Kamis, 26 April 2012

Catenaccio Masih Jadi Senjata Pembunuh


Ini cacatan yang tersisa dari laga semifinal leg kedua antara Barcelona versus Chelsea di Camp Nou pada Rabu, 25 April 2012 dini hari WIB. Hal yang mencolok dari laga itu adalah bahwa Barcelona tersingkir. Tetapi yang saya mau angkat adalah cara mereka disingkarkan Chelsea.

Laga semifinal itu mempertontonkan dua kutup sepakbola. Barcelona memperagakan sepakbola indah yang sudah menjadi kekahasan mereka. Tiki taka. Sentuhan bola dari kaki ke kaki dengan umpan-umpan pendek untuk meninabobokan pemain lawan sambil tunggu peluang untuk menusuk ke kotak penalti dengan cepat. Sebaliknya, Chelsea memperagakan kutup sepak bola yang lain, bertahan total atau grendel atau catenccio.

Roberto Di Matteo adalah orang Italia, tempat catenaccio itu lahir dan dikembangkan. Italia seringkali juara di Eropa dan dunia karena sistem ini. Di Matteo yang pernah membela tim nasional Italia paham betul memperagakan sistem tersebut. Sayangnya, beberapa tahun belakangan ini, sistem ini mulai ditinggalkan. Termasuk oleh tim-tim Italia sendiri.

AC Milan tidak memilih cara ini untuk melumpuhkan Barcelona di babak perempat final. Mereka lebih memilih bermain terbuka. Akibatnya, mereka tersingkir dari El Barca, meski mampu menahan imbang di San Siro pada leg pertama.

Meski mulai ditinggalkan, Di Matteo coba memungutnya kembali dan memakai saat menghadapi Barca. Bagi dia ini adalah cara terbaik untuk melumpuhkan Barcelona yang unggul dalam penguasaan bola. Para pemain Chelsea membiarkan anak-anak El Barca bermain di depan garis 16, tetapi tidak boleh masuk ke kotak penalti. Begitu mereka berhasil menggiring bola ke kotak penalti maka yang terjadi adalah bencana. Itulah yang terjadi dengan dua gol Barcelona pada babak pertama.

Belajar dari situ, Chelsea memasang grendel. Apalagi setelah John Terry diusir keluar lapangan. Barca hanya bisa bermain di depan garis 16 Chelsea tetapi tidak boleh masuk ke kotak penalti, sambil melirik peluang melakukan serangan balik cepat yang mematikan. Dua gol Chelsea adalah buah dari penerapan sempurna catenacio.

Media-media Spanyol mengeritik strategi Di Matteo ini. Mereka menganggap Di Matteo antisepakbola. Tetapi Di Matteo didukung mantan pelatih Chelsea Jose Mourinho yang menerapkan sistem yang sama saat menangani Inter Milan dan melumpuhkan Azulgrana. Fernando Torres yang mencetak gol kedua Chelsea juga membela pelatih sementaranya itu. Ini cara yang kami pilih untuk melawan Barca. Klub lain boleh memilih cari lain, tetapi Chelsea memilih cara ini. Dan, terbukti sukses.

Tetapi itulah sepakbola. Yang dicari bukan melulu keindahan. Tetapi soal hasil akhir yaitu kemenangan. Dan itulah yang dipegang Di Matteo. Dia memilih cara apa pun termasuk dengan catenaccio untuk membunuh Barcelona. Di Matteo memang cukup pragmatis, seperti juga Mourinho yang membelanya.

Dengan kata lain, Catenaccio masih efektif untuk melumpuhkan tiki taka Spanyol. Pep Guardiola dan para pencinta total football masih harus putar otak untuk mencari cara bagaimana membongkar sistem grendel ini dan membendung serangan balik cepat seperti yang diperagakan Chelsea dan Inter Milan dua tahun silam. Inilah tantangan Barcelona dan tim-tim yang mengagung-agungkan permainan bola indah. Semoga musim depan, pencarian itu berhasil, sehingga tiki taka bisa balik membunuh catenaccio. (Alex Madji)

Selasa, 17 April 2012

Pewartaan di Dunia Maya


Kaum berjubah di kalangan Gereja Katolik banyak sekali ditemukan dalam media sosial baik facabook maupun twitter. Banyak hal mereka ungkapkan di sana. Ada yang sekedar memberitahukan keadaan mereka saat menulis status di dinding facebooknya. Tetapi tidak sedikit juga dari mereka yang menyampaikan renungan singkat berdasarkan bacaan pada hari itu.

