Rabu, 20 Juli 2011

Aids Masuk Kampung


Ini catatan tentang aids masuk kampung. HIV/AIDS, biasanya identik dengan kehidupan kota metropolitan karena kehidupan seks bebasnya yang sudah menjadi lumrah.

Tetapi menjadi luar biasa ketika HIV/AIDS tiba-tiba ada di sebuah kampung nun jauh di pedalaman, jauh dari kota metropolitan yang akrab dengan free seks.

Ceritanya begini. Di Wela, sebuah kampung yang terletak di perbatasan Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur (NTT), ada sebuah keluarga muda yang yang terdiri dari suami, istri dan dua orang anak terinfeksi HIV/AIDS. Tahunya, ketika tahun lalu, sang sumai hendak mendonorkan darahnya untuk adik putrinya yang mengalami sakit.

Setelah darahnya dicek, dokter Rumah Sakit St Rafael Cancar mengatakan, pria itu terinveksi HIV/AIDS. Oleh sebab itu darahnya tidak jadi didonorkan untuk adiknya. Kemudian adiknya yang mengalami pembengkakan perut karena kista akut itu akhirnya meninggal dunia.

Selasa 12 Juli 2011 lalu, istrinya meninggal dunia di kampung halamannya di Rimang, Pateng, Manggarai Barat. Jenasahnya kemudian diantarkan ke Wela dan dimakamkan di sana pada hari itu juga. Semua orang kampung mengetahui bahwa perempuan itu juga mengidap penyakit HIV/AIDS. Sebab, badannya sangat kurus kering dan menghitam.

Diceritakan, ketika perempuan itu meninggal, semua pintu rumah orang di kampungnya ditutup rapat dan enggan melayat karena takut terjangkit virus maut tersebut. Di Wela pun setali tiga uang. Ketika jenasahnya tiba, tidak banyak orang yang melayat. Kebetulan juga saat jenasah tiba, hujan lebat mengguyur kampung di atas gunung itu.

Sebelumnya, salah satu anaknya meninggal dunia, kemungkinan karena HIV/AIDS. Masih ada satu anaknya yang untuk sementara masih segar.

Sedangkan suaminya yang divonis dokter terkena AIDS saat ini kondisinya kritis. Badannya kurus kering dan warna kulitnya hitam legam. Orang bilang, mayat hidup. Padahal dulu, ketika masih muda, pria ini gagah, putih, dan ganteng. Tetapi kini, tinggal menunggu hari untuk juga pergi selamanya.

Karena itu, saat pembicaraan pesta kenduri untuk istrinya, keluarganya meminta untuk tidak dibicarakan saat itu. Maksudnya tunggu dikendurikan sekalian bersama suaminya yang kondisinya memprihatinkan itu.

Mendengar cerita kematian itu, saya lalu berbincang-bincang dengan sejumlah orang di Kampung Wela yang belum ada dalam peta Indonesia, seperti dengan Sekretaris Desa Pius Kalim dan mantan Kepala Desa setempat Paskalis Jemandu.

Mereka menceritakan bahwa sebelum menikah dengan perempuan itu, pria asal Kampung Wela yang divonis AIDS tadi pernah menikah dengan gadis dari kampung tetangga, Golowelu. Hanya saja perkawinan mereka seumur jagung, lalu bercerai. Saat itu kondisi sang pria masih segar. Bahkan, kondisi mantan istrinya itu hingga kini masih segar bugar.

Kondisi pria yang pernah merantau ke Makassar itu menurun sejak nikah lagi dengan perempuan dari Rimang Pateng tersebut. Kondisi perempuan itu sendiri sejak dibawa lari dari Rimang ke Wela beberapa tahun lalu tidak terlalu segar dan tidak sedap dipandang, sebagaiamana kesaksian sejumlah orang kampung.

