Senin, 02 April 2012

Perjuangan Seorang Tukang AC


Hermawan hanyalah seorang tukang AC (Air Conditioner). Penampilannya sederhana. Tidak beda dengan tukang AC lainnya. Sore itu, Minggu, 1 April 2012 dia datang memperbaiki AC di rumah saya bersama adiknya, Hermanto atau biasa dipanggil Manto.

Hermawan terbilang ramah. Dia bercerita banyak hal, termasuk soal pekerjaannya. Saya pun tertarik dengan sosok ini. Itu sebabnya saya tulis di sini. Meskipun dia orang sederhana. Mungkin ada yang bisa memetik nilai, semangat, dan perjuangan hidup dari orang sederhana seperti Hermawan.

Hermawan yang baru berumur 21 tahun ini tidak pernah menempuh sekolah khusus teknik seperti SMK. Apalagi kuliah di perguruan tinggi. Dia hanya tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Magelang, Jawa Tengah. Dengan modal ijasah SMP dia merantau ke Jakarta. Dia mula-mula bekerja mengikuti orang sebagai pembantu atau asisten memperbaiki atau memasang AC di rumah-rumah atau perkantoran. Karena hanya berijasah SMP, gajinya pun cukup untuk makan.

"Saya pernah dilempari obeng mas karena tidak bisa apa-apa. Bahkan dibodoh-bodohin karena disuruh ke sana ke mari tidak bisa karena belum tahu jalan," ceritanya mengenang awal hidupnya di Jakarta.

Tetapi kisah pilu itu menjadi cambuk baginya. "Saya belajar pelan-pelan, melihat mereka yang bisa memperbaiki AC. Makin lama, saya juga tahu dan paham seluk beluk AC. Saya memang bertekad untuk bekerja keras, kebetulan saya punya minat pada dunia teknik. Saya paham AC ini betul-betul karena belajar otodidak," ceritanya.

Setelah agak lama di Jakarta, dia pun mengenal lika liku kota ini. Jalan-jalan mulai dikuasai. Seluruh wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dijajal tanpa kenal lelah demi sesuap nasi. Kerja keras dan ketabahannya membuahkan hasil. Dia tidak lagi menjadi tukang suruh. Tetapi menjadi "leader".

Setelah lama malang melintang di Jakarta dan mulai menguasai seluk beluk AC, dia bergeser ke Lampung. Dia sana, pekerjaannya pun sama. Tukang AC. Enam bulan dia berada di ujung Pulau Sumatera itu. Kepiawaiannya dalam urusan AC membuatnya dikagumi dan bahkan bisa mengajar siswa SMK."Di lampung saya mengajar SMK mas,"ceritanya.

Kemudian, sulung dari empat bersaudara ini kembali ke Jakarta. Dia memilih tinggal di Bintaro, tepatnya di Ceger, persis di belakang STAN, tempat kuliahnya Gayus Halomoan Tambuhan, terpidana kasus mafia pajak itu, dan tersangka kasus pajak, Dhana.

Sempat kembali menjadi buruh tukang AC, Mawan cepat sadar. Dia tidak mau lagi menjadi orang yang disuruh-suruh orang lain. Apalagi dengan penghasilan yang begitu kecil. Dia mau menjadi pekerja AC mandiri. Sebagai pekerja AC mandiri, dia menjadi "pria panggilan". Artinya, baru dapat uang bila dipanggil orang untuk memperbaiki AC di rumah atau kantor. Modalnya, cuma nomor telepon yang ditinggal waktu memperbaiki AC saat beperja pada orang lain.

Meski awalnya sulit, Mawan tetap optimistis. Satu demi satu panggilan memperbaiki AC berdatangan. Dia pun dibantu oleh adiknya Hermanto. Makin lama, order makin banyak. Setiap hari ada saja permintaan memperbaiki AC. Order dari manapun dilayani. Dari Kelapa Gading di Jakarta Utara sampai Cibubur. "Meskipun jauh kami tetap datangi. Tak peduli hujan," ujarnya.

