisi. Mereka ke Wae Rebo hanya untuk acara adat penting seperti penti.
“Saya setuju kalau Wae Rebo dibiarkan seperti apa adanya sekarang. Sebagai tempat wisata budaya, daya pikat Wae Rebo, menurut saya, ada di 'keterbelakangannya.' Yang terpenting adalah bagaimana kita menjual “keterbelakangannya” itu untuk kesejahteraan warga Wae Rebo,” ujarnya.
Tetapi yang lebih penting dari perdebatan itu adalah bahwa Wae Rebo dengan keaslian budaya dan ekosistemnya dijaga dan dikelola sendiri oleh masyarakat Waerebo dengan dukungan pemerintah dan pihak-pihak lain yang peduli akan pelestarian budaya dan bentangan alam Wae Rebo yang unik, indah, dan mengagumkan untuk kesejahteraan masyarakat. Apalagi UNESCO sudah memberikan dukungan dan apresiasinya yang tinggi.
Tetapi Wae Rebo jangan dijual tersendiri. Sebaiknya dijual bersama objek-objek wisata lainnya seperti Komodo, Sano Nggoang, Liang Bua dan objek-objek wisata lainnya yang dikemas dengan tema-tema tertentu. Ini tentu saja pekerjaan berat bagi para pelaku pariwisata di daerah itu. Dengan demikian yang sejahtera bukan hanya masyarakat Wae Rebo tapi seluruh masyarakat di ketiga kabupaten di wilayah Manggarai. (Alex Madji)
Foto: Mbaru Niang di Kampung Wae Rebo (Foto diambil dari florestourism.com)
Selasa, 04 September 2012
Lebih Tepat Disebut Agama Moonies

Sun Myung Moon sudah meninggal pada Minggu, 2 September 2012 dalam usia 92 tahun di sebuah rumah sakit milik gereja bentukannya di dekat rumahnya di Gapyeong, timur laut Seoul, Korea Selatan, didampingi istri dan anak-anaknya. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, pria ini dirawat seminggu karena penyakit pneumonia.
Media-media asing ramai memberitakan wafatnya sang pendeta. Sementara di Indonesia, pemberitaan tentang dia tidak marak. Maklum, di sini dia tidak seterkenal di Korea, baik Utara maupun Selatan, dan Amerika Serikat.
Padahal Moon memiliki pengikut sejumlah 3 juta orang di seluruh dunia, termasuk 100.000 orang di antaranya berada di negeri Paman Sam. Selama hidupnya, dia juga berkawan baik dengan pendiri Korea Utara Kim Il Sung dan anaknya Kim Jong Il serta cucunya Kim Jong Un yang kini memimpin Korea Utara. Kedekatan ini membuat dia juga dicurigai sebagai agen mata-mata.
Moon juga dekat dengan para presiden Amerika Serikat dari kelompok konservatif seperti Richard Nixon, Ronald Reagen, dan George Bush. Bukan hanya itu, dia bersama gereja yang didirikannya sukses membangun kerajaan bisnis dalam berbagai bidang di Korea Utara, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Belum lagi kisah menarik lainnya yang mewarnai perjalanan hidup Sun Myung Moon, seperti pernah ditahan Pemerintah Korea Utara, sebelum akhirnya dibebaskan oleh tentara Amerika Serikat dan melarikan diri ke Pusan, Korea Selatan dan kemudian aktif dalam kampanye anti komunis pada era perang dingin serta menjalani masa tahanan selama 13 bulan dari 18 bulan hukuman karena masalah pajak di Amerika Serikat, tempat dia tinggal selama 30 tahun.
Siapa Moon? Dia adalah pendiri Gereja Unifikasi Korea Selatan. Moon lahir di Provinsi Pyungan Bukedo yang kini masuk wilayah Korea Utara pada 6 Januari 1920 dari sebuah keluarga yang menganut kepercayaan Konfusianisme. Pria terlahir dengan nama Mun Yong-Myeong itu adalah bungsu dari dua bersaudara. Tetapi ketika berumur 10 tahun, keluarganya “mualaf” menjadi Kristen dan bergabung dengan Gereja Presbitierian. Ini tren ketika itu untuk menolak Agama Shinto yang dibawa penjajah Jepang.