Dari sejumlah kesaksian tadi, mereka, termasuk saya menyimpulkan bahwa yang pertama mengidap HIV/AIDS adalah sang istri. Suami tertular dari dia. Sebab kalau sang suami yang pertama mengidap penyakit ganas yang hingga kini belum ada obatnya itu, maka istri pertamanya tentu saja terinfeksi HIV/AIDS juga. Faktanya, hingga saat ini istri pertamanya itu masih segar bugar. Meskipun, harus dibuktikan dengan pemeriksaan medis.

Apalagi, saat masih gadis, perempuan ini bekerja sebagai sales promotion girl atau istilah setempat "makan gaji" di sejumlah toko di Ruteng dan Labuan Bajo. Kemungkinan, penyakit ganas itu didaptnya selama "peziarahannya" di Ruteng dan Labuan Bajo.

Terlepas dari itu, yang pasti kampung di pedalaman sekalipun kini tidak luput dari penyebaran penyakit ganas seperti ini. Ini tentu saja cerita buruk. Karena itu harus ada upaya pencegahan agar penyakit seperti ini, dan juga narkoba, tidak meluas.

Tanpa upaya sistematis dari pemerintah maka ini akan menjadi endemi baru setelah penyakit-penyakit tradisional daerah pedalaman seperti malaria, muntaber dan sebagainya.

HIV/AIDS bukanlah penyakit kas kampung, tetapi penyakit kota besar yang masuk ke kampung. [Alex Madji]

Senin, 18 Juli 2011

Labuan Bajo Jadi Destinasi Wisata, Infrastruktur Masih Minim


Labuan Bajo sudah menjadi destinasi wisata. Terlebih lagi setelah Komodo masuk dalam perlombaan tujuh keajaiban dunia, meski sempat terancam dicoret.

Hal itu diperkuat oleh jumlah penerbangan yang hampir setiap hari ke Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Bahkan, pada hari-hari tertentu, ada dua sampai tiga penerbangan sehari ke Labuan Bajo.

Bukan hanya itu. Mayoritas penumpang pesawat ke Labuan Bajo adalah turis manca negara. Turis lokal dan warga setempat bisa dihitung dengan jari tangan.

Sampai ada lelucon dari seorang teman bahwa kita warga pribumi menjadi turis di tengah warga kulit putih yang memenuhi seluruh kabin pesawat.

Sayangnya, Labuan Bajo belum siap sebagai destinasi wisata. Mulai dari hal yang paling sederhana saja. Fasilitas toilet di Bandara Komodo sangat minim, dengan persediaan air yang hampir nihil.

Di terminal kedatangan, orang harus antri lama hanya untuk pipis. Bule-bule itu terpaksa harus mengernyitkan dahi menahan pipis, seperti yang saya saksikan pada Kamis 7 Juli 2011 lalu.

Di terminal keberangkatan lebih buruk lagi. Di samping pintu masuk ke ruang check in, ada dua toilet, masing-masing untuk pria dan wanita. Tapi bau pesingnya bukan kepalang.

Di situ ada bak air tapi kosong melompong. Kran air pun tak mengeluarkan setitik banyu. Maka tidak heran kalau toilet itu berbau. Repotnya, kalau kebelet pup. Tak terbayang jorok dan baunya.

Itu hanya potret kecil masalah utama di daerah itu, yakni masalah air minum. Sebenarnya daerah itu tidak kekurangan (sumber) air. Tetapi yang tidak becus adalah pengelolaan dan distribusi air.

Hal yang lebih besar dari itu, infrastruktur jalan. Jalan utama di pinggir pantai yaitu Jalan Soekarno Hatta buruknya minta ampun. Saat ini sedang ada penggalian got. Akibatnya jalan yang sempit itu makin sempit karena tumpukan pasir dan batu di pinggir jalan. Selain itu, jalan tersebut berdebu. Sungguh tidak nyaman melintas di jalan seperti itu, apalagi kalau jalan kaki.