Minggu, 1 April 2012 itu saja, Mawan mendapat empat orderan. Dia memperbaiki AC dari pagi sampai jam enam sore. Terakhir, ya di rumah kami itu. Luar biasa.

Meski hanya tamat SMP, Mawan berupaya kerja profesional. Dia melengkapi dirinya dengan seragam. Seragam biru putih bertuliskan "Mawan AC" pada bagian punggungnya juga dikenakan adiknya. Tidak hanya itu. Setiap pembayaran disertai dengan nota bon atau kwitansi. Pada lembaran kwitansi itu juga tertulis "Mawan AC" lengkap dengan alamat tinggalnya, sebuah kontrakan di Ceger, Bintaro.

Tampaknya, Mawan paham betul peta persaingan di dunia tukang AC. Dia tidak pasang tarif terlalu mahal. Sebagai bandingan saja, dia mengutip Rp 200.000 untuk las kebocoran pada mesin AC. Padahal, tukang lain yang sehari sebelumnya datang memperbaiki AC yang sama di rumah kami itu menawarkan harga Rp 350.000 untuk pekerjaan yang sama.

Selain sebagai tukang AC, Mawan juga bekerja sebagai tukang ojek pada pagi harinya. Dari Senin sampai Jumat pagi dia mengantar seorang bapak dari Sektor 9, ke stasiun Sudimara dengan bayaran Rp 350.000 per bulan. Setelah itu dia baru memenuhi panggilan untuk memperbaiki AC. Malam harinya, dia ngojek seorang ibu tukang pijit. "Saya melakoni peperjaan apa saja mas, yang penting halal. Saya kerja banting tulang seperti ini karena saya adalah anak sulung. Kalau bukan anak sulung, saya mungkin tidak terlalu bekerja seperti ini," imbuh pria lajang yang setiap empat bulan kembali ke kampung halamannya di Magelang.

Ya, Mawan memang belum menjadi orang sukses. Tetapi jalan ke arah sana sudah mulai dirintisnya. Dia masih bekerja dengan adiknya, tetapi bukan tidak mungkin, suatu saat dia mempekerjakan orang lain. Semangat juang, kerja keras, keberanian mengambil keputusan untuk bekerja mandiri dari Mawan patut dicontohi. (Alex Madji)

Jumat, 30 Maret 2012

Pria-pria Nakal di Atrium


Mal Atrium, Senen, Jakarta Pusat, pertengahan Maret 2012. Hari itu, saya janji bertemu seorang teman di sana. Kami janji bertemu pukul 19.00 WIB. Tetapi saya datang satu jam lebih awal. Saya lalu naik turun beberapa lantai mal tersebut, sambil menunggu teman saya tiba.

Di sebuah lantai, saya berpapasan dengan seorang bapak. Badannya tidak terlalu besar. Hidungnya mancung. Mengenakan kaus kuning berkerah dipadu jins biru. Tampilannya rapih. Tiba-tiba dia mengedipkan mata. Saya yakin, bapak itu tidak sedang genit dengan saya. Lalu saya coba melempar mata ke kanan. Ternyata di sana ada dua orang perempuan berpakaian seksi. Saya tak sempat menangkap reaksi mata kedua perempuan itu.

Tak lama berselang, saya saksikan bapak itu berlalu. Tak ada akis lanjutan. Kemungkinan, karena kedipannya tak bersambut. Kedua perempuan tadi juga terus berlalu ke arah yang mereka tuju. “Dasar laki-laki hidung belang,” batin saya sambil melintas.

Beberapa minggu berselang, teman saya bermain ke mal yang sama. Kami ngobrol jarak jauh melaui blackberry messanger (BBM). Saya sedang berada di kawasan Gatot Soebroto, Jakarta. Sementara dia baru saja melaporkan SPT di sana.

Teman saya mampir meneguk segelas jus di salah satu sudut mal itu, setelah rampung. Semeja dengannya, duduk seorang bapak. Sudah cukup umur, katanya. Dia ditemani seorang gadis yang masih ABG: anak baru gede. Teman saya ini merekam pembicaraan mereka dalam hati. Pembicaraanya terang. Tidak pakai bahasa simbol.