Tidak hanya di situ. Bila berselancar di Youtube.com, tidak sedikit kaum berjubah nongol di sana. Para imam dan frater SVD gencar mengunduh lagu-lagu rohani yang mereka ciptakan dan nyanyikan sendiri, tentu saja dengan suara merdu dan musik yang syahdu. Ribuan orang melihat dan menikmati lagu-lagu yang mendayu-dayu tersebut.

Sebagai contoh, Pastor Eman Weroh SVD yang adalah komponis dan penyanyi lagu-lagu rohani banyak muncul di Youtube. Pada lagunya berjudul "Salve Regina" dia tampil membawakan lagu itu dengan penuh hikmat. Lagu tersebut sudah dilihat oleh lebih dari empat ribu kali. Selain itu masih ada frater-frater yang bernyanyi dalam kelompok, seperti pada lagu "Sabda" karya Pastor Yustin Genohon SVD sudah dilihat oleh lebih dari 14.500 kali.

Sementara kelompok Yesuit menampilkan sebuah kehidupan komunitas internasional mereka di Jakarta dalam sebuah film pendek berbahasa Inggris. Beberapa frater dari sejumlah negara harus belajar Bahasa Indonesia supaya bisa belajar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Dalam film itu, mereka juga memperlihatkan kehidupan komunitasnya baik saat makan bersama, doa bersama, maupun diskusi, atau kegiatan sosial lainnya. Romo Deshy Ramadani SJ tampil sebagai moderator pada film pendek tersebut.

Ini adalah gejala baru yang tidak pernah ditemukan beberapa tahun silam. Pewartaaan tidak hanya bertemu umat di dunia nyata tetapi juga di dunia maya. Kebetulan gereja secara institusional juga membenarkan pewartaan melalui dunia maya seperti itu. Seorang misionaris SVD di Portugal menjelaskan bahwa mereka kini melirik misi di dunia maya. Mereka memiliki talenta bernyanyi dipersilahkan masuk dapur rekaman dan diunduh ke Youtube.

Paus Benediktus XVI meminta para imam untuk memanfaatkan dengan baik kemajuan teknologi ini sebagai media pewartaan. Yah, mudah-mudahan mereka benar-benar memanfaatkan media-media seperti ini untuk pewartaan, sambil menyingkirkan dampak negatif dari penggunaan media sosial seperti ini. (Alex Madji)

Kamis, 12 April 2012

Antara Pep Guardiola dan Roberto Mancini


Antara Pep Guardiola dan Roberto Mancini sama-sama bekas pemain hebat di klubnya masing-masing. Kini, keduanya juga sama-sama menjadi pelatih hebat untuk timnya. Mancini di Manchester City dan Guardiola di Barcelona. Gaya permainan anak-anak asuhnya pun hampir sama, meskipun passing anak-anak The Citizen masih jauh dari anak-anak asuh Pep Guardiola. Hanya satu perbedaan keduanya. Guardiola asal Spanyol sementara Mancini dari Italia.

Nah, saya ingin menunjukkan satu lagi kesamaan kedua pelatih ini. Begini. Roberto Mancini tiba-tiba bikin pernyataan "aneh". Dia bilang bahwa perburuan gelar Liga Utama Inggris musim ini sudah habis. Padahal ketika mereka menang 4-0 atas West Bromwich di Etihad, pada saat bersamaan rivalnya Manchester United kalah 1-0 di kandang Wigan Athletik. Jarak pun tinggal lima poin.

Pernyataan ini terasa aneh karena hari-hari sebelumnya Mancio, panggilan akrabnya, selalu menegaskan bahwa tidak ada kata menyerah dalam kamusnya. Dia selalu optimistis bahwa timnya masih bisa merebut gelar Liga Utama Inggris untuk pertama kalinya sejak 1968.

Karena itu tidak heran kalau The Sun menyindir pernyataan Mancini ini. Media ternama Inggris itu memberi judul: "City Win, Utd crash but Mancini insists the title race is still over; YOU SURE?" Kira-kira artinya: City Menang, United Kalah tapi Mancisi Menegaskah Perebutan Gelar Sudah Selesai, Anda Yakin?

Maka patut diduga ini adalah strategi baru Mancini. Dengan pernyataan seolah-olah melempar handuk, dia berharap MU terlena dan tergelincir pada lima pertandingan tersisa. Meskipun diakuinya bahwa MU adalah sebuah tim yang fantastis dan memiliki mental yang fantastis pula. Hal yang terakhir ini tidak dimiliki Manchester City.

