Senin, 17 Oktober 2011

Kampung Gajah Minus Gajah


Pilihan tempat rekreasi di Bandung, terutama di Lembang, Jawa Barat makin banyak. Sejumlah agrowisata di kawasan Lembang dikela dengan sebutan kampung. Ada kampung stroberi . Ada kampung daun. Kini ada satu objek wisata yang tidak terlalu jauh dari dua tempat itu, yakni Kampung Gajah.

Kampung Gajah ini terletak di Dewan Ciheudeng, Kecamatan Lembang, Bandung, Jawa Barat. Namanya Kampung Gajah, tetapi jangan berharap Anda akan menemukan hewan Gajah di dalamnya. Yang ada hanya patung-patung gajah. Di gerbang masuk, Anda disambut patuh gajah besar.

Objek wisata ini menggabungkan sejumlah wisata seperti wahana permainan baik bagi anak-anak maupun orang dewasa, wisata kuliner, dan wisata belanja. Di sana ada beberapa FO besar dan Anda bisa menjajakan mata di situ. Atau ketika anak-anak Anda menikmati wahana permainanan bersama pembantu, Anda bisa memilih pakaian kesukaan Anda. Setelah semua lelah dan lapar, Anda bisa duduk-duduk di begitu banyak restoran yang ada di situ. Ada Resto & Café, Ada Warung Sunda, ada restoran Jepang dan aneka makanan lainnya.

Untuk anak-anak, ada macam-macam permainan. Ada Bumper Boad, boad yang terbuat dari karet dan diberi atap lengkap dengan kemudi, yang harus dibayar Rp 200.000 untuk lima orang. Di keliling danau kecil itu ada lintasn rel kereta yang berjalan super lambat dengan tarif Rp 15.000 per orang. Anak saya, pada Minggu, 16 Oktober 2011 memilih naik kereta ini.

Selain dua permainan ini, masih ada mainan motor cross dengan tarif Rp 30.000 per sepuluh menit per orang, formula Kart (Rp 45.000 per 10 menit). Tetapi lintasannya pendek. Masih ada lagi mainan ambhibi, sky raider, dan pelosotan untuk orang dewasa dan masih banyak jenis permainan lainnya. Anda juga bisa menyaksikan sky view.

Lokasa Kampung Gajah ini terletak di lereng dan pada bagian tertentu cukup curam. Di ujung bawah lokasi itu ada aliran sungai yang mengering. Di pinggirnya akan dibangun wisata air atau water boom. Saat ini, obyek wisata air itu sedang dibangun.

Tetapi dilihat dari kemiringan tanahnya, lokasi ini sepertinya rawan longsor . Saat ini, lokasi itu memang sangat gersang. Pohon-pohon baru ditanam dan belum tampak hidup. Kalau pohon-pohon sudah hidup, lokasi ini akan sejuk dan membuat cuaca dingin Lembang makin tambah dingin.

Lebih dari itu, mudah-mudahan pohon-pohon itu nanti bisa menyerap air hujan ke dalam tanah dan tidak menimbulkan longsor serta tidak menelan korban jiwa. Hingga akhirnya, Anda bisa enjoy berekreasi di Kampung Gajah yang minus gajah itu. (Alex Madji)

Kamis, 13 Oktober 2011

Jakob Oetama dan Dahlan Iskan


Pada 27 September 2011, pendiri Kelompok Kompas Gramedia (KKG) Jakob Oetama merayakan ulang tahun ke-80. Perayaan itu ditandai dengan peluncuran buku super tebal “Syukur Tiada Akhir Jejak Langkah Jakob Oetama” karya St Sularto terbitan Penerbit Buku Kompas. Tadinya, buku ini dirancang sebagai otobiografi Jakob Oetama. Tetapi kemudian berubah menjadi tulisan Sularto tentang bosnya itu.

Sebagai tokoh pers yang sangat disegani, ulang tahun Jakob Oetama mendapat perhatian publik. Tak terkecuali dari kalangan pers.

Pemilik Jawa Pos Grup, Dahlan Iskan, misalnya membuat tulisan tentang Jakob Oetama yang dimuat di hampir seluruh media Grup Jawa Pos. Dalam tulisan itu, Dahlan Iskan yang kini menjadi Direktur Utama PLN antara lain mengagumi Jakob yang dianugerahi umur yang panjang.