Ketika berumur 16 ( pada tahun 1936), dia mengaku bertemu dengan Yesus Kristus, Allah Bapa, Buddha, dan Nabi Musa. Dia dipanggil untuk menyelesaikan karya-Nya. Bahkan sampai dua kali dia mengaku dipanggil Tuhan Yesus, sebelum akhirnya mengambil tugas tersebut.
Pada 1954, Moon mendirikan gereja sendiri di Korea Selatan di tengah-tengah kehancuran negara itu karena perang. Sebelumnya, pada 1946, dia mendirikan gereja bernama Kang Hei di sebelah utara Kota Pyongyang disusul dengan mengubah namanya menjadi Sun Myung Moon.
Dalam gereja baru tersebut, dia menggabungkan ajaran Kristen dengan kepercayaan agama leluhurnya, Konfusianisme. Dia menafsirkan secara baru ajaran-ajaran Kitab Suci kemudian digabungkan dengan ajaran nenek moyangnya, Konfusianisme. Hasil penggabungan itu dituang dalam bukunya yang berjudul “Explanation of the Divine Principle” yang diterbitkan pada 1957. Selanjutnya, Sun Myung Moon menyebut dirinya sebagai mesias baru. Rupanya ajaran-ajaran sang mesias menarik minat orang, sehingga pertumbuhan jemaatnya sangat pesat.
Jemaat pertama dibentuknya di Pusan, Korea Selatan. Mereka adalah sekelompok band umat beriman. Pada saat bersamaan, sambil menjadi buruh dok kapal, dia terjun dalam bisnis yang keuntungannya dipakai untuk menghidupi gerejanya. Setelah itu dia melebar ke luar negeri. Misionaris pertamanya tiba di Inggris pada 1968. Setahun kemudian dia meluaskan gerejanya ke Amerika Serikat. Dia sendiri baru tiba di Amerika untuk pertama kalinya pada 1971, setelah didirikan Freedom Leadership Foundations pada 1969 yang menjadi tangan kanan gerejanya di negara itu.
Moon menikah dua kali. Setelah perang Korea berakhir, dia menikah dengan Choi Sun-kil, tetapi perempuan itu ditinggal dalam keadaan hamil di Seoul karena dia focus menjalankan tugas pewartaan di Korea Utara. Perempuan ini kemudian diceraikannya pada 1950. Moon lalu menikah lagi dengan seorang perempuan Korea Selatan lainnya, Hak Ja Han Moon, pada 1960. Perempuan inilah yang selalu mendampinginya dalam menyiarkan agamanya. Dari pernikahan ini lahirlah 10 orang anak.
Gereja Unifikasi sering kali menggelar pernikahan massal. Moon sendiri memimpin pernikahan masal untuk pertama kalinya pada 1960-an di Korea Selatan. Pada 1982 dia memimpin pernikahan massa di Lapangan Madison Park, New York yang dihadiri puluhan ribu peserta. Ini pernikahan massal pertama yang dipimpinnya di luar Korea Selatan. Lalu pada 2009, Moon menikahkan 45.000 orang dalam sebuah perayaan yang berlangsung secara simultan. Ini adalah perayaan pertamanya yang dilakukan dalam skala besar.
“Perkawinan internasional dan interkultural adalah cara yang tercepat untuk memberikan perdamaian dunia yang ideal. Orang harus kawin lintas negara dan lintas budaya. Mereka harus kawin dengan orang dari negara yang mereka anggap sebagai musuh mereka, sehingga perdamaian dunia bisa datang lebih cepat,” tulis Moon dalam biografinya seperti dikutip Telegraph.co.uk.
Berdasarkan pemaparan sekilas di atas, Gereja Unifikasi ini lebih tepat disebut sebuah agama baru, yaitu Agama Moonies, sesuai sebutan untuk para pengikutnya. Sebab ajarannya tidak murni dari Kitab Suci Kristen, tetapi hasil penggabungan dengan Konfusianisme.
Bisnis dan Politik
Dalam perkembangan selanjutnya, Moon bersama gerejanya merambah bisnis. Bahkan usahanya menggurita dan menjadi kerajaan bisnis yang sangat kuat. Mereka memiliki harian The Washington Times, the New Yorker Hotel di Manhattan, Universitas Bridgeport di Connecticut. Mereka juga punya bisnis hotel dan otomotif di Korea Utara. Selain itu mereka punya resort, klub sepakbola prosesional serta berbagai bidang bisnis lainnya di Korea Selatan. Gereja ini juga punya bisnis perusahan makanan-makanan laut yang memasok sushi ke restoran-restoran Jepang di seluruh Amerika Serikat. Pada 1982, gereja ini mendanai pembuatan film Amerika, Inchon yang bercerita tentang Perang Korea.