Si Bapak tua tadi ajak sang ABG untuk BBS alias bobo-bobo siang. Dan sepertinya deal. Sebab tak lama berselang, mereka pergi. Entah kemana. Tetapi ada satu hal yang pasti, di samping mal itu ada hotel, Aston Atrium. Hanya sepelembar batu dari situ juga ada Hotel Oasis. Apakah mereka ke sana, walahualam.

Itu hanya dua kisah yang terekam. Sebelumnya, sudah lama beredar cerita bahwa di mal Atrium Senen itu berkeliaran begitu banyak pria hidung belang. Kebanyakan dari Timur Tengah. Mereka mencari mangsa perempuan-perempuan Indonesia. Atau sebaliknya. Perempuan-perempuan Indonesia mencari mangsa pria-pria Timur Tengah yang berkeliaran di sana.

Aksi para pria Timur Tengah itu tidak hanya terjadi di mal atrium. Di Puncak, Bogor, Jawa Barat, kisah mereka juga sudah menjadi rahasia umum. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menikah siri dengan perempuan setempat. Setelah “puas” mereka kembali ke negaranya meninggalkan perempuan Indonesia dengan buah hati hasil perkawinannya.

Jusuf Kalla ketika menjadi Wakil Presiden secara berseloroh pernah berujar, perilaku itu cukup positif supaya makin banyak rakyat Indonesia memiliki hidung mancung dan menjadi bintang film.

Padahal perilaku para pria Arab itu adalah sebuah pelecehan. Karena itu, sudah saatnya nasib perempuan Indonesia dilindungi dan dibela dari kejahatan kelamin para pria dari Timur Tengah. Tetapi siapa yang memulai?

Keterangan foto: pertunjukan musk di Atrium Senen

Rabu, 28 Maret 2012

Ternyata Megawati Suka Jengkol


Megawati Soekarnoputri mengunjungi kantor kami pada Rabu, 28 Maret 2012 sore. Ini adalah bagian pertama dari media tour putri proklamator Ir Soekarno yang juga mantan Presiden ke-5 RI itu. Dia didampingi antara lain oleh Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Tjahjo Kumolo dan putrinya yang juga salah satu Ketua DPP PDI-P, Puan Maharani.

Tapi saya tidak ingin menulis tentang pertemuan tersebut. Sebab ini bukan media yang tepat untuk itu. Saya hanya ingin menulis sebuah sisi lain dari istri Ketua MPR Taufiq Kiemas ini.

Seorang teman yang juga kader PDI-P dan berkawan baik dengan orang ring satu Megawati menceritakan bahwa presiden perempuan pertama Republik Indonesia itu memiliki makanan kesukaan. Bukan hanya itu, mantan Ketua PDI yang mengalami represi pada masa Soeharto tersebut juga memiliki jenis makanan yang paling tidak disukai.

Menurut orang lingkaran dalamnya, Megawati paling suka makan jengkol, jenis makanan yang lazim disantap rakyat kelas bawah. Bahkan, jengkol satu mangkuk bisa disantap habis, kata teman saya tadi. Tetapi Mega menyukai makanan tersebut bukan karena disantap rakyat jelata, tetapi karena memang dia suka. Hanya saja, tidak dijelaskan alasan mengapa dia menyukai makanan tersebut. Mungkin hanya soal rasa. Dalam filsafat, masalah rasa tidak bisa diperdebatkan.

Selain itu, Megawati sangat suka combro sebagai cemilan. Karena itu, teman saya ini Rabu, 28 Maret 2012 pagi sibuk mencari jenis makanan ini sebagai sajian untuk Ibu Mega dalam kunjungan tersebut.

Hanya saja, Megawati tidak pernah disorot kamera wartawan baik foto maupun televisi saat dia makan jengkol atau combro. Beda dengan penggantinya, Presiden SBY yang selalu perlihatkan ke publik bahwa dia suka makan tempe dan tahu petis. Pernah sebuah ketika di Istana Negara, sejumlah wartawan diajak masuk ke ruang makannya untuk melihat menu makan siang Presiden. Keesokannya, hasil kunjungan itu menjadi feature sisi lain istana di sejumlah media massa.