Menurut catatannya, Jakob adalah segelintir wartawan yang berusia panjang. Ini langka terjadi. Yang kerap terdengar adalah wartawan cepat mati karena berbagai penyakit akibat alpa menjaga kesehatan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan baik di kantor maupun lapangan ataupun karena gaya hidup.

Selain itu, Dahlan Iskan mengagumi campur sinis tentang kepimpinan Jakob Oetama yang begitu lama di Kompas. Bayangkan, JO, begitu dia disapa di internal KKG, menjadi pemimpin redaksi hingga usia 70 tahun. Bahkan hingga kini dia masih sebagai pemimpin umum. Meskipun, operasional KKG sudah diserahkan ke CEO tangguh Agung Adiprasetyo. Selain itu, JO juga memegang jabatan di Serikat Penerbit Surat Khabar dalam kurun waktu yang cukup lama sebelum diserahkan begitu saja kepada Dahlan Iskan.

Dahlan Iskan sendiri berhenti menjadi Pemimpin Redaksi pada usia 37 tahun dan mundur total dari manajemen Jawa Pos Grup pada usia yang masih produktif. Bahkan sekarang seluruh kendali Jawa Pos Grup dialihkan ke CEO yang masih berumur 34 tahun. Sedangkan Dahlan Iskan sendiri hanya sebagai pemegang saham

Kritik yang paling tajam Dahlan Iskan terhadap JO dan Kompasnya adalah gaya jurnalistik Kompas yang disebutnya “penyakit Kompas”. Dahlan Iskan dengan terus terang mengaku bahwa dia paling tidak suka dengan jurnalisme seperti ini. Karena itu, kepada para wartawan baru Jawa Pos, Dahlan Iskan menekankan untuk tidak meniru gaya jurnalisme Kompas atau tidak terjangkit penyakit Kompas. Dahlan yang pernah melakukan transplantasi hati di Cina itu mengaku tidak suka dengan “penyakit Kompas” itu karena Jawa Pos lebih memilih gaya bertutur.

Lebih dari itu, Dahlan Iskan salut dengan JO, menghargai, mengagumi pria kelahiran 27 September 1931 itu. Tetapi pada saat bersamaan dia menyatakan bahwa Kompas adalah pesaingnya. Tetapi persaingan keduanya berlangsung sehat justru karena keduanya memiliki visi yang berbeda. Kompas, kata Dahlan Iskan, menguasai nusantar dari pusat, tetapi Jawa Pos menguasai nusantara dari daerah. Persaingan sehat itu membuat keduanya sama-sama besar.

Fortiter in re, suaviter in modo
Setelah membaca buku “Syukur Tiada Akhirn Jejak Langkah Jakob Oetama”, kritikan Dahlan Iskan soal “penyakit Kompas” itu terjawab tuntas. Menurut buku setebal 659 halaman itu, jurnalisme Kompas ini oleh Rosihan Anwar disebut “jurnalisme kepiting”, sebuah jurnalisme yang bisa menyesuaikan diri dengan situasi. Tetapi dia tidak terhanyut situasi yang ada. Dia tetap memiliki prinsip dan memegang teguh prinsip itu. Jurnalisme seperti inilah yang membuat Kompas bisa hidup di segala zaman.

Ternyata, gaya yang disinis oleh Dahlan Iskan itu memiliki dasar yang kuat dan kokoh. Jakob Oetama mendasarkan diri pada pepatah latin yang berbunyi “fortiter in re, suaviter in modo”. Artinya halus dalam cara, teguh dalam prinsip. Gaya boleh luwes dalam menyampaikan berita tetapi tetap ada prinsip yang teguh dan tidak bisa ditawar. Inilah yang dipegang Jakob Oetama dalam membangun KKG.

Ini pulalah kekhasan Kompas yang tidak dimiliki media lain. Meskipun Dahlan Iskan benci dengan gaya ini, tetapi itulah gaya yang dipilih Kompas dan siapa pun layak menghargai dan menghormatinya, seperti juga mereka menghormati dan menghargai gaya jurnalistik media lain.