Pada masa tuanya, Moon mengontrol setiap hari kerajaan bisnis tersebut, mulai dari perusahan, rumah sakit, perguruan tinggi, hotel dan berbagai bisnis lainnya. Kini, putra putrinya ditempatkan pada posisi-posisi puncak di kerajaan binis dan aktivitas karitatif gereja itu baik di Korea Selatan maupun di luar negeri. Sedangkan anak bungsunya Hyung-jin Moon diangkat sebagai pemimpin tertinggi gereja tersebut. Tetapi dia tidak mewarisi peran mesianik Moon. Dia bersama saudara saudarinya, lebih pada tugas sebagai rasul. Mereka menghayati kehidupan yang dipraktekkan kedua orang tuanya berdasarkan apa yang mereka lihat dan mereka alami.
Jadi tidak salah kalau ini betul-betul agama baru. Sebab ayah mereka adalah mesias baru, sedangkan anak-anaknya adalah rasul. (Alex Madji)
Sun Myung Moon (Foto: Telegraph.co.uk)
Jumat, 31 Agustus 2012
Tips Menjadi Kaya Versi Gina Rinehart

Perempuan terkaya di dunia asal Australia Gina Rinehart membagi tips kepada Anda untuk bisa menjadi kaya seperti dirinya. Meskipun tips itu dikritik oleh para pejabat di Australia, negara asalnya.
Menurut Tina, kunci menjadi orang kaya adalah kerja lebih keras, hapus anggaran untuk beli minuman dan rokok, serta untuk biaya sosialisasi.
Gina Rinehart menjadi milioner dunia pertambangan dengan kekayaan yang diestimasi mencapai 19 miliar pound. Kepada mereka yang iri dengan kekayaannya, dia berpesan, "Kurangi waktu untuk mimun atau merokok dan sosialisasi. Sebaliknya, pakai banyak waktu untuk bekerja. Hanya ini kunci meraih kesuksesan. Tidak ada monopoli untuk menjadi milioner," seperti dikutip Telegraph.co.uk.
Rinehart yang kini berumur 56 tahun juga menghimbau kepada kelompok kelas sejahtera di negaranya, Australia, untuk berbuat lebih dari orang lain dalam membantu mereka yang miskin. Dia mengingatkan dampak krisis ekonomi Eropa bisa berpengaruh pada kebijakan-kebijakan sosialis, pajak tinggi, dan regulasi yang eksesif di negara tersebut.
Rinehart dinobatkan sebagai perempuan terkaya di dunia setelah mendapat warisan dari ayahnya Lang Hancock yang membangun kerajaan bisnis pertambangan senilai 13 miliar pound pada 1992.
Pernyataan Rinehart yang dimuat dalam kolomnya di majalah pertambangan dan investasi Australia mendapat kritikan dari seluruh dunia. Deputi Perdana Menteri, Wayne Swan mengatakan, "Pernyataan seperti ini melukai perasaan jutaan pekerja Australia yang bekerja untuk membiayai anak-anaknya dan membayar begitu banyak tagihan."
Presiden Dewan Uni Perdagangan Australia Kearney menilai, pernyataan Rinehart itu justru kembali ke abad ke-19. "Komentar Gina Rinehart adalah produk seseorang yang tidak pernah mempelajari kehidupan dan melukai jutaan pekerja Australia yang tidak mendapat warisan kekayaan dari ayah mereka," ucapnya.
Foto: Gina Rinehart (Foto: Telegraph.co.uk)
Rabu, 29 Agustus 2012
Berjuang Mengalahkan Poling

Kamis, 12 Januari 2012, saya menulis sebuah artikel berjudul "Inilah Calon Penantang Barack Obama" di blog ini. Klik saja di link ini: http://ciar-ciar.blogspot.com/2012/01/inilah-calon-penantang-barack-obama.html. Waktu itu, Mitt Romney baru muncul untuk pertama kalinya sebagai bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik. Beberapa bakal calon lain sudah muncul sebelumnya. Tetapi saya hanya tertarik untuk menulis profil Mitt Romney.
