Senin, 05 September 2011

Anak Orang Kampung Itu Kini Jadi PM Jepang

Yoshihiko Noda namanya. Umurnya baru 54 tahun. Tetapi dia sudah menduduki jabatan tertinggi di Pemerintahan Jepang. Yaitu menjadi Perdana Menteri (PM) menggantikan Naoto Kan. Dia terpilih pada Senin, 29 Agustus 2011 setelah mengalahkan lawan-lawannya, sesama Partai Demokrat yang menguasai majelis rendah negeri matahari terbit itu. Noda mengantongi 215 suara. Sementara pesaingnya, Menteri Industri dan Perdagangan Banri Kaieda hanya mendapat 177 suara.

Noda adalah PM ke-6 Jepang pada lima tahun terakhir. Kalau mulus, masa jabatannya akan berakhir pada September 2012. Noda dinilai sebagai seorang pemimpin yang bertanggung jawab dan moderat untuk menghadapi krisis nasional saat ini.

Meski demikian, Noda melukiskan dirinya sebagai orang yang biasa saja. Anak orang miskin dan tidak kaya. Meski tampan, tetapi dia tidak mau menjual ketampanan. “Saya orang biasa. Saya tidak punya banyak sumber ekonomi. Saya tidak pentingkan penampilan dan saya tidak menjual tampang saya,” kata Noda saat mengumumkan pencalonanya menjadi PM Jepang beberapa waktu silam.

Sebelum menjadi PM negeri samurai itu, Noda menjabat sebagai Menteri Keuangan menggantikan Naoto Kan yang kemudian menjadi PM. Sebagai Menteri Keuangan, Noda berjuang keras memulihkan ekonomi Jepang yang masih dilanda resesi, tingginya utang negara dan menguatnya nilai tukar yen atas dolar, sehingga memukul pendapatan ekspor para eksportir Jepang.Selain itu, Noda juga menghadapi tingginya angka pengangguran di negeri itu yang menurut data bulan Juli 2011 mencapai 4,7 persen. Ini pulalah yang dihadapi Noda selama mengembang menjadi PM Jepang.

Orang Kampung
Yoshihiko Noda lahir 20 Mei 1957 dari sebuah keluarga miskin di Funabashi, Chiba. Dia putra seorang anggota Pasukan Bela Diri Jepang yang bertugas hanya sebagai pelayan di kesatuannya. Sementara kakeknya adalah petani lokal.Meski anak petani, Noda lulus dari sekolah prestisius di Jepang. Dia lulus dari Sekolah Ilmu Politik dan Ekonomi Universitas Waseda, universitas ternama di Jepang, pada 1980. Dia juga lulus dari Institut Pemerintahan dan Manajemen Matsushita, sebuah institusi prestisius yang didirikan pendiri Panasonic, Konosuke Matsushita. Institut ini juga terkenal dengan latihan seni Jepang Kuno, seperti pesta minum teh Jepang, pertarungan stik Kendo, dan meditasi Zen. Selama menempuh pendidikan di tempat ini, dia sekaligus bekerja paruh waktu sebagai pembaca meteran gas rumah tangga di Prefektur Chiba.

Dalam dunia olah raga, Noda adalah penggemar bela diri judo dan gulat. Bahkan dia mengantongi sabuk hitam dalam olah raga Judo. Noda kemudian menikah dan memiliki dua orang anak.

Sejak muda, Noda aktif di politik. Dia mula-mula menjadi anggota Partai Buruh Jepang pada 1992-1994. Baru setahun menjadi anggota partai ini, dia sudah terpilih sebagai anggota Majelis Rendah mewakili Distrik Chiba pada 1993 dalam umur 29 tahun. Inilah untuk pertama kalinya dia terjun ke pentas politik nasional.Setelah keluar dari partai itu, dia kemudian bergabung dengan Partai Demokrat pada 2000 (beberapa sumber lain menyebutkan sejak 1998). Karir politiknya di partai ini terus meroket. Di partai ini, Noda dikenal sebagai seorang reformis. Meskipun, dalam bidang keuangan dia cukup konservatif.