Padahal, perhotelan bertumbuh subur di Labuan Bajo. Ada dua hotel berbintang empat yaitu Bintang Flores dan Jayakarta. Belum terhitung hotel non bintang dan melati yang bertebaran di ibukota kabupaten pemekaran itu. Belum lagi restoran berkelas yang mulai bertumbuh subur.

Pekerjaan besar pemerintah setempat adalah membenahi infrastruktur pendukung pariwisata seperti jalan-jalan, air bersih, dan listrik. Tanpa itu, cita-cita Labuan Bajo sebagai beyond Bali omong kosong.

Komodo tetap akan menjadi daya tarik yang memikat dunia, tetapi tanpa infrastruktur pendukung seperti itu, biawak raksasa bernama Komodo tidak membawa banyak manfaat bagi Labuan Bajo dan Manggarai Barat pada umumnya. (Alex Madji)

Sabtu, 09 Juli 2011

Labuan Bajo Rasa Italiano


Rabu 7 Juli siang. Terik matahari membakar tubuh di bibir Pantai Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Angin laut bertiup sepoi-sepoi, sehingga terik matahari sedikit terusir.

Siang itu, kami menyusuri Jalan Soekarno Hatta Labuan Bajo. Di jalan yang berdebu itu berderet berbagai rumah makan dan restoran. Dari yang kelas sederhana sampai yang kelas atas.

Salah satu yang mencolok adalah Mediterraneo; restourant and lounge. Posisinya terletak persis di bibir pantai dan persis di samping pelabuhan. Dari pinggir jalan Soekarno Hatta itu ada jembatan kayu yang tertata sangat rapi.

Interiornya juga serba kayu. Viewnya ke laut lepas dengan gugusan pulau-pulau kecil di depan Labuan Bajo.

Selain ada kursi-kursi kayu, ada juga kuris-kursi busa yang sepertinya berisi pasir. Kursi-kursi ini ditata di panggung. Untuk sampai ke situ, ada lima anak tangga. Apik.

Restoran ini milik dua orang anak muda Italia. Ada seorang, yang sedikit senior, tetapi menurut seorang pelayan di situ, pria gempal itu konsultan bagi orang-orang Italia yang mau buka restoran di Labuan Bajo.

Pekerja-pekerjanya termasuk pelayan restorannya adalah orang pribumi, warga Manggarai. Mereka cekatan dan tampak profesional sebagai pelayan restoran.

Menunya lebih banyak masakan Italia seperti Spageti dan pizza. Ada juga jus-jus seperti jus mangga, jus melon, jus semangka, mangga, dan milkshake strowbarry.

Siang itu kami pesan satu Pizza untuk 8 orang, dua jus mangga, satu jus melon, satu jus semangka, satu milkshake strowbarry dan dua es teh. Total harganya Rp 172.000.

Menurut seorang pelayan restoran di situ, harganya sengaja dibuat tidak terlalu mahal untuk menjaga persaingan. Meski demikian, restoran ini diperuntukkan bagi para wisatawan yang ingin menikmati indahnya pemandangan labuan bajo sambil menyeruput jus, bir atau wine.

Yah, siang itu sebagian besar tamu yang datang adalah para wisatawan manca negara, kecuali kami, bule ireng.

Kalau Anda ke Labuan Bajo sebelum ke Komodo, bisa juga menjajal kekhasan restorante Italiano ini.

Tidak perlu bingung mencarinya. Sebab begitu Anda keluar dari pesawat dan masuk ruang tunggu, terpampang iklan restoran tersebut. Tinggal melangkah saja ke sana. Dan, selamat mencoba. [Alex Madji]

Rabu, 06 Juli 2011

Basa Basi SBY

Minggu lalu, media massa memberitakan pernyataan Staf Khusus Bidang Komunikasi Politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Daniel Sparingga.

Intinya, Presiden SBY memerintahkan untuk menangkap mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin yang terus "bernyanyi" dari tempat persembunyiannya di Singapura.