Delapan setengah bulan kemudian, tulisan saya ini ternyata tidak meleset. Selasa, 28 Agustus 2012 malam waktu Amerika Serikat, konvensi Partai Republik yang berlangsung di Florida menetapkan Mitt Romney sebagai calon presiden (Capres) dari partai itu untuk menantang Barack Obama, capres incumbent dari Partai Demokrat.
Saya tidak ingin menulis lagi siapa Mitt Romney karena sudah saya ulas dalam artikel saya terdahulu. Saya hanya ingin mengangkat Pidato kemenangan istri Romney, Ann Romney setelah ditetapkan sebagai Capres Republik. Menurut dia, suaminya itu akan mengangkat Amerika Serikat seperti dia menyelematkannya dari sakit yang dideritanya.
"Inilah orang yang dibutuhkan Amerika. Pria ini tidak akan gagal," kata Ann Romney di hadapan ribuan delegasi yang menghadiri konvensi yang berlangsung di sebuah hangar di Florida itu seperti ditulis Telegraph.
Ibu lima anak berusia 62 tahun itu mencoba mengangkat sisi kesederhanaan dan kerja kerasnya sebagai keturunan Welsh untuk menarik perhatian masyarakat kelas bawah dan kelas menengah Amerika yang sedang berjuang memulihkan diri dari dampak resesi parah yang menghantam negara itu. Sambil “menjanjikan” kesejahteraan dan kemakmuran yang dialami oleh capres terkaya dalam zaman modern seperti ini. "Saya adalah putri seorang petambang batubara asal Welsh yang memaksa anak-anaknya tidak berkecimpung di dunia pertambangan," kata Ann Romney.
Ayahnya datang ke Amerika pada usia 15 tahun. Mula-mula bekerja sebagai pembersih botol di sebuah pub di desa Nantyffyllon. "Di negara kami dia menatap harapan dan kesempatan untuk keluar dari kemiskinan," ucapnya. Beberapa kali pidato Ann ini disambut dengan tepuk tangan meriah sambil berdiri dari peserta konvensi diiringi terikan "USA".
Romney juga dilukiskan Ann sebagai pengusaha sukses. Kesuksesan itu bahkan melebihi dari apa yang diimpikan. "Dia dan teman-temannya mulai berjuang dan mencoba mewujudkan ide-ide mereka," ujarnya. Hasilnya, dia melepaskan pekerjaannya sebagai konsultan pada 1984 dan mulai usaha sendiri, Bain Capital yang kemudian meraih sukses besar. Dengan ini, diharapkan dia menjadi idola baru rakyat Amerika. Simbol kemakmuran baru yang membawa mereka keluar dari krisis.
Kesuksesan itu, kata Ann, juga pasti akan terulang pada tingkat negara bila dia menjadi Presiden Amerika. Dia, kata Ann, memiliki kemampuan untuk mengeluarkan Amerika dari krisis ekonomi yang melanda saat ini. "Dalam setiap titik kehidupannya, pria yang saya jumpai dalam sebuah acara dansa ketika masih SMA, sudah membantu mengangkat yang lain. Pria ini tidak akan gagal. Dia tidak akan membiarkan kita jatuh. Pria ini akan mengangkat (menyelamatkan) Amerika," lanjutnya.
Kemudian dia menutup pidatonya, "Dia akan menghantar kita ke sebuah tempat yang lebih bagus, sama seperti ketika dia membawa saya ke rumah dengan selamat dari dansa di SMA tersebut."
Obama Unggul
Meskipun Ann berkampanye seperti itu, poling-poling di negeri Paman Sam memperlihatkan bahwa Barack Obama masih unggul atas Mitt Romney. Meskipun perbedaanya sangat tipis. National RealClear mencoba membuat rata-rata hasil poling dari sejumlah lembaga. Hasilnya, Obama tetap berada di peringkat teratas dengan 47 persen suara, sedangkan Romney dengan 44 persen.