Saya menduga, Mancini meniru Pelatih Barcelona Pep Guardiola. Ketika Barcelona tertinggal 10 poin dari Real Madrid, Guardiola sudah lempar handuk. Dia menegaskan bahwa klubnya tidak mungkin bisa mengejar nilai Madrid.

Diduga pernyataan ini bukan murni ungkapan menyerah sebelum perang. Tetapi sebuah strategi agar lawan terlena. Dan strategi itu tampak terbukti di Spanyol. Barcelona berhasil memperkecil ketertinggalannya dari Madrid menjadi empat poin, setelah tim ibukota Spanyol itu menang 4-1 atas Atletico Madrid pada Kamis, 12 April 2012 dini hari WIB.

Barcelona berharap Madrid tergelincir lagi pada enam laga tersisa musim ini dan mereka yakin bisa kembali menjuarai gelar La Liga musim ini. Bila El Barca mampu menghempaskan Cristiano Ronaldo di Camp Nou pada el clasico kedua musim ini di La Liga, maka jarak mereka pun makin pendek yaitu satu poin.

Jadi, antara Mancini dan Guardiola hanya ada kesamaan dalam dunia sepakbola. Entah di luar lapangan. Yang ini jarang terungkap.

Rabu, 11 April 2012

Ketika Allah Mendengar Doa Kami


Aceh kembali bergetar. Gempa hebat berkekuatan 8,5 skala richter mengguncang wilayah itu. Bayang-bayang kematian pun menyelinap. Rasa sedih akibat gempa yang diikuti tsunami 26 Desember 2004 lalu yang menelan korban ratusan ribu orang belum hilang betul. Tiba-tiba monster tsunami itu kini kembali. Suasana takut pun menyeruak.

Tetapi pada saat bersamaan solidaritas kemanusiaan segera muncul. Paling tidak solidaritas humanis verbal yang terlihat di media-media jejaring sosial. Mendengar berita gempa di Aceh itu, facebook dibanjiri status yang isinya ucapan simpatik dan doa untuk rakyat Aceh. Rasa kemanusiaan itu kembali mengental.

Simak saja status Bivitri Susanti, "Berdoa sekuat tenaga supaya keluarga dan teman2 tercinta di Aceh dsk (dan sekitarnya) dalam keadaan selamat dari gempa 8.5 skala richter...." Atau Sten Wot dalam statusnya berbahasa Ingris berujar, "Pray for Sumatera, God Save our Friends in Aceh from Tsunami (Doa untuk Sumatera, Tuhan selamatkan teman-teman kami di Aceh dari tsunami)."

Pemilik akun dengan nama Eldizz Love Deganers dengan singkat menulis, "Jangan lagi tsunami. Teman-teman di Aceh jaga diri kalian...save our friend God" Atau Angelus Febrian Pranataukma dengan singkat pula berucap, "Pray for Aceh."

Masih begitu banyak ungkapan simpatik terhadap masyarakat Aceh menyusul gempa tersebut. Ada yang meneruskan berita berbagai situs berita terkait kejadian alam itu. Ada pula yang menyampaikan doa-doa serupa di atas.

Doa-doa itu akhirnya seolah di dengar oleh Tuhan dan alam semesta. Warning tsunami yang dikeluarkan BMKG pasca gempa utama dan gempa susulan akhirnya dicabut pada pukul 19.45 WIB. Artinya, tsunami masif seperti yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu tidak terjadi.
{
Yang terjadi hanya tsunami-tsunami kecil yang ketinggian air lautnya tidak mencapai satu meter. Korban jiwa pun tidak ada. Meskipun, masyarakat Aceh dan bagian Sumatera lainnya sepampat panik. Terlepas dari penjelasan ilmiah nan logis dari BMPK, doa-doa publik seperti yang dipanjatkan di ruang publik seperti Facebook sudah didengar Allah Sang Sumber kehidupan. Rakyat Aceh betul-betul diselamatkan dari terjangan tsunami. (Alex Madji)

Selasa, 10 April 2012

SBY Terjebak Permainan PKS


Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kembali memperlihatkan superioritasnya atas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu. Sementara SBY tidak bisa berbuat apa-apa terhadap partai tersebut.

Padahal, PKS adalah bagian dari partai pendukung koalisi pemerintahan. Etikanya, PKS mendukung apapun kebijakan pemerintah termasuk kenaikan BBM. Tetapi PKS tidak. Dia menolak kenaikan harga BBM. Meskipun sejumlah kalangan menilai, PKS tengah memainkan politik citra. Karena pada bagian lain, PKS memberi kewenangan kepada pemerintah untuk menaikan BBM, bukan sekarang.