Nazaruddin telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena diduga menerima sejumlah uang dalam kasus pemabangunan wisma atlet SEA Games di Stadion Jakabaring, Palembang.

Kasus ini merembet dan mengguncang Partai Demokrat karena Nazaruddin dari Singapura menyebutkan bahwa para petinggi partai itu menerima uang, termasuk Ketua Umumnya Anas Urbaningrum.

Kembali ke SBY. Pernyataan SBY untuk menangkap Nazaruddin tidak lebih dari sebuah politik basa basi dan bukan kemauan politik yang sesungguhnya. Lagi-lagi hanya untuk pencitraan.

Sebab, tidak sulit sebenarnya bagi SBY menangkap Nazaruddin. SBY punya alat yang namanya kepolisian. Sehingga, SBY seharusnya tidak membutuhkan waktu lama untuk mendatangkan Nazaruddin ke Indonesia. Tetapi polisi tidak kalah basa basinya. Kepala Polisi Timur Pradopo menegaskan kesiapan menangkap Nazaruddin. Tetapi tidak ada langkah kongkrit.

Padahal, ketika kasus Gayus Halomoan Tambunan mencuat, polisi dengan cepat mendatangkan terpidana kasus mafia hukum dan mafia pajak itu dan dihadapkan ke pengadilan. Bagaimana tidak dibilang basa basi. Mereka terus beretorika tetapi tidak mampu mendatangkan dan mengadili Nazaruddin. Yang ada hanya pembualan.

Kalaupun ada alasan bahwa untuk mendatangkan Nazaruddin adalah wewenang KPK, menurut saya, itu juga tidak bisa dipakai. Sebab, kalau SBY dan negara ini serius mau meberantas korupsi tanpa pandang bula, polisi bisa menangkap Nazaruddin dengan mudah, semudah mendatangkan Gayus Tambunan, untuk kemudian diadili KPK.

Aroma basa basi pernyataan SBY semakin kentara karena kasus Nazaruddin ini terkait erat Partai Demokrat. Terbongkarnya kasus Nazaruddin akan membongkar borok partai milik SBY itu, bahkan borok SBY itu sendiri. Jadi, kalau SBY bilang tangkap Nazaruddin, jangan percaya, mulu rica-rica, kata orang Manado, alias basa basi. Percayalah, Nazaruddin tetap nyaman di negeri singa. Dan, SBY terus meninabobokan publik Indonesia. [Alex Madji]

Jumat, 01 Juli 2011

Yuk Makan Siang di Warteg Oriental


Tujuh pria dan seorang perempuan itu duduk mengelilingi sebuah meja panjang. Semuanya mengenakan batik. Tampaknya, mereka karyawan kantor. Mereka tampak asyik menikmati santap siang pada Jumat (1/7/2011) itu.

Di samping mereka, di atas sebuah meja panjang yang lain, berjejer baskom-baskom berisi plastik susu kacang hijau, pisang, tahu goreng, tempe goreng tepung, bakwan, sayur sup, dan sayur toge kacang panjang.

Di ujung paling luar meja panjang itu ada sebuah lemari kaca berisi berbagai menu makanan. Ada telur mata sapi, telur dadar, ayam goreng, tahu, tempe, perkedel, telur asin, beberapa jenis ikan, telor asin, telor balado, orek kentang, dan tempe orek. Ini adalah etalase.

Sementara di sebelah kiri kalau masuk ke dalam, berjejer lima meja dengan bangku-bangku tanggung. Lima meja itu penuh sesak.

Tidak lama berselang, tiga orang perempuan cantik mengenakan stelan batik masuk. Setelah memesan makanan pilihannya, mereka mengambil meja paling depan, dekat dengan pintu masuk. Mereka menikmati santap siangnya hari itu.

Tamu-tamu itu dilayani dengan baik oleh dua orang perempuan, satunya sedang hamil, dan seorang laki-laki. Cekatan mereka.