Prinsip itu berurat berakar dalam pribadi Jakob Oetama. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya. Dia dididik di Seminari Menengah Mertoyudan selama enam tahun. Kemudian masuk ke Seminari Tinggi Kentungan, meski hanya sebentar sebelum akhirnya mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas. Bahkan Jakob sendiri tidak tahu alasan mengapa dia mundur.

Kemudian dia memulai dunia kerja di lingkungan Fransiskan dengan menjadi guru di sekolah Mardiyana Cipanas yang dikelola Fransiskan kemudian mengelola Majalah Penabur yang didirikan oleh Fransiskan. Bahkan profesi wartawan yang dipilih Yakob ditentukan oleh Fransiskan.

Ketika dia hendak memilih menjadi guru seperti bapaknya, seorang Pastor Fransiskan, misionaris asal Belanda bernama Pastor JW Oudejans OFM memintanya untuk menjadi wartawan. Sebab ketika itu wartawan Katolik sangat jarang sementara guru sudah bergelimpangan. Maka terceburlah Jakob menjadi seorang wartawan dan ternyata sukses hingga usia senjanya yang ke-80. [Alex Madji]

Selasa, 11 Oktober 2011

Reshuffle Kabinet dan Korupsi


Isu reshuffle atau perombakan kabinet kembali mencuat. Sejak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Presiden pada 2004, isu ini muncul setiap tahun. Siklusnya mulai akhir September hingga 20 Oktober, ulang tahun pemerintahan.

Tahun lalu, isu ini begitu gencar dan bertahan cukup lama. Tetapi SBY bergeming. Pada satu tahun pemerintahannya, dia tidak melakukan pergantian atau pergeseran anggota kabinetnya. Meskipun desakan untuk itu sangat kuat.

Tahun ini, 2011, isu tersebut muncul kembali sejak akhir September. Kadang-kadang unik dan lucu. Para politisi Partai Demokrat bersahut-sahutan berbicara tentang reshuffle. Ketua DPR, Marzuki Alie, misalnya pernah berujar bahwa dia sudah mendapat bocoran nama-nama anggota kabinet.

Didi Irawady Syamsuddin dan Ramadhan Pohan, keduanya kader Partai Demokrat, memastikan ada reshuffle. Tetapi pergantian kabinet ini, kata mereka, bukan sebagai sanksi untuk parpol koalisi yang mbalelo tetapi untuk kinerja pemerintahan yang lebih baik. Alasannya pun kuat, berdasarkan masukan dari masyarakat dan evaluasi kinerja kementerian oleh UKP4 pimpinan Kuntoro Mangkusubroto.

Presiden SBY sendiri juga tidak kalah uniknya. Dia ikut memainkan isu ini. Dia misalnya menanyakan kepada wartawan soal bocoran reshuffle. Memang, SBY punya gaya tersendiri menghadapi wartawan di Istana. Kadang-kadang, para staf khususnya dan Biro Humas memberitahu wartawan bahwa SBY mau didoorstop. Tetapi sesungguhnya bukan doorstop. Sebab, begitu wartawan dikumpulkan entah di depan pintu ruang kerjanya atau di halaman depan Kantor Presiden, SBY datang dan langsung ngomong. Wartawan tinggal mendekatkan recorder ke SBY atau menempel di pengeras suara yang sudah disiapkan. Tidak ada rentetan pertanyaan dari wartawan sebagaimana doorstop sesungguhnya. Selesai bicara dia pergi.

Cara lainnya adalah staf khusus SBY sudah menitipkan pertanyaan kepada beberapa orang “wartawan pilihan”. Tentu ini dilakukan sembunyi-sembunyi. Begitu SBY datang, dia akan memulai dengan bertanya, “Ada pertanyaan?” Lalu wartawan yang tadi dititipi pertanyaan itu mengajukan pertanyaan.

Ada lagi cara yang lebih spontan. Setelah wartawan berkumpul, SBY akan bertanya apa isu yang hangat hari ini? Setelah diberitahu wartawan secara beramai-ramai, dia lalu merespons isu tersebut. Itulah yang dimaksud SBY doorstop.