Pada 2010, PM Naoto Kan memilihnya menjadi Menteri Keuangan menggantikan dirinya yang naik menjadi PM Jepang. Gempa bumi dahsyat dan tsunami hebat yang melanda Jepang pada Maret 2011 lalu yang diikuti krisis nuklir ternyata membawa “keuntungan politik” bagi Noda.

Ketidakmampuan Kan menangani krisis itu membuat pamornya terus merosot dan muncul desakan dari internal partai untuk berhenti dari presiden Partai Demokrat Jepang yang juga berarti mundur dari PM Jepang.Kan memang akhirnya mundur dan Noda terpilih menggantikannya.

Selamat Tuan Noda. Mudah-mudahan Anda bisa mengemban amanat rakyat Jepang untuk memimpin negara itu baik untuk melewati krisis yang sedang terjadi di sana maupun dalam bersaing dengan negara lain, terutama tetangganya Cina. Lebih dari itu, bisa memberi contoh untuk pemimpin lain di Asia, terutama Indonesia. (Dari berbagai sumber/Alex Madji)

Setelah Libur Lebaran 2011

Lebaran telah usai. Warga yang mudik sudah kembali ke kota. Meski demikian, pada Senin 5 September 2011, hari pertama kerja setelah libur lebaran, jalanan Jakarta masih lengang. Tidak ada kemacetan berarti. Perjalanan dari rumah ke kantor, lewat Kebon Kacang-Paninggian-Joglo-Pos Pengumben-Jalan Panjang-Senayan-Semanggi lancar. Di titik-titik yang biasanya macet, hari ini masih lancar.

Hanya saja, saya mengalami sedikit sial. Pasalnya, motor yang saya kendarai mogok persis di lampu merah Pos Pengumben (yang mau ke Jalan Panjang). Di tempat yang sama, saya pernah mengalami masalah serupa tapi tak sama. Saat itu, ban motor RX King saya gembos. Saya harus dorong hingga tempat tambal ban yang terletak persis setelah lampu merah Pos Pengumben (perihal tukang tambal ban ini sudah saya tulis dalam blog ini).Hari ini, Honda Revo milik istri saya mogok. Ke tempat tambal ban yang sama, saya dorong motor itu. Businya dibuka. Setelah dibersihkan pakai spiritus, tetap saja mati.

Entah apanya yang dibuka oleh tukang tambal ban yang kali ini dilayani orang Kupang, kemudian hidup kembali. Saya pun melanjutkan perjalan ke kantor.Alhasil, saya baru sampai kantor pukul 08.30 WIB. Terlambat dari biasanya. Meskipun tidak ada yang marah dan sanksi atas keterlambatan tersebut. Kecuali beban moral yang saya “ciptakan” sendiri.

Di Rumah Saja
Saya praktis menjalani libur lebaran mulai Jumat, 26 Agustus 2011. Hari itu saya pulang jam 12.00. Pasalnya, saya harus mengantar pembantu ke Terminal Lebak Bulus. Sorenya, saya harus main dengan anak. Saya baru upload berita lagi pada malam harinya, ketika anak-anak terlelap dalam keheningan malam.Keesokan harinya, saya memang dapat jatah tidak masuk. Hari ini bablas tidak upload berita. Paginya, masih antar pembatu yang satu lagi ke Stasiun Sudimara, Tangerang Selatan.

Keinginan untuk jogging pagi itu, seperti yang biasa saya lakukan, juga batal karena harus mengurus anak dan rumah bersama istri. Saya baru bisa jogging sore harinya karena ada saudara yang bertandang untuk acara “bakar-bakar” malam harinya. Jadi bisa titip anak sebentar. Minggu, 28 Agustus juga saya libur. Saya baru isi berita lagi pada Senin 29 Agustus 2011. Itu pun sore hari, ketika anak-anak semua tidur.