Begitulah situasi Warteg Oriental di Jalan Sentiong, Kramat Raya, Jakarta Pusat. Di sebut Warteg Oriental, selain karena tata ruang dan tata kelola berbeda dengan warteg (warung tegal yang umumnya dikelola orang Tegal), juga karena warung makan ini dikelola oleh warga asli Sentiong beretnis Tionghoa.

Perbedaan lainnya, Warteg ini lumayan bersih dan membikin orang betah duduk berlama-lama di situ. Duduk sambil lihat televisi 14 inci yang digantungkan di tembok warung tersebut sambil menyeruput secangkir kopi hitam atau kopi susu.

Setiap pembeli yang datang langsung memesan makan terus ambil tempat duduk. Tidak ada daftar menu. Uniknya, para pelayan tadi mencatat menu makanan konsumennya di atas secarik kertas bekas. Tidak ada nama atau nomor meja. Tetapi mereka ingat betul harga seporsi makanan yang di pesan konsumennya yang ditulis di atas secarik kertas itu tadi.

Setiap kali selesai bayar, para pelayan itu lantas mencoret harga menu konsumennya.

Soal rasa, makanan di Warteg Oriental ini lumayan enak dan selalu diperbarui. Setiap jam makan siang, makanan-makanan baru didatangkan dari dapur. Panas dan masih beruap. Harganya pun standar. Tidak terlampau mahal. Seporsi satu porsi nasi dengan ikan kembung, sayur dan gorengan dihargai Rp 12.500. Sementara kalau pakai ayam, seporsi dihargai Rp 13.500. Warteg ini memang diperuntukkan bagi kelompok kelas menengah bawah.

Nah, beberapa tahun lalu Warteg Oriental ini dikelola oleh seorang encik, pemiliknya, seorang etinis Tionghoa. Ibu gemuk itu sangat ramah. Dia suka ngobrol dengan para pengunjungnya dan suka bercerita tentang apa saja, termasuk cerita tentang "keunikan" para pelanggannya.

Saya kaget sekali, ketika Jumat (1/7/2011) siang itu, salah satu pelayan perempunnya yang juga sudah lama bekerja di situ menceritakan bahwa encik itu sudah meninggal karena kanker payudara hampir dua tahun lalu.

Pantasan, beberapa kali sebelum ini, saya makan siang di warteg ini tapi tidak bertemu lagi dengan encik itu. Itu sebabnya saya bertanya ke pembantunya tentang dia pada Jumat (1/7/2011) itu.

Eh, ternyata sudah tiada. Rest in peace encik. Dan, kini Warteg Oriental itu dikelola oleh suaminya yang juga mengelola bengkel di samping warteg tersebut.

Nah pengen coba merasakan menu Warteg Oriental? Datang saja ke Kramat Sentiong, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Setelah itu, Anda sendiri yang menilai. [Alex Madji]

Kamis, 30 Juni 2011

Pengabdian


Tak terasa, sudah 10 tahun saya bekerja di PT Media Interaksi Utama yang menerbitkan Harian Umum Suara Pembaruan. Tepatnya 1 Juni lalu. Saya resmi tercatat bekerja di perusahan ini pada 1 Juni 2001. Pada tanggal itu, saya dan beberapa teman menandatangani kontrak di lantai empat kantor Suara Pembaruan di Jalan Dewi Sartika 136 D, Cawang Jakarta Timur.

Sebetulnya saya pertama kali masuk di perusahan itu pada 1 Februari 2001. Satu minggu pertama kami menjalani pendidikan di kelas. Lalu mulai minggu kedua Februari 10 tahun silam, kami masuk ke ruang redaksi. Kami diroling setiap satu minggu ke desk-desk yang ada di Suara Pembaruan. Kami belajar menulis dengan praktek langsung di lapangan.