Gaya SBY seperti tadi membuat isu reshuffle ini menjadi hidup dan riuh. Belum lagi diikuti dengan aksi pemanggilan para menteri dan orang-orang tertentu ke Cikeas, kediaman pribadi Presiden SBY. Hal ini menyedot perhatian media massa dan rakyat yang melihat televisi dan membaca koran dan media online.

Pengelolaan isu ini nyaris menenggelamkan pemberitaan tentang berbagai kasus korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seperti kasus korupsi di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang diduga melibatkan Menteri Muhaimin Iskandar dan perkara mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Mohammad Nazaruddin.

Kasus yang terakhir ini ikut menyeret Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan kader-kader top partai itu seperti Menteri Pemuda dan Olah Raga Andi Mallarangeng dan Angelina Sondakh.

Bahkan kasus ini semakin tenggelam sejak kasus korupsi di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mencuat. Sempat ada dugaan bahwa kasus korupsi di Kemenakertrans sengaja dimunculkan untuk menutupi kasus korupsi di tubuh Partai Demokrat. Begitupun isu reshuffle kabinet dicurigai untuk menenggelamkan kasus korupsi yang melibatkan kader-kader SBY.

Dugaaan dan curiga itu akan semakin terbukit, bila isu reshuffle ini tidak berujung perombakan kabinet, terutama mengganti sejumlah menteri yang bermasalah dan berkinerja buruk. Kalau SBY seperti tahun lalu, tetap bergeming di tengah desakan publik mengganti kabinet, maka benar adanya bahwa ini semua sengaja dimainkan untuk menutupi kasus-kasus korupsi yang seharusnya diungkap sampai tuntas. Maka, kita tunggu keberanian SBY. (Alex Madji)

Senin, 10 Oktober 2011

Menemukan Originalitas


Minggu, 9 Oktober 2011, para mantan pastor, frater, dan bruder Fransiskan atau Ordo Fratrum Minorum (OFM) berkumpul di Kramat Raya 134 Jakarta Pusat. Mereka berkumpul untuk merayakan Pesta Santo Fransiskus Asisi, pendiri OFM yang sebenarnya jatuh pada 4 Oktober.

Pesta itu dirayakan dalam misa yang digabung dengan ofisi di kapel baru Panti Asunah Vinsensius Putra dan dipimpin oleh Pastor Yan Laju OFM dan Alex Lanur OFM. Alex Lanur yang juga guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara itu bertindak sebagai selebran Utama. Sedangkan khotbah dibawakan oleh Yan Laju. Setelah misa, acara dilanjutkan dengan sharing gagasan di Aula Vinsensius dengan pembicara Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun dan moderator Cyprianus Aoer.

Menurut Rikard, kemajuan teknologi sekarang ini menyulitkan orang menemukan originalitas. Akibatnya orang sulit membedakan antara yang substansi dan sesansi. Suka kebolak balik. Yang sensasi dianggap sebagai substasi, sementara yang substansi dijadikan sensasi belaka.

Kemajuan zaman ini juga membuat dunia ini di satu pihak tidak berjarak, tetapi pada saat yang sama berjarak. Dengan teknologi komunikasi, yang jauh menjadi dekat. Tetapi dengan teknologi yang sama yang dekat menjadi jauh. Contohnya, dalam satu rumah, ibu dan anak ada pada kamar atau ruang yang berbeda. Kalau perlu satu sama lain, tinggal angkat telpon atau ber BBM (blackberry message) ria.

Atau suami istri berada dalam satu kamar tetapi masing-masing sibuk dengan BB (Blackberry). Sang istri asyik berkomunikasi dengan teman-temannya di luar rumah baik dalam grup maupun personal. Suami juga begitu. Tanpa sadar, mereka saling meniadakan dalam ranjang yang sama. Sementara anak diserahkan urusannya pada pembantu rumah tangga.

Dalam kehidupan dunia seperti itu, perlu ada upaya untuk menemukan kembali originalitas untuk memastikan bahwa yang substansi tetaplah substantif. Dia tidak bisa diganti oleh sesuatu yang sensasional. Dalam originalitas, yang sensasi tidak akan menjadi substansi.