Sedangkan 30 Agustus sampai 1 September 2011, saya libur total. Hari-hari ini saya isi dengan menjemput adik dan kakak bapak saya ke Bandara pada Selasa 30 Agustus. Hari-hari selanjutnya diisi dengan bercengkerama dengan mereka yang baru datang dari kampung.Jumat 2 September, sempat ke kantor. Tetapi, pulang siang dan mengikuti sebuah diskusi tentang tambang di Cempaka Putih sebelum melanjutkan perjalanan ke Buaran, Jakarta Timur untuk mengunjungi rumah saudara bersama adik dan kakak bapa saya di sana. Sedangkan Sabtunya, saya kerja di rumah saja. Lalu sorenya ke Depok dan baru pulang pada Minggu, 4 September 2011.

Begitulah liburan lebaran tahun ini diisi. Tidak terlalu luar biasa, kecuali bisa berkumpul dengan keluarga. Akhirnya, selamat beraktivitas kembali, sampai libur lebaran tahun depan. (Alex Madji)

Minggu, 28 Agustus 2011

Anna Hazare, Mahatma Gandhi Baru India


Anna Hazare dari India menjadi perhatian dunia pada beberapa hari belakangan ini. Pasalnya, dia kembali menggelar aksi mogok makan untuk melawan korupsi di negaranya. Kali ini yang dia lawan adalah tingkat pemerintahan paling tinggi di negeri Mahatma Gandhi tersebut.

Dia mendesak pemerintah untuk menerapkan undang-undang anti korupsi yang ketat. Dia pun menawarkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang dibikinnya untuk memberantas korupsi yang begitu akut di negeri berpenduduk terpadat kedua di dunia itu.

Anna Hazare yang kini sudah berumur 74 tahun bukan baru kali pertama berjuang melawan korupsi. Sudah lebih dari 30 tahun dia berjuang untuk membersihkan korupsi di negaranya. Perjuangan panjang itu disebutnya sebagai perang suci melawan korupsi.

Anna Hazare lahir pada 15 Juni 1937 di Bhingar, Provinsi Bombay, India dari pasangan Laxmibai Hazare (ibu) dan Baburao Hazare (ayah). Dia memiliki nama lain, Kisan Baburao Hazare. Dia memiliki enam saudara. Ayahnya adalah tenaga tidak trampil pada sebuah perusahan farmasi kota kota kelahirannya.

Masa kecil Anna atau Kisan dihabiskan di Mumbai setelah tantanya membawa dia dari Ralegan Siddhi. Anna menempuh pendidikan dasar di Mumbai. Sambil sekolah dia bekerja menjual bunga di Dadar untuk membantu perekonomian keluarganya. Usahanya itu kemudian berkembang hingga dia memiliki toko bunga. Kemudian, dia memboyong dua adiknya ke Mumbai.

Kemudian, pada umur 25 tahun, Anna Hazare masuk militer India, tepatnya pada 1962 setelah perang Indo-Cina. Ketika itu terjadi rekrutmen darurat untuk menjadi tentara India. Setelah mengikuti pelatihan, dia mulai berdinas di militer India pada 1963 sebagai sopir. Selama perang Indo-Pakistan pada 1965, Anna Hazare ditempatkan di pos perbatasan di sektor Khem Karan. Pada 12 November 1965, Angkatan Udara Pakistan melakukan serangan udara terhadap markas India dan seluruh teman Hazare tewas. Tinggal dia seorang yang selamat. Ketika itu dia menjadi sopir truk tentara India. Pada tahun 1970-an, Hazare juga selamat dari mau dalam sebuah insiden kecelakaan kendaraan.

Pada 1978, dia secara sukarela minta pensiun dari Batalion Maratha IX dan kembali ke kampung halamannya di Ralegaon Siddhi, sebuah desa di Ahmadnagar Maharashtra. Padahal, ketika itu dia baru berumur 39 tahun.