Saya masih ingat, desk pertama yang saya masuki adalah Desk Budaya yang antara lain membawahi Kesra. Berita pertama saya yang dimuat di koran pun adalah liputan kesra, terutama soal pendidikan. Liputan-liputan selama di Desk Budaya adalah menghadiri undangan jumpa pers dan acara dari berbagai instasi. Masa-masa ini dikenal sebagai masa magang.

Kami mengakhiri masa magang pada 1 Juni 2001. Selama masa magang, kami diberi uang transpor Rp 175.000 per minggu. Setelah lulus masa magang kami diikat sebagai karyawan kontrak untuk jangka waktu satu tahun.

Setelah tanda tangan kontrak, kami, anak-anak baru ketika itu, langsung ditempatkan di Desk Metropolitan. Saya ditempatkan di Balaikota DKI Jakarta sebagian bagian dari Desk Metropolitan. Tidak sampai setahun saya di sana, awal 2002 saya lalu dipindahkan ke Desk Politik. Mula-mula saya menjadi wartawan floating yang meliput di mana pun ada acara. Di situlah saya mulai mengenal banyak nara sumber dan kawan wartawan. Selama bertahun-tahun saya menjadi wartawan Desk Politik, saya pernah meliput di Departemen Dalam Negeri (2002-2003), KPU (2003-2004), DPR (Oktober-Desember 2004), Istana Wakil Presiden (2005-2008), dan Istana Presiden (2009-November 2010).

November 2010, saya dipindahkan ke Desk Luar Negeri. Bergelut dengan pekerjaan terjemah menterjemah berita-berita dari kantor berita asing. Lalu pada Maret 2011, hanya satu bulan setelah kantor Suara Pembaruan dipindahkan dari Cawang ke Aryaduta Suites, Semanggi, saya diangkat menjadi Wakil Koordinator Portal SP hingga hari ini.

Dalam perjalanan waktu 10 tahun itu, ada banyak pengalaman pahit dan manis. Pengalaman pahit yang paling tidak bisa dilupakan adalah ketika pengangkatan saya sebagai karyawan ditunda pada 1 Juni 2002. Ketika itu hati saya bagai teriris sembilu. Gara-gara seorang redaktur yang kini sudah keluar dari Suara Pembaruan.

Menurut dia, saya belum layak menjadi seorang wartawan Suara Pembaruan. Padahal penilaian redaktur-redaktur lain, saya dinilai layak. Saya sakit hati. Masa kontrak saya pun diperpanjang selama enam bulan. Saya ketinggalan dari teman-teman seangkatan saya. Pengen keluar ketika itu. Tetapi, saya memikirkan adik-adik saya yang harus saya tanggung. Saat itu saya masih membiayai adik perempuan saya kuliah di STKIP St Paulus Ruteng, Flores NTT. Hanya karena mereka saya kuat meniti jalan ini. Masih banyak kisah pahit. Tapi cukup itu dulu.

Kisah manisnya juga banyak. Salah satunya, ketika pertama kali saya ditugaskan ke Palu, Sulawesi Tengah pada 2002. Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat terbang. Sebagai anak kampung, tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa suatu saat saya naik pesawat terbang. Setelah itu, tugas ke luar kota begitu akrab dengan tugas jurnalistik saya. Semua kota provinsi di seluruh Indonesia sudah saya kunjungi. Banyak kabupaten/kota juga sudah didatangi.

Pengalaman manis lainnya, ketika seusai pemilu 2004, saya ditugaskan ke luar negeri untuk pertama kalinya, yaitu ke Taiwan. Tugasnya adalah liputan pariwisata di Formosa. Setelah itu hampir setiap tahun saya ditugaskan ke luar negeri hingga Akhir Januari sampai awal Februari 2010 lalu ketika saya ditugaskan ke India. Hanya 2011 ini saya belum ditugaskan lagi ke luar negeri.

Pada pengabidan 10 tahun ini, saya diberi sebuah piagam penghargaan dari perusahan. Hanya secarik kertas bertuliskan kata-kata penghargaan. Selain itu ada bonus masa kerja 10 tahun yang secara nominal kecil. Tetapi, saya tetap bersyukur, meskipun nilainya tidak seberapa.