Spritualitas fransiskan menjadi salah satu jawabannya. Nilai-nilai yang ditawarkan Santo Fransiskus dari Asisi selalu up to date untuk sampai kapan pun. Nilai persaudaraan, kerendahan hati, saling menghargai, solidaritas, pencintai damai, dan masih banyak nilai fransiskan lainnya selalu aktual untuk menemukan originalitas itu.

Nilai-nilai ini menjadi bekal bagi siapa pun agar tidak kehilangan arah dan orientasi serta tidak terombang-ambing oleh perkembangan yang semakin mutakhir dan dunia yang semakin riuh. Dengan demikian, gerak dan ayunan langkah dalam memaknai dan mengejar tujuan hidup ini bisa dilakukan secara pasti.

Acara para mantan OFM itu dihadiri antara lain Guru Besar Emeritus Univesitas Indonesia Robert Lawang, dua mantan Anggota DPR dari PDI Perjuangan Cyprianus Aoer dan Ben Vinsen Jeharu, Pastor Kons Bahang yang baru saja merayakan 25 tahun imamatnya dan 27 saudara lainnya. Beberapa di antaranya datang dengan anak istri. Semua bersama-sama menimba bekal untuk menemukan originalitas.

Pada pertemuan itu putuskan pula ada pengurus untuk mengelola para mantan OFM ini. Ketua terpilih adalah Felly Kama dibantu beberapa saudara dari beberapa angkatan. Agenda Utama pengurus adalah, dalam semangat persaudaraan dan solidaritas, menggalang dana untuk pendidikan para Fransiskan. (Alex Madji)

Kamis, 06 Oktober 2011

Dari Relawan Kemanusiaan Menjadi Milioner


Penampilan Tadeus Prio Utomo tidak berubah. Padahal dia sudah menjadi pengusaha sukses di Republik Demokratik Timor Leste. Dia menjadi pengusaha sekelas Raul Lemos, suami artis Krisdayanti dari bekas provinsi ke-27 Indonesia itu. Rabu, 5 Oktober 2011 siang, dia hanya mengenakan hem lengan pendek warna orange, celana jins dan spatu sport sambil pikul ransel. Gaya seperti ini masih sama seperti beberapa tahun silam, ketika dia belum menjadi apa-apa. Yah, Prio - demikian dia biasa disapa – memang tidak ingin disebut pengusaha.

Siang itu, Prio datang bersama seorang teman lamanya yang pernah sama-sama menekuni bisnis penerbitan, tetapi gagal. “Kami pernah memikul buku ke kampus-kampus dan selalu dikejar-kejar utang,” ujarnya mengenang.

Belum lama kami bincang-bincang, seorang rekan bisnisnya di Timor Leste - seorang karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang ikut mengerjakan proyek di negeri Xanana Gusmao itu - datang. Pembicaraan selanjutnya berkisar tentang aktivitas usaha Prio di Dili. “Pak Prio lebih senang hujan emas di negeri orang daripada hujan air di negeri sendiri,” kata temannya itu melukis tentang kiprah Prio di Timor Leste.

Prio terjun ke dunia usaha di Dili bukan by design. Murni sebuah keterlemparan. Serba kebetulan. Tadinya, Prio adalah seorang relawan kemanusiaan. Ketika Aceh diguncang gempa bumi hebat yang disusul tsunami mengerikan hingga menewaskan ratusan ribu orang pada Desember 2004, Prio menjadi tim relawan Rm Sandyawan Sumardi ke sana pada awal 2005. Tugas dia di tanah rencong itu antara lain adalah memasang panel listrik tenaga surya.

Prio sebenarnya tidak memiliki pengetahuan teknis soal ini. Sebab dia sekolahnya filsafat. Dia tamat dari Sekolah tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. Tetapi dia mau belajar dari orang lain hingga akhirnya bisa memasang sendiri. Melihat keberhasilan itu, kemudian ada seorang pengusaha yang mengajak di ke Dili karena memiliki proyek serupa. Tetapi Prio menolak.