Dari 10 lembaga poling, hanya tiga lembaga yang mengunggulkan Romney, tetapi dengan suara yang sangat tipis. ABC News yang melakukan poling pada 22-25 Agustus 2012 dengan melibatkan 875 resonden menempatkan Romney unggul dengan 47 persen suara, sedangkan Obama 46 persen. Fox News yang menggelar poling pada 19-21 Agustus 2012 dengan 1007 responden juga menunggulkan Romney dengan 45 persen sedangkan Obama 44 persen. Gallup yang melakukan tracking selama 7 hari melibatkan 3050 responden juga mengunggulkan Romney dengan 47 persen dan Obama 46 persen.
Sedangkan tujuh lembaga lain seperti CBS News, CNN/Opinion Research, Ramussen, Associated Press/GfK, NBC News/Wall Street Journal, Monmouth/Survei USA/Braun, dan LA Times/USC mengungguli Obama dengan beda suara yang tipis dengan Romney. Lalu siapa yang akan menang dalam Pilpres Amerika nanti, kita tunggu hasil pemilu pada November mendatang.
Hasil poling ini menunjukkan bahwa Romney harus bekerja keras untuk mengungguli atau mengalahkan Obama hingga hari H. Nah, sekarang kita tunggu saja, siapa yang menang pada Pilpres pada November 2012 itu. (Alex Madji).
Keterangan foto: Ann Romney (kiri) bersama suaminya Mitt Romney (Foto: Telegraph.co.uk)
Selasa, 28 Agustus 2012
Neil Armstrong Digosipkan Mualaf

Astronot Amerika Serikat yang pertama kali mendarat di bulan, Neil A Armstrong sudah wafat pada Sabtu, 25 Agustus 2012 di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, dalam usia 82 tahun. Berita wafatnya astronot yang mendarat di Bulan pada 20 Juli 1969 itu menghiasi media-media massa dunia. Tak terkecuali Indonesia.
Lalu tiba-tiba seorang teman lama, melalui facebook, meminta saya menulis sisi lain dari Neil Armstrong ini. Terutama terkait isu, gosip, dan rumor setelah Neil Armstrong pulang dari bulan. Media-media di Indonesia dan Malaysia ramai memberitakan bahwa begitu mendarat di Bulan, Neil Amstrong mengaku mendengar bunyi azan. Kemudian dia mengatakan bahwa Islam adalah agama yang benar.
Sebenarnya, Neil A Armstrong mengenal bahwa suara yang didengarnya di bulan itu adalah azan ketika mendengar bunyi serupa saat berkunjung ke Mesir. Best-hoaxes.blogspot.com mengutip wikislam, menulis, "Ini (azan) seperti bunyi yang pernah saya dengar ketika saya mendarat di Bulan." Kemudian dilanjutkan lagi, "Seorang teman Mesir Neil Armstrong mengatakan bahwa itu adalah bunyi Azan. Dan seketika itu juga dia menjadi mualaf karena pengalamannya tersebut.”
Rumor itu begitu meluas di negara-negara Asia. Maka ketika suatu ketika Neil A Armstrong berkunjung ke Malaysia, ini adalah kesempatan emas untuk mengkonfirmasi langsung kebenaran rumor tersebut. Kepada dia ditanyakan, apakah benar bahwa dia mendengar bunyi azan di bulan dan apakah betul dia sudah mualaf. Mendengar pertanyaan ini, Neil Armstrong heran. Dia menegaskan bahwa tidak pernah mendengar suara azan di bulan.
Isu, rumor, dan gosip ini ternyata tidak benar. Ini hoax belaka. Blog berbahasa Inggris, http://best-hoaxes.blogspot.com/2011/05/how-neil-armstrong-converted-to-islam.html, mengutip pernyataan resmi dari seorang pembantu administratifnya, Vivian White. Orang ini, atas permintaan Neil Armstrong sendiri, menulis sebuah surat kepada Phil Parshall, Direktur Asian Research Center, International Christian Fellowship 29524 Bobrich, Livonia, Michigan 48152.
Isinya, "Laporan tentang kepindahannya (Neil Armstrong) ke Islam karena mendengar suara azan di bulan dan di tempat-tempat lain di dunia itu, semuanya tidak benar. Sejumlah media massa di Malaysia, Indonesia dan negara-negara lain sudah menerbitkan laporan ini tanpa verifikasi. Kami meminta maaf atas kerja jurnalistik yang tidak berkompeten seperti ini."