Kembali ke cerita soal Megawati. Diceritakan pula bahwa ada dua jenis makanan yang paling tidak disukai Ketua Umum PDI-P ini. Yaitu ikan mas dan daging sapi. Soal ikan mas, Mega tidak suka dengan makanan ini karena ketika jaman kuliah dulu, dia kerja kuliah nyata (KKN) di sebuah tempat dan oleh tuan rumah tempat mereka menginap disajikan ikan mas. Padahal, dia melihat dengan mata kepala sendiri jenis makanan yang diberikan untuk ikan mas tersebut. Sejak itu sampai sekarang dia tidak konsumi jenis ikan ini.

Sementara soal daging sapi, teman saya tadi tidak menceritakan alasannya. Tetapi saya menduga ini terkait dengan keturanan Mega yang berasal dari Bali. Di Bali, khususnya di kalangan umat Hindu, sapi adalah hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan. Ini hanya dugaan saya, yang harus dicaritahu lebih dalam lagi kebenarannya.

Kalau Anda punya informasi soal ini silahkan melengkapi tulisan ini. Titip informasi Anda itu pada kolom komentar di bawah ini dan saya akan menambahnya pada artikel ini. (Alex Madji)

Senin, 26 Maret 2012

Terimakasih BBM dan Tomcat


Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi berita utama berbagai media massa beberapa hari belakangan ini. Apalagi, reaksi mahasiswa di sejumlah daerah membuat berita terkait kenaikan harga BBM ini makin marak. Aksi unjuk rasa mahasiswa dan buruh menghiasi halaman depan media massa dan menjadi topik utama talk show media televisi. Lebih-lebih lagi, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) over acting ingin mengerahkan tentara guna mengamankan unjuk rasa mahasiswa dan buruh.

Di sela-selanya, ada berita tentang serangga Tomcat yang menyerang warga. Mula-mula dari Jawa Timur kemudian menular ke daerah-daerah lain, termasuk kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Media televisi paling gencar memberitakan serangga ini, termasuk memperlihatkan warga yang sudah terkena bisa serangga ini. Lukanya seperti luka gores. Bukan luka serius yang mematikan.

Tetapi anehnya, sejumlah wartawan di Jawa Timur tidak menemukan serangga Tomcat ini saat mereka melacak ke lokasi yang diberitakan media televisi. Lalu tersiar khabar bahwa berita serangga ini sengaja dibesar-besarkan. Bahkan, cerita serangga Tomcat ini adalah rekaan. Tujuannya untuk mengalihkan berita aksi unjukrasa mahasiswa dan buruh yang menolak kenaikan harga BBM.

Bila melihat pemberitaan media saat ini, sepertinya serangga Tomcat belum bisa menutupi berita aksi unjuk rasa mahasiswa dan buruh. Meski berita serangga Tomcat tetap ada, tetapi berita unjuk rasa juga tidak kalah serunya. Keduanya belum saling menutupi. Sementara Presiden SBY “lari” ke luar negeri, ketika unjuk rasa dalam negeri marak. Ya ini taktik lama SBY. Setiap kali Jakarta dilanda unjuk rasa, dia mengungsi baik dengan melakukan kunjungan ke luar negeri maupun ke daerah-daerah.

Tetapi yang pasti, dua berita itu menutup tuntas pemberitaan dugaan korupsi para petinggi Partai Demokrat dalam kasus pembangunan wisma atlet dan dan sarana olahraga Hambalang, Sentul, Jawa Barat, yang diduga melibatkan Ketua Umum Partai itu Anas Urbaningrum dan Angelina Sondakh yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Pada satu minggu terakhir, pemberitaan tentang praktek korupsi partai penguasa ini tenggelam oleh hingar bingar pemberitaan kenaikan harga BBM dan serangga Tomcat. Para petinggi Partai Demokrat untuk sementara bisa menarik napas lega, setelah pemberitaan media massa yang begitu gencar. Dan bukan tidak mungkin, mereka melakukan operasi senyap untuk mempatieskan kasus tersebut karena sudah luput dari perhatian publik.