Di kampung halamannya dia menjumpai para petani berjuang untuk mempertahanan hidup dan penderitaan mereka mendorong dia untuk memulai program konservasi air hujan, membangun dam-dam di kampungnya yang terletak di kaki buki itu. Programnya ini kemudian membuat desanya menjadi desa model. Selain itu, dia membuat pabrik susu, mendirikan sekolah di kampungnya, dan masih banyak lagi.

Perjuangannya kemudian mendapatkan apresiasi dari warga. Mereka berterima kasih kepada Anna Hazare karena berkat perjuangannya warga desa akhirnya memiliki sekolah, listrik, dan memiliki skema pembangunan petani. Dari sinilah dia mulai berjuang melawan korupsi.

Berawal dari Rasa Frustrasi
Awalnya, Anna Hazare yang sangat dipengaruhi Mahatma Gandhi itu merasa frustasi dengan keadaan masyarakat India, seperti yang dialami dan dilihatnya sendiri di desanya. Dia lantas mencari jawaban untuk mengangkat drajat kemanusiaan orang India. Jawaban itu akhirnya dia temukan ketika di sebuah stasiun Kereta Api di New Delhi dia membaca buku kecil berjudul "Call to the youth for nation bulding" karangan Swami Vivekananda. Dia terkesima oleh foto-foto yang ditampilkan Vivekananda pada buku kecil itu. Dia lantas kemudian mengatakan bahwa dia membaca buku itu dan akhirnya menemukan jawaban yaitu bahwa dia akhirnya memilih cara hidup untuk melayani sesama manusia.

Cara yang dia pilih adalah melawan korupsi. Perjuangan melawan korupsi bagi Anna Hazare adalah sebuah perang yang lain.

Perjuangan pertamanya melawan korupsi adalah terhadap hal yang menghalangi pertumbuhan di daerah pedesaan India. Sasarannya adalah para politisi. Perjuangan itu dilakukan melalui organisasinya bernama the Bhrashtachar Virodhi Jan Andolan (Geraka Rakyat Melawan Korupsi). Adapun media perlawanannya adalah mogok makan.

Pada 1995-1996, dia menyerang Pemerintahan Sena-BJP di Maharashtra hingga menjungkalkan dua orang menteri kabinet yang korup. Lalu pada 2003, dia menyerang anggota kongres dari Partai Kongres Nasional (NPC=Nastionalist COngress Party) negara bagian supaya melakukan investigasi terhadap empat orang menteriya.

Lalu pada bulan April tahun ini, dia melakukan mogok makan selama empat hari dan melahirkan dukungan ribuan orang dalam perjuangannya melawan korupsi di negeri tempat Agama Budha itu lahir.

Kini Anna Hazare kembali mogok makan untuk mendesak sebuah RUU Anti Korupsi yang ketat. Dia tahu bahwa dia melawan korupsi pada level pemerintahan yang paling tinggi. Dia pun sudah memperhitungkan risikonya. Untunglah orang-orang biasa, ratusan bahkan sampai ribuan mendukung perjuangannya dan menggetarkan Pemerintah India. (Alex Madji/Dari Berbagai Sumber)



Jumat, 26 Agustus 2011

Benediktus XVI Bukan Fundamentalis


Paus Benediktus XVI tidak bisa dikatakan sebagai seorang Kristen Katolik fundamentalis. Sebab dia sendiri mengeritik keras fundamentalis Kristen, seperti yang terjadi dalam peristiwa kekerasan di Norwegia pada 22 Juli 2011.

Kantor Berita AFP 20 Agustus 2011 memberitakan bahwa dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Spanyol Jose Luis Rodriguez di Spanyol, di sela-sela perayaan Hari Kaum Muda Sedunia di Madrid Spanyol, Paus Benediktus XVI mengungkapkan keperihatinannya pada munculnya ideologi Xenophobia di Eropa.