Menyusul keadian itu, elite politik Partai Demokrat mendesak Presiden SBY untuk mendepak PKS dari koalisi. Permintaan itu disampaikan ketika SBY tiba-tiba datang bertemu kader partainya di kantor pusat partai itu di Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Juru bicara Presiden Julian Pasha dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam kemudian menegaskan bahwa Presiden SBY akan melakukan perombakan kabinet. Maka pikiran publik langsung mengarah ke PKS yang mbalelo. Para menteri dari PKS di kabinet lalu galau. Mereka menunggu nasibnya.

Bahkan Menteri Pertanian yang asal PKS itu tidak mau ke mana-mana karena menunggu keputusan SBY menggantinya. Begitupun anggota kabinet dari PKS lainnya seperti Tifatul Sembiring dan Salim Segaf. Mereka menunggu dicoret dari kabinet. Sungguh galau.

Tetapi hingga kini, SBY tidak juga mengambil sikap. Padahal, soalnya sederhana saja. Dewan Pembina Partai Demokrat itu tinggal mencoret kader-kader PKS di kabinet dan merekrut orang-orang profesional untuk mengisi posisi yang ditinggalkan. Selasai.

Tetapi SBY memang tidak berubah. Dia tetaplah SBY yang peragu dan tidak mau frontal. Dia terlalu banyak berhitung dan melakukan kalkulasi politik hingga akhirnya tidak bisa mengambil keputusan. Tetapi sadar atau tidak sikap itu justru memenjarakan para kader PKS di kabinet. Mereka ragu dan tidak bekerja optimal karena di benaknya terpikirkan bahwa tidak lama lagi mereka akan diganti.

Atau mungkin keberanian PKS menentang kebijakan pemerintah karena mereka sudah paham betul watak SBY seperti itu. Apapun yang mereka lakukan, SBY pasti tidak berani bertindak. Sebab kasus BBM bukan yang pertama. Dalam kasus Bank Century, PKS juga bertentangan dengan sikap partai pendukung pemerintah lainnya.

Dengan kata lain, SBY sebenarnya terperangkap oleh permainan PKS dan SBY tidak berani keluar dari perangkap tersebut. Itulah yang membuat PKS menjadi liar di koalisi pemerintahan ini. PKS sungguh superior atas SBY. Hanya satu hal yang bisa membantah tesis ini yaitu, SBY segera mengambil sikap. Bukan malah lebih galau. Tetapi berani nggak? Mari kita tunggu. (Alex Madji)

Rabu, 04 April 2012

Ketika Wamen Jadi Preman Pasar


Berita-berita di media sosial menyebutkan bahwa Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana melakukan kekerasan. Dia memukul sipir Lembaga Pemasyarakatan Pekanbaru ketika dia bersama BNN melakukan sidak ke LP tersebut. Ajudan sang menteri pun ikut memukul sipir di LP itu.

Denny Indrayana sendiri membatah berita-berita yang menyebutkan bahwa dia ikut memukul. Tetapi dia membenarkan aksi premanisme tersebut pada sidak (inspeksi mendadak) yang dilakukannya. Meskipun dia enggan mengungkap pelakunya.

Meski demikian, publik terlanjur percaya bahwa Denny ikut terlibat dalam pemukulan tersebut. Bila benar, ini sungguh contoh buruk. Tindakan memukul hanya dilakukan oleh seorang preman di pasar dan jalanan.

Denny Indrayana sudah jelas bukan preman. Dia seorang pejabat publik dan seorang intelektual. Di depan namanya ada gelar profesor dari universitas terkemuka bangsa ini, Universitas Gadjah Mada. Maka aksi Denny itu adalah pelecehan terhadap jabatan yang diembannya dan pelecehan terhadap intelektualitas dan dunia akademis.

Seorang intelektual selalu mengedepankan rasionya dibanding fisik. Senjata utama dia adalah pikirannya. Bukan fisik. Yang mengutamakan fisik adalah buruh bangunan, tetapi mereka pun tidak sebarangan memukul orang. Hanya preman yang lazim menggunakan kekerasan ketika keinginannya tidak terpenuhi. Kalau mereka yang melakukan kekerasan bisa dimaklumi karena kadar rasio mereka jauh lebih rendah dibanding Denny Indrayana.