Tugas media massa seharusnya adalah terus mengawal dan menggonggong agar ingatan masyarakat pada kasus korupsi para petinggi Partai Demokrat ini tetap hidup. Tetapi memang, media di negara kita ini selau menerapkan taktik “hit and run”. Setelah sebuah isu diberitakan habis-habisan dan ketika tidak seksi lagi, karena ada isu baru, lantas ditinggal. Ingatan masyarakat pun sependek pemberitaan media massa seperti itu. Situasi inilah yang dimanfaatkan para koruptor untuk menyusun strategi menghilangkan jejak kasus tersebut.

Karena itu, para tersangka dan calon tersangka kasus korupsi dari Partai Demokrat harus berterima kasih kepada BBM dan serangga Tomcat. Keduanyalah yang menyingkirkan mereka dari ruang publik, sambil berharap masyarakat dan media cepat lupa pada kasus korupsi tersebut. Selanjutnya, mereka membangun citra diri sebagai orang paling bersih dari korupsi. (Alex Madji)

Sumber foto: http://www.bloginfonews.com/

Selasa, 20 Maret 2012

Ada TNI di Kongres PSSI?


Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) baru saja menyelesaikan kongres tahunannya di Palangka Raya, Minggu 18 Maret 2012. Acara itu dibuka Gubernur Kalimantan Tengah Augustin Teras Narang pada Sabtu, 17 Maret 2012 malam di kantor Gubernur Kalimantan Tengah. Pada acara tersebut, penguasaha Arifin Panigoro hadir. Bahkan setelah acara pembukaan, AP, inisial namanya, berbicara di depan para peserta kongres. Mereka mendengar penuh takzim.

Acara malam itu hanya diisi dengan pidato Ketua Umum PSSI Djohar Airifn Husin dan Teras Narang. Selesai acara resmi, Teras Narang memperlihatkan kebolehannya dalam hal bernyanyi. Dia membawakan tiga lagu, antara lain “My Way” dan ”Kemesraan” diiringi paduan suara Sola Fide. Meriah dan menghibur.

Keesokan harinya, Minggu, 18 Maret 2012, kongres baru dimulai pada pukul 09.00 WIB di Hotel Aquarius, Palangka Raya. Wartawan yang diboyong dari Jakarta tidak diperkanankan masuk ke ruang kongres. Mereka hanya berkumpul di ruang pers sambil menunggu mereka yang datang jumpa pers di situ. Pada jam 12.00 WIB, rapat itu sudah kelar.

Ketua umum Djohar Arifin Husin diamping komite eksekutif (Esko) lainnya memberikan pernyataan pers. Dari sekian butir pernyataannya, sebenarnya tidak ada yang baru. Semua sudah dibicarakan sebelumnya. Yang baru adalah bahwa kongres menyepakati apa yang sudah disampaikan pengurus PSSI sebelumnya itu. Dengan kata lain, kongres itu hanya untuk mengetok apa yang sudah disiapkan PSSI alis kongres itu formalitas belaka.

Intinya, PSSI mau merangkul klub-klub ISL karena mereka adalah anggota PSSI dan menyelesaikan dualisme kompetisi. Bukan yang lain.

Tetapi saya tidak ingin menyoroti itu. Yang mau saya soroti adalah fakta yang saya temukan pada Senin, 19 Maret 2012 pagi. Pagi itu, pukul 07.00 WIB, saya turun ke restoran Hotel Luwansa, Pangka Raya, tempat kami menginap. Saya temukan pemandangan aneh di sana.

Sejumlah pria berpakaian militer dengan pangkat Letnan Kolonel dan Kolonel sedang menikmati sarapan. Meski dari tanda pangkatnya, saya tahu mereka bukan komandan. Dalam hati saya berpikir, apakah bapak-bapak ini menjadi peserta kongres PSSI kemarin. Praduga itu terlintas begitu saja karena setahu saya yang menginap di Hotel Luwansa adalah peserta kongres dan wartawan peliput kongres tersebut. Peserta lainnya menginap di Hotel Aquarius. Sementara tim nasional di Swissbell Hotel.