Kasus pembantaian massal oleh seorang Kristen fundamentalis (sayap kanan) Behring Breivik yang menewaskan 69 orang di Norwegia pada 22 Juli 2011 dinilainya sebagai ideologi xenophobia. Ideologi seperti ini, kata dia, mengancam nilai-nilai kebebasan beragama dan karakteristik koeksistensi masyarakat Eropa. Jadi, Paus Benediktus XVI tidak bisa dikatakan anti kebebasan beragama.

Yah, pada 22 Juli 2011 lalu, ekstrimis sayap kanan Norwegia Behring Breivik melakukan pembunuhan massal dengan cara menembak kaum muda di Pulaua Utoeya yang menewaskan 69 orang yang sebagian besar kaum muda.

Breivik (32) memilih melakukan penembakan di Pulau Utoeya karena di situlah para pemuda dari Partai Buruh Norwegia yang kini bekuasa melakukan perkemahan/pengkaderan musim panas. Sesaat sebelumnya, delapan orang tewas dalam aksi pengeboman yang terjadi di Kantor Perdana Menteri Norwegia. (Alex Madji)

Rumah-rumah yang Dijual


Di samping ini adalah foto sebuah rumah yang dijual di Graha Bintaro GR 37-41, Kota Tangerang Selatan. Kondisi rumahnya masih bagus dan siap huni. Posisinya persis di pojok belakang menghadap taman, dekat dengan lapangan badminton. Kalau Anda memasuki gerbang klaster itu, lurus saja sampai mentok. Rumahnya ada di sebelah kiri Anda.

Khabarnya, rumah ini dilego Rp 400 juta. Tetapi, kalau Anda berminat, datang saja ke sana dan langsung tanya kepada pemiliknya atau agen property yang menjual rumah tersebut. Saya hanya ingin menginformasikan fakta bahwa ada rumah dijual di kawasan itu. Di situ ada nomor kontak orang yang harus dihubungi.

Di klaster yang sama, tepatnya di GR 41 ada juga rumah yang dijual dengan ukuran yang lebih kecil. Rumah Nomor 2 itu luas tanahnya 84 dan rumah 60-an atau malah 70. Sebab, seluruh tanah sudah terbangun, kecuali bagian depan masih ada taman. Rumah ini juga baru direnovasi dan sudah siap huni.

Saya sudah melihat bagian dalam rumah ini. Kondisinya bagus. Kamar tidurnya dua. Besar-besar. Tapi dapurnya kecil.

Kunci rumah ini dipegang oleh satpam yang menjaga klaster tersebut. Menurut satpam itu, rumah ini dilepas dengan harga Rp 350 juta. Kalau Anda berminat silahkan datang ke sana.

Sebenarnya, masih ada satu rumah yang dijual di GR 37-41, persisnya di GR 38 No.5. Dari pintu gerbang, Anda masuk ke kiri gang pertama. Rumahnya di nomor dua di sebelah kanan. Sayangnya, rumah berwarna hijau muda ini sudah di-DP orang. Ukurannya juga besar dengan dua kamar tidur. Ruang tamunya luas, sedangkan dapurnya seuprit.

Lokasi itu bisa diakses melaui Jakarta Outer Ring Road (JORR) atau tol Jakarta-Merak lalu keluar Kunciran atau Alama Sutera. Kemudian di bundaran Alam Sutera, Anda belok kiri menuju Graha Raha. Atau kalau mau pakai motor dari Arah Jakarta, bisa lewat Pos Pengumben menuju Haji Mencong, lalu ke arah Pondok Kacang. Jalan saja terus, nanti keluarnya di Graha Bintaro arah Pasar Segar. Anda juga bisa mengikuti jalur Tanah Kusir lalu ke Sektor 1-9 terus ke Graha Raya. Selamat menjajal. (Foto dan teks oleh Alex Madji)

Kamis, 25 Agustus 2011

Yang Tersisa dari Kartu Ucapan


Dua perempuan itu, satu gemuk dan satu lagi langsing, datang dan langsung melihat-lihat kartu ucapan di pojokan bagian kartu-kartu ucapan lebaran Toko Buku Gramedia, Semanggi, Jakarta, Kamis, 25 Agustus 2011. Hanya sebentar. Lalu pergi.