Karena itu, polisi harus mengusut kasus ini secara tuntas. Bila benar, Denny melakukan pemukulan maka dia diproses secara hukum, apalagi dia adalah pakar hukum yang mengerti hukum dengan sangat baik. Bila bersalah, dia patut diberi hukuman baik pidana maupun administratif misalnya dengan dipecat dari jabatan wakil menteri.

Hukuman seperti ini penting untuk membuktikan bahwa dia yang bertugas sebagai ujung tombak penegakkan hukum mampu menegakkan hukum di negeri ini secara adil dan tidak pandang bulu. Jangan sampai dia hanya ingin menegakkan hukum untuk orang lain, tetapi dia sendiri bebas mengangkangi hukum. Ini kesalahan besar.

Selasa, 03 April 2012

Berharap pada Dewi Fortuna


Saya ingin membuat catatan tentang laga perempat final leg kedua Liga Champions antara Barcelona versus AC Milan di Camp Nou, Rabu, 4 April 2012 dini hari WIB. Barcelona dan AC Milan sama-sama optimis menjelang laga tersebut.

Pada leg pertama di San Siro pekan lalu, AC Milan berhasil menahan imbang Barcelona 0-0. Milan bermain sangat bagus pada saat itu. Karena itu mereka sangat senang memetik hasil imbang atas tim terbaik di dunia saat ini. Betapa tidak, mereka cukup mencetak satu gol saja untuk lolos ke semifinal sekaligus mengakhiri dominasi El Barca di Liga Champions sejak ditangani Pep Guardiola.

Optimisme itu cukup beralasan. Pasalnya, pada dua laga kandang dan tandang pada fase grup Liga Champions musim ini, Milan selalu bisa mencetak gol ke gawang Victor Valdes. Saat berlaga di Camp Nou, Zlatan Ibrahimovic dan kawan-kawan mencetak dua gol dan menahan imbang Barca 2-2. Sementara saat bermain kandang di San Siro, Milan juga sukses mencetak dua gol, meski mereka akhirnya kalah 2-3 dari Barcelona.

Sementara Barcelona harus menang pada laga dini hari nanti. Kalau hanya bermain imbang 0-0 maka maka mereka butuh perpanjangan waktu. Bila masih imbang 0-0, maka siapa yang berhak maju ke semifinal akan ditentukan dengan tendangan penalti. Tetapi bila bermain imbang dengan skor berapa pun, Milanlah yang berhak ke semifinal.

Itu sebabnya para pemain El Barca dan pelatih mereka Pep Guardiola bertekad harus menang. Guardiola dalam konferensi pers sebelum laga menegaskan bahwa mereka akan menciptakan peluang sebanyak mungkin untuk mencetak gol. Semangat harus menang juga diusung oleh Andres Iniesta yang tidak bisa dipasang pada laga nanti karena cedera. Begitupun kapten tim Carles Puyol. Meskipun mereka mengakui, Milan bukanlah tim yang mudah ditaklukkan. Pasalnya, Si Setan Merah dari Italia itu dihuni oleh para pemain berkelas.

Sementara untuk menghindari Milan mencetak gol, Guardiola sudah memerintahkan anak-anak asuhnya mengunci dan mengisolasi Zlatan Ibrahimovic. Pemain Swedia ini jangan sampai menyentuh wilayah permainan El Barca. Sebab, pemain yang pernah merumput bersama Barcelona selama satu musim ini sangat berbahaya, apalagi untuk bola-bola atas. "Bila dia mengontrol bola atas dia superior atas kami," kata Guardiola.

Sementara di lain pihak, Massimiliano Allegri mengingatkan anak-anak asuhnya untuk tidak mengulangi kesalahan saat ditahan imbang 1-1 Catania pada akhir pekan lalu. Minimal mereka harus mengulangi penampilan pada leg pertama di San Siro. Sebab, melakukan kesalahan sedikit pun, maka tamatlah riwayat Milan di Liga Champions musim ini.

Apalagi Barcelona tak pernah kalah dalam 51 laga terakhir di Camp Nou. Faktor ini juga harus diperhitungkan Milan. Belum lagi penampilan yang konsisten anak-anak asuh Pep Guardiola di kompetisi domestik. Sementara Milan baru saja ditahan imbang Catania dan tertekan karena jaraknya dengan Juventus di peringkat kedua klasemen sementara Liga Seri A tinggal dua poin.

Lalu siapa yang bakal menang? Masih sulit diprediksi. Sebab kedua tim sama-sama hebat. Meskipun banyak pihak yang mengunggulkan Barcelona daripada AC Milan. Tetapi dewi fortuna akan turut menentukan siapa yang berhak maju ke semifinal.