Ya, selama kongres setengah hari itu memang tidak bisa bedakan ini militer atau tidak. Karena semua berpakaian sipil. Ketika Senin pagi itu mereka mengenakan pakaian militer, saya lalu bertanya pakah para anggota militer itu memang pengurus sepakbola di provinsi atau kabupaten/kota? Ataukah mereka sengaja dikerahkan agar kongres itu memenuhi kuorum?

Pertanyaan ini memang perlu diverifikasi. Sayang saya tidak punya cukup keberanian untuk bertanya kepada pria berseragam itu. Tetapi paling tidak fakta ini memperkeruh situasi sepakbola saat ini. Nah, pembaca sekalian silahkan menilai sendiri.

Sabtu, 17 Maret 2012

Mengenang Liputan Pemilu Timor Leste 2007


Sabtu, 17 Maret 2012, Repulblik Demokratik Timor Leste menggelar Pemilihan Umum Presiden. Ini adalah pemilu kedua negara itu sejak merdeka dari Indonesia. Membaca berita pemilu presiden Timor Leste ini, saya teringat pengalaman meliput pemilu presiden 2007 di negara bekas provinsi ke-27 Indonesia tersebut. Ketika itu, suasana masih tegang karena negara itu baru dilanda konflik politik dan kekerasan horishontal.

Pertikaian politik terjadi antara kelompok Partai Fretelin di satu pihak dengan tokoh utama Mari Alkatiri melawan Xanana Gusmao dan Jose Ramos Horta di pihak lain. Pertikaian politik ini berujung pada jatuhnya Mari Alkatiri dari kursi Perdana Menteri. Pertarungan ini sebenarnya pertarungan idiologis antara kelompok sosialis (Fretelin) dengan kelompok pragmatis/kapitais diwakili Xanana Gusmao dan Ramos Horta yang didukung asing terutama Australia,

Konflik ini ditambah lagi oleh pemecatan sekelompok militer. Kasus inilah yang kemudian menimbulkan peristiwa berdarah dan memakan korban jiwa. Kelompok tentara ini kemudian menjadi kelompok pemberontak pimpinan Mayor Alfredo. Konflik ini merembet ke pertikaian antara warga Timor Leste bagian timur dan warga Timor Leste bagian barat. Suasana mencekam masih terasa ketika saya tiba di Dili lima tahun silam.

Korban konflik pun masih tinggal di tenda-tenda pengugsi di tengah Kota Dili ketika itu, tidak jauh dari Hotel Timor, Hotel Indonesianya, Timor Leste.

Pemilu Timor Leste lima tahun silam itu berlangsung hanya sehari setelah paskah. Saya tiba di Dili persis Jumat Agung. Begitu tiba di Bandara Lobato Dili yang dulu disebut Bandara Comoro, saya memilih menginap di Hotel Timor Lodge. Tidak jauh dari Bandara.

Hotel itu sebenarnya terbuat dari petikemas yang disulap jadi hotel. Tapi yang nginap di situ kebanyakan bule. Punya kolam renang. Resepsionisnya seorang perempuan Filipina. Sedangkan satpamnya mantan tentara Fretelin yang berjuang di hutan Timor Leste ketika menjadi bagian wilayah Indonesia. Bahasa Indonesia mereka patah-patah.

Selepas mengurus hotel, saya langsung mencari Gereja Katedral. Tapi sayang, ketika itu ibadat Jumat Agungnya masih lama. Tarif taksi dari Comoro ke tegah kota Dili 1 dolar Amerika Serikat. Sopir taksi setempat berbicara Bahasa Indonesia. Siaran-siaran radio pun masih campur Bahasa Tetun dan Indonesia. Sopir taksi mengingatkan saya untuk tidak pulang terlalu malam karena situasi belum kondusif. Taksi pun tak berani pulang di atas jam enam. Maka setelah melihat Dili sepintas lalu dan mengunjungi Kantor KPU-nya, saya kembali ke hotel menggunakan taksi dengan tarif yang sama. Hari itu dilewati tanpa mengikuti Jumat Agung.