Tepat pada 10 tahun berkarya di PT MIU, per 1 Juni 2011 lalu dimutasikan dari PT MIU ke PT Jakarta Globe Media. Saya tidak tahu apakah ini juga sebuah penghargaan atau tidak. Hanya pimpinan yang tahu. Sebab pemutasian itu tanpa didialogkan sebelumnya.

SK Pemutasian itu berlaku mulai 1 Juni 2011, tetapi baru saya terima pada 15 Juni 2011. Meskipun sampai tulisan ini saya buat, saya masih bekerja dan menulis untuk suarapembaruan.com. Yah, setelah Suara Pembaruan diakuisisi Lippo, koran sore dari Cawang ini menjadi satu grup dengan grup media milik Lippo.

Maka pemutasian ini adalah sebuah siarah baru lagi, sebuah pengabdian baru lagi dengan pemaknaan yang baru pula. Apakah saya bisa mengabdi 10 tahun lagi? Hanya waktu yang akan menjawab. Mari mengabdi. [Alex Madji]

Senin, 27 Juni 2011

Kembali ke Alam Bersama Kuda


Anak Anda pengen naik kuda? Atau sekedar ingin melihat kuda? Tidak usah panik. Datang saja ke Bintaro, Tangerang Selatan. TYpatnya di Graha Bintaro, setiap akhir pekan.

Setiap Sabtu dan Minggu, di sebuah lahan kosong di samping cluster Mahagoni Park, beberapa ekor kuda siap ditunggangi. Ada kuda gede, ada yang sedang, ada pula yang kecil. Ada kudah hitam, merah, dan putih. Tinggal pilih. Banyak orang tua datang dengan buah hatinya ke lokasi itu baik untuk sekedar melihat kuda maupun untuk naik kuda.

Sebenarnya, lokasi itu cukup luas. Tetapi para pemilik kuda tidak menjadikan seluruh lahan itu sebagai "lintasan" atau track. Entah apa alasannya. Hanya segelintir lahan yang mereka pakai sebagai track. Yah, tidak lebih dari satu lapangan voli.

Sekali putaran yang hanya seuprit itu dibayar dengan Rp 5.000. Dan rata-rata, seorang anak tidak puas hanya dengan sekali putaran. Musti dua atau tiga kali putaran. Tiga kali putaran itu tidak sampai 15 menit.

Soal keselamatan anak, tidak perlu khawatir. Sebab, pemilik kuda mendampingi anak dengan berjalan kaki di samping kuda. Anak-anak kecil yang belum bisa pegangan kekang, akan dipegang pemilik kuda. Sedangkan anak-anak yang sudah bisa mengendalikan kuda tidak dipegang, tetapi tetap diawasi.

Apalagi, rata-rata kudanya tidak berlari alias jalan. Kalau kudanya lari, ya satu putaran ditempuh hanya dalam beberapa detik.

Meski begitu, tiap Sabtu dan Minggu sore lokasi itu penuh padat. Tapi kadang-kadang, meskipun orang banyak, kuda-kuda itu nganggur. Sebab tidak sedikit warga yang datang ke lokasi yang tidak jauh dari Majid Bani Umar itu hanya untuk menghabiskan senja sambil menikmati ruang yang lega, daripada bertemu tembok terus di rumahnya.

Kalau Anda mau memperkenalkan anak Anda dengan kuda atau mau merasakan menunggang kuda, boleh datang ke "tanah kosong" itu. Dari sektor 9 ambil ke arah Graha Raya. Sementara dari Alam Sutera ke arah Pasar Segar lalu terus ke arah Sektor 9. Begitu Anda turun dari kendaraan, para pemilik kuda sudah menyambut Anda. Lalu rasakan nikmatnya berkuda. (Alex Madji)