Setahun kemudian, pada 2006, gempa hebat mengguncang Yogyakarta. Prio kembali menjadi sukarelawan ke sana. Tugas dia kali ini sama. Memasang panel listrik tenaga surya. Bedanya, kali ini dia tidak perlu belajar lagi karena dia sudah paham dan tahu seluk beluknya. Dan, sukses.

Kemudian tawaran ke Dili untuk mengerjakan proyek serupa datang lagi. Kali ini, Prio tidak kuasa menolak. Dia pun mengiyakan penawaran tersebut dan berangkat ke Dili pada September 2006. Di sana dia mula-mula mengerjakan panel listrik tenaga surya dan proyek-proyek listrik lainnya dari pengusaha yang membawanya. Setelah semua proyek itu kelar, “bos”-nya kemudian kembali ke Indonesia. Lantas Prio dilepas seorang diri. Prio pun berupaya untuk survive. “Sebagai seorang perantauan, saya harus survive,” ceritanya bersemangat.

Untunglah Prio memiliki jaringan yang luas berkat pergaulannya yang luwes dan mudah akrab dengan siapa pun selama “mengikuti” orang di Timor Leste. Jaringan itu kemudian dimanfaatkannya untuk bisa menikmati hujan emas di Bumi Lorosae.

Menjadi Pengusaha
Kesuksesan Prio berawal ketika dia memutuskan untuk menjadi konsultan pengadaan barang di Pemerintah Timor Leste. Setelah sukses sebagai konsultan lalu dia ikut dalam pengadaan barang. Bahkan, terakhir dia terlibat dalam proyek pembangunan. Kini Prio terlibat dalam tiga bisnis di Timor Leste yaitu konsultan, pengadaan, dan konstruksi.

Dalam ketiga hal itu, Prio mengaku tidak terlalu ahli. Tetapi dia merekrut tenaga ahli yang umumnya berasal dari Indonesia untuk mendapat proyek dari Pemerintah Timor Leste melalui tender. Dia menggaji para tenaga ahli dengan 2.000 sampai 2.500 dolar AS. Berkat sokongan para ahli itulah Prio kemudian memenangkan tender demi tender di Timor Leste.

Dia mengungkapkan, paling tidak dia mendapat 3-4 tender per tahun dengan nilai per proyek 2 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau hampir Rp 20 miliar. Selain itu, masih ada proyek-proyek bernilai kecil puluhan atau ratusan ribu dolar rutin dia dapat. Sementara proyek-proyek besar tadi per periode.

Kini Prio masih menunggu sebuah proyek yang bernilai fantastis hingga Rp 3 triliun. “Kalau bisa memenangkan proyek ini, bisalah untuk hidup dalam waktu yang cukup lama,” ucapnya optimis.

Saat ini, di Timor Leste, Prio memiliki satu perusahan sendiri dengan nama Multi Arch, Lda. Selain itu ada dua perusahan lain yang berpatungan dengan orang lokal. Perusahan-perusahan ini kemudian menggandeng perusahan lain dalam mengerjakan tender-tender yang dia menangkan. Dia menggandeng BUMN-BUMN besar Indonesia untuk mengerjakan proyek-proyek negara itu. Bahkan Prio kemudian menjadi rebutan BUMN-BUMN konstruksi Indonesia untuk mendapat proyek.

Di perusahannya sendiri, Prio memiliki 30 karyawan tidak tetap yang umumnya tenaga ahli dan delapan orang karyawan tetap. Mereka ini tim pendukungnya dalam mengerjakan tender-tender Pemerintah Timor Leste. Karyawan-karyawan ini ditempatkannya dalam sebuah rumah sewaan seharga 5.000 dolar AS per bulan.

Prio tidak berhenti di situ. Pada awal 2011 ini dia mengembangkan sayap bisnisnya ke restoran. Dia membeli restoran orang dan dijadikan semacam tempat “ngumpul” dan mejeng. Tetapi menurut dia, bisnis restoran ini belum menghasilkan uang. Bahkan dia harus mengeluarkan uang untuk subsidi usaha yang dikelola oleh teman kuliahnya di STF Driyarkara itu.