Sebelum mereka, dua lelaki paruh baya memilih kartu-kartu ucapan lebaran di pojokan tersebut. Yang satu sibuk menelepon, entah dengan siapa. “Tiga puluh kan bu,” ucapnya melalui telepon genggamnya. Tak berapa lama, dia memungut tiga gepok kartu ucapan yang berisi 10 kartu dengan harga Rp 44.000 per gepok dan ngacir ke kasir. Sementara Bapak yang satu lagi, setelah membolak balik berbagai jenis kartu ucapan, lalu pergi sambil membawa beberapa. Tapi tidak langsung ke kasir.

Setelah mereka pergi, stan kartu-kartu ucapan lebaran itu pun sepi. Yang tersisa, hanya seorang perempuan berkemeja putih dengan celana panjang hitam yang menjaga empat rak di situ.

Yah, kartu ucapan, baik lebaran maupun natal, pernah menginjak masa keemasannya. Dia menjadi media favorit bagi siapa pun untuk menyampaikan ucapan lebaran dan natal hingga ke pelosok. Ada kebanggan, merasa dihormati, dan merasa ada ketika mendapat kartu ucapan.

Tetapi kini kerberadaan kartu ucapan itu tersisih oleh kemajuan teknologi. Ketersisihan itu terbaca dari minimnya orang yang menengok kartu-kartu ucapan yang dijual paling murah Rp 15.000 itu.

Kini orang memiliki banyak pilihan yang lebih mudah, murah, dan cepat untuk menyampaikan ucapan selamat pada hari raya ini. Bisa dengan pesan singkat, Blackberry Messanger (BBM), Facebook, atau Twitter. Ucapan bisa dikirim pada saat hari raya langsung ke ponsel orang yang dituju. Pada saat itu juga dia melihat dan membacanya, lalu dibalas. Sementara kartu harus menunggu waktu yang cukup lama untuk tiba di tangan orang yang dituju.

Meski demikian, kemajuan teknologi juga membuat kartu ucapan ini tetap eksis dan bisa dilayangkan secara online antara lain dengan cara ditempelkan pada dinding FB teman-teman yang ingin diberi ucapan.

Tetapi kartu ucapan (paper) tetap menyimpan sebuah nilai. Paling tidak, nilai sopan santun dan penghargaan terhadap orang yang dikirimi kartu. Itu sebabnya, di tengah ketersisihannya, masih ada yang melirik kartu ucapan. Terutama, perusahan yang ingin menyampaikan ucapan selamat lebaran kepada para mitra bisnisnya baik individu maupun institusi.

Itulah yang diucapkan perempuan penjaga stan kartu ucapan lebaran di Toko Buku Gramedia, Semanggi saat ditanya tentang masih adanya orang yang berminat pada kartu ucapan. “Masih ada lah Pak. Perusahan terutama. Kan tidak sopan kalau kantor kirim ucapan hanya dengan sms," ucapnya sambil menyunggingkan senyum manis dalam kesendirian. (Alex Madji)

Rabu, 24 Agustus 2011

Mengijaminasi Foto-foto Seksi di FB


Media sosial Facebook (FB) memang membuat segalanya menjadi mudah. Orang bebas berekspresi diri dalam bermacam ragam, baik kata-kata maupun foto. Tidak sedikit pengguna FB menumpahruahkan perasaan di dinding FB-nya. Ada juga yang menumpahkan kekesalannya, curhat, dan melaporkan apa yang sedang dilakukannya di wall FB. Bahkan, ada yang berantem dengan pasangannya di FB.