Blog berbahasa Inggris lainnya, http://islamqa.info/en/ref/20880 juga menegaskan bahwa rumor itu tidak benar karena tidak memiliki sumber yang jelas. Rumor itu sengaja disebarluaskan untuk “menipu” iman umat Muslim awam, seperti juga banyak artis, olahragawan dan tokoh publik lainnya diberitakan memeluk agama ini. Tujuannya untuk memberi kesan bahwa agama ini lebih superior dari agama lain.
Bahkan sebuah blog berbahasa Indonesia, aji3b.wordpress.com menegaskan bahwa rumor ini sengeja dihembuskan untuk mendiskreditkan, membodoh-bodohi umat Islam, dan bahkan menghancurkan dunia Islam. "...mereka menganggap kebodohan dunia Islam karena tidak mau menerima kenyataan 'American kafir'-lah yang pertama menginjakkan kaki di bulan, bukan orang muslim," tulis blog tersebut.
Dilanjutkan, "Umat muslim tidak perlu seorang Neil Armstrong untuk meyakinkan dirinya bahwa agama Islam yang dianutnya adalah benar. Jika anda menyakini agama benar, maka yakinilah bahwa hal itu benar. Muslim dianggap menggunakan nama besar Neil Armstrong untuk membenarkan agamanya. (Saya menentang pernyataan itu). Masa kita dikatakan kurang meyakini agama kita sendiri sehingga perlu nama-nama besar dari dunia barat (Umat muslim, percayalah nama rasullullah sudah cukup besar buat kita dan dunia. Umat kita sendiri yang akhirnya menjadi bahan tertawaan, cukup sudah."
Dimakamkan Secara Kristen
Neil Alden Armstrong yang lahir di Wapakoneta, Ohio pada 5 Agustus 1930 adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya, Stephen Armstrong adalah pegawai negeri sipil. Sementara ibunya, Viola adalah seorang putri petani yang memiliki ladang sendiri atau tuan tanah. Stephan Armstrong dan Viola selalu berdoa agar anak-anaknya bertumbuh menjadi orang yang baik dan berguna di kemudian hari. Kedua orang tuanya taat beragama dan memiliki devosi yang kuat. Tetapi Neil yang kemudian dua kali menikah, menurut Telegraph.co.uk, tidak memiliki agama yang jelas. Atau paling tidak, dia tidak menunjukkan secara eksplisit agama yang dianutnya.
“Mereka (kedua orang tuanya) membiarkan saya mengikuti keinginan saya sendiri. Mereka tidak mencoba mendikte saya, apa yang saya harus lakukan atau kemana saya harus pergi,” kata Neil Armstrong di kemudian hari seperti dikutip media Inggris itu.
Tetapi satu hal yang pasti, anggota Senat Partai Republik dari negara bagian Ohio, Johnson mendesak Presiden Barack Obama untuk memakamkan Neil Arsmtrong dengan upacaya kenegaraan. Acara itu juga akan memberi kesempatan kepada warga Amerika Serikat untuk memberi penghormatan kepadanya.
Upacara kenegaraan itu akan melibatkan lima cabang angkatan bersenjata Amerika Serikat, dilakukan tembakan salvo artileri, flypast dan diiringi sejumlah band dan kor. Peti jenasah yang dibaluti bendera Amerika Serikat akan diarak di Pennsylvania Avenue dengan kereta kuda menuju Capitol, sebelum melakukan kebaktian di Washington National Katedral. Bagian terakhir ini, mudah-mudahan sedikit menguak rahasia agama Neil Armstrong.
Meskipun, dalam pernyataan resmi pihak keluarga mengumumkan wafatnya Neil Armstrong 25 Agustus 2012 malam disebutkan, “Bagi mereka yang mungkin bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuk menghormati Neil, kami punya permintaan sederhana. Hormati teladan pelayanannya, kerendahan hatinya, dan kasih sayangnya. Setelah itu, ketika malam cerah tiba, Anda keluar dan melihat bulan akan tersenyum pada Anda. Ketika itu berpikirlah tentang Neil Armstrong dan berikanlah kepadanya sebuah kedipan.”
Selamat jalan Neil Armstrong. Apapun agamamu, yang pasti Anda sudah menginspirasi dunia bahwa apa yang tidak mungkin, menjadi mungkin. Selamat beristirahat dalam keabadian. (Alex Madji)
Keterangan foto: Neil A Armstrong (Foto: The Telegraph.co.uk)
Langganan:
Postingan (Atom)