Ya, Prio yang dulu relawan kemanusiaan itu kini menjadi pengusaha sukses sekelas Raul Lemos dan menjadi milioner di Timor Leste. Slamat bro. (Alex Madji)

Rabu, 05 Oktober 2011

Kantin, Pilihan Tempat Nongkrong Murah


Kehadiran 7 Eleven di Indonesia yang sudah satu tahun lebih menambah tempat nongkrong favorit bagi masyarakat. Kini, bukan hanya 7eleven yang hadir di kota-kota besar, tetapi ada beberapa yang sudah menirunya, salah satunya Yogya Xpress yang ada di Cihampelas Walk, Bandung .

Di Jakarta, 7 Eleven sudah semakin menjamur. Hampir di setiap perempatan terdapat kantin 7 Eleven yang selalu ramai, baik di pagi, siang atau pun malam hari. Kantin dengan dominan warna hijau dan orange berada di wilayah yang ramai oleh anak muda. Misalnya saja, di sekitar Universitas Bina Nusantara, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, ada dua 7 Eleven yang jaraknya hanya sekitar dua kilometer.

Apa sih keistimewaan kantin ini dibandigkan kafe-kafe yang lainnya? Yang pasti lebih murah. Misalnya saja, untuk secangkir kopi yang dibandrol Rp 8.000 di 7 Eleven atau Rp 5.000 di Yogya Xpress. Bandingkan dengan Starbucks Cofee yang sekali datang saja kita harus merogoh kocek Rp 50.000. Tetapi tentu saja, rasanya juga berbeda.

Kantin 7 Eleven juga menyediakan Slurpee yaitu minuman bersoda yang setengah beku, atau Big Gulp, minuman soda yang dicampur es batu dengan gelas yang lumayan besar. Bukan hanya itu, kantin asal Amerika ini juga menyediakan makanan Big Bite yaitu hot dog dengan berbagai pilihan isi. Pokoknya semua ada untuk berbagai kalangan. Bukan hanya pilihan anak muda, tetapi juga orang tua. Murah pula! Untuk berbagai jenis makanan dan minuman dibandrol di bawah Rp 20.000.

Tak beda jauh dengan 7 Eleven, di Yogya Xpress juga menyediakan kopi, minuman ringan dan makanan. Kantin kecil yang berada di kawasan Ciwalk itu juga menyediakan air panas untuk menyeduh mie cup. Kedua kantin itu pasti akan terasa lebih nyaman, dibandingkan dengan warung kopi di pinggir-pinggir jalan. Kebersihannya pun lebih terjamin. Yang pasti, tempat-tempat itu menjadi asyik bagi siapa saja yang datang untuk makan, ngobrol atau sekedar nongkrong melewatkan waktu.

Misalnya saja, di suatu siang di penghujung September 2011, salah satu tempat duduk di 7 Eleven, seorang ibu dan anaknya yang masih memakai seragam TK menikmati minuman dan makanan yang dibeli. Keduanya asyik sekali mengobrol dan mengunyah makanan. Di sampingnya, dua orang laki-laki yang membeli kopi juga bercengkarama dengan seoarang anak perempuan yang memilih minuman Slurpee.

Tak lama kemudian, tiga siswa SMA masuk ke 7 Eleven dan menenteng minuman di tangannya masing-masing. Ketiganya tertawa bersama ketika menceritakan seorang teman perempuan di sekolahnya yang sedang menjadi incaran banyak teman-temannya.

Siapa sih 7 Eleven?
Kerja sama anatara 7 Eleven Inc dengan PT Modern Putra Indonesia (PT Modern) sebagai pemegang franchise toko 7 Eleven di Indonesia pada tahun 2009. Pt Modern membeli franchis 7 Eleven dengan alasan mempunyai retail network yang kuat.

Toko 7 Eleven pertama di Indonesia didirikan di Bulungan, Jakarta . Saat ini ada sekitar 37 toko yang sudah didirikan dan tentunya akan terus bertambah. Selama ini, PT Modern dikenal sebagai perusahan yang memproduksi di bidang fotografi, elektronik dan telekomunikasi. Beberapa gerai yang dimiliki PT Modern, seperti Fuji Image Plaza , Fuji Film Image Service dan MPhoto Studio. (Putri Biyan)

Selasa, 04 Oktober 2011

Kantor Pindah Lagi, Semangat Tetap Tinggi


Sejak diakuisisi Grup Lippo, Suara Pembaruan sudah dua kali pindah kantor. Pertama, pada 9 Februari 2010, “Koran Sore dari Cawang” ini pindah dari Jalan Dewi Sartika 136-D, Jakarta Timur ke Aryaduata Suites, kawasan Semanggi, Jakarta Selatan.