Berikut ini contoh status seorang teman yang memperotas dan menumpahkan kekesalannya atas pelayanan sebuah restoran. Saya kutip apa adanya, “bener2 kesel neh ma pelayanan @Luwak CL...mba, nasi dan beras tuh beda.mbo dikasih nasi mateng dunk, masa 2x dptnya beras setengah matang. Belaga bego lg.ampun dah pelayanannya parah.”

Atau, status seorang sahabat menyangkut perasaannya. Entah apa yang dialaminya. Dia tulis begini, “kamu telah bermain dengan rasaku......aku juga dapat bermain dengan rasamu.....lihat saja.......”

Tidak sedikit pula menampilkan foto-foto aktivitas pribadi di FB. Segala macam foto diunggah ke FB. Bila Anda memperhatikan foto-foto teman-teman Anda, tidak sedikit yang menampilkan foto-foto seksinya. Mereka mempertontonkan keindahan dan kemolekan tubuhnya.

Kalau dulu, foto-foto seksi seperti itu cukup menjadi konsumsi pribadi, sekarang tidak sedikit orang yang membiarkan foto-foto serupa menjadi konsumsi publik.

Dari 1.200-an friends di akun FB saya, ada beberapa friend yang menampilkan foto-foto seksinya. Ada teman dengan nama FB Iko Ira menampilkan foto-foto pakaian tidur sambil duduk di sofa dengan satu kaki terlipat di sofa. Hasilnya? Belahan paha terpampang.

Ada lagi teman yang menggunakan nama Bella menampilkan foto mengenakan gaun dengan belahan sangat dalam nyaris hingga ke perut. Hasilnya sudah ketahuan. Belahan dan sembulan bukit-bukit indahnya tampak terlihat dengan jelas.

Lain lagi orang yang menggunakan nama akun Si Lime Leo. Dia menampilkan foto profil yang mengenakan kaus “you can see” dengan tali tipis abu-abu meyanggah di pundak. Tali kutang merah perempuan cantik ini terlihat jelas.

Foto serupa ditampilkan pemilik nama akun Muanise Nona Muanise. Cewek ini mengenakan kaus serupa tapi berwarna hitam. Sembulan dadanya tanpak jelas sekali. Foto lainnya, dia tampil dengan kaus serupa berwarna lurik. Tali kutang warna putihnya melenceng. Ada juga satu foto dengan pakaian yang sama sambil menjulurkan lidah.

Ada lagi cewek yang dipotret sambil tidur, tampak tanpa busana. Entah tidur benaran atau tidak, tetapi matanya terkatup. Dadanya hanya tertutup bantal. Tapi foto ini mengundang imajinasi liar siapa pun. Nah, teman ini masih memiliki banyak koleksi foto seksi.

Friend lain lagi difoto dengan kostum hitam longgar. Foto itu tampak seksi karena diambil dari ketinggian sehingga buah dadanya membuncah.

Entah apa yang ingin dicapai teman-teman ini dengan menampilkan foto-foto seksinya di FB. Tetapi satu hal yang terbaca dari foto-foto itu adalah bahwa mereka mau memperlihatkan keseksian, kemolekan, dan keindahan tubuhnya. Bisa jadi ini adalah bagian dari penghargaan terhadap tubuhnya.

Tetapi sebenarnya, tanpa sadar, pada saat bersamaan dia mau membangkitkan imajinasi liar para pelihatnya. Dan tanpa sadar pula, sebenarnya mereka menyediakan diri menjadi objek imajinasi siapa pun yang memandang tubuhnya. Ini kekerasan? Belum tentu, tergantung dari mana Anda memandang.

Akhirnya, keindahan memang selalu nikmat dan makin nikmat lagi kalau dielaborasi dalam imajinasi yang liar dan mendalam. Apalagi kalau sambil menyeruput secangkir kopi hitam seperti yang saya lakukan saat menyelesaikan catatan ini. Silahkan Anda berimajinasi dengan cara Anda. Selamat berimajinasi. (Alex Madji)