Jam demi jam di hotel saya lewati dengan membaca novel yang saya bawa dari Jakarta. Keesokan harinya saya kembali ke pusat Kota Dili. Saya mampir di Hotel Timor tempat para pemantau dan pengamat asing berkumpul. Pas jam makan siang saya ke Kampung Alor. Makan siang di warung nasi milik orang-orang Indonesia dengan menu nasi ayam seharga satu dolar AS.

Selepas makan siang, saya mengikuti jumpa pers para calon dan para pendukungnya. Juga mengikuti jumpa pers KPU. Jumpa pers di sana diberikan oleh seorang pastor SDB dalam empat bahasa: Tetun, Inggris, Indonesia, dan Porto dengan sama lancarnya. Mengagumkan.

Ketika senja tiba, saya bergeser ke depan Governo atau Kantor Perdana Menteri. Ini adalah bekas kantor Gubernur Timor Timur. Tidak ada pagar pembatas. Ini adalah kompleks kota tuanya Dili. Di sekitar situ banyak bangunan tua peninggalan Portugis. Ada yang terawat bagus. Ada juga yang tidak. Di depan kantor perdana menteri itu, ada lapangan cukup luas. Di ujungnya ada pohon-pohon yang di bawahnya ditempatkan kursi. Pengunjung bisa duduk-duduk di situ menikmati senja dan semilir angin pantai. Di bibir pantai ada tembok yang bisa diduduki sambil menyaksikan matahari tenggelam di balik ufuk. Sungguh Indah. Sebelum jam enam, saya balik ke Hotel Timor Lodge. Malamnya, saya ikut misa paskah di gereja Comoro yang tidak jauh dari hotel. Saya bersama umat di sekitar gereja itu mengendap dalam kegelapan malam. Tidak ada penerangan jalan. Wangi-wangian para gadis yang ke gereja semerbak.

Minggu, saya kembali ke tengah Kota Dili. Kali ini naik angkot sampai tengah Kota Dili. Kemudian ambil taksi untuk mensurvei rumah salah satu calon presiden yang menjabat sebagai perdana menteri saat itu, Jose Ramos Horta, yang tidak jauh dari bibir pantai Pasir Putih di jalan menuju bukit Patung Kristus Raja. Sengaja saya melihat tempat itu karena saya berencana meliput hari pemungutan suara besok pagi di tempat tersebut. Rutinitas hari itu sama dengan Sabtu kemarin.

Hari H, saya meliput pemungutan suara di tempat pemungutan suara tidak jauh dari rumah Romos Horta. Tidak seperti di Indonesia, Ramos Horta ikut antre bersama warga lain saat ke bilik suara. Saya ambil fotonya, dan menjadi foto headline koran tempat saya bekerja pada hari itu. Padahal foto itu diambil pakai kamera saku. Saya tidak sempat ke rumah Xanana Gusmao karena mereka memberikan suara pada jam yang hampir bersamaan.

Setelah kirim berita, saya mengaso sebentar. Menjelang sore, saya pergi ke beberapa TPS untuk menyaksikan penghitungan suara. Di beberapa TPS yang saya lihat, Ramos Horta unggul jauh dari lawan-lawannya. Begitupun di TPS di SMP di depan Hotel Timor Lodge. Ramos Horta unggul atas calon presiden dari Fretelin, Lu Olo. Dan benar, di Dili, Horta menang total. Tetapi di daerah lain, Lu Olo unggul, diikuti calon-calon lain seperti calon dari Partai Demokrat Fernando De Araujo yang pada pemilu tahun ini mencalonkan diri kembali.

Hasil akhirnya, tidak ada calon yang menang mutlak. Pemilu Presiden harus dilakukan dalam dua putaran. Dua calon peraih suara tertinggi yaitu Jose Ramos Horta dan Lu Olo bertarung head to head. Pasca pengumuman itu, segmentasi politik lalu terbentuk. Fretelin menjadi musuh bersama. Dan, memang akhirnya, pada putaran kedua, Jose Ramos Horta menang telak dan terpilih sebagai Presiden Timor Leste.