Di sana, koran penerus Sinar Harapan yang dibreidel penguasa Orde Baru Soeharto ini, menempati dua lantai sebuah gedung paling depan di kawasan bisnis Semanggi, persis di belakang Atma Jaya Jakarta. Lantai satu dipakai untuk ruang-ruang rapat, sedangkan redaksi berada di lantai dua. Sementara unit-unit lain menyatu dengan unit bisnis dan sales Globe Media Group.

Kedua, setelah lebih dari 1,5 tahun di sana, Suara Pembaruan kembali hijrah. Kali ini, Sabtu 1 Oktober 2011, ke Gedung Citra Graha di Jalan Gatot Subroto, persis di samping Balai Kartini. Di sini, redaksi menempati sebuah ruangan di lantai 11, sementara unit-unit lain ngendon di lantai sembilan. Resminya, sebagai buruh Suara Pembaruan, saya baru masuk kantor baru itu pada Senin 3 Oktober 2011 pagi pukul 08.00 WIB.

Uniknya di gedung baru ini, redaksi Suara Pembaruan berada dalam satu ruangan dengan redaksi The Jakarta Globe dan Investor Daily. Dalam ruangan yang tidak seberapa luasnya itu, awak redaksi ketiga media massa itu bersumpek ria. Jarak antara meja begitu rapat. Bahkan gang pun sempit.

Lebih unik lagi, tidak ada pengelompokan Suara Pembaruan sendiri, The Jakarta Globe Sendiri, dan Investor Daily sendiri. Semua dilebur. Mereka dikelompokan berdasarkan desk. Misalnya, Desk Politik dari ketiga media itu disatukan. Begitupun ekonomi, portal, dan sebagainya.

Karena The Jakarta Globe adalah koran berbahasa Inggris, maka tidak heran kalau di ruang redaksi ketiga media ini banyak bule.

Nah, Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan dan Investor Daily Primus Dorimulu dalam rapat redaksi pertama di ruang rapat yang sempit pada Senin, 3 Oktober 2011 siang mengatakan, penyatuan ini adalah yang pertama di Indonesia. Bahkan di dunia, penyatuan ruang redaksi dari beberapa media massa dalam satu grup jarang terjadi. “Di Amerika Serikat mungkin hanya Bloomberg yang melakukan seperti ini,” ujarnya.

Tetapi, cara seperti ini kemungkinan besar akan ditiru oleh berbagai korporasi media masssa di Indonesia. Pasalnya dengan cara seperti ini, ego sektoral masing-masing media luluh. Selain itu, kordinasi menjadi lebih mudah. Dan, ini yang penting, demi efisiensi. Banyak hal yang bisa dihemat dengan penyatuan seperti ini. Mulai dari biaya listrik, air, cleaning service, sewa gedung, dan masih banyak lagi.

Sebagai tempat baru, tentu saja suasananya juga baru. Maka menyesuaikan diri dengan suasana baru itu mutlak penting. Maklum masing-masing media memiliki gaya, latar belakang, dan kultur berbeda-beda.
Bagi saya, ini adalah ziarah baru dalam karier sebagai wartawan Suara Pembaruan. Meskipun secara administratif, saya dan beberapa teman lain sudah berada di bawah PT Jakarta Globe Media. Bukan lagi PT Media Interaksi Utama, penerbit Suara Pembaruan. Tetapi, kebanggaan sebagai wartawan Suara Pembaruan belum bisa dilepas, walau gaji tidak seberapa.

Yah, semoga di tempat baru ini ada semangat baru untuk bekerja dan mengabdi. Atau paling tidak semangat untuk bekerja tetap tinggi. Dan, semoga buah dan puncak dari pengabdian dan kerja keras itu adakah kesejahteraan hidup yang layak. Mari menunggu. (Alex Madji)