Tetapi saya sudah tidak mengikuti lagi pemilu putaran kedua tersebut. Saya hanya mengikuti pemilu putaran pertama sampai tahap pengumuman pemenang, sebelum akhirnya saya kembali ke Jakarta.

Proses demokrasi di negara baru itu memang tidak berjalan mulus karena diwarnai kekerasan. Tetapi tampaknya tahun ini, prosesnya lebih baik dan jauh dari aksi kekerasan. Mudah-mudahan tahun ini pemilunya lebih demokratis, fair, adil dan jujur. Selamat berpesta demokrasi Timor Leste. (Alex Madji)

Spanyol Terbaik


Kali ini saya buat catatan tentang bola. Tentang liga sepakbola terbaik di jagat raya ini, setelah tersingkirnya Manchester United (MU) dan Manchester City dari ajang Liga Europa.

Liga Utama Inggris selama ini diamini publik sebagai liga terbaik di dunia. Dia menggeser Liga Italia yang pada satu dekade silam menjadi kiblat sepakbola dunia. Sekarang Liga Italia tergusur di belakang La Liga Spanyol yang diyakini masih satu kelas di bawah Liga Utama Inggris.

Tetapi melihat hasil kompetisi di kancah Eropa musim ini, klaim Liga Inggris sebagai yang terbaik digugat habis. Sebab tim-tim papan atas negara itu gugur pada fase grup di Liga Champions. MU kalah bersaing dari Benfica. Manchester City tersingkir oleh Napoli. Kedua klub itu lalu terlempar ke kompetisi kelas dua, Liga Europa.

Hanya Arsenal dan Chelsea yang masuk ke babak 16 besar. Itu pun, Arsenal kandas di tangan Milan, setelah takluk 4-0 di San Siro dan menang 3-0 di Stadion Emirates. Di babak perempat final, Inggris hanya diwakili Chelsea yang lolos secara dramatis karena berhasil menyingkirkan Napoli yang sudah unggul 3-1 pada leg pertama di Stadion San Paolo tetapi akhirnya bisa berbalik menang 4-1 di Stamford Bridge.

Di Liga Europa, nasib tim-tim Inggris lebih buruk lagi. MU dan City memang lolos ke-16 besar, tetapi mereka gagal ke perempat final setelah kalah bersaing dengan Athletic Bilbao (Spanyol) dan Sporting Lisbon (Portugal). Akibatnya, tidak ada satu pun wakil Inggris di ajang tersebut.

Coba bandingkan dengan Spanyol. Di Liga Champions, mereka mengutus Barcelona dan Real Madrid ke perempat final. Keduanya malah favorit juara pada turnamen paling bergengsi di Eropa ini. Di Liga Europa, wakil Spanyol lebih banyak lagi. Di perempat final, Spanyol diwakili Atletico Madrid, Athletic Bilbao, dan Valencia.

Sir Alex Ferguson, pelatih MU, setelah timnya disingkirkan Athletic Bilbao di Stadion San Memes, mengatakan bahwa Bilbao adalah salah satu favorit juara Liga Europa.

Dari data di atas, patut kita bertanya, masihkah kita menilai Liga Utama Inggris sebagai yang terbaik di muka bumi ini? Bukankah liga terbaik itu sudah diambil alih Spanyol?

Nah, kalau saya berpendapat, tahun ini La Liga Spanyol adalah yang terbaik di dunia, seperti pernah dibilang Xavi Hernandez, gelendang brilian Barcelona. Sebab mereka mendominasi Liga Champions dan Liga Europa.

Pendapat itu semakin diperkuat lagi bila melihat hasil Piala Dunia dan Piala Eropa, dimana mereka menjadi juara Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Pendapat yang menyebutkan bahwa liga yang terbaik selalu menghasilkan tim nasional yang terbaik juga menjadi terbukti benar. Jadi, saat ini La Liga Spanyolah yang terbaik di jagat raya ini. Bukan Inggris. (Alex